M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Taksu Seni Budaya Mewujudkan Ajeg Bali

Kiriman : Dr. Kadek Suartaya, S.S.Kar., M.Si (Dosen Fakultas Seni Pertunjukan )

Abstrak

Berkesenian adalah keseharian masyarakat Bali.  Menabuh gamelan, menari, melukis, menembang adalah rutinitas yang mengasyikkan dan dilakoni dengan suka  cita oleh orang Bali. Di pulau ini kesenian adalah persembahan, ibadah  dan sekaligus ekspresi estetik. Taksu seni budaya Bali memiliki kontribusi penting pada ajeg lestarinya peradaban Bali.

Kata kunci: Seni, Budaya, Ajeg Bali

Selengkapnya dapat unduh disini

Taksu Seni Budaya Mewujudkan Ajeg Bali

Kiriman : Dr. Kadek Suartaya, S.S.Kar., M.Si ( Dosen Seni Pertunjukan ISI Denpasar )

Abstrak

Berkesenian adalah keseharian masyarakat Bali.  Menabuh gamelan, menari, melukis, menembang adalah rutinitas yang mengasyikkan dan dilakoni dengan suka  cita oleh orang Bali. Di pulau ini kesenian adalah persembahan, ibadah  dan sekaligus ekspresi estetik. Taksu seni budaya Bali memiliki kontribusi penting pada ajeg lestarinya peradaban Bali.

Kata kunci: Seni, Budaya, Ajeg Bali

Selengkapnya dapat unduh disini

Patung Empu Seni Karawitan I Wayan Beratha di ISI Denpasar

Patung Empu Seni Karawitan I Wayan Beratha di ISI Denpasar

Masih ingat dengan maestro ? Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha meresmikan patung Mpu Seni Karawitan Bali I Wayan Beratha di kampus setempat, Rabu (14/2). Sosok maestro seni karawitan itu sengaja diletakan di lobby sebuah studio karawitan, sehingga bisa dijadikan sumber inspirasi dalam mempelajari serta melestarikan kesenian Bali. Bahkan nama

Masih ingat dengan maestro ? Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha meresmikan patung Mpu Seni Karawitan Bali I Wayan Beratha di kampus setempat, Rabu (14/2). Sosok maestro seni karawitan itu sengaja diletakan di lobby sebuah studio karawitan, sehingga bisa dijadikan sumber inspirasi dalam mempelajari serta melestarikan kesenian Bali. Bahkan nama studio itupun di beri nama Studio Karawitan I Wayan Beratha.

Prof. Arya mengatakan, pada tahun 2012 ISI Denpasar menetapkan I Wayan Beratha sebagai Mpu Seni Karawitan Bali, seorang tokoh yang memiliki karya-karya mendumental, dedikasi serta melahirkan karya-karya seni yang menginspirasi. Sebagian besar dosen ISI Denpasar merupakan murid beliau, sehingga patut disyukuri. “Kami menyambut baik pembuatan patung ini sebagai bentuk penghargaan terhadap Bapak I Wayan Beratha yang telah banyak melahirkan karya-karya mendumental,” katanya.

elaku pimpinan lembaga, jelas Prof. Arya, dirinya merasa I Wayan Beratha adalah ahli dibidang ilmu seni pertunjukan khususnya dalam bidang seni tabuh, sehingga salah satu gedung itu diberi nama I Wayan Beratha. “Fakultas Seni Pertunjukan khususnya jurusan karawitan memiliki laboratorium yang presentatif sebanyak 4 lokal yang cukup canggih dengan alat peredam lengkap dengan fasilitas. Nh, di salah satu lobby gedung itulah patung I Wayan Beratha ditempatkan, sekaligus gedung ini diberi nama Gedung Karawitan I Wayan Beratha,” ucapnya.

Tujuannya, lanjut Prof. Arya, mahasiswa karawitan akan bergelut setiap hari disini. Baik belajar karawitan, pratek, dan sejarah karawitan maka tak bisa lepas dari sosok I Wayan Beratha. Demikian pula belajar komposisi, membuat komposisi karawitran, teori karawitan juga akan belajar dari sosok I Wayan Bertaha. “Mahasiswa sekarang banyak yang tak tahu sosok I Wayan Beratha, nah, lewat patung ini mereka bisa belajar,” paparnya.

Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, MA, mengatakan, I Wayan Beratha sempat mendapat penghargaan Siwa Nataraja dan dikukuhkan sebagai Mpu Seni Karawitan Bali oleh ISI Denpasar. Disamping seorang maestro, maka memberikan penghargaan dengan memberi nama sudio ini I Wayan Beratha. “Anak-anak sekarang belum pernah melihat beliau, namun tahu karyanya, maka lewat patung ini mereka bisa mengetahui sosok Mpu Karawitan itu. Adanya patung ini tentu mereka akan mengetahui seperti inilah serniman alam, pekerja keras dan sangat disiplin itu. Jujur, idola saya adalah ayah saya,” terang putri I Wayan Beratha ini. 

Yudisium VIII Program Pascasarjana S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni ISI Denpasar

Yudisium VIII Program Pascasarjana S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni ISI Denpasar

I Made Bayu Pramana, fotografer yang juga dosen Insitut Seni Indonesia (ISI) Denpasar meraih IPK tertinggi pada program Pengkajian Seni (S2) dengan nilai IPK 3.88. Hal tersebut terungkap pada acara Yudisium ke VIII Semester Ganjil Tahun Akademik 2017/2018 Program Pascasarjana S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni ISI Denpasar, Selasa (13/2). Selain Bayu Permana, lulusan IPK terbaik

I Made Bayu Pramana, fotografer yang juga dosen Insitut Seni Indonesia (ISI) Denpasar meraih IPK tertinggi pada program Pengkajian Seni (S2) dengan nilai IPK 3.88. Hal tersebut terungkap pada acara Yudisium ke VIII Semester Ganjil Tahun Akademik 2017/2018 Program Pascasarjana S2 Penciptaan dan Pengkajian Seni ISI Denpasar, Selasa (13/2).

Selain Bayu Permana, lulusan IPK terbaik juga diraih oleh Ni Putu Emilika Budi Lestari jurusan TV Film, dengan IpK 3.83, disusul I Wayan Adi Putra Yasa jurusan,  DKV dengan IPK 3.79. Kali ini, Program S2 Pasca Sarjana ISI Denpasar meluluskan 7 orang karya siswa dari tahun 2013-2018.

Ketua Program Pasca Sarjana S2 ISI Dr I Ketut Sariada mengatakan, yudisium tahun ini merupakan semester ganjil tahun 2018 diikuti oleh 7 orang karya siswa dari tahun 2013-2018 Program Studi Penciptaan dan Pengkajian Seni (S2). Mereka merupakan mahasiswa terbaik. Dengan begitu, Program Pascasarjana ISI Denpasar telah memiliki 161 Wisudawan. “Perkuliahan ini ditempuh minimal 4 Semester (2 Tahun) maksimal 8 Semester (4 Tahun),” ucapnya.

Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha mengatakan, yudisium adalah proses akademik yang menyangkut penerapan nilai dan kelulusan mahasiswa. Yudisium juga berarti pengumuman nilai kepada mahasiswa sebagai proses penilaian akhir dari seluruh matakuliah yang telah diambil mahasiswa. Dan penetapan nilai dalam bentuk transkrip akademik, serta memutuskan lulus atau tidaknya mahasiswa dalam menempuh studi selama jangka waktu tertentu. “Semua persyaratan Yudisium wajib ditaati oleh seluruh peserta Yudisium,” imbuhnya.

Dalam suasana sumringah itu, Bayu Permana mengaku bahagia dengan capaian itu. Hal itu juga menjadi tantangan sebagai seorang fotografer sekaligus dosen. Belajar dan belajar lagi terutama menulis seni yang menjadi keharusannya. “Saya akan lebih banyak belajar menulis tentang seni, fotografer seni, termasuk mengkritisi seni. Apalagi di Bali orang yang menekuni kritik seni sangat jarang, bahkan khususnya fotografi belum ada sama sekali menjadi kritik seni fotograger,” ucapnya.

Loading...