M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

“Karta Mandala” Pameran Ilustrasi Bali Mahasiswa DKV ISI Bali

“Karta Mandala” Pameran Ilustrasi Bali Mahasiswa DKV ISI Bali

Ilustrasi Bali karya Mahasiswa DKV ISI Bali Dokumentasi: Nuriarta, 2026

Tema pameran “Karta Mandala” dimaknai sebagai keseimbangan konsep tradisi dan modern dalam membuat karya ilustrasi bagi mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia Bali (ISI Bali). Pameran ini berlangsung selama tiga hari (16-18 Januari 2026) yang terdiri dari pembukaan pameran, talk show, dan penutupan di Gedung Kriya Taman Budaya (art centre) jalan Nusa Indah, di sebelah selatan kampus ISI Bali.

Pembukaan Pameran Pamean ini dibuka oleh Kordinator Program Studi (Korprodi) DKV, Gede Bayu Segara Putra, S.Ds., M.Sn. Bayu Segara sebagai Korprodi sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa yang aktif melakukan pameran ilustrasi. Pembukaan pameran yang berlangsung di halaman depan gedung Kriya juga dihadiri oleh Kepala Seksi Penyajian dan Pengembangan Seni, I Gede Arum Gunawan, S.Ag., M.Ag (mewakili Kepala UPT Taman Budaya), pembimbing matakuliah Ilustrasi Bali, dosen DKV, peserta pameran dan umum. Pembukaan pameran dihadiri oleh lebih dari 70 orang dari berbagai kalangan seperti mahasiswa ataupun masyarakat umum.

Foto bersama mahasiswa DKV, Dosen DKV, Korprodi DKV, dan perwakilan Taman Budaya (kiri), Mengapresiasi karya mahasiswa di ruang pamer (kanan) Dokumentasi: DKV-B, 2026

Pameran ini diikuti oleh 37 mahasiswa DKV yang mengambil matakuliah Ilustrasi Bali, dengan menghadirkan karya ilustrasi gaya wayang Kamasan, ilustrasi gaya wayang Ubud, dan juga karya ilustrasi yang mengangkat cerita keseharian masyarakat Bali secara tradisional. Jumlah karya yang dipamerkan sebanyak 63 karya ilustrasi dan 39 cerita bergambar. Pameran ini juga menghadirkan karya digital berupa Iklan Layanan Masyarakat (ILM) dengan teknik digital. Karya ILM tetap menghadirkan figur-figur pewayangan.

Pameran ini hadir sebagai jembatan harmonisasi antara tradisi dan inovasi. Karya-karya yang dipamerkan memperlihatkan mahasiswa DKV-ISI Bali mampu menjaga kesinambungan nilai-nilai tradisional, sekaligus membuka diri terhadap perubahan dan dialog lintas budaya. Ilustrasi tradisi Bali menjadi bukti bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang beku, melainkan entitas hidup yang terus berkembang seiring waktu. Tema kehidupan sehari-hari juga menjadi penting hadir dalam pameran ilustrasi Bali ini karena menunjukkan estetika tradisi tidak hanya hadir di ruang sakral atau dalam narasi epik, tetapi juga menyatu dalam aktivitas keseharian. Ilustrasi kehidupan sehari-hari sering kali mengadopsi prinsip visual tradisi Bali, seperti komposisi naratif, penggunaan simbol, dan penggambaran ruang yang datar namun penuh detail.  Melalui karya-karya tersebut, pencinta seni diajak untuk melihat Bali bukan sekadar sebagai destinasi wisata, melainkan sebagai ruang hidup yang sarat dengan nilai spiritual, kebersamaan, dan kesadaran akan keseimbangan alam.

Talk show

Flayer Visual Talk acara Pameran Karta Mandala Dokumentasi: DKV-B, 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 berlangsung diskusi karya di ruang pamer. Dua narasumber yang diundang hadir untuk menyampaikan kilas ilustrasi Bali yaitu Cokorda Alit Artawan, S.Sn., M.Sn. dan Dr. I Wayan Nuriarta, S.Pd., M.Sn. Cokorda Alit Artawa menyampaikan secara padat tentang kemunculan ilustrasi Bali dan I Wayan Nuriarta membahas ilustrasi dengan perspektif cultural studies. Dalam acara talkshow hadir peserta dari mahasiwa DKV dan umum. Diskusi berlangsung ramai membahas ilustrasi tentang teks visual dan narasi karya.

Pada kesempatan ini juga mahasiswa DKV-B secara aktif membahas karya masing-masing yang terpilih. Mereka menceritakan proses kreatifnya, mulai dari penemuan ide, sket awal, sampai finalisasi karya. Para pengunjung sangat antusias menyimak semua rangkaian acara.

Penutupan Pameran

Penutupan Pameran Karta Mandala Dokumentasi: DKV-B, 2026

Penutupan pameran diisi dengan acara hiburan yang mengundang mahasiswa DKV. Menurut ketua panitia kegiatan, I Putu Gading Bagus Maesha mengatakan serangkaian kegiatan ini berjalan dengan lancar. Ia berharap pameran ilustrasi tradisi Bali ini dapat memberi arti bagi pengunjung. Semoga pameran ini tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang seni rupa tradisional Bali, tetapi juga menumbuhkan rasa hormat dan tanggung jawab bersama untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya yang adiluhung. (cok alit artawan & nuriarta)

The Second Day of the Vidya–Vastu–Virya Exhibition Highlighted by Students of Craft, Interior Design, Visual Communication Design, and Photography

The Second Day of the Vidya–Vastu–Virya Exhibition Highlighted by Students of Craft, Interior Design, Visual Communication Design, and Photography

The series of events enlivening the Vidya–Vastu–Virya Exhibition concluded on the third day with Art Talks and artistic performances presented by the Student Associations of the Craft, Interior Design, Visual Communication Design (VCD), and Photography Study Programs. Each association shared engaging experiences from their respective academic journeys and presented diverse musical performances, despite being accompanied by rainfall.

The Student Association of the Craft Study Program featured two speakers, Suryawan and Naomi, both students participating in the Final Project Dissemination Exhibition of the ISI Bali Berdampak Program for the Odd Semester of the 2025/2026 Academic Year. Each speaker conveyed distinct experiences gained through collaboration with their chosen industry partners, including learning about upcycling practices and natural dyes. These experiences provided valuable insights into material processing as well as an understanding of market dynamics within the craft industry. The accompanying performance was marked by high enthusiasm, even though it required relocation and shelter due to the rain. The Craft Student Association presented a distinctive ngelawang performance; instead of traditional gamelan accompaniment, they utilized bamboo kulkul instruments they had crafted themselves. This unique and spirited performance involved more than 30 students from the Craft Study Program.

The Student Association of Interior Design presented a single speaker, Komang, who was also undertaking a Final Project. One of the most memorable experiences for him was engaging in off-studio activities, particularly conducting on-site project inspections with industry partners—experiences not typically encountered in conventional coursework. Consequently, the opportunities provided through the ISI Bali Berdampak Program were considered highly significant for the development of his professional skills and competencies as an interior designer. He emphasized the importance of mastering both two-dimensional and three-dimensional design skills, as these competencies are essential and fully applied during participation in the program. Familiarity with these tools, he noted, enables students to execute client assignments more effectively. The Interior Design Student Association concluded its segment with a pop band performance featuring songs by renowned Indonesian bands such as Sheila On 7 and Dewa 19, encouraging audience participation through collective singing.

The Student Association of Visual Communication Design featured two Final Project students and one third-semester student as speakers. One of the speakers, Candra, participated in the ISI Bali Berdampak Program in Poland, contributing to the development of the newly established Taman Bali Indah. His involvement included participation in art performances, art workshops, and branding activities. He highlighted the need for significant adaptation, particularly in terms of culture, language, and climate. The experience underscored the importance of copywriting skills, given the differing professional standards compared to those in Indonesia.

Another speaker, Dayu, undertook the ISI Bali Berdampak Program at Kenak Medika Hospital in Gianyar. Her experience was characterized by a range of unexpected and insightful activities, particularly in understanding hospital operations and management. In addition to developing branding materials, one unanticipated experience involved photographing newborn babies. “It was exciting and nerve-wracking at the same time, because it was something entirely new,” Dayu explained.

The third-semester student, Dita, shared that her decision to pursue Visual Communication Design was influenced by her parents, who recognized the potential of the discipline. Her early exposure to foundational courses such as Nirmana and Basic Visual Communication Design marked the beginning of her academic journey. Participating in exhibitions became a particularly memorable experience, especially collaborative exhibitions with the Master’s Program in Arts Management, through which she learned exhibition planning and execution. The artistic performance presented by the Visual Communication Design Student Association featured a music band performing classic international pop-rock songs.

The Student Association of Photography presented three students—Dika, Tria, and Bagus—who participated in the ISI Bali Berdampak Program, alongside a DJ performance that accompanied the audience into the evening. Each student undertook the program in different settings with distinct areas of focus, including storytelling, hospitality, and fashion modeling. While the program may not have significantly enhanced their technical skills in capturing photographs, it provided deeper learning in time management, studio lighting techniques, and marketing strategies. An unforgettable aspect of the experience involved developing independent concepts to produce high-quality photographic works, as well as confronting and learning from mistakes. “Never be excessively afraid—fear is acceptable, but always communicate with your supervisors and avoid making assumptions on your own,” Tria advised.

The Second Day of the Vidya–Vastu–Virya Exhibition Highlighted by Students of Craft, Interior Design, Visual Communication Design, and Photography

Pameran Vidya Vastu Virya Hari Kedua dimeriahkan Mahasiswa Kriya, Desain Interior, DKV dan Fotografi

Acara yang turut meramaikan Pameran Vidya Vastu Virya berakhir di hari ke-3 dengan Art Talk beserta pagelaran seni dari Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP) Kriya, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual (DKV), dan Fotografi. Masing-masing HMP berbagi pengalaman seru mereka sebagai mahasiswa di program studi masing-masing dan menghadirkan berbagai macam musik walaupun ditemani hujan.

HMP Kriya menghadirkan dua narasumber, Suryawan dan Naomi, mahasiswa yang ikut dalam pagelaran Pameran Desiminasi Tugas Akhir Program ISI Bali Berdampak Semester Gasal 2025/2026. Keduanya memiliki pengalaman yang berbeda dalam apa yang mereka kerjakan bersama mitra usaha yang dipilihnya. Di antaranya mempelajari tentang upcycling dan warna alam. Dengan begitu pengalaman tentang pengolahan material sangat berarti untuk mereka, begitu juga mempelajari pasar yang ada di dunia industri kriya. Sedangkan untuk pagelarannya sangat penuh antusiasme walaupun harus berpindah tempat dan berteduh dari kehujanan. HMP Kriya menghadirkan pagelaran ngelawang yang unik, daripada diiringi musik gamelan, mereka memakai kulkul berbahan bambu yang dibuatnya sendiri. Sehingga pagelaran ini terbilang sangat unik dan penuh semangat yang melibatkan 30-an mahasiswa Program Studi Kriya.

HMP Desain Interior menghadirkan satu narasumber, Komang, mahasiswa yang ikut dalam Tugas Akhir juga. Salah satu pengalaman yang berkesan untuknya adalah pengalaman yang keluar dari studio. Misalnya di saat ke lapangan untuk mengecek proyek bersama mitra yang tidak secara langsung didapatkan saat mengerjakan tugas kampus. Sehingga kesempatan yang didapatkannya melalui Program ISI Bali Berdampak tersebut menjadi sangat penting dalam pengembangan keahlian serta kompetensinya sebagai desainer untuk desain interior. Menurutnya jangan sampai ketinggalan dalam mendalami berbagai skill (kemampuan) desain dua dimensi maupun tiga dimensi yang harus dikuasai dalam Desain Interior karena nanti saat ikut Program ISI Bali Berdampak menjadi kesempatan untuk menggunakan semuanya. Karena dengan terbiasa menggunakannya, mahasiswa akan bisa melaksanakan tugas yang diberikan oleh client dengan lebih mudah. HMP Desain Interior lalu menghadirkan band pop yang membawakan lagu-lagu band Indonesia ternama seperti Sheila On 7 dan Dewa 19 dimana audiens tidak bisa menolak ikut bernyanyi.

HMP DKV menghadirkan dua narasumber mahasiswa yang sedang Tugas Akhir dan satu narasumber mahasiswa semester tiga. Adapun salah satu mahasiswa, Candra, yang ikut Program ISI Bali Berdampak di Polandia yang ikut dalam mengembangkan Taman Bali Indah yang baru dibangun. Disana ia ikut dalam pertunjukan seni, workshop seni, dan juga sebagai tim branding. Ada berbagai adaptasi yang harus dilalui terutama dalam budaya, bahasa serta cuaca yang berbeda. Pengalaman copywriting menjadi penting karena ada standar yang berbeda dengan di Indonesia.

Satunya, Dayu, melakukan Program ISI Bali Berdampak di Rumah Sakit Kenak Medika, Gianyar. Pengalamannya penuh hal yang menarik terutama mengetahui apa saja yang terjadi serta manajemen di dalam rumah sakit. Selain mendalami dalam membuat branding-nya, salah satu pengalaman yang tidak terpikirkan adalah sesi foto bayi yang baru lahir. “Excited, deg-degan juga, karena sesuatu yang baru,” Dayu menjelaskan.

Mahasiswa semester tiga, Dita, memilih DKV dari arahan orang tua yang melihat potensi Program Studi DKV itu seperti apa. Mengenal berbagai dasar pengembangan DKV melalui Nirmana dan DKV Dasar menjadi bagian dari mula perjalanan mempelajarinya. Pameran-pameran menjadi pengalaman yang tidak terlupakan terutama pameran berkolaborasi dengan S2 Tata Kelola Seni sehingga dapat mempelajari cara membuat pameran bersamanya. Pagelaran seni yang dihadirkan oleh HMP DKV adalah band musik yang membawakan lagu-lagu lawas pop rock luar negeri. HMP Fotografi menghadirkan tiga mahasiswa yang mengikuti Program ISI Bali Berdampak dan pagelaran DJ yang menemani audiens menembus malam. Dika, Tria, dan Bagus melaksanakan Program ISI Bali Berdampak di tiga tempat yang berbeda dengan konsentrasi yang berbeda-beda juga, di antaranya story telling,hospitality, dan fashion modelling.Skill baru dalam menangkap foto terbaik mungkin tidak didapatkan selama program berjalan tetapi skill membagi waktu, menggunakan lighting/pencahayaan dalam studio, dan marketing atau pemasaran menjadi hal-hal yang dipelajari lebih dalam. Momentum yang tidak terlupakan adalah bagaimana mengolah konsep tersendiri agar dapat menghasilkan karya fotografi yang baik, juga menghadapi serta belajar dari kesalahan yang terjadi. “Jangan pernah ngerasa takut yang berlebihan, takut boleh tetapi tetap komunikasikan dengan atasan, pokoknya jangan asumsi sendiri,” Tria berpesan.

The Second Day of the Vidya–Vastu–Virya Exhibition Highlighted by Students of Fine Arts, Animation, Film and Television Production, and Fashion Design

The Second Day of the Vidya–Vastu–Virya Exhibition Highlighted by Students of Fine Arts, Animation, Film and Television Production, and Fashion Design

Photo: The second day of the Final Project Dissemination activities of the Faculty of Fine Arts and Design at Bencingah Nata-Cita Arts Space, ISI Bali, Wednesday (14 January).

As part of the second day of Vidya–Vastu–Virya, the Visual Exhibition continued alongside a series of activities organized by various Student Associations of Study Programs (HMP) within the Faculty of Fine Arts and Design (FSRD), ISI Bali. The second day, Wednesday (14 January), was enlivened by the participation of the Student Associations of Fine Arts, Animation, Film and Television Production, and Fashion Design.

Among the highlights were a number of inspiring narratives shared by students. Representatives from the Student Associations of Fashion Design and Film and Television Production delivered Art Talks reflecting on their experiences, including discussions on creative processes, idea exploration, as well as the values of discipline and consistency cultivated through their respective fields of study.

The program also featured vocal and dance performances presented by several Fashion Design students. Anggun Kristipa, one of the participating students, shared that the event was particularly memorable. The combination of Anggun’s singing with the dances performed by her peers, Indah and Anggita, created a vibrant and emotionally engaging atmosphere. “Each performance complemented and reinforced the narrative that the world of fashion is closely intertwined with artistic expression, emotion, and the beauty of movement,” Anggun explained.

The Student Association of Fine Arts presented a live painting performance, accompanied by Art Talks featuring Final Project students as speakers. Made Chandra shared his work, which was based on his study of Wayang Kamasan painting, while Made Nova Moyo addressed pressing environmental issues that increasingly threaten global ecosystems, symbolized through the use of various materials and the bird of paradise (Cendrawasih). “In my experience, the campus becomes a negotiated laboratory—a place to question, to explore, and where prospective artists build networks by engaging with peers from diverse backgrounds, including alumni of SMSR,” Chandra noted.

Both speakers emphasized that opportunities offered through the ISI Bali Berdampak Internship and Independent Study programs are rare and invaluable, particularly for Moyo, who is determined to finance his own education. Internship placements were described as bridges to professional life beyond campus, while also fostering personal growth among students. “One word: ngelindeng—for art students, without ngelindeng there is no freedom, only stagnation. Build friendships and networks; it will work out,” Moyo advised.

From the Student Association of Animation, the program featured an acoustic music performance, as well as an Art Talk involving third-semester student Caleb Nikao Hutabarat and first-semester student Putu Bagus Mas. They discussed the growing interest in the Animation Study Program, driven by the expanding animation film industry in Indonesia. Early exposure to animated series such as Boboiboy and Upin & Ipin inspired their curiosity about animation production. “I thought, why not become one of the people behind the scenes who can translate imagination into cartoons or animation,” Bagus Mas shared.

Despite challenges related to time management and maintaining continuous communication throughout animation production processes—from pre-production to post-production—Caleb and Bagus Mas expressed confidence that the tasks and skills they are developing will prove valuable in the future. “My message is to keep improving yourself, don’t be overly affected by mood swings, continue creating, and strive to become someone who makes a positive impact in the future,” Caleb concluded.

Loading...