by admin | Jan 18, 2011 | Berita
Sebanyak 43 mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar pameran bersama atas karya terbaik mereka di Galeri Sika, Ubud, Kabupaten Gianyar, selama dua pekan, 18 Januari hingga 1 Pebruari 2011.
“Pameran bersama mahasiswa pada semester ganjil tahun ajaran 2010/2011 tersebut merupakan tugas akhir sekaligus persyaratan untuk meraih gelar sarjana seni (S-1),” kata Dekan FSRD ISI Denpasar Dra Ni Made Rinu MSi saat mendampingi Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai S bertemu pers di Denpasar, Senin.
Ia mengatakan, pameran yang mengusung tema lingkungan dengan landasan seni budaya Bali itu, merupakan pertanggungjawaban akademik mahasiswa ISI setelah nantinya menempuh ujian komprehensip, 24-28 Januari 2011.
Mereka yang berpameran terdiri atas 12 mahasiswa jurusan seni rupa murni, sembilan orang peminat lukis dan tiga orang peminat patung, dua jurusan kriya dan dua orang kriya kayu.
Selain itu juga dari jurusan desain interior sembilan orang, desain komunikasi visual (DKV) 19 orang dan program studi fotografi seorang.
Ni Made Rinu yang juga didampingi ketua panitia kegiatan tersebut Drs Olih Solihat Karso MSn dan Ketua Jurusan Desain Prof Dr Drs I Nyoman Artayasa MKes menambahkan, pameran merupakan kegiatan akademik sebagai ajang pameran kreativitas mahasiswa yang memiliki nilai sangat spesifik.
Karya-karya yang ditampilkan sesuai perkembangan estetika sebagai sebuah ilmu keindahan yang selalu bergerak mengikuti perkembangan zaman yang terefleksi dalam gaya hidup serta terkolaborasi dengan budaya dan lingkungannya.
Melalui pameran tersebut diharapkan mampu membawa kiprah dan memberikan kontribusi dalam meningkatkan wacana, evaluasi dan apresiasi seni terhadap masyarakat.
Hal penting lainnya mampu sebagai wahana penjelajahan mahasiswa dalam mengembangkan bakat alamiah yang kemudian berproses maju dan berkelanjutan.
Selain itu mampu membangun dialog apresiatif serta mampu mengangkat kesadaran budaya bagi para seniman, pencinta seni dan masyarakat secara keseluruhan, ujar Ni Made Rinu.
Humas ISI Denpasar Melaprkan
by admin | Jan 18, 2011 | Berita
Surabaya – Mendiknas Mohammad Nuh menghapus jalur mandiri di perguruan tinggi negeri (PTN) yang membuat pendidikan tinggi menjadi mahal. “Insya-Allah, tahun 2012 sudah tidak ada lagi jalur mandiri,” katanya kepada pers di kediamannya, di Surabaya, Minggu.
Didampingi staf khusus bidang media massa, Sukemi, ia menjelaskan, struktur anggaran PTN selama ini berkisar pada SPP (dana masyarakat), kerja sama (mitra), dan pemerintah (dana bantuan pemerintah).
“Selama ini, PTN ambil jalan pintas untuk membiayai diri dengan menaikkan SPP atau membuka jalur mandiri, nanti hal itu akan diubah secara bertahap dengan dana pemerintah lebih meningkat,” katanya.
Menurut mantan Rektor ITS Surabaya itu, peningkatan dukungan pemerintah untuk anggaran PTN itu sangat memungkinkan sehubungan dengan kenaikan anggaran fungsi pendidikan.
“Tahun 2011, anggaran fungsi pendidikan yang kami kelola mencapai Rp248 triliun dan tahun 2012 akan meningkat Rp40 triliun lebih menjadi Rp284 triliun, sehingga dana untuk pendidikan tinggi akan dapat ditingkatkan,” katanya.
Bahkan, katanya, pihaknya secara khusus akan mengucurkan dana Rp200 miliar untuk Universitas Trunojoyo (Unijoyo) di Bangkalan, Madura.
“Itu terkait dengan adanya Jembatan Suramadu yang perlu didukung dengan upaya membangun Madura, bukan membangun di Madura. Untuk membangun Madura, maka sumber daya manusia merupakan pendekatan utama,” katanya.
Ia menambahkan pihaknya juga menerapkan dana abadi pendidikan senilai Rp1 triliun yang bunganya akan digunakan menyekolahkan dosen menjadi master atau doktor.
Ujian Nasional
Dalam kesempatan itu, Mendiknas menegaskan bahwa pihaknya juga akan menyatukan jenjang pendidikan secara vertikal yakni hasil ujian di SD bisa diterima di SMP, hasil ujian di SMP bisa diterima di SMA, dan hasil ujian di SMA juga dapat diterima di PTN.
“Masalahnya, hasil ujian di SMA belum dapat dipakai di PTN, lalu saya bertanya kepada pimpinan PTN tentang masalah sebenarnya, ternyata ada dua hal yakni mereka tidak percaya dengan materi tes SMA dan tidak percaya dengan pelaksanaan tes di SMA,” katanya.
Untuk mengatasi ketidakpercayaan itu, pihaknya mengajak PTN untuk membuat soal bagi tes di SMA. “Tahun ini, soal UN akan dibuat PTN dengan lima jenis, sehingga tidak akan bisa saling mencontek,” katanya.
Terkait ketidakpercayaan dengan pelaksanaan tes di SMA yang amburadul, ia mengatakan bahwa hal itu dapat diatasi dengan melibatkan kalangan PTN sebagai pengawas.
“UN juga akan mulai dapat digunakan acuan untuk masuk PTN, karena pendaftaran masuk PTN nantinya akan ada dua cara yakni ujian tulis melalui SNMPTN dan undangan melalui nilai rapor dan hasil UN,” katanya.
Dalam PP 66/2010 sudah diatur SNMPTN akan mencapai kuota minimal 60 persen, sedangkan kuota 40 persen diambil dengan cara undangan itu.
“Untuk cara undangan juga mengatur 60 persen diambil dari nilai UN dan 40 persen dari nilai rapor. Kenapa UN lebih besar, karena nilai rapor itu bias yakni sekolah dengan akreditasi berbeda (A, B, C) menggunakan nilai 7-8, sehingga mana yang pintar menjadi bias,” katanya.
Ia menambahkan PP juga mengatur 20 persen mahasiswa di PTN harus berasal dari keluarga miskin, atau meningkat dibandingkan dengan sebelumnya hanya berkisar 5-6 persen untuk keluarga miskin.
“Nantinya, BOS hanya 60-70 persen untuk dukungan pemerintah pusat, sedangkan sisanya menjadi urusan pemerintah daerah setempat,” katanya.(*)
Sumber: antaranews.com
by admin | Jan 17, 2011 | Berita
Setelah menempuh perjalanan selama hampir 3 jam, rombongan ISI Denpasar tiba di Pura Maksan Salak Desa Tista Karangasem, Sabtu (15/1). Di pura yang memiliki 301 pengempon ini, dosen dan mahasiswa Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI disambut hangat oleh penduduk dan pemuka desa, dalam kegiatan Tri Darma, yaitu pengabdian masyarakat dengan ”ngaturang ayah”. Mengiringi ”pemedek” yang menghaturkan ”banten” malam itu, penabuh Asti Pertiwi memainkan beberapa tabuh, yang kemudian disusul dengan persembahan Tabuh Gesuri, Goak Macok, Tari Selat Segara, Tari Wiranjaya, serta Pragmentari Ciwa Wisaya ditampilakn oleh mahasiswa FSP semester VII, sedangkan mahasiswa asing asal Jepang, Mariko Inui dan Tashiro Cia membawakan tari Margepati. Yang sangat menarik adalah, para penabuh yang memainkan gemelan Gong Kebyar berumur 2 abad milik Desa Adat Tista, tidak hanya mahasiswa Karawitan semeter VII, namun turut serta Pembantu Rektor (PR) II dan IV, Dekan FSP, Kejur serta Sekjur Karawitan.
”Kami, atas nama ”krama” menghaturkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada ISI Denpasar yang telah bersedia ”ngayah”di pura ini, dan kami sangat bangga ISI Denpasar sudah terkenal di Manca Negara sebagai pelopor seni budaya Bali,”ujar I Nyoman Sarjana, Klian Pura Maksan Salak saat ramah-tamah dengan Rektor ISI didampingi PR II,IV, serta Dekan FSP. ”Kami juga sangat berterima kasih telah diberi kesempatan untuk ”ngayah”, dan berdoa bersama untuk memohon keselamatan. Apresiasi yang mendalam juga kami sampaikan untuk mahasiswa dan dosen yang selalu semangat dalam setiap kegiatan ”ngayah” ini,”ucap Prof. Rai.
I Nyoman Karang, salah seorang penduduk desa Tista, pemain kendang yang telah menerima Satya Lencana pada tahun 2007 ini tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya dengan kedatangan rombongan ISI Denpasar di daerah kecil ujung timur Pulau Bali tersebut. Demikian juga animo masyarakat sangat tinggi, sehingga walau hujan turun malam itu, masyarakat tetap memenuhi ”jaba” pura untuk menyaksikan keindahan tarian mahasiswa ISI Denpasar.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Jan 17, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Bukan hanya gunung Merapi, Bromo, dan Anak Krakatau saja yang belakangan meletus. Sabtu (27/11) malam lalu, gunung Mandara juga meletus dahsyat. Yang mengerikan, wedhus gembel yang dimuntahkan gunung Mandara mengandung halahala yaitu racun yang mematikan. Racun yang dimuntahkan dari puncak gunung itu mengancam segala mahluk hidup.
Tetapi masyarakat Jawa Tengah yang menyaksikan letusan gunung Mandara itu tampak tenang-tenang saja bahkan menikmatinya dengan rona suka cita.
Meletusnya Mandaragiri itu adalah sebuah pementasan sendratari yang digelar di Pendhapa Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Jawa Tengah. Sendratari berjudul “Siwa Wisaya“ itu merupakan persembahan para mahasiswa ISI Denpasar yang disuguhkan sebagai penampilan pamungkas dalam pentas Mebarung Gong Kebyar Se-Jawa dan Bali yang diselenggarakan oleh ISI Surakarta. Duel Gong Kebyar yang berlangsung dua malam, 26-27 Nopember lalu itu, menghadirkan empat grup Gong Kebyar yakni ISI Surakarta, ISI Yogyakarta, Puspa Giri Semarang, dan ISI Denpasar.
Kisah gunung Mandara yang disuguhkan oleh 60 orang mahasiswa ISI Denpasar itu terasa kontekstual dengan bencana alam letusan gunung yang kini sedang merisaukan masyarakat Indonesia. Cerita tentang Mandaragiri sangat akrab pada masyarakat Jawa pencinta wayang kulit. Karena itu, Pemutaran Mandaragiri yang merupakan bagian awal dari epos Mahabharata yang digarap dalam sendratari berdurasi 25 menit, menjadi komunikatif. Penonton yang memenuhi Pendhapa menyimak dengan antusias dan tekun tampilan artistik dan lontaran pesan yang digarisbawahi secara verbal oleh dalang atau narator dalam bahasa Jawa Kuno dan Indonesia.
Alkisah pada zaman satyayuga, para dewa dan raksasa bersepakat bekerja sama mencari tirta amerta atau air kehidupan abadi. Untuk mendapatkan air suci itu adalah dengan cara mengaduk lautan susu, ksiarnawa, dengan sebuah gunung. Pada hari yang telah ditentukan, gunung Mandara di Pulau Sangka digotong oleh Hyang Antaboga dan diceburkan ke tengah samudra. Agar gunung mengapung, kura-kura Kurma menyangga di dasar laut dan dewa Indra menduduki puncak gunung. Naga Basuki yang membelit gunung, kepalanya dipegang para raksasa dan ekornya ditarik oleh para dewa. Mandaragiri diputar. Samudra mendidih dan topan menyamuk. Para penghuni gunung terpelanting binasa dan habitat lautan bergelimpangan.
Dari puncak gunung mandara menyembur gumpalan hitam pekat. Para dewa dan para raksasa bersorak girang, berebut hendak mereguk gumpalan yang mencair itu. Dewa Siwa yang mengawasi sepak terjang para dewa dan raksasa itu dengan sigap merebutnya dan dengan seketika meminumnya. Leher Dewa Siwa menjadi biru legam terbakar karena yang diminum oleh Dewa Siwa adalah halahala alias racun pembunuh. Para dewa dan raksasa penasaran dan kembali memutar gunung Mandara yang kemudian mengeluarkan cairan bening wangi, tirta amerta. Para raksasa dengan garang menguasai dan melarikan. Beruntung Dewa Wisnu dapat merebut dengan tipu rayu menjadi bidadari. Tirta amerta itu kemudian ditebar Dewa Wisnu untuk kebahagian segenap manusia dan kedamaian jagat.
Wedhus Gembel Halahala Mandaragiri, Bagian II, Selengkapnya
by admin | Jan 16, 2011 | Berita

Kunjungan Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A. beserta PR II, ke Palu pada pertengahan Desember 2010 sebagai wujud gagasan untuk mendirikan ISI Palu, ditindaklanjuti oleh Kadisbudpar Drs. H.Suaib Jafar, M.Si. Jumat (14/1) Suaib berkujung ke ISI Denpasar untuk membahas lebih lanjut sarana dan prasarana guna pendirian ISI Palu. Bertempat di Ruang Sidang ISI, Rektor didampingi para Pembantu Rektor, Dekan kedua Fakultas beserta jajarannya memaparkan kesiapan ISI Denpasar untuk kerjasama guna tingkatkan SDM dan Seni Budaya Sulawesi Tengah.
”Kami sangat berterima kasih kepada kampus ISI Denpasar, yang telah bersedia bekerja sama dengan Pemda Sulteng, dan kami ”menyerahkan” seni budaya Sulteng ke tangan Bapak-Ibu dosen ISI Denpasar. Untuk itu, kami mengundang Rektor ISI beserta jajarannya, untuk datang ke Palu dalam rapat koordinasi HUT Provinsi Sulteng, sekaligus penandatangan MoU pada tanggal 14 Februari mendatang,” ujar Suaib, yang tentu disambut anggukan setuju pejabat ISI.
Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, I Ketut Garwa mengutarakan bahwa pada Bulan April 2011, serangkaian HUT Provinsi Sulteng, ISI Denpasar akan mengunjungi Palu dengan anggota yang terdiri dari Dosen dan Mahasiswa yang berjumlah kurang lebih 100 orang. Mahasiswa dan dosen ini akan menciptakan karya baru dengan konsep budaya Palu. Hal ini disambut baik oleh Suaib, dan dalam waktu dekat akan dikirim dua orang pegawai Pemda Sulteng untuk belajar tari Bali seta mempersiapkan kolaborasi tersebut. Disamping itu, Dekan FSRD, Ni Ketut Rini juga memaparkan rencana pameran yang akan digelar serangkaian HUT Prov.Sulteng.
”Kami sangat berterima kasih atas kunjungan Kadis Budpar Sulteng, dan atas kerjasama baik demi kemajuan SDM dan seni budaya Sulteng. Konsep Tri Hita Karana yang kita miliki yang sama dengan konsep Roso, Risi, Rasa di Sulteng akan semakin mempermudah implementasai rencana kerja dalam kerjasama ini, demi kemajuan ISI Denpasar serta Pemda Sulteng,” harap Prof Rai.
Seusai pertemuan, Kadis Budpar didampingi Rektor dan jajarannya mengunjungi Gedung Pameran ISI Denpasar, serta menyaksikan Penabuh Asti Pertiwi yang sedang berlatih untuk persiapan ngayah di Karangasem pada tanggal 15 dan 21 bulan ini.
Humas ISI Denpasar melaporkan.
by admin | Jan 16, 2011 | Berita
JAKARTA–Menteri Keuangan menerbitkan aturan pengelolaan dana pengembangan pendidikan sebagai panduan agar pengelolaannya oleh badan layanan umum (BLU) berlangsung transparan dan akuntabel. Kepala Biro Hubungan Masyarakat Kementerian Keuangan, Yudi Pramadi dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (14/1), menyebutkan, Menteri Keuangan menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 238/PMK.05/2010 tentang Tata Cara Penyediaan, Pencairan, Pengelolaan, dan Pertanggungjawaban “Endowment Fund” dan Dana Cadangan Pendidikan.
Yudi menyebutkan, dalam APBN dan/atau APBN Perubahan dialokasikan dana pengembangan pendidikan nasional berupa “endowment fund” dan dana cadangan pendidikan yang pengelolaannya dilakukan oleh BLU. Endowment fund adalah dana pengembangan pendidikan nasional yang dialokasikan dalam APBN dan/atau APBN-P yang bertujuan untuk menjamin keberlangsungan program pendidikan bagi generasi berikutnya sebagai bentuk pertanggungjawaban antar generasi (intergenerational equity).
Dana cadangan pendidikan merupakan dana pengembangan pendidikan nasional yang dialokasikan dalam APBN dan/atau APBN-P untuk mengantisipasi keperluan rehabilitasi fasilitas pendidikan yang rusak akibat bencana alam. Sementara satuan kerja (satker) BLU pengelola “endowment fund” dan dana cadangan pendidikan merupakan satuan kerja yang menerapkan pola pengelolaan keuangan BLU.
Menteri Keuangan selaku Bendahara Umum Negara (BUN) merupakan pengguna anggaran atas endowment fund dan dana cadangan pendidikan. Pencairan endowment fund dan dana cadangan pendidikan dari kas negara ke satker BLU dilaksanakan dengan pencairan dari rekening kas umum negara dan ditampung dalam rekening dana endowment fund pada satker BLU.
Atau pencairan dari rekening kas umum negara ditampung dalam rekening dana cadangan pendidikan pada satker BLU. Menteri Keuangan juga mengatur penerimaan pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan endowment fund dan dana cadangan pendidikan. Pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan endowment fund ditampung dalam rekening pendapatan endowment fund pada satker BLU.
Sementara pendapatan yang diperoleh dari pengelolaan dana cadangan pendidikan ditampung dalam rekening pendapatan dana cadangan pendidikan pada satker BLU. Jika satker BLU belum terbentuk, pengelolaan endowment fund dan dana cadangan pendidikan dilaksanakan oleh Pusat Investasi Pemerintah berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan.
“Jika kemudian satker BLU terbentuk, maka pengalihan endowment fund dan dana cadangan pendidikan dari Pusat Investasi Pemerintah kepada satker BLU diatur dengan Keputusan Menteri Keuangan tersendiri,” katanya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/11/01/14/158567-aturan-pengelolaan-dana-pengembangan-pendidikan-diterbitkan