M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

PENDAFTARAN TUGAS AKHIR

PENGUMUMAN

Nomor: 683/I5.1.10/PP/2010

Diberitahukan kepada Mahasiswa FSRD ISI Denpasar Peserta Tugas Akhir Semester Ganjil 2010/2011 bahwa:

  1. Pendaftaran TA dimulai tanggal 5 – 11 Januari 2011
  2. Biaya Pendaftaran Rp. 1. 300.000,-
  3. Pameran TA diadakan tanggal 17 – 21 Januari 2011
  4. Ujian TA diadakan tanggal 24 – 28 Januari 2011
  5. Yudisium dilaksanakan tanggal 17 Februari 2011

Demikian kami sampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Terimakasih.

a.n. Dekan,

Pembantu Dekan I,

TTD

Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn.

NIP.  196107061990031005

Pemda Sulteng Kerja Sama  Dengan ISI Denpasar

Pemda Sulteng Kerja Sama Dengan ISI Denpasar

Gagasan untuk mendirikan ISI Palu semakin mendekati realisasi. Rabu, (15/12) Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A. beserta PR II, Akademisi Seni Franki Raden, Ph.D. meninjau kesiapan sarana gedung ISI Palu. Rombongan didampingi oleh Kadisbudpar Drs. Suaib Jafar, M.Si. mengunjungi Kompleks Taman Budaya  Sulteng.

Gedung Seni Pertunjukan, Gedung Pertunjukan Teather, Gedung Seni Rupa, Gedung Olah seni, hingga asrama mendapat perhatian dari rombongan, karena lokasi tersebutlah yang akan menjadi gedung ISI Palu nantinya.

”Sarana gedung telah siap, dan kami sangat senang dengan keadaan Taman Budaya yang telah representatif untuk dijadikan gedung ISI Palu nantinya. Ini bukan pujian, semuanya sudah siap, hanya perlu sedikit tambahan nuansa dekoratif saja,” ungkap Prof Rai. Beberapa poin penting yang menjadi nilai tambah dari Taman Budaya ini, diantaranya adalah mudahnya akses transportasi ke lokasi Taman Budaya, sehingga siapa saja dengan mudah dapat mencapai lokasi tersebut, disamping lokasi Taman Budaya yang dekat dengan laut dan gunung yang tentu menjadi sumber inspirasi bagi para seniman nantinya. Setelah ISI Palu, kami akan susul dengan kerjasama dengan daerah lainnya,”ujar Prof Rai optimis.

Sebelum kuliah perdana pada bulan september 2011, bulan april 2011, ISI Denpasar akan mengunjungi Palu dengan anggota yang terdiri dari Dosen dan Mahasiswa yang berjumlah kurang lebih 100 orang. Mahasiswa dan dosen ini akan menciptakan karya baru dengan konsep budaya Palu. Selain itu, kunjungan ini akan menjadi momentum sosialisasi yang akan berlangsung hingga bulan Juni 2011. Rencana kerja yang telah disusun merupakan langkah selanjutnya dari proses pendirian ISI Palu. Pendaftaran mahasiswa akan dilakukan secara online melalui internet.

Frank Raden mengatakan bahwa walaupun ISI Palu adalah cabang ISI Denpasar, tapi yang diajarkan adalah lebih banyak kesenian lokal dan modern. Selain itu, dengan adanya ISI Palu nantinya, karya-karya seniman besar Hasan Bahasuan akan mendapat tempat yang lebih baik. ”Saya sangat bangga dan berterima kasih kepada pihak ISI Denpasar terkait pendirian ISI Palu dan kerjasama budaya yang akan dibangun antara ISI Denpasar dan Pemuda Sulteng,”ujar Suaib Djafar.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Keterangan Foto:

Dari Kiri Ke Kanan

Franky Raden, Ph.D.(Seniman dan konsultan), Drs. Suaib Djafar,M.Si., (Kadisbudpar Sulteng),Drs. I Nyoman Slamet S,Pd.,M.Si. (Anggota Komisi IV DPRD Sulteng), Prof. Rai (Rektor ISI Denpasar), I Gde Arya Sugiartha (PRII ISI Denpasar)

“Ciwa Wesaya” Tebarkan Kebahagiaan Bagi Masyarakat Bungkulan

“Ciwa Wesaya” Tebarkan Kebahagiaan Bagi Masyarakat Bungkulan

Tirta Amerta yang ada di dalam gunung dapat dikeluarkan untuk memberi kebahagiaan bagi umat manusia di dunia. Tirta ini juga menjadi rebutan para Dewa dan Raksasa, yang kemudian membuat perjanjian menuju lautan susu (Ksirarnawa).Dewa Antaboga ditugaskan membelit gunung agar tidak goyang, Bedawang Nala memegang dasar dengan tujuan agar gunung menjadi kuat. Indra berada di puncak gunung Mandara agar gunung tidak terbalik. Para Dewa dan Raksasa memperebutkannya. Ciwa yang lebih dulu bisa mendapatkan dan langsung meminumnya. Namun apa yang terjadi Dewa Ciwa menjadi biru, karena sesungguhnya bukan Tirta Amerta, tetapi racun yang telah diminumnya. Ciwa mendahului mengambil dan meminum racun tersebut agar para Dewa dan Raksasa tidak mati karena meminum racun itu. Demikianlah sekilas cerita pragmentari”Ciwa Wisaya” yang memukau penduduk desa Bungkulan yang memadati jaba Pura Agung Bungkulan pada hari Jumat (16/12) tengah malam hingga dini hari.

Rombongan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP) ISI Denpasar yang dikomandoi langsung oleh Dekan FSP, I Ketut Garwa,S.Sn.,M.Sn. serta 40 orang mahasiswa asing ISI Denpasar  ”ngaturang ayah” di Pura Agung Bungkulan hingga hampir dini hari. Tabuh Gesuri, Goak Macok, Tari Wiranjaya, serta Pragmentari Ciwa Wisaya ditampilakn oleh mahasiswa FSP semester VII, sedangkan mahasiswa asing asal Jepang, Mariko Inui dan Tashiro Cia membawakan tari Margepati.

”Kami atas nama pimpinan, sangat bangga dan berterima kasih kepada seluruh mahasiswa dan dosen ISI Denpasar, yang tetap semangat ”ngayah” saat hari raya seperti ini. Terima kasih yang sangat dalam juga kami haturkan kepada seluruh masyarakat Bungkulan yang telah memberi kesempatan kepada kampus ISI Denpasar untuk ”ngayah”, serta sambutan yang begitu baik dari masyarakat Bungkulan. Kegiatan ngayah kali ini adalah juga wujud rasa hormat kami kepada Alm.Drs.IGB Nyoman Panji, guru kami yang sangat luar biasa,”ujar Prof Rai didampingi seniman dan budayawan asal Bungkulan,Drs. IGB Sudhiyatmaka Sugriwa,M.M., yang juga sangat berterima kasih dan bangga kepada ISI Denpasar yang telah bersedia ”ngayah” di pura Agung Bungkulan.

Humas ISI Denpasar melaporkan.

Pemerintah Upayakan Integrasi Jenjang Pendidikan

Pemerintah Upayakan Integrasi Jenjang Pendidikan

JAKARTAMenteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M Nuh menyatakan bahwa pemerintah terus mendorong integrasi pendidikan. Menurutnya, pendidikan yang terintegrasi akan menghilangkan jarak antara pendidikan dasar dan menengah dengan pendidikan tinggi.
M Nuh menyebutkan, integrasi tersebut dibagi ke dalam tiga bagian. Yakni integrasi  jenjang pendidikan, integrasi kewilayahan dan integrasi sosial. Ada pun integrasi jenjang pendidikan, artinya mennintegrasikan jenjang pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi.
“Harus ada sambungannya. Pasalnya, selama ini pendidikan dasar menengah (dasmen) selalu ada jarak dengan pendidikan tinggi. Dengan adanya integrasi ini, maka akan menyentuh semuanya. Oleh karena itu, pencapaian prestasi di jenjang dasmen pastinya akan digunakan di jenjang selanjutnya, yakni pendidikan tinggi,” ungkap M Nuh usai membuka acara Sosialisasi Kebijakan Ujian Nasional (UN) di Hotel Sultan, Jakarta, Jumat (17/12).
Sementara soal intergrasi kewilayahan,  Muh menjelaskan bahwa hingga saat ini masih ada persoalan kewilayahan di dalam pelaksanaan pendidikan. Dipaparkannya, ada sebagian pelajar di suatu wilayah yang belum dapat menikmati perguruan tinggi di wilayah yang sama. Begitu juga dengan pelajar dari satu wilayah lain yang ingin sekali sekolah di wilayah lain, ternyata tidak bisa karena yang diutamakan adalah pelajar setempat,
Dengan kondisi demikian, maka dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) tidak akan menerapkan basis kewilayahan, karena ruang lingkup penerimaan PTN ada yang sampai lintas negara. “Solusinya adalah membuka lebar kesempatan calon mahasiswa untuk masuk PTN, yakni sebanyak 60 persen dari total penerimaan masing-masing PTN. Dengan begitu, dapat dipastikan dari berbagai daerah bisa masuk PTN dari seluruh daerah karena pintunya sudah terbuka lebar, semuanya ada kesempatan,” jelasnya.
Terakhir adalah integrasi sosial. M Nuh menjelaskan bahwa di dalam peraturan pemerintah (PP) Nomor 66 tahun 2010 tentang pelaksanaan dan penyelenggaraan pendidikan sudah disebutkan bahwa PTN wajib menerima mahasiswa miskin dan berprestasi sebanyak 20 persen dari total penerimaan mahasiswa baru.
“Mengenai masalah status sosial di PTN ini memang menjadi masalah tersendiri. Maka dari itu, pemerintah memutuskan bahwa mahasiswa miskin harus diberikan jatah kursi sebanyak 20 persen. Dengan adanya integrasi ini, maka UN tetap harus dilakukan karena semuanya saling terkait,” imbuhnya. (cha/jpnn)

Sumber: http://www.jpnn.com/read/2010/12/18/79886/Pemerintah-Upayakan-Integrasi-Jenjang-Pendidikan-

Loading...