M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Choir Of ISI Denpasar Raih Juara II  “Bali Choir Festival 2010”

Choir Of ISI Denpasar Raih Juara II “Bali Choir Festival 2010”

Sejumlah 34 mahasiswa  Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar berada di Singaraja sejak  29/11 untuk  mengikuti “Bali Choir Festival 2010” pada 30/11 di Undiksa. Tujuan diadakannya lomba ini adalah untuk  membangkitkan paduan suara yang ada pada Perguruan Tinggi di Bali.

“Choir of ISI Denpasar” yang merupakan kegiatan kemahasiswaan dibawah pembinaan Pembantu Rektor III, dalam penampilanya menyanyikan lagu Serangan Pulau Kenangan sebagai lagu wajib serta lagu Bungan Sandat dan Kebyar-Kebyar sebagai lagu pilihan, dengan pembina I Komang Darmayuda,SSn., M.Si,  Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si,  I Ketut Sumerjana, S.Sn, Wahyu Sri Wiyati, S.Sn. Ni Ketut Nordi, Suminto,S.Ag.

Penampilan ISI Denpasar yang memukau juri di ruang Auditorium Kampus Undiksa dengan koreografi yang mempesona arahan koreografer I Nyoman Sura, S.Sn. berhasil merebut juara II, dengan Gita Pati/dirigent terbaik, UNUD dan Undiksa masing-masing sebagai juara I dan III. Festival paduan suara ini diikuti oleh  perguruan tinggi diantaranya UNUD, ISI Denpasar, UNWAR, IKIP PGRI, UNDIKSA,  dan Dyana Pura. Masing-masing pemenang mendapatkan piala,sertifikat dan uang pembinaan.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. didampingi Pembantu Rektor III, I Made Suberata, M.Si., Dekan FSP beserta jajarannya yang hadir menyaksikan festival tersebut mengungkapkan rasa terima kasih dan bangganya kepada seluruh mahasiswa yang sudah berlatih dengan kesungguhan serta para pembina yang sudah melatih mahasiswa sampai pada acara ini. Mahasiswa ISI Denpasar yang mengikuti lomba ini, sebagian besar adalah mahasiswa semester I, yang baru pertama kali pentas dengan 17 kali latihan.”Saya mengucapkan selamat kepada seluruh peserta dan Undiksa sebagai panitia. Kemenangan ISI Denpasar adalah kemenangan kita bersama, dan ISI Denpasar siap mengadakan pentas bersama semua team berbakat dari semua Perguruan Tinggi di Bali dalam kolaborasi seni yang indah, sehingga seni dapat merekatkan kita semua”harap Prof Rai.

Humas ISI Denpasar melaporkan

ISI Denpasar Ikuti “Bali Choir Festival 2010”

ISI Denpasar Ikuti “Bali Choir Festival 2010”

Kampus ISI Denpasar memang tidak pernah surut aktifitas. Setelah Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) melaksanakan studi exkursi dari 26-29/11, dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) mengadakan kolaborasi dengan Saint Louis Artists’ Guild Amerika, sejumlah 34 mahasiswa  Fakultas Seni Pertunjukan dan Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar berada di Singaraja sejak  29/11 untuk  mengikuti “Bali Choir Festival 2010” pada 30/11 di Undiksa. Tujuan diadakannya lomba ini adalah untuk  membangkitkan paduan suara yang ada pada perguruan tinggi di Bali.

Rombongan “Choir of ISI Denpasar”  dalam penampilanya menyanyikan lagu Serangan Pulau Kenangan sebagai lagu wajib serta lagu Bungan Sandat dan Kebyar-Kebyar sebagai lagu pilihan, dengan pembina I Komang Darmayuda,SSn., M.Si,  Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si,  I Ketut Sumerjana, S.Sn, Wahyu Sri Wiyati, S.Sn. Ni Ketut Nordi, Suminto.

Penampilan ISI Denpasar yang memukau juri di kampus Undiksa dengan koreografi yang mempesona ini, arahan koreografer I Nyoman Sura, S.Sn. Festival paduan suara ini diikuti oleh 7 perguruan tinggi diantaranya UNUD, ISI Denpasar, UNWAR, IKIP PGRI, UNDIKSA, IHDN, dan Dyana Pura.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. didampingi Pembantu Rektor III bidang kemahasiswaan, yang hadir menyaksikan festival tersebut mengungkapkan rasa terima kasih dan bangganya kepada seluruh mahasiswa yang sudah berlatih dengan kesungguhan serta para pembina yang sudah melatih mahasiswa sampai pada acara ini. “

Humas ISI Denpasar Melaporkan

Studi Eksistensi Gerabah Tradisional Sebagai Warisan Budaya Di Bali

Studi Eksistensi Gerabah Tradisional Sebagai Warisan Budaya Di Bali

Kiriman Drs. I Wayan Mudra, M.Sn.

Permasalahan dari penelitian ini adalah beberapa sentra kerajinan gerabah di Bali dari waktu kewaktu semakin berkurang. Kondisi ini disebabkan oleh berbagai faktor yang perlu dicari penyebabnya untuk mengambil tindakan lebih lanjut. Kami  sebagai peneliti dan sekaligus memiliki disiplin ilmu yang terkait dengan bidang ini merasa khawatir suatu saat kerajinan gerabah hanya tinggal kenangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriftif kualitatif, bertujuan menjelaskan eksistensi gerabah tradisional sebagai warisan budaya di Bali. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi melalui pemotretan. Sumber data penelitian adalah perajin gerabah dan produk gerbah Bali. Penentuan sumber data perajin sebagai informan kunci dan produk dari masing-masing sentra dilakukan dengan metode sampel dengan mempertimbangkan tingkat kompetensinya.

Penelitian ini menunjukkan bahwa beberapa pembuatan kerajinan gerabah tradisional Bali masih tetap eksis dan beberapa sentra tetap eksis namun tidak menunjukkan perkembangan yang signifikan. Sentra-sentra kerajinan gerabah yang masih eksis saat ini di Bali antara lain :

1.     Kerajinan gerabah di Banjar Basangtamiang.Desa Kapal Kecamatan Mengwi Kabupaten Badung.

Kerajinan gerabah di Banjar Basangtamiang masih tetap eksis dengan produk yang dibuat beragam antara lain untuk kebutuhan upakara Agama Hindu, kebutuhan rumah tangga, maupun untuk benda-benda hias. Produk-produk tersebut dipasarkan untuk kebutuhan masyarakat umum dan kebutuhan hotel. Teknik pembentukan yang diterapkan perajin adalah teknik putar “ngenyun” dengan alat yang disebut “pengenyunan/lilidan” dan teknik cetak menggunakan bahan kayu. Pembakaran gerabah dilakukan dengan tungku bak pada ruang tertutup. Di banjar ini sebagian besar penduduknya hidup sebagai perajin gerabah. Eksisnya kerajinan gerabah di tempat ini terkait dengan mitos yang dipercaya masyarakat setempat.

2.     Kerajinan gerabah di Desa Pejaten Kabupaten Tabanan.

Kerajinan gerabah ini justru berkurang membuat produk-produk untuk kepentingan upacara keagamaan. Perajin saat ini lebih fokus membuat produk-produk untuk kebutuhan hotel dan konsumen luar negeri. Perajin berproduksi dengan menggunakan teknik cetak dengan bahan gift. Hasilnya produk dapat dibuat sama dan ukurannya dapat dibuat lebih besar dibandingkan menggunakan teknik putar. Perajin menggunakan tungku keramik api berbalik untuk proses pembakaran. Di desa ini hanya ada satu keluarga yang menekuni kerajinan gerabah sejak  lama, memliki sifat lebih terbuka menerima masukan dari berbagai pihak.  Wujud karya lebih banyak berwujud patung, salah satu patung inovasi yang menjadi ikon perajin ini disebut dengan “Patung Kuturan”. Patung ini menjadi ciri khas produk patung gerabah di Desa Pejaten.

3.     Kerajinan gerabah Banjar Binoh Kelurahan Ubung Kecamatan Denpasar Barat.

Kerajinan gerabah di Banjar Binoh ditekuni oleh para wanita yang rata-rata sudah berusia lanjut. Perajin ini bergabung dalam satu kelompok usaha gerabah disebut Kriya Amerta. Mereka bekerja dan menjual hasil produknya dalam kelompok tersebut. Perajin Binoh lebih banyak mengerjakan benda-benda benbentuk gentong berbagai ukuran dibandingkan dengan produk-produk lainnya. Perajin memasarkan produknya untuk kebutuhan untuk masyarakat umum dan kebutuhan hotel.

4.     Kerajinan gerabah Desa Banyuning Kabupaten Buleleng.

Kerajinan gerabah di desa ini lebih berkembang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Perajin yang menekuni kegiatan pembuatan gerabah ini semakin bertambah. Pada awal perkembangannya kerajinan gerabah di desa ini ditekuni oleh satu keluarga.  Produk-produk yang dibuat adalah untuk kepentingan upacara keagamaan, perlengkapan rumah tangga dan benda-benda hias. Padagang memasarkan produk-produk gerabah di wilayah Buleleng, Badung dan Denpasar. Produk gerabah Buleleng tidak memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan produk perajin lain di Bali. Perajin menggunakan mesin untuk membantu mengolah bahan baku, sehingga proses produksi bahan lebih cepat. Teknik pembentukan dilakukan dengan teknik putar. Perajin menggunakan tungku dengan bahan plat baja dan besi dalam pembakaran gerabah dengan bahan bakar jerami dan kayu bakar.

5.     Kerajinan gerabah Desa Tojan Kecamatan Klungkung Kabupaten Klungkung.

Saat ini kerajinan gerabah di Desa Tojan masih eksis, namun kedepan dikhawatirkan tidak generasi yang meneruskan, sehingga kemungkinan akan hilang. Perajin yang masih menekuni kerajinan di desa ini hanya satu keluarga yang terdiri dari tiga orang perempuan tua. Perajin menekuni usaha kerajinan ini merupakan warisan para orang tua mereka. Perajin menghasilkan produk-produk ukuran kecil untuk kepentingan upacara keagamaan seperti pulu, caratan, senden, dan lain-lain. Menurut perajin tidak banyak hasl yang didapat dari usahanya ini. Pada bulan-bulan terakhir ini, perajin membuat alat peleburan perak pesanan perajin perak. Teknik pembentukan barang dilakukan dengan teknik putar. Pembakaran menggunakan tungku ladang pada halaman terbuka dengan bahan bakar jerami, kayu dan bahan sejenis lainnya. Pedagang memasarkan produknya di pasar Klungkung.

Umumnya perajin gerabah Bali tidak menerapkan finishing warna pada produknya. Perajin menggunakan lapisan pere pada permukaan gerabah sebelum dibakar, untuk menghasilkan warna merah bata yang lebih cerah. Pere bias berupa tanah dan batuan  batuan yang dihaluskan. Bahan ini juga dimanfaatkan dalam pewarnaan lukisan tradisi sepert wayang Kamasan.

Tetap eksis dan berkembangnya kerajinan gerabah di Bali, dapat disebabkan oleh tiga faktor antara lain faktor mitos yang berkembang pada perajin tersebut, faktor umat Hindu di Bali masih tatap menggunakan benda-benda gerabah sebagai perlengkapan upakara agama dan berkembangnya kepariwisataan di Bali.

Kata Kunci : eksistensi, gerabah tradisional Bali.

Studi Eksistensi Gerabah Tradisional Sebagai Warisan Budaya Di Bali, selengkapnya

ISI Denpasar-Saint Louis Artists’s Guild Gelar “Fine Arts Workshop And Exhibition”

ISI Denpasar-Saint Louis Artists’s Guild Gelar “Fine Arts Workshop And Exhibition”

Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar kemarin (29/11) menggelar kolaborasi dengan Saint Louis Artists’s Guild Amerika dengan agenda workshop dan pameran seni lukis yang dihadiri oleh dosen dan mahasiswa jurusan Seni Rupa ISI Denpasar. Rombongan Saint Louis Artists’Guild ini dipimpin oleh executive director, Davide Weaver didampingi oleh Maestro ternama Mario Blanco, diterima langsung oleh Rektor ISI Denpasar beserta jajarannya.

Setelah acara ramah-tamah, rombongan mendapatkan suguhan tari Selat Segara dan Satya Brasta yang dipentaskan oleh mahasiswa Seni Pertunjukan ISI Denpasar yang membuat rombongan yang hampir semua baru pertama kali berkunjung ke Pulau Bali ini, terkesima dan kagum akan kesenian Bali. Tak kalah menariknya, pameran lukisan yang disuguhkanpun membuat para seniman lukis Amerika ini terkagum-kagum, yang membuat acara workshop semakin akrab dan penuh nuansa kebebasan berekspresi. “Saya sangat kagum melihat kampus seni ISI Denpasar, terutama networking ISI yang dijelaskan oleh Rektor tadi. Saya bangga bisa melihat seni-budaya Bali dan  lukisan Bali yang begitu memukau,”ujar Davide Weaver.

Rektor ISI,Prof. I Wayan Rai S.,M.A. dalam sambutannya menyampaikan terima kasih yang sangat dalam kepada Mario Blanco dan Saint Louis Artists’ Guild yang telah bekerjasama dengan ISI Denpasar. “Kerjasama ini berawal dari tawaran Sherrly Marlinton, Kepala Bagian Informasi KBRI di Chicago kepada saya untuk mengadakan pameran di Chicago dan juga kerjasama bidang seni antara Presiden SBY dan Presiden Obama. Seni lukis Bali harus digalakkan agar dikenal dunia karena dari segi kualitas lukisan Bali tidak kalah dengan perupa Amerika. Agustus 2011 seniman Bali akan mengadakan workshop di USA baik seniman tari, lukis, patung, dan sastra” ujar Mario Blangko, yang juga alumnus FSRD. Rombongan hari ini akan bertolak ke Jakarta untuk mengadakan pameran di Museum Nasional dengan lukisan hasil kolaborasi dengan ISI Denpasar. Pada saat yang sama Dekan FSRD Dra. Ni Made Rinu, M.Si., juga menerima kunjungan dari University of Western Ausatralia (UWA) dengan agenda konfirmasi pengiriman mahasiswa UWA ke ISI Denpasar.

Humas  ISI Denpasar melaporkan

Kulkul Sebagai Simbol Budaya Masyarakat Bali

Kulkul Sebagai Simbol Budaya Masyarakat Bali

Kiriman I Gde Made Indra Sadguna

Pendahuluan

Kulkul atau kentongan (Jawa) merupakan instrumen musik yang bisa dibuat dari kayu ataupun bambu. Secara spesifik, kayu yang dapat dipergunakan sebagai bahan kulkul adalah: kayu ketewel (nangka), kayu teges (jati), kayu camplung, dan kayu intaran gading (batang pohon pandan yang sudah tua). Untuk mendapatkan kulkul yang baik, maka dipilihlah kayu atau bahan yang baik pula, karena dengan bahan yang baik dapat memberikan kualitas suara yang baik pula. Kayu terbaik untuk dipergunakan sebagai bahan kulkul adalah kayu nangka (artocarpus heterophyllus). Hal ini disebabkan karena serat kayu nangka lebih padat dibandingkan dengan kayu yang lainnya, sehingga dapat menghasilkan suara yang lebih padat dan bagus.

Kulkul berbentuk bulat memanjang, di mana pada bagian tengah tubuhnya terdapat rongga suara yang berfungsi sebagai resonator. Alat musik ini dikelompokkan ke dalam golongan idiophone sebab sumber suaranya berasal dari getaran tubuhnya sendiri. Ukuranya bervariatif, ada yang panjangnya hanya ½ meter dengan lebar lingkaran 10 cm, tapi ada juga yang lebih dari 1 meter dengan lebar lingkaran 100 cm. Biasanya kulkul yang berukuran besar ditempatkan (digantung) di pos-pos siskamling, banjar-banjar atau pura-pura.

Sesungguhnya budaya kentongan terdapat di seluruh daerah  di Nusantara sebagai sarana komunikasi. Sebut saja di Pulau Jawa misalnya, instrumen kentongan biasa difungsikan untuk sarana siskamling atau dijadikan sarana membangunkan orang puasa ketika bulan Ramadhan. Namun hal ini kiranya tidak terjadi di Bali. Keberadaan kulkul di Pulau Dewata secara umum diposisikan sesuai kegunaannya di dalam kehidupan masyarakat.

Lalu pertanyaannya, berapakah jenis kulkul yang terdapat di Bali? Mengapa keberadaan instrumen kulkul begitu berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat Bali ? Apakah karena faktor sejarah, politik, sosial, agama atau faktor lain, sehingga kalau di daerah lain kulkul dipandang sebagai alat musik biasa, tapi di Bali kulkul sangat bermakna? Penjelasan mengenai permasalahan tersebut akan dibahas penulis sebagai berikut.

Kulkul Sakral

Di Bali terdapat tiga jenis kulkul. Pertama, ada kulkul sakral yang keberadaannya selalu ditempatkan di pura-pura dan disakralkan oleh masyarakat. Sebagai instrumen perkusi, keberadaan kulkul sakral tersebut tidak bisa dilepaskan dari odalan, karena selalu difungsikan sebagai sarana upacara. Dalam tata upacara di Bali disebutkan bahwa yang harus ada dalam suatu odalan adalah Panca Gita. Panca berarti lima sedangkan gita berarti suara atau nyanyian. Pembagian Panca Gita tersebut adalah suara kulkul, suara genta dari orang suci atau pendeta, suara kidung atau nyanyian berisi pujian kepada Tuhan, suara sunari dan suara gamelan. Jadi berdasarkan uraian tersebut, kehadiran kulkul sifatnya wajib dan harus ada pada saat upacara berlangsung.

Kulkul Sebagai Simbol Budaya Masyarakat Bali, selengkapnya

Workshop Penciptaan Patung Topeng Sebagai Industri Kreatif

Workshop Penciptaan Patung Topeng Sebagai Industri Kreatif

Pada hari Jumat (26/11), ISI Denpasar menggelar “workshop” Penciptaan Patung Topeng sebagai Industri kreatif, yang diikuti oleh 20 orang peserta,  5 orang mahasiswa Kriya Seni, 7 orang mahasiswa Seni Patung, 2 orang alumni Kriya Seni, 2 orang Dosen, dan 4 orang seniman anggota dari BIASA ( Bali Indonesia Sculptor Association).

Instruktur kegiatan ini adalah: I Made Sukanta Wahyu (seniman dari Klungkung), I Ketut Muja (Seniman dari Singapadu), I Made Sudiarta (Seniman dari Mas Ubud). Ketiga instruktur ini adalah seniman senior dengan gaya yang berbeda. Peserta dapat memilih gaya siapa yang dikehendaki dalam penciptaan karyanya. Semua karya hasil ”workshop” ini akan dipamerkan di sebuah gallery untuk mendapatkan apresiasi masyarakat terutama yang berkaitan dengan nilai dan pasar.

”Workshop” ini terselenggara berkat kerjasama  antara Community Development  (Comdev)  I-MHERE  Sub- Compenent B1. Batch III ISI Denpasar dengan Bali Indonesia Sculptor Association (B.I.A.S.A). Kegiatan ini dilaksanakan karena pemasaran seni patung dan kerajinan saat ini sangat lesu. Hal ini disebabkan karena karya yang diciptakan sangat monotun dan tersebar luas di setiap daerah. Karya dengan disain baru sangat jarang muncul. Kreasi dan inovatif seniman sangat minim, mereka hanya sebagai pekerja, dan bukan sebagai pencipta. ”Ini merupakan sebuah fenomena yang perlu dipecahkan, sehingga karya seni patung dan kerajinan akan bersinar lagi dan menjadi salah satu primadona pariwisata Bali. Diperlukan suatu trobosan yang lebih enerjik untuk memberdayakan hasil karya seni yang ada menjadi sebuah industri kreatif,” ujar ketua panitia, Drs. I Wayan Suardana, M.Sn.

Rektor ISI Denpasar yang diwakili Pembantu Rektor I, Drs. I Ketut Murdana,M.Si. mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada para seniman yang telah membantu kegiatan ”workshop” tersebut. Dalam usaha memberdayakan hasil karya seni murni menjadi industri kreatif diperlukan berbagai terobosan dari para seniman untuk menciptakan karya seni yang kreatif dan inovatif yang nantinya dapat diproduksi massal dan dapat bersaing di pasaran global. Untuk menjawab permasalahan tersebut perlu diciptakan sebuah disain baru sebagai model yang unik dan menarik. Penciptaan karya ini bertujuan untuk mengembangkan salah satu seni tradisional menjadi sebuah karya kreasi baru dan dapat bersaing di pasaran global. ”Penciptaan patung topeng ini akan sangat bermanfaat bagi para seniman karena akan mendapatkan suatu pengalaman baru dalam menciptakan sebuah karya seni yang kreatif. Setelah penciptaan ini, mahasiswa diharapkan dapat termotivasi untuk menciptakan karya yang berstandar industri kreatif, dan banyak belajar tentang proses penciptaan seni yang yang terarah untuk mendapatkan hasil sesuai dengan yang diinginkan,”harapnya.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Loading...