M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

BOROBUDUR CARTOONIST FORUM 2 PAMERAN KARTUN ABAD VISUAL

Kiriman : I Wayan Nuriarta (Program Studi Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar)

Abstrak

Borobudur Cartoonist Forum 2 (BCF 2) merupakan salah satu acara yang menghadirkan ratusan karya kartun. Acara yang berlangsung 22-23 September 2018 di Bumayasasta Boutique Art Gallery, Borobudur Jawa Tengah menghadirkan karya kartun yang berasal dari berbagai Negara. Adapun kegiatan selama BCF 2 adalah pameran kartun, seminar, diskusi dan lomba kartun. BCF 2 menghadirkan dua narasumber yaitu budayawan Erros Djarot dan seniman Heri Dono. Eros Djarot dalam paparannya mengatakan bahwa kartun memiliki peranan penting dalam paradigma perumusan strategi kebudayaan untuk membangun manusia yang lebih beradab dan berbudaya. Seniman Heri Dono melihat karya kartun sebagai sebuah karya seni (fine art). Karya-karya kartun baginya adalah karya seni yang juga mendapat ruang istimewa bagi penikmat. Ia mencontohkan karya-karyanya yang selama ini dikenal publik sebagai karya seni adalah sebuah karya kartunal. Kartun merupakan karya seni yang bernarasi yang mampu menghadirkan fakta sosial yang rumit secara sederhana kepada masyarakat. Dengan adanya fakta sosial ini, masyarakat diajak untuk berpikir reflektif dan kreatif dalam melihat persoalan.

Kata Kunci: Kartun, Abad Visual, Borobudur Cartoonist Forum 2

Selengkapnya dapat unduh disini

LUKISAN NYOMAN GUNARSA DI PUSAT DOKUMENTASI SENI ISI DENPASAR

Kiriman :I Wayan Nuriarta (Ps. Desain Komunikasi Visual Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar)

Abstrak

Gunarsa adalah seniman Bali asal Klungkung, ia melakukan penggalian nilai dan spirit yang terkandung dalam entitas budaya dan seni tradisional Bali pada lukisannya. Pada konteks ini, Gunarsa juga menyerap seni modern fine art (seni murni) melalui bangku akademis. Gunarsa melahirkan estetika ”baru” dari penggabungan kaidah-kaidah modern dengan nilai-nilai tradisi Bali. Karya-karya Gunarsa dengan kesadaran kuat mengangkat ikon-ikon ke-Bali-an kerap dibaca sebagai bentuk transformasi seni rupa tradisional Bali menuju seni rupa Bali modern. Gunarsa mengasah daya kreativitas berkeseniannya di ISI Yogyakarta pada tahun 1960 sampai 1967. Meminjam kebebasan gerak pada Action Painting Amerika, Gunarsa mengisi kanvasnya dengan goresan kuas membentuk figur penari. Gunarsa tidak bisa lepas dari spirit ke-Bali-annya dalam berkarya. Karyanya yang menunjukan Tiga Figur Penari dapat kita saksikan di Pusat Dokumentasi (Pusdok) Seni Lata Mahosadhi Institut Seni Indonesia Denpasar (ISI Denpasar). Karyanya tersebut tersimpan lama di Pusdok ISI Denpasar. Dalam karyanya, nilai-nilai tradisi mendapat ruang baru dalam interpretasinya. Berdasarkan pengamatan terhadap karya-karya Nyoman Gunarsa, dapat dirumuskan bahwa dua nilai yaitu; nilai tradisional dan modern berjalan beriringan dalam proses kreativitasnya. Kondisi ini yang membedakan karya-karyanya dengan modernitas di Barat. Karya-karya Gunarsa menampilkan fenomena modernitas yang berbeda dalam seni rupa Bali, nilai tradisi justru dikemas oleh Gunarsa dengan bahasa rupa modern yaitu gaya figuratif ekspresif, sebuah penyatuan dalam paradigma modern.

Kata Kunci: Lukisan, Gunarsa, Tradisi, Modern

Selengkapnya dapat unduh disini

 

Joged Pingitan Desa Pengosekan Direkonstruksi

Joged Pingitan Desa Pengosekan Direkonstruksi

Joged Pingitan Desa Pengosekan Direkonstruksi.

Komitmen ISI Denpasar Selamatkan Tradisi Langka 

Koordinator Pusat Pengabdian Kepada Masyarakat LP2MPP Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Dr. I Ketut Muka P. M.Si., mengatakan, pihaknya tengah melakukan upaya rekonstruksi terhadap kesenian yang hampir punah yakni Joged Pingitan di Desa Pengosekan, Kecamatan Ubud, Gianyar. Kegiatan rekonstrsuksi dimulai sejak Maret dan ditargetkan rampung Agustus 2018.

ISI Denpasar, kata Muka, ikut terlibat dalam pelestarian dan pemajuan kesenian Bali. Salah satu upaya strategis yang dilakukan adalah melakukan rekonstruksi kesenian langka atau yang hampir punah yang ada di masyarakat. Untuk Joget Pingitan yang menjadi obyek rekonstruksi adalah tari, tabuh dan kostum, dengan menggunakan metode observasi, ceramah, diskusi, pelatihan, pementasan, selanjutnya tahap evaluasi, dan dokumentasi.

“Merupakan kewajiban ISI Denpasar merekonsstruksi seni pertunjukan tradisi seperti ini agar tidak terlanjur punah,” kata Muka di sela pembukaan rekonstruksi di Banjar Pengosekan, Desa Mas, Ubud, Jumat (11/5) lalu. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat (pengabmas) ini, diharapkan para dosen, mahasiswa, alumni dan tokoh seni dapat membantu masyarakat melakukan rekonstrsuksi seni pertujukan tradisi, sekaligus melakukan penelitian yang selanjutnya dapat dikembangkan dalam proses belajar mengajar di kampus.

Dalam kesempatan yang sama, Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Gede Arya Sugiartha, S.S.Kar., M.Hum memaparkan, rekonstruksi adalah program unggulan lembaga yang dipimpinnya. Setiap tahun, ia mengaku berusaha menyelenggarakan rekonstruksi di sejumlah daerah di Bali yang bertujuan untuk mengimbangi semaraknya lahirnya garapan baru.

“Garapan baru sangat marak. Ada yang sudah yang bisa dinikmati, namun parahnya banyak juga yang arahnya tidak jelas,” kata Arya. Untuk itu, perlu dilakukan penggalian dan pelestarian (rekonstruksi) terhadap kesenian yang hampir punah. Jika sudah terlanjur punah, diakui sangat susah untuk merekonstruksi kembali. “Daya ingat para sesepuh, akan kami padukan dengan kemampuan dosen untuk merekonstruksi. Kalau tiang baca di Lontar Tutur Catur Muni-muni, Joged Pingitan ini salah satu kesenian istana, selaini Semar Pegulingan, Pelegongan, dan bebarongan,” imbuh dia didampingi Humas I Gede Eko Jaya Utama, SE., MM. 

Kadis Kebudayaan Kabupaten Gianyar I Gusti Ngurah Wijana mengaku menyambut baik kegiatan yang dimotori LP2MPP ISI Denpasar tersebut. menurutnya, di sejumlah desa di Gianyar juga memiliki joged serupa, namun pihaknya mengarahkan rekonstruksi di Pengosekan didasari atas nilai kesakralan. “Kami dengar di Desa Payangan juga ada (Joget Pingitan) tapi kami pilih di Pura Taman Limut, Duwen Ida Betrara iriki,” katanya sembari mengucapkan terimakasih atas komitmen ISI Denpasar dalam upaya pelestarian. 

Hal senada disampaikan Kelian Pemaksan Pura Taman Limut I Nyoman Narda. Selaku ‘tuan rumah’ pihaknya siap membantu, mendukung dan memfasilitasi segala hal yang diperlukan selama proses rekonstruksi berlangsung hingga masuk ke tahap akhir. 

Menurutnya, menjaga tradisi warisan leluhur yang sakral adalah suatu kewajiban bersama. Ia pun mengajak seluruh pihak untuk berdoa supaya segala tujuan dilancarkan oleh Ida Sesuhunan. “Pinaka krama titiang ngaturang suksesmaning manah. Domogi Joged Pingitan Duwen Ida Betara iriki nenten punah. (Selaku warga saya mengucapkan terimakasih. Semoga Joged Pingitan yang sakral ini tidak punah),” pungkas Narda.

Loading...