M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Di Atas Gelombang Laut

Di Atas Gelombang Laut

Oleh: I Made Jodog, MFa

Penciptaan Dana Dipa Isi Denpasar Tahun 2009

Konsep Garapan

Konsepsi garapan adalah Artikulasi sebuah komplik, dalam pemunculan sebuah kesadaran! Suatu perbedaan perlu dipertajam, bahkan dipertentangkan dalam menciptakan sebuah kesadaran. Mempertajam pertentangan dalam karya seni dapat menumbuhkan kesadaran, tetapi mempertajam pertentangan social menciptakan kehancuran. Pencipta mengetengahkan persoalan yang dipertajam  permasalahannya sehingga pada titik tertentu menunbuhkan pembertanyaan, perenungan  serta menumbuhkan kesadaran diri.

Dalam garapan yang berjudul Di Atas Gelombang Laut, konsep terimplementasikan dengan menciptakan bentuk-bentuk gelombang laut, serta berbagai obyek yang ada di lautan.

Gelombang-gelombang lautan yang constan dan suara yang ritmis serta meditative diciptakan dengan sesekali di pecah oleh suara gelombang yang besar, atau gelombang lautan yang kuat dan dasyat dikomplikan dengan sandal jepit yang terumpamakan sebagai sesuatu yang lemah. Obyek-obyek yang kecil ditonjolkan dalam bidang yang besar dan luas seperti lautan. Komplik terhadap berbagai obyek menimbulkan suasana tidak menentu dan ambigiu. Suasana ini diharapkan dapat mendorong perenungan untuk menumbuhkan kesadaran. Kesemuanya ini diciptakan dalam karya seni installasi dengan basis karya tiga dimensional.

Dosen Indonesia Makin Laris di Malaysia

Dosen Indonesia Makin Laris di Malaysia

KUALA LUMPUR, KOMPAS.com – Jumlah dosen Indonesia di Malaysia cenderung meningkat seiring bertambahnya jumlah universitas dan fakultas di beberapa negara bagian.

“Ya memang jumlah dosen Indonesia makin laris di Malaysia karena industri pendidikan semakin berkembang, baik jumlah institusi pendidikan maupun fakultasnya,” kata Dr Riza Muhida, ketua ILRAM (Indonesian Lecturer and Researcher Association in Malaysia), di Kuala Lumpur, Jumat (7/5/2010) sore.

Peningkatan itu terjadi karena tidak semua universitas di Malaysia menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. Hanya beberapa universitas di Kuala Lumpur menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar. “Banyak universitas menggunakan bahasa Melayu, sehingga banyak peluang bagi dosen Indonesia,” kata Dr Rida yang mengajar di Fakultas Teknik Universitas Islam Internasional Malaysia.

Duta Besar RI untuk Malaysia, Da’i Bachtiar, tadi juga bertemu, berdialog dengan para dosen dan peneliti Indonesia sekaligus mendukung terbentuknya ILRAM. Ada sekitar 100 dosen dan peneliti Indonesia dari berbagai universitas di Malaysia berkumpul di KBRI.

“Contohnya di kampus saya, tahun 2007 ada 30 dosen Indonesia dan kini sudah ada 40 dosen Indonesia. Setiap tahun ada tiga atau empat dosen Indonesia baru masuk di Universitas Islam Internasional Malaysia,” kata Riza.

ILRAM kini memiliki 80 anggota yang terdiri dari dosen dan peneliti Indonesia. “Diperkirakan jumlah anggotanya akan bertambah menjadi 300 orang dari total sekitar 500 warga Indonesia yang menjadi dosen dan peneliti di Malaysia,” katanya.

Pada Kamis (6/5/2010) lalu, Dr Seca Gandaseca dari Indonesia terpilih menjadi dosen terbaik di UPM (Universitas Putra Malaysia). Sultan Selangor langsung memberikan penghargaan kepada Seca.

“Sayang, karena bukan warga Malaysia, dia tidak dikirim untuk bersaing menjadi dosen terbaik antaruniversitas se-Malaysia mewakili kampusnya,” kata Rida.

Universitas Islam Internasional Malaysia belum lama ini juga memilih dosen Indonesia Dr Irwandi Jaswir sebagai peneliti terbaik tahun 2009, mengalahkan dosen Malaysia dan mancanegara di kampusnya.

Bahkan, mendapatkan award sebagai saintis muda se-Asia Pasifik mewakili kampusnya dan Malaysia. Dubes Da’i Bachtiar mengatakan, sumbangsih warga Indonesia kepada tanah airnya tidak harus berada di dalam negeri.

Dari luar negeri pun warga Indonesia bisa tetap menyumbangkan perannya untuk kemajuan bangsa dan negara. “Anda semua menjadi dosen, peneliti sekaligus duta bangsa dan rakyat Indonesia,” pesan mantan Kapolri itu.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/05/07/23061348/Dosen.Indonesia.Makin.Laris.di.Malaysia

Penciptaan Seni Karawitan Tawur Agung

Penciptaan Seni Karawitan Tawur Agung

Oleh: I Ketut Partha, SSKar., M.Si. dan I Gede Mawan, S.Sn.

Dibiayai oleh DIPA ISI Denpasar Tahun 2009

Sinopsis Karawitan Tawur Agung

Upacara agung seperti Panca Bali Krama dan Eka Dasa Rudra, pada hakikatnya untuk menegakkan nilai-nilai kesucian, lalu membangun keharmonisan jagat yang disebut jagat hita, bhuta hita, sarwa prani hita. Semua hal itu diharapkan memberikan kerahayuan kepada manusia yang menempati bumi ini, memberikan energi kerahayuan kepada manusia dan seisi alam. Upacara Tawur Agung Panca Bali Krama adalah karya yang sedemikian “langka” karena pelaksanaannya secara periodik dalam kurun waktu tertentu. Terispirasi dari hal tersebut, tergugah keinginan penata untuk merealisasikan “aktivitas dan suasana” Upacara Panca Bali Krama ke-dalam sebuah karya seni karawitan.

Sebagai sebuah hasil kreativitas seorang seniman, dalam arti enak disajikan dan enak untuk dinikmati, karya seni ini diwujudkan dalam komposisi yang diberi judul “Tawur Agung”. Tawur Agung merupakan komposisi karawitan sebagai sebuah ekspresi seni dan media instrospeksi untuk mewujudkan keseimbangan dalam menata kehidupan yang lebih harmonis. Penciptaan karya karawitan ini muncul dengan memanfaatkan suasana dalam upacara yang besar sebagai objek penciptaan, adalah sebuah gugahan untuk menghargai kebesaran Yang Maha Esa.

Pengertian Tabuh Lelambatan Klasik Pegongan

Pengertian Tabuh Lelambatan Klasik Pegongan

Oleh: I Gede Yudartha, Dosen PS Seni Karawitan

I Nyoman Rembang memberikan beberapa ulasan tentang pengertian tabuh. Pertama, tabuh bila dilihat sebagai suatu estetika teknik penampilan adalah hasil kemampuan seniman mencapai keseimbangan permainan dalam mewujudkan suatu repertoir hingga sesuai dengan jiwa, rasa dan tujuan komposisi. Kedua, pengertian tabuh sebagai suatu bentuk komposisi didifinisikan sebagai kerangka dasar gending-gending lelambatan tradisional. Misalnya tabuh pisan, tabuh telu, tabuh pat dan sebagainya (Rembang, 1984/1985:8-9). Dari kedua pengertian di atas dapat disimak bahwa tabuh dalam konteks karawitan Bali memiliki pengertian yang sangat luas adakalannya tabuh juga dipergunakan untuk menunjukkan bentuk-bentuk komposisi lainnya diluar dari gending-gending lelambatan tradisional misalnya tabuh kreasi baru disini makna yang terkandung di dalamnya adalah  suatu bentuk garapan komposisi karawitan yang di luar dari kaidah-kaidah tetabuhan klasik. Di samping itu kata tabuh juga dipergunakan untuk menyebutkan bentuk-bentuk komposisi dari berbagai jenis barungan gamelan seperti tabuh Smar Pagulingan, tabuh Gong Gede, tabuh Kekebyaran dan sebagainya.

Dilain pihak, pada buku terjemahan Prakempa pada bagian ke 35 berkaitan dengan tabuh ada disebutkan bahwa :

“…ini asal mula tabuh (lagu )dan nyanyian-nyanyian, karena nyanyian dan lagu sesungguhnya sama beda, karena ada tersebut  nyanyian yaitu tabuh pisan, tabuh telu, tabuh pat, tabuh nem dan tabuh kutus ini bukan tabuh namanya, sebenarnya  angsel dan pepade, karena segala alat-alat nyanyian harus memakai kempli dan kempul. Bila nyanyian memakai kempli delapan kali dan juga kempul delapan kali itu yang bernama Asta pada….” (Bandem, 1985:63)

Kutipan di atas bila dikaitkan dengan keberadaan bentuk komposisi tabuh-tabuh Lelambatan, maka akan dapat dilihat bahwa dalam setiap komposisi tabuh seperti halnya tabuh kutus akan terdapat delapan kali angsel atau pepade pada bagian pengawak dan pengisepnya (main body) yang ditandai dengan jatuhnya pukulan kempur dan kempli.

Pengertian Tabuh Lelambatan Klasik Pegongan selengkapnya

Bahasa Inggris Sebagai Media Komunikasi Dalam Pewayangan

Bahasa Inggris Sebagai Media Komunikasi Dalam Pewayangan

Bahasa Inggris Sebagai Media Komunikasi Dalam Pewayangan: Studi Kasus Dalang I Made Sidia Dalam Festival Wayang Internasional Pada PKB XXX

Oleh : Nyoman Lia Susanthi (Ketua), Ni Wy. Suratni (Anggota), dan I Dewa Ketut Wicaksana (Anggota)

Dibiayai DIPA ISI Denpasar 2009

Abstrak Penelitian

Bahasa adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasi atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Di era global ini, bahasa, dalam hal ini bahasa Inggris, telah menjadi media yang sangat ampuh untuk penyebaran budaya ke seluruh dunia. Termasuk seni budaya pewayangan yang kini dikemas dengan beragam inovasi, termasuk menyelipkan bahasa Inggris dalam pementasannya. Hal ini tampak saat pelaksanaan Festival Wayang Internasional dalam PKB ke XXX. Selain untuk lebih menarik wisatawan berkunjung ke Bali, juga untuk dapat memberikan informasi dan berkomunikasi dengan wisatawan asing. Dengan demikian tampak sangat jelas bahwa bahasa Inggris sebagai media komunikasi memiliki peran yang sangat penting untuk desiminasi budaya.

Kata Kunci: bahasa Inggris, komunikasi, wayang, festival

Macam Dan Jenis Seni Kerajinan Di Kabupaten Buleleng Bali

Macam Dan Jenis Seni Kerajinan Di Kabupaten Buleleng Bali

Oleh: I Nyoman Suardina

Makalah Seminar IMHERE 2009

Usaha kerajinan adalah suatu pilar perekonomian yang masih eksis menyangga kehidupan sebagian masyarakat Kabupaten Buleleng. Dengan demikian sektor kerajinan sampai sekarang masih tetap diusahakan sebagai mata pencaharian, baik dilakukan secara perorangan, maupun kelompok. Dalam bentuk usaha, ada yang dilakukan secara tradisional perorangan, kelompok masyarakat atau dengan manajemen yang lebih baik dalam bentuk perusahaan perorangan maupun asosiasi. Makin majunya dunia usaha serta taraf kehidupan masyarakat produsen maupun konsumen, tak pelak menuntut pencitraan bentuk-bentuk kerajinan, sehingga kerajinan dapat berkembang begitu dinamis. Tuntutan gaya hidup konsumen serta kemampuan desainer dalam merespon, dapat menyuburkan perkembangan mode kerajinan, dari waktu ke waktu.

Gambaran itu sangat jelas terbaca dalam peta perkembangan usaha kerajinan di daerah Buleleng saat ini. Bila di masa lalu kerajinan diusahakan sebagai pengisi waktu luang, dimana jiwa dan karakter pada setiap produk yang dihasilkan adalah penggambaran jiwa-jiwa sederhana, aplikatif sebagai kagunan dan milik masyarakat pendukungnya. Begitu pula usaha kerajinan itu sebagai anugerah potensi alamiah yang dimiliki masyarakat setempat, dan mencerminkan karakter masyarakat sebagai budaya lokal. Namun, ‘kerajinan’ yang tadinya berkonotasi pada proses pekerjaan, kini kata itu cukup menempel pada produknya saja. Sedangkan proses ‘kerajinan’ itu sudah menjelma menjadi; pekerjaan, usaha, komoditas melalui proses tersetruktur dalam aturan waktu maupun manajemen.

Seiring berkembangnya budaya global, perwajahan kerajinanpun mengalami perubahan. Beberapa idiom terkesan ‘memaksa’ hadir dalam keseharian masyarakat tradisional Buleleng. Dahulu masyarakat hanya akrab pada kata; sok, kukusan, sokasi/ keben, wanci/ dulang, saab, bokor, dan sebagainya. Kini dengan sangat fasih para perajin menyebut apa yang mereka kerjakan sebagai; box set, bath rack, box handle, coffee set tray, oval lamp set, table square, bambu bowl, lamp holder, CD cabinet, food accessories, dan sebagainya.

Makalah Macam Dan Jenis Seni Kerajinan Di Kabupaten Buleleng Bali selengkapnya

Loading...