DENPASAR- Prosfisi adalah Perkumpulan Program Studi Televisi dan Film Indonesia yang berperan aktif dalam pengembangan program studi film dan televisi; pembangunan pendidikan dan ilmu pengetahuan, serta kemasyarakatan. Sebanyak 21 Universitas/Institut/Sekolah Tinggi yang memiliki program studi film dan televisi bergabung guna memperbincangkan, mengkaji hingga merumuskan isu-isu strategis dan aktual bidang film dan televisi dalam realisasi ranah pendidikan, penelitian dan pengabdian.
Kali pertama Program Studi Produksi Film dan Televisi, Fakultas Seni Rupa dan Desain FSRD ISI Denpasar akan menjadi tuan rumah dalam perhelatan nasional yaitu Kongres Perkumpulan Program Studi Televisi dan Film Indonesia (PROSFISI), yang diselenggarapan pada Senin, 23 Oktober hingga Selasa 24 Oktober 2023. Sebanyak 40 delegasi dari perwakilan masing-masing perguruan tinggi menyatakan kehadirannya dalam Kongres Prosfisi ini. Menurut Ketua Prosfisi Gerzon R. Ayawaila, M.Sn., agenda kongres adalah laporan pertanggungjawaban Pengurus PROSFISI Periode 2019-2023; Penandatanganan MoU Kerjasama antar kampus; rencana penyusunan LAM; Pemilihan kepengurusan baru periode 2023-2027; yang diakhiri dengan penyampaian visi dan misi kepengurusan baru.
Ketua Program Studi Produksi Film dan Televisi, FSRD ISI Denpasar, I Nyoman Payuyasa, S.Pd., M.Pd mengungkapkan rasa terimakasih telah berkenan menjadikan ISI Denpasar sebagai tuan rumah Kongres Prosfisi ini. Pihaknya sangat menyambut baik dan hangat akan penyelenggaraan kongres ini di Pulau Dewata Bali. Sebagai Ka. Prodi berharap momentum ini akan menjadi langkah untuk berbagi wawasan dan permasalahan yang terjadi dalam pengelolaan prodi di masing-masing perguruan tinggi, untuk nantinya menemui solusi terbaik bagi pemajuan Pendidikan bidang tv dan film ditengah dominasi media digital saat ini.
PROGRAM Studi Seni Kriya, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar (Bali) menggelar Pameran Kriya Internasional. Pameran bertajuk Raka Tirtha Sadha (Kemuliaan Mengalir dalam Kreativitas) dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Drs. Anak Agung Gde Rai Remawa, M.Sn dan Kepala Museum Puri Lukisan Ir Tjokorda Bagus Astika di Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali, Minggu, 15 Oktober 2023.
Ketua panitia Pameran Kriya Internasional, Dr. Drs, I Wayan Suardana. M.Sn., dalam sambutannya memaparkan pameran menghadirkan karya sejumlah seniman kriya dari berbagai daerah di Indonesia dan tiga negara sahabat, yakni Swiss, Belanda dan Kenya. Pameran merepresentasi beragam karya, mulai dari relief, keris, tatah kulit, gerabah, keramik, batik, rajut, makrame, fashion dan seni tekstil lainnya, terlibat juga karya seni prasi dengan media daun rontal, hingga eksplorasi assembling barang bekas (ready made).
Karya kriya yang dipamerkan mencerminkan kemahiran dan prinsip-prinsip konvensional yang melekat pada medium yang digunakan. Prinsip-prinsip tersebut melibatkan pemahaman tentang bahan, teknik, dan unsur-unsur yang membentuk representasi dalam karya seni. Pameran ini akan memberikan pengalaman visual yang memanjakan. karya seni kriya yang dipamerkan ini bisa dinikmati oleh sebanyak mungkin orang.
Foto: Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni, Dr. Drs. Anak Agung Gde Rai Remawa, M.Sn dan Kepala Museum Puri Lukisan Ir Tjokorda Bagus Astika membuka Pameran Kriya Internasional di Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali, Minggu (15/10).
Kurator pameran, dosen Prodi Seni Rupa dan Desain, Fakultas Teknik, Universitas Negeri Gorontalo, I Wayan Sri Yoga Parta, S.Sn., M.Sn menjelaskan karya-karya kriya dalam pameran ini menunjukkan basis penguasaan skill masih setia diusung perupa, baik dari disiplin bidang khusus seni kriya, maupun dari disiplin lain disertai dengan kaidah-kaidah konvensi medium tersebut. Kaidah-kaidah yang terkait dengan konvensi medium meliputi, material, teknik dan karakteristik representasi karya seni yang dihasilkan.
Dia menambahkan, kriya sebagai suatu seni konvensional memberikan pengalaman fisik atau indrawi yang mungkin akan tergantikan seiring dengan perkembangan teknologi. Sehingga, pameran ini akan menjadi pengalaman tak ternilai bagi masa depan seni secara umum. “Dalam konteks itulah saya melihat karya-karya yang dihadirkan dengan kesungguhan ini dapat menjadi daya tawar tersendiri untuk mengintrupsi wacana kontemporer yang tidak sarat nilai,” ujarnya.
Total 35 seniman kriya menyuguhkan karyanya dalam pameran ini. Mereka terdiri dari 3 seniman kriya mancanegara, Brigitte Djie asal Belanda, Neha Ghai asal Kenya, dan Suzan Isabel Kohlik asal Swiss. 32 seniman Indonesia, Arif Suharson, Husen Hendriyana, I Gede Sukarya, I Wayan Sudana, Kelompok Operasi, Kuntadi Wasi Darmojo, Nandang Gumelar Wahyudi, Ni Wayan Penawati, Rahayu Adi Prabowo, Saftiyaningsih Ken Atik, Samsul Arifin, Sutriyanto, I Gusti Ngurah Agung Jaya CK, I Made Berata, I Made Gede Arimbawa, I Made Jana, I Made Mertanadi, I Made Sumantra, I Made Suparta, I Nyoman Dana, I Nyoman Laba, I Nyoman Ngidep Wiyasa, I Nyoman Suardina, I Wayan Dedy Prayatna, I Wayan Mudra, I Wayan Suardana, Ida Ayu Gede Artayani, Ketut Muka Pendet, Mercu Mahadi, Ni Kadek Karuni, Ni Made Rai Sunarini, dan Nyoman Ayu Permata Dewi. (ISIDps/Humas)
Foto: Karya yang dipamerkan dalam Pameran Kriya Internasional di Museum Puri Lukisan, Ubud, Bali, Minggu (15/10)