M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Imajinasi Kematian

Imajinasi Kematian

Skrip karya ini merupakan deskripsi dan uraian tentang penciptaan seni lukis dengan tema “ Imajinasi Kematian “. Kematian merupakan Siklus yang terjadi pada setiap makhluk di dunia ini, termasuk manusia. Ketika kematian itu di alami oleh seseorang, tubuh akan berada dalam posisi kematiannya yaitu terlentang mengikuti garis Horizontal, Kematian seperti sebuah rangkaian tentang tubuh, atau jasad, yang perlahan menghilang entah dikubur atau dikremasi . Tubuh mati menjadi jasad dan akhirnya menyatu dengan alam (Panca Maha Butha). Namun roh dari tubuh itu pencipta yakini tetap hidup dan tetap melakukan eksistensinya di alam niskala.

Berdasarkan hal tersebut, pencipta sangat tertarik dan menyentuh bathin pencipta untuk memvisualisasikan fenomena ini lewat karya seni lukis yang memiliki nilai-nilai simbolik yang dapat mewakili hal-hal yang ingin disampaikan terkait dengan kematian.

Proses penciptaan karya merupakan tahapan eksperimentasi dari olahan kreatifitas pencipta. Untuk mempermudah didalam berkreasi diperlukan kajian sumber sebagai referensi di dalam penciptaan karya. Adapun penciptaan ini dilakukan dengan pengamatan suasana, pengamatan karya dari seniman lain, dari media cetak, media elektronik, dan dilakukan perenungan tentang segala hasil pengamatan tersebut, yang kemudian diteruskan pada proses penciptaan melalui tahap penjelajahan, tahap percobaan, pembentukan, dan penyelesaian. Penjelajahan adalah proses yang dilakukan untuk menentukan tema, dan percobaan adalah tahapan pencipta dapat melakukan berbagai percobaan melalui penerapan garis dengan membuat sket-sket pembentukan sebuah karakter yang diinginkan, dan penerapan atau pengaturan warna. Pembentukan adalah proses di dalam penciptaan ataupun proses penerapan hasil dari penjelajahan dan percobaan. Kemudian penyelesaian adalah tahapan akhir dari proses penciptaan, dilakukan dengan menyesuaikan konsep dengan hasil ciptaan.

Dalam wujud karya pencipta meliputi dua aspek umum dalam suatu karya seni lukis yaitu: aspek ideoplastis yang artinya, ide atau gagasan menyangkut karya seni pencipta, dan aspek fisioplastis atau wujud karya secara visual yang berkaitan dengan teknik perwujudan, elemen visual, dan unsur-unsur seni rupa.

Sehingga terwujudlah karya terkait dengan tema yang diangkat yaitu “Imajinasi Kematian“ yang menggambarkan tentang rangkaian perjalanan tubuh yang mati hingga perjalanan menjadi roh. Melalui penciptaan ini diharapkan dapat berguna bagi masyarakat, dan khususnya mahasiswa agar mampu menciptakan berbagai karya yang original berdasarkan pemahaman alat dan bahan serta penguasaan teknis yang akan di terapkan.

Kata kunci : Seni Lukis, Imajinasi dan Kematian

Okokan

Okokan

Kiriman: I Nyoman Putra Janiasa, Mahasiswa PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Ritual erat kaitannya dengan budaya, Pulau Bali terkenal akan berbagai macam ritual dan budayanya, dan merupakan daya tarik bagi para wisatawan domestik maupun mancanegara. Salah satu atraksi budaya yang sudah dikenal di mancanegara adalah okokan.

Okokan adalah salah suatu alat musik bunyi-bunyian yang pada umumnya terbuat dari bahan kayu yang dilobangi hampir menyerupai kentongan, tetapi didalamnya diisi pemukul yang disebut palit. Alat bunyi-bunyian ini umumnya dipasang pada binatang piaraan seperti sapi atau kerbau, yang berfungsi sebagai penghias atau tanda hewan tersebut, okokan ini akan mengeluarkan irama tertentu jika diayun-ayunkan, okokan seperti ini ukurannya relative kecil.

Sebagai suatu kelompok masyarakat yang agraris yang selalu dekat dengan tradisi bercocok tanam, okokan juga dipakai sebagai sarana hiburan ataupun acara ritual yang berbau magis.

Banjar Belong, Desa Baturiti Kerambitan,Tabanan,  2km kearah utara dari Pasar Kerambitan.  Desa yang masih asri dengan berbagai tanamannya, jauh dari kesan polusi, disinilah lahir okokan pertama yang lahir dikecamatan Kerambitan. Berawal dari tradisi agraris secara turun temurun dari para tetua atau para leluhur, maka alat musik ini sudah merupakan bagian dari kehidupan petani tradisional di Banjar Belong. Untuk mengisi waktu saat menunggu musim panen, para tetua terdahulu membuat alat musik okokan dalam ukuran yang cukup besar.

Okokan ini tidak dipasang pada binatang piaraan, tetapi dikalungkan langsung pada leher orang dan di ayun-ayunkan, kegiatan ini biasanya diperagakan untuk upacara tertentu dan menghibur diri sambil menunggu musim panen tiba.

“Menurut penuturan tetua Banjar Belong, bermula dari wabah, okokan ini dimainkan untuk mengusir wabah, sesuia kepercayaan bahwa wabah yang menyerang itu disebabkan oleh mahluk halus, maka harus diusir dengan membunyikan alat-alat yang menghasilkan bunyi, maka digunakanlah okokan dengan dimainkan oleh beberapa orang untuk mengusir wabah,” ungkap I Ketut Sudiarsa, mekel kesenian sekaligus ketua okokan.

Ritual ini disebut Ngerebeg, “Untuk menambah sakrak ngerebeg, maka okokan ini diiringi dua buah kendang, yang disebut kendang gede, dibuat kira-kira tahun 1917 selanjutnya kendang gede inilah yang dipercaya warga Banjar Belong diyakini memiliki kekuatan magis, “ tambah Sudiarsa.

Lebih lanjut Sudiarsa menambahkan, setiap ada wabah yang melanda masyarakat seperti cacar, kolera dan sebaginya, maka tetua desa akan mengambil tindakan demi keselamatan warga dengan upacara pecaruan diiringi dengan gegerebegan, selain itu juga dilaksanakan sehabis melakukan upacara tawur kesanga dengan mengelilingi desa.

Lambat laun tradisi ngerebeg inin bukan hanya dilakukan berkaitan dengan acara ritual, tetapi juga pada kegiatan-kegiatan seperti acara keramain, lomba desa, 17agustusan, penyambutan pejabat serta pertunjukan untuk wisatawan. “berawal dari ide tokoh pariwisata,AA Ngurah Oka Silagunada, untuk menampilkan okokan ini sebagai atraksi kesenian, maka warga Banjar Belong, membentuk sekaa okokan yang diiringi dua buah kendang gede, yang melibatkan seluruh anggota banjar yang berjumlah 45 kepala keluarga maka terbentuklah Sekaa Okokan Mekar Sari pada tahun 1991,” tambah Sudiarsa

“Pertama kalinya okokan ini ditampilkan secara komersial pada bulan Juni 1991, di Hotel Putri Bali di Nusa Dua, pementasan pertama kalinya ini mendapat sambutan yang sangat meriah dari wisatawan mancanegara, bahkan saking tertariknya beberapa wisatawan meminjam okokan yang sedang dimainkan untuk sekedar mencoba memainkannya sendiri,”ungkap Sudiarsa.

Setelah pementasan yang pertama itu, tidak berselang lama Sekaa Okokan Mekar sari mulai mendapat tawaran untuk pentas dibeberapa hotel di Nusa Dua dan sekitarnya. “Saking seringnya pentas,okokan peninggalan tetua kami sudah mulai rusak. Dengan kondisi seperti itu, maka hasil musyawarah warga banjar yang sekaligus anggota sekaa okokan bertekad memperbarui okokan dengan jalan membuat yang baru, kayu yang kami gunakan adalah Kayu Sane, sebelum proses pembuatannya  diadakan upacara nunas raos dan mohon petunjuk dari leluhur di pura sesuhunan yang ada di banjar adat kami, “tambah bapak dengan kumis tebal ini.

Untuk mengembalikan kemagisan okokan yang baru dibuat,maka diadakanlah upacara Pemelaspasan dan Masupati pada tanggal 20 November 1991 yang dihadiri oleh seluruh anggota Sekaa Okokan Mekar Sari dan langsung dipentaskan dihalaman balai banjar yang tetap dipandu dengan dua buah Kendang Gede.

Dalam perjalannya Sekaa Okokan Mekar Sari selalu kebanjiran tawaran untuk pentas ”Dulu sebelum ada bom bali, kami hampir setiap hari tampil, bahkan dalam satu hari kami pernah tampil dua kali, selalu ada saja hotel, maupun acara penyambutan yang menyewa kami untuk pentas, namun setelah bom bali, intensitas pementasan kami berkurang, yang dulu dalam seminggu minimal tiga kali pentas, sekarang sebulan dua sampai tiga kali pentas, tetapi tetap dalam sebulan selalu ada saja yang tawaran untuk pentas, dan pementasan rutin kami di puri anyar kerambitan untuk menyambut wisatawan macanegara, “ ungkap Sudiarsa.

Lebih lanjut Sudiarsa mengatakan, Okokan Mekar Sari sudah dikenal di mancanegara, para menteri dari dalam maupun luar negeri,presiden dari luar negeri, para pejabat dan pengusaha dan banyak lagi sudah kita sambut dengan Okokan Mekar Sari.

Selain itu juga Sekaa Okokan Mekar Sari pernah tampil di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) pada tahun 1996 dan 1997, tampil dalam acara gembyar remaja di TVRI, tampil dalam acara seremonial yang diadakan pemda Tabanan, dan Pemprop Bali. Dalam sekali pementasannya, Sekaa Okokan Mekar Sari biasanya berdurasi 15 sampai 30 menit dengan berat okokan berkisar antara 10 samapi 15 kg, “dalam pementasannya sekaa kami tidak pernah merasa berat karena bagi kami ini adalah ngayah untuk banjar, “ ungkap salah satu Sekaa Okokan Mekar Sari.

Sekali pentas, Sekaa Okokan Mekar Sari memasang tarif 1.2 sampai 1.5 juta, dan pendapatan itu dikumpulkan sebagai kas banjar, dari hasil ka situ, Desa Belong sudah bias membeli seperangkat alat gong untuk desa, membangun pura, membangun balai banjar, medana punia di pura dan setiap hari raya galungan, kas diambil bebrapa untuk dibagikan ke Sekaa yang juga anggota banjar untuk membeli keperluan upacara. “Dari hasil itu kami sudah bisa membangun desa ini, mungkin dari pertama okokan ini berdiri hasil yang sudah kami capai diatas 1 milyar dan sudah banyak pembangunan yang kami sudah buat untuk desa ini, “ ungkap salah satu sekaa okokan.

Jumlah instrument dari barungan okokan yaitu ada 30 buah,1 kendang dan 1 kajar.Personil dari barungan okokan tergantung dari barungan instrument itu sendiri.Repertoar lagu yang sering dimainkan seperti gamelan baleganjur.

Okokan adalah salah satu kesenian tradisional yang berada di lereng daerah wisata Bedugul, yaitu di Desa Adat Mayungan, dengan ketinggian daerah 800 meter di atas permukaan laut. Desa ini merupakan desa tua, yang berdiri pada zaman kerajaan Raja Jaya Pangus.

Dahulu oleh penduduk desa, Okokan diberi nama Bandungan. Alat ini dipakai oleh petani untuk mengalungi ternaknya (sapi), lebih-lebih setelah para petani habis membajak tanahnya, dan kegiatan di lading sudah tidak ada, maka diselenggarakanlah balapan sapi yang memakai Bandungan. Secara religious alat ini juga dipakai untuk mengusir roh-roh jahat, terbukti setiap sehari sebelum Hari Raya Nyepi alat ini dipakai untuk ngerebeg keliling desa. Sehingga sampai sekarang alat ini selalu dipakai untuk sarana pengerebegan baik saat-saat ada upacara mecaru agung seperti mebalik sumpah maupun acara agama lainnya.

Untuk mengembangkan adat seni dan budaya, maka tahun 1980, diorganisirlah dalam bentuk sekehe. Lebih-lebih mendapat respon positif dari Ketua ASTI, Bapak Prof. DR. I Made Bandem waktu itu, sehingga akhirnya terbentuklah Sekehe Okokan Werdha Budaya.

Kesenian Okokan terdiri dari beberapa alat musik tradisi yang diambil dari alat-alat yang dipakai para petani seperti :

1.      Okokan yaitu kalong keroncongan sapi

2.      Teng – teng yaitu bekas cangkul petani

3.      Kulkul yaitu alat yang dipakai untuk menghalau burung atau tetengeran di ladang oleh petani.

Gambelan Okokan juga dilengkapi alat-alat musik Bali lainnya untuk menambah indah dan uniknya suara Okokan, antara lain gong, kendang, tawa-tawa, dan lain-lainya.

            Disamping pada acara-acara religius Okokan juga dipentaskan saat-saat ada event-event di tingkat Provinsi maupun Kabupaten seperti Pesta Kesenian Bali, Parade senja dan lain-lain. Bahkan sering juga dipentaskan di Hotel untuk menghibur para tamu yang ingin menikmati kesenian tradisi. Dalam pementasan kesenian okokan mengambil cerita Cupak, dimana diceritakan di suatu wilayah terkena bencana gering karena ulahnya Garuda. Okokan dipakai warga untuk ngerebeg, dan berkat bantuan Cupak, Garuda bisa dikalahkan sehingga wilayah itu menjadi aman dan tentram.

Okokan Selengkapnya

Gaya Hidup Remaja Masa Kini Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Seni Lukis

Gaya Hidup Remaja Masa Kini Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Seni Lukis

“Gaya Hidup Remaja Masa Kini Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Seni Lukis” dipilih pencipta, sebagai media dalam mengungkap dan mengkritik tentang gaya hidup remaja masa kini khususnya yang bersifat negatif. Remaja sering digambarkan sebagai usia dimana manusia dapat ditolerir untuk melakukan banyak pelanggaran terhadap norma baku masyarakat, yang akhirnya tanpa pikir panjang mereka bebas mencoba hal-hal yang cenderung negatif. Tujuan pencipta memilih konsep tersebut yaitu untuk memberi sebuah bayangan tentang dampak dari gaya hidup remaja masa kini yang kurang baik dan kemudian untuk dicermati, sehingga dapat ditanggulangi bersama agar tidak ikut terjerumus dalam hal-hal yang bersifat negatif. Manfaat yang didapat dari karya lukis dengan konsep tersebut, yaitu dapat dijadikan sebagai kritik sosial terhadap gaya hidup remaja, agar menjadi lebih baik dan dapat menghasilkan karya yang unik dan menarik.

Dari konsep gaya hidup remaja, teknik yang digunakan pencipta dalam karya ialah teknik dusel, dengan melakukan berbagai tahapan seperti penjajagan, percobaan, persiapan, pembentukan dan penyelesaian.

Hasil yang dicapai dari konsep Gaya Hidup Remaja Masa Kini adalah terciptanya dua belas buah karya yang unik dengan gaya realias. Dari semua tahapan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa pencipta memilih konsep Gaya Hidup Remaja Masa Kini, agar dapat dijadikan cerminan bagi masyarakat khususnya remaja dalam kehidupannya.

Kata Kunci : Gaya Hidup Remaja Sebagai Sumber Inspirasi.

  

Game Play Station Budaya Konsumtif Bagi Dunia Anak – Anak

Game Play Station Budaya Konsumtif Bagi Dunia Anak – Anak

Rumusan masalah dalam mengulas dan memaparkan tentang game playstation sebagai budaya konsumtif  bagi dunia anak-anak dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimana proses mengungkapkan game play station sebagai budaya konsumtif  bagi dunia anak-anak dalam penciptaan karya seni lukis? Bagaimana mengolah sumber-sumber ide yang diperoleh dari karya-karya pelukis terdahulu yang sejenis agar mampu membangun karakter pribadi? Bagaimana upaya menyusun struktur estetika yang meliputi wajah dan karakter manusia serta alam benda yang berkaitan dengan permainan game play station?

Tujuan yang diharapkan oleh pencipta dalam penciptaan karya seni lukis tugas akhir ini, Dapat mengetahui proses yang dilalui pencipta untuk mengungkapkan judul game play station sebagai budaya konsumtif  bagi dunia anak-anak. Mampu  mengolah sumber-sumber ide yang diperoleh dari karya-karya pelukis terdahulu yang sejenis agar mampu membangun karakter pribadi. Mengetahui upaya menyusun struktur estetika yang meliputi wajah dan karakter manusia serta alam benda yang berkaitan dengan permainan game play station.

Proses penciptaan seni lukis dengan tema game play station sebagai budaya konsumtif bagi anak-anak ini meliputi beberapa tahapan yaitu: penjajagan (eksplorasi), percobaan (eksperimen), pembentukan (forming), penyelesaian (finishing). Proses penciptaan dalam setiap tahapannya membutuhkan rentan waktu yang berbeda sesuai dengan suasana hati dan kondisi fisik  pencipta.

Hasil yang dicapai dari tema game play station adalah terciptanya karya yang unik dan menarik. Dengan demikian disimpulkan bahwa dalam karya lukis yang pencipta hasilkan memiliki suatu unsur kritikan, keprihatinan dan harapan akan dampak dari game play station.

Kata Kunci: Game Play Station, Budaya Konsumtif, Anak-anak

Loading...