by admin | Apr 4, 2011 | Berita
HONG KONG – Lukisan S. Sudjojono dianggap berkualitas dan memiliki nilai sejarah yang tinggi. Lukisan karya S. Sudjojono yang menggambarkan suasana desa di Indonesia pada tahun 1940-an diperkirakan akan laku miliaran rupiah dalam lelang Sotheby’s di Hong Kong, Senin (4/4).
Lukisan berjudul “Kami Hadir Ibu Pertiwi” tersebut dianggap salah satu bintang dari ratusan lukisan Asia Tenggara yang dilelang oleh Sotheby’s. “Karya Sudjojono ini memiliki arti sejarah yang penting dan punya nilai artistik yang tinggi,” kata Mok Kim-Chuan, kepala departemen lukisan Asia Tenggara Sotheby’s kepada kantor berita “AFP” yang dilansir “BBC”.
“Itulah sebabnya saya optimistis lukisan ini akan terjual mahal,” tandasnya.
Bersama lukisan Sudjojono dilelang pula 144 lukisan lain yang diduga akan terjual setidaknya US$4,6 juta atau sekitar hampir Rp 40 miliar.
Harga karya seni Indonesia naik sejak pertengahan 2000-an. Mok mengatakan lukisan-lukisan Indonesia sekarang bisa berharga jutaan dollar sementara pada 1999 harga paling tinggi hanya US$8.000.
“Bagi dunia, Indonesia sekarang dianggap sebagai pasar baru yang sangat potensial,” papar Mok.
“Bali Life” karya perupa Indonesia modern Lee Man Fong terjual US$3,24 juta (sekitar Rp 28 miliar) dalam lelang Sotheby’s tahun lalu, membuatnya menjadi karya seni dari Asia Tenggara termahal yang pernah dilelang.
Lukisan “The Man From Bantul” karya I Nyoman Masriadi laku US$1 juta (sekitar Rp 9 miliar) atau lima kali lebih tinggi dari perkiraan awal dalam lelang pada 2008.
Sumber tulisan: pikiran-rakyat.com
Sumber foto: rnw.nl
by admin | Apr 4, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman AAA Kusuma Arini, SST., MS.i., Dosen PS Seni Tari ISI Denpasar
I. Menjalin kekerabatan dgn masyarakat Islam
a. Sejarah asal mula meluaskan daerah kekuasaan ke P.Lombok, (Lombok Barat sebagian besar beragama Hindu), ada dua versi menurut babad Sasak, Babad Karangasem dan cerita dari orang2 tua.
– 3 raja bersaudara memerintah bersama dan seorang diantaranya yi A.A.Anglurah Kt.Karangasem akan memimpin pasukan ke Lombok pd tahun 1692.
– Versi I sbg petunjuk keponakan raja seorang yg sakti, lihatlah diseberang timur lautan tanahnya subur, jangan ke Barat, berarti berani pd raja yg lebih perkasa
– Versi II atas permohonan Arya Banjar Getas yg mengutus adiknya Arya Kertawaksa menghdp raja Karangasem mohon bantuan untuk mengalahkan raja Selaparang.
– Saat berangkat pagi-pagi dari pantai Jasri dgn empat buah perahu dan empat puluh prajurit kebal dari desa Seraya dibawah pimpinan A.A Anglurah Kt.Karangasem dan Arya Kertawaksa, daun2 pohon kepel yg ada di pura Bukit jatuh berguguran menjelma menjadi ribuan kupu2 kuning. Gerombolan kupu2 kuning terbang memenuhi angkasa sebagai pemandu dan pelindung perahu2 yg menyeberangi Selat Lombok yg terkenal deras arusnya.
– Prajurit Selaparang yg siaga dipantai lari berhamburan karena mengira yg datang ribuan prajurit, namun hal itu dikelabui oleh kilauan cahaya kupu2 kuning tsb
Setelah laskar Karangasem tiba dipantai Lombok, gerombolan kupu2 kuning itupun menghilang diangkasa.
– Dalam perang selama 117 hr tsb, dikala para prajurit istirahat makan dengan pola magibung, mereka membuat atraksi dengan menyanyikan tembang2 Sasak diiringi tarian sambil duduk. Atraksi tsb akhirnya menjadi sebuah suguhan yg menarik yg kemudian disebut Cakepung, berasal dari kata Jag Kepung yg artinya ayo kejar.
– Demikian pula selama istirahat mereka latihan perang dgn mengenakan penangkis badan yg disebut tamiang atau ende dan sebuah tongkat dari rotan. Latihan ini selanjutnya menjadi tari Gebug Ende yg sekarang masih dilestarikan di desa Seraya sbg peninggalan leluhur mereka
b. Setelah raja Selaparang mengakui kekalahan maka sekitar tahun 1720an berdiri kerajaan yg berlokasi di Cakranegara dgn raja pertama A.A.Anglurah Kt.Karangasem yg memimpin peperangan itu. Beliau merupakan 6 generasi diatas raja Karangasem terakhir yg memiliki nama yg sama. Beberapa tahun kemudian muncul kerajaan Mataram.
– Semenjak itulah secara evolusi terjadi akulturasi kebudayaan Sasak dan Bali, antara lain cara2 berpakaian, nama2 makanan, jenis2 tembang, kesenian dsbnya yg dilestarikan sampai sekarang. Demikian pula bila raja pulang ke Bali membawa serta pengiring orang Sasak dan kembali ke Lombok diikuti pengiring orang2 Bali.
Puri Karangasem Menjalin Kekerabatan Dengan Masyarakat Islam Dan Sebagai Pengayom Kesenian selengkapnya
by admin | Apr 3, 2011 | Berita
Walau hujan mengguyur kampus ISI Denpasar, namun pelaksanaan piodalan pada hari Sabtu (2/4) kemaren yang bertepatan dengan Tumpek Wayang tetap berlangsung dengan hidmat dan kusuk. Upacara yang dipuput oeh Ida Pedanda tersebut dihadiri oleh Rektor dan jajarannya serta dosen, karyawan dan mahasiswa ISI Denpasar.
Mahasiswa jurusan Tari, serta Pedalangan mempersembahkan wayang, tari Rejang Dewa, Baris Gede, Topeng, yang diiringi oleh penabuh dari mahasiswa jurusan Karawitan serta para dosen. Dosen yang tergabung dalam Asti Pertiwi mempersembahkan kidung. Bondres yang ngaturang ayah malam kemaren sangat menghibur pemedek yang menonton di bawah tenda di jaba pura. Kedua penari bondres menyoal tentang pentingnya berbagi ilmu pengetahuan, layaknya seperti air sumur, semakin dibagi dan digali, maka makin dalam pulalah sumur tersebut. Oleh karena itu, diharapkan setiap insane manusia, tidak pelit akan ilmu pengetahuan yang dimiliki, hendakanya saling berbagi, demi kecerdasan bersama.
Malam ini, mahasiswa dari Songkhla Rajhabat University Thailand akan menghibur pemedek di kampus ISI Denpasar dengan 10 tarian yang akan ditarikan oleh 30 penari kolaborasi mahasiswa dan siswa Seni di Thailand, serangkain kunjungan kampus seni Thailand tersebut ke ISI Denpasar 1 april yang lalu.
Rektor ISI Denpasar, prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A., mengucapkan terima kasih dan syukur kepada Tuhan YME, atas segala lindunganNya, setiap kegiatan di kampus ISI Denpasar dapat berjalan baik dan lancar. Terima kasih pula kepada seluruh keluarga besar ISI Denpasar yang selalu bekerja keras demi kesuksesan setiap kegiatan, termasuk acara piodalan kali ini.”Panitia sudah bekerja keras untuk piodalan ini, sehingga semua berjalan lancar,”tutur Prof. Rai saat turut menyaksikan Bondres yang dibawakan mahasiswanya.
Humas ISI Denpasar melaporkan.