by admin | Nov 25, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Kadek Dwi Cipta Adi Kusuma, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar.
Pada mulanya banjar Sigaran belum mempunyai gambelan, namun demi kepentingan upacara panca yadnya, gambelan tersebut sangat diperlukan. Maka dari itu, para pengelingsir (tokoh-tokoh seniman tua) yang ada di Sigaran berinisiatif untuk membuat salah satu gambelan yaitu gambelan angklung. Tetapi para pengelingsir belum mempunyai dana untuk membuat gambelan tersebut.
Oleh karena itu, pengelingsir (tokoh-tokoh seniman tua) yang ada di Sigaran membentuk sekehe nandur dan sekehe manyi diantaranya Gurun Sendri dan Pan Renin. Dimana uang dari pendapatan sekehe itu sedikit demi sedikit dikumpulkan untuk biaya pembuatan angklung tersebut.
Pada akhirnya sekitar tahun 1860 para tokoh seniman tua di Sigaran dapat tersenyum karena dana untuk pembuatan gambelan tersebut sudah terkumpulkan dan mereka pun mulai menggarap pembuatan gambelan itu yang dibuatkan oleh pande yang berasal dari desa Thiingan. Pande itu pun langsung membuat gambelan angklung, tepatnya di Sigaran Kauh di bawah pohon durian yang besar. Sekelompok pengelingsir di Sigaran nampaknya antusias membantu pembuatan gambelan angklung saih 4 tersebut. Dan cara pembuatan pelawahnya dengan cara dibagi-bagi, perorang mendapatkan tugas membuat 2 pelawah, terkecuali pelawah reong dan ada juga yang menyumbangkan emas dan berlian untuk pembuatan angklung tersebut.
Hari demi hari pembuatan gambelan angklung tersebut berjalan dengan lancar tidak mengenal siang maupun malam. Pada akhirnya gambelan tersebut dapat terselesaikan walaupun dengan ukiran pelawah yang berbeda-beda, namun tetap menjadi 1 barung gambelan angklung saih 4 yang berlaraskan selendro. Karena gambelan tersebut dipasupati di Pura Dalem Rajaguru yang sekarang disebut dengan Jegu. Upacara upakarapun sudah siap, ritual pemasupatian dimulai yang dipimpin oleh pemangku Dalem bertepatan pada malam hari, lalu kejaiban muncul, gambelan tersebut berbunyi dengan sendirinya dan salah satu pemangku kerauhan dan mendapat sabda (pawisik) bahwa angklung tersebut mulai saat itu sah menjadi unen-unen di pura Dalem, dan angklung tersebut mendapatkan paica yaitu sejenis lunak (asam) yang ditaruh ke semua gambelan. Gambelan itupun tidak boleh dibawa pulang selama 3 hari.
Setelah 3 harinya gambelan angklung tersebut ditaruh di bale banjar Sigaran dan pengelingsir (tokoh-tokoh seniman tua) membentuk sekehe yang bernama sekehe angklung Sinar Jaya Sigaran. Setiap hari sekehe tersebut mulai berlatih dengan mencari tabuh lelambatan klasik yang dipergunakan untuk mengiringi upacara ngaben. Pada tahun 1955-an sekehe angklung Sinar Jaya Sigaran berinisiatif membuat angklung kebyar, dimana gong dari angklung tersebut dibeli di banjar Serason, sekehe pun mencari pelatih bernama Pan Resin dari banjar Sigaran, Mambal, Badung. Pelatih itupun senantiasa mengajarkan sekehe tersebut dengan mencari tabuh kebyar dan tarian-tarian diantaranya : Tari Pendet, Panyembrahma, Oleg Tamulilingan, Belibis, Manukrawa, Marga pati, Panji Semirang dan Nelayan, termasuk juga Tari Legong. Dengan kegigihan sekehe tersebut, akhirnya angklung kebyar Sinar Jaya Sigaran semarak di gemari penonton sampai kupah ke plosok-plosok desa yang ada di Tabanan. Walupun kupahnya dengan berjalan kaki tetapi sekehe angklung Sinar Jaya Sigaran tetap semangat.
Sekitar tahun 1970-an sekehe angklung Sinar Jaya Sigaran mulai mengikuti lomba-lomba dulu disebut mapetuk di tingkat kabupaten Tabanan, angklung Sinar Jaya Sigaran paling terdepan dan banyak digemari penonton begitu juga sekehe angklung tersebut mengambil job’s di hotel-hotel. Hingga sekarang angklung Sinar Jaya Sigaran terkenal dengan suara emasnya.
Sampai sekarangpun angklung Sinar Jaya Sigaran sangat disucikan di Sigaran dan juga menjadi budaya di Sigaran, antara lain angklung tersebut dipergunakan untuk mengiringi upacara ngaben/Pitra Yadnya, piodalan di pura, ngetelu bulanin, mesangih, pernikahan dan yang paling menjadi budaya adalah Ketus Pungsed. Dimana setiap bayi yang ketus pungsed khususnya di Sigaran harus ngupah angklung karena angklung tersebut dipercayai untuk menjaga keselamatan bayi tersebut. Sampai sekarangpun budaya tersebut tetap berlaku di Sigaran dan angklung Sinar Jaya Sigaran tetap berjaya, yang sekarang merupakan generasi keempat.
Sejarah Berdirinya Angklung Sinar Jaya Sigaran, Penebel, selengkapnya
by dwigunawati | Nov 25, 2011 | Berita, Galeri
Seiring perubahan jaman yang terus berkembang, membuat biro–biro advertising harus selalu mengikuti perubahan “trend” yang terjadi dimasyarakat Kedai Digital adalah salah satu perusahaan barang dan jasa yang memiliki spesifikasi produk berupa merchandise. Dengan slogan “Bikin merchandise semau kamu!”. Merchandise yang diproduksi berupa mug, pin, jam, bantal, mousepad,poster, dan berbagai macam merchadise pribadi tanpa harus mengorder massal. Keberadaaan Kedai Digital Denpasar belum banyak orang yang tau dan media promosi yang ada masih sedikit maka dari hal tersebut perlu adanya penambahan media dan redesain media yang sudah ada sebelumnya. Perancangan ini bertujuan untuk memperoleh media komunikasi visual yang efektif sesuai dengan teori, konsep dan keadaan di lapangan. Data-data yang diperoleh dari hasil observasi dan data teoritis diolah melalui analisis dan sintesa sehingga diperoleh konsep perancangan sebagai dasar merancang media komunikasi visual yang sesuai dengan kriteria desain. Konsep dasar perancangan yang digunakan adalah simple dan kreatif agar visualisasi desain bermacam-macam, memberikan kesan yang tidak monotone serta informatif. Dalam proses perancangan media ditentukan media yang tepat dan sesuai yaitu poster, iklan majalah, iklan koran, stiker, pin, flayer, paperbag, web banner, voucher dan katalog.
Kata kunci : Kedai digital, perancangan, media promosi.


by admin | Nov 24, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: I Wayan Yopyantara, Mahasiswa PS Seni Karawitan
I Wayan Segara lahir di desa Pujungan pada tahun 1948. Ia tinggal di banjar Mekar Sari Desa Pujungan. Ia anak pertama dari 6 bersaudara. Ia menikah pada tahun 1969 dan dikaruniai 4 orang anak.
Pada tahun 1957 ia mulai masuk sekolah dasar yang pada waktu itu disebut dengan sekolah rakyat, yang pada saat itu ia belum tertarik dengan kesenian. Namun sekitar tahun 1959 tepatnya ia baru memasuki kelas 3 SD ia baru tertarik terhadap seni dalam bidang seni tari dan seni suara khususnya mekidung,makekawin,dan macepat. Ia hanya dapat belajar tentang seni tari dan seni suara di sekolah saja dan tidak pernah berguru kepada orang lain kecuali di sekolah. lama kelamaan ia merasa bosan di bidang seni tari kareana hanya hanya sedikit teman – temannya yang berkecimpung di bidang seni tari. Saking cintanya kepada seni suara ia mencoba untuk belajar seni pewayangan.
Tepatnya pada tahun 1967 ia belajar ngwayang dengan seorang dalang dari desa Kesiut yang bernama Pan Rampieg yang pada saat itu ia hanya belajar cerita Ramayana saja. Setelah ia belajar cerita Ramayana lalu ia melanjutkan belajar wayang Parwa dengan seorang dalang yang benama Pan Rajeg dari desa Tunjuk,Tabanan. suka duka pun banyak ia telah dapatkan pada saat belajar ngwayang. Ia rela menumpang kendaraan dari pujungan sampai di desa Meliling lalu dari desa Meliling ia rela berjalan kaki menuju ke desa Kesiut di rumah dalang tersebut. Begitu pun pada saat ia belajar cerita parwa banyak suka duka yang telah ia dapatkan dari menumpang hingga berjalan kaki ke rumah dalang tersebut.
Setelah 2 tahun ia belajar ngwayang, tepatnya pada tahun1969 ia sudah memiliki sekha wayang. sekha tersebut memiliki 4 tungguh gender yang di beli oleh sekha dengan cara urunan. sekha wayang ini pun sudah sering pentas ngwayang di desa – desa yang ada disekitar kecamatan Pupuan. Lama kelamaan sekha ini pun bubar karena penabuhnya merasa bosan, lalu gender yg dimiliki sekha itu pun dijual. Karena saking cintanya terhadap seni pedalangan maka ia berinisiatif untuk membeli gender dengan uang pribadinya dan membuat sekha baru. Hingga sekarang sekha wayang ini pun masih aktif dengan para penabuhnya yang beregenerasi, dulunya para penabuh sekha ini adalah orang tuanya dan sekarang sudah anak – anaknya.
Pada tahun 1986 ia menjabat menjadi kelian adat dibanjarnya sekaligus merangkap panitia kesenian di desa. Setelah lama ia berkecimpung dalam kepanitiaan dalam bidang kesenian di desa ia melihat kepakuman terhadap sekha gong kebyar yang ada di desa Pujungan. Kepakuman ini terjadi karena instrument gong kebyar banyak yang rusak. I Wayan Segara kemudian berkordinasi dengan para pengurus desa untuk membenahi instrument yang rusak tersebut. Setelah adanya kordinasi, I Wayan Segara melebur bilah – bilah gambelan tersebut ke Pande Gableran dan pelawahnya di buat sendiri oleh I Wayan Segara dan dibantu oleh teman-temannya. Setelah gambelan gong kebyar yang baru sudah jadi terbentuklah sekha gong remaja di desa Pujungan. Lalu ia mendapatkan informasi bahwa sekha yang ada di desa Pujungan ikut dalam festival gong kebyar tahun1997, ia pun menyuruh sekha ramaja itu untuk latihan. Pada saat latihan ia kecewa pada suara kendang yang kurang enak didengar, akhirnya dengan niatnya sendiri ia membeli sepasang kendang dengan harga Rp.350.000,00 pada Bapak I Wayan Sweca. Kendang yang ia beli itu dipakai akhirnya dipakai dalam festival. Setelah usai festival, ia termotifasi terhadap suara kendang yang ia beli itu, dan ia penasaran bagaimana caranya membuat kendang supaya suaranya bagus. Dan akhirnya ia pun bertekad untuk belajar membuat kendang dengan memplajari dan menganalisa kendang yang ia beli tersebut. Disaat ia belajar membuat kendang banyak hambatan yang ia dapat, banyak bahan – bahan yang terbuang dan gagal dipakai. Saking seriusnya ingin bisa membuat kendang ia pun tidak putus asa untuk mencobanya kembali, dan akhirnya beliau pun bisa membuat kendang dengan suara yang sesuai dengan apa yang ia harapkan, Sekarang ia sudah menjadi seorang pengerajin kendang yang hanya dengan belajar dengan cara menganalisa atau mempelajari kendang yang ia beli dulu tanpa berguru kepada orang lain. Hingga sekarang ia aktif membuat kendang dan ia sudah banyak menjual kendang hasil karyanya sendiri kepada para konsumen. Dan karir dalangnya pun masih aktif sampai sekarang dan sering pentas di sekitar kecamatan pupuan.
I Wayan Segara, seniman dari Pujungan selengkapnya
by dwigunawati | Nov 24, 2011 | Berita, Galeri
Krisis energi bahan bakar kompor merupakan hal yang menjadi masalah dalam lingkup masyarakat yang berehidupannya bergantung pada bahan bakar kompor, yaitu berupa minyak tanah dan gas. Namun di masa sekarang setelah konversi gas muncul sebagai pengganti minyak tanah yang semakin langka, masyarakat tetap banyak memilih menggunakan minyak tanah, padahal bahan bakar tersebut sudah sangat langka. Untuk mengatasi masalah ini maka dilakukan upaya sosialisasi pemanfaatan biji jarak menjadi energi alternatif bahan bakar kompor, karena energi alternatif adalah satu-satunya jalan menggantikan energi dari bahan bakar fosil. Dalam hal ini desain komunikasi visual yang dipakai untuk kampanye akan didesain agar lebih efektif dan efisien didalam menyampaikan pemanfaatan biji jarak menjadi energi alternatif bahan bakar kompor di Denpasar.
Jadi dalam hal ini desainer menganalisis dan melihat kesesuaian data yang didapat dari Dinas Perkebunan Bali yang bekerjasama dengan Unit Usaha Kompor Biji Jarak UB-16, dan dengan teori yang berkaitan dengan kasus yang diangkat, kesimpulannya metode analisis data yang digunakan adalah deskriptif, kualitatif, dan komparatif yaitu menggambarkan fakta-fakta pemanfaatan biji jarak menjadi energi alternatif bahan bakar kompor, kemudian dilihat kesesuaiannya dengan teori-teori yang diperoleh. Adapun konsep dasar yang digunakan adalah natural, Desain yang dibuat dominan menggunakan ilustrasi fotografi, dengan warna yang mencerminkan alam sekitar dan sesuai dengan kenyataan yang ada serta penataan layout, bentuk media, warna, dan desain dibuat mampu menyampaikan informasi secara maksimal kepada masyarakat dengan harapan media yang dibuat mampu menggugah hati masyarakat untuk ikut berpartisipasi dalam pemanfaatan biji jarak menjadi energi alternatif bahan bakar kompor di Denpasar.
Dengan didesainnya media komunikasi visual ini diharapkan mampu menjadi lebih efektif, efisien, komunikatif dan tepat sasaran. Sehingga tujuan untuk mengajak dan menumbuhkan kesadaran masyarakat secara maksimal akan tercapai.
Kata Kunci : Desain Komunikasi Visual, Pemanfaatan biji jarak dan natural.