M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Wedhus Gembel Halahala Mandaragiri, Bagian I

Wedhus Gembel Halahala Mandaragiri, Bagian I

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Bukan hanya gunung Merapi, Bromo, dan Anak Krakatau saja yang belakangan meletus. Sabtu (27/11) malam lalu, gunung Mandara juga meletus dahsyat. Yang mengerikan, wedhus gembel yang dimuntahkan gunung Mandara mengandung halahala yaitu racun yang mematikan. Racun yang dimuntahkan dari puncak gunung itu mengancam segala mahluk hidup.

Tetapi masyarakat Jawa Tengah yang menyaksikan letusan gunung Mandara itu tampak tenang-tenang saja bahkan menikmatinya dengan rona suka cita.

Meletusnya Mandaragiri itu adalah sebuah pementasan sendratari yang digelar di Pendhapa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jawa Tengah. Sendratari berjudul “Siwa Wisaya“ itu merupakan persembahan para mahasiswa ISI Denpasar yang disuguhkan sebagai penampilan pamungkas dalam pentas Mebarung Gong Kebyar Se-Jawa dan Bali yang diselenggarakan oleh ISI Surakarta. Duel Gong Kebyar yang berlangsung dua malam, 26-27 Nopember lalu itu, menghadirkan empat grup Gong Kebyar yakni ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, Puspa Giri Semarang, dan ISI Denpasar.

Kisah gunung Mandara yang disuguhkan oleh 60 orang mahasiswa ISI Denpasar itu terasa kontekstual dengan bencana alam letusan gunung yang kini sedang merisaukan masyarakat Indonesia. Cerita tentang Mandaragiri sangat akrab pada masyarakat Jawa pencinta wayang kulit. Karena itu, Pemutaran Mandaragiri yang merupakan bagian awal dari epos Mahabharata yang digarap dalam sendratari berdurasi 25 menit, menjadi komunikatif. Penonton yang memenuhi Pendhapa menyimak dengan antusias dan tekun tampilan artistik dan lontaran pesan yang digarisbawahi secara verbal oleh dalang atau narator dalam bahasa Jawa Kuno dan Indonesia.

Alkisah pada zaman satyayuga, para dewa dan raksasa bersepakat bekerja sama mencari tirta amerta atau air kehidupan abadi. Untuk mendapatkan air suci itu adalah dengan cara mengaduk lautan susu, ksiarnawa, dengan sebuah gunung. Pada hari yang telah ditentukan,  gunung Mandara di Pulau Sangka digotong oleh Hyang Antaboga dan diceburkan ke tengah samudra. Agar gunung mengapung, kura-kura Kurma menyangga di dasar laut dan dewa Indra menduduki puncak gunung. Naga Basuki yang membelit gunung, kepalanya dipegang para raksasa dan ekornya ditarik oleh para dewa. Mandaragiri diputar. Samudra mendidih dan topan menyamuk. Para penghuni gunung terpelanting binasa dan habitat lautan bergelimpangan.

Dari puncak gunung mandara menyembur gumpalan hitam pekat. Para dewa dan para raksasa bersorak girang, berebut hendak mereguk gumpalan yang mencair  itu. Dewa Siwa yang mengawasi sepak terjang para dewa dan raksasa itu dengan sigap merebutnya dan dengan seketika meminumnya. Leher Dewa Siwa menjadi biru legam terbakar karena yang diminum oleh Dewa Siwa adalah halahala alias racun pembunuh. Para dewa dan raksasa penasaran dan kembali memutar gunung Mandara yang kemudian mengeluarkan cairan bening wangi, tirta amerta. Para raksasa dengan garang menguasai dan melarikan. Beruntung Dewa Wisnu dapat merebut dengan tipu rayu menjadi bidadari. Tirta amerta itu kemudian ditebar Dewa Wisnu untuk kebahagian segenap manusia dan kedamaian jagat.

Wedhus Gembel Halahala Mandaragiri, selengkapnya

Pengumuman Pemeriksaan Mata

PENGUMUMAN

Nomor :   202/I5.11.1/TU/2011.

Diumumkan kepada seluruh Pegawai Negeri Sipil ( Dosen dan Pegawai )     ISI Denpasar, bahwa akan diadakan pemeriksaan Mata secara Gratis menggunakan system KOMPUTER.

Yang akan dilaksanakan pada :

Hari            :  Rabu.

Tanggal       :  12 Januari 2011.

Jam             :  10.00 Wita s/d. selesai.

Tempat       :  Depan Ruang Kesehatan  (Gedung Translition Centre )

ISI Denpasar.

Demikian pengumuman dibuat untuk diketahui.

Denpasar,       Januari  2011.

a.n. Rektor,

Pebantu Rektor II,

I Gede Arya Sugiartha, SS Kar., M Hum.

NIP 196612011991031003.

Tembusan :

1. Rektor ISI Denpasar sebagai laporan.

1. Dekan

2. Kepala Biro

3. Kepala UPT.

4. Kepala LP2 M. ISI Denpasar

Pengumuman Penerimaan Mahasiswa Baru ISI Denpasar Jalur Bidik Misi Tahun 2011/2012

Pengumuman Penerimaan Mahasiswa Baru ISI Denpasar Jalur Bidik Misi Tahun 2011/2012

Unduh file ‘disini

PENGUMUMAN

Nomor 197/I5.12/KM/2011

Tanggal 7 Januari 2011

Tentang

Penerimaan Mahasiswa Baru

Program Beasiswa Bidik Misi Institut Seni Indonesia Denpasar

Tahun Akademik 2011/2012

Pada tahun akademik 2011/2012 penerimaan mahasiswa baru ISI Denpasar diselenggarakan melalui jalur :

1.       Reguler Mandiri;

2.       PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan); dan

3.       Program Beasiswa Bidik Misi Tahun 2011.

Penerimaan mahasiswa baru Program Beasiswa Bidik Misi (beasiswa dan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dan berprestasi) ISI Denpasar pada tahun 2011 dialokasi sebanyak 45 (empat puluh lima) orang bagi siswa SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lainya yang sederajat yang akan lulus pada tahun 2011 atau telah lulus tahun 2010 dan bukan penerima Bidik Misi.  Setiap calon pendaftar hanya boleh mendaftar di 1 (satu) perguruan tinggi dengan memilih 2 (dua) program studi.

Program studi S1 di lingkungan ISI Denpasar sebagai berikut :

Kode PS Nama Program Studi
91-231 SENI TARI
91-211 SENI KARAWITAN
91-241 SENI PEDALANGAN
90-201 SENI RUPA MURNI (minat LUKIS dan PATUNG)
90-221 DESAIN INTERIOR
90-241 DESAIN KOMUNIKASI VISUAL
90-211 KRIYA SENI (minat KAYU dan KRAMIK)
91-271 FOTOGRAFI

Informasi lebih lanjut harus berpedoman pada  Panduan Bidik Misi dan Formulir pendaftaran,  dapat diunduh di www.dikti.go.id atau www.bidikmisi.dikti.go.id

Demikian atas perhatiannya diucapkan terima kasih.

Rektor

ttd

Prof. Dr. I Wayan Rai S.,MA

NIP 195505261981031002

Oleg Tamulilingan, Tari Cinta Kasih Bali

Oleg Tamulilingan, Tari Cinta Kasih Bali

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Dua istilah dalam bahasa Bali, oleg (goyang) dan tamulilingan (kumbang), digabungkan untuk menyebut sebuah cipta seni tari yang lahir pada tahun 1952. Tak disangka, tari yang bertutur tentang sepasang kumbang, jantan dan betina, yang sedang menjalin asmara di sebuah taman bunga itu, masih mempesona hingga hari ini. Oleg Tamulilingan, tari duet buah kreasi dan inovasi I Ketut Marya tersebut, dalam perjalanannya, menjadi karya seni pertunjukan monumental yang belum tertandingi hingga kini. Masyarakat Bali seakan tak pernah bosan mengaguminya. Pun, tidak sedikit para gadis Bali yang dengan bangga membawakan gemulai anggun, lenggok  si kumbang betina nan ayu ini.

Tengoklah pada Kamis (25/11) malam lalu di Gedung Mario, Tabanan. Beberapa pasang penari Oleg Tamulilingan, sarat antusias adu keperigelan dalam sebuah kompetisi. Luh Kade Pebria Satyani (18 tahun), misalnya, tampak menunjukkan totalitasnya mensinergikan wiraga-wirama-wirasa, bersama pasangannya (kumbang jantan),  tampil dengan aura dan gairah berbinar. Begitu juga para penari Oleg yang lainnya, semuanya pentas dengan semangat membuncah. Gereget tersebut, selain digedor oleh motivasi lomba, tampaknya juga digelorakan oleh stimulasi cinta seni budaya luhur bangsa sendiri. Lebih-lebih bagi masyarakat Tabanan, tari Oleg Tamulilingan dan Ketut Marya diusung sebagai salah satu ikon dearahnya. Patung Oleg Tamulilingan dipajang di depan Gedung Mario (diabadikan dari nama Marya yang oleh orang barat disebut Mario).

Tari Oleg Tamulilingan dan Mario telah menyatu dan melegenda. Sejatinya,  tari Oleg diciptakan melalui proses berliku oleh pribadi seorang Ketut Marya yang unik. Ekspresi artistik  yang terakumulasi dalam tari Oleg, memang sepenuhnya merupakan formulasi estetik Ketut Marya. Tetapi  iringannya yang merupakan kerangka konseptual dalam sebuah koreografi, Marya disokong pengerawit tangguh yaitu Wayan Sukra asal Marga, Tabanan dan disempurnakan oleh Anak Agung Gde Mandera, Gusti Kompyang, dan Wayan Lebah dari Peliatan, Gianyar. Sedangkan dari aspek gagasan, tari Oleg terinspirasi oleh foto-foto ballet klasik duet “Sleeping Beauty” yaitu tentang kisah percintaan putri Aurora dengan kekasihnya Pangeran Charming, yang ditunjukkan kepada Marya oleh seorang budayawan Barat yang menetap di Kaliungu, Denpasar, John Coast.

Tari Oleg Tamulilingan diciptakan Marya ketika usianya menapak lebih dari 50 tahun. Di usia senjanya, Marya  asyik memanjakan kegemarannya berjudi sabungan ayam. Ketika ada ajakan kepadanya untuk bergabung dengan sekaa gong Peliatan, Ubud, Gianyar, Marya  tak menggubrisnya dengan alasan dirinya sudah tua. Baru ketika salah satu muridnya, I Sampih, yang memintanya dengan segala bujuk rayu menciptakan sebuah tari baru untuk sekaa gong Peliatan yang akan melawat ke luar negeri, ia tertarik. Sebagai seorang seniman tulen, ketika berkesempatan melawat ke Eropa, Kanada, dan Amerika serikat pada tahun 1957 dan 1962, Marya tampil dengan taksu berbinar memukau penonton dengan membawakan tari ciptaannya, Kebyar Terompong.

Oleg Tamulilingan, Tari Cinta Kasih Bali, selengkapnya

Mendiknas: Swasta dan Negeri Harus Dibedakan

Mendiknas: Swasta dan Negeri Harus Dibedakan

JAKARTA–Penyelenggaraan pendidikan bisa dilakukan oleh Pemerintah dan swasta. Jika dilakukan oleh Pemerintah maka disebut sekolah negeri, akan tetapi jika dilakukan oleh masyarakat maka disebut swasta. Atas dasar ini, swasta dan negeri harus dibedakan.
’’Pemerintah punya keterbatasan, dan berdasarkan undang-undang itu penyelenggaraan pendidikan bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat. Kalau semuanya menjadi tanggungan Pemerintah, maka peran masyarakat akan hilang,’’ ucap Menteri Pendidikan Nasional ketika ditanya soal gugatan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 Pasal 55 ayat 4, Jumat (7/1).
Menurut Nuh, berdasarkan pandangan dari sisi pemerintah atas UU Sisdiknas, pendidikan itu sejak awal dilakukan terbuka, yaitu bisa dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Jika kata ’dapat’ dalam pasal itu diganti dengan kata wajib, maka semuanya menjadi tanggungan pemerintah dengan kata lain menghilangkan konsep swasta.
’’Bukan kalau pemerintah memberikan status sama dengan negeri, maka yang swasta diberikan fasilitas yang sama dengan negeri, lalu apa bedanya swasta dengan negeri’’ tuturnya. Akan tetapi jika masyarakat punya pandangan lain, hal itu dipersilahkan. ’”Masyarakat bisa melalui mekanisme pengujian di MK (Mahkamah Konstitusi), nanti diputuskan apa pemerintah wajib memenuhi seluruh pendidikan yang ada di masyarakat,’’ tuturnya.
Justru kalau semuanya menjadi kewajiban pemerintah, swasta tak bisa mengembangkan diri dan masyarakat memiliki keterbatasan untuk berpartisipasi dalam pendidikan. ’’Justru pemerintah meletakkan fondasi bahwa pendidikan menjadi milik semua,’’ ucapnya.
Pemerintah dari awal memberikan bantuan melalui BOS atau bantuan guru DPK, yang mekanisme bantuannya melalui anggaran kabupaten dan kota. Anggaran fungsi pendidikan ini bukan hanya untuk negeri akan tetapi untuk swasta. Ia menambahkan masyarakat harus membedakan antara hak perorangan dan lembaga.
’’Semua bantuan akan diterima secara bertahap,karena pemerintah punya keterbatasan. Bagi anak-anak miskin, ada sekolah dasar yang ada di setiap pedesaan yang menjadi hak menerima pendidikan. Jadi tidak ada diskriminasi,’’ pungkasnya.

Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/11/01/07/157230-mendiknas-swasta-dan-negeri-harus-dibedakan

Gamelan Bali Mendunia Tanpa Tanda Tanya

Gamelan Bali Mendunia Tanpa Tanda Tanya

Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Pada awalnya, mebarung gamelan menguak dari Buleleng. Dari desa-desa di Bali Utara itu, sekitar tahun 1930-an, merebak ke seluruh Bali. Sejak Pesta Kesenian Bali (PKB) digelar tahun 1979, duel gamelan dan tari ini sangat populer di tengah masyarakat Pulau Dewata. Tetapi, kini, pentas secara kompetitif gamelan ini mulai merambah pulau Jawa. Pada tanggal 26-27 Nopember lalu misalnya,  masyarakat pecinta seni Jawa Tengah, terpana oleh sajian mebarung gamelan Bali yang digelar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Empat grup gamelan, tiga dari tanah Jawa dan satu dari Bali, tampil adu tangguh. Penonton tampak menikmatinya dengan begitu antusias bak suasana pentas mebarung di Bali.

Pada malam pertama (26/11), pentas secara berhadapan tim gamelan ISI Surakarta dengan ISI Yogyakarta. Sajian konser gamelan dan tari yang ditampilkan mirip dengan festival atau parade Gong Kebyar di arena PKB. Ada tampilan dua konser tabuh dan suguhan nomor tari atau sendratari. Demikian pula mebarung pada malam kedua (27/11) yang menampilkan ISI Denpasar dan grup gamelan Puspa Giri Semarang menyuguhkan materi seni karawitan dan tari yang diwajibkan panitia. Tak dinyana, penampilan tiga grup gamelan Bali dari Jawa tidak kalah tangguh dengan sajian para mahasiswa ISI Denpasar.

Tradisi mebarung gamelan di Bali dan gebrakan mebarung gamelan Bali di Jawa tak bisa dilepaskan dari pesatnya perkembangan Gong Kebyar. Ansambel gamelan yang lahir di Bali Utara pada tahun 1915 ini, kini, hampir dimiliki oleh setiap banjar atau desa di Bali. Belakangan, tak sedikit dari pribadi-pribadi, sanggar-sanggar seni, kantor-kantor pemerintah dan swasta yang memiliki barungan gamelan yang biasanya dimainkan oleh sekitar 30-40 orang penabuh ini. Sedang di Jawa, sekolah-sekolah atau institut-institut seni dan sanggar-sanggar tari juga mengkoleksi dan mempelajari salah satu gamelan yang paling populer ini. Selain itu, kini gamelan Gong Kebyar telah menyebar ke pelosok Nusantara yang dibawa atau diprakarsai oleh para transmigran asal Bali. Ritual agama Hindu di pura pura di daerah transimigrasi di Sulawasi, Kalimantan, Sumatera misalnya telah lazim disertai dengan gemerincing permainan gamelan Gong Kebyar.

Di tengah masyarakat Bali, Gong  Kebyar  berfungsi fleksibel menyertai berbagai kepentingan pentas seni, baik presentasi estetik murni maupun persembahan dalam konteks ritual keagamaan. Gamelan ini sangat umum  dikenal,  baik oleh msyarakat Bali sendiri maupun oleh para peminat musik  luar Bali. Gamelan  ini kini malahan  sudah menyebar  ke luar negeri, di Amerika Serikat ada grup gamelan Gong Kebyar Sekar Jaya dan di Jepang ada grup Sekar Jepun yang sangat aktif menggelar pementasan. Gaya permainan musik Kebyar yang cepat, energik, atraktif, ramai dengan variasi jeda-jeda yang diungkapkan dengan penuh daya pikat, bergairah, dianggap mewakili dan menjadi ciri khas  musik Bali secara keseluruhan.

Fenomena semakin banyaknya sebaran Gong Kebyar di Nusantara bahkan ke seantero jagat memunculkan sebuah wacana yang didiskusikan dalam sebuah seminar pada tanggal 26 Nopember di ISI Surakarta, menjelang pentas Mebarung Gong Kebyar. Tiga pakar seni dan budaya tampil sebagai nara sumber yakni Prof. Dr. Rahayu Supanggah, SKar, Prof. Dr. I Wayan Rai, S.MA, dan Prof. Dr. Ida Bagus Yudha Triguna membahas topik “Musik Bali Mendunia?”, (dengan tanda tanya). Para peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen serta para peminat seni, mengikuti dengan tekun seminar setengah hari yang berlangsung hangat itu.

Gamelan Bali Mendunia Tanpa Tanda Tanya, selengkapnya

Loading...