M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Seniman Bali Cemas Ketika Seni Dikemas

Seniman Bali Cemas Ketika Seni Dikemas

Kiriman Kadek Suartaya, SSKar., MSi., Dosen PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.

“Seni tradisi melarat, Barong Batubulan perang komisi, Cak Bona tinggal kenangan”. Demikian jeritan yang mengemuka di surat kabar belakangan ini sehubungan kian carut marutnya seni pertunjukan wisata di Pulau Dewata. Pemerkosaan terhadap seni tradisi  dan teraniayanya seniman Bali pelaku seni pentas turistik, merupakan cerita laten yang tak pernah menemukan solusi hingga hari ini. Soal seniman berhimpitan pentas naik truk, honor ala kadarnya, standar tarip pentas yang amburadul, kualitas seni yang asal-asalan, sertifikat laik pentas yang semu, dan seterusnya, adalah sederetan persoalan ruwet yang senantiasa berkemelut di sekitar seni pertunjukan wisata Bali. Objek penderitanya, yang pasti: seni dan seniman.

            Kisah pilu jagat seni wisata adalah derita yang umum mendera seni tradisi lokal yang dikemas sebagai objek komoditi di berbagai destinasi dunia. Topik ini diungkapkan sebuah makalah bertajuk “Komoditifikasi Seni Pertunjukan Bali” yang disajikan dalam Sarasehan Budaya Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-33 tahun 2011, Jumat (1/7) lalu, bertempat di Gedung Natya Mandala Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Sebagai nara sumber, Dr. I Ketut Suwentra, SST, mengungkapkan bahwa industri pariwisata adalah sebuah situasi dan kondisi yang memberi ruang dan peluang terhadap komodifikasi seni. “Dalam konteks industri pariwisata, nilai-nilai estetik lokal masyarakat menjadi atraksi andalan. Seni pertunjukan Bali telah dikomodifikasi sejak awal kedatangan para pelancong di Pulau Dewata. Komodifikasi seni pertunjukan Bali dalam jagat kepariwisataan itu juga telah merambah bentuk-bentuk seni pentas yang tergolong sakral,“ ujar Ketut Suwentra yang dikenal sebagai Pekak Jegog ini.

Sebagai destinasi wisata dunia, papar Ketut Suwentra, Bali, kini, adalah sebuah komoditi. Bali memiliki nilai jual. Adalah industri pariwisata yang semakin mengukuhkan Bali sebagai sebuah komoditi. Begitu pesatnya perkembangan pariwisata di pulau ini menyebabkan semua pihak ingin mengkomodifikasikan hampir seluruh lekuk sekala dan niskala Bali, dari gunung hingga laut, dari relegi hingga mistik. Anugrah alam Bali dikomodifikasi tanpa sisa. Danau, sungai, pantai dan laut yang diyakini oleh orang Bali sebagai tempat pembersihan suci kini telah dikomodifikasi. Gunung, bukit, tebing yang dipercaya orang Bali sebagai bersemayamnya para dewa dan mahluk halus kini juga dikomodifikasi. Euporia mengkomodifikasi alam Bali begitu sarat gairah, baik oleh orang Bali sendiri maupun pihak luar yang mencari rejeki ekonomi di Bali. “Karena begitu permisifnya paham komodifikasi dijadikan prinsip meraup keuntungan finansial, sehingga nilai-nilai sakral, terlarang, dan rahasia pun dijajakan sebagai sebuah komoditi,“ ujarnya lugas.

Komoditifikasi adalah anak cucu dari kapitalisme yang kini mengungkung afmosfer Bali. Tarik-ulur, konfrontasi  dan  proses  tawar-menawar, kini sedang gencar berlangsung dalam masyarakat Bali kontemporer.  Sebagai  bagian dari peradaban   global, masyarakat Bali  sedang mengalami perubahan-perubahan, baik yang bergolak secara internal maupun yang menggedor secara eksternal. Konsekuensinya adalah  terjadi pergeseran-pergeseran nilai. Semua ini berimplikasi terhadap  prilaku dan pola berpikir masyarakatnya. Misalnya mengemuka kecendrungan sadar sesadar-sadarnya akan arti ekomomi-uang  dan  pasar.   Tengok misalnya bisnis kesenian dalam  jagat pariwisata Bali dan berkesenian di tengah masyarakat lokal. Merupakan suatu persoalan yang dilematis adalah bagaimana para seniman Bali menyikapi  atau mengkompromikan  antara budaya  “tulus”  ngayah  dengan budaya “materialistis”  ekonomi-uang-pasar yang menggedor  hampir  dalam setiap lekuk dan sendi kehidupan mereka.

Bali diidentikkan dengan jagat seni. Kehadiran beragam ungkapan seni itu seirama dengan denyut dan tarikan napas religius masyarakatnya dalam semangat kolektif sekaa-sekaa kesenian di banjar atau dalam ketulusan ngayah di pura. Tetapi ketika zaman berubah dan kini ketika globalisasi menerjang, tak pelak membawa dampak yang besar dalam berbagai aspek kehidupan penghuni jagat ini, termasuk pada masyarakat Bali dan keseniannya. Kesenian Bali tidak lagi hanya diperuntukkan untuk persembahan belaka, namun juga dipertontonkan kepada wisatawan. Seperti kita ketahui era kesejagatan yang lazim bertiup dengan transformasi budaya sudah tentu membawa guncangan besar dan kecil pada tata kehidupan dan perilaku masyarakatnya. Dunia ide dan rasa dalam selimut estetika yang disebut kesenian Bali, rupanya tak juga luput dari  “provokasi“  semangat zaman. Industri pariwisata sebagai salah satu representasi globalisasi, mengkomodifikasi seni pertunjukan dengan ikutan beragam dampaknya.

        Menurut Ketut Suwentra,  komodifikasi adalah sebuah ideologi pasar. Ideologi ekonomi-uanglah yang menyangga komodifikasi seni pertunjukan Bali dalam jagat kepariwisataan. Sebagai sebuah industri perpanjangan tangan dari kapitalisme, tentu tujuan memperoleh keuntungan sebanyak-banyak adalah yang menjadi kredonya, sementara bagaimana dampak negatif dari praktek komodifikasinya bukan menjadi domainnya. Sedangkan komodifikasi seni pertunjukan di tengah masyarakat Bali masih berada di wilayah antara ketulusan ngayah, berkesenian untuk masyarakat, dan komodifikasi situasional. “Untuk meminimalisir dampak negatif dari praktek komodifikasi, kiranya diperlukan kesadaran masyarakat  dan kepedulian pemerintah terhadap keberadaan seni pertunjukan Bali sebagai sebuah kristalisasi budaya yang patut diberdayakan posisinya di tengah keniscayaan globalisasi,“ himbau Suwentra.

Seniman Bali Cemas Ketika Seni Dikemas, selengkapnya

Awal Mula Munculnya Tari Legong Sambeh Bintang

Awal Mula Munculnya Tari Legong Sambeh Bintang

Kiriman Ni Wayan Ekaliani, Mahasiswa PS. Seni Tari ISI Denpasar

Untuk menjelaskan awal mula munculnya tari Legong Sambeh Bintang ini digunakan teori Religi. Taylor mengungkapkan bahwa religi adalah suatu keper-cayaan atau keyakinan yang dimiliki oleh seseorang yang membuat mereka wajib melakukan sesuatu untuk persembahan baik dalam bentuk perilaku, sesaji  untuk upacara ritual, maupun tarian untuk menunjukkan rasa baktinya kepada Sang Maha Pencipta Alam Semesta/Tuhan Yang Maha Esa karena mereka meyakini adanya kekuatan gaib di lingkungan sekitar kehidupannya.

Suatu ritus atau upacara religi umumnya terdiri dari kombinasi yang merang-kaikan satu-dua kegiatan. Sebagaimana masyarakat Hindu-Bali ketika mereka melakukan upacara ritual keagamaan, mereka umumnya melakukan upacara ritual keagamaan dengan  mempersembahkan sesaji yang disertai persembahan seni pertunjukan. Mereka akan merasa upacara persembahan yang dilakukannya itu kurang lengkap jika tidak dilengkapi unsur bunyi-bunyian dan tari-tarian. Hal itu juga dilakukan  masyarakat Desa Bangle.  Untuk mensyukuri berkah dan memohon agar pertaniannya tidak diserang hama penyakit, mereka melakukan upacara persembahan kepada para dewata,  setiap enam bulan sekali pada upacara piodalan Ngusaba Desa di Pura Desa yang jatuh pada hari Umanis Kuningan. Sebagaimana diungkapkan I Nengah Wati (70 th), pada wawancara tgl 21 Desember 2010 sebagai berikut.

…penduduk desa ini miskin. Sebagian besar dari kami menghidupi keluarga dari hasil bertani, dan melaut sebagai nelayan. Dari dua mata pencaharian penduduk di desa ini, yang paling sering mendapat cobaan adalah kami yang menggantungkan hidup ini dari hasil bertani. Tanaman kami dulu sering terserang hama penyakit, sehingga kami sering kebingungan karena gagal  panen. Keluarga kami sering kelaparan dan sakit-sakitan. Pada suatu hari, saya mendapat pewisik agar warga di sini menghaturkan sesaji di Pura Desa ini. Saya heran, setelah melakukan upacara di pura itu perlahan-lahan hasil pertanian warga di sini mengalami peningkatan. Sejak itu kami selalu mempersembahkan sesaji di pura itu agar Beliau melindungi kami.

            Dari pernyataan tersebut di atas dapat diketahui bahwa masyarakat Desa Bangle yakin akan adanya kekuatan gaib yang dapat memberi mereka perlindungan dari serangan wabah penyakit.

Semula, masyarakat Desa Bangle hanya memiliki Gamelan Terompong Beruk sebagai pelengkap persembahan mereka di pura. Seiring berjalannya waktu, mereka pun berkeinginan untuk menampilkan pependetan (tari-tarian) pada saat upacara piodalan di Pura Desa tersebut. Sebagaimana diungkapkan I Nengah Wati (70 th), ketika wawancara dilakukan pada tgl 21 Desember 2010, sebagai berikut.

… dulu pada saat upacara piodalan di Pura Desa kami hanya mem-persembahkan tetabuhan (lagu) dari menabuh gamelan Terompong Beruk. Gamelan ini sudah ada sejak zaman kakek saya. Kami tidak tahu secara pasti tahunnya. Tetapi ketika zaman Belanda gamelan ini sudah ada, dan kami hanya meneruskan saja. Kami belajar menabuh gamelan ini secara tradisi, turun-temurun. Semua warga desa, khususnya yang laki-laki, harus bisa memainkan gamelan ini karena kami harus ngayah megamel (menabuh) di setiap upacara piodalan di pura ini.

Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa gamelan Terompong Beruk telah muncul dan berkembang ketika zaman penjajahan Belanda. Karena dibutuhkan untuk digunakan sebagai persembahan di setiap upacara piodalan di Pura Desa, maka warga masyarakat setempat belajar dan mampu memainkan alat musik tradisional tersebut.  Dari penuturan informan tersebut juga dapat diketahui, bahwa walaupun mereka berada dalam kondisi serba terbatas baik dalam pengetahuan  maupun  sarana yang dimimilikinya, namun hal itu tidak menjadi penghalang bagi mereka untuk hidup berkesenian.

Penyajian bunyi-bunyian berupa gamelan ini berlangsung cukup lama. Sampai suatu ketika tetua pura yang bernama I Nyoman Karang (75 tahun) mem-punyai gagasan untuk meramaikan upacara Usaba Desa tersebut dengan memper-sembahkan tari-tarian. Desa tersebut tidak mempunyai gamelan lain selain Terom-pong Beruk maka tarian yang ditampilkan oleh para pemedek (warga yang bersembahyang) di pura tersebut menari diiringi Gamelan Terompong Beruk. Sebagaimana diungkapkan oleh informan I Nyoman Kaler pada sebuah wawancara yang dilakukan di rumahnya tgl 21 Desember 2010, pukul 10.00 wita menuturkan sebagai  berikut:

“… ketika upacara piodalan sedang berlangsung, saya lupa tahunnya, ada petunjuk dari Beliau agar kami mempersembahkan tari-tarian untuk persembahan kepada para dewata. Saya bingung pada waktu itu. Ketika itu seketika ada inisiatif, agar para warga (para gadis) yang datang sembahyang di pura ini menari di hadapan pelinggih ini.  Maklum anak-anak itu bukan penari, jadi mereka melakukan secara seadanya, sebagaimana yang ditampilkan itu”.

Dari pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa tari Legong Sambeh Bintang ini memang diciptakan untuk tari persembahan kepada para dewata, yang dipentaskan masyarakat setempat di setiap upacara piodalan Ngusaba Desa, di Desa Bangle, Abang, Karangasem.

Seiring berjalannya waktu, masyarakat penyungsung pura itupun merasa perlu mempersembahkan tari-tarian selain tetabuhan pada saat upacara piodalan Ngusaba Desa itu dilaksanakan. Mereka berkeyakinan bahwa dengan mempersem-bahkan sesaji dilengkapi tetabuhan dan tari-tarian para dewata penguasa alam di desa tersebut akan  merasa lebih senang, dan berkenan mengabulkan permohonannya yakni diberi perlindungan agar pertanian mereka tidak diserang hama penyakit. Untuk itu, mereka pun berupaya menampilkan tari-tarian seadanya diiringi Gamelan Terompong Beruk pada saat upacara piodalan Ngusaba Desa yang jatuh tiap enam bulan sekali tepatnya pada hari Umanis Kuningan.

            Berawal dari mempersembahkan Gamelan Terompong beruk yang mereka buat dari batok kelapa, masyarakat setempat mulai berkreasi menciptakan sebuah tarian yang walaupun dilakukan dengan ragam gerak bebas dan seadanya, mereka bangga akan kesenian yang mereka miliki itu. Hal itu tampak dari ekspresi dan sikap masyarakat setempat ketika mereka mempersembahkan tarian tersebut di setiap upacara piodalan Ngusaba Desa, di Pura Desa, desa setempat. Hal itu diperkuat oleh pernyataan salah seorang informan bernama I Nyoman Kaler (75 tahun) pada wawancara tgl 21 Desember 2010, pukul 10.00 wita yang menuturkan sebagai berikut.

“untuk melengkapi persembahan sesaji yang kami haturkan kami selalu mempersembahkan Tari Legong Sambeh Bintang diiringi Gamelan Terompong Beruk pada upacara piodalan di Pura Desa”.

Dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa masyarakat di Desa Bangle, Karangasem sejak dahulu telah hidup berkesenian untuk persembahan kepada para dewata.  Hal senada juga dikemukakan oleh salah seorang seniman tua yang ada di Desa Bangle, bernama Ni Luh Rongket (80 tahun), pada wawancara yang dilakukan di rumahnya tanggal 10 Desember 2010, pukul 14.00 wita menuturkan sebagai berikut.

“tari Legong Sambeh Bintang ini sudah ada sejak saya lahir.  Menurut Ibu saya, penari pertama tarian ini adalah nenek saya ketika beliau masih gadis. Katanya beliau didapuk menarikan tarian ini di depan pelinggih pura ketika upacara piodalan berlangsung. Kira-kira hal itu terjadi pada zaman penjajahan Belanda”.

Dari pernyataan tersebut dapat di ketahui bahwa awal mula munculnya tari Legong Sambeh Bintang ini kira-kira ketika zaman penjajahan Belanda, yakni pada tahun 1920-an.  Sejak awal muncul dan berkembangnya tari Legong Sambeh Bintang yang hingga kini tetap disakralkan masyarakatnya ini ditarikan oleh para gadis (daha) yang belum mengalami akil balik. Sebagaimana diungkapkan oleh informan bernama I Ketut Puger, salah seorang seniman Desa Bangle pada sebuah wawancara yang dilakukan tanggal 5 Desember 2010, yang menuturkan antara lain sebagai berikut.

“Tari Legong Sambeh Bintang ditarikan oleh 50 orang gadis yang belum mengalami akil balik dan belum potong gigi. Kira-kira umur mereka 10-13 tahun.  Namun walaupun penari yang diperbolehkan menarikan tarian ini belum mengalami akil balik, tetapi jika mereka masih terlalu kecil (tangan mereka belum dapat menyentuh apit-apit Bale Agung) yang ada di Pura Puseh, desa setempat, merekapun tidak diperkenankan menarikan tarian ini”.

Awal Mula Munculnya Tari Legong Sambeh Bintang selengkapnya

Teknologi Tumpuan Selesaikan Masalah Bangsa

Teknologi Tumpuan Selesaikan Masalah Bangsa

Rabu, 10 Agustus 2011

Serpong, Banten – Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa penelitian dan pengembangan teknologi serta inovasi merupakan tumpuan utama untuk menyelesaikan berbagai masalah bangsa dalam upaya mencapai kesejahteraan masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Kepala Negara dalam peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional (Hakteknas) di Auditorium Graha Widya, Komplek Pusat Pengembangan Ilmu dan Teknologi (Puspitek), Serpong, Tangerang, Banten, Rabu sore.
“Pertanyaan kemudian adalah inovasi dan teknologi seperti apa yang harus kita kembangkan. Saudara tentu sepakat bila pertanyaan seperti itu opsi sangat terbuka dan banyak pilihan yang terbuka, para ilmuwanlah yang berperan dan ini tantangan serta misi besar saudara semua,” kata Presiden.
Dalam uraiannya, Kepala Negara mengatakan, tantangan Indonesia di masa mendatang semakin berat, bukan hanya masalah yang dihadapi Indonesia namun juga oleh bangsa-bangsa di dunia.
“Sekarang jumlah penduduk dunia 7 milyar manusia dan kemudian 2045 menjadi 9 milyar jiwa. Saya sampaikan apa implikasinya dari kebutuhan paling asasi, food security dan energy security,” kata Presiden.
Ia mencontohkan tiga hal, terkait tantangan dalam keamanan pangan, tantangan dalam ketersediaan energi dan perubahan fundamental ekonomi dari ekonomi sumber daya alam menjadi ekonomi yang mengedepankan peningkatan kualitas dan nilai produk nasional.
“Konkritnya tahun mendatang, kita harus bisa percepat dan perluas terbangunnya industri bernilai tambah. Untuk itu semua, upaya besar solusi yang diharapkan kita harus percepat inovasi dan kontribusi ekonomi untuk kuasai itu,” katanya.
Berdampingan dengan program percepatan pembangunan ekonomi Indonesia yang telah dicanangkan pemerintah, Kepala Negara meminta agar inovasi dan pengembangan teknologi bisa memberi kontribusi pada pengembangan kekuatan ekonomi nasional.
“Ini tantangan, misi kita yang harus disukseskan. Saya ajak jangan kita sia-siakan peluang dan momentum yang kita miliki. Sasaran kita dalam MP3EI bisa dikatakan ambisius, tapi saya yakin itu bisa kita capai,” kata Presiden.
Dalam jangka waktu hingga 2025 mendatang, Presiden optimistis kondisi perekonomian Indonesia bisa mencapai kekuatan ekonomi dunia ke-12.
“MP3EI yang kita buat menentukan sasaran yang konservatif, sasaran 2025 yaitu GDP Rp4 triliun hingga Rp4,5 triliun, income percapita capai 14.000 dolar AS hingga 15.000 dolar AS dan kita berupaya capai peringkat nomor 12 dunia,” tegasnya.
Untuk mencapai itu, kata Presiden, ada sejumlah hal yang perlu dilakukan, yaitu sebagai bangsa harus bersatu, mau bekerja bersama, mau bekerja keras, jangan lunak jangan asal-asalan, bersikap adaptif dan inovatif.
“Dan yang kelima, di era globalisasi ada ancaman ada peluang, menjadi bangsa yang cerdas dalam cari dan ciptakan peluang yang tersedia dimana-mana. Jika sasaran itu dicapai maka rakyat kita semakin sejahtera, kemiskinan bisa berkurang lebih signifikan, dan keadilan dimana-mana,” kata Presiden.
Dalam peringatan hari kebangkitan teknologi nasional ke-16 tersebut, hadir pula mantan Presiden BJ Habibie, para menteri kabinet Indonesia Bersatu, sejumlah duta besar negara sahabat dan para peneliti dari seluruh Indonesia.
Hari kebangkitan teknologi nasional diperingati setiap 10 Agustus. Tonggak peringatan diawali dengan penerbangan pertama pesawat produksi PT Dirgantara Indonesia N-250 Gatotkaca pada 10 Agustus 1995 bertepatan dengan bulan peringatan 50 tahun kemerdekaan RI saat itu.
Peringatan Hakteknas 2011 diisi dengan sejumlah kegiatan termasuk sejumlah seminar bertemakan pengembangan inovasi dan teknologi.

sumber : antaranews.com

Ngayah  Di  Pura  Pauman

Ngayah Di Pura Pauman

Kiriman Dewi Yulianti, Dosen PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.

Kegiatan “ngayah” merupakan kegiatan rutin kampus ISI (Institut Seni Indonesia) Denpasar.Pada hari Senin (15/8) yang lalu,pada saat rainan Kajeng Kliwon, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar ‘ngayah’ di Pura Kauman Banjar Sumerta Kaja, Denpasar, dalam pementasan Calon Arang berjudul “Gusti Ayu Pelung”.

Dalam pementasan ini, ISI Denpasar membawakan tarian Telek dan Watangan. Tarian Telek dibawakan oleh Kadek Arsiniwati, Nyoman Sriwahyuni, Gusti Ayu Srinatih, Ni Nyoman Kasih, Oka Surya Negara, serta  Sutirta. Kemudian untuk Tarian Watangan atau Bangke-Bangke dibawakan oleh I Nyoman Kerta yang merupakan dosen ISI Denpasar serta warga dari Banjar Lebah jalan Kecubung, Denpasar. Dalam kesempatan ini turut hadir pula Rektor ISI Denpasar yang menyaksikan pementasan Calon Arang, dimana beliau sempat mengungkapkan bahwa  ISI Denpasar mengikuti acara ngayah di Pura Kauman yang merupakan perwujudan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi. “Kami sangat bersyukur kepada Tuhan, karena kami diberikan kesempatan untuk “ngayah” dengan talenta seni yang kami miliki, untuk dipersembahkan kembali kepada Tuhan. Terima kasih juga kepada panitia yang telah member kami kesempatan untuk turut serta dalam kegiatan ngayah ini, yang mana para seniman ISI Denpasar mendapat kesempatan untuk berkolaborasi dengan masyarakat dalam kegiatan ngayah ini,”papar Prof. Rai.

Ketua Pelaksanaan kegiatan ini mengungkapkan bahwa kegiatan yang berlangsung tepat pada malam Kajeng Kliwon ini merupakan rangkaian acara odalan dari Pura Kauman. Rangkaian acara ini akan dimulai pada pukul delapan malam hingga selesai, adapun susunan acara dalam pementasan Calon Arang ini adalah Barong 1, Legong Kuntul, Jauk Manis, Barong 2, Telek, Sisya, Desak Rai, Liku, Matah Gede, Penasar Wijil, Mantri, Bendega, Sisia Ngereh, Watangan, Bondres, Banjar-Banjaran atau Grubug, Balian, Pandung, serta Rangda dan Unying. Rangkaian Acara yang berjumlah 19 tarian ini baru usai hingga dini hari.

Loading...