by admin | Sep 22, 2010 | Berita, pengumuman
PENGUMUMAN
Diumumkan kepada seluruh mahasiswa yang mengambil matakuliah Tugas Akhir untuk melaksanakan persembahyangan bersama (atur piuning dimulainya TA), yang akan dilaksanakan pada:
Hari/tgl : Kamis, 23 September 2010
Tempat : Pura ISI Denpasar
Pukul : 07.30 Wita
Pakaian : Sembahyang
Demikian kami sampaikan untuk dilaksanakan, terimakasih.
Denpasar, 22 September 2010
Pembantu Dekan I,
ttd
Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
NIP. 196107061990031005
by admin | Sep 22, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Drs. I Wayan Sutha S, Dosen PS Seni Rupa Murni
Kitsch
Kitsch berakar dari bahasa Jerman verkitschen (membuat jadi murahan) dan kitschen, yang secara literal berarti memungut sampah dari jalan. Oleh sebab itu, istilah kitsch sering ditafsirkan sebagai sampah artistik, atau juga didefinisikan sebagai selera rendah. Di dalam The Concise Oxford Dictionary of Literary Terms (1990), kitsch didefinisikan sebagai segala jenis seni palsu (pseudo art) yang murahan dan tanpa selera. Dikatakan sebagai selera rendah disebabkan karena lemahnya ukuran atau kriteria estetik, meskipun kriteria ini berbeda dari satu zaman dan tempat ke zaman dan tempat lainnya. Merumuskan kitsch (dalam kaitannya dengan gaya dalam seni topeng) bukanlah hal yang mudah. Ada beberapa pendapat tentang gaya Kitsch ini. Di antaranya adalah dari John Waters Dictionaries. Bahwa definisi dari kitsch adalah gaya pop yang terlihat sentimental dan kurang berharga/murahan. Kitsch dikategorikan sebagai seni rendahan atau tidak ada unsur seni sama sekali di dalamnya. Tetapi kitsch dan seni tidak bertentangan, tetapi mendukung keberadaan satu sama lainnya.
Dalam kamus Word Refference dikatakan bahwa kitsch adalah gaya yang bercita rasa buruk, vulgar dan semu. Wededkind berpendapat bahwa kitsch adalah gaya kontemporer yang terinspirasi dari gaya Gothik, Rococo dan Barok. Bahwa kitsch menurutnya adalah seni yang ironi dan harfiah. Dapat dikatakan bahwa topeng bergaya kitsch adalah topeng yang dibuat inklusive, massal, dan kurang estetis. Produk bergaya kitsch bisa saja dari material mahal tetapi citra yang dihasilkan adalah murahan. Tapi kitsch memiliki kemampuan untuk menarik perhatian pada pengamat. Entah itu membuat pengamat tertarik atau malah membencinya. Jadi kitsch jelas memiliki keunikan.
Bagaimana pun soal rasa adalah hal yang subyektif. Barang yang dianggap bergaya kitsch di suatu tempat bisa menjadi gaya lain di negara lain. Di Prancis gaya kitsch mengandung unsur provokatif, sedang di Inggris gaya kitsch harus mengandung unsur kemewahan. Perhatikan topeng di bawah ini. Rambutnya bukan dari rambut asli. Tapi dari bahan benang sutra yang diwarna menyerupai rambut manusia. Dan bertahan hanya beberapa tahun saja, material murahan dan fungsi yang kurang baik.
Bentuk-bentuk Topeng Postmodernisme karya Ida Bagus Anom II, Selengkapnya
by admin | Sep 21, 2010 | Berita
Serah terima jabatan (SERTIJAB) Komandan Korem (Danrem) 163/Wira Satya dari Kolonel Inf Yoedhi Swastanto,M.B.A kepada Kolonel Inf Jacob Djoko Saroso dilaksanakan pada hari Selasa, 21 September 2010 di lapangan Makorem 163/Wira Satya, Jl. Sudirman Denpasar. Upacara yang dihadiri oleh Pangdam IX/Udayana, Muspida Tingkat I Bali, Walikota dan para Bupati se-Bali ini, diakhiri dengan acara tambahan berupa tari kolosal oleh mahasiswa ISI Denpasar, mahasiswa Mahendradata, serta sanggar Paripurna, Bona yang melibatkan lebih dari 400 orang penari dan penabuh.
Garapan oratorium kolosal yang demikian memukau seluruh undangan dan para prajurit yang menghadiri acara tersebut merupakan garapan Institut Seni Indonesia Denpasar dengan ‘artstic director’ I Nyoman Cerita,SST.,MFA, serta penata tari I Made Sidia,SSP.,M.Sn, I Gede Oka Surya Negara,SST., M.Sn., IA Wimba Ruspawati,SST.,M.Sn., Ni Komang Sri Wahyuni,SSn.,M.Sn., serta I Wayan Sutirta,S.Sn.,M.Sn. Pementasan indah berdurasi 20 menit dengan iringan Gamelan Gong Gede tersebut melibatkan beberapa dosen Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar sebagai penata kostum, diantaranya I Gusti Ayu Srinatih,SST.,M.Si,Ni Nyoman Kasih,SST.,M.Sn., IA Trisnawati,SST.,M.Si., Dra. Ni Wayan Mudiasih, M.Sn., Ni Ketut Yuliasih, SST., M.Hum., Drs.Rinto Widyanto, M.Si., I Ketut Mulyadi, SSn., serta penata tabuh diantaranya I Ketut Garwa,SSn.,M.Sn., I Wayan Suharta,S.Skar., M.Si., serta IB Nyoman Mas,S.Skar.,M.Si. Pementasan ini semakin sempurna dengan lantunan indah………
Garapan yang mengisahkan Prabu Brawijaya yang merupakan raja Majapahit terakhir yang mewariskan semangat kebangsaan dan kenegaraan melukiskan nilai-nilai kepemimpinan, keteladanan, dan kebangsaan. Garapan ini dimaksudkan untuk mengajak generasi masa kini untuk memiliki spirit kepemimpinan dan sikap kebangsaan dalam mempertahankan kemuliaan dan kejayaan bangsa.
Rektor ISI Denpasar, Prof.Dr. I Wayan Rai S., M.A. yang juga hadir sebagai undangan dalam upacara tersebut menyampaikan ucapan terima kasih sedalam-dalamnya kepada Danrem dan anggota Korem 163/Wira Satya yang telah memberikan kesempatan yang sangat berharga kepada ISI Denpasar, Universitas Mahendradata, serta Sanggar Paripurna, Bona untuk mementaskan garapan kolosal tersebut. Nilai dari karya ini kiranya dapat dihayati oleh mahasiswa sambil menari, untuk dapat menjadi generasi yang mampu mempertahankan kemuliaan bangsa. Garapan dengan persiapan hanya satu minggu ini merupakan salah satu ajang ISI Denpasar dan Universitas Mahendradata dalam melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni Pengabdian Masyarakat, guna meningkatkan kerjasama dengan masyarakat dan juga militer, dan yang lebih utama, seni diharapkan menjadi perekat bangsa.
Humas ISI Denpasar Melaporkan
by admin | Sep 20, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Drs. I Nyoman Wiwana, dosen PS Seni Rupa Murni
Peralatan
Segala sesuatu yang ingin dibuat, diadakan sudah tentu memerluka peralatan untuk mewujudkannya. Demikian halnya dengan pembuatan seni lukis prasi menggunakan alat yang kalau dicermati masih sngat tradisional. Peralatan melukis prasi, khususnya sesuai dengan hasil pengamatan dilapangan tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Demikian pula bila dibandingkan dari beberapa tempat yang membuat lukisan prasi, hanya penamaan yang mungkin berbeda, tapi bentuk dan fungsinya sama.
Alat untuk melubangi lontar disebut inra di Tenganan Pegringsingan, dan Jempurit di Sidemen dan sekitarnya. Indra atau jempurit terbuat dari kawat baja berdiameter 4 mm. Kawat dipotong tajam berbentuk huruf v. Kemudian ujung yang berbentuk huruf v ditempelkan pada lontar yang akan dilubang, dengan memutar seperti jangka, sampai lubang terbentuk dengan sempurna. Lubang digunakan khusus untuk lontar yang memakai tali. Sedangkan lontar yang tidak memakai tali tidak perlu diberi lubang. Jumlah lubang disesuaikan, untuk lontar ukuran panjang diberi tiga lubang, yaitu pada ujung kiri dan kanan serta di tengah. Sedang lontar yang ukuran kecil cukup diberi dua lubang pada ujung-ujungnya.
Alat pres, seperti tampak pada foto di bawah, yang terbuat dari balok-balok kayu disebut Blagbag. Fungsinya disamping untuk mengencangkan lembaran-lembaran lontar, juga sebagai alat menyimpan lontar yang belum ditulisi. Ukuran alat disesuaikan dengan ukuran daun lontar.
Dengan alat yang sederhana ini permukaan daun lontar akan selalu terjaga. Pada foto kelihatan lontar yang disimpan pada alat tersebut. Terlihat sangat sederhana (tradisional), tetapi sangat epektif, bisa digunakan berulang kali, menyimpan dalam jumlah banyak mupun sedikit.
Selanjutnya, peralatan menulis menggunakan pisau khusus yang disebut Mutik atau Pangrupak. Mutik atau Pangrupak digunakan untuk menggabar dengan membuat torehan di atas daun lontar. Alat tersebut juga merupakan penentu dari mutu karya yang dihasilkan. Jika diperhatikan alat tersebut juga memiki ragam bentuk dan ukuran sesuai kegunaan.
Proses Pembuatan Prasi II selengkapnya
by admin | Sep 20, 2010 | Berita

Jakarta — Daya saing Indonesia pada tataran global menunjukkan peningkatan. Peringkat Indonesia dalam The Global Competitiveness Report 2009-2010 atau Global Competitiveness Index (GCI) naik dari 54 per 133 negara pada 2009, menjadi 44 per 139 negara pada 2010.
Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menyampaikan, ada tiga komponen utama dari 12 komponen yang mempengaruhi peningkatan daya saing Indonesia. Komponen itu adalah kondisi makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, serta pendidikan tinggi dan pelatihan. “Komponen pendidikan mengalami kenaikan dan memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan daya saing Indonesia,” katanya kepada wartawan di Kemdiknas, Jakarta, Jumat (17/9).
Nuh menjelaskan, berdasarkan GCI 2009-2010, skor kondisi makroekonomi Indonesia 4,8 di peringkat 54 dari 133 negara. Posisi Indonesia, berdasarkan GCI 2010-2011, skornya naik menjadi 5,2 dan menempati peringkat 44 dari 139 negara. “Makroekonomi kita bagus nilainya,” ujarnya.
Adapun komponen-komponen pada GCI adalah kelembagaan, infrastruktur, kondisi makroekonomi, kesehatan dan pendidikan dasar, pendidikan tinggi dan pelatihan, efisiensi pasar, efisiensi pasar kerja, perkembangan pasar uang, kesiapan teknologi, ukuran pasar, kecanggihan bisnis, dan inovasi.
Skor komponen kesehatan dan pendidikan dasar naik dari 52 menjadi 5,8 dan peringkatnya naik dari 82 ke 62. Sementara untuk pendidikan tinggi dan pelatihan skornya naik dari 3,9 ke 4,2 dan peringkatnya naik dari 69 ke 66. “Pendidikan punya kontribusi besar dalam menaikkan ranking,” katanya.
Mendiknas memerinci, perubahan peringkat GCI Indonesia terkait pendidikan pada komponen pendidikan dasar dipengaruhi oleh kualitas pendidikan dasar dari peringkat 58 pada 2009-2010 naik ke 55 pada 2010-2011. Kemudian, partisipasi pendidikan dasar dari peringkat 56 ke 52. Adapun pada komponen pendidikan tinggi dan pelatihan dipengaruhi oleh partisipasi pendidikan tinggi dari peringkat 90 ke 89, kualitas sistem pendidikan dari peringkat 44 ke 40, kualitas matematika dan sains dari peringkat 50 ke 46, dan akses internet di sekolah dari peringkat 59 ke 50.
Komponen lainnya yang mempengaruhi peningkatan daya saing Indonesia adalah inovasi. Berada di peringkat 39 pada 2009-2010 naik ke 36 pada 2010-2011. Komponen ini dipengaruhi tiga faktor yaitu kualitas lembaga penelitian, kerja sama penelitian industri dengan perguruan tinggi, dan ketersediaan ilmuwan dan ahli teknik. Faktor kerja sama penelitian industri dengan perguruan tinggi memberi kontribusi kenaikan peringkat dari 43 ke 38. (agung)
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/9/18/daya-saing.aspx
by admin | Sep 20, 2010 | Berita
Jakarta — Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) mentargetkan sebanyak 10 persen siswa dari kelompok keluarga miskin dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Target ini ditetapkan untuk menaikkan angka partisipasi kasar (APK). Ada tiga skenario yang telah dipersiapkan Kemdiknas.
Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh menyampaikan, untuk meningkatkan akses siswa miskin dilakukan dengan memberi beasiswa BIDIK MISI bagi 20 ribu calon mahasiswa. Langkah kedua, meminta perguruan tinggi, terutama negeri, untuk memberikan tempat khusus bagi siswa miskin. “Ketiga, kami ajak perusahaan dengan memanfaatkan corporate social responsibility (CSR) untuk memotong mata rantai terlemah,” katanya seusai silaturahim Hari Raya Idul Fitri 1431 H di Kemdiknas, Jakarta, Rabu (15/09/2010).
Mendiknas mengungkapkan, jumlah siswa miskin yang dapat masuk ke perguruan tinggi pada 2008 sebanyak empat persen, sedangkan pada 2009 mencapai 6,19 persen. “Ada kenaikan dua persen dari seluruh populasi orang yang sangat miskin,” katanya.
Pada sisi lain, Mendiknas menyampaikan saat ini Kemdiknas sedang mengkaji inflasi di dunia pendidikan. Kajian ini dilakukan untuk melihat peningkatan biaya di dunia pendidikan. “Dengan kajian inflasi pendidikan kita harapkan ada policy (kebijakan) baru,” ujarnya.
Mendiknas melanjutkan, dengan kebijakan baru ini diharapkan mampu meningkatkan keterjangkauan masyarakat untuk mengenyam pendidikan. Mendiknas mencontohkan, pihaknya bersama pemerintah daerah bertekad pada 2011 mampu melunasi jumlah ketersediaan buku teks pelajaran di sekolah. “Kami lunasi buku SD lunas sembilan mata pelajaran, sedangkan buku SMP lunas 10 mata pelajaran, sekaligus LKS dan KKS,” katanya.
Mendiknas menyampaikan, saat ini dana bantuan operasional sekolah (BOS) telah memenuhi ketersediaan tujuh dari sembilan buku mata pelajaran SD dan tujuh dari sepuluh buku mata pelajaran SMP. (agung)
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/9/17/inflasi.aspx