M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Teknik Pembuatan Krawang Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Bilah

Teknik Pembuatan Krawang Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Bilah

Kiriman I Putu Arya Sumarsika, Mahasiswa PS. Seni Karawitan ISI Denpasar.

Orang yang ahli membuat gamelan disebut dengan pande gamelan atau tukang gamelan. Pande gamelan menghasilkan kerajinan yang berupa bilah tentu memerlukan bahan dan alat-alat sebagai unsur terpenting dalam proses pembuatannya. Sebelum proses pengerjaan bilah berlangsung pande sangat memperhatikan hari baik (dewasa ayu) untuk memulai pekerjaan ini.  Dari pemilihan hari baik ini sangat berpengaruh pada hasil akhir yang diinginkan. Adapun beberapa hari baik untuk memulai pekerjaan membuat gamelan pada dewasa  kala geger dan karna sula.   

Jenis-jenis bahan sangat menentukan dalam menghasilkan kualitas suara dan warna suara yang berbeda tergantung dari bahan pembuatannya. Dalam membuat gamelan terlebih dahulu harus mempertimbangkan jenis bahan yang cocok dipakai demi tercapainya keinginan yang sesuai dengan permintaan pemesan dan pembuatnya.

Krawang telah diketahui oleh masyarakat Bali sebagai bahan pembuat gamelan yang tentunya dapat menghasilkan gamelan dengan karakteristik yang berbeda dengan menggunakan yang memakai bahan selain krawang. Gamelan yang dibuat dari bahan krawang memiliki penampilan dan suara yang khas.

Krawang yang dijadikan bahan gamelan oleh pande gamelan di Banjar Babakan tidak saja terbuat dari bahan yang baru, melainkan dapat mempergunakan pecahan-pecahan gamelan yang dibawa oleh masyarakat dan diolah kembali menjadi gamelan yang diinginkan. Dalam perkembangannya, pande gamelan di Banjar Babakan tidak saja mengandalkan krawang yang sudah jadi yang didatangkan dari pulau Jawa, namun sekarang sudah bisa menghasilkan krawang sendiri yang merupakan hasil dari mengolah bahan-bahan dari logam.

Membuat krawang  pada umumya di Bali  baru ada pada tahun 1966 yang dipelopori I Made Gableran, seorang pengrajin dalam bidang gamelan di Blahbatuh, Gianyar kemampuan ini didapat dari hasil magang di daerah Solo yang dilanjutkan oleh anak beliau sampai sekarang ini.

Dengan menguasai teknik pembuatan krawang mengakibatkan lebih mudahnya didapat bahan baku pembuatan gamelan, yaitu tidak saja mengandalkan krawang yang didatangkan dari Jawa, namun bisa mempergunakan dari pecahan gamelan Bali, serta sekarang sudah dapat memakai krawang buatan tangan pengrajin gamelan di Banjar Babakan. Krawang yang baik ditentukan oleh faktor-faktor sebagai berikut :

  1. Dalam memilih bahan baku untuk membuat krawang yang berupa timah dan tembaga, kedua jenis logam tersebut harus berupa logam murni, yaitu tidak tercampur dengan logam lain. Kualitas yang paling baik yaitu dengan mempergunakan timah dan tembaga yang baru yang belum pernah dipergunakan sebelumnya karena jika logam tersebut sudah pernah dipakai sebelumnya seperti kabel, sering kali logam tersebut tercampur dengan logam lain yang dapat mempengaruhi kualitas suara yang dihasilkan oleh gamelan itu sendiri.
  2. Menentukan takaran dan ketepatan berat untuk mengasilkan krawang yang baik dan sesuai dengan kebutuhan, harus terlebih dahulu melihat akan dijadikan jenis gamelan berbentuk bilah atau pencon. Pencampuran bahan gamelan berbilah harus tepat dan sesuai dengan kebutuhan. Kurang tepatnya takaran dapat mempengaruhi kualitas suara dari gamelan itu sendiri.
  3. Tingkat kematangan (lebeng) dan kesempurnaan dalam pencampuran dapat berpengaruh pada kualitas krawang. Krawang yang baik jika peleburannya dalam arti dipanaskan dalam waktu yang cukup lama, dan tergantung juga  dengan berat krawang yang ingin dibuat. Semakin lama pembakarannya dalam tungku peleburan menggunakan pengaturan panas api yang stabil dari awal sampai akhir peleburan, tingkat kematangan dalam peleburan semakin menentukan kualitas krawang untuk mampu menghasilkan suara yang bagus.

Dari pendapat di atas memberi gambaran bahwa kualitas krawang harus selalu diperhitungkan, karena mempergunakan kualitas krawang baik akan berpengaruh pada kesuksesan dalam pengerjaannya lebih mudah dan hasilnya juga lebih bagus serta berpengaruh pada kualitas suara yang dihasilkan.

Dengan bertambahnya penguasaan teknik dalam penggarapan logam, khususnya pembuatan krawang, maka bahan utama pembuatan gamelan hingga kini berasal dari tiga hal yang telah disebutkan terdahulu, yaitu dari luar Bali yaitu berupa barang rosoan, berasal dari pecahan gamelan Bali dan krawang yang di produksi sendiri.

Teknik Pembuatan Krawang Sebagai Bahan Dasar Pembuatan Bilah Selengkapnya

Pin Dan Brosur Sebagai Sarana Promosi SD Saraswati 2 Denpasar

Pin Dan Brosur Sebagai Sarana Promosi SD Saraswati 2 Denpasar

Kiriman: Gd Lingga Ananta Kusuma Putra, SSn., Alumni PS. DKV ISI Denpasar

Pin

Pada sub ini penulis akan membahas tentang visualisasi desain pembuatan media pin yang digunakan sebagai salah satu media promosi SD Saraswati 2 Denpasar.

Unsur Visual Desain

1. Bentuk Fisik

            Bentuk fisik dari pin ini adalah lingkaran dengan ukuran diameter 5 cm.

2. Ilustrasi

Dalam perancangan media promosi pin ini, ilustrasi yang dipergunakan adalah ilustrasi kartun Ganesha. Penggunaan ilustrasi ini bertujuan menimbulkan kesan yang menarik perhatian, sehingga sekolah ini makin dikenal masyarakat luas.

3. Teks

Pada media stiker ini, menggunakan teks yang hanya berupa nama SD Saraswati 2 Denpasar. Tujuannya agar stiker terlihat lebih jelas dan menarik serta lebih mudah memberitahukan apa yang dipromosikan.

4. Huruf / Typografi

            Menggunakan jenis huruf Jokerman, agar lebih terkesan ceria.

5. Warna

          Dalam perancangan pin ini menggunakan warna hijau abu dan kuning pada ilustrasi dan backgroundnya. Pewarnaan pada ilustrasi menggunakan teknik digital painting dengan penambahan shadow  agar lebih menarik dan disukai anak-anak.

6. Bahan

Perancangan media pin ini menggunakan bahan plasik, plat dan pengait.

7.Teknik Cetak.

Untuk mewujudkan media ini menggunakan teknik cetak digital printing. Karena teknik ini relatif cepat, praktis dan efisien.

Kreatif Desain

Kreatif desain merupakan proses kreatif yang terdiri dari layout/gambar kasar dan gambar detail, serta mempertimbangkan indikator serta unsur-unsur desain dan bobot penilain desain sebagai acuan desain terpilih. Dalam proses kreatif perancangan desain pin ini, dibuat 3 alternatif desain.

Desain pin ini dipilih karena jika dibandingkan dengan 2 alternatif desain yang lainnya, tata letak dalam desain ini dianggap lebih menarik, lebih banyak memenuhi kriteria desain serta paling sesuai dengan konsep perancangan yang digunakan yaitu “ceria dan informatif”. Teks yang digunakan dalam desain ini berupa nama SD Saraswati 2 dan ilustrasi berupa kartun Ganesha. (untuk lebih jelasnya lihat lampiran)

Brosur

Penulis akan membahas tentang visualisasi desain pembuatan media brosur yang digunakan sebagai salah satu media komunikasi visual sebagai sarana promosi SD Saraswati Denpasar.

Unsur Visual Desain

1. Bentuk Fisik

Bentuk fisik dari brosur ini persegi panjang dan mempunyai ukuran 29,7 x 21 cm.

2. Ilustrasi

Dalam perancangan media brosur bagian luar ini, ilustrasi yang dipergunakan adalah illustrasi anak SD, denah lokasi dan foto bangunan SD Saraswati 2 Denpasar. Sedangkan di bagian dalamnya menggunakan ilustrasi yang berfungsi skaligus sebagai background, yang menggambarkan suasana ceria seorang guru dan murid-muridnya. Diharapkan nantinya pesan dan kesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat dapat tersampaikan.

3. Teks

Perancangan media promosi ini menggunakan teks berupa segala informasi mengenai SD Saraswati 2 Denpasar, termasuk kegiatan-kegiatan dan ekstra kurikuler yang ada di SD Saraswati 2 Denpasar serta lokasi dan syarat penaftaran. Hal ini bertujuan agar informasi yang ada dapat tersampaikan kepada masyarakat luas.

4. Huruf / Typografi

Perancangan media promosi ini menggunakan beberapa jenis huruf atau typografi, antara lain :

–  Pada nama SD Saraswati 2 Denpasar menggunakan jenis huruf Impact.

–  Pada kalimat informasi yang disampaikan menggunakan huruf Times New Roman.

–  Pada kalimat ajakan menggunakan huruf Freestyle.

            Huruf-huruf jenis ini digunakan karena bentuknya yang simpel/sederhana juga mudah dibaca. Keseluruhan jenis typografi tersebut diatas dikomposisikan menurut ukuran dan keseimbangan guna mendapatkan kesatuan serta ritme yang tepat dimana nantinya dapat memberikan keseimbangan informasi yang dinamis.

5. Warna

Dalam perancangan media brosur ini menggunakan warna-warna sebagai berikut :

–  Untuk background menggunakan warna putih hijau dan kuning pada tampilan depan brosur dan warna sesuai illustrasi yang didominan biru dan putih pada tampilan belakang brosur.

–  Untuk ilustrasi logo SD Saraswati 2 menggunakan warna hitam dan putih, untuk warna ilustrasi anak-anak dan guru menggunakan warna merah, putih, coklat, abu dan hitam.

– Tulisan menggunakan warna hijau.

6. Bahan

Perancangan brosur ini menggunakan bahan art paper 150 gsm.Kertas art paper 150 gsm digunakan karena memiliki kualitas serta ketebalan yang baik.

7. Teknik Cetak

Untuk mewujudkan media brosur ini menggunakan teknik offset. Untuk mewujudkan brosur dalam jumlah banyak, cetak offset dipilih karena harganya relatif lebih murah dan lebih bagus daripada teknik cetak lainnya.

Kreatif Desain

Kreatif desain merupakan proses kreatif yang terdiri dari layout/gambar kasar dan gambar detail, serta mempertimbangkan indikator serta unsur-unsur desain dan bobot penilaian desain sebagai acuan desain terpilih. Dalam proses kreatif perancangan desain brosur ini, dibuat 3 alternatif desain.

Desain brosur ini dipilih karena jika dibandingkan dengan 2 alternatif desain yang lainnya, tata letak dalam desain ini dianggap lebih menarik, lebih banyak memenuhi kriteria desain serta paling sesuai dengan konsep perancangan yang digunakan yaitu “ceria dan informatif”. Teks yang digunakan dalam desain ini berupa informasi mengenai SD Saraswati 2 Denpasar. Ilustrasi yang digunakan dalam desain ini berupa ilustrasi anak-anak dan seorang guru, sehingga informasi yang ada dapat tersampaikan. (untuk lebih jelasnya lihat lampiran)

Pin Dan Brosur Sebagai Sarana Promosi SD Saraswati 2 Denpasar, selengkapnya

Struktur Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiksa, Bagian I

Struktur Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiksa, Bagian I

Kiriman I Ketut Gina, Mahasiswa PS. Seni Pedalangan

            Sebelum melangkah ke dalam pertunjukan Wayang Kulit Calonarang, terlebih dahulu meninjau sejarah dari Calonarang yang ada di Jawa ada dua (2) versi, yaitu: 1) Versi keraton yang mengisahkan tentang “Diusir Ratna Menggali”, dan 2) Versi masyarakat yang mengisahkan tentang “Bahula Duta”. Versi cerita yang dikuasai oleh dalang Ida Bagus Sudiksa meliputi: 1) Cerita “Kautus Rarung”, 2) Cerita “Ngeseng Bingin” (Bahula Duta), dan 3) Cerita “Diah Padma Yoni”. Yang menjadi pokok penelitian adalah cerita Diah Padma Yoni.

1 Lakon dan Pembabakan Ceritera

            Pertunjukan Wayang Calonarang persembahan dalang Ida Bagus Sudiksa di Pemuwunan Setra Pura Dalem Desa Kerobokan telah mengalami perubahan, baik cerita, lakon, maupun gamelan (musik iringannya). Sperti halnya di tahun 1989 sampai tahun 1996 dengan cerita penyalonarangan, lakon “Kunti Yadnya”, musik iringan menggunakan seperangkat gamelan batel. Penyalonarangan yaitu Calonarang hanya sebagai konsep pertunjukan, bukan cerita Calonarang. Pada awal ceritanya adalah Wayang Parwa dengan, kemudian pada babak ke dua dilanjutkan dengan cerita Calonarang, karena kemarahan Sang Duryodana tidak terima bahwa para Pandawa mengadakan upacara, maka Sang Duryodana datang ke kuburan minta kepada Betari Durga, agar memberikan anugerah agar dia dapat menghancurkan upacara para Pandawa. Permintaan Sang Duryodana dipenuhi oleh Betari Durga, malahan terlibat langsung menghancurkan upacara para Pandawa, dengan perubahan wujud menjadi Rangda atau Calonarang.

Setelah tahun 1997 sampai tahun 2008, dalang Ida Bagus Sudiksa mementaskan Wayang Calonarang dengan lakon “Ngeseng Bingin” (Bahula Duta), dengan musik iringan seperangkat Semar Pegulingan. Cerita singkatnya adalah Prabu Erlangga membatalkan peminangan terhadap Diah Ratna Menggali untuk dijadikan permaisuri, karena Diah Rangda Menggali merupakan anak seorang leak. Karena Walu Nata merasa tersinggung dengan perlakuan Prabu Erlangga, maka Walu nata berangkat ke kahyanga Dalem mohon kepada Betari Durga agar diberikan ilmu hitam tingkat tinggi. Permintaan walu nata dipenuhi oleh Betari Durga dengan menganugrai sepasang rontal yang bernama “Niscaya Lingga” ilmu hitam), dan “Nircaya Lingga” (ilmu putih). Karena kesaktian yang dimiliki oleh Walu Nata, maka hancurlah kerajaan Kediri ditimpa wabah penyakit, setiap harinya puluhan orang meninggal dunia. Prabu Erlangga bingung, cemas memikirkan kerajaannya hancur, maka minta pertolongan kepada Mpu Beradah yang tinggal di Pesraman Lembah Tulis. Mpu Beradah menyanggupinya dan mengutus anaknya yang bernama Mpu Bahula agar datang ke Kerajaan Dirah mencuri ke dua pustaka itu, dengan tipu muslihat mempersunting Diah Ratna menggali, siasat Mpu Bahula berhasil, kemudian diserahkan ke dua pustaka itu kepada Mpu Beradah, dan setelah dipelajari, Mpu Beradah tahu kelemahan Walu Nata, akhirnya Walu Nata dapat dibuatnya bertekuk lutut. Kembalilah normal kerajaan Kediri.

Pada tahun 2009 dalang Ida Bagus Sudiksa mementaskan Wayang Calonarang dengan cerita Diah Padma Yoni, dengan mengangkat lakon “Kautus Rarung”, dengan petangkilan mulai di Kerajaan Kediri. Menceritakan bahwa permaisuri Prabu Erlangga bernama Diah Padma Yoni sedang hamil muda menginginkan (ngidam) otak dan daging hati manusia. Diah Padma Yoni diusir dan terlunta-lunta di Hutan Dirah. Setelah beberapa tahun Diah Padma Yoni mampu membangun sebuah kerajaan yang diberi nama Kerajaan Tanjung Pura, karena status Diah Padma Yoni seorang janda di Kerajaan di Hutan Dirah, maka dia bernama Walu Nateng Dirah. (ceritanya dapat dibaca pada lampiran lima antawecana halaman 120.

Struktur pertunjukan Wayang Calonarang persembahan dalang ida Bagus Sudiksa tidak mengalami perubahan, karena masih mengikuti struktur pertunjukan tradisional, seperti tari kayonan I, nyejer, tari kayonan II (ngabut kayonan), petangkilan, penyacah kanda, pengalang ratu (bebaturan), angkat-angkat, dan siat. Pertunjukan Wayang Calonarang ini kalau dilihat dari fungsinya termasuk seni balih-balihan, karena merupakan tontonan di luar jalannya upacaya, dan bebas dinikmati oleh siapapun yang ingin menonton pertunjukan tersebut. Begitu pula wayang Calonarang dipentaskan di luar pura, yaitu di Pemuwunan Setra Pura Dalem Desa Kerobokan, lokasinya ada di pinggir jalan utama. Tempatnya dapat dijangkau dan dinikmati oleh penonton masyarakat umum, tidak terikat dengan aturan-aturan pakaian adat seperti layaknya orang ke Pura, Esensi atau makna pertunjukan ini ada kesucian (sakral), karena mengungkap mistikisme kehidupan tokoh yang berperan penting (tokoh antagonis) di dalam ceritera Calonarang.

Sedana dalam disertasinya yang berjudul Kawi Dalang: Creativity in Wayang Theatre menjelaskan, bahwa pakem dibagi menjadi tiga bagian yaitu: pakem balungan, pakem gancaran, dan pakem jangkep. Pakem balungan merupakan tuntunan pembelajaran pedalangan Bali atau playskrip yang hanya memaparkan cerita secara ilustratif atau garis besar saja, tanpa diikuti oleh susunan pementasan atau dialog yang jelas. Pakem gancaran merupakan naskah cerita yang berbentuk prosa atau sinopsis, bentuknya lebih jelas dibandingkan dengan pakem balungan (kitab Ramayana dan Mahabharata beserta sumber-sumber cerita lainnya dikategorikan sebagai pakem gancaran). Pakem jangkep yaitu sebuah naskah yang lengkap berisi struktur atau satu alur cerita pementasan pewayangan beserta dialognya (antawecana/retorikanya). Bandem menyebutkan dalam bukunya yang berjudul Mengembangkan Lingkungan Sosial yang Mendukung Wayang, bahwa pakem itu sifatnya masih sangat subyektif, seperti pengalaman yang mereka peroleh secara turun tumurun dari guru-guru mereka. Struktur pementasan beserta dialog-dialog yang dipentaskan sifatnya masih konvensional seperti yang diwarisi dari generasi sebelumnya. Djelantik, dalam bukunya yang berjudul Falsafah Keindahan dan Kesenian menyebutkan, bahwa struktur di dalam karya seni itu terdapat suatu pengorganisasian, pengaturan, mempunyai hubungan tertentu antara bagian-bagian dari keseluruhan itu. Dalam Kamus Bahasa Indonesia disebutkan bahwa struktur adalah pengaturan atau ketentuan dari unsur-unsur suatu benda.  Pengertian yang menyiratkan, bahwa unsur-unsur yang membangun sebuah struktur harus berhubungan secara fungsional, artinya unsur itu saling mendukung dan melengkapi, sehingga mampu membangun suatu struktur yang kokoh. Sementara menurut Poerwadarminta struktur dapat diartikan bermacam-macam. Struktur bisa berarti susunan, bangunan, atau struktur berarti bagaimana sesuatu disusun.

Menurut Marajaya, untuk menyebutkan suatu karya yang bernilai estetis sesungguhnya terletak pada struktur pertunjukan Wayang Kulit Bali. Struktur atau susunan dalam pertunjukan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu: struktur dalam arti luas dan struktur dalam arti sempit. Struktur dalam arti luas yaitu struktur yang membangun pertunjukan yang terdiri dari beberapa bagian atau adegan, seperti adegan petangkilan, adegan angkat-angkatan, adegan siat, dan lain sebagainya. Sementara struktur dalam arti sempit, yaitu struktur yang di dalamnya terdapat bagian-bagian yang saling keterkaitan, misalnya di dalam adegan  petangkilan  biasanya  terdapat  beberapa  macam  elemen  estetik  seperti

gending alas arum, penyacah parwa, tetikesan, gancaran (antawacana) dan iringan. Elemen-elemen tersebut ditampilkan secara terstruktur.

Purnamawati dalam tesisnya menyebutkan, bahwa setidak-tidaknya ada sepuluh jenis motif gending yang mengiringi pertunjukan wayang kulit Bali, yaitu pategak (gending awal sebagai pembuka untuk menarik minat pertunjukan), pamungkah (sama dengan pategak tetapi segera untuk mengawali pertunjukan), petangkilan (suasana persidangan), pengalang ratu (persidangan lanjutan), angkat-angkatan (perjalanan laskar menuju medan peperangan), rebong (suasana romantis dari tokoh-tokoh penting), tangis (suasana sedih para tokoh-tokoh penting), tunjang (suasana keras), batel (perkelahian dan peperangan yang sesungguhnya), dan penyudamalan (penutup).

Struktur Pertunjukan Wayang Calonarang Lakon Kautus Rarung Dalang Ida Bagus Sudiksa, Bagian I Selengkapnya

Loading...