M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Angklung Purnama Budaya, Banjar  Batubidak, Kerobokan, Bagian I

Angklung Purnama Budaya, Banjar Batubidak, Kerobokan, Bagian I

Kiriman:  I  Made Sujendra, Mahasiswa PS. Seni Karawitan ISI Denpasar

Profil  Desa Kerobokan

Kerobokan dulunya pemerintahanya  menggunakan istilah “ Perbekel” dan kebanyakan  mata pencaharian masyarakatnya sebagai petani. Seiring bertambahnya jumlah penduduk, maka pemerintahanyapun tidak lagi menggunakan istilah Perbekel, dengan sebutan “Kepala desa” dan dengan diberlakukanya Undang- undang Otonomi Daerah, desa kerobokan dibagi menjadi tiga pemerintahan yaitu: “Kerobokan Kaja, Kerobokan dan Kerobokan Kelod”, dengan status Pemerintahanya memakai status “ Kelurahan”, namun tetap menjadi satu Desa Adat yakni “ Desa adat Kerobokan”.

Desa adat Kerobokan, terdiri dari : dua puluh lima Banjar Dinas dan empat puluh delapan Banjar Adat.  Mengempon “ satu Pura Desa Puseh, satu Dang Kahyangan ( Pura Petitenget ) dan lima pura Kahyangan”, termasuk salah satu di dalamnya Pura Dalem Kerobokan, yang letaknya paling Utara dan termasuk ke dalam wilayah “ Banjar Adat Batubidak”.

Hubungan   Pura Dalem  Kerobokan Dan  Sekehe  Angklung  “Purnama   Budaya”   Banjar   Batubidak  Kerobokan

            Pada awal- awal kemerdekaan , Pura Kahyangan Tiga dan Sad Kahyangan yang berada dilingkungan wilayah Desa Adat Kerobokan, diempon oleh warga banjar yang terdekat dengan Pura tersebut, dibantu oleh warga yang  dapat mengerjakan tanah “ Pelaba Pura”atau dengan kata lain mendapat Catu /Pecatu, sehingga mereka memiliki kewajiban untuk menghaturkan Piodalan di Pura tersebut. Karena lokasi Pura Dalem Kerobokan berdampingan dengan “ Pura Bujangga Waisnawa” dan “Pura Hyang Ratu Gede Pengubengan” maka penyungsungnya menjadi pengempon utama dari pada Pura Dalem Kerobokan, yang mayoritas merupakan cikal bakal pendiri Sekehe Angklung Purnama Budaya Banjar Batubidak Kerobokan.

Terbentuknya  Sekehe  Angklung “ Purnama Budaya”  Br Batubidak Periode, Tahun 1940 -1962

            Mayoritas kehidupan masyarakat pada saat itu sebagai petani, sehingga mereka bebas menentukan waktu mereka bekerja tanpa adanya ikatan jam kerja. Pada umumnya mereka pagi-pagi buta sudah berangkat ke lahan mereka masing-masing dan ketika hari sudah mulai agak panas biasanya mereka akan segera beranjak pulang. Sisa waktu biasanya dimanfaatkan berkumpul diluar rumah sambil membawa ayam aduan mereka masing-masing. Hiburan pada saat itu agak jarang ,tidak seperti sekarang.

            Berawal dari kecintaan mereka terhadap seni, akhirnya mereka sepakat membuat seperangkat gamelan angklung, melalui kelompok pemetik padi, yang dalam istilah balinya disebut “ sekehe manyi ,mereka membeli seperangkat gamelan sedikit demi sedikit sehingga menjadi seperangkat angklung “ keklentangan”. Setelah seperangkat gamelan terbentuk , karena di Bali tidak bisa terlepas dari yang namanya upakara untuk kesucian barungan gamelan tersebut.

            Keinginan untuk mendapatkan  taksu, atas kesepakatan akhirnya mereka mohon taksu atau  mendak Pregina di Pura Dalem Kerobokan. Sebagai rasa sujud bakti  sekehe angklung akan selalu siap ngayah setiap ada keperluan gamelan, mulai dari Pujawali, Melasti, Caru atau Tawur Agung termasuk juga acara pengabenan masal yang diselenggarakan oleh Pura Dalem Kerobokan dan ini masih tetap berlaku sampai pada saat ini.

            Mengingat luasnya wilayah Desa Adat Kerobokan, banyaknya Pura-pura Paibon, dan minimnya jumlah Gamelan pada saat itu  maka keberadaan Sekehe Angklung sangat membantu kegiatan adat di Desa kerobokan , mulai dari ; upacara Pitra Yajna, Dewa Yajna, Manusa Yajna dan lain-lainya. Adapun gending –gending yang disajikan pada saat itu , hanyalah tabuh-tabuh keklentangan. Dengan kondisi seperti ini  sangat mendukung perkembangan angklung Purnama Budaya, karena dengan seringnya mereka diupah,  tentunya sekehe yang bersangkutan bisa memiliki khas, yang akan digunakan untuk melengkapi dari pada barungan gamelan tersebut, diantaranya, satu buah Gong yang terbuat dari Drum, sepasang kendang besar dan mengganti Pelawah Gamelan yang pertama, yang konon bentuknya sangat sederhana sekali.

Periode , Tahun  1962 – 1965

             Pada periode ini, terjadi regenerasi yang merupakan generasi ke -2 di sekehe Angklung Purnama Budaya. Setelah memiliki instrument Gong dan Kendang besar mulailah mereka mencari Tabuh-tabuh petegak, Pelegongan dan tari  Lepas. Inilah yang merupakan awal mula berdirinya Legong Angklung “ PURNAMA  BUDAYA” Br. Batubidak Kerobokan, dengan pelatih tabuh waktu itu adalah Bapak I Nyoman Dendi ( almarhum ), dari Banjar Pemedilan Denpasar. Para penarinya pada saat itu diambil dari beberapa banjar yang merupakan PENGEMPON DALEM   antara lain : Banjar Batubidak, Banjar Babakan dan Banjar Batuculung. Tarian yang dicari antara lain seperti :

  • Tari Pendet , dengan 4 orang Penari.
  • Tari Marga Pati.
  • Tari Tenun.
  • Tari Wiranata.
  • Tari Panji Semirang.
  • Tari Oleg Tamulilingan.
  • Palawakia.
  • Legong Keraton.

            Semenjak resmi berdiri legong angklung Purnama banyak mendapat undangan pentas di desa-desa lain. Menurut penuturan Bapak IKetut Sunia (85 tahun) selaku nara sumber, ketika mereka pentas di tempat lain, rombongan sering dihadang di tengah perjalanan  biasanya, jalan-jalan dipenuhi dengan bambu, batu, kayu dan material-material lainya. Hal ini merupakan konsekwensi dari situasi politik yang bergejolak ketika itu.  Menurut Bapak Ketut Sunia misalnya ketika rombongan pentas di Desa Sembung dan di Bukit, bahkan kuda penarik kereta juga dilempari orang tak dikenal. Jadi bisa dibayangkan bagaimana rawanya situasi ketika itu, transportasi satu-satunya saat itu adalah dokar, juga tidak ada penerangan listrik. Setelah terjadinya peristiwa G-30 S PKI, menyebabkan legong Angklung Purnama dibubarkan   (mesimpen ), dengan suatu upacara yang disebut dengan Metebasan dengan sarana utama yaitu memakai seekor burung Cinglar.

            Walaupun legong telah dibubarkan, kegiatan sekehe angklung masih tetap berjalan sebagaimana mestinya, karena Gamelan saat itu masih langka. Tapi untuk upacara Dewa yajnya merka sudah memakai Gong dan kendang besar ( cedugan / gupekan ), dan untuk Pitra Yajnya mereka memakai tabuh-tabuh kekelentangan, jadi sudah mulai ada perbedaan dalam pemakaian instrument. Ini berlangsung sampai tahun 1980-an.

Angklung Purnama Budaya, Banjar  Batubidak, Kerobokan, Badung I selengkapnya

GORESAN ILUSI

GORESAN ILUSI

Penata

Nama                     : Ngurah Krisna Murti.

Nim                       : 2007 01 006

Program Studi       : Seni Tari

Sinopsis       :

Aku seorang pelukis, ketika aku menuangkan imajinasi ku, aku melukis Roh Rangda yang menjadi kepercayaan magis dalam Agama Hindu, secara tidak sengaja aku mampu menarik kekuatan Roh tersebut sehingga aku menjadi takut dan akhirnya aku menghancurkan semua untuk menghalau rasa takut ku.

 

 

Pendukung Tari      : Ariyitna Zianet Charmeis (Mahasiswa ISI Dps)

Penata Iringan       : I Wayan Arywijaya, S.Sn

Pendukung Iringan  : Palawara Music Company dan Mahasiswa Fakultas Sastra UNUD.

      

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Melekatkan Nilai-nilai Budaya dalam Proses Pendidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Melekatkan Nilai-nilai Budaya dalam Proses Pendidikan

Jakarta – Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) resmi berubah nama menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melantik kabinet hasil reshuffle, Rabu pagi, (19/10), di Istana Negara.

Sesuai Keppres No.59/P/Tahun 2011, Mendiknas Mohammad Nuh resmi berganti jabatan menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Kepemimpinannya di Kemdikbud dibantu dua wakil menteri, yaitu Musliar Kasim sebagai Wakil Mendikbud bidang pendidikan dan Wiendu Nuryanti sebagai Wakil Mendikbud bidang kebudayaan.

Dalam keterangan persnya, Mendikbud M. Nuh mengatakan, ada tiga tujuan utama yang ingin dicapai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. “Yang pertama adalah ingin nilai-nilai budaya melekat dalam proses pendidikan kita,” ujarnya saat menggelar jumpa pers di Gedung A Kemdikbud, Rabu siang, (19/10).

Kedua, Menteri Nuh menjelaskan, Kemdikbud ingin menumbuhkan kecintaan anak-anak Indonesia terhadap nilai-nilai budaya. Ia member contoh apresiasi anak-anak terhadap museum. Menurutnya, kehadiran museum belum bisa menjadi daya tarik bagi anak-anak untuk mempelajari sejarah atau nilai budaya. “Museum belum bisa memunculkan nilai atraktif”.

Tujuan yang terakhir, Kemdikbud akan berusaha menggali warisan budaya yang belum ditemukan. Saat ini, warisan budaya Indonesia yang telah diangkat menjadi warisan budaya dunia antara lain batik, wayang, keris dan angklung. Untuk ke depannya, diharapkan akan bertambah warisan budaya Indonesia yang dikenal masyarakat dunia.

Wamendikbud Bidang Pendidikan, yang juga mantan Rektor Universitas Andalas, Musliar Kasim, mengatakan, penyatuan visi pendidikan dan kebudayaan ke dalam satu kementerian harus bisa saling mengisi. “Anak didik harus punya kecerdasan yang baik, tapi juga memiliki karakter budaya Indonesia,” tuturnya.

Sementara Wiendu Nuryanti, Wamendikbud Bidang Kebudayaan, yang juga Guru Besar UGM mengatakan, akan memprioritaskan terselesaikannya cetak biru pembangunan nasional kebudayaan. “Tujuan cetak biru itu untuk jadi panduan, berisi kebijakan-kebijakan ke depan, 15 atau 20 tahun ke depan,” jelasnya. Dalam cetak biru tersebut akan dijabarkan strategi dan program-program untuk pembangunan nasional kebudayaan.

Sumber: kemdiknas.go.id

Direktorat Jenderal Kebudayaan Masuk APBN Kemdikbud Tahun 2012

Direktorat Jenderal Kebudayaan Masuk APBN Kemdikbud Tahun 2012

Jakarta – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memasukkan Direktorat Jenderal  Kebudayaan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2012.

Direktorat Jenderal Kebudayaan merupakan organisasi baru yang dibentuk seiring dengan perubahan nomenklatur Kementerian Pendidikan Nasional menjadi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sebelumnya, urusan kebudayaan adalah bagian dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata.

“Oleh karena itu kita berharap (APBN) bisa diselesaikan dalam waktu dua bulan ini,” Demikian disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh, saat menggelar jumpa pers di Gedung Kementerian dan Kebudayaan, Rabu siang (19/10/2011).

Menteri Nuh menyampaikan, berkenaan dengan penambahan Direktorat Jenderal Kebudayaan di kementerian yang dipimpinnya, selain APBN ada tiga konsekuensi lain yang harus segera dirampungkan di penghujung tahun 2011 ini.

Pertama, pengorganisasian Direktorat Jenderal Kebudayaan. Ada dua direktorat yang menangani kebudayaan, sebelumnya berada di bawah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata akan digabungakan dalam satu Direktorat Jenderal Kebudayaan di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“(dua direktorat) itu nantinya akan masuk di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, di Direktorat Jenderal Kebudayaan,” kata Menteri Nuh.

Kedua, jika urusan pengorganisasian telah selesai, urusan kepegawaian merupakan hal penting yang juga harus segera diselesaikan. Karena urusan kepegawaian menyangkut administrasi dan gaji pegawai.

Yang ketiga, terkait dengan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) dari Direktorat Jenderal Kebudayaan. Tupoksi tersebut merupakan ukuran untuk capaian kinerja Direktorat Jenderal Kebudayaan ke depan. Tupoksi dalam membangun kebudayaan di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata tentu berbeda dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Kita tidak ingin menambah satu organisasi tetapi tidak ada ukuran keberhasilan atau program utamanya,” katanya.

Hingga saat ini Menteri Nuh belum menyebutkan nama calon Direktur Jenderal Kebudayaan. Namun demikian beliau mengajak semua pihak untuk membantu kelancaran proses penyatuan Direktorat Jenderal Kebudayaan ke dalam Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Mendukung pernyataan Mendikbud tentang tupoksi Direktorat Jenderal Kebudayaan, Wakil Mendikbud bidang kebudayaan Wiendu Nuryanti mengatakan akan memprioritaskan terselesaikannya cetak biru pembangunan nasional kebudayaan. “Tujuan cetak biru itu untuk jadi panduan, berisi kebijakan-kebijakan ke depan, 15 atau 20 tahun ke depan,” jelasnya. Dalam cetak biru tersebut akan dijabarkan strategi dan program-program untuk pembangunan nasional kebudayaan.

Sumber: kemdiknas.go.id

Loading...