by admin | Oct 19, 2012 | Berita, pengumuman
DIUMUMKAN KEPADA SELURUH MAHASISWA FSRD YANG AKAN MENGIKUTI KERSOS 2012, BAHWA :
- KERSOS 2012 AKAN DILAKSANAKAN PADA TANGGAL 20 OKTOBER 2012, DIPURA BATUKARU,DESA WONGAYA GEDE,KECAMATAN PENEBEL,KABUPATEN TABANAN.
- SELURUH PESERTA KERSOS 2012 DIWAJIBKAN MEMAKAI PAKAIAN ADAT MADYA / ADAT RINGAN.
- SELURUH PESERTA KERSOS 2012, DIWAJIBKAN MEMBAWA :
- SAPU LIDI / SABIT / CANGKUL (PILIH SALAH SATU)
- TANAMAN HIAS ( 1/SATU BUAH )
- PERLENGKAPAN SKETSA
Atas perhatian dan kerjasamanya,terima kasih.
A.n Dekan
Pembantu Dekan III
Drs. D.A Tirtha Ray,M.Si
NIP. 19570423198701001
by admin | Oct 18, 2012 | Berita
Kiriman: Nyoman Lia Susanthi (Dosen Pedalangan ISI Denpasar).
Jepang- Tokyo University of the Arts, sebagai salah satu perguruan tinggi ternama di Jepang pada tanggal 10 Oktober 2012 menggelar acara akbar bertajuk Geidai Arts Summit 2012 dengan tema “From Asia to the World.” Dalam acara tersebut Tokyo University mengundang 23 Perguruan Tinggi Seni terkemuka di Asia. Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar merupakan salah satu perguruan tinggi seni yang diundang dalam acara bergengsi tersebut. Kegiatan Geidai Arts Summit berisikan acara simposium, kunjungan akademik ke Tokyo University, menyaksikan pertunjukan serta acara promosi dimana setiap perguruan tinggi berkesempatan untuk mempromosikan lembaganya ke kancah internasional lewat media promosi yang dibawa, diantaranya brosur.
Pada acara simposium Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S.,M.A., bersama PR II, Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum. dan I Gusti Ayu Srinatih, S.ST., M.Si., mendapat kesempatan terhormat sebagai pembicara di forum internasional.
Dalam presentasi Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A., membahas pengembangan kreatif dalam seni di Asia, dengan referensi khusus kepada acara pembukaan Festival Kesenian Internasional (FKI) yang diselenggarakan oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar dan diadakan pada tanggal 21 November 2007 di Pantai Sanur, Bali. Dalam acara tersebut melibatkan seluruh perguruan tinggi seni se-Indonesia hingga mancanegara. Terdapat kolaborasi intra-budaya dalam pementasan tersebut, yaitu kolaborasi berfokus pada unsur-unsur tradisional di satu negara, yang pada akhirnya menghasilkan bentuk-bentuk baru dari karya seni. Kedua, kolaborasi antar-budaya mengacu pada kolaborasi yang berfokus pada unsur-unsur tradisional dari dua atau lebih negara. Dalam melahirkan karya seni tersebut ditekankan penerapan konsep Tri Hita Karana. Hubungan manusia dengan Tuhan ditunjukkan saat memulai pementasan diawali dengan upacara matur piuning, memohon ijin kepada Dewa Baruna. Selanjutnya hubungan manusia dengan manusia tercermin dari kerjasama dan kolaborasi ide, gagasan antara sesama seniman, masyarakat dan semua kalangan pendukung acara. Selanjutnya hubungan dengan alam, tercermin dari tempat pementasan yang berlokasi di pantai, yang memberikan pesan untuk menjaga alam lingkungan terutama laut.
Dari kunjungan akademis ISI Denpasar ke Tokyo University, Prof. Rai menegaskan bahwa ISI Denpasar mendapat peluang sekaligus tantangan. Peluang ISI Denpasar untuk go internasional lebih terbuka lebar karena ISI Denpasar kini lebih dikenal di kancah internasional. Berbagai perguruan tinggi dari berbagai negara di Asia yang sebagai peserta Geidai Art Summit menginginkan membangun kerjasama dengan ISI Denpasar dalam berbagai bidang. Dengan diperhitungkannya ISI Denpasar di kancah dunia, maka tantangan bagi ISI Denpasar juga ada di depan mata. Dimana untuk meningkatkan diri di dunia global, tantangan kedepan adalah berani mengubah mind set menuju kemajuan. “Saya percaya bahwa ini Geidai Arts Summit akan menjadi kesempatan yang menguntungkan untuk berkontribusi pada penciptaan seni baru dan budaya di Asia, mempromosikan pertukaran internasional melalui media seni, dan mengembangkan berbagai program pertukaran internasional” ujar Prof. Rai.
Sementara presentasi I Gusti Ayu Srinatih, S.ST., M.Si mengangkat tema “Topeng (Mask) as a Source For Cross-National Collaboration to Generate a New Form of Creative Art in Asia” dan Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum mengangkat tentang “Creativity of New Balinese Music Composition”. Dr. Arya Sugiartha menambahkan bahwa selama di Jepang respon terhadap ISI Denpasar sangat bagus. Para peserta yang berasal dari berbagai negara berencana membangun kerjasama dengan ISI Denpasar. Keunggulan yang dimiliki ISI Denpasar sudah terbaca di lingkungan peserta seminar. “Saya percaya bahwa ini akan menjadi kesempatan untuk bekerjasama dalam memperdalam komunikasi multilateral dan membagun kerjasama dalam bentuk penelitian bersama, pertukaran budaya, pelajar, dosen, mahasiswa dan staf di tingkat internasional” ungkap Dr. Arya.
by admin | Oct 12, 2012 | Berita, pengumuman
unduh pengumuman : Klik DisiniI
PENGUMUMAN
Nomor : 2296/IT5.5.1/KM/2012
TENTANG
PEMBUATAN REKENING BANK SECARA KOLEKTIF
BAGI PENERIMA BEASISWA BIDIKMISI
ANGKATAN TAHUN AKADEMIK 2012/2013
INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR
Diumumkan kepada mahasiswa penerima Beasiswa Bidikmisi Institut Seni Indonesia Denpasar Angkatan Tahun Akademik 2012/2013 (nama-nama terlampir) supaya hadir pada :
Hari/Tanggal : Selasa, 16 Oktober 2012
Pukul : 13.00 Wita – selesai
Tempat : Gedung Candrametu ISI Denpasar
dengan membawa :
1. Fotocopy KTP
2. Fotocopy SIM
3. Fotocopy Kartu Keluarga
Demikian disampaikan untuk dilaksanakan terimakasih.
Denpasar, 12 Oktober 2012
a.n. Rektor
Kepala Biro Administrasi Akademik,
Kemahasiswaan dan Kerjasama
TTD
Drs. I Gusti Bagus Priatmaka, MM
NIP. 196004061986011001
Tembusan :
1. Rektor ISI Denpasar sebagai laporan
2. Dekan FSP untuk diketahui
3. Dekan FSRD untuk diketahu
by admin | Oct 4, 2012 | Berita
Kiriman: Ni Wy. Suratni, S.Sn., M.Sn. (Dosen Jurusan Pedalangan ISI Denpasar).

Luh Belong (Ni Wy. Suratni) dalam wujud raksasi dari kekuatan Dewi Danu, pada adegan menggoda tapa Raja Jayapangus.
Gianyar- Ni Wy. Suratni yang familiar dengan sebutan Luh Belong saat tampil di masyarakat dalam bondres, beberapa waktu lalu (23/7) menampilkan drama gong inovasi dengan judul “Prahara Kang Ching Wie” guna memenuhi persyaratan gelar Magister Seni pada Program Studi Penciptaan Seni, Program Pasca Sarjana pada Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Garapan yang berdurasi 1 jam 15 menit ini mengangkat isu dan pesan moral dari cerita Kang Ching Wie terimplisit adanya kisah poligami, kesetiaan Kang Ching Wie yang teraniaya oleh kecongkakan Dewi Danu. Pada intinya adalah kesetiaan seorang tokoh Kang Ching Wie yang teguh dengan prinsip kehidupannya sebagai istri seorang raja yang diduakan menyangkut harga diri, kesamaan hak dan lainnya. Rangkaian karya ini juga diangkat mengenai kultur budaya setempat yakni kegiatan ngelawang yang tetap hidup sampai sekarang, dimana dalam menjalankan hal tersebut prinsip hidup bersama dan kegotong-royongan masyarakat sangat kental ditampilkan.
Ni Wy. Suratni yang juga merupakan dosen Pedalangan di ISI Denpasar mengemas kisah Prahara Kang Ching Wie dalam bentuk drama gong inovasi. Drama Gong sebuah bentuk seni pertunjukan Bali yang relatif muda usianya, diciptakan dengan memadukan unsur-unsur drama modern dan unsur-unsur kesenian tradisional Bali. Karya seni pertunjukan Drama Gong Kang Ching Wie merupakan inovasi atau pengembangan dan pembaruan Drama Gong tradisional Bali yang pernah ada dan saat ini sedang terpuruk. Inovasi dalam karya ini berbeda pada setting panggung terbuka, yang lebih memilih in–out pemain secara bebas sesuai situasi peran dan karakter masing-masing pemain. Lebih mengutamakan integrasi antara pemain inti, cerita dan masyarakat yang terlibat dalam jalinan cerita pada adegan mepeed, ngelawang, dan lainnya. Dalam karya ini memadukan penggunaan dialog-dialog verbal berbahasa Bali yang merupakan ciri khas drama gong sebelumnya, dipadukan dengan bahasa Kawi untuk tokoh Raja Jayapangus dan Dewi Danu, sebagai penginovasian dalam retorika.
Hal yang mendorong pengkarya untuk menggarap sekaligus merevitalisasi Drama Gong tradisional Bali ini adalah adanya tanggungjawab moral sebagai insan yang dibesarkan oleh kesenian Drama gong, dan juga karena terinspirasi oleh beberapa garapan seniman lain dalam bentuk kesenian yang lain pula, yang mampu mengolah materi atau pakem tradisional dengan nuansa kekinian tanpa harus meninggalkan bentuk aslinya. Nuansa keindahan alam serta tradisi ngelawang yang sudah dilakukan turun-temurun oleh masyarakat Banjar Bukit Batu, Desa Samplangan, Gianyar juga banyak mendorong semangat pengkarya untuk bisa mewujudkan garapan Drama Gong open air ini. Banjar Bukit Batu dipilih sebagai tempat atau lokasi pementasan ujian karya seni untuk menunjukkan potensi wilayah tersebut, mengingat wilayah ini berlokasi di daerah Gianyar sebagai kota sentra seni dan budaya sehingga sangat berpotensi untuk dibangkitkan sebagai destinasi wisata yang berbasis seni dan budaya.
Dalam drama gong inovasi ini pengkarya menggarap ruang-ruang yang ada di sekitar tempat pertunjukan dalam hal ini adalah di areal pura dan sekitarnya. Hal ini bertujuan untuk memanfaatkan semua ruang yang ada di sekitar pura tersebut. Di samping hal tersebut pengkarya juga memanfaatkan beberapa instalasi, property, dan gamelan sebagai media pendukung dalam setiap adegan atau suasanan yang diinginkan dalam pertunjukan kesenian Drama Gong Inovasi ini. Iringan gamelan yang digunakan adalah seperangkat Gamelan Semara Pagulingan Saih Pitu oleh Sanggar Bona Alit Gianyar. Instrumen ini mewakili suasana Cina dengan permainan patet yang kaya dalam gamelan tersebut, dipadukan dengan beberapa instrument musik Cina. Gamelan Semara Pagulingan ini digarap khusus untuk mendukung suasana dalam adegan-adegan tokoh-tokoh Cina, seperti suasana taman kaputren Kang Ching Wie, suasan sedih Kang Ching Wie, perjalanan Kang Ching Wie menyususl Raja Jaya Pangus, pasar Cina dan bondres Cina. Dengan demikian suasana yang diinginkan seperti suasana kecinaan tampak nyata. Selain itu penggarap juga menggunakan seperangkat Gamelan Gong Kebyar oleh Sanggar Paripurna Bona Blahbatuh Gianyar. Jenis ansamble ini digunakan untuk mendukung suasana unsure-unsur yang bercikas Bali. Gamelan Gong Kebyar merupakan instrumen yang memang dipakai sejak awal dalam pertunjukan kesenian Drama Gong di Bali. Urutan paling belakang dari prosesi ini adalah gamelan Balaganjur yang bertujuan untuk memeriahkan suasana sekaligus sebagai pengiring jalannya prosesi peed, yang sampai sekarang masih tetap dilestarikan.