M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Ngayah Di  Banjar Padang Tegal, Ubud, Gianyar.

Ngayah Di Banjar Padang Tegal, Ubud, Gianyar.

Kampus seni ISI Denpasar tidak pernah surut akan kreatifitas. Mahasiswa Jurusan Karawitan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar telah menciptakan musikal baru dalam menabuh ganbelan bleganjur dengan penambahan beberapa instrument “tawa-tawa” pengganti “kajar” untuk “ngayah” pada upacara “pengutangan” serangkaian upacara ngaben Ayahnda dari Pembantu Rektor III ISI Denpasar, di Banjar Padang Tegal  Ubud Gianyar, pada hari Minggu 3 Oktober yang lalu. Penambahan instrument “tawa-tawa” ini dimaksudkan untuk memberikan dinamika musik yang lebih keras dan semangat dalam gambelan bleganjur, yaitu untuk memberi semangat kepada penggotong “bade” dan “lembu” menuju kuburan.

Seperti hari sebelumnya Penabuh Asti Pertiwi yang menabuh pada acara “ngaskara” atau pembersihan disambut hangat dan apresiasif oleh masyarakat Padang Tegal, para penabuh dari Jurusan Karawitan yang terdiri dari mahasiswa dan dosen tersebut juga disambut hangat oleh masyarakat. Prosesi arak-arakan “bade” dan “lembu” dari rumah duka menuju “setra” yang jaraknya kurang lebih 1 km diiringi gambelan bleganjur tersebut menjadi marak dan semangat para penggotong tersebut semakin tersulut walau saat itu matahari penuh menyinari Ubud dan sekitarnya. Air yang disemprotkan kearah arak-arakan juga menjadi warna yang menarik seakan melengkapi warna semarak gambelan bleganjur yang begitu semarak dan penuh nuansa pembangkit semangat.

Dekan Fakultas Seni Pertunjukan, I Ketut Garwa, S.Sn.,M.Sn., didampingi Ketua Jurusan Karawitan, I Wayan Suharta,S.Skar.,M.Si., mengekspresikan rasa bangganya kepada seluruh mahasiswa Jurusan Karawitan semester I yang telah membangun kreativitas yang demikian membanggakan dengan menambahkan instrument “tawa-tawa” dalam gambelan bleganjur yang ditampilkan dalam acara “ngayah” tersebut. Mahasiswa harus diberi ruang dan waktu untuk mengekspresikan imajinasi kreativitasnya, sehingga mampu bergaul dan berbaur dengan masyarakat, salah satunya dengan ikut serta dalam kegiatan “ngayah”. Garwa juga mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada keluarga serta masyarakat Padang Tegal, Ubud yang telah memberi kesempatan “ngayah” kepada Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar serta memberikan sambutan yang baik dan penuh apresiasi. “Bentuk apresiasi ini merupakan bukti bahwa kampus ISI Denpasar adalah milik masyarakat, sehingga dapat menjadi  wadah untuk berkreativitas bersama guna melestarikan kesenian Bali yang merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia yang dikagumi dunia,”ujarnya bangga.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Desa Tenganan Pegringsingan I

Desa Tenganan Pegringsingan I

Oleh: I Ketut Darsana, Dosen PS Seni Tari

Di Bali banyak ditemukan desa–desa unik, terutama sekali desa – desa yang jauh berada di pegunungan dan penduduknya berasal dari jaman Bali kuna, seperti Halnya desa Tenganan Pegeringsingan daerah Kabupaten Karangasem. Banyak keunikan–keunikan yang dimiliki oleh desa ini seperti halnya tempo dulu dikenal kawin masal, tradisi upacara, penguburan mayat, bentuk rumah, gotong–royong dan sebagainya.

Berdasarkan cerita rakyat dari desa Bedulu, Gianyar, bahwa Desa Tenganan Pegringsingan erat kaitannya dengan Desa Bedulu. Dikatakan sebagian besar penduduk yang ada di Tenganan Pegringsingan sekarang berasal dari Bedulu. Mereka mengungsi ke Tenganan yang sekarang ka-rena tahun 1343 masehi diserang oleh kerajaan Majapahit. Memang hu-bungan tersebut masih nampak sampai sekarang, bila ada piodalan di Bedulu, banyak warga Tenganan Pagringsingan yang melakukan persem-bahyangan ke sana, demikian juga sebaliknya.

Desa Tenganan Pegringsingan terletak pada ketinggian 70 meter dari atas permukaan air laut. Suhu rata – ratanya 28 Derajat Celsius pada musim kemarau. Desa ini termasuk Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem dengan jarak lebih kurang 17 km dari kota Amlapura, dan 16 km dari kota Denpasar. Letak desa yang agak masuk ke dalam dari jalan raya memberi kesan desa yang terpencil dari keramaian lalu lintas. Na-mun demikian untuk masuk ke desa Tenganan Pagringsingan dapat dica-pai dengan segala jenis kendaraan bermotor, walaupun hanya sampai pada pinggiran desa.

Desa Tenganan Pegringsingan I Selengkapnya

Perkembangan World Musik III

Perkembangan World Musik III

Oleh: Hendra Santosa, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Harry Roesli dengan DKSB sampai saat ini masih tetap intens menggarap world music. Gerombolan musisi etnik Bandung juga terbilang tetap gigih berjuang sekian lama, dalam melakukan serangkaian proyek-proyek kontemporer diatonis-pentatonis. Salah satunya adalah nama Zithermania, juga Bandung Percussion Society. Ozenk percusions sebuah komunitas musik yang lahir dari latar belakang tradisional.

Perlu diketahui bahwa Discus bisa terbang ke North Carolina, AS ikut festival musik progresif, PROGDAY 2000 dan Zithermania ke Vancouver, Kanada, ikut festival musik kontemporer di sana, memang karena memiliki nafas world music. Di mana musik mereka sangat berbau musik tradisi kita. Atau jangan lupakan nama Deva Soenyoto, anak dari seniman musik kawakan, Gatot Soenyoto. Deva kini mengembara dengan ‘leluasa’, pentas ke pentas sambil studi terus di Australia. Ia cenderung menjadi perkusionis dan drummer aliran world music. Ada kabar, ia juga dijadwalkan tampil bersama grupnya menghibur atlet-atlet dunia peserta Olympiade 2000 di Sydney!

Debussy menikmati secara on the spot, Gamelan Jawa dan Bali tersebut dan sampai berani menyimpulkan, musik perkusi gamelan kita itu seakan membuat musik perkusi Perancis saat itu begitu primitif. Kita telah lewat 100 tahun dari masa Debussy, kita telah melihat bagaimana sebetulnya kekuatan tersembunyi dari musik-musik etnik kita yang sudah diakui dunia. Akhirnya, kita tinggal menunggu langkah-langkah lanjutan lagi yang sudah jauh ke depan. Ada peluang untuk sebuah trend baru, yang kelihatannya bagus betul karena mengandung bobot nasionalisme! Kesempatan terbuka, jangan sampai tercuri lagi, macam Eberhard yang mendahului Guruh atau Ray Manzarek membuat musik Bali lewat synthesizer, mengecoh Abadi Soesman yang menggarap hal yang sama untuk Anak Adam dari God Bless.

Perkembangan World Musik III selengkapnya

ISI Denpasar Menerima Penghargaan Dari Pangdam IX/Udayana

ISI Denpasar Menerima Penghargaan Dari Pangdam IX/Udayana

Gelar Pentas Spektakuler “Merah Putih Jambrut Khatulistiwa”

Peringatan HUT ke-65 TNI, Selasa 5 Oktober 2010 sungguh membuat decak kagum setiap mata yang hadir dalam upacara tersebut.  Upacara yang dilaksanakan di Lapangan Puputan Badung yang melibatkan ribuan pelajar dan mahasiswa dari perguruan tinggi dan SMA se-Bali ini, membuat ribuan mata yang menyaksikannya terkesima. Lapangan Puputan Badung tampak indah dan asri. Di setiap sisi lapangan berdiri ratusan pelajar dan mahasiswa berseragam merah putih yang mendukung pagelaran spektakuler dengan pembentangan bendera merah putih terbesar di Indonesia bertukuran 120mx80m, di sisi selatan lapangan berdiri baliho besar bertuliskan ”TNI sebagai Bayangkari Negara bersama seluruh Komponen Bangsa Siap Menegakkan Kedaulatan dan Memepertahankan Keutuhan Wilayah NKRI”, di sisi timur lapangan berdiri kanvas besar dimana para pelukis TNI mengekspresikan jiwa seninya dengan tajuk ”TNI demi Bangsa”, dan di bagian utara beberapa tenda didirikan untuk para undangan terhormat, diantaranya Gubernur Bali, Kapolda Bali, Danrem 163/Wira Satya, Ketua DPRD Tk.I, Kajari Bali,Wali Kota Denpasar, Bupati se-Bali,dan undangan lainnya.

Panglima Kodam IX/Udayana, Mayjen TNI Rachmat Budianto selaku penggagas tema ”Merah Putih” serangkaian HUT TNI ke-65 ini, tampak bangga dan sangat bahagia dengan seluruh rangkaian acara pagi itu. Selain penganugrahan Rekor MURI yang diterima Pangdam yang diserahkan langsung oleh Manager MURI, Paulus Pangkas, pentas seni spektakuler Institut Seni Indonesia Denpasar yang didukung oleh Universitas Mahendradata dan Sanggar Paripurna Bona yang tampil sesuai ekspektasi juga membuat hati Pangdam berbunga-bunga. Seperti diberitakan sebelumnya, niat Pangdam untuk menghadirkan pentas seni spektakuler ISI Denpasar dibawah ”artistic director” I Nyoman Cerita,SST.,MFA ini, karena Pangdam kepincut setelah  menyaksikan Oratorium Kolosal ”Prabu Brawijaya Wahyu Cakraningrat” pada Sertijab Danrem 163 Wira Satya pada tanggal 21 September 2010 yang lalu. Garapan ISI Denpasar yang bertajuk ”Merah Putih Jambrut Khatulistiwa” bermakna jiwa pemberani dan tulus suci dalam mempertahankan NKRI.

Pentas spektakuler tentang zaman keemasan Kraton Majapahit yang selalu dikenang dari masa ke masa dengan penuh rasa bangga yang didirikan oleh Raden Wijaya mewariskan semangat kebangsaan dan kenegaraan yang kemudian mewarnai lintasan sejarah Indonesia. Sumpah Palapa Patih Gajah Mada di hadapan Ratu Tribuana Tunggadewi untuk merajut Nusantara, menjadi cikal bakal NKRI. Oratorium spektakuler ini demikian memukau seluruh hadirin. Falsafah bhineka tunggal ika dalam kitab Sutasoma karya Mpu Tantular pada pemerintahan Hayam Wuruk yang membingkai toleransi keberagaman dalam rekatan keindonesiaan bangsa kita hingga hari ini, diperankan oleh tak kurang dari 500 mahasiswa ISI Denpasar dengan tarian yang elok dan indah memukau, serta panji-panji merah putih yang diarak oleh ratusan pelajar dan mahasiswa semarak diiringi gambelan Gong Gede dibawah komando Pembantu Rektor IV ISI Denpasar, I Wayan Suweca,S.Skar.,M.Mus., lantunan lagu Yamko Rambe Yamko, Kebyar-Kebyar, serta lagu Gending Sriwijaya dari Paduan Suara ISI Denpasar asuhan Ni Wayan Ardini,S.Sn.,M.Si. dan I Komang Darmayuda,S.Sn.,M.Si. serta lantunan ”gerong” yang merdu menjadikan oratorium tersebut sempurna, sehingga seluruh undangan tak berkedip menikmati performa menakjubkan tersebut. Langit cerah pagi menjelang siang itu turut menyimak tiap bait kisah yang dilantunkan seniman dan juga orator ternama Putu Putri Suastini dan I Kadek Suartaya.

Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., yang juga hadir pada acara tersebut tidak dapat menyembunyikan kebahagiaannya atas suksesnya pementasan oratorium spektakuler tersebut. Dengan rendah hati Rai mengungkapkan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Pangdam IX/Udayana, yang telah memberi kesempatan emas pada ISI Denpasar untuk melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi, untuk ikut serta dalam HUT ke-65 TNI. Mengutip kata-kata bijak John F.Kenedey; ”jangan tanyakan apa yang telah diberikan bangsa kepada kita, tapi tanyakan apa yang telah kita berikan pada bangsa kita”, kiranya melalui pentas seni ini, setiap anggota masyarakat diharapkan mampu mengabdi pada bangsa sesuai bidangnya masing-masing. Ungkapan terima kasih juga ditujukan kepada seluruh dosen dan mahasiswa ISI Denpasar yang telah begitu semangat dan tulus iklas dalam mensukseskan acara spektakuler sebagai kado terindah ISI Denpasar kepada TNI. Kecintaan dan kekaguman Pangdam IX/Udayana, Mayjen TNI Rachmat Budianto akan seni, serta ungkapan kebahagiaannya atas pentas spektakuler ISI Denpasar diwujudkannya dalam sebuah penghargaan kepada ISI Denpasar, yang diserahkan langsung kepada Rektor ISI Denpasar. ”Terima kasih dan syukur kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, Tuhan Yang Maha Esa, penghargaan Pangdam  yang luar biasa ini, adalah penghargaan untuk seluruh keluarga besar ISI Denpasar yang telah bekerja keras, tulus dalam pengabdian”, ujarnya penuh haru.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Loading...