M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Gender Wayang di Banjar Kayumas Kaja

Gender Wayang di Banjar Kayumas Kaja

Kiriman I Nyoman Gede Haryana

Bali adalah merupakan daerah yang sangat kental dengan tradisi seni dan budaya dimana hal tersebut sangat lah besar pengaruhnya pada kehidupan dan kepribadia masyarakat Bali . Salah satu dari tradisi dan budaya yang seolah-olah sudah menjadi nafas kehidupan orang Bali adalah seni karawitan (gambelan).

Gambelan merupakan sebuah orchestra Bali yang terdiri dari bermacam-macam barungan gambelan gambelan (instrument) yang terbagi kedalam 3 golongan yaitu : golongan tua ,golongan madya ,dan golongan baru ,dimna masing-masing golongan tersebut memiliki banyak jenis barungan gambelan seperti : Selonding , Gambang ,Gender Wyang , Semar Pegulingan ,Gong Kebyar ,Gong Luang ,dan masih banyak lagi barungan gambelan yang lainnya yang mempunyai laras pelog dan selendro . Dapat dipahami bahwa hidupnya gambelan Bali ditengah-tengah masyarakat yang telah luluh berefleksi dengan aktifitas kehidupan sehari-hari , dalam struktur masyarakat yang bervariasi . Kenyataan ini terlihat jelas karena gambelan Bali muncul dalam Nafas nya yang murni,memiliki cirri-ciri,identitas dan kekhasan yang masih didukung kuat oleh system kehidupan masyarakat setempat.

Begitu banyaknya jenis barungan gambelan Bali, namun masing-masing gambelan mempunyai tugas dan fungsi yang berbeda , salah satu perangkat gambelan yang akan dibicarakan dalam konteks tulisan ini adalah gender wayang , yang merupakan sebuah barungan gambelan yang digolongkan kedalam gambelan golongan tua . Gender Wayang adalah music atau gambelan yang merupakan barungan gender , yang dipakai untuk mengiringi pertunjukkan Wayang Kulit.

Masing-masing daerah umunnya mempunyai cirri khas yang berbeda mengenai asal mula suatu barungan gamelan terutama pada gender wayang , dalam penelitian ini penulis menekankan untuk menjelaskan serta mengetahui asal mula serta fungsi dari Gender Wayang yang terdapat di salah satu daerah di Kota Denpasar  antaranya di daerah Br. Kayumas Kaja , Desa Dangin Puri, Denpasar Timur , dan hal ini biasa di alami dengan factor perkembangan dunia global dengan banyak pengaruh dunia luar masuk ke pulau Bali , maka dari itu sejarah sangat penting dalam kehidupan apapun terutama pada gamelan Gender Wayang agar paling tidak diketahui serta dipahami oleh generasi penerus serta menghindari dari kepunahan suatu kebudayaan leluhur yang kita miliki.

Asal Usul

Setelah wawancara dengan Bapak I Wayan Suweca SS,kar, menurut informasi yang saya dapatkan adanya gambelan gender wayang di Kayumas Kaja dimulai pada  tahun 1932 di rumah Pan Madri ( sebutan bapak untuk anak pertama)  , dimana anggotanya terdiri dari Pan Madri ,Pan Kandra , Pan Ruki dan Pan Runa adapun instrumen gambelan tersebut merupakan pinjaman dari keluarga Pan Madri di Desa Panjer , Denpasar Selatan oleh Pan Made Regeg. Kemudian Pan Madri ini membentuk sekha gender wayang,sesudah itu pada generasi ke dua ada penambahan pemain yaitu Iwayan Konolan atau dipanggil Pan Weca dan disaat itu dibentuk juga sekha batel untuk mengiringi Wayang Ramayana yang anggota nya terdiri dari keluarga dari banjar Kayumas Kaja dan banjar Kaliungu dan sekha ini berkembang dengan dipilih nya untuk mengiringi dalang-dalang terkenaldi Denpasar seperti Ida Bagus Tegal dari Tegal Denpasar , Ida kaja Bagus Bindu Dari Kesiman , Ida Bagus Ngurah dari Buduk , Ida Bagus Suyoga dari Bongkasedan masih banyak dalang-dalang terkenal lainnya. Dengan dipilih nya sebagai juru pengiring wayang kulit sekha ini banyak sekali mendapat pengalaman dari dalang-dalang yang diiringi karena mempunyai style-style sendiri- sendiri .Gender Wayang Kayumas Kaja memiliki style yaitu style has Kayumas Kaja misalnya dari bentuk gender wayang dan lagu-lagunya ,setelah gender ini trus dipakai untuk mengiringi akhirnya dikembalikan lagi ke Pan Madri dan pada tahun 1948 meminjam ke Tampak Gangsul oleh orang yang terpandang dari Tampak Gangsul menurut sejarah nya gender dari Tampak gangsul ini hadiah dari Kerajaan Bali di Denpasar yang kualitas nya sangat baik dan metaksu. Dengan dipakai nya gender itu semakin terkenal lah gender kayumas di daerah badung dan sekitarnya ,kemudian karena banyak sekali mengiringi pewayangan maka pada tahun 1972 gender tersebut dikembalikan karena gender tersebut tidak boleh dipinjamkan lagi karena pada saat itu di Tampak Gangsul sedang kacau balau,maka pada saat itu juga Pan Weca membuat lagi tetapi dengan style nya sendiri dengan meniru style gender di Tampak Gangsul dari bentuk , laras sesuai dengan aslinya ,daun gender dibuat oleh Pande Mieg dari Tiingan ,Klungkung dan pelawahnya oleh Pan Weca sendiri . Sejak itulah PanWeca selaku pimpinan sekha gender wayang di Kayumas Kaja membuat gender Khas Kayumas kaja untuk di jual belikan ,sampai sekarang gender wayang di kayumas sudah digenerasikan oleh anak dan cucu dari pan Weca dan tetap eksis sampai saat ini dan dikenal di daerah Bali maupun di luar Bali.  Adapun instrumen yang dipakai adalah 2 tungguh pemade dan 2 tungguh kantil , plawah nya style bebadungan yaitu plawah gender wayang tidak ada tatakan atau panyangga di bawahnya karena ada unsur-unsur filosofi yang terkandung pada instrument tersebut karena kayu yang dipakai pada gender itu adalah kayu “Las Celagi” karena dipercaya kayu tersebut memiliki nilai-nilai mistis.

Gender Wayang di Banjar Kayumas Kaja selengkapnya

Fulbright Scholarship Program

Diberitahukan dengan hormat bahwa Program Fulbright yang di Indonesia dikelola oleh American-Indonesian Exchange Foundation (AMINEF) memberikan kesempatan kepada para sarjana untuk mengambil pendidikan tingkat lanjut, mengadakan penelitian, atau mengajar di Amerika Serikat mulai bulan September 2012. Selain itu tersedia beasiswa buat para profesional tingkat menengah untuk meningkatkan kemampuan manjerial mereka melalui program Hubert H. Humphrey Fellowship.

Para calon harus mengisi dan mengirimkan kembali formulir pendaftaran berikut nilai TOEFL serta surat rekomendasi kepada kami paling lambat tanggal 15 April 2011 untuk sebagian besar program atau pada tanggal-tanggal tenggat waktu lain sesuai dengan yang tercantum di poster pengumuman untuk proses lebih lanjut. Formulir aplikasi dapat juga didownload dari situs web kami yaitu www.aminef.or.id.

Apabila ada hal-hal yang perlu dijelaskan, kami harap Saudara tidak segan-segan menghubungi Senior Program Officer kami, Sdri. Adeline Widyastuti ([email protected]).

Denpasar, 16 Desember 2010

Pembantu Dekan I,

ttd

Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

NIP. 196107061990031005


Tawaran Beasiswa dari Pemerintah India

Tawaran Beasiswa dari Pemerintah India

Tawaran Beasiswa dari Pemerintah India untuk siswa/peneliti di Indonesia untuk mengikuti pendidikan yang lebih tinggi di perguruan tinggi-perguruan tinggi di India. Beasiswa yang ditawarkan melalui skema General Cultural Scholarship Scheme (GCSS) yang dikelola oleh Indian Council for Cultural Relations (ICCR), New Delhi untuk tahun akademik 2011-2012.

Berikut ini dokumen-dokumen yang terkait dengan beasiswa ini
– Surat dari Embassy India Jakarta
– Dokumen tentang program Beasiswa Pemerintah India

Sumber: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1788:tawaran-beasiswa-dari-pemerintah-india&catid=68:berita-pengumuman&Itemid=160

Gamelan Gong Luang Di Banjar Kedaton Desa Kesiman Petilan

Gamelan Gong Luang Di Banjar Kedaton Desa Kesiman Petilan

Kiriman I Wayan Arik Wirawan

Di Bali setiap peninggalan benda seni selalu menyimpan sejarah tersendiri. Begitu pula dengan sejarah keberadaan Gong Luang yang menurut Prasasti Purana Pura menyebutkan gamelan ini sudah ada sejak zaman kerajaan Udayana. Selain itu, Prasasti Pura Kedaton dan Prasasti  Abasan, Bajarangkan  Klungkung  juga menyebutkan serta memaparkan detail dari gamelan Gong Luang.

Gong Luang atau biasa disebut Gong Saron oleh masyarakat Banjar Kedaton  merupakan satu-satunya gamelan Gong Luang yang ada di Desa Kesiman Petilan Kecamatan Denpasar Timur. I Wayan Turun  yang merupakan salah satu penabuh dan sesepuh gamelan Gong Luang di Banjar Kedaton menyebutkan  bahwa  keberadaan Gong Luang ini berawal dari adanya lomba desa tingkat provinsi pada tahun 1987. Banjar Kedaton pun ditunjuk untuk membuat prosesi upacara Pitra Yadnya atau Memukur, yang dimana upacara Memukur ini harus diiringi dengan  gamelan Gong Luang. Sedangkan pada saat itu banjar Kedaton belum memiliki seperangkat barungan Gamelan Gong Luang. Warga banjar lalu mengadakan rapat dengan penglingsir Puri Pemayun Kesiman dan sepakat untuk meminjam Gambelan Timbung  yang sekarang berada di rumah Bapak Ebuh di Gelogor. Gamelan Timbung yang terbuat dari bambu ini pun dimanfaatkan sebagai pengganti Gong Luang untuk mengiringi upacara memukur pada saat lomba desa tersebut.

Setelah perlombaan ini selesai, warga banjar dan penglingsir/ tetua  puri kembali mengadakan rapat untuk merencanakan membeli satu barungan (barungan adalah untuk menyebutkan satu kelompok atau alat gamelan yang terdiri dari berbagai jenis-jenis instrumen dengan jumlah tertentu) Gamelan Gong Luang, mengingat dari fungsinya yang sangat penting dalam ritual dan upacara Agama Hindu. Hal ini pun mendapat dukungan dari penglingsir puri yang suatu saat pasti akan memerlukan gamelan Gong Luang. Setelah mengadakan penggalian dana, maka Banjar Kedaton membeli  gamelan Gong Luang seharga Rp. 3.750.000 pada saat itu. Gamelan ini dibuat oleh Pande Sukerta di Desa Blahbatuh Gianyar dan mencari sikut atau contoh di rumah Pak Tedun di Sangsi Singapadu. Setelah Banjar Kedaton memiliki gamelan Gong Luang, warga banjar  membentuk sekaa (sekaa adalah organisasi sosial di Bali yang mempunyai kegiatan-kegiatan dan tujuan tertentu)  Gong Luang di Banjar Kedaton serta mencari pelatih untuk mengadakan pelatihan dan pembinaan gending-gending atau repertoire Gong Luang. Kemudian warga banjar sepakat untuk mencari pembina Gamelan Gong Luang di Singapadu yang bernama Pan Muji. Adapun gending-gending atau repertoire yang diberikan oleh Pan Muji adalah:

1.      Gending Lilit Panji Alit

2.       Gending Lilit Nyora

3.      Gending Lilit Warga Sari

4.      Gending Lilit Panji Cinada

5.       Gending Lilit Panji Demung

6.       Gending Sih Miring

Yang dimana gending – gending tersebut masih dipergunakan oleh sekaa Gong Luang banjar Kedaton Kesiman sampai sekarang. Sekaa ini sekarang beranggotakan 25 orang dan mempunyai sistem kepengurusan yang diganti setiap 2 tahun sekali.

Gamelan Gong Luang Di Banjar Kedaton Desa Kesiman Petilan Selengkapnya

Loading...