M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Seni Lukis Tikus Dalam Imajinasi Rupa

Seni Lukis Tikus Dalam Imajinasi Rupa

Tikus adalah golongan binatang pengerat yang sering dianggap sebagai binatang yang rakus dan suka mencuri makanan manusia. Tidak jarang barang perlengkapan manusia di rusak, dikerat sampai berlubang untuk jalan di lewat, demikian pula barang-barang dihancurkan untuk dipakai sebagai sarangnya. Karena sifat-sifatnya inilah binatang tikus sering dikonotasikan sebagai simbol koruptor, menghabisi yang bukan miliknya secara diam-diam.

Binatang tikus inilah dijadikan motif dasar ide di dalam berkarya seni lukis, di mana tikus diangkat sebagai motif dari bentuk yang utuh sampai dengan tikus dalam bentuk topeng. Motif tikus diambil dari hasil pengamatan secara langsung maupun dari foto-foto yang dijadikan sumber dalam proses kreatif, diatur sedemikian rupa dalam penciptaan seni lukis ini. Dari ide kerakusan motif tikus hanyalah bentuk simbolis manusia koruptor, yang dituangkan dalam bentuk seni lukis mengarah kepada gaya surealis. Walaupun obyek diwujudkan secara naturalis namun tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Penggunaan berbagai unsur-unsur seni rupa seperti garis bentuk, warna, bidang dan ruang, tetap memperhatikan faktor estetika dari suatu penyusunan seperti komposisi, proporsi, keseimbangan, pusat perhatian dan irama. Sedangkan dalam proses penciptaan dilalui dengan beberapa tahapan yaitu: penjelajahan (ekplorasi), proses percobaan (eksperimen), proses pembentukan (forming) dan penyelesaian (finising).

Dalam wujud karya yang dibuat mengandung beberapa aspek baik aspek gagasan serta konsep yang dikenal dengan aspek ideoplastis dan wujud karya secara fisik meliputi hasil dari tehnik penggarapan elemen visual dengan segala aturan seni lukis disebut dengan aspek fisikoplastis dari hasil proses penciptaan ini diperoleh 12 buah lukisan yang semuanya bertemakan tikus sebagai motif utama.

Kata Kunci: Tikus Penciptaan Lukisan

  

Pelatihan Anti HIV/AIDS, Narkoba, dan Rokok bagi Mahasiswa

Pelatihan Anti HIV/AIDS, Narkoba, dan Rokok bagi Mahasiswa

Kegiatan peningkatan sumber daya mahasiswa giat dilakukan di lingkungan internal Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Pada hari Selasa (27/12) bertempat di Gedung Natya ISI Denpasar diadakan pembukaan acara Pelatihan Pengembangan Karater Anti HIV/AIDS, Narkoba, dan Rokok bagi mahasiswa, kegiatan ini akan berlangsung selama tiga hari dimulai dari selasa hingga kamis (29/12).

Kegiatan ini turut mengundang narasumber yang berasal dari luar kampus yakni perwakilan Dinas Kesehatan Propinsi Bali, Dinas Sosial Provinsi Bali, Badan Narkoba Provinsi Bali (BNP), Komisi Penanggulangan HIV/AIDS (KPA), serta Biro Binamitra Polda Bali dalam pemberian materi yang terkait dengan tema pelatihan ini. “Peserta dari mahasiswa berjumlah 150 orang, tahap awal peserta akan mengikuti pelatihan secara bersama kemudian nantinya dibagi dalam tiga kelompok sesuai dengan tema” ungkap ketua Panitia yang juga selaku Pembantu Rektor III ISI Denpasar. “Walaupun hujan mengguyur kota denpasar dari pagi hari, tak menyurutkan niat para peserta untuk hadir dalam acara ini, antusiasme para mahasiswa sangat baik” imbuhnya.

“Tanggungjawab yang diberikan kepada mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa harus disertai dengan pengetahuan serta pelatihan yang cukup agar mampu membawa bangsa ini kearah yang lebih baik, oleh karena itu kegiatan ini sangat positif bagi perkembangan mahasiswa” ungkap Pembantu Rektor I yang membuka acara pelatihan ini. Diangkatnya tema mengenai anti HIV/AIDS, Narkoba, dan Rokok merupakan salah satu upaya dalam menekan jumlah pengguna di lingkungan generasi muda, ditemui disela-sela acara, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Bali mengungkapkan bahwa ketiga hal tersebut sangat berhaya dan rentan dilakukan oleh generasi muda. Diawali dari kebiasaan menghisap rokok kemudian semakin penasaran dengan merasakan narkoba jenis hisap kemudian jenis suntik, “bila jarum suntik digunakan secara bersama-sama, hal inilah yang memicu penyebaran virus” ujarnya. Sebagaimana diketahui bahwa saat ini penyebaran HIV/AIDS telah meluas hingga hampir diseluruh kabupaten di Bali, jenis penyakit yang cukup ditakuti karena hingga kini belum ditemukan obatnya.

Sebagai generasi muda, mahasiswa diharapkan memiliki pengetahuan mengenai bahaya-bahaya yang ditimbulkan, sehingga nantinya secara tidak langsung mampu mengedukasi lingkungan sosialnya baik antar sesama teman maupun sesama warga masyarakat. Antusiasme mahasiswa terlihat dari pertanyaan yang dilemparkan kepada narasumber, keingintahuan yang cukup tinggi ini membuat suasana pelatihan menjadi tidak bosan dan monoton. Usai mengikuti kegiatan pelatihan ini, mahasiswa akan dikukuhkan menjadi kader Anti: HIV/AIDS, Narkoba, Rokok.

Re-Desain Interior  Museum Kartun Indonesia Bali

Re-Desain Interior Museum Kartun Indonesia Bali

Pengertian museum masih asing di telinga masyarakat. Museum masih dipandang sebagai tempat penyimpanan barang-barang kuno yang antik dan langka. Sehingga demi meningkatkan antusias masyarakat untuk berkunjung ke museum diperlukan desain interior museum yang dapat memberikan identitas dan keunikan tersendiri khususnya pada Museum Kartun Indonesia Bali. Metode yang digunakan adalah pengendalian diri yaitu metode yang menggabungkan teori glass box dan dieksekusi dengan teori black box yang bersifat lebih rasional. Hasil selanjutnya dengan mengusung konsep edutainment of cartoon dan gaya pop art yang diterapkan dalam bentuk desain atau media pembelajaran pada Interior Museum Kartun Indonesia Bali baik melalui titik, garis, bahan dan warna pada ruang maupun fasilitas, diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat untuk senang berkunjung ke museum.

Kata kunci: Museum, Kartun, glass box, black box,  pop art, edutainment

  

Gamelan Batel

Gamelan Batel

Kiriman: I Wayan Andina Suldastyasa, PS Seni Karawitan ISI Denpasar

Gamelan Batel adalah sebuah barung alit yang tergolong gamelan madya dipakai mengiringi tari Barong Landung, Barong Bangkal dan wayang kulit. Dalam banyak hal barungan ini merupakan pengiring prosesi, karena bisa dimainkan sambil berjalan. Dalam mengiringi tari barong landung dan barong bangkal agak berbeda dengan barungan gamelan Bali lainnya, Batel Barong tidak mempergunakan instrumen pembawa melodi. Oleh karena itu musik yang ditampilkan cenderung ritmis dan dinamis. Sedangkan untuk mengiringi wayang kulit di tambahkan intrumen berupa 2 pasang gender wayang. Gender Wayang adalah barungan yang sangat tua dan sacral, karena Gamelan Gender Wayang ini dipentaskan atau dimainkan pada waktu mengiringi upacara Manusa Yadnya, Pitra Yadnya , Rsi Yadnya, dan Dewa Yadnya. Seperti namanya, Gamelan Gender Wayang sangat erat hubungannya dengan iringan pakeliran di Bali yaitu digunakan untuk mengiringi Wayang Parwa.  Gender Wayang merupakan dua buah kata yang melahirkan suatu pengertian tertentu. Kata “Gender” jika didalam pengucapan tidak disertai dengan kata wayang, kadang-kadang mempunyai pengertian berbeda, seperti misalnya kata Genderambat dan Gender Barangan. Genderambat adalah salah satu jenis instrumen dalam gamelan Pelegongan atau Semarpagulingan, sedangkan Gender Barangan adalah jenis instumen dalam Gamelan Pelegongan atau pada Gender Wayang.

       Gender adalah gamelan yang mempunyai bilah yang dibuat dari perunggu (karawang), yang digantung diatas resonator bambu yang di topang dengan tumpuan kayu atau besi, agar tidak bersentuhan antara bilah dengan bilah yang lainnya.

       Wayang merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional rakyat Bali yang telah dikenal oleh hampir semua orang. Wayang juga merupakan teater daerah Bali, yang mempunyai fungsi yang sangat komplek di masyarakat, serta di gemari oleh hamper seluruh lapisan masyarakat Indonesia terutama suku Jawa dan Bali.

       Gender Wayang, adalah seperangkat gemelan (barungan) yang di pakai untuk mengiringi pertunjukan Wayang Kulit di Bali. Sehubungan dengan hal tersebut di atas, Jaap Kunst dalam bukunya yang berjudul Hindu Javanese Musical Instrumens, mengatakan bahwa satu-satunya instumen yang menyertai pertunjukan Wayang Kulit di Bali pada kenyataannya adalah Gender Wayang.

        seperangkat gender wayang terdiri dari dua tungguh gender yang gede dan dua tungguh gender  yang lebih kecil atau gender barangan yang juga biasa di sebut gender cenik. Sedangkan di Bali Utara biasanya dipakai dua tungguh gender gede saja. Gender wayang yang terdapat di Bali masing-masing mempunyai karakter tersendiri sesuai selera individu yang memiliki. Dengan demikian gender wayang dari desa satu dengan yang lainya tidak bias dimainkan bersama. Gender wayamg dilaras lima nada yang di sebut saih gender wayang dan mempunyai 10 bilah yang terdiri dari 2 octave.

       Ombak (gelombang) dalam gender wayang lebih pelan di bandingkan dengan ombak gamelan Gong Kebyar. Satu tungguh gender lebih tinggi sedikit suaranya (gender pengisep)  dari pada gender yang lainnya (pengumbang), apabila di pukul bersamaan akan menimbulkan getaran atau gelombang suara. Selain gender wayang dalam barungan  batel untuk mengiringi wayang kuli digunaka juga intrumen seperti :2 buah kendang kecil,1buah kajar,1buah kempur,1buah klenang,1buah kemong,dan 1pangkon ricik.

Batel Barong dibentuk oleh sejumlah alat musik pukul seperti:

2          buah    kendang kecil

1          buah    kajar

1          buah    kempur

1          buah    klenang

1          buah    kemong

1          Pangkon ricik

Gamelan Batel Barong saat ini masih ada di Desa Tegal Darmasaba yaitu untuk mengiringi prosesi ngelawang dan sekaa dari gamelan Batel Barong khususnya di Desa Tegal Darmasaba tidak tetap dikarenakan pada setiap ngelawang yang memainkan gamelan ini bisa dimainkan oleh siapa saja asalkan mereka memainkan gamelan dan berasal dari dari Desa Tegal Darmasaba. Di Desa Tegal Darmasaba terdapat empat barung gamelan batel tepatnya di Pura Anteggana, Pura Pesanggaran, Pura Puseh, dan Pura Dalem Gegelang, dan keempat barungan gamelan batel tersebut sangat disakralkan oleh warga setempat disebabkan Gamelan tersebut hanya boleh dimainkan pada saat Ida Betara baik yang berupa Barong Bangkung dan Barong Landung Ngunya mengelilingi desa tradisi ini wajib di laksanakan karena dipercaya bisa menetralisir kekuatan negative dan dilaksanakan setiap enam bulan sekali, tepatnya pada hari raya Galungan dan Kuningan, dan menyebabkan gamelan batel yang ada di Desa Tegal Darmasaba masih tetap eksis sampai sekarang.

Batel wayang kulit dibentuk oleh sejumlah alat musik pukul seperti:

2          buah    kendang kecil

1          buah    kajar

1          buah    kempur

1          buah    kleneng

1          buah    kemong

1          Pangkon ricik

2          pasang gender wayang

Gamelan diatas masih ada di Kabupaten Badung tepatnya di banjar Gulingan, desa Tegal Darmasaba yang bernama Sekaa Batel Kusuma Sari

Gamelan ini sering digunakan untuk mengiringi pergelaran Wayang kulit pada tahun 80’an sampai 90’an, namun saat ini gamelan ini sangat jarang dipentaskan disebabkan karena sekaa dari batel wayang Kusuma Sari sudah tua dan belum memiliki regenerasi dan disamping itu setiap sekaa wayang sudah memiliki gamelan masing-masing bahkan gamelan wayang saat ini jarang menggunakan batel melainkan mengunakan gong kebyar, semarandhana dan angklung. Gamelan batel wayang yang ada di banjar Gulingan, Tegal Darmasaba saat ini hanya dipentaskan sebagai pengiring upacara adat dewa yadnya.

Gamelan Batel selengkapnya

Loading...