M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Indonesia Rangkul Amerika dalam Kerja Sama Pendidikan Tinggi

Indonesia Rangkul Amerika dalam Kerja Sama Pendidikan Tinggi

Jakarta, 5 April 2011–Indonesia siap membangun kerja sama dengan Amerika, sebagai tindak lanjut dari kunjungan Presiden Barrack Obama tahun lalu.

Amerika sangat terbuka menjalin berbagai kerja sama dengan pendidikan tinggi di Indonesia. Beberapa tahun silam, ratusan mahasiswa Indonesia kuliah di Amerika. Namun menurut Ketua The United States-Indonesia Society (USINDO) David Green kini, jumlah mahasiswa Indonesia di Amerika kian menurun. “Beberapa jenis kerja sama saat ini sedang dikembangkan. Nantinya akan ada perjanjian antara Pemerintah Indonesia dengan Amerika,” ungkap David.

Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (P2M) Dikti Suryo Hapsoro juga berharap, kerja sama yang dibangun bukan hanya pertukaran mahasiswa. USINDO harus mampu mengembangkan penelitian yang topic dan pembiayaannya dikembangkan bersama. Sebelumnya, Indonesia telah bekerja sama dengan Pemerintah Perancis dan Australia dalam pengembangan penelitian bersama.

Menanggapi hal ini, USINDO membuka setiap kesempatan kerja sama berbagai program studi dan penelitian. Selain itu, David juga mengungkapkan kemungkinan untuk kerja sama dengan pendidikan vokasi, termasuk dengan Politeknik. Dengan kerja sama ini, diharapkan mahasiswa maupun dosen merubah paradigma akademik menjadi vokasi.

Sekretaris Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) Nizam menyambut baik kerja sama ini. Selain pemberian beasiswa, “Kami mengundang pimpinan perguruan tinggi di Indonesia untuk saran rembuk dalam kerja sama dan peningkatan jumlah mahasiswa ke Amerika,” ujar Nizam. Nizam juga berharap USINDO memberikan informasi terkait program unggulan pendidikan tinggi di Amerika.

Sumber: dikti.go.id

Perancangan Media Komunikasi Visual

Perancangan Media Komunikasi Visual

Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Kampanye Imunisasi Campak Di Denpasar Bali.

Kiriman: I Ketut Baskara, Mahasiswa PS. Desain Komunikasi Visual ISI Denpasar.

1. Prinsip Keseimbangan

Keseimbangan adalah kesamaan distribusi dalam bobot. Mendesain dengan keseimbangan cenderung dirasakan keterkaitan bersama, kelihatan bersatu, dan perasaan harmonis.

Simetris: yaitu terkesan resmi atau formal (sama dalam ukuran, bentuk, bangun dan letak dari bagian-bagian atau obyek-obyek yang akan disusun di sebelah kiri dan kanan garis suatu sumbu khayal.

Asimetris: yaitu terkesan tidak resmi atau informal tetapi tampak dinamis apabila garis, bentuk, tangan, atau massa yang tidak sama dengan ukuran, isi atau volume diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak mengikuti aturan (Kusmiati, 1999:11).

Keseimbangan horizontal: keseimbangan yang diperoleh dengan menjaga keseimbangan antara bagian bawah dan bagian atas.

2. Prinsip Titik Fokus

Prinsip titik fokus menonjolkan salah satu unsur untuk menarik perhatian. Misalnya antara merek dan ilustrasi. Keduanya merupakan dua unsur yang saling berebut perhatian. Agar tidak membingungkan konsumen maka diperlukan suatu penonjolan baik dari segi warna maupun dari segi ukuran.

3. Prinsip Hirarki Visual

Merupakan prinsip yang mengatur elemen-elemen mengikuti perhatian yang berhubungan secara langsung dengan titik fokus. Tiga pernyataan penting mengenai hirarki visual yaitu:

Mana yang anda lihat pertama?

Mana yang anda lihat kedua?

Mana yang anda lihat ketiga?

Perancangan Media Komunikasi Visual Selengkapnya

Angklung Buun Baduy Diminati Warga Bali

Angklung Buun Baduy Diminati Warga Bali

Lebak – Seni angklung buun Baduy di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, diminati warga Provinsi Bali untuk menghibur acara adat maupun pemerintahan daerah setempat.
“Kami sering mendapat undangan dari Pemerintah Provinsi Bali untuk menghibur masyarakat,” kata Pimpinan Seni Angklung Buun Baduy, Rasudin, di Rangkasbitung, Selasa.
Ia mengatakan, kesenian angklung buun berkembang sudah ratusan tahun di pedalaman Baduy dan biasanya untuk merayakan panen padi huma.
Setiap kali tampil melibatkan antara 12 sampai 17 orang, diantaranya pemain angklung, pemukul kendang dan penyanyi.
Kesenian tersebut memiliki etnik adat dengan didominasi bunyian-bunyian angklung terbuat dari bambu dan kendang.
“Saat ini masyarakat kita banyak menyukai musik-musik adat karena dinilai unik dan enak didengar,” katanya.
Dia juga menyebutkan, pihaknya sering kali tampil di Provinsi Bali, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta untuk menghibur masyarakat.
“Kami sekali tampil mendapat bayaran antara Rp5 sampai Rp10 juta,” katanya.
Menurut dia, kesenian angklung buun merupakan bagian seni sunda karena didominasi bunyi nada angklung yang terbuat dari bambu.
Selain itu juga lagu-lagunya, seperti pileleyan, rujak gadung, buang manggu dan lainya.
“Jika warga melihat langsung seni angklung buun pasti selalu ingin goyang dan menari karena bunyian didominasi pukulan kendang,” katanya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pariwisata Dinas Budaya, Pemuda dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Djujum mengatakan pihaknya saat ini terus membina seni budaya Baduy tersebut karena memiliki daya tarik tersendiri.
“Saya yakin seni angklung buun Baduy bisa ke pentas nasional maupun internasional,” ujarnya.

Sumber tulisan: antaranews.com

Sumber foto: piyok.blogspot.com

Warga Belanda Terpukau Wayang Kontemporer “Willem van Oranje”

Warga Belanda Terpukau Wayang Kontemporer “Willem van Oranje”

Delft  – Penampilan wayang kulit kontemporer “Willem van Oranje” yang dibawakan Ki Ledjar Soebroto asal Yogyakarta didampingi cucunya Ananto Wicaksono berhasil memukau lebih dari 600 penonton dalam enam kali pertunjukkan di Museum Nusantara, Delft, Belanda, Minggu.
Rangkaian pertunjukkan wayang kulit “Willem van Oranje” sebagai bagian dari dibukanya kembali Museum Nusantara Delft, ujar Ananto Wicaksono dalam wawancara khusus dengan koresponden Antara London, Minggu.
Pertunjukkan wayang kulit Willem van Orange yang berlangsung selama satu jam itu dengan penampilan wayang yang mengambarkan tokoh dalam sejarah itu diiringin dengan musik yang mendukung suasana pementasan.
Salah seorang penonton asal Belanda, Geert van Waveren mengakui pertunjukkan wayang kontemporer menceritakan kisah Willem van Oranje merupakan pertunjukkan yang sangat unik dan menarik.
Geert van Waveren, spesialis anak mengakui pertunjukkan wayang kontemporer itu merupakan pertunjukkan wayang yang berbeda dengan pertunjukkan wayang biasanya dan baru pertama kali dilihat.
Pertunjukan Wayang Kulit “Willem van Oranje” yang pertama kali dilakukan di Belanda 11 Maret lalu itu menceritakan kisah penguasa Belanda Willem van Oranje yang terbunuh di tahun 1584 oleh Balthasar Gerards asal Perancis.
Pangeran William yang dijuluki dan dikenal sebagai William dari Orange atau nama panggilan William Diam, dan di Belanda sering disebut sebagai Bapa Bangsa.
Menurut Ananto Wicaksono, bagi bangsa Belanda, Pangeran William yang lahir di Castle Dillenburg , 24 April 1533, mendapat tempat istimewa dihati mereka.
Disebutkan pada awalnya William menjadi gubernur untuk raja Spanyol namun kemudian inisiator menentang dan sekaligus pemimpin pemberontakan melawan penguasa dari Belanda- Spanyol, Raja Philip II.
Pertunjukkan wayang kulit buatan Mbah Ledjar seringkali ditampilkan di Tong Tong Fair, pagelaran Eurasia terbesar di Eropa yang digelar tiap tahun di Den Haag merupakan pesanan khusus Museum Nusantara.
Dua tahun lalu Ki Ledjar Soebroto membawakan Wayang Revolusi. Tahun ini rencananya Ki Ledjar akan membawakan Wayang Kulit mengenai meletusnya Gunung Merapi tahun lalu.
Selain pertunjukkan wayang kulit tersebut, satu set wayang kulit buatan Ki Ledjar Soebroto juga dijadikan koleksi permanen di museum tersebut.
Wayang Kulit buatan Ki Ledjar lainnya juga telah menjadi koleksi permanen di berbagai museum di Belanda, antara lain Wayang Kulit VOC di Westfries Museum, Hoorn, dan Wayang Kancil di Tropenmuseum, Amsterdam.
Menurut Cindy Smits, warga Belanda yang juga mengajar di Instituut Indonesische Cursussen di Leiden, pertunjukkan sore itu sangat menarik dan berbeda dengan pertunjukan wayang yang ia lihat sebelumnya.
Sementara itu seorang arkeologi di salah satu Prof Hedi Hinzler yang membantu terlaksananya pagelaran wayang Willem van Oranje mengakui bahwa digelarnya pertunjukkan wayang tersebut menjadi sarana pendidikan bagi masyarakat Belanda khususnya anak anak.
Hedi Hinzler, ahli purbakala Asia mengakui bahwa dengan digelarnya pertunjukkan wayang “Willem van Oranje” , warga Belanda bisa menyaksikan sejarah dalam bentuk lain.
Menurut Nanang, dibuatnya wayang yang mengisahkan perjuangan Pangeran William dalam bentuk wayang bertujuan sebagai wahana pendidikan anak-anak untuk memahami tentang sejarah Belanda.
Selain dalam bentuk wayang yang akan dipamerkan, juga disertai pemutaran film animasi Wayang William van Oranje yang dibuat Ananto Wicaksono sendiri.

Sumber: antaranews.com

Loading...