M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Universitas yang Tidur dalam Kemewahan

Universitas yang Tidur dalam Kemewahan

Paling tidak lima tahun terakhir universitas-universitas di Indonesia secara serentak menslogankan ”universitas kelas dunia” seperti nyanyi vokal yang tidak jelas bunyi awal dan akhirnya. Bunyi nyanyi itu indah didengar dan dibayangkan, tetapi buruk dilihat dan pahit dirasakan. Realitasnya, universitas-universitas di Indonesia tidak pernah menduduki peringkat puncak di Asia, bahkan di Asia Tenggara.

Dibandingkan dua jirannya, Malaysia dan Singapura, keterpurukan itu terlihat jelas. Beberapa universitas Malaysia dan Singapura pernah menduduki posisi puncak Asia. National University Singapura, misalnya, di ranking ketiga Asia tahun 2009, Universiti Malaya di ranking ke-4 Asia (2004), dan Universitas Kebangsaan Malaysia masuk 200 dunia pada 2006.

Tahun ini, dari ranking versi QS (London), Indonesia secara keseluruhan belum mencatat capaian impresif, betapapun banyak komentar subyektif mengagulkan diri dari pejabat perguruan tinggi. Ketika Malaysia menempatkan lima universitasnya dalam 100 terbaik Asia, Indonesia hanya menempatkan dua universitas.

Universiti Malaya (Malaysia) di ranking 42 Asia, turun setingkat dari 2009, Universiti Kebangsaan Malaysia (58), Universiti Sains Malaysia (69), Universiti Putra Malaysia (77) dan Universiti Teknologi Malaysia (90). Sementara Indonesia, posisi terbaik dicapai Universitas Indonesia (UI) yang masuk 50 besar Asia dan Universitas Gajah Mada (UGM, 85). Selebihnya di luar angka 100.

Institut Teknologi Bandung (ITB) terlempar ke peringkat 113 Asia, kalah dari Universitas Airlangga (Unair, 109). Sementara Institut Pertanian Bogor (IPB) di peringkat 119 dan Universitas Padjadjaran (Unpad) serta Universitas Diponegoro (Undip) di ranking 161.

Universitas luar Jawa yang tertua, Universitas Andalas Padang dan Universitas Makassar tidak masuk 200 Asia. Apa sebenarnya kunci di balik sukses dan ”sukses” para universitas di atas? Perbandingan bisa menjadi salah satu ilustrasi.

Lemah basis pustaka

Adalah kenyataan, di Indonesia universitas yang masuk peringkat 200 besar Asia adalah universitas yang ada di Pulau Jawa. Maknanya, pembangunan pendidikan tinggi ternyata masih berfokus di pusat-pusat kekuasaan. Satu warisan sentralisme sejak awal republik, bahkan sejak kolonial. Di luar itu, universitas-universitas di Indonesia juga belum memiliki satu kebijakan pendidikan yang progresif dan reformatif untuk—katakanlah—membangun sistem dan fasilitas pendidikan berkelas dunia.

Di Malaysia, fasilitas dunia segera tampak hampir di semua fasilitasnya, mulai laboratorium, ruang kuliah, perpustakaan, sampai anggaran operasionalnya. Sementara di Indonesia, dari segi perpustakaan saja, Universitas Indonesia (kini masuk 50 Asia) hanya bisa meminjamkan lima buku ke tiap mahasiswa, durasi 15 hari, dengan perpanjangan 45 hari. Sistem peminjaman dan pengadaannya juga umumnya bersifat lokal, bahkan manual.

Di Malaysia, semua mahasiswa bisa meminjam 20 buku per kartu, masa pinjam 40 hari dan bisa diperpanjang sampai 140 hari. Semua dilengkapi sistem jejaring elektronik dan dapat bertukar akses dengan berbagai perguruan tinggi dunia.

Perguruan tinggi di Malaysia amat sadar akan pentingnya buku. Itu terlihat dari upaya keras mereka meningkatkan kuantitas koleksi tiap tahun. Mereka punya tim pemburu buku dan jaringan pemesanan buku di berbagai tempat di dunia, termasuk Indonesia. Tidak salah jika berbagai terbitan dan kliping Indonesia disimpan di sejumlah universitas Malaysia. Kita dengan mudah menemukan koleksi lengkap majalah Editor, Tempo, Pandji Masyarakat, Suara Mesjid, Horison, dan majalah yang (mungkin) dianggap tak penting di Indonesia seperti Aneka Minang—terbit tahun 1970-an. Kita pun bisa mendapat majalah terbitan Hindia Belanda seperti Indische Verslag, Koloniale Studien, De journalistiek van Indie, dan Kroniek Oostkust van Sumatra Instituut, sekadar contoh.

Semua majalah itu disimpan bersama ribuan jurnal lama dan terbaru dari berbagai disiplin ilmu yang terbit dari berbagai sudut dunia, dari berbagai universitas terkemuka dunia. Perpustakaan mereka dilengkapi ruang audio visual, yang menyimpan dokumen mikrofilm, CD-DVD, kaset, dan film. Juga disediakan ruangan untuk mahasiswa peneliti, ruang diskusi, dan ruang laboratorium komputer-cyber, serta bioskop mini untuk memutar film.

Tidak salah jika mahasiswa Muslim Asia berbondong-bondong ke Malaysia untuk melanjutkan studi, termasuk dari Indonesia. Semua bisa mendapat beasiswa dan menjadi asisten riset. Gajinya jelas lebih besar dari gaji dosen golongan IVa di Indonesia.

Di Indonesia

Indonesia dengan kebijakan hebat meningkatkan porsi anggaran pendidikan hingga 20 persen, ternyata malah cenderung menswastakan universitas negeri. Artinya, memindahkan beban yang harus dipikul negara ke rakyat banyak. Dengan PDB tertinggi di ASEAN, sekitar 5.000 triliun rupiah, porsi 20 persen dari APBN tentu sangat signifikan. Namun, mengapa justru perguruan tinggi makin menguatkan diri sebagai komoditas mewah yang bisa diakses hanya oleh sebagian kecil penduduk?

Sebenarnya Indonesia hingga saat ini—walau diam-diam—masih jadi acuan utama bagi Malaysia, dan mungkin bagi sebagian negara ASEAN. Bangsa Indonesia disukai karena dianggap lebih dinamis, kreatif, dan egaliter—ini sangat disenangi dosen-dosen Malaysia.

Bangsa Indonesia memiliki dasar historis dan basis budaya pendidikan yang kuat dibandingkan Malaysia atau negara lain. Gairah intelektualnya lebih dahulu muncul dibandingkan Malaysia. Kondisi geografis, politis, historis, hingga kultural Indonesia menempati posisi tersendiri karena kekayaan, kebesaran, dan kematangannya.

Namun, sayang, semua itu tidak dijadikan dasar kuat membuat perguruan tinggi yang bisa menjadi acuan terbaik. Kita ingat, di abad ke-7, di masa Sriwijaya, kita sudah punya universitas yang jadi acuan banyak negara. Mungkin itu salah satu universitas tertua di dunia.

Sayang sekali, kita seperti tertidur dalam kemewahan warisan hebat di atas. Adakah karena kebijakan dan sistem yang tidak cerdas atau manusianya yang tidak cerdas. Jawabannya harus kita dapatkan bersama. Bersama-sama.

Oleh: Wannofri Samry

Penulis adalah Dosen Universitas Andalas, Mahasiswa Doktoral Universiti Kebangsaan Malaysia

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/11/20/09451919/Universitas.yang.Tidur.dalam.Kemewahan

Gamelan Angklung Di Desa Tanjung Benoa

Gamelan Angklung Di Desa Tanjung Benoa

Kiriman I Made Agus Dwipa Kartianta, mahasiswa PS Seni Karawitan

Gamelan angklung adalah gamelan tua di Bali, dan salah satu perangkat gamelan yang pada masa lalu mengalami popularitas dapat dilihat dari data perkembangannya yang tersebar di seluruh kabupaten di Bali. Dalam perkembangannya gamelan ini mengalami perubahan-perubahan dalam fungsi,tata cara penyajian, yang mengikuti konsep desa kala patra sebagai sebuah media ritual yang fleksibel. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, secara fungsional angklung pun telah mengalami perubahan dimana secara ritual tetap berlangsung tetapi secara estetis gamelan ini menjadi sebuah iringan tari,iringan wayang, serta diolah dalam komposisi music modern.

Gamelan angklung adalah gamelan berlaras selendro, tergolong barungan madya yang dibentuk oleh instrument berbilah dan pencon dari krawang, kadang-kadang ditambah angklung bamboo kocok (yang berukuran kecil). Dibentuk oleh alat-alat gamelan yang relative kecil dan ringan (sehingga mudah untuk dimainkan sambil berprosesi). Jenis gamelan angklung ada tiga yaitu : angklung Kembang  Kiran, angklung Klentangan dan Angklung Don Nem. Perbedaan ketiga jenis angklung ini terletak pada jumlah penggunaan nada yang maupun bilah dalam tungguhan jenis gangsa maupun jegogannya

Berdasarkan konteks penggunaan gamelan ini hanya mempergunakan 4 nada sedangkan untuk daerah Bali Utara mempergunakan 5 nada. Berdasarkan konteks penggunaan gamelan ini, serta materi tabuh yang dibawakan angklung dapat dibedakan menjadi :

  1. Angklung klasik yang dimainkan untuk mengiringi upacara (tanpa tari-tarian);
  2. Angklung kebyar yang dimainkan untuk mengiringi pagelaran tari maupun drama

Gamelan Angklung Di Desa Tanjung Benoa, selengkapnya

Curahan Hati Komunitas Semut Sebelas FSRD ISI Rambah Ubud

Curahan Hati Komunitas Semut Sebelas FSRD ISI Rambah Ubud

Kiriman Arba Wirawan

ISI-Ubud Gianyar-Komunitas Semut Sebelas seniman akademis muda yang beranggotakan  11 orang mahasiswa Jurusan Lukis, FSRD ISI Denpasar anggkatan 2008, rambah Ubud pameran pada tanggal 11 November sampai dengan 14 November 2010 di Utak-Utik Gallery bertempat di Br. Nyuh Kuning, Mas-Ubud. Konsep pameran seniman muda ini mengusung karya Apresiasi Curahan Hati dimana karya-karya yang kami tampilkan merupakan apresiasi dengan tehknik dan gaya masing-masing tanpa terikat dengan tema yang ditentukan ataupun diharuskan. Dengan kata lain, berkarya dengan inspirasi masing-masing dan menentukan secara bebas menuangkan ekspresi ke media sehingga tidak membatasi kreatifitas  dan ide dalam berkarya.

Pameran dibuka oleh Dekan FSRD, Dra. Ni Made Rinu,M.Si, pemilik gallery  Wayan Tesa, Klian Dinas Br. Nyuh Kuning, dan Ketua Jurusan Drs. I Wayan Kondra,M.Sn, “Saya bangga dengan kreativitas semut sebelas yang memulai pamerannya di kota seni Ubud yang merupakan poros seni rupa Indonesia”. Kata Rinu, dan kegiatan ini merupakan interaksi seniman muda dengan masyarakatnya.  Semangat semut gotong-royong, kebersamaan, dan selalu menjaga komunitasnya merupakan modal menembus medan seni rupa yang memiliki persaingan yang sangat sengit. Munculnya komunitas ini merupakan awal pencarian jati diri menuju pada keberhasilan. “Tidak anti pada kritik dan saran dari pecinta dan pengamat seni merupakan pikiran yang terbuka untuk peningkatan kualitas dalam berkarya”ungkap Kondra menyemangati mahasiswanya. Semoga dengan pameran ini dapat terukur hasil karya yang dihasilkan dan terus dilaksanakan secara berkelanjutan.

Sebelas semut sebagai semut muda seniman akademis yang meniru konsep semut untuk menunjukan gadingnya dalam kancah seni rupa Indonesia membawa pada keberhasilan-keberhasilan kelompok yang lebih dahulu yang sukses sebagai kelompok dan individu. Selain berpameran sebelas semut juga melaksanakan lomba mewarnai untuk anak-anak TK  Permata Hati Br. Nyuh Kuning, yang bertujuan untuk menumbuhkan kreatifitas dan kesenian pada anak-anak sejak usia dini khususnya dalam seni lukis dan juga memperkenalkan komunitas kami pada masyarakat serta sebagai sarana pambelajaran bagi kami didalam bermasyarakat.

Berikut anggota sebelas semut yang berpameran Agus Murdika, Adis S., Agung P, Kd Eko, Suwastika, Muliasa, J Diragandi, Agus Darmayasa, Agustina, Suwarita, dan Mardiana. Selamat berpameran dan sukses. (laporan arba wirawan).

Sejarah Gong Due Di Jero Kelodan Kerobokan

Sejarah Gong Due Di Jero Kelodan Kerobokan

Kiriman I Gede Bayu Suyasa, mahasiswa PS Seni Karawitan

Berawal dari Perang pada tahun ±1860 antara Jero Wayahan Lanang Celuk di Jero Kerobokan dengan Desa Kelibul yang dulunya adalah wilayah kekuasaan Raja Mengwi, sebelum terjadi perang sakral yang dianggap memiliki kekuatan magis yang ada di Desa Kelibul tersebut seperti :

–      Gong + Bande

–      Tapel Barong (dipura Maspait Kelibul)

–      Kul-kul (Kentungan)

–      Belong

–      Arca

Tujuan daripada dicarinya benda-benda tersebut agar desa Tibubeneng tidak memiliki kesaktian, untuk menghadapi Jero kerobokan. Perang terjadi karena Jero Wayahan Lang Celuk di Kerobokan ingin memperluas daerah kekuasannya itu.

Sarana-sarana yang merupakan kesaktian daripada tibubeneng tersebut diambil hanya untuk taktik atau cara orang dulu dalam berperang. Setelah sekian lama perang bergejolak selama puluhan tahun dan pada akhirnya pada Tahun 1926 perang usai.

Bersamaan pada waktu itu seiring berkembangnya Gamelan Gong Kebyar, timbullah keinginan dari keturunan beliau untuk melengkapi yang mulanya hanya ada 1 Gong dan 1 bande yang dianggap sakti itu menjadi satu bangunan Gong Kebyar lengkap, namun Gong DAN Bande yang dianggap sakral tersebut tetap disimpan, hanya dibuatkan duplikatnya saja.

Keturunan Beliau bersaudara empat orang, masing-masing mendiami, Jero Gede, Jero Kelod, Jero Kajanan, dan Jero Anyar-Anyar dan yang mewarisi Gong tersebut adalah Jero Br. Anyar yaitu “A.A Ratu Pemecutan” dengan putranya yang bernama A.A Putu Regeg.

Karena A. Ratu Pemecutan tidak suka dengan sanaknya yang suka berjudi  maka A. Ratu Mecut minggat dan kembali ke Jero Kelodan sampai akhir keturunan beliau maka dikembalikanlah lagi Gong Kebyar tersebut ke Jero Kelodan sampai sekarang. Dari dulu sampai sekarang sudah bermacam-macam sekaa yang menabuh Gong tersebut namun yang dapat diketahui sekarang adalah ‘Sekaa Eka Satya Budaya”.

Konon katanya jika sekaa gong yang pada saat menabuh gamelan terkena racun dan muntah darah disana di mintakan air (tirta) dari Gong sakti tersebut setelah diminum langsung sembuh. Dan jika ada orang yang sampai dewasa tidak bisa bicara dimintakan juga air tirta dari gong tersebut.

Konon juga katanya jika gong tersebut dibunyikan akan terjadi hujan yang sangat lebat (dulu katanya pernah dibuktikan). Nama dari Gong Due tersebut karena kata “Due” berarti kepemilikan raja. Dulunya Gong kebyar yang ada di Jero Kerobokan hanya satu-satunya yang ada di Kerobokan.

Dulunya Gong tersebut hanya difungsikan pada saat ada upacara (odalan) di Jero dan di Pura adapun tabuh-tabuhannya merupakan tabuh-tabuh lelambatan, adapun pelatihannya yang dapat diketahui yaitu :

Nyoman Redit Br. Campuan

Wayan Rideg Br. Gede

Gong Due tersebut juga katanya pernah dipinjam oleh Pak Berata ke Belawan dan dipinjam juga oleh tamatan Asti dulu untuk ujian Sarjananya.

Sejarah Gong Due Di Jero Kelodan Kerobokan selengkapnya

Tradisi Megibung Dari Karangasem

Tradisi Megibung Dari Karangasem

Kiriman I Gede Suwidnya, Mahasiswa PS Seni Karawitan

Megibung adalah suatu proses atau kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat atau sebagian orang untuk duduk bersama  saling berbagi satu sama lain, terutama dalam hal makanan. Tidak hanya perut kenyang yang didapat dari kegiatan ini namun sembari makan kita dapat bertukar pikiran bahkan bersendagurau satu sama lain.

Megibung bersasal dari kata dasar gibung yang mendapat awalan me-. Gibung berarti kegiatan yang dilakukan oleh banyak orang yaitu saling berbagi antara orang yang satu dengan yang lainnya, sedangkan awalan me- berarti melakukan suatu kegiatan.

Tradisi Megibung merupakan kegiatan yang dimiliki oleh masyarakat Karangasem yang daerahnya terletak di ujung timur Pulau Dewata. Tanpa disadari Megibung menjadi suatu maskot atau ciri khas Kabupaten Karangasem yang ibu kotanya Amlapura ini. Tradisi Megibung sudah ada sejak jaman dahulu kala yang keberadaannya hingga saat ini masih kerap kali kita dapat jumpai. Bahkan sudah menjadi sebuah tradisi bagi Masyarakat Karangasem itu sendiri didalam melakukan suatu kegiatan baik dalam upacara Keagamaan, Adat maupun kegiatan sehari-hari masyarakat apabila sedang bercengkrama maupun berkumpul dengan sanak saudara.

Saat ini kegiatan megibung kerap kali dapat dijumpai pada saat prosesi berlangsungnya Upacara Adat dan Keagamaan di suatu tempat di Karangasem. Seperti misalnya dalam Upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Bhuta Yadnya, Rsi Yadnya dan Manusa Yadnya. Pada kegiatan ini biasanya yang punya acara memberikan undangan kepada kerabat serta sanak saudaranya guna menyaksikan prosesi kegiatan upacara keagamaan tersebut. Sehingga prosesi upacara dapat berlangsung seperti yang diharapkan.

Proses penyembelihan babi pun dilakukan sebagai salah satu menu di dalam mempersiapkan hidangan yang disebut Gibungan ini. Daging babi diolah sedemikian rupa dan di kasi bumbu tertentu sehingga daging yang mentah menjadi menu pelengkap yang menggugah selera seperti sate, lawar, soup (komoh), Gegubah/lempyong, pepesan serta yang lainnya. Menu yang dihidangkan dalam Megibung tidaklah harus daging babi, namun dading ayam, kambing serta daging sapipun tidaklah masalah.

Megibung berlangsung apabila tamu undangan sudah lama bersanda gurau dengan kerabat serta sanak saudara serta setelah selesai membantu tugas-tugas yang dapat dilakukan guna kelangsungan acara tersebut, sebelum para undangan pulang terlebih dahulu di ajaklah untuk makan (megibung) sebagai tanda terimakasi atas kedatangan dan bantun dalam acara tersebut. Dalam Megibung biasanya terdiri dari lima hingga tujuh orang, yang dilakukan dengan duduk bersama membentuk lingkaran. Adapun ciri khas dari megibung ini adalah :

Tradisi Megibung dari Karangasem, selengkapnya

Updating Data Dosen untuk Sertifikasi Dosen Tahun 2011

Kepada Yth,

Pimpinan PTN dan Koordinator Kopertis I-XII

Sehubungan dengan rencana pelaksanaan sertifikasi dosen tahun 2011 dan untuk mendapatkan data yang lengkap dan akurat, bersama ini dengan hormat kami sampaikan hal-hal sebagai berikut :

  1. Bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan tinggi pada saat ini sudah berhasil melakukan integrasi data Direktorat Ketenagaan dan Direktorat Akademik
  2. Dimohon agar PTN dan Kopertis melakukan updateing data dosen yang akan digunakan untuk penentuan kebijakan serdos tahun 2011
  3. Updateing data dapat dilakukan secara online lewat situs http://evaluasi.dikti.go.id degan mengoptimalkan fungsi operator-operator evaluasi PTN dan Kopertis yang sudah ada

Sehubungan dengan hal tersebut diatas, diharapkan semua PTN dan Kopertis agar segera melaksanakan updating data dosen paling lambat tanggal 15 November 2010 sebelum kuota serdos tahun 2011 ditetapkan.

Demikian kami sampaikan atas perhatian dan kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.

Direktur Ketenagaan,

Ttd

Supriadi Rustad.

Sumber: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1741:updating-data-dosen-untuk-sertifikasi-dosen-tahun-2011&catid=68:berita-pengumuman&Itemid=160

Loading...