M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

PEMENTASAN DRAMA MUSIKAL TANTRI KAMANDAKA OLEH ISI DENPASAR PADA  BALI MANDARA MAHALANGO III

PEMENTASAN DRAMA MUSIKAL TANTRI KAMANDAKA OLEH ISI DENPASAR PADA BALI MANDARA MAHALANGO III

Garapan seni drama musikal garapan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dengan antusias disaksikan oleh ratusan masyarakat yang berduyun-duyun datang ke Panggung Terbuka Ardha Candra Taman Budaya Bali, Sabtu (16/7) malam. Drama musikal yang berjudul “Tantri Kamandaka” ini dipersembahkan oleh Institut Seni Indonesia Denpasar yang melibatkan 90 orang mahasiswa yang berasal dari 5 prodi diantaranya prodi musik, sendratasik, tari, karawitan, dan pedalangan. Pagelaran ini melibatkan I Gede Oka Surya Negara, SST., M.Sn dan Tjok. Istri Putra Padmini, SST., M.Sn sebagai penata tari serta I Nyoman Kariasa, S.Sn., M.Sn dan I Gede Mawan, S.Sn., M.Sn sebagai penata karawitan.

Drama musikal yang dibawakan oleh ISI Denpasar ini mengisahkan tentang sebuah negeri bernama Negeri Patali. Sebuah negeri yang dipimpin oleh seorang raja bijaksana yang bemama Eswaryadala. Dalam kepemimpinannya Raja Eswaryadala di damping oleh seorang patih yang bernama Patih Bandeswara. Awalnya keadaan kerajaan baik-baik saja, hingga pada akhirnya raja merasa jatuh cinta terhadap seorang gadis yang bernama Tantri, yang tiada lain adalah putri dari Patih Bandeswara. Kecintaannya terhadap Tantri membuat Sang Raja gelap hati dan larut dalam egonya. Raja memerintahkan Patih untuk menyerahkan satu gadis perawan setiap harinya, jadi tiap satu malam akan diadakan pernikahan kerajaan, hal ini dilakukan Raja demi mendapatkan Tantri. Setelah seluruh gadis perawan habis, Tantri dengan rela menyerahkan dirinya demi menjaga bhakti ayahnya terhadap raja dan Tantri berjanji akan mengembalikan kebijaksanaan Sang Raja seperti dahulu kala.

Pada malam pernikahannya, Tantri memohon ijin kepada Raja untuk bercerita, dalam ceritanya tersebut tantri menyelipkan banyak hal tentang sikap seorang pemimpin. Cerita yang diceritakan Tantri berawal dari Kisah Lembu dan Singa. Dikisahkan ada seekor lembu yang bernama Lembu Nandaka yang menjalin persahabatan dengan seekor singa yang bernama Singa Pinggala. Seekor serigala yang bernama Sambada yang tiada lain adalah tangan kanan dari singa merasa terancam dengan persahabatan singa dan lembu. Karena takut jabatannya sebagai tangan kanan tersingkir oleh lembu, Sambada dengan kelicikannya memerintahkan anak buah serigalanya yang bernama Jambuka untuk mengajak anjing-anjing hutan mengadu domba lembu dan singa. Akhinya lembu dan singa mati karena kelicikan Sambada, karena merasa sudah menjadi Raja hutan, Sambada mengajak seluruh anak buahnya menyantap bangkai lembu dan singa, karena sifat rakus dan tamak akhinya Sambada mati kekenyangan akibat menyantap bakai tersebut.

Sajian seni drama musikal tersebut berlangsung dengan lancar dan juga berhasil membius serta mengundang tawa para penonton yang hadir pada malam itu dengan lakon drama yang diselingi oleh penampilan jenaka dari para pelakon.

Adapun yang berperan sebagai penanggung jawab hingga koordinator dalam pementasan Drama Musikal tersebut diantaranya adalah:

Penanggung Jawab : Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum
Penasehat : 1.               Prof. Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes.
    2.               Drs. I Gusti Ngurah Seramasara, M.Hum.
    3.               Drs. I Wayan Gulendra, M.Sn.
Koordinator Umum : I Ketut Garwa, S.Sn., M.Sn
Wakil Koordinator : I Wayan Suharta, SSKar., M.Si
Artistik Director : I Wayan Suweca, SSKar., M.Mus
Koordinator Tari : A.A.A. Mayun Artati, SST., M.Sn
Koordinator Karawitan : Wardizal, S.Sen., M.Si
Koordinator Musik : I Komang Darmayuda, SSn.,M.Si
Koordinator Sendratasik : Drs. Rinto Widyarto, M.Si
Koordinator Lapangan : 1.                   I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M.Hum
    2.                  Ni Ketut Suryatini, SSKar.,M.Sn.
    3.                  Dr. Ni Luh Sustiawati, M.P
    4.                  Dr. Ni Wayan Ardini, S.Sn., M.Si
    5.                  I Ketut Sumerjana, S.Sn.,M.Sn
    6.                  I Wayan Mudiasih, SST., M.Si

Pada malam itu hadir pula Rektor ISI Denpasar (Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar, M.Hum) beserta jajarannya yang turut serta menyaksikan pagelaran seni drama musikal tersebut. Pementasan kali ini merupakan lanjutan dari program Bali Mandara Mahalango III yang sebelumya telah secara resmi dibuka oleh Gubernur Bali Gede Mangku Pastika Minggu (10/7) malam. Bali Mandara Mahalango III yang akan diselenggarakan selama 50 hari ini merupakan lanjutan dari Program tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) sebagai salah satu program unggulan dari Pemerintah Provinsi Bali di bidang kebudayaan.

LAPORAN REKTOR ISI DENPASAR PADA SIDANG TERBUKA SENAT ISI DENPASAR YANG DIBACAKAN OLEH WAKIL REKTOR I

Genjek Antarkan Gede Arya Jadi Guru Besar Ke-8 ISI Denpasar

Sumber Berita : Denpost, Jumat 1 Juli 2016

Foto : Tim Humas ISI Denpasar

KESENIAN genjek menjadi orasi ilmiah yang disampaikan oleh Prof. .Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.S.Kar., M. Hum. , dalam sidang terbuka Senat Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Kamis (30/6) kemarin. “Genjek Sebuah Seni Vokal Bali: Pembentukan dan Perkembangannya” disampaikan oleh Rektor ISI Denpasar itu dalam orasi ilmiah “Pengenalan Jabatan Profesor/Guru Besar Tetap dalam bidang ilmu Kajian Seni Budaya pada Fakultas Seni Pertunjukan ISI Den- pasar” dihadiri Gubernur Bali, Made Mangku Pastika, undangan lainnya.

Pengenalan profesor guru besar tetap kepada Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.S.Kar., M.Hum., dilakukan oleh Gubernur Mangku Pastika dengan mengenakan kalung sebagai symbol pengukuhan guru besar. Dengan pengukuhan profesor tersebut ISI Denpasar memiliki delapan profesor/guru besar. Dari jumlah tersebut, lima masih aktif dan tiga orang telah pensiun.

Gede Arya dalam pidato ilmiahnya antara lain menyebutkan genjek adalah sebuah genre seni karawitan Bali yang menggunakan vokal sebagai bunyi utama. Sepuluh hingga dua puluh orang pemain duduk duduk membentuk sebuah atau setengah lingkaran, menyanyi disertai gerakan-gerakan tubuh dan menghasilkan sebuah paduan bunyi. Satu orang bertindak sebagai pembawa melodi sekaligus komando, satu orang sebagai pemegang ritme, sementara yang lain- nya membuat jalinan ritmis suara-suara sa, pak sriang, cek, de, tut, ces, jos dan sir. Suara-suara tersebut kebanyakan meniru bunyi instrumen gamelan Bali. “Jalinan dan perpaduan yang harmonis berbagai jenis dan warna itulah membentuk sebuah musik yang diberi nama genjek, ” katanya.

Kakek satu cucu itu menyatakan genjek adalah kesenian rakyat. Tema genjek sebagian besar mengenai kegembiraan, bersifat romantis, rayuan, nasihat dan sindiran. Genjek lahir, tumbuh, berkembang dan dipelihara oleh golongan masyarakat pedesaan yang sebagian besar mata pencahariannya sebagai petani, nelayan dan kaum buruh. Dalam perkembangannya, kini genjek sudah menyebar ke kota di seluruh Bali. Pelakunya bukan lagi hanya buruh atau petani, juga pegawai negeri, pengusaha, paramedis dan dokter. Bahkan Gede Arya mencatat di Kota Negara ada sebuah organisasi genjek yang pelakunya adalah para dokter dan paramedis di Rumah Sakit Daerah Negara.

Dalam orasi ilmiah tersebut juga ditampilkan seni genjek. Gede Arya menyebutkan yang tampil tersebut adalah para doktor dan calon doktor seniman. Penampilan mereka sangat menghibur dan mendidik. Gubernur juga memberikan sambutan yang pada intinya mendorong ISI Denpasar untuk meningkatkan kualitas. Dalam meraih gelar profesor tersebut, pria kelahiran Pujungan, 1 Desember 1966 itu mengaku mendapat dukungan dari berbagai pihak. Karena itu dia menyampaikan terima kasih, terutama kedua orangtuanya, ayah Ketut Saba (almarhum) dan ibu Ni Wayan Sebeb, istri tercintanya Ni Nengah Mustiari, putra-putri terkasihnya I Putu Arya Janottama, S.Sn. dan Ni Made Mirah Andriyani, S.Pd., serta cucu Ni Putu Intan Warastrasari.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum Dikenalkan Sebagai Profesor/ Guru Besar Bidang Ilmu  Kajian Seni Budaya

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum Dikenalkan Sebagai Profesor/ Guru Besar Bidang Ilmu Kajian Seni Budaya

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum pada hari Kamis 30 Juni 2016 akan dikenalkan sebagai Professor/ Guru Besar tetap pada Fakultas Seni Pertunjukkan, Institut Seni Indonesia Denpasar dalam bidang ilmu Kajian Seni Budaya melalui Sidang Terbuka Senat ISI Denpasar bertempat di Gedung Natya Mandala ISI Denpasar.

Dalam pengenalan jabatan professor/ guru besar tersebut,  Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum akan membacakan orasi ilmiah dengan judul Genjek Sebuah Seni Vokal Bali: Pembentukan dan Perkembangannya. Menurut Prof. Arya topik tentang Genjek hangat dibicarakan pada dekade 1990, namun dewasa ini aktualisasi seni Genjek seolah meredup. Hal inilah yang memicu beliau untuk menjadikan Genjek bangkit kembali. Melalui pidato ilmiah tersebut beliau akan mengajak hadirin untuk bernostalgia dan mencermati kembali beberapa hal menarik dari sajian seni Genjek. Genjek merupakan sebuah genre seni karawitan Bali yang menggunakan vokal sebagai sumber bunyi utama. Selain vokal genjek juga terkandung seni sastra lewat lirik-lirik yang dinyanyikannya. Pengungkapan tema selain lirik juga diperkuat dengan olahan melodi, ritme dan ekspresi. Untuk selengkapnya Prof. Arya akan menyampaikannya dalam orasi ilmiah yang nantinya juga akan menyajikan kesenian Genjek pada tanggal 30 Juni nanti.

Dalam perjalanan menuju puncak karir sebagai guru besar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum harus melewati kisah suka duka di mulai dari masa kanak-kanak.  Beliau yang lahir pada tanggal 1 Desember 1966 sangat aktif dalam bidang kesenian di Desa Pujungan, Tabanan. Diusia 10 tahun beliau sudah mampu menggarap Sendratari Ramayana dengan berbalut busana kertas, serta sukses membuat drama gong yang pentas keliling desa. I Gede Arya Sugiartha yang lahir dari pasangan I Ketut Sabda (alm) dan Ni Wayan Sebab, tidak pernah berhenti dalam berusaha meraih prestasi. Walaupun kekecewaan pernah dialami beliau yaitu gagal lulus di ASTI Denpasar, beliau tidak pantang menyerah. Berkat bantuan Prof. Dr. I Made Bandem akhirnya beliau bisa kuliah di ASTI Denpasar. Perjalanan karir beliau secara bertahap terus meningkat hingga menduduki posisi Rektor berkat dukungan dari Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A. Untuk itu ditemui disela-sela gladi acara sidang terbuka senat kemarin, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum menghaturkan terimakasih kepada keluarga kedua orang tua I Ketut Sabda (alm) Ni Wayan Sebab, istri Ni Nengah Mustiari, kedua anak I Putu Arya Janottama, S.Sn., M.Sn, Ni Made Mirah Andriyani, S.Pd, Menantu I Made Rai Suka Arya Winawa, S.E dan Ni Made Liza Anggaradewi, S.Sn., M.Sn, serta cucu Ni Putu Intan Warastrasari. Ucapan terimakasih juga ditujukan untuk teman, rekan kerja, dan seluruh pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan baik moral dan spiritual hingga beliau bisa mencapai gelar professor/ guru besar.

Loading...