M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Proses Pembuatan Prasi I

Proses Pembuatan Prasi I

Oleh Drs. I Nyoman Wiwana, dosen PS Seni Rupa Murni

Seni lukis prasi merupakan salah satu karya seni rupa tradisional Bali, termasuk warisan budaya nenek moyang yang memiliki nilai estetika tinggi dan mempunyai karakteristik tersendiri. Bahan dasar terbuat dari daun lontar yang sampai sekarang masih tetap dilestarikan. Seni lukis prasi yang terbuat dari daun lontar dengan gambar ilustrasi wayang di dalamnya, merupakan transpormasi dari naskah/kitab sastra, seeperti: kakawin, kidung dan sebagainya, yang ditulis atau digambar dengan menggunakan pisau khusus yang disebut pangrupak.

Untuk menyingkap rahasia maupun kekhususan dari cara pembuatan lukisan prasi, harus dikaji dan dicermati proses keseluruhan, mulai dari menyiapkan/pengolahan bahan baku, peralatan yang dipakai, teknik menulis pada daun lontar (teknik menggambar)penulisan  sampai pewarnaannya.

Pengolahan Bahan

Bahan utama sebagai dasar untuk membuat gambar prasi adalah daun lontar. Istilah lontar dan rontal di Bali umumnya disamakan. Lontar adalah bentuk metatesis dari kata rontal. Kata rontal terdiri dari dua patah kata, yaitu ron dan tal. Kata ron dan tal itu termasuk bahasa Jawa Kuna yang diperkirakan sudah ada sebelum jaman Raja Balitung, awal abad ke-10. Ron artinya daun, dan tal artinya pohon. Kata rontal dan lontar itu sudah menjadi perbendaharaan bahasa Indonesia umum (Suwidja, 1979:1).

Dengan begitu, sebutan daun rontal dipakai untuk menyebut daun dari pihon lontar yang sebelum dipergunakan sebagai bahan tulis. Sedang setelah ia dipakai sebagai bahan tulis seperti tulisan naskah kakawin, kidung, dan gegambaran, maka ia disebut lontar. Maka muncul pula  nama atau istilah yang memakai kata “Pustaka Lontar” maupun “budaya lontar”.

Untuk mengenal lebih dekat tentang bahan baku khususnya lontar di Bali, sebaiknya terlebih dahulu diketahui tentang daun lontar itu sendiri. Daun rontal sebagai bahan baku utama seni lukis prasi dihasilkan oleh pohon rontal (barrosus sundaicus), termasuk keluarga palma (palmacase) Pohon ini tumbuh di daerah tropis dengan keadaan tanah yang kering serta curah hujan yang rendah/jarang (Suwidja, 1979:2).

Kabupaten Karangasem yang terletak paling Timur pulau Bali, yang merupakan kabupaten mewilayahi lokasi penelitian ini mempunyai karakteristik seperti yang disebutkan di atas, yaitu musim kemaraunya panjang, banyak lahan yang mengalami kekeringan dan tandus. Di wilayah kabupaten Karangasem, ada dua kecamatan, yaitu kecamatan Abang dan kecamatan Kubu, yang memiliki lahan tanaman pohon rontal yang persebarannya cukup luas. Hampir semua desa-desa yang wilayahnya berbatasan dengan kedua wilayah kecamatan tersebut banyak tumbuh pohon lontar. Di antaranya, desa Datah, kecamatan Abang dan desa Kubu serta desa Tianyar yang merupakan wilayah perbatasan antara kabupaten Karangasem dengan kabupaten Buleleng. Di wilayah desa tersebut, didominasi oleh jenis tumbuhan pohon rontal dibandingkan dengan jenis tumbuhan yang lainnya. Tumbuhnya pohon rontal secara liar, tumbuh dengan sendirinya tanpa melalui pembudidayaan. Daun rontal, biasanya dijual ke tempat-tempat pembuatan seni lukis prasi oleh penduduk desa penghasil daun rontal. Salah satu di antaranya adalah desa Tenganan Pegringsingan,  yang dipilih jadi lokasi penelitian ini.

Proses Pembuatan Prasi I selengkapnya

Partisipasi Sekolah Siswa Miskin Cenderung Naik

Partisipasi Sekolah Siswa Miskin Cenderung Naik

Jakarta Partisipasi sekolah siswa dari keluarga termiskin mengalami kenaikan. Berdasarkan data Susenas 2004-2009,  angka partisipasi murni (APM) sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah siswa dari golongan keluarga termiskin meningkat dari 49,97 persen pada 2004 menjadi 61,89 persen pada 2009.

“Anak-anak yang latar belakang ekonomi sangat miskin pun punya kesempatan untuk masuk SMP,” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh saat memberikan keterangan pers di Kemdiknas, Jakarta, Jumat (17/9/2010).

Mendiknas menyampaikan, tren kenaikan ini diikuti dengan semakin kecilnya gap APM siswa termiskin dengan siswa dari golongan keluarga terkaya. Dijelaskannya, pada 2004 gap APM siswa termiskin dibandingkan siswa terkaya mencapai 30 persen. Pada 2009, jaraknya hanya tinggal tujuh persen. “Gap-nya sudah semakin kecil dan trennya naik,” ujarnya.

Mendiknas melanjutkan, tren kenaikan partisipasi sekolah siswa miskin juga terjadi pada jenjang sekolah menengah atas (SMA). Angka partisipasi kasar (APK) SMA/SMK/MA 2003 siswa termiskin 23,2 persen naik menjadi 39,1 pada 2008 dan 54,3 persen pada 2009. “Intervensi bantuan operasional sekolah (BOS) memastikan kenaikan ini,” katanya.

Kenaikan ini juga diiringi dengan berkurangnya gap partisipasi sekolah siswa termiskin dan terkaya. APK SMA/SMK/MA siswa terkaya 81,7 persen pada 2003 menjadi 79,5 persen pada 2009. Gap APK siswa termiskin dibandingkan dengan siswa terkaya berkurang dari 58,5 persen menjadi 25,2 persen. Nilai penurunannya 33,3 persen.

Pada jenjang pendidikan tinggi APK siswa termiskin naik dari 0,98 persen pada 2003 menjadi 6,31 pada 2009. Adapun APK siswa terkaya tidak mengalami perubahan signifikan dari 31,3 padan 2003 menjadi 32,6 pada 2009. “Ada kenaikan, tetapi harus digenjot lagi,” ujar Mendiknas.

Adapun APM untuk jenjang sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) tidak mengalami tren kenaikan yang signifikan. APM SD/MI siswa termiskin pada 2003 91,4 persen, sedangkan pada 2009 93,2 persen. Persentase gap antara siswa termiskin dan terkaya pun tidak mencolok. APM SD/MI siswa terkaya pada 2003 91,6 persen, sedangkan pada 2009 94,4 persen.

“Untuk urusan SD atau MI itu gap antara  terkaya dan termiskin hampir tidak ada, hanya satu persen. Artinya anak-anak yang latar belakang sangat miskin maupun sangat kaya semuanya bisa masuk ke SD,” ujar Menteri Nuh. (agung)

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/9/17/miskin.aspx

Waspada, Adanya Website BKN Palsu

Waspada, Adanya Website BKN Palsu

Jkt-Humas, Berdasarkan laporan berbagai pihak dan dengan pengecekan langsung di situs www.bknprofile.com, maka BKN menyatakan bahwa situs ini merupakan situs rekayasa, dan bagi pihak-pihak yang membuat situs ini untuk segera menutupnya.

Tampilan website palsu

Keberadaan situs palsu ini dimungkinkan untuk mendapatkan keuntungan dari berbagai pihak khususnya pada proses penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Hal ini terlihat dari data-data yang dilampirkan terkait usulan CPNS dari berbagai instansi yang tidak benar. Bagi semua pihak yang namanya tertera dalam list website ini untuk tidak mempercayai ataupun mengindahkan informasi yang disampaikan dalam website itu.

List CPNS dalam Website palsu

Terkait adanya situs paslu ini, kami sampaikan bahwa :

  1. BKN hanya menggunakan dua situs resmi yakni www.bkn.go.id dan www.sesmabkn.com
  2. BKN tidak pernah menampilkan setiap usulan CPNS dari setiap instansi, baik pusat maupun daerah.
  3. Dalam setiap proses pemberkasan hingga penetapan Nomor Identitas PNS dilakukan oleh instansi secara kedinasan.
  4. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Humas BKN Pusat Jakarta, telp. 80882815

Apabila dengan adanya situs palsu ini ternyata ada pihak-pihak yang merasa dirugikan untuk segera melapor kepada pihak yang berwajib/kepolisian untuk dapat segera ditindaklanjuti.
Humas BKN

Sumber: http://www.bkn.go.id/in/berita/1330-waspada-adanya-website-bkn-palsu.html

Semua Perguruan Tinggi Wajib Akreditasikan Program Studinya

Semua Perguruan Tinggi Wajib Akreditasikan Program Studinya

JAKARTA–Semua perguruan tinggi wajib akreditasikan program studi yang dibukanya. Oleh karena itu Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) memberi batas waktu bagi seluruh perguruan tinggi (PT) di Indonesia untuk mengakreditasi seluruh program studinya pada 2012.
”Jika tidak, mereka tak diperkenankan mengeluarkan ijazah,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Nasional (Wamendiknas) Fasli Jalal, Rabu (16/9)
Kewajiban untuk mengakreditasi program studi memang belum diberlakukan dengan tegas pada tahun ini. Sebab, kata Fasli, akreditasi perlu diberlakukan secara bertahap, dan pemerintah memberikan waktu yang cukup kepada seluruh perguruan tinggi. ”Kalau tahun ini, akreditasi hanya berbentuk imbauan, dan hanya untuk membedakan kualitas,” jelasnya.
Uji akreditasi itu direalisasikan berdasarkan PP No 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. ”Maka dari PP itulah semua program studi, baik di perguruan tinggi negeri dan swasta harus sudah terakreditasi,” ujar Fasli.
Akreditasi nantinya dilakukan secara berkala setiap lima tahun sekali. Perguruan tinggi langsung meminta ke Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk dievaluasi.
“Enam bulan sebelum status akreditasi kedaluwarsa, perguruan tingi harus secepatnya datang untuk diuji kembali,” papar mantan Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti) itu.
Berdasarkan data yang dimiliki Kemdiknas, hingga kini, ada sekitar 5.000 program studi yang belum terakreditasi. Pada tahun ini, menurut Fasli, Kemendiknas akan mengakreditasikan hampir 4.000 program studi, sementara sisanya akan dikejar pada tahun 2011.
Dengan demikian, sebelum 2012 nanti, seluruh program studi sudah terakreditasi. “Dananya 22 juta rupiah untuk akreditasi satu program studi,” jelasnya. Melihat antusiasme PT, Fasli yakin akreditasi itu akan selesai pada 2012.
Keyakinan itu juga dilihatnya dari kesiapan dana dan kinerja BAN PT sendiri. Sementara itu, Mendiknas Mohammad Nuh mengatakan revisi PP No 17/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan Pendidikan sebagai pengganti UU Badan Hukum Pendidikan (BHP) masih di tangan wakil presiden.
Mantan Menkominfo itu mengatakan draf tersebut telah dipegang Wapres Boediono sejak Agustus lalu. Namun, pembahasan revisi masih ditunda karena jadwal keduanya padat. ”Kami sangat sibuk mengurus hari raya kemerdekaan kemarin,” jelasnya.
Selain meminta persetujuan Wapres, menurut Nuh, ia akan berkoordinasi dengan sejumlah kementerian, di antaranya Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham), Kementerian Agama (Kemenag), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemeneg PAN dan RB), serta Kementerian Keuangan (Kemenkeu).

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/10/09/16/134927-semua-perguruan-tinggi-wajib-akreditasikan-program-studinya

Program Studi Kriya Seni ISI Denpasar Memutakhirkan Kurikulumnya

Program Studi Kriya Seni ISI Denpasar Memutakhirkan Kurikulumnya

Jajaran dosen Program Studi Kriya Seni Institut Seni Indonesia Denpasar sepanjang September ini bekerja super keras untuk memutakhirkan kurikulum dalam rangka meningkatkan kualitas lulusannya. Berbagai strategi dilakukankan untuk lebih memperlancar proses belajar mengajar serta mengadakan penataan ulang pada content materi perkuliahan.
Selain itu dilakukan penggantian beberapa mata kuliah yang sudah tidak relevan dengan perkembangan seni kriya di era ini, serta disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan stake houder. Hal tersebut terungkap Rabu (15/9) kemarin di Ruang Sidang Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar.
Ketua panitia Drs. I Made Rediawan, M.Si yang juga seorang dosen kriya senior di ISI Denpasar menyampaikan program tersebut berkaitan erat dengan hibah I-mhere yang dimenangkan oleh jurusan kriya ISI Denpasar. Program tersebut mencakup pada penguatan mata kuliah kriya seni, penataan/maping karya kriya seni di Bali, peningkatan sumber daya manusia bagi tenaga pengajar di lingkungan jurusan kriya, baik melalui pendidikan gelar dan non gelar.
Dalam pendidikan dengan gelar, seluruh dosen kriya telah mengikuti pendidikan jenjang S2 dan beberapa orang telah menamatkan pendidikan hingga jenjang S3, sedangkan dalam pendidikan non gelar, beberapa orang dosen juga akan dikirim untuk magang di lembaga-lembaga pendidikan kriya di Australia. Dalam kurikulum yang akan diterapkan ke depan, Rediawan menyatakan Program Studi Kriya ISI Denpasar akan merespon perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang secara langsung mempengaruhi perkembangan kriya seni, sejurus juga merespon perkembangan ekonomi dan sosial budaya masyarakat Bali pada khususnya.
Senada dengan Rediawan, Drs. I Ketut Muka Pendet, M.Si yang juga ketua program studi kriya ISI Denpasar menambahkan bahwa penggantian kurikulum tersebut mengacu kepada UU N0.20/2003 Sistem Pendidikan Nasional tentang pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi.
Selain itu untuk menambah kualitas lulusan, perubahan kurikulum tersebut dilakukan untuk memberikan batasan yang lebih jelas akan arah kriya seni secara akademis dengan perkembangan seni kriya di masyarakat. Karena, menurut Muka, banyak orang yang belum mengetahui bahwa kriya seni secara akademik memiliki banyak kelebihan yang mendasar dibandingkan dengan kriya seni pada masyarakat.
Dalam rangka menunjang kelancaran kegiatan tersebut, panitia sengaja mengundang seorang instruktur yang sekaligus seorang pakar kriya nasional dari Universitas Negeri Yogyakarta Drs. I Wayan Suardana, M.Sn. Dalam kesempatan tersebut, Suardana berharap keberadaanya di ISI Denpasar dapat membantu seluruh kegiatan berjalan dengan lancar sehingga ke depan program studi kriya ISI Denpasar dapat mencapai nilai akreditasi A dan dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam bidang kriya seni.

Humas ISI Denpasar Melaporkan

Anugerah Kekayaan Intelektual bagi Dosen, Peneliti, dan Masyarakat 2010

Anugerah Kekayaan Intelektual bagi Dosen, Peneliti, dan Masyarakat 2010

Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) kembali menggelar program pemberian anugerah kekayaan intelektual luar biasa (AKIL) 2010. Program ini bertujuan memberikan apresiasi atas invensi dan kreasi para dosen, peneliti dan masyarakat.
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kemdiknas Djoko Santoso menyampaikan, saat ini adalah abad untuk perubahan menuju lebih baik dan lebih canggih. Menurut dia, jika tidak berubah dan menjadi lebih baik dan canggih maka tidak akan berlanjut dan bertahan. “Oleh karena itu, apa yang kita lakukan adalah bagaimana bisa menghimpun karya-karya yang kita anggap terobosan-terobosan baru atau penemuan baru dalam kerangka kemajuan zaman,” katanya saat memberikan keterangan pers di Gerai Informasi dan Media Kemdiknas, Jakarta, Kamis (16/9/2010).
Djoko berharap, kegiatan pada tahun ini diikuti oleh lebih banyak peserta. Dia menyebutkan, pada pelaksanaan tahun lalu peserta yang terdaftar sebanyak 300 orang dan terseleksi 21 orang. ” Insya Allah tahun ini lebih banyak lagi yang memasukkan, sehingga sifat kecanggihannya makin tinggi karena kompetisinya makin tinggi,” katanya.
Kegiatan yang diselenggarakan kedua kalinya ini atas kerja sama antara Kemdiknas, Kementerian Hukum dan HAM, Kementerian Negara Riset dan Teknologi, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Diharapkan kegiatan ini dapat meningkatkan motivasi dosen, peneliti, dan masyarakat untuk terus berkarya dan memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Adapun kategori penghargaan meliputi bidang industri produk/teknologi yang dilindungi paten, bidang inovasi varietas tanaman yang dilindungi dengan Hak Perlindungan Varietas Tanaman (PVT), bidang ilmu pengetahuan yang dilindungi dengan hak cipta, dan bidang industri kreatif yang dilindungi hak cipta. Kepada masing-masing pemenang diberikan penghargaan berupa piagam dan uang tunai Rp 250 juta termasuk pajak.
Direktur Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Ditjen Dikti Kemdiknas Suryo Hapsoro Tri Utomo menyampaikan, target penerima penghargaan tahun ini sebanyak 25 orang. Pada tahun lalu, kata dia, untuk bidang industri kreatif tidak ada peserta yang memenuhi kriteria. Menurut dia, pihaknya tidak membatasi tahun penemuan. “Prinsipnya belum pernah mendapatkan penghargaan, akan lebih bagus lagi temuan itu terbukti telah digunakan masyarakat lebih luas,” ujarnya.
Suryo melanjutkan, masyarakat dapat mengajukan dirinya sendiri atau masyarakat boleh mengajukan orang lain. Dia berharap, semakin luas jangkauan dan partisipasi masyarakat. “Barangkali ada penemu-penemu yang sekarang ini belum muncul atau belum terekspos,” katanya.
Kemdiknas, kata Suryo, bersama-sama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) memberikan perhatian khusus bagi para pemenang tahun lalu. Dia menjelaskan, khusus untuk bidang pemuliaan tanaman telah ditangani secara serius oleh unit di Kemendag untuk dapat memasarkan hasil temuannya. “Salah satu target Kemendag adalah sebanyak mungkin produk dalam negeri yang digunakan. Teman-teman yang kemarin penemu luar biasa ini didorong untuk masuk unit yang ditangani Kemendag,” katanya.
Kasubdit Dokumentasi HKI Direktorat Teknologi Informasi Direktorat Jenderal HKI Kementerian Hukum dan HAM Said Nafik mengatakan, melalui kegiatan penghargaaan ini dan dengan banyaknya peneliti diharapkan dapat membangkitkan ekonomi Indonesia. “Dengan penghargaan ini kita ingin semua ide itu kita bangkitkan, sehingga semua orang bisa menyelesaikan masalah bangsa ini. Diharapkan kita bisa menjadi tuan rumah teknologi di negeri sendiri,” ujarnya.
Para pengusul penerima anugerah harus memilih salah satu kategori dan klaster ditetapkan dalam buku panduan. Semua pengusul harus mengisi biodata dan data awal secara on line melalui laman www.anugerahkekayaanintelektual.com dan kemudian mengirimkan hard copy data lengkap proposal ke panitia.
Koordinator Bidang Pemuliaan Varietas Tanaman Kementerian Pertanian Dwi Pudi Astuti mengatakan, pada pelaksanaan kegiatan tahun lalu, pemenang anugerah untuk bidang pertanian sebanyak sembilan orang dari 21 yang terseleksi. “Mudah-mudahan pada 2010 akan meningkat lagi,” ujarnya.
Dwi menambahkan, dalam seleksi akan dinilai tentang varietas yang telah dilindungi yaitu yang telah mendapatkan perlindungan hak PVT baik yang telah dilindungi maupun yang dalam proses permohonan. “Kemudian, selain varietas yang telah dilindungi, juga varietas hasil pemuliaan yang didaftarkan di PVT,” katanya.
Proposal dalam bentuk hard copy (bila perlu disertai CD soft copy) disampaikan kepada Panitia. Proposal kategori Teknologi, Ilmu Pengetahuan, dan Industri Kreatif dikirimkan ke Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional Jalan Pintu Satu Senayan telepon 021-57946043 faksimili 021-5731846 surel: [email protected] This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Adapun Proposal kategori Varietas Tanaman dikirimkan ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman Gedung E Lantai III Jalan Harsono RM No.3, Jakarta 12550 telepon 021-7816386,78840405 faksimili 021-78840389 surel: [email protected] This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it .

Sumber: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1657:anugerah-kekayaan-intelektual-bagi-dosen-peneliti-dan-masyarakat-2010&catid=143:berita-harian

Loading...