by dwigunawati | Nov 24, 2011 | Berita, Galeri
Krisis energi bahan bakar kompor merupakan hal yang menjadi masalah dalam lingkup masyarakat yang berehidupannya bergantung pada bahan bakar kompor, yaitu berupa minyak tanah dan gas. Namun di masa sekarang setelah konversi gas muncul sebagai pengganti minyak tanah yang semakin langka, masyarakat tetap banyak memilih menggunakan minyak tanah, padahal bahan bakar tersebut sudah sangat langka. Untuk mengatasi masalah ini maka dilakukan upaya sosialisasi pemanfaatan biji jarak menjadi energi alternatif bahan bakar kompor, karena energi alternatif adalah satu-satunya jalan menggantikan energi dari bahan bakar fosil. Dalam hal ini desain komunikasi visual yang dipakai untuk kampanye akan didesain agar lebih efektif dan efisien didalam menyampaikan pemanfaatan biji jarak menjadi energi alternatif bahan bakar kompor di Denpasar.
Jadi dalam hal ini desainer menganalisis dan melihat kesesuaian data yang didapat dari Dinas Perkebunan Bali yang bekerjasama dengan Unit Usaha Kompor Biji Jarak UB-16, dan dengan teori yang berkaitan dengan kasus yang diangkat, kesimpulannya metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif, kualitatif, dan komparatif yaitu menggambarkan fakta-fakta pemanfaatan biji jarak menjadi energi alternatif bahan bakar kompor, kemudian dilihat kesesuaiannya dengan teori-teori yang diperoleh. Adapun konsep dasar yang digunakan adalah natural, Desain yang dibuat dominan menggunakan ilustrasi fotografi, dengan warna yang mencerminkan alam sekitar dan sesuai dengan kenyataan yang ada serta penataan layout, bentuk media, warna, dan desain dibuat mampu menyampaikan informasi secara maksimal kepada masyarakat dengan harapan media yang dibuat mampu menggugah hati masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pemanfaatan biji jarak menjadi energi alternatif bahan bakar kompor di Denpasar.
Dengan didesainnya media komunikasi visual ini diharapkan mampu menjadi lebih efektif, efisien, komunikatif dan tepat sasaran. Sehingga tujuan untuk mengajak dan menumbuhkan kesadaran masyarakat secara maksimal akan tercapai.
Kata Kunci : Desain Komunikasi Visual, Pemanfaatan biji jarak dan natural.
by dwigunawati | Nov 23, 2011 | Berita, Galeri
Dengan semakin banyaknya lahan hutan di Indonesia dibuka untuk untuk diambil sumber daya alamnya dan nantinya dirubah fungsikan menjadi industri pertanian, peternakan dan kelapa sawit, maka perlu dibuatkan buku-buku panduan yang memberikan langkah-langkah benar dalam pelaksanaannya. Salah satu dari langkah tersebut adalah upaya membuka lahan hutan gambut dengan cara tidak membakar hutan dan menutup/menabat kembali parit-parit yang dulu telah dibuat di lahan gambut yang berfungsi untuk memindahkan kayu hasil tebangan. Dengan ditutupnya parit-parit tersebut maka dapat mencegah kebakaran di lahan gambut pada musim kemarau, dan mencegah terjadinya banjir di daerah sekitar lahan gambut pada musim hujan.
Usaha Komunikasi Visual merupakan upaya untuk memberikan informasi secara visual kepada masyarakat untuk melakukan langakah-langkah yang benar dalam mengolah hutan atau lahan gambut dan menjaga lingkungan agar tidak merugikan pihak manapun. Data yang diperoleh dari penelitian ini dikumpulkan melalui berbagai karya tulis cetak dan yang berada di Internet, serta pengamatan langsung media-media yang sudah digunakan selama ini kemudian dibandingkan dengan teori-teori desain. Selanjutnya dianalisa dan ditarik kesimpulan. Kesimpulan ini nantinya akan digunakan sebagai dasar dalam perancangan media komunikasi visual. Dari hasil analisis dan sintesa penulis memilih untuk menggunakan konsep kartun atau ilustrasi di mana desain-desain tersebut nantinya dibuat dengan menggunakan unsur-unsur ilustrasi kartun agar dapat lebih menarik perhatian lebih banyak kalangan masyarakat dari anak-anak hingga dewasa. Media yang dibuat untuk kampanye adalah Poster, Stiker, Flyer, T-shirt, Buku Komik, Web Banner, Mug, Iklan TV (animasi), dan Kartu Pos.
Kata Kunci: Desain Komunikasi Visual, Pelestarian Hutan, Penabatan Parit, Lahan Gambut

by admin | Nov 22, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman I Made Arsa Wijaya, Mahasiswa PS. Seni Karawitan ISI Denpasar
I Nyoman Sutama lahir di Jembrana, 3 Januari 1965. Pria 46 tahun ini menikah tahun 1992 dan di karuniai 2 orang anak. Ia sekarang tinggal di Jalan Dewi Supraba, Gang I, No. 28, Denpasar. Dalam kesenian Jegog, Sutama merupakan seorang tokoh yang sangat penting dan sangat berpengaruh.
Sejak kecil, I Nyoman Sutama memang sudah berniat ingin belajar bermain gamelan. Ia tertarik belajar megambel ketika mendengar gending Legong pada saat melihat orang belajar menari. Ketertarikannya terhadap seni karawitan, tentang cara membuat gending, dan teknik-teknik dalam bermain gamelan membuatnya memilih kuliah di ASTI Denpasar. Akan tetapi, pada saat itu ia belum memiliki skill yang memadai dalam hal bermain gamelan. Pada saat tes praktek untuk kuliah di ASTI, ia di tes oleh bapak I Nyoman Windha. Ia disuruh bermain Gangsa, Kendang, dan Gender Wayang. Pada saai itu ia hanya bisa memainkan Gangsa dan Gender Wayang saja, tetapi masih dalam teknik yang sederhana. Selanjutnya, pada tes interview, ia dites oleh bapak I Made Bandem. Pada saat tes ini, Sutama sempat memohon untuk diterima di ASTI, karena menyadari dirinya belum bisa untuk bermain gamelan. Saat pengumuman tes, Sutama merasa takut jika ia tidak diterima di ASTI. Namun, akhirnya ia diterima dengan urutan paling akhir.
Setelah kuliah di ASTI, ia belajar dengan tekun agar bisa menguasai teknik permainan gamelan Bali dengan baik. Ia sempat belajar bermain kendang dengan Almarhum Pak Lemping, dia merupakan waker (pekerja) di ASTI. Dia sempat di ejek sebagai tukang bersih-bersih oleh teman-temannya karena dia setiap hari membantu Almarhum Pak Lemping membersihkan ruangan. Namun hal tersebut tidak dihiraukan olehnya. Dia tetap membantu Almarhum Pak Lemping karena keinginan yang besar untuk diajarkan bermain kendang. Selain dengan Almarhum Pak Lemping, dia juga pernah belajar bermain kendang dan belajar membuat notasi dengan bapak I Made Murna. Selain belajar bermain kendang dan belajar mebuat notasi, ia juga belajar untuk membuat gending dengan bapak I Nyoman Windha dan bapak I Wayan Suweca. Dari semester empat, Sutama sudah menjadi penabuh inti ASTI Denpasar. Dia di ajak untuk misi kesenian di dalam dan di luar negeri. Madura, Jakarta, Surabaya, Bandung, Australia, dan Jerman adalah tempat yang ia pernah kunjungi selama kuliah di ASTI.
Sutama meraih gelar S.SKar di ASTI Denpasar dengan garapan tabuh kreasi Utsaha dan sendratari Men Brayut. Sutama boleh bangga, karena tabuh kreasi Utsaha yang ia buat masuk dalam kaset ASTI vol.16. Setelah tamat dari ASTI, ia disuruh untuk melatih Gong Kebyar Desa Pengeragoan (Jembrana) dalam rangka PKB. Sampai sekarang Sutama sering menciptakan tabuh dan tari kreasi dalam acara PKB duta Kabupaten Jembrana.
Pada tahun 1988-2002, Sutama bekerja sebagai komposer di Suar Agung. Sebagai tahap percobaan, Sutama disuruh membuat enam buah gending kreasi yang akan dijadikan album “Suara Bambu Jembrana” dengan menggunakan gamelan Gerantang Pelog. Setelah itu, Sutama terus diajak untuk bermain gamelan Jegog bersama sanggar Suar Agung, namun pada saat itu gending-gending Jegog masih berupa gending yang di ambil dari gending Gong Kebyar. Karena merasa kurang cocok, akhirnya Sutama berinisatif untuk tidak menggunakan gending-gending Gong Kebyar lagi. Dia membuat gending kreasi yang khas dengan gamelan Jegog. Karya pertama Jegog kreasi berjudul Dusta Lina. Selain sebagai pelopor adanya tabuh dan tari kreasi pada Jegog, ia juga adalah seseorang yang membuat permainan Jegog dilakukan dengan cara berdiri, yang dulunya dilakukan dengan cara duduk. Hal ini dilakukan karena ia memiliki pertimbangan agar pemain Kendang bisa memimpin dan melihat dengan jelas penabuh yang dipimpinnya. Pada waktu permainan Jegog dilakukan dengan cara duduk, pemain Kendang sangat susah untuk memimpin para pemain gamalan Jegog karena para pemain gamelan Jegog duduk lebih tinggi sedangkan pemain Kendang duduk di bawah. Akhirnya, sampai sekarang permainan Jegog dilakukan dengan cara berdiri. Pengalaman bermain gamelan Jegog ke luar negeri pun banyak ia dapatkan, seperti ke Jepang, Prancis, dan Jerman. 26 karya telah ia buat di Suar Agung, itulah awal kesuksesan Sutama dalam bidang seni karawitan, khususnya gamelan Jegog.
Setelah di Suar Agung, Sutama melanjutkan karirnya di Jimbarwana pada tahun 2002-2005. Dalam waktu tiga bulan, Sutama dituntut untuk bisa menyelesaikan tujuh buah gending kreasi yang akan dibawa pentas ke Jepang. Dengan keuletannya berkarya, ia mampu menggarap tujuh buah gending yang mampu menggetarkan masyarakat Jepang.
Tahun 2006-sekarang, Sutama bekerja sebagai pelatih dan komposer di Yudistira, disini dia telah memiliki sepuluh buah gending yang sudah dibuatkan album yang berjudul Yudistira. Disini Sutama merasa sangat senang, karena memiliki penabuh yang cukup hebat dalam bermain gamelan Jegog. Pengalamannya bermain Jegog disini hanya dapat pergi ke luar Bali seperti ke Lampung dan Ponorogo. Selain itu Yudistira juga sering pentas dalam acara PKB dan juga pentas di villa di daerah Canggu.
Selain di Yudistira, Sutama merupakan seorang pelatih dan komposer untuk sanggar Swar Dwi Stri. Sanggar ini merupakan perkumpulan ibu-ibu Jepang yang ingin belajar dan ikut melestarikan seni budaya Bali khususnya gamelan Gerantang Pelog.
I Nyoman Sutama Tokoh Seni di Kabupaten Jembrana selengkapnya
by dwigunawati | Nov 22, 2011 | Berita, Galeri
Bali menjadi daerah favorit tujuan wisata dunia, khususnya di daerah Selatan Bali yaitu Canggu. Persaingan bisnis kuliner menengah cukup menjamur di daerah ini. Hal ini dikarenakan peluang menuai untung terbilang sangat menjanjikan. Hal ini didorong oleh salah satu sifat konsumtif manusia dalam kebutuhan pangan yaitu restaurant. Di era ini, restaurant bukan hanya berfungsi sebagai tempat makan di kala lapar, namun juga sebagai tempat bertemu, berbisnis dan berbagai hal lainnya. Bisnis ini seolah tiada habisnya. Hal ini dikarenakan permintaan pasar yang cukup besar. Di daerah Canggu terkenal akan daerahnya yang terdiri dari hamparan sawah hijau yang luas dan suasananya yang tenang. Hal ini mengakibatkan pengusaha tertarik untuk membuka peluang dalam bisnis yang yaitu restaurant. Selain dari modal rasa yang nikmat, faktor desain perlu diperhatikan sehingga menjadi daya jual dan daya tarik tersendiri. Oleh karena itu Snapper Corner yang terletak di daerah Canggu memerlukan media promo untuk memperkenal Snapper Corner lebih luas lagi. Berdasarkan uraian tersebut, didapat permasalahan bagaimana merancang media komunikasi visual yang efektif dan komunikatif dan media apa saja yang tepat untuk mempromosikan Snapper Corner? Data – data yang diperoleh dari observasi, data wawancara dan data teoritis diolah melalui analisis dan sintesa sehingga dapat diciptakan media komunikasi visual yang tepat, efisien dan memenuhi kriteria untuk mempromosikan Snapper Corner. Maka didapat simpulan, dalam merancang media komunikasi visual perlu dipertimbangkan teori-teori desain, teori sosial prinsip desain, kriteria desain, serta mempertimbangkan demografis, psikografis, dan behaviora. Dan media komunikasi yang akan dirancang untuk mempromosikan Snapper Corner antara lain Flyer, Iklan media cetak (majalah), brosur, website, web banner, sign system, tabletop banner, buku menu, dan T-Shirt.
Kata Kunci: Restaurant, Snapper Corner, promosi, media komunikasi visual, DKV


by dwigunawati | Nov 21, 2011 | Berita, Galeri
Salah satu aspek desain komunikasi visual adalah melestarikan aset budaya dan kesenian, kampanye melalui media komunikasi visual. Kesenian yang semakin tua yang perlu dilestarikan seperti Gong Saron yang berada di desa Singapadu Gianyar, mengingat media kampanye sebagai prasarana pelestaraian kesenian ini tidak ada. Maka timbul pertanyaan bagaimana membuat Gambelan Gong Saron di Desa Singapadu Gianyar lebih dikenal atau diketahui masyarakat melalui pecancangan media komunikasi visual yang sesuai dengan kreteria desain? melalui media komunikasi visual yang dirancang masyarakat akan lebih mengenal keberadaan Gong Saron Di Desa Singapadu dan ikut serta dalam menyukseskan kampanye pelestarian Gambelan Gong Saron.
Metode yang digunakan dalam perancangan ini menggunakan metode pengumpulan data pengumpulan data yang terdiri dari metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Dari data yang diperoleh kemudian dianalisa menggunakan metode deskriptif kualitatif.
Media yang dibuat untuk melestarikan Gambelan Gong Saron terdiri dari Flyer, Jam, Bros, Poster, Kalender, X-Banner, T-shirt, Stiker, Cover Cd dan Katalog. Dengan konsep dasar perancangan yaitu “Realis Ornamental” menonjolkan Pesan unsur ajakan dan warna-warna yang alami obyek yang
ditonjolkan . Melalui media kampanye diharapkan menimbulkan daya tarik terhadap Masyarakat dalam meningkatkan pelestarian gambelan Gong saron.
Kata Kunci : Desain, Media Komunikasi Visual, Pelestarian, Gambelan Gong Saron.
by admin | Nov 21, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ni Wayan Nova Jayanti, PS Seni Tari ISI Denpasar
Tari Roman Ku mengisahkan lika-liku cinta sepasang remaja dengan watak dan karakter serta isi jiwa masing-masing pelakunya. Diawali dengan pertemuan sepasang remaja kemudian saling jatuh cinta. Dari ketertarikan terhadap pasangan menimbulkan gejolak emosi dan hasrat untuk mencium, namun si gadis belum siap untuk menerima sebuah ciuman dari pasangannya sehingga terjadi konflik diantara mereka. Disajikan dalam bentuk kontemporer, garapan ini menggunakan gerak berdasarkan pendekatan teknik Balet dan beberapa eksplorasi dari gerak-gerak tubuh secara bebas serta pengembangan dari pola tradisi yang selanjutnya ditata sesuai dengan yang diinginkan. Menekankan teknik pengolahan tubuh di dalamnya sebagai jembatan untuk berkreatifitas dan menuangkan ke dalam bentuk tari kontemporer sebagai karya tugas akhir. Tarian ini berbentuk duet yang ditarikan oleh sepasang penari putra-putri dengan menggunakan properti sebuah jepit rambut yang berhiaskan pita berwarna merah muda. Garapan ini dipentaskan di stage proscenium Gedung Natya Mandala Insitut Seni Indonesia Denpasar dengan durasi pementasan 12 menit 16 detik.
Musik iringan garapan Roman Ku menggunakan keyboard, gitar dan suling dengan penyajiannya yang dilakukan secara life. Pendukung musik iringan tari adalah mahasiswa Institut Seni Indonesia Jurusan Karawitan semester II dan IV.
Analisis Pola Struktur
Secara struktural, garapan ini terdiri dari empat bagian, yaitu :
– Bagian I :
Menggambarkan karakter seorang gadis yang menginjak remaja, mengagumi tubuh yang mulai tumbuh menjadi remaja, merasakan kegembiraan karena telah menjadi remaja. Kemudian bertemu dengan seorang anak laki-laki, keduanya mulai merasakan kekaguman yang dilanjutkan dengan perkenalan, namun masih nampak malu-malu. Bobot dari bagian ini terletak pada keluwesan tubuh yang digerakkan dengan posisi duduk, kemudian berlari dan melompat dengan salah satu kaki ditekuk kemudian melakukan kayang. Bagian ini terjadi di centre stage.
– Bagian II :
Menggambarkan perkenalan yang dilanjutkan dengan pemberian sebuah jepitan rambut yang berhiaskan pita berwarna merah muda sebagai tanda telah menjalin hubungan. Sepasang remaja ini tidak pernah merasa bosan untuk selalu bersama, dengan penggambaran desain lantai yang selalu berjalan bersama. Bobot pada bagian ini terletak pada pemberian jepitan pita berwarna merah muda kemudian melakukan teknik lifting sebagai ungkapan rasa bahagia. Teknik lifting yang digunakan yaitu, penari putri diangkat dan bergerak berputar bersama dengan penari putra dengan tumpuan tangan kanan yang melingkar di leher penari putra. Dan juga pada saat penari putri diangkat dan duduk di bahu penari putra kemudian berdiri di paha kanan penari putra dengan tingkat kemiringan yang sesuai. Bagian ini terjadi di centre stage.
– Bagian III :
Menggambarkan kekecewaan seorang gadis remaja karena ingin dicium oleh pasangannya sementara dia belum siap untuk menerima sebuah ciuman. Ciuman berarti tanda kasih sayang, namun ciuman juga dapat diartikan sebagai nafsu, maka antara kasih sayang dan nafsu sulit dibedakan ketika pikiran tengah emosi. Jepitan pita yang telah disematkan sebelumnya dibuang kehadapan si laki-laki sebagai tanda kekecewaan si gadis karena ingin dicium. Bobot pada bagian ini terletak pada tarikan kaki yang dilakukan oleh penari putra kepada penari putri. Efek yang ditimbulkan adalah penari putri melakukan split di lantai dengan penari putra berada di belakang penari putri. Bagian ini terjadi di centre stage.
– Bagian IV :
Pada bagian ini menggambarkan keromantisan hubungan sepasang remaja yang terjalin berdasarkan pengertian satu sama lain, dengan menyematkan kembali jepitan yang telah dibuang sebagai tanda bahwa mereka siap memulai dengan kisah cinta yang baru. Namun masih ada keinginan si laki-laki untuk mencium si gadis, tetapi dengan cara yang lebih halus dan ronatis. Kembali dengan rasa malu-malu mereka diposisikan pada keadaan antara “ya” dan “tidak” untuk melakukan sebuah ciuman. Bobot bagian ini terletak pada teknik lifting yaitu penari putri diangkat dan duduk di bahu penari putra kemudian menggelinding ke bawah sehingga terpangku oleh penari putra dengan saling berpandangan. Bagian ini terjadi di centre stage.
Analisis Simbol
Simbol memiliki arti tertentu yaitu makna yang lebih jelas dari pada apa yang tampil secara nyata, yang dapat dilihat maupun didengar. Tari Roman Ku menggunakan simbol-simbol gerak atau properti serta iringan musik yang sesuai dengan tema dan konsep dari garapan. Pesan akan lebih mudah tersampaikan kepada penonton dengan kejelasan simbol yang digunakan, melalui bahasa gerak yang bermediakan tubuh, disertai dengan penggunaan properti dan musik pengiring sehingga dapat menampilkan suasana yang diinginkan.
Garapan Tari Roman Ku menggunakan beberapa gerak yang memiliki makna tertentu yang dapat dijadikan sebagai simbol gerak dan mampu menyampaikan pesan kepada penonton, yaitu menggunakan gerak meliuk yang menggambarkan kelincahan atau keluwesan dari karakter remaja. Gerak berjalan jinjit dengan kepala menunduk dan tangan mendekap di dada menggambarkan rasa kesengsem yaitu rasa tertarik kepada seseorang tetapi bercampur dengan rasa penasaran, malu dan rasa senang ketika bertemu. Gerakan menyematkan pita merupakan simbol pemberian hadiah dari seorang laki-laki kepada seorang gadis. Gerak lifting, penari putri duduk di bahu penari putra, merupakan cerminan dari rasa bahagia karena telah menjalin sebuah hubungan. Gerak mencium, yang menyimbolkan hasrat seorang laki-laki yang menginginkan sesuatu dari pasangannya. Gerak penolakan dari penari putri, yang tercermin dari gerak patah-patah disertai dengan gerakan meliukkan tubuh dan menggunakan desain kontras. Gerakan menarik kaki hingga melakukan split di lantai oleh penari putri yang disebabkan karena tarikan dari penari putra, merupakan simbol kekecewaan seorang gadis yang ingin dicium serta masih adanya penolakan. Gerakan menggunakan desain vertikal pada tangan yang dilakukan oleh kedua penari dalam posisi duduk, adalah simbul mulai terjalinnya hubungan yang baik antara sepasang remaja. Gerakan lifting, penari putri duduk di bahu penari putra kemudian penari putri bergelinding ke bawah, sehingga membentuk pose penari putri dipangku oleh penari putra, merupakan simbol dari terjalinnya kembali hubungan yang harmonis dari sepasang remaja.
Selain simbol yang diungkap melalui gerak, preoperti juga dapat digunakan sebagai simbol pada garapan tari Roman Ku, yaitu jepitan yang berhiaskan pita berwarna merah muda merupakan simbol dari karakter remaja yang menyukai hal-hal yang bersifat romantis, masih kekanak-kanakan namun juga memiliki sisi feminim layaknya seorang wanita dewasa.
Musik yang digunakan adalah musik ilustrasi yang tidak mengikat tari namun dapat mengiringi dan mampu menciptakan suasana sebagai simbol kelincahan, rasa senang, kekaguman, kekecewaan, amarah dan rasa bahagia.
Deskripsi Garapan Tari Romanku Selengkapnya