by dwigunawati | Dec 17, 2011 | Berita, Galeri
Skrip karya ini mengangkat tema “ Misteri Wajah Sebagai Sumber Penciptaan Karya Seni Lukis”berawal dari melihat gerak gerik ekspresi wajah yang dimunculkan seperti: perasaan bahagia, sedih, marah, murung, berteriak dan lain sebagainya yang merupakan sifat alami yang dimiliki oleh manusia. Setiap orang memiliki karakteristik berbeda- beda, sehingga menarik bagi pencipta untuk mewujudkannya kedalam media lukis diatas kanvas, yang nantinya bagai mana cara mentranspormasikan tema misteri wajah kedalam karya seni lukis, sehingga ide – ide dapat terealisasikan melalui penerapan teknik dan material yang digunakan, sehingga dapat mengungkap tema misteri wajah itu sendiri dengan memadukan unsur- unsur maupun elemen -elemen seni rupa yang terkandung didalamnya. Sehingga apa yang diinginkan dapat memuaskan perasaan pribadi maupun orang lain dapat terealisasi melalui bentuk visual rupa.
Untuk mempermudah dalam proses perwujudan karya pencipta menerapkan beberapa metode sebagai refrensi yang dilakukan dalam yang dilakukan di dalam penciptaan karya lukis. Adapun hal tersebut yang di terapkan dalam penciptaan karya ini adalah melalui; pengamatan objek secara langsung sesuai dengan tema yang di angkat, melalui pengamatan karya – karya terdahulu, melalui media komunikasi atu media cetak lainya, yang kemudian diteruskan pada proses penciptaan karya melalui tahap penjajagan, tahap eksperimen, dan tahap pembentukan, sehingga terwujud 12 ( dua belas ) karya seni lukis yang sesuai dengan tema – tema yang diingginkan.
Akhirnya dapat disimpulkan terkait dengan tema diatas bahwa ekspresi wajah hanya sebagai kesan kasat mata saja apa yang di alami seseorang namun dibalik ekspresi wajah tersebut menyimpan misteri yang hanya diketahui oleh jiwanya itu sendiri atas apa sebenarnya sedang di alaminya. wajah manusia memiliki berbagai macam ekspresi yang dapat dimunculkan, dari setiap ekspresi wajah memiliki karakteristik yang berbeda-beda, dan wajah juga sebagai identitas dari seseorang, sehingga hal ini mendorong imajinasi pencipta untuk memunculkan ide-ide karya lukis, melalui berbagai pengolahan teknik dan bahan yang di gunakan untuk menciptakan karya seni yang dinamis dan sarat dengan makna yang ingin disampaikan lewat visual rupa.
Kata kunci : Misteri wajah, penciptaan seni lukis.
by admin | Dec 17, 2011 | Berita
Jakarta – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan, perlu adanya sebuah sistem yang bisa secara sistematik menjadi pedoman untuk membangun budaya bangsa. “Di dunia pendidikan, sistem sudah ada. Setidaknya setiap tahun ada 57 juta anak yang masuk dalam sistem pendidikan,” ujar Menteri Nuh memberi contoh, ketika memberi sambutan dalam acara dialog budaya untuk “Penyusunan Cetak Biru Pembangunan Nasional Kebudayaan” di Gedung A, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Senin (12/12).
Dalam acara ini hadir sejumlah tokoh agama, budayawan, seniman, akademisi, pemerhati budaya, baik dari kalangan pemerintah, swasta, dan lembaga swadaya masyarakat. Dua Wakil Mendikbud, Wiendu Nuryanti dan Musliar Kasim, turut mendampingi Menteri Nuh.
Menteri Nuh menyatakan, dialog budaya bukan untuk menemukan pandangan mana yang salah. Melainkan untuk memperkaya pandangan budaya. “Keragaman harus ditonjolkan, bukan keseragaman,” ujarnya. Siapa pun boleh memiliki pandangan-pandangan, sehingga bisa menjadi kekayaan dalam kebudayaan bangsa.
Menteri Nuh menjelaskan, setidaknya ada empat hal yang menjadi fokus Kemdikbud dalam bidang kebudayaan. Pertama, konservasi kebudayaan dalam segala dimensi, yang tidak boleh berhenti sampai pada tahap perawatan. Kedua, adalah promosi. “Kita harus bisa mempromosikan (budaya) apa yang sudah diwariskan oleh pendahulu kita,” ucapnya.
Kemudian fokus yang ketiga adalah menjadikan kebudayaan sebagai diplomasi dan kebijakan, dan yang terakhir adalah peralihan Institusi Seni Indonesia (ISI) menjadi Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI). “Nantinya, ISI di Denpasar, Yogyakarta, Bandung dan Padang akan menjadi ISBI. Pendirian ISBI juga akan dilakukan di Kalimantan dan Makasar pada 2012. Kemudian juga untuk di Aceh dan Papua. Termasuk IKJ juga nanti akan menjadi ISBI,” kata Menteri Nuh.
Dialog Budaya ini direncanakan akan dilaksanakan secara safari di beberapa lokasi yakni di DKI Jakarta, Yogyakarta, Bali, Medan (Sumatera Utara), Makassar (Sulawesi Selatan) dan Balikpapan (Kalimantan Timur), dalam kurun waktu sampai Februari 2012.
Beberapa bahan paparan Dialog Budaya sebagai pemicu awal dialog untuk diperkaya dan disempurnakan, di antaranya: Kerangka Pikir Pembangunan Nasional Kebudayaan; Sistem Kebudayaan Indonesia; Pengertian Kebudayaan; Konsep Membangun “Rumah” Budaya; Komponen Pilar Pembangunan Kebudayaan Indonesia, beserta jabaran-jabarannya; dan Visi Misi Pembangunan Kebudayaan.
Sumber: kemdiknas.go.id
by dwigunawati | Dec 16, 2011 | Berita, Galeri
Kerusakan hutan yang terjadi merupakan realita kehidupan yang kita hadapi semakin kompleks, di mana sering sekali pencipta mendengar tentang usaha pelestarian hutan, namun dibalik semua itu pengerusakan hutan di Indonesia masih terus terjadi. Penebangan liar, pembakaran hutan, dan alih fungsi lahan merupakan pengerusakan hutan yang dilakukan oleh manusia yang berdampak buruk bagi kehidupan dan menimbulkan berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan dan lain sebagainya. Dari uraian di atas pencipta tertarik untuk mengungkapkannya ke dalam bentuk karya seni lukis.
Untuk mengungkapkan peristiwa tersebut, pencipta mempelajari berbagai fenomena kerusakan hutan yang terjadi di Indonesia melalui berbagai media seperti televisi, surat kabar, buku dan melalui pengamatan pohon-pohon kering tanpa daun, hutan yang gundul dan gersang yang berada di sekitar tempat tinggal pencipta. Kemudian diwujudkan ke dalam sketsa-sketsa kecil diatas kertas dan barulah diwujudkan ke dalam media kanvas dengan dengan menampilkan objek pohon tumbang dan pangkal-pangkal pohon serta berbagai objek-objek tentang kerusakan hutan dengan teknik pewarnaan yang halus dan lebih banyak menampilkan warna-warna monokromatis serta warna gelap dan suram pada latar belakang dengan memadukan imajinasi pencipta serta unsur-unsur dan prinsip-prinsip seni rupa sehingga tercermin originalitas dari sudut pandang dan ide pencipta. Dari pelaksanaan ini telah diselesaikan 12 buah lukisan bergaya surealisme.
Dari karya pencipta dengan bertemakan “Kerusakan Hutan sebagai Sumber Inspirasi dalam Berkarya Seni Lukis”. Bertujuan untuk memberikan pencerahan terhadap masyarakat tentang pentingnya kelestarian hutan yang banyak memberi manfaat bagi kehidupan.
Kata kunci: Kerusakan hutan, inspirasi, dan seni lukis.
by admin | Dec 16, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman: Ida Bagus Surya Peradantha, SSn., MSn
Kini kita menginjak pada hubungan antara hidung, bau-bauan dan dunia seni. Hidung sebagaimana dijelaskan pada tulisan sebelumnya merupakan panca indera manusia yang sesungguhnya memiliki “kedudukan” sejajar atau sama pentingnya dengan indera manusia yang lainnya dalam sudut pandang tertentu, misalnya religi. Namun indera penciuman secara jelas dalam buku ini dianggap sebagai “malaikat jatuh” serta ada indikasi untuk memandangnya dengan sebelah mata.
Disebut sebagai malaikat jatuh pada bab ini, diperlukan sebuah interpretasi makna untuk membahasnya. Seperti yang diuraikan sebelumnya, ada anggapan dari beberapa orang untuk menolak atau meremehkan indera yang satu ini. Secara lahiriah ia merupakan anugerah Tuhan yang patut disyukuri, sebab telah melengkapi tubuh ini sehingga dapat dikatakan memiliki panca indera. Itu yang disebut sebagai “malaikat”. Ia disebut jatuh karena ia diremehkan, tidak dimengerti makna dari sebuah indera penciuman baik secara lahiriah maupun secara maknawi. Padahal, ada data yang patut diperhatikan, jika seseorang melatih penciumannya, akan sangat peka dalam mencium sesuatu, bahkan sampai ratusan ribu jenis bau. Bila tidak ada indera penciuman, maka mungkin saja tidak akan ada ahli parfum atau tukang campur whiski.
Dalam dunia seni pertunjukan tradisional Bali, kita tidak bisa begitu saja meremehkan kehadiran indera yang satu ini. Kita dapat mengingat ketika pementasan tari Sanghyang Dedari misalnya, di mana kedua penari yang telah dianggap siap menjadi “media” turunnya kekuatan suci yang dimohonkan oleh lingkungan masyarakat tertentu akan diupacarai terlebih dahulu. Dalam rangkaian upacara tersebut, terdapat ritual “madudus” atau menghirup bau kemenyan yang disertai mantra pemanggilan roh suci oleh seorang pemangku. Inilah proses inti daripada penurunan kekuatan suci dalam Tari Sang Hyang Dedari. Tanpa proses ini, tidak mungkin roh suci yang dimohon untuk “meminjam” raga dari para penari berkenan untuk hadir. Maka dari itu, hal ini dapat dijadikan suatu bukti penting bahwa indera penciuman memiliki peran yang signifikan dalam khasanah kesenian di Bali.
Hal lain yang dapat menunjukkan bau-bauan serta indera penciuman menjadi suatu hal yang penting (atau dapat menyejajarkan diri dengan indera lain) dalam seni di Bali, adalah ketika para seniman (tidak hanya penari), mengenakan bunga sebagai penunjang performance-nya di atas pentas. Mengapa bunga? Kita mengingat kembali, seni dalam tradisi di Bali mendapat pengaruh yang cukup kuat dari kegiatan ritual keagamaan. Dalam keyakinan Hindu di Bali, ada tiga unsur penting dalam upacara yaitu api, air dan bunga. Bunga selalu diidentikkan dengan keharuman. Dengan keharuman, seseorang diharapkan dapat memancarkan aura yang baik, menarik dan indah. Secara metaforis, seseorang yang mengenakan bunga di telinga, disematkan di rambutnya atau dengan cara penggunaan yang logis, merupakan penegasan akan suatu keharuman yang dapat menambah daya tarik terhadap penonton atau oang lain. Bunga juga lambang persembahan cinta kasih pada sesuatu. Bila dalam ritual agama bunga dipakai untuk menyatakan rasa bakti dan cinta kepada Tuhan, maka dalam seni bunga digunakan untuk menyatakan rasa gembira dan suka cita dalam mempersembahkan suatu pertunjukan. Terlebih lagi, dalam sebagian besar tari penyambutan seperti tari Sekar Jagat (ciptaan NLN. Swasthi Widjaja Bandem), tari Selat Segara (ciptaan I Gst. Ayu Srinatih), tari Cittarasmi (ciptaan Ida Ayu Wimba Ruspawati), menggunakan bunga sebagai properti tariannya. Demikian pula, tari-tari maskot yang dimiliki oleh beberapa daerah di Bali menggunakan nama “Sekar” misalnya Sekar Jepun (tari maskot Kabupaten Badung ciptaan Ida Ayu Wimba Ruspawati), Tari Sekar Sandat (tari maskot kab.Bangli), serta Sekar Jempiring (tari maskot Kota Denpasar ciptaan I.A. Arya Satyani) yang berarti bunga. Hal ini pun menunjukkan betapa bunga dengan simbol keharumannya merupakan persembahan yang tidak hanya dapat dinikmati oleh hidung sebagai indera penciuman, namun telah merambah ke dimensi yang lebih jauh yaitu secara simbolik atau maknawi.
Tidak jarang pula ketika penulis amati (baik saat terlibat menari atau tidak), para penari yang akan tampil di atas pentas sering kali mempersiapkan diri dengan menyemprotkan parfum ke seluruh badan. Meskipun penonton berada beberapa jauh di depan atau di samping, ternyata tujuan utamanya tidaklah untuk dibaui oleh para penonton tersebut, melainkan memancarkan keharuman antar para penari (bila menari berkelompok), atau sekedar ingin menambah kepercayaan dirinya bila menari sendiri. Termasuk pula, usaha para penari untuk memotong bulu ketiak yang panjang. Apakah maksudnya hal ini? Ternyata tidak hanya untuk terlihat tampil bersih dan rapi, melainkan menghilangkan kesan bau badan yang kurang sedap. Sebagaimana konotasi yang telah berkembang, bulu ketiak yang panjang dan lebat dianggap sebagai sarang bakteri penyebab bau badan. Otak manusia sudah mengunci dogma ini pada jaman sekarang. Maka dari itu, untuk meminimalisir bau badan yang kurang sedap tersebut, para penari rela untuk memangkas habis bulu ketiaknya agar terlihat lebih bersih dan tentu saja bebas dari bau badan.
Bau, enak ataupun tidak enak, harum atau tidak harum, entah ini natural atau buatan pabrik, merupakan elemen pembentuk presentasi diri dan konstruksi orang lain. Dengan ini orang akan merasa tertarik atau saling menolak. Tidak jarang,kesan pertama seseorang akan sesuatu yang baru dikenalnya berawal dari indera penciuman ini.
Pemeran utama bau-bauan dalam budaya kita adalah estetika. Orang menghancurkan bau lama dan menciptakan bau yang baru agar tercium baik, manis, menjadi cantik dan menarik, dalam rangka membangun kesan pertama yang baik. Seperti pada hipotesis fundamental yang disebutkan di awal, apa yang berbau enak pasti baik dan yang tidak enak berarti jahat atau tidak baik. Memang, itu bukanlah bersifat mutlak, namun perlu dicatat bahwa estetika semacam itu memiliki akar yang sangat kuat hingga bertahan sampai sekarang. Ia merupakan konstruksi awal dari kesan seseorang.
Penciuman memainkan peranan penting namun kerap kali tidak diperhatikan dalam budaya kita. Ia berperan begitu vital dalam berbagai aspek kehidupan seperti aspek ekonomi, politik, memiliki kekuatan estetik, secara seksualitas, spiritual, emosional, seni budaya dan secara moral. Penciuman dapat dikatakan sebagai komponen pembentuk individu dan identitas kelompok, baik yang nyata maupun yang dibayangkan. Jadi ia layak untuk dipertahankan, dimengerti dan digunakan sebagaimana seharusnya ia sebagai indera penciuman.
Hidung, Bau-Bauan Dan Seni selengkapnya