by admin | May 12, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Made Suparta, Dosen PS Kriya Seni ISI Denpasar
Secara umum orang tidak akan tertariknya kalau melihat suatu karya kriya membahas tentang unsur, karena unsur adalah bagian terkecil dari sesuatu yang membentuk kesatuan sistem. Berbeda dengan orang/kelompok pragmatis, formal, dan sruktural, karena berasumsi suatu karya dilihat karena adanya unsur-unsur yang membentuk. Sebagai praktisi sekaligus pendidik dibidang seni, unsur adalah hal yang sangat diperlukan untuk memberi dan mendukung suatu obyek. Dalam pembentukan suatu struktur pada karya seni kriya/ ukiran, dalam unsur yang terkecil dapat dijadikan identitas suatu bentuk atau motif.
Bentuk adalah bagian yang paling sukar dan rumit diantara empat elemen yang menunjang terjadinya sebuah karya seni rupa. Namun demikian, Plato membedakan bentuk itu; antara bentuk yang relatif dan yang absolut. Bentuk relatif yang dimaksudkan adalah perwujudan yang perbandingan maupun keindahannya terkait atau dikaitkan pada hakikat bentuk-bentuk alam dan merupakan tiruannya. Sedangkan bentuk absolut adalah suatu abstraksi yang terdiri dari garis lurus, lengkung yang dihasilkan lewat perentara atau tidak, serta bentuk-bentuk di alam, tiga dimensional. Dan sesuai dengan pengrtian dan sifat yang dimilikinya, maka bentuk ada dua macam yaitu yang arsitektural dan bentuk simbolik ”abstrak dan absolut” (Herbert Read, terj. Soedarso, 2000: 27).
1. Garis
Garis adalah hubungan dua titik/jejek-jejak titik yang bersambungan atau berderet. Dalam gambar, garis adalah aktual/nyata. Dalam seni lukis/patung, garis bersifat maya atau berupa kesan karakter garis tergantung pada alat dan bahan yang digunakan seperti: karakter garis dengan pensil berbeda dengan goresan kapur, begitu pula tekanan tangan dalam menggores. Dalam seni kriya garis bisa didapat dengan berbagai teknik pahatan dan cawian. Garis yang tampak pada pahatan bisa berbentuk garis lurus, lengkung, mendatar, zigzag, keras ataupun tipis.
Garis adalah unsur yang paling penting/elementer dalam seni rupa. Garis adalah hubungan dua buah titik atau jejak-jejak titik yang bersambungan atau berderet yang dapat menghasilkan irama. Secara historis jenis seni rupa yang menggunakan garis (kontur) ada di gua-gua yang bertolak dari keinginan untuk menggaris. Pedoman yang kuat dan ampuh bagi seni, dan buat kehidupan ini, adalah bahwa makin tajam, nyata, dan kuat garis batasnya, makin sempurna karya seninya.
Pada seni kriya garis dalam ornamen bersifat aktual atau nyata, sedangkan dalam pahatan/ukiran garis tersebut bersifat maya atau berupa kesan. Kesan garis terjadi karena adanya pertemuan dua permukan atau sisi dalam bentuk. Secara fisik garis yang dimunculkan akibat pahatan/ukiran menjadi karakter tersendiri sesuai dengan yang dikehendaki atau memang merupakan karakter pembuatnya. Arah jejak dan jarak garis dapat berupa garis lurus, lengkung, zig-zag, vertikal, horisontal, ikal, dan vertikal.
Unsur-Unsur Seni Rupa Selengkapnya
by admin | May 12, 2010 | Berita
HARDIKNAS 2010, Presiden SBY didampingi Ibu Ani Yudhoyono dan sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu II berfoto bersama para mahasiswa dari ITS, UGM, UI, dan ITB, pencipta prototipe mobil hemat BBM di halaman Istana Negara, Jakarta, seusai peringatan Hari Pendidikan Nasional 2010, kemarin.
JAKARTA (SI) – Untuk mengembangkan inovasi masa depan,anak didik harus dipacu mengembangkan keingintahuan intelektual dengan kebebasan berimajinasi secara konstruktif. “Jangan guru berkata,murid mendengar. Harus diubah sehingga murid makin aktif, dikasih pekerjaan rumah untuk membangun imajinasi mereka.
Biarkan mereka kreatif mencari-cari, mengarangngarang, tapi yang sifatnya konstruktif,” ujar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada puncak peringatan Hari Pendidikan Nasional 2010 di Istana Negara, Jakarta, kemarin. Guna mempercepat perkembangan inovasi, Kepala Negara berharap Komite Inovasi Nasional yang akan dibentuk pada 20 Mei 2010 dapat segera bertugas bersama dengan masyarakat luas.
Kerja sama tersebut nantinya diharapkan bisa membantu mempercepat pertumbuhan inovasi di Indonesia. Dalam sambutan acara yang dihadiri guru dan siswa berprestasi nasional itu Presiden juga mengingatkan agar pendidikan mampu melahirkan manusia berkarakter dan berpengetahuan.“Kita bisa menyimpulkan mereka yang bisa survive dan menang, sukses, adalah yang berpengetahuan dan berketerampilan di berbagai cabang profesi.
Yang kedua adalah mereka yang berkarakter kuat,”katanya. Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh dalam sambutannya mengatakan, institusi pendidikan harus terusmenerus meningkatkan kualitas akademik dan metodologi pembelajarannya. “Institusi pendidikan harus mampu menumbuhkan dan mengembangkan secara bersamaan antara hal-hal yang sifatnya faktual informatif dan fiksional naratif,”ujarnya.
Pada kesempatan itu Presiden memberikan tanda kehormatan Satyalancana Pendidikan dan Satyalancana Wirakarya.Satyalancana Pendidikan dianugerahkan kepada para guru, kepala sekolah, dan pengawas sekolah yang bertugas di daerah khusus atau terpencil dan memiliki prestasi serta dedikasi luar biasa dalam melaksanakan tugasnya.
Satyalancana Wirakarya dianugerahkan kepada pelajar jenjang pendidikan dasar sampai menengah yang berprestasi memperoleh medali emas dalam berbagai ajang internasional.Penghargaan diberikan atas darma bakti mereka yang besar terhadap negara dan bangsa.Mendiknas M Nuh juga menyerahkan penghargaan bagi sekolah perintis pendidikan karakter.
Selain itu, Presiden memberikan hadiah komputer jinjing bagi para pelajar sekolah menengah yang lulus ujian nasional (UN) 2010 dengan nilai terbaik tingkat nasional.“ Selamat atas prestasinya, saya akan memberikan hadiah manis,” kata Kepala Negara. Enam pelajar yang mendapatkan komputer jinjing adalah tiga orang lulusan sekolah menengah atas dan tiga orang lulusansekolahmenengahpertama.
Usai puncak acara Presiden meninjau lima prototipe mobil hemat BBM kreasi mahasiswa empat perguruan tinggi yakni Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, Universitas Indonesia,dan Institut Teknologi Bandung. Presidenmenyaksikandemonstrasimobil itu meluncur di halaman Istana. Mobil hemat energi ini akan bertanding pada ajang Shell Eco- Marathon Asia di Sirkuit Sepang, Malaysia, Juli mendatang. Lomba yang telah diadakan sejak 70-an di Eropa ini baru pertama kali digelar di kawasan Asia. (nurul huda/ant).
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/323777/38/
by admin | May 11, 2010 | Berita
Keluarga Besar ISI Denpasar Mengucapkan Selamat Hari Raya Galungan dan Kuningan

by admin | May 11, 2010 | Artikel, Berita
Desain Peralatan Kerja Secara Ergonomis Menurunkan Keluhan Kerja dan meningkatkan Produktivitas Pembuat Minyak Kelapa Tradisional Di Kecamatan Dawan KlungkungOleh: Drs. I Made Gede Arimbawa, M.Sn, Drs I Made Radiawan, M.Erg, Drs. I Nengah Sudika Negara, A. Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si
Dibiayai dengan Dana Penelitian Hibah Bersaing 2009
Ringkasan
Usaha pembuatan minyak kelapa di Kecamatan Dawan merupakan kelompok industri rumah tangga (home industry) di pedesaan, berskala kecil (small scale industry) dengan sistem produksi bersifat tradisional. Ditinjau dari sudut ergonomi, ternyata para pembuat minyak kelapa dalam menjalankan usaha tersebut sering mengalami keluhan kerja, seperti: (a) beban kerja berlebihan, (b) mengalami keluhan muskuloskeletal dan (c) kelelahan. Salah satu penyebabnya adalah desain peralatan kerja yang digunakan selama ini umumnya tidak ergonomis. Sebagai dampak yang ditimbulkan dari kondisi kerja tersebut secara tidak langsung mengakibatkan produktivitas kerja para pembuat minyak kelapa relatif rendah. Sehubungan dengan hal tersebut maka perlu diupayakan agar para pembuat minyak kelapa di Kecamatan Dawan Klungkung dalam proses pembuatan minyak kelapa menggunakan peralatan kerja yang didesain atau diredesain secara ergonomis.
Berdasarkan hasil pendataan yang dilakukan pada penelitian hibah bersaing anggaran tahun ke I (pertama), ternyata rerata umur para pembuat minyak kelapa di Kecamatan Dawan, Klungkung sebesar 36,86± 5,55 tahun dan termasuk kategori usia produktif, karena berada antara umur 15 sampai dengan 60 tahun. Berdasarkan analisis statistik deskriptif mengenai denyut nadi istirahat 22 orang para pembuat minyak kelapa yang dilibatkan sebagai subjek penelitian ini, ditemukan nilai rerata denyut nadi istirahat dengan menggunakan peralatan kerja tradisional didapat sebesar 71,09±2,25 denyut/menit, rerata denyut nadi kerja dalam satu siklus pembuatan minyak kelapa sebesar 108,49±0,95 denyut/ menit, rerata skor keluhan muskuloskeletal didapat sebesar 49,38±1,42, dan rerata skor kelelahan didapat sebesar 65,55±1,66, serta nilai rerata produktivitas kerja didapat sebesar 35,86 ± 1,09 liter/butir.menit.
Jadi dari hasil penelitian mengenai kondisi kerja para pembuat minyak kelapa dengan menggunakan peralatan kerja tradisional, umumnya mengalami keluhan kerja, seperti: beban kerja termasuk kategori sedang, mengalami keluhan muskuloskeletal dan kelelahan, sehingga mengakibatkan produktivitas kerja yang rendah. Oleh sebab itu, maka pada penelitian hibah tahun ke II (kedua) akan dilakukan eksperimen desain peralatan kerja pembuatan minyak kelapa secara ergonomis dengan pendekatan sistemik, holistik interdisiplin, dan partisipatori serta pemberian solusi dengan pendekatan teknologi tepat guna. Dalam mendesain peralatan kerja tersebut melibatkan partisipasi dari para pekerja, ahli dalam mesin produksi, para desainer, dan ergonom, sehingga diharapkan dapat dihasilkan desain peralatan kerja pembuatan minyak kelapa yang ergonomis dan sesuai dengan kondisi pekerja yang fatual serta dapat berkelanjutandan. Hasil eksperimen tersebut nantinya digunakan sebagai perlakuan dalam penelitian hibah bersaing pada anggaran tahun ke III. Untuk mengetahui tingkat keberhasilannya dianalisis dengan statistik uji t-paired, pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05)
by admin | May 11, 2010 | Berita
Bangkitkan Kembali Kejayaan Karawitan di Banjar Tegal, Buleleng
Jelang perayaan Hari Raya Galungan, salah satu dosen Jurusan Karawitan ISI Denpasar, I Nyoman Karyasa, S.Sn., melakukan pengabdian kepada masyarakat di Sanggar Karawitan Gita Giri Kencana, Kelurahan Banjar Tegal, Kabupaten Buleleng. Sanggar Karawitan ini adalah salah satu sanggar yang ada di Buleleng, memiliki misi untuk melestarikan keberadaan gamelan gong pacek. Keberadaan gong pacek milik keluarga Nengah Gunung (Alm) ini sudah ada sekitar tahun 40an. Namun selama beberapa kurun waktu, dari generasi ke generasi, gamelan gong ini sempat mengalami kevakuman. Pemanfaatan seperangkat gamelan gong pacek ini tidak maksimal. Kemudian dengan tujuan mulia yaitu membangun dan melestarikan seni budaya karawitan (gong pacek), khususnya di Kelurahan Banjar Tegal, dan Bali umumnya, maka pihak keluarga berusaha membangkitkan kembali keberadaan gong tersebut, dengan memperbaiki seperangkat gambelan gong pacek. Hingga pembentukan Sanggar Karawitan Gita Giri Kencana, pada tanggal 13 Oktober 2006 silam. Selama kurun waktu tersebut sanggar ini telah memiliki anggota berjumlah sekitar 30 orang. Mereka sebagian besar telah berusia lanjut, dengan latar belakang pensiunan PNS, wiraswasta, petani serta warga di lingkungan Banjar Tegal, Buleleng.
Dengan sifat kegotong-royongan dan berfungsi sosial, sanggar ini berusaha bertahan ditengah arus globalisasi yang terus beredar. Untuk turut melestarikan tetabuhan gending klasik Buleleng, sanggar ini berupaya memainkan tetabuhan tersebut dalam setiap ajang pementasan. Namun guna memberikan motivasi kepada anggota sekaa, serta menambah perbendaharaan kasanah gending-gending , maka sekaa gong ini perlu mendapat pembinaan dari institusi yang berkempeten dibidang seni karawitan.
Dalam pertemuan pertama yang berlangsung pada tanggal 7 Mei 2010, adalah sebagai bentuk perkenalan antara Pembina (I Nyoman Kariyasa) dengan lingkungan binaan. Dalam pertemuan yang dihadiri Lurah Banjar Tegal, Kelian Adat Banjar Tegal, salah satu anggota pemilik gong, para anggota sanggar serta para generasi muda Banjar Tegal. Dalam pertemuan singkat tersebut Lurah Banjar Tegal, Putu Swastika mengungkapkan rasa terima kasih yang tak terhingga atas kesempatan yang diberikan untuk dapat melakukan pembinaan di Kelurahan Banjar Tegal. Hal senada juga diungkapkan Kelian Adat Banjar Tegal, Jro Mangku Putu Santra, pihaknya mengungkapkan lewat moment ini, besar harapan dapat mempersatukan warga Banjar Tegal baik tua, muda hingga anak-anak untuk berkarya lewat seni. Apalagi moment ini juga dijadikan untuk membangkitkan kejayaan sanggar yang ada di Banjar Tegal. Dimana sejarah masa lampau, pada tahun 60an mencatat bahwa sanggar yang ada di Banjar Tegal sangat jaya dan terkenal karena sanggar ini selalu menjadi pesanan saat masa-masa pemerintahan Presiden Sukarno. Sehingga lewat pengabdian masyarakat oleh ISI Denpasar ini dapat menjadi titik awal kebangkitan karawitan di Banjar Tegal serta memberikan tongkat estafet kepada generasi penerus, untuk melestarikan gending-gending khas yang telah diwarisi.
Sementara I Nyoman Kariyasa akan berusaha untuk mentranfer ilmu yang dimiliki kepada masyarakat sesuai dengan kebutuhan. Semoga apa yang menjadi tujuan dan harapan dapat terwujud. Pengabdian akan berlangsung selama 3 bulan, dan awal latihan dimulai pada tanggal 14 Mei 2010.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | May 10, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: A.A. Gde Bagus Udayana, Anak Agung Rai Kalam, Dw. Md. Pastika, dan A.A. Gde Ngurah TY
Fakultas Seni Rupa Dan Desain Isi Denpasar
Abstrak Penelitian Hibah Bersaing 2009
Transformasi penciptaan seni lukis di Bali telah berkembang melalui suatu rentetan perubahan dan pergeseran dalam rentang tertentu, faktor-faktor penciptaan menjadi ciri utama perubahan, jaman prasejarah Bali, jaman Hindu (Hindu Bali, Bali Kuno, Hindu Jawa), pengaruh Majapahit, kemudian oleh kontak dengan Barat.
Zaman Bali kuno dikemukakan dalam bentuk gambar rerajahan, gambar geometris, simbul-simbul. Ciptaan seni lukis Bali masa kontak dan pengaruh Majapahit ditemukan dalam bentuk ornamen-ornamen bangunan, gambar wayang, lukisan Kamasan, dengan ciri-ciri kekhasan, tidak berubah, memperlihatkan jati diri (identitas), memperlihatkan ke-Bali-annya, kemudian jaman modern sekaligus memperlihatkan jati diri pelukisnya akibat pengaruh ciptaan seni lukis Barat oleh pelukis Anak Agung Gde Sobrat, Gusti Nyoman Lempad, Ida Bagus Made, Ida Bagus Gelgel, Gusti Deblog, dan sebagainya. Muncul kelompok Seni Lukis Bali Modern-Pithamaha. Penciptaan seni setelah kemerdekaan (1945) munculnya pendidikan tinggi di Perguruan Tinggi Fakultas / Jurusan Seni Rupa Unud tahun 1965 di Bali tahun 2004 bersama STSI ditingkatkan menjadi ISI Denpasar, penciptaan seni lukis Bali dalam bentuk “Seni Lukis Bali Modern-Akademik”. Para Sarjana Seni baik lokal maupun luar, tema-tema Bali dituangkan dengan konsep-konsep pendidikan tinggi Barat yang bercorak pribadi. Dekade tahun 1970-1980 adanya masa globalisasi, dengan berbagai corak dari Barat, naturalis, rialis, inpresionis, suryalis, kubis, dadais, abstrak dan membuka tabir sejarah transformasi penciptaan Seni Lukis Bali baru, dalam bentuk “Seni Lukis Bali Modern-Universal”.
Tujuan penelitian Transformasi Penciptaan Seni Lukis Bali ini untuk mengidentifikasi kualitas konsep-konsep nilai-nilai ide atau konsep penciptaan dan elemen estetika yang berkembang sehingga identifikasi dan kualitas dinilai bagaimana perkembangan yang tumbuh dalam seni lukis Bali baik dari keberagamannya maupun arah yang perlu ditempuh di masa depan.
Metode penelitian, mengambil lokasi yang menyebar pada wilayah-wilayah seluruh Bali yang diwakili oleh kabupaten-kabupaten dan kotamadya di Bali, besar sampel 90 buah karya seni lukis obyek sampel penelitian serta menetapkan klasifikasi 5 (lima) perkembangan bentuk seni lukis Bali, tersebar di seluruh Bali secara acak.
Klasifikasi penciptaan dibedakan dalam 5 (lima) kelompok wujud karya dijadikan sampel penilaian. Dari 90 (100%) data sampel didapat hasil bahwa: (1) Seni Lukis Bali Kuno-Lama sebanyak 11 (12,2%); (2) Seni Lukis Bali Klasik-Tradisional sebanyak 16 (17,8%); (3) Seni Lukis Bali Modern-Pithamaha sebanyak 23 (25,6%); (4) Seni Lukis Bali Modern-Akademik sebanyak 27 (30,0%); (5) Seni Lukis Bali Modern-Universal sebanyak 13 (14,4%).
Dari segi jumlah penyebaran terlihat Kabupaten Gianyar jumlah aktivitas penciptaan seni lukis di dapat paling banyak, sebanyak 30 (33,3%), Kotamadya Denpasar 20 (22,2%), Kabupaten Klungkung 10 (11,1%), Kabupaten Badung dan Buleleng masing-masing 8 (8,9%), selanjutnya Kabupaten Tabanan dan Karangasem 4 (4,4%).
Dari data sebaran rekapitulasi penilaian 90 sampel karya-karya penciptaan seni lukis Bali tahun 2009 ini (Laporan Penelitian, tabel 5.3.3) disimpulkan hasil kumulatif sebesar 1576 poin (70,04%), sehingga hasil penilaian dapat dikatakan baik. Dengan hasil predikat baik berarti bahwa Transformasi Penciptaan Seni Lukis Bali yang berkembang saat ini dipandang dapat meneruskan citra dan identitas ke-Bali-annya.
Kata Kunci : Transformasi, Penciptaan, Seni Lukis