by admin | Jul 28, 2016 | Berita
Dalam rangka memperingati Dies Natalis Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar yang ke-13 (28 Juli 2016), kampus seni ISI Denpasar pada hari Senin, 25 Juli 2016 menggelar lomba debat bahasa Inggris yang diikuti oleh mahasiswa dari semua prodi yang ada di masing-masing fakultas, yaitu fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) dan fakultas Seni Pertunjukan (FSP). Lomba yang diadakan di gedung Citta Kelangen ini dihadiri oleh Wakil Rektor 3, Dekan FSRD beserta Wakil Dekan, Dekan FSP beserta Wakil Dekan, dan semua kaprodi dari kedua fakultas.
WR 3 ISI Denpasar, Drs. I Wayan Gulendra, S.Sn., dalam sambutannya yang sekaligus membuka acara lomba debat dengan resmi, mengatakan bahwa kemampuan mahasiswa ISI Denpasar dalam berbahasa Inggris harus terus ditingkatkan karena bahasa Inggris sangat penting dalam persaingan global. Selain itu, sumber-sumber pustaka untuk penulisan ilmiah yang berbahasa Inggris juga akan dengan mudah dipahami dengan kemampuan berbahasa Inggris. Menurut Gulendra, lomba debat bahasa Inggris adalah ajang untuk melatih mahasiswa agar berani berlomba, bermental kompetisi dan pada akhirnya akan menjadi mahasiswa yang bermental juara.
Pada lomba kali ini, keluar sebagai juara I, II, dan III masing-masing Christ Cristina (prodi Musik), Putu Ayu Adiyanti (prodi Desain Mode), Putri Ridjanti Lubis (prodi Musik), juara harapan I,II,dan III, masing-masing Ni Made Satriyani Anindita (Prodi Desain Interior), A.A. Bagus Harjunanthara (prodi Tari), dan Ni Putu Suci Pramesti (prodi Tari). Masing-masing pemenang I,II,III mendapatkan tropi, piagam dan hadiah uang tunai, dan juara harapan memperoleh piagam dan tropi.
Ketua panitia lomba, Ni Ketut Dewi Yulianti, S.S.,M.Hum. mengatakan bahwa pemenang lomba tahun ini akan mewakili ISI Denpasar pada lomba debat bahasa Inggris tingkat nasional NUDC (National University Debating Championship) tahun 2017. Untuk persiapan tersebut, ISI Denpasar melalui UPT Lab.Bahasa menyediakan kursus gratis bagi mahasiswa. Pihaknya berharap semua mahasiswa dapat memanfaatkan kesempatan dan fasilitas yang ada untuk peningkatan kemampuan berbahasa Inggris mereka.
by admin | Jul 28, 2016 | Artikel
Kiriman : Kadek Suartaya (Dosen Program Studi Pedalangan FSP ISI Denpasar)
Abstrak
Globalisasi membawa dampak yang besar dalam berbagai aspek kehidupan penghuni jagat ini, termasuk pada masyarakat Bali dan keseniannya. Kesenian Bali tidak lagi hanya diperuntukan untuk persemabahan belaka namun juga dipertontonkan kepada wisatawan. Berkembanglah kemudian yang oleh J. Maquet (1971) disebut art by metamorphosis atau seni yang telah mengalami perubahan bentuk dan art of acculturation atau seni yang telah diakulturasikan sesuai dengan selera para pelancong.
Kata kunci: globalisasi, seni, perubahan
Sebagai bagian dari kebudayaan, kesenian adalah salah satu perlengkapan manusia dalam memenuhi kehidupannya. Bagi manusia, seni merupakan ungkapan estetik untuk memenuhi kepuasan batinnya. Seni juga dianggap mampu memanusiakan manusia, sebab seni dipercaya mampu membuat manusia arif, memperhalus budi pekerti, mendekatkan manusia bukan saja kepada sesamanya namun juga kepada yang menciptakan kehidupan itu sendiri.
Dunia seni adalah juga merupakan aktualisasi dari gagasan-gagasan manusia sebagai makhluk sosial. Karena itu, karya seni tak mungkin sepi dari apa yang ingin diungkapkan manusia (seniman) akibat konsekuensinya serta interaksinya dengan kehidupan sosial budaya yang melatarinya. Dan lebih jauh lagi, dunia ide atau gagasan-gagasan sang seniman yang disebut karya seni itu sebenarnya merupakan aktualisasi dan bahkan kristalisasi dari gagasan-gagasan yang hidup dalam masyarakat dengan warna kebudayaan tertentu.
Harkat sebuah bangsa sering diukur dari tinggi rendah seni budayanya. Sebab pada kenyataannya bahwa kualitas seni budaya adalah ekspresi dan manifestasi dari tata nilai, prilaku dan pola berpikir masyarakat. Atau keluhuran produk seni budaya tak laindari kristalisasi dari citra budaya sebuah komunitas. Begitu trategisnya kedudukan kesenian sebagai pilar penyangga atau identitas sebuah bangsa, sehingga sejak dulu mendapat perhatian dari penguasa.
Selengkapnya dapat unduh disini
by admin | Jul 27, 2016 | Berita
Jumat 22 Juli 2016 diselenggarakan Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh Mahasiswa Program Pascasarjana (S2) Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Angkatan 2015 bertempat di Lantai 2 Gedung Citta Kelangen ISI Denpasar. Seminar nasional kali ini berjudul “Menggali Tradisi dalam Digiculture” dan dihadiri oleh tamu undangan, seniman, dosen, dan juga mahasiswa S2 ISI Denpasar. Acara seminar diawali oleh laporan dari Ketua Panitia kemudian disusul dengan sambutan direktur Pascasarjana ISI Denpasar (Dr. I Ketut Sariada, SST., M.Si). Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari Rektor ISI Denpasar (Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.SKar., M.Hum) sekaligus membuka secara resmi acara Seminar Nasional tersebut. Pelaksanaan seminar nasional ini dilatarbelakangi oleh perkembangan teknologi digital yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir dan telah memberikan pengaruh secara signifikan atas proses berkesenian, penyajian, dan cara menikmati hasil kesenian yang dilakukan oleh seniman dan masyarakat.
Kehadiran teknologi digital di tengah aktivitas kreatif manusia pun pada titik kulminasi eksperimentasi teknologi pada kenyataannya berkorelasi dengan ketercapaian tingkat peradaban manusia, di mana perangkat “teknologi digital” telah menggeser pemahaman “logika matematis” konvensional. Pada tingkatan ini capaian teknologi digital pada gilirannya mampu menghadirkan satu realitas baru berupa munculnya istilah digi-culture atau ‘budaya digital’.
Adapun fokus Seminar Nasional ini mengarah pada persoalan atas fenomena digi-culture. Di antaranya :
- Apakah sesungguhnya budaya digital dan Bagaimana wujud perilaku digital?
- Bagaimanakah cara pelaku seni dalam mengoptimalkan idenya di era teknologi digital, termasuk juga bagaimana menggali nilai tradisi dan mengkonservasinya dalam konteks budaya digital?
- Secara praktis, seperti apakah proses terjadinya kolaborasi antara budaya digital dengan seni tradisi, pengetahuan dan kearifan lokal, serta bagaimana respon masyarakat terhadap tantangan budaya digital?
Untuk menjawab ketiga permasalahan tersebut, seminar nasional ini menghadirkan dua orang penyaji dan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dibawakan oleh Prof. M. Dwi Marianto, M.FA., Ph.D. (Guru Besar Seni Rupa dari ISI Yogyakarta). Dalam presentasinya yang berjudul “Menjadi Subjek, bukan Objek, dalam Digiculture”, ia membahas tentang pengaruh teknologi terhadap kebudayaan dimana gairah untuk memakai dan memiliki gadget begitu besar, mengakibatkan perubahan dalam keseharian, memengaruhi selera dan pola tingkah-laku, memberi kemudahan, sekaligus ekses budayanya. Teknologi-teknologi media digital telah secara nyata mengubah cara-cara manusia berinteraksi dan mengaktualisasi diri, budaya seperti itulah yang kemudian disebut dengan “digital culture”. Dalam presentasinya ia juga memberitahu kiat-kiat dalam menyikapi realita ini, dan mengambil pelajaran dan hikmah dari hal tersebut.
Sesi berikutnya kemudian dilanjutkan oleh pembicara kedua, yaitu Prof. Dr. Sri Hastanto. S.Kar. (Guru Besar Etnomusikologi dari ISI Surakarta). Dalam presentasinya yang berjudul “Mengorbitkan Local Wisdom dalam Musik Nusantara dengan Memanfaatkan Teknologi Digital” ia membahas tentang pengaruh teknologi digital terhadap musik nusantara. Bagaimana menyikapi secara bijak dalam menghadapi globalisasi termasuk teknologi digital serta memanfaatkan kearifan lokal sebagai perisai yang paling ampuh dalam menangkal globalisasi dan juga merupakan senjata yang paling efektif dalam mempertahankan bahkan mengibarkan jati diri kita di mata dunia.
Seminar Nasional ini diharapkan dapat digunakan sebagai salah satu modal untuk menyambut era MEA terutama di bidang inovasi artistik berbasis pada pemanfaatan teknologi digital guna meningkatkan potensi Ekonomi Kreatif khususnya di bidang seni.
by admin | Jul 27, 2016 | kegiatan
Pameran Seni Murni HarmoniCreation
