M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Gubernur Pastika Raih Penghargaan Siwa Nataraja

Gubernur Pastika Raih Penghargaan Siwa Nataraja

Denpasar (Antara Bali) – Gubernur Bali Made Mangku Pastika meraih penghargaan Siwa Nataraja dari Institut Seni Indonesia Denpasar karena dinilai memiliki komitmen kuat dalam melestarikan seni dan budaya daerah melalui sejumlah kegiatan yang digelar pemprov setempat.

Sumber : http://bali.antaranews.com/berita/109058/gubernur-pastika-raih-penghargaan-siwa-nataraja

“Saya mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi penghargaan ini, sekaligus mempersembahkan penghargaan ini kepada seluruh akademisi, budayawan dan seniman Bali yang telah bekerja keras dengan penuh pengabdian untuk terus menggali, melestarikan dan mengembangkan kebudayan daerah,” kata Pastika pada acara Dies Natalis ke-14 ISI Denpasar, di Denpasar, Jumat.

Menurut dia, program Bali Mandara yang dilaksanakan Pemprov Bali selama sembilan tahun terakhir difokuskan di samping pada upaya pengentasan kemiskinan juga pada program pelestarian kebudayaan daerah.

“Saya ingin seni bisa menjadi sumber penghidupan bagi para seniman. Taman Budaya agar bergeliat sepanjang tahun dengan berbagai pagelaran pertunjukan seni. Kembangkan terus seni sehingga dapat memberikan manfaat bagi seni dan bagi kesejahteraan,” ucapnya.

Pastika menambahkan, saat ini kesenian Bali mampu tumbuh dan berkembang di tengah nilai-nilai globalisasi. Kesenian Bali juga telah mampu mendukung dan menjadi bagian penting dari kemajuan pariwisata Bali.

“Generasi muda Bali juga semakin tertarik untuk terjun menggeluti dan mempelajari kesenian daerah . Tidak hanya itu, Taman Budaya juga bergeliat sepanjang tahun, menggelar berbagai pertunjukan seni dan hal ini menunjukkan gairah berkesenian dan apresiasi warga Bali terhadap kesenian sangat tinggi,” ujarnya.

Di sisi lain, selaku Dewan Penyantun ISI Denpasar, Pastika berharap agar momentum perayaan Dies Natalis ke-14 dapat dijadikan momentum untuk memantapkan kualitas penyelenggaraan pendidikan serta meningkatkan peran sosial institusi ISI Denpasar.

ISI Denpasar, lanjut dia, tidak hanya bertugas menghasilkan seniman yang intelek atau sarjana yang memahami dan menguasai kesenian serta menyiapkannya merebut pasar kerja, tetapi lebih penting adalah membangun generasi muda Bali yang mampu memantapkan kehidupan berkesenian, sebagai identitas utama warga dan daerah di tengah persaingan yang semakin kompleks.

“Semakin tahun saya harap kualitas output ISI Denpasar semakin meningkat sehingga kesenian dan kebudayaan Bali tetap lestari, semakin kaya inovasi dan kreasi baru sehingga dapat bersaing dalam tatanan global,” katanya.

Sementara itu, Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha mengatakan bahwa pihaknya mengapresiasi gelaran seni dari Pemprov Bali berupa Pesta Kesenian Bali, Bali Mandara Mahalango dan Bali Mandara Nawa Natya.

“Bapak Gubernur kami nilai turut berperan dalam memajukan kesenian dan kebudayaan daerah sehingga seni menjadi semarak serta memberi ruang seluas luasnya bagi para seniman untuk berkarya dan berinovasi,” ucapnya

Selain Gubernur Bali Made Mangku Pastika , penghargaan juga diserahkan pada NL Swasti Widjaja Bandem seorang pensiunan dosen ISI Denpasar yang telah melahirkan berbagai karya seni apik seperti Tari Sekar Jagat, Tari Puspanjali dan Tari Cendrawasih dan tarian tersebut berkembang pesat sebagai tarian dasar yang dipelajari siswa sanggar tari di Bali.

Penyerahan penghargaan tertinggi ISI Denpasar Siwa Nataraja berupa cincin dan piagam penghargaan diserahkan langsung oleh Rektor ISI Denpasar serangkaian Dies Natalis ke-14 ISI Denpasar.

“Terkait perayaan Dies Natalis ke -14 ini sebagai momentum untuk mengevaluasi diri, terus berbenah, melihat dengan jernih apa yang telah diperbuat untuk disumbangkan kepada masyarakat dan jagat seni,” kata Arya Sugiartha. (WDY)

Editor: I Gusti Bagus Widyant

Jalan Santai Dalam Rangka Dies Natalis XIV ISI Denpasar

Jalan Santai Dalam Rangka Dies Natalis XIV ISI Denpasar

Dalam rangka Dies Natalis ke XIV, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggelar serangkaian kegiatan yang diawali dengan kegiatan jalan santai pada hari Minggu pagi (23/7). Acara ini merupakan acara yang rutin digelar ISI Denpasar untuk menjalin rasa kebersamaan antara seluruh civitas akademika ISI Denpasar dengan turut serta mengundang kelurga dari seluruh dosen, pengawai, dan mahasiswa ISI Denpasar.

Jalan santai yang dimulai pada pukul tujuh pagi ini dilepas oleh Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.Skar., M.Hum yang ditandai dengan dengan pelepasan balon bersama sebagai tanda dimulainya rangkaian kegiatan Dies Natalis. Rute perjalanan ini melewati jalan Nusa Indah, W.R. Supratman, Jalan Kecubung, Jalan Hayam Wuruk, hingga akhirnya kembali ke Jalan Nusa Indah. Usai mengikuti jalan santai, peserta berkumpul guna mengikuti berbagai lomba-lomba untuk anak-anak dan untuk dosen, pegawai dan mahasiswa di lingkungan ISI Denpasar. Diantaranya lomba untuk kategori anak-anak adalah lomba makan kerupuk, lomba lari kelereng, dan juga dimeriahkan dengan acara lomba melukis dan mewarnai untuk anak-anak. Sedangkan lomba untuk kategori dewasa yang diikuti oleh para dosen, pegawai dan mahasiswa adalah lomba tenis meja dan badminton.

ISI Denpasar Daftarkan Hak Cipta “Ketug Bumi”

ISI Denpasar Daftarkan Hak Cipta “Ketug Bumi”

Sumber : http://www.antarabali.com/berita/107208/isi-denpasar-daftarkan-hak-cipta-ketug-bumi-video

Denpasar (Antara Bali) – Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar akan mendaftarkan hak cipta untuk karya seni “Ketug Bumi” yang merupakan garapan dari beragam jenis musik pukul.

“Hal itu sebagai upaya untuk melindungi manfaat ekonomi dari hasil karya seni yang dikreasikan para dosen dan dipentaskan pada pembukaan pawai Pesta Kesenian Bali (PKB),” kata Rektor ISI Denpasar, Prof Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum, di sela latihan “Ketug Bumi” di Denpasar, Kamis.

Ia mengatakan, karya seni garapan para akademisi tersebut menjadi penanda sejarah dalam membangkitkan kesenian untuk menghasilkan karya cipta monumental sehingga para penikmat seni mendapatkan pengalaman baru.

Selain itu, pihaknya juga telah mengajukan beberapa hak cipta untuk karya Prof I Wayan Dibia, Tari Manuk Rawa, Tari Cilinaya, dan garapan seni yang lainnya.

Sementara itu, garapan “Adi Merdangga” yang telah dipentaskan selama 31 tahun (1984-2015) belum diajukan hak ciptanya, karena karya kolektif.

Untuk itu, pemetasan karya besar “Ketug Bumi” akan mampu menjadi ikon baru dalam PKB mendatang yang dibuka pada hari Sabtu (10/6) di Lapangan Niti Mandala.

Ia menambahkan, pementasan tersebut tetap mempertahankan tradisi yang menjadi kearifan lokal budaya Bali melalui kolaborasi dengan kesenian lainnya.

Upaya tersebut untuk menampilkan karya baru sehingga menjadi kejutan bagi para penonton maupun masyarakat Bali yang akan menghadiri acara tersebut.

Kegiatan tersebut juga menjadi pertunjukan inovasi dan kreativitas yang dilakukan lembaga pendidikan ISI Denpasar yang memiliki visi menjadi kampus sebagai pusat unggulan dalam bidang seni budaya yang berbasis kearifan lokal dan berwawasan universal.

“Untuk itu, kami akan menampilkan penampilan yang terbaik yang melibatkan semua civitas akademika ISI Denpasar,” ucapnya

Ia mengharapkan dukungan semua pihak akan mendorong kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik dan berdampak terhadap citra Bali dalam mempertahankan kelestarian budaya dan sebagai daerah tujuan wisatawan baik lokal, nasional maupun internasional.

Nantinya, masyarakat tetap memberikan kritik dan saran yang membangun dalam penampilan “Ketug Bumi” yang baru berjalan memasuki tahun ketiga itu, khususnya dalam menerapkan pola-pola pementasan karya seni yang ditampilkan selama kegiatan berlangsung. (WDY)

VIdeo oleh I Wayan Artaya
Loading...