Jadwal Pelaksanaan Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Tahun 2016
Informasi tentang jadwal Program Pelaksanaan Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Tahun 2016


KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI
INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR
LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (LP2M)
Jln. Nusa Indah Tlp. (0361) 227316 Fax. (0361) 236100 Denpasar 80235
Website : www.lp2m.isi-dps.ac.id
Nomor : 224/IT5.3/PG/2016 24 Juni 2016
Lampiran : 1 (satu) lembar
Perihal : Pemenang Hibah Penelitian Dosen Muda
Institut Seni Indonesia Denpasar Tahun 2016
Yth.:
Bapak/ Ibu Dosen Peneliti Dosen Muda
Institut Seni Indonesia Denpasar
di –
Denpasar
Berdasarkan hasil Desk Evaluasi dan Pemaparan Usulan Proposal Dosen Muda Tahun 2016, bersama ini disampaikan Dosen Pemenang Hibah Penelitian Dosen Muda Dana Swadana PNBP Institut Seni Indonesia Denpasar tahun 2016, (Nama Pemenang terlampir)
Demikian disampaikan atas perhatian dan kerjasamanya diucapkan terimakasih.
Ketua LP2M ISI denpasar

Dr. I Gusti Ngurah Ardana, M.Erg
NIP. 195412121984031003
Kiriman : Humas ISI Denpasar ([email protected])
Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar merupakan satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri Seni di Bali yang salah satu tugasnya adalah bergerak dalam bidang pelestarian dan pengembangan seni. Berbagai jenis seni pertunjukan tradisi hidup dan berkembang di Bali dan merupakan salah satu keunggulan yang menyebabkan Bali dikenal di seluruh dunia. Dalam perkembangannya, banyak seni-seni pertunjukan tradisi yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat terutama generasi muda akibat pengaruh budaya luar yang disebabkan oleh perkembangan teknologi informasi masa kini yang begitu pesat. Hal tersebut berdampak pada seni pertunjukan tradisional dan memposisikannya di ambang kepunahan. Hal yang serupa dialami pada Seni Joged Bungbung yang berada di Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Keberadaannya kian lama kian menghilang sehingga perlahan Seni Joged Bungbung ini mengalami kepunahan.
Belakangan ini semakin banyak permintaan masyarakat untuk melakukan rekonstruksi terhadap kesenian-kesenian tradisi yang hampir punah. Dan hal tersebut merupakan kewajiban ISI Denpasar untuk merekonstruksi seni pertunjukan tradisi seperti ini agar tidak terlanjur punah. Melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat diharapkan para dosen ISI Denpasar dapat membantu masyarakat melakukan rekonstruksi seni pertunjukan tradisi yang dimiliki sekaligus melakukan penelitian yang selanjutnya dapat dikembangkan dalam proses belajar mengajar di kampus ISI Denpasar.
Untuk mewujudkan tugas pokok dan fungsi tersebut, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) melakukan rekonstruksi seni pertunjukan tradisi, pada hari Selasa (14/6) berlokasi di Desa Pujungan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan.
Acara dimulai dengan laporan dari Ketua Panitia Pelaksana (Ida Ayu Trisnawati, SST., M.Si). Dalam laporannya ia menyampaikan bahwa acara ini merupakan implementasi dari program Tri Dharma Perguruan Tinggi yang dalam hal ini adalah Pengabdian Kepada Masyarakat dan kegiatan ini sudah dimulai sejak beberapa bulan lalu diawali dengan proses observasi dan identifikasi keberadaan Joged Bungbung di Desa Pujungan. Lebih lanjut disampaikan bahwa melalui proses tersebut diharapkan keberadaan seni Joged Bungbung di Desa Pujungan tetap ajeg dan terus berkembang.
Seusai pembacaan laporan dari Ketua Panitia Pelaksana, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Kepala Desa Pujungan dan disusul dengan sambutan dari Rektor ISI Denpasar yang diwakili oleh Ketua LP2M sekaligus membuka acara kegiatan rekonstruksi. Dalam acara ini juga dilakukan demonstrasi Tari Joged Bungbung oleh Ni Ketut Puspawati dan Ni Nengah Grining selaku narasumber penari dan diiringi oleh I Nengah Suparda dan I Wayan Jiwat selaku narasumber penabuh. Adapun sejumlah dosen ISI Denpasar yang ditugaskan untuk merekonstruksi Joged Bungbung di Desa Pujungan diantaranya adalah Ni Nyoman Manik Suryani, SST., M.Si, Ni Wayan Suartini, S.Sn, M.Sn, I Gusti Ketut Sudhana, S.Skar., M.Si, I Gede Mawan, S.Sn., M.Si.
Kegiatan rekonstruksi seni pertunjukan tradisi ini akan dilaksanakan selama 2 (dua) bulan dan diharapkan dapat menghidupkan kembali seni pertunjukan tradisi yang pernah hidup di masyarakat sekaligus mendorong dan memberdayakan masyarakat untuk mencintai seni budayanya. Disamping itu, rekonstruksi seni pertunjukan tradisi ini juga dapat meningkatkan kemampuan masyarakat berkesenian sehingga dapat dipergunakan sebagai atraksi wisata serta membantu masyarakat mendapatkan kesejahteraan batin sehingga dapat beraktivitas secara optimal.
Kiriman : Nyoman Lia Susanthi, SS., MA
Denpasar- Suasana Pameran Tugas Akhir (TA) Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar tahun ajaran 2015/ 2016 berbeda dari biasanya. Pameran kali ini diawali dengan seminar akademik yang menghadirkan 6 pembicara yang diselenggarakan pada Rabu 15 Juni 2016 bertempat di Bentara Budaya Bali. Dipandu oleh moderator Dr. I Wayan Adnyana, S.Sn., M.Sn, seminar dibagi menjadi 2 sesi. Sesi pertama menghadirkan Drs. I Ketut Murdana, M.Sn., dari Prodi Seni Murni yang menyampaikan bahwa untuk menghadapi tantangan sumber daya manusia yang kompetitif maka diperlukan penerapan industri kreatif secara luas. Dr. I Nyoman Suardina S.Sn,.M.Sn., dari Prodi Seni Kriya menyampaikan bahwa untuk merespon tantangan masa depan dalam berkesenian, dan menghasilkan kualitas karya tugas akhir sebagai indikator produk serta puncak capaian dalam menuntut ilmu di ISI Denpasar, maka bukan diamati dari tumpukan tugas, tapi harus dicapai dengan kerja keras. Dari Prodi Fotografi menghadirkan pembicara Dr. I Komang Arba Wirawan, S.Sn., M.Sn, yang mengungkapkan bahwa karya seni fotografi merupakan karya intelektual, yang dapat menampilkan arti kemanusiaan, jika diamati dari perkembangan karya mahasiswa mengalami peningkatan yang cukup pesat.
Pada sesi kedua menghadirkan pembicara Dr. Drs. I Gusti Ngurah Ardana, M.Erg. dari Prodi Desain Interior yang menyampaikan bahwa secara umum karya TA mahasiswa Prodi Desain Interior ISI Denpasar sudah memenuhi untuk menjawab tantangan industri. Sedangkan A.A Gde, Bagus Udayana, S.Sn., M.Si, dari prodi DKV menyampaikan bahwa Desain komunikasi Visual (DKV) saat ini masih belum dikenal publik, ini merupakan tantangan untuk mengenalkan DKV di dunia luar. Selain itu karya tugas akhir mahasiswa saat ini masih kurang memuat indentitas lokal. Pembicara terakhir dari Desain Mode adalah Tjok Istri Ratna Cora S, S.Sn.,M.Si yang menyampaikan bahwa dalam mencari formula untuk menjawab visi ISI Denpasar sebagai centre of excellent, ada beberpa point penting yaitu bagaimana melihat animo masyarakat, menjadikan karya fashion sebagai jembatan budaya serta identitas budaya.
Usai seminar akademik acara dilanjutkan dengan Pembukaan Pameran TA Mahasiswa FSRD ISI Denpasar yang diawali dengan laporan ketua panitia oleh Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn. dalam laporannya disampaikan bahwa jumlah peserta TA adalah 143 mahasiswa yang terdiri dari
26 dari Prodi Seni Murni, 13 Desain interior, DKV 60, Kriya 5, Fotografi 13 dan Desain Mode yang merupakan prodi baru sebanyak 26 mahasiswa. Pameran berlangsung 4 hari dari tanggal 15 hingga 18 Juni 2016 bertempat di Bentara Budaya Bali.
Pimpinan Bentara Budaya Bali Warih Wisatsana dalam sambutannya sangat mengapresiasi kerjasama ISI Denpasar dengan Bentara Budaya Bali yang telah terjalin lama. Pihaknya mengungkapkan rasa hormat dan salut terhadap pameran dan seminar yang menggambarkan upaya ISI Denpasar dalam mengemban tugas utama dan tanggung jawab sebagai institusi pendidikan untuk terus meningkatkan kualitas lulusan.
Sementara Dekan FSRD ISI Denpasar, Dra. Ni Made Rinu, M.Si menghaturkan terimakasih banyak kepada Rektor beserta jajarannya yang telah memberikan dukungan untuk kemajuan FSRD ISI Denpasar dalam mencapai visi dan misi lembaga. Dekan berharap bahwa mahasiswa peserta pameran TA bisa menjawab tantangan global saat ini.
Rektor ISI Denpasar, Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum dalam sambutannya yang sekaligus membuka Pameran TA FSRD ISI Denpasar, menyampaikan bahwa kerjasama antara ISI Denpasar dengan Bentara Budaya Bali telah berlangsung lama dan intens, untuk itu ungkapan bangga dan terima kasih kepada Bentara Budaya Bali disampaikan Rektor karena Bentara Budaya menjadi magnet yang unik, sehingga menarik ISI Denpasar untuk terus menjalin kerjsama ini lebih luas lagi, diantaranya menindaklanjuti kerjasama di bidang penerbitan. Selain itu Prodi Film dan TV ISI Denpasar yang rutin melakukan kerjsama lewat pemutaran dan diskusi film di Bentara Budaya Bali perlu dipertahankan, karena harapannya tahun 2018 seluruh prodi mencapai akreditasi A termasuk prodi baru Film dan TV ISI Denpasar. Begitupula dengan akreditasi intitusi yang ditargetkan dapat mencapai nilai A.
Pawai budaya Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-38 tahun 2016 dibuka secara resmi Sabtu, 11 Juni 2016 oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo didampingi Gubernur Bali dan sejumlah Menteri Kabinet Kerja berlokasi di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali Bajra Sandi, Denpasar. Ribuan seniman dari Bali dan beberapa seniman luar Bali ikut serta memeriahkan pawai ini. Pawai diikuti duta 9 (sembilan) kabupaten/kota se-Bali serta seniman dari luar daerah dan luar negeri yang membawakan kesenian daerah asal dari daerah mereka masing-masing.
Pelepasan pawai ditandai pemukulan kulkul oleh Presiden RI Joko Widodo yang didampingi oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika, kemudian dilanjutkan dengan pementasan “Tabuh Ketug Bumi” yang merupakan persembahan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Selanjutnya disusul dengan penampilan dari duta kabupaten/kota se-Bali secara berurutan yang menampilkan kesenian khas masing-masing kabupaten/kota. Sementara itu pawai PKB ke-38 juga dimeriahkan oleh penampilan dari luar daerah Bali yang datang dari Nusa Tenggara Timur dan bahkan dari luar negeri, yaitu diantaranya dari India, Prancis, serta Timor Leste. Pawai kemudian ditutup dengan marching band dari Universitas Udayana Denpasar.
Pada malam hari, acara pembukaan dimeriahkan dengan pergelaran Oratorium dengan judul “Markandya Bumi Sudha” oleh Institut Seni Indonesia Denpasar. Pergelaran Oratorium dalam rangka pembukaan PKB ke-38 dipentaskan di Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Denpasar dan diawali dengan pementasan Tari Kebesaran Provinsi Bali yaitu Tari Bali Mandara yang dipentaskan oleh penari dan penabuh dari ISI Denpasar. Acara kemudian dilanjutkan dengan laporan dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika, dalam laporannya Gubernur Bali menyampaikan bahwa PKB adalah salah satu upaya pembinaan seni budaya Bali yang pada dasarnya dilakukan guna menempatkan fungsi kebudayaan Bali sebagai modal budaya masyarakat Hindu Bali agar tetap lestari dan dinamis dalam menghadapi berbagai tantangan dalam era globalisasi serta membangun landasan yang kokoh bagi masyarakat Bali untuk selalu mencintai kebudayaannya sendiri. PKB ke-38 mengangkat tema “Karang Awak” yang memiliki arti mencintai tanah kelahiran dapat dimaknai melalui kreativitas berkesenian dan kehidupan seni budaya, masyarakat Bali menunjukkan rasa cintanya kepada tanah kelahiran, cinta kepada ibu pertiwi, bumi dan segala isinya.
Menurut Gubernur Bali Made Mangku Pastika, PKB selain dijadikan sebagai ajang pelestarian seni budaya juga dapat dijadikan sebagai wujud representasi dari cinta tanah air. Oleh karena itu, masyarakat Bali diharapkan senantiasa berusaha untuk meningkatkan kualitas kehidupan berkesenian dengan melestarikan dan mengembangkan kesenian di Bali sehingga mampu beradaptasi dan tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.
PKB dilaksanakan sebulan penuh mulai dari 11 Juni sampai dengan 9 Juli 2016 dan melibatkan sekaa seni dari seluruh Bali dan terdapat peserta dari luar daerah yang berjumlah 11 partisipan dan juga 12 partisipan dari luar negeri. Gubernur Bali juga menyampaikan bahwa keikutsertaan mereka nantinya diharapkan akan mampu mewarnai PKB sebagai wahana untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman kebudayaan baik antar seniman atau masyarakat dalam rangka memperkaya budaya Bali.
Sementara itu, sambutan dari Presiden RI Joko Widodo yang dibacakan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan, menyatakan apresiasinya terhadap pelaksanaan PKB ke-38. Menurutnya tidak hanya ekspresi seni yang mempesona namun juga konsistensi dari masyarakat dalam memberikan apresiasi para seniman juga sangat mempesona. Ia juga menyampaikan bahwa apa yang disaksikan diatas panggung tersebut akan menjadi lebih hidup jika masyarakat mampu memberikan apresiasi sampai akhir. Lebih lanjut disampaikan Anies, Bali merupakan aset yang berharga bagi RI dan juga merupakan kekayaan dunia yang wajib untuk dijaga dan dilestarikan.
Pembukaan kemudian ditandai dengan pemukulan kulkul yang dilakukan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Anies Baswedan yang turut didampingi oleh Gubernur Bali Made Mangku Pastika, Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta, Ketua DPRD Provinsi Bali Nyoman Ady Wiryatama, dan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali Dewa Putu Beratha. Pada saat yang bersamaan juga dilakukan penyerahan sertifikat UNESCO terhadap 9 tarian tradisional Bali yang masuk kedalam UNESCO Representative of Humanity yang diserahkan oleh Mendikbud Anies Baswedan kepada Gubernur Made Mangku Pastika dan juga penyerahan lukisan hasil karya Maestro Nyoman Gunarsa oleh Gubernur Pastika kepada Mendikbud RI yang nantinya akan diserahkan ke UNESCO. Pembukaan selanjutnya diisi dengan pementasan Oratorium “Markandeya Bhumi Sudha” yang dipentaskan oleh penabuh dan penari yang merupakan gabungan dari mahasiswa dan dosen ISI Denpasar. Hingga akhir pementasan gemuruh tepuk tangan menghujani garapan ISI Denpasar yang ditutup dengan acara foto bersama.
Sumber : Humas ISI Denpasar ([email protected])
ISI Denpasar sebagai lembaga pendidikan seni di Bali akan mempersembahkan karya terbaru dan terbaik untuk pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang ke-38. Pembukaan PKB yang rencananya dibuka oleh Presiden RI Joko Widodo akan berlangsung tanggal 11 Juni 2016. Sama seperti ditahun-tahun sebelumnya ISI Denpasar selalu terlibat dalam acara pembukaan PKB, baik pada saat pawai yang akan menampilkan karya terbaru Ketug Bumi serta saat pembukaan yang akan menampilkan oratorium berjudul “Markandya Bhumi Sudha” yang akan ditampilakn di Art Center Denpasar.
ISI Denpasar sudah sejak jauh hari melakukan persiapan dengan pengayaan cerita dan membagi cerita dalam beberapa babak. Latihan dipimpin langsung oleh Wakil Rektor IV ISI Denpasar, I Ketut Garwa,S.Sn., M.Sn. didampingi Dekan FSP Suharta dan para dosen Fakultas Seni Pertunjukkan ISI Denpasar.
Oratorium Markandya Bali Sudha mengisahkan tentang Rsi Markandya penganut Waisnawa putra dari pasangan Rsi Mrakanda dengan Dewi Manaswini dalam perjalanan sucinya menyebarkan ajaran Hindu dengan mengikuti petunjuk sinar dari Gunung Raung diiringi delapan ratus orang petani dari desa Aga di lereng Gunung Raung sampailah mereka di hutan Tohlangkir. Karena tanah di sekitar Gunung Tohlangkir dilihat subur dengan banyak mata air yang mengalir Rsi Markandya hendak membuka lahan dan ingin menetap tinggal disekitar Gunung Tohlangkir. Perjuangan Rsi Markandya sia-sia karena pengikutnya yang berjumlah delapan ratus orang nyaris habis meninggal atas angkernya hutan Tohlangkir, diserang binatang buas, nyamuk, tertimpa reruntuhan pepohonan. Dengan rasa kecewa Rsi Markandya kembali bertapa di kaki Gunung Raung mohon keelamatan serta keberhasilan merabas hutan Tohlangkir. Dewa Pasupati menampakkan diri serta menyarankan sebelum memulai pekerjaan agar Rsi Markandya menyucikan bumi Tohlangkir dengan sarana penanaman Pancadatu. Atas petunjuk Dewa Yang Agung selanjutnya Rsi Markandya mengajak orang-orang Aga lagi empat ratus orang kembali ke hutan Tohlangkir. Setelah diawali dengan menanam Pancadatu Rsi Markandya bersama pengikutnya berhasil membuka lahan dan membangun pemukiman yakni desa Puakan, Sarwada, Taro, dll. Setelah beberapa lama tinggal di Bali Rsi Markandya melaporkan misinya kepada Raja Sri Wira Dalem Kesariwarmadewa yang bersetana di Singadwala serta berniat membangun lagi beberapa pura seperti Pura Gelap, Pr. Kiduling Kreteg, Ulun Kulkul, Batumadeg, Raja Sri Wira Kesariwarmadewa sangat berkenan dan bersama-sama membangun pura beserta melakukan upacara. Setelah pura selesai dibangun selanjutnya digelarlah upacara agung yang disertai tarian-tarian sebagai keberhasilan Sang Hyang Naga Basuki menampakan diri bersama-sama dengan Dewa Iswara, Brahma, Mahadewa, dan Dewa Siwa. Maka jagat hitalah pulau Bali