by admin | Jan 6, 2011 | Artikel, Berita
Publikasi penelitian di Indonesia rendah.Demikian hasil survai setentang publikasi penelitian di Indonesia berkategori rendah. Survei yang dilakukan oleh SCImago itu menempatkan Indonesia pada posisi ke-64 dari 234 negara yang diteliti sepanjang tahun 1996 – 2008,jauh dibawah Arab Saudi,Pakistan,dan Bangladesh.
Hasil survei itu tidak mengagetkan lagi sebab sudah bukan rahasia umum kuantitas dan kualitas penelitian dosen masih rendah. Menurut Dirjen Pendidikan Tinggi (Dikti),jumlah dosen yang meneliti belum mencapai 10 persen dari sekitar 150.000 dosen tetap di perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Hanya sekitar 12.000 dosen yang terdata melakukan penelitian.
Jika riset saja enggan,bagaimana mempublikasikannya ?
Angka Kredit Dosen
Kalau dikatakan dosen tidak meneliti tentu tidak betul juga karena penelitian bagi dosen merupakan tugas yang harus dilaksanakan seperti halnya mengajar. Tridarma Perguruan Tinggi menyatakan bahwa tugas staf akademik terdiri dari pengajaran,penelitian,dan pengabdian masyarakat. Satu saja dari ke tiga unsur tersebut tidak dipenuhi,maka jenjang kepangkatan dosen akan terhambat.Itu artinya karir dosen akan begitu-begitu saja.
Baik, dosen negeri maupun swasta supaya pangkatnya naik ke jenjang yang lebih tinggi harus mengumpulkan angka kredit (kum). Kum itu berasal dari unsur pengajaran,penelitian,dan pengabdian. Ketika seorang dosen baru diangkat sebagai dosen tetap,khususnya pegawai negeri ,ia diangkat dengan golongan III b dengan jabatan asisten ahli madya, ,sesuai dengan syarat dosen harus S2. Selama setahun,dosen baru akan mengalami percobaan (calon pegawai negeri sipil) , jika sudah memenuhi syarat diangkat menjadi pegawai negeri secara penuh .
Agar dapat naik golongan dan jabatan yang lebih tinggi hingga mencapai profesor,maka dosen harus mengumpulkan kum yang diperoleh dengan melaksanakan tugas dosen seperti yang tercantum dalam Tridarma Perguruan Tinggi. Untuk naik dari golongan III/b ke III/c misalnya, diperlukan kum 100 point. Begitu seterusnya hingga dosen mendapatkan golongan tertinggi IV/e (Gurubesar) dibutuhkan keseriusan dan waktu yang panjang mengumpulkan angka kredit.
Penelitian merupakan salah satu unsur yang harus dilakukan dosen untuk naik golongan. Penelitian dosen dihargai dengan 5 point. Bila, penelitian dipublikasikan pada jurnal ilmiah ,maka nilainya menjadi 10 sampai 15.Apalagi kalau hasil penelitian itu dipubliksikan di jurnal internasional,kumnya bisa mencapai 50.
Namun faktanya, meski penelitian maupun publikasi ilmiah memiliki nilai yang sangat tinggi, namun dosen yang gemar meneliti merupakan kaum minoritas.Hal ini juga sebagai pertanda kepangkatan dosen di Indonesia tidak bertambah signifikan sepanjang tahun. Meski,telah bertahun-tahun jadi dosen,namun pangkatnya tidak naik-naik.Kebanyakan dosen di Indonesia pensiun pada Golongan IV/a.
Karenanya tak usah heran kalau jumlah profesor kita pun tergolong rendah di Asia.Kurangnya guru besar di universitas di Indonesia dengan demikian menjelaskan satu hal, bahwa kegiatan penelitian hampir tidak ada. Situasi ini terjadi di semua universitas baik yang besar maupun kecil.
Dosen Peneliti
Meski setiap tahun Dikti menambah anggaran penelitian bagi dosen,namun tetap saja bagi dosen,terutama yang berasal dari daerah merasa kesulitan menembusnya. Banyak dosen yang mengeluh karena sudah berkali-kali membuat proposal untuk menembus hibah penelitian yang ditawarkan dikti,namun tidak pernah lolos dari seleksi Reviwer Dikti.Akhirnya,kebanyakan dosen frustasi dan enggan berpartisipasi menembus hibah penelitian yang ditawarkan Dikti.
Apa sebab? Sebagian besar proposal penelitian yang dikirimkan ternyata tidak memenuhi kriteria yang sudah ditentukan Dikti. Dosen-dosen kita belum mempunyai kemampuan menyusun proposal penelitian yang berkelas sehingga harus gugur dari seleksi reviewer dikti yang ketat. Atmosfir PT kita yang masih berkultur pengajaran belum mampu mencetak peneliti .
Kalau sudah demikian yang perlu disalahkan adalah rekrutmennya. Sudah tahu bahwa salah satu tugas dosen meneliti,namun rekrutmen dosen tidak mensyaratkan kemampuan meneliti. Meski menjadi dosen harus lulusan S2 ,namun tetap saja kemampuan menelitinya minim sekali. Lalu bagaimana ?
Belajar dari negara maju,rekrutmen dosen tidak seperti di Indonesia yang hanya sekadar melakukan tes tertulis ,tes wawancara,dan tes mengajar. Agar dapat menjadi dosen di negara maju,terlebih dulu menawarkan menjadi asisten dosen kepada lulusan terbaiknya. Selama menjadi asisten,universitas menawarkannya mengambil program master atau doktor di universitas yang bersangkutan. Semasa menjadi asisten,universitas akan melibatkannya membantu profesor senior melakukan penelitian. Baru, setelah menyelesaikan program doktor, universitas menawarkan posisi dosen kepadanya. Bila diterima,ia tidak langsung menjadi dosen tetap,namun dikontrak dulu selama beberapa tahun agar dapat dinilai prestasi kerjanya.
Tentu saja penelitian yang dilakukan oleh dosen kontrak tersebut merupakan salah satu variabel penting mengangkatnya menjadi dosen tetap. Bila ia berprestasi selama menjadi dosen,pihak universitas akan memudahkannya meraih jabatan profesor.Tidak rumit seperti di negara kita. Makanya,di negara maju,seperti Amerika Serikat usia profesor masih muda belia. Berbeda dengan di sini,sebagian besar profesor sudah berusia tua hingga tidak produktif lagi meneliti.
Mengharapkan tercipta kultur meneliti yang berujung pada publikasi ilmiah bagaimanapun harus dimulai dari input ,rekrutmen dosen. Sulit, kalau masih mengharapkan kepada dosen yang terbiasa mengajar untuk meneliti. Model-model rekrutmen yang dapat menjaring dosen yang bukan saja piawai berceramah,tapi juga ahli meneliti harus sudah dimulai sejak sekarang. Semoga.
Arfanda Siregar
Dosen Politeknik Negeri Medan
Sumber: http://www.dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1811:merekrut-dosen-peneliti&catid=159:artikel-kontributor
by admin | Jan 6, 2011 | Berita, pengumuman
Yth. Rektor/Ketua/Koordinator Kopertis I – XII
Seluruh Indonesia
Dengan hormat kami sampaikan bahwa Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi menerima berita faksimil dari Kedutaan Besar RI Bucharest dengan Nomor 5912/MENT/2010 tanggal 27 Desember 2010 perihal informasi tawaran beasiswa tahun akademik 2011/2012 dari Pemerintah Romania bagi warga negara asing berdasarkan Peraturan Pemerintah Romania HG. 288/1993. Beasiswa ditawarkan bagi seluruh warga negara asing (non-Uni Eropa) yang berminat untuk melanjutkan studi pada jenjang S1, S2 dan S3 di Universitas Negeri di Romania dengan bahasa pengantar bahasa Romania.
Sebagaai bahan informasi tambahan, bersama ini kami lampirkan copy (a) methodologi program beasiswa; (b) kalender program beasiswa; (c) formulir permohonan yang dikeluarkan Kemlu Romania; (d) formulir permohonan untuk mendapatkan surat izin belajar yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan Riset, Pemuda dan Olah Raga Romania dan (e) daftar universitas-universitas negeri di Romania. Untuk butir (a) publik dapat mengakses melalui situs http://www.mae.ro/node/1794.
Bagi calon mahasiswa yang akan mendaftar, dapat mengirimkan berkas aplikasi kepada Kementerian Luar Negeri Romania atau Kementerian Pendidikan Riset, Pemuda dan Olah Raga melalui perwakilan Romania di Jakarta dengan batas akhir penerimaan berkas pada tanggal 15 April 2011.
Berkaitan dengan hal itu, kami mohon kiranya Saudara dapat menginformasikan dan menyebarluaskan kepada dosen dan mahasiswa di lingkungan perguruan tinggi Saudara dan Kopertis Wilayah masing-masing.
Atas perhatian dan kerjasama yang baik, kami mengucapkan terima kasih.
Jakarta, 31 Desember 2010
Direktur Kelembagaan dan Kerjasama,
Ttd.
Achmad Jazidie
NIP. 19590219 198610 1 001
Tembusan:
Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi
Surat Selengkapnya
Informasi Beasiswa
Sumber: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1810:tawaran-beasiswa-tahun-akademik-20112012-dari-pemerintah-romania&catid=142:berita-beasiswa
by admin | Jan 6, 2011 | Berita
Jakarta — Dari total Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2011 Rp1.229 triliun, sebanyak Rp248 triliun (20,2%) dialokasikan untuk anggaran fungsi pendidikan. Dari jumlah tersebut, Rp158 triliun di antaranya ditransfer ke daerah.
“Enam puluh persen lebih dana pendidikan ditransfer ke daerah,” kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh pada Sosialisasi Program Prioritas Kesejahteraan Rakyat 2011 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Jakarta, Selasa (4/1/2011).
Mendiknas menyampaikan, sebanyak Rp89 triliun anggaran fungsi pendidikan dialokasikan untuk pemerintah pusat. Mendiknas memerinci, dari anggaran pusat sebanyak Rp55 triliun untuk Kemdiknas, Rp27 triliun untuk Kementerian Agama, dan Rp6,8 triliun untuk kementerian/lembaga lainnya. “Ada 18 kementerian yang punya kewenangan untuk melaksanakan fungsi pendidikan. Oleh karena itu, anggarannya juga disebar,” katanya.
Adapun alokasi dana pengembangan pendidikan nasional sebanyak Rp1 triliun. Total anggaran telah mencapai Rp2 triliun akumulasi 2010 dan 2011. “Ini yang disebut dana abadi pendidikan,” ujar Menteri Nuh.
Dari anggaran Kemdiknas Rp55 triliun sebagian besar digunakan untuk program pendidikan dasar Rp12,7 triliun (23%), pendidikan menengah Rp5 triliun (9,1%), dan pendidikan tinggi Rp28,8 triliun (51,9%). “Anggaran Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi termasuk PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) dimasukkan, sehingga sangat besar,” ucapnya. (agung)
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/anggaran.aspx
by admin | Jan 5, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar.
Suara gamelan bagaikan denyut nadi dan menari adalah bak aliran darah masyarakat Bali. Hasrat berkesenian itu tampak hampir dalam setiap lekuk kehidupan dan pada sebagian besar insan-insannya, tak terkecuali pada kaum wanita dan anak-anak. Tak kurang dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang terkagum-kagum dengan kiprah kaum wanita dan bocah-bocah Bali di bidang seni yang disaksikannya pada pembukaan Bali Democracy Forum (BDF) III, Kamis (9/12) lalu, di Nusantara Room, The Westin Hotel, Nusa Dua.
Begitu SBY memasuki ruangan bersama para pemimpin dunia lainnya, gemerincing suara gamelan yang sayup-sayup merdu menyambut santun. Tak seperti lazimnya, para penabuh gamelan Semara Pagulingan itu bukan kaum pria melainkan dimainkan dengan lentur oleh puluhan wanita dengan senyum tersungging. Suasana terhampar teduh dan hikmat.Setelah alunan gamelan peninggalan zaman kejayaan keraton Bali itu senyap, lalu disambung dengan denting nada-nada magis gamelan Gender Wayang. Perhatian seluruh hadirin kemudian tertuju pada sekelompok bocah gabungan wanita dan laki-laki yang memainkan dengan lincah salah satu gamelan Bali yang memiliki teknik permainan nan kompleks itu.
Seusai pembukaan BDF yang ditandai dengan suguhan tari Selat Segara–sebuah cipta tari yang bertema persahabatan dan perdamaian antar negara yang dibawakan sarat aura oleh lima orang gadis ayu–secara spontan SBY menghampiri para penabuh wanita dan bocah-bocah itu. Terjadi dialog akrab antara presiden dengan para penabuh gamelan Semara Pagulingan dan Gender Wayang tersebut. Sembari memberi salam hangat, SBY menyampaikan apresiasinya dengan seni karawitan dan tari yang dibawakan penuh pesona oleh kaum wanita dan anak-anak Bali.
Tentu saja, para penabuh wanita Asti Pertiwi dan penabuh anak-anak Asti Kumara berbangga dan tersanjung atas apresiasi dari orang nomor satu di negeri ini, Presiden SBY. Para seniman wanita dan anak-anak keluarga besar Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar itu tampak berseri-seri saat menjawab beberapa pertanyaan presiden. Rektor ISI Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA yang mendampingi, juga tampak terharu dengan perhatian SBY terhadap dunia seni. Menurut Prof. Rai, presiden tampak begitu peduli terhadap penanaman nilai-nilai seni dan budaya sebagai bagian dari wahana pembentukan karakter bangsa.
Perhatian eksplisit terhadap khasanah kesenian bangsa sepatutnya memang diberikan secara tulus oleh para pemimpin kita. Masih segar dalam ingatan bagaimana apresiasi yang ditunjukkan Presiden SBY saat menyaksikan sendratari pada pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) di panggung terbuka Ardha Candra, 12 Juli lalu. Kendati gerimis hujan cukup deras, presiden SBY yang didampingi Gubernur Bali Made Mangku Pastika dengan berbasah-basah tetap tenang menyaksikan sendratari kolosal “Anggada Duta“ hingga akhir. Ucapan terima kasih yang disampaikannya usai pementasan dengan menyalami para penari, penabuh, narator, dan penggarap lainnya adalah sebuah kasih maesenasisme yang menggugah nurani para pelaku seni. Apresiasi yang demikian adalah api yang mampu mengobarkan semangat para seniman mengabdi pada dunianya, jagat seni, barometer kebudayaan sebuah bangsa.
Demokrasi Berkesenian Wanita Dan Anak-Anak Bali, selengkapnya
by admin | Jan 5, 2011 | Berita

JAKARTA – Pendidikan tinggi (dikti) masih mendapat porsi besar dalamperencanaan anggaran pendidikan di lingkungan kementerian pendidikan nasional (Kemendiknas) pada 2011.
“Dikti mendapat sekira Rp28 triliun atau sekira 51 persen anggaran pendidikan. Jumlah tersebut termasuk anggaran dari pendapatan negara bukan pajak (PNBP),” ujar Mendiknas M Nuh dalam rakor di gedung Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Kemenkesra) Jakarta, Selasa (4/1/2011).
Tahun ini, anggaran fungsi pendidikan pendidikan mencapai Rp248 triliun, atau sekira 20,2 persen dari total Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2011 sebesar Rp1.229 triliun. Anggaran fungsi pendidikan tersebut dibagi ke 18 kementerian dan lembaga yang menjalankan fungsi pendidikan.
“Kemendiknas mendapat jatah Rp55 triliun,” kata Nuh menjelaskan.
Pembagian dana penyelenggaraan pendidikan pada lima fokus kerja Kemendiknas yaitu peningkatan akses dan mutu paud Rp1 triliun; penuntasan pendidikan dasar sembilan tahun Rp7 triliun; peningkatan mutu pendidikan vokasi Rp2 triliun; percepatan peningkatan kualifikasi akademik guru ke jenjang S1 atau D4, sertifikasi, dan rintisan pendidikan profesi guru Rp8 triliun; serta peningkatan jumlah dosen lulusan S3 Rp2 triliun.
Nuh menambahkan, esensi pendidikan nasional adalah bagaimana seorang anak bisa mendapatkan layanan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas mulai dari pendidikan anak usia dini (PAUD) hingga pendidikan tinggi.(fmh)
Sumber: http://kampus.okezone.com/read/2011/01/04/373/410270/anggaran-pendidikan-dikti-51
50% Anggaran Pendidikan untuk Kampus
JAKARTA (SINDO) – Pendidikan tinggi (dikti) masih mendapat porsi besar dalam perencanaan anggaran pendidikan di lingkungan Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) pada 2011.
“Dikti mendapat sekitar Rp28 triliun atau sekitar 51% anggaran pendidikan. Jumlah tersebut termasuk anggaran dari pendapatan negara bukan pajak (PNBP),” ujar Mendiknas M Nuh dalam rakor di Gedung Kementerian Kesejahteraan Rakyat (Kemenkesra), Jakarta, kemarin. Tahun ini anggaran fungsi pendidikan mencapai Rp248 triliun atau sekitar 20,2% dari total Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) 2011 sebesar Rp1.229 triliun.Anggaran fungsi pendidikan tersebut dibagi ke 18 kementerian dan lembaga yang menjalankan fungsi pendidikan.
“Kemendiknas mendapat jatah Rp55 triliun,”kata Nuh. Pembagian dana penyelenggaraan pendidikan pada lima fokus kerja Kemendiknas yaitu peningkatan akses dan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD) Rp1 triliun; penuntasan pendidikan dasar sembilan tahun Rp7 triliun; peningkatan mutu pendidikan vokasi Rp2 triliun; percepatan peningkatan kualifikasi akademik guru ke jenjang S-1 atau D-4, sertifikasi, dan rintisan pendidikan profesi guru Rp8 triliun; serta peningkatan jumlah dosen lulusan S-3 Rp2 triliun.
Nuh menambahkan, esensi pendidikan nasional adalah bagaimana seorang anak bisa mendapatkan layanan pendidikan yang terjangkau dan berkualitas mulai dari pendidikan anak usia dini hingga pendidikan tinggi. Dirjen Pendidikan Tinggi Djoko Santoso mengatakan, sebagian dana tersebut masih dianggarkan untuk keperluan gaji pegawai. “70% anggaran digunakan untuk gaji pegawai, 30%-nya untuk operasional pendidikan tinggi yakni berupa pembangunan dan pengembangan pendidikan,”ujarnya. (banin/andi)
Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/373749/
by admin | Jan 5, 2011 | Berita
Jakarta — Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Mohammad Nuh telah meneken Permendiknas Nomor 45/2011 tentang Kriteria Kelulusan dan Permendiknas Nomor 46/2011 tentang Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) SMP dan SMA.
Pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Tahun Pelajaran 2010/2011 jenjang sekolah menengah atas/ madrasah aliyah/sekolah menengah kejuruan (SMA/MA/SMK) akan digelar pada 18-21 April 2011. Adapun pelaksanaan UN sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs) akan digelar pada 25-28 April 2011.
Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) menyampaikan, pemerintah menggunakan formula baru untuk menentukan kelulusan yaitu nilai gabungan antara nilai UN dan nilai sekolah yang meliputi ujian sekolah dan nilai rapor. “Dengan formula baru kita pertimbangkan prestasi di sekolah (yaitu) ujian sekolah dan raport digabung dengan UN,” katanya saat memberikan keterangan pers di Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas), Jakarta, Senin (3/1/2011).
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdiknas Mansyur Ramly menyampaikan, UN Susulan SMA/MA/SMK dilaksanakan pada 25-28 April 2011 dan pengumuman kelulusan oleh satuan pendidikan paling lambat 16 Mei 2011. Sementara UN Susulan SMP/MTs pada 3-6 Mei 2011, sedangkan pengumuman UN SMP/MTs oleh satuan pendidikan pada 4 Juni 2011. “UN kompetensi keahlian kejuruan SMK dilaksanakan oleh sekolah paling lambat sebulan sebelum UN dimulai,” katanya.
Mendiknas menyampaikan, sebelum kelulusan diumumkan, sekolah mengirimkan hasil nilai sekolah untuk digabungkan dengan hasil nilai UN ke Kemdiknas. Selanjutnya, setelah digabungkan dengan formula 60 persen UN ditambah dengan 40 persen nilai sekolah, nilai tersebut dikembalikan lagi ke sekolah. “Sekolah merekapitulasi dengan mata pelajaran lain. Kan ada tujuh mata pelajaran lain yang harus lulus. Yang menentukan kelulusan tetap satuan pendidikan,” katanya.
Mendiknas mengatakan, dari peta nilai akan dilakukan analisa tiap sekolah. Bagi sekolah-sekolah yang nilainya rendah, akan dilakukan intervensi. Kemdiknas pada 2010 telah mengintervensi dengan memberikan insentif kepada 100 kabupaten/kota yang nilai UN-nya rendah. “Kami beri dana Rp1 miliar sebagai stimulus,” ujarnya.
Insentif tersebut diberikan bagi kabupaten/kota dengan persentase kelulusan siswa kurang dari 80 persen dan memiliki indeks kapasitas fiskal kurang dari satu (<1). Adapun intervensi program yang dilakukan meliputi peningkatan kompetensi guru dan remedial.
Mendiknas tidak memberikan target khusus kelulusan siswa. “Justru yang menjadi target adalah kejujuran dari pelaksanaan UN. Itu yang lebih mahal karena dari angka kelulusan tahun lalu sudah 99 persen,” katanya. (agung)
Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/un.aspx