M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Seni Kriya Dalam Ekonomi Kreatif

Seni Kriya Dalam Ekonomi Kreatif

Karya Kriya Seni

Karya Kriya Seni

Oleh: I Made Sumantra. Kriya (craft) merupakan salah satu nomenklatur dalam kreatif ekonomi, adapun pengertian ekonomi kreatif yaitu: “ Creative economy where the major inputs and outputs are ideas” demikian John Howkins dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money From Ideas. Ide adalah suatu komediti yang dapat dieksplorasi dengan tiada habisnya. Manusia dengan akal budinya disertai kreativitas yang ditempatkan dalam lingkungan yang kondusif akan mampu menghasilkan produk-produk kreatif bernilai ekonomi. Bidang-bidang yang mencangkup dalam koridor ekonomi kreatif terdapat di dalamnya craft (kriya).

Souvenir dan kriyawan merupakan salah satu mata rantai penting industri pariwisata. Hal ini dapat dilihat pada sentral-sentral seni kriya di Bali di mana telah menjadi bagian penting mata rantai kunjungan wisata ke Bali.

Belanja souvenir di Bali menjadi motivasi utama, 30-40% penjualan produk merupakan interaksi langsung dari kunjungan wisatawan/ pembelian retail, sementara 60-70% adalah produk ekspor (wholesale). Produk-produk kriya Bali telah menjadi elemen penunjang interior dan eksterior fasilitas kepariwisataan (hotel, rumah makan, taman kota, pusat Spa, kesehatan, dan sebagainya), baik di kota-kota lain di Indonesia maupun di luar negeri.

Melihat potensi kekayaan seni kriya Indonesia yang begitu tinggi menjadi sangat penting untuk dikembangkan menjadi kontributor utama dalam era ekonomi kreatif ini. Karena dari semua nomenklatur ekonomi kreatif yang ada seni kriya tidak tergantung pada teknologi tinggi baik perangkat keras maupun perangkat lunak yang mahal harganya. Seni kriya sangat sesuai dengan kondisi sosial-budaya Indonesia dan dapat mendorong penigkatan ekonomi kerakyatan. Industri kriya dapat dikembangkan secara padat karya sehingga dapat memberikan pekerjaan kepada masyarakat.

Makin menyusutnya sumber daya alam diperlukan suatu kearifan dalam mengolah alam dan cara-cara lain untuk memutar roda perekonomian bangsa Indonesia. Salah satu cara yaitu menerapkan ekonomi kreatif sebagai sumber perekonomian. Pengembangan seni kriya dapat dijadikan suatu model ekonomi kreatif di Indonesia. Seni kriya dapat dilakukan dengan memanfaatkan materi dari alam maupun sentetis. Dengan eksplorasinya material dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin bahkan dari limbah sekalipun dapat dihasilkan produk kriya.

Namun dalam penembangan kriya ini, terdapat beberapa permasalahan baik pada produk, pemasaran, SDM maupun sektor pariwisata itu sendiri. Di mana untuk produk ada beberapa kasus, produk kriya dirasakan kurang menarik karena bentuknya yang berat dan rentan terhadap kerusakan/ patah. Kriyawan seringkali kurang memperhatikan display produk untuk menarik konsumen (produk kebanyakan ditata seadanya). Seringkali ditemukan, bahwa kemasan produk kriya untuk ritail masih rendah, belum memperhatikan unsur kemudahan, keamanan, estetika, yang bisa meningkatkan nilai jual produk. Interaksi dengan industri sekala besar/ekspor dan permintaan pasar menjadikan bentuk dan ragam hias produk lokal banyak dipengaruhi oleh unsur luar, sehingga kehilangan kekhasannya.

Sebelum berbicara pasar, harus dilihat terlebih dahulu sejauh mana daya saing produk seni kriya Indonesia di pasar domestik maupun internasional. Ada beberapa masalah menyangkut daya saing produk kriya Indonesia antara lain: masalah disain, masalah Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan masalah pemasaran.

Selengkapnya Seni Kriya Dalam Ekonomi Kreatif:

Local Content Dalam Karakter DKV Untuk Membangun Keunggulan Budaya Lokal

Oleh: I Nengah Sudika Negaradan Ida Bgs. Kt. Trinawindu

Bali merupakan daerah pariwisata yang sudah terkenal di seluruh dunia. Untuk memperkenalkan berbagai obyek wisata yang ada di Bali diperlukan media informasi yang memadai, salah satu media tersebut adalah media desain komunikasi visual. Unsur pembentuk desain komunikasi visual terdiri dari teks/huruf, ilustrasi/gambar dan warna. Dari unsur tersebut dapat ditampilkan berbagai budaya Bali sebagai local content media komunikasi visual sehingga budaya kita dapat lebih dikenal. Dengan menampilkan local content dalam unsur media tersebut setidaknya kita ikut berpartisipasi membangun Bali dari sisi budaya dan diharapkan tercipta keunggulan budaya lokal.

Selama ini upaya untuk menampilkan local content dalam media desain komunikasi visual sudah ada, kita sudah upayakan mulai dari bidang akademis yaitu di lembaga institusi ISI Denpasar telah diupayakan dengan megarahakan tugas-tugas perancangan desain komunikasi visual untuk menampilkan budaya lokal sehingga nantinya tercipta desain-desain yang menampilkan budaya Bali, apapun tema/kasus  yang diangkat (sosial/kampanye atau komersial) diupayakan mengandung unsur lokal. Tetapi kalau kita lihat di lapangan media komunikasi visual yang berupa iklan, baliho, poster, dan lain-lain sangat terbatas menampilkan budaya lokal, lebih banyak menampilkan budaya luar Bali bahkan masih banyak yang menampilkan budaya dari luar negeri, sehingga tidak mendukung keunggulan lokal Bali. Salah satu penyebabnya adalah, Bali hanya sebagai tempat beredarnya media tersebut, artinya media tersebut diproduksi di luar Bali dan bukan oleh orang Bali.

Saat ini jumlah alumni desain komunikasi visual yang berhasil ditamatkan oleh ISI Denpasar kian tahun semakin banyak sehingga designer-designer tersebut nantinya diterima  bekerja pada perusahaan bidang desain komunikasi visual dan diharapkan dapat menciptakan desain-desain yang menampilkan budaya Bali.

Local Content Dalam Karakter DKV Untuk Membangun Keunggulan Budaya Lokal, selengkapnya:

Perbaikan Kursi Kerja Menurunkan Keluhan Sistem Muskuloskeletal Dan Meningkatkan Produktivitas Perajin Destar

Perbaikan Kursi Kerja Menurunkan Keluhan Sistem Muskuloskeletal Dan Meningkatkan Produktivitas Perajin Destar

Oleh: Ida Ayu Kade Sri Sukmadewi

Judul Asli:

Perbaikan Kursi Kerja Dan Pemberian Teh Manis Saat Istirahat Pendek Menurunkan Keluhan Sistem Muskuloskeletal Dan Meningkatkan Produktivitas Perajin Destar Di Desa Gerih

KursiKerajinan destar merupakan salah satu bentuk industri kecil yang berkembang di desa Gerih Kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung, dengan jumlah perajin 21 orang semua laki-laki. Ukuran bahan destar 115 cm X 115 cm, ukuran tersebut bisa dijadikan satu destar disebut destar bungkulan dan bisa dijadikan dua destar disebut destar jejatoran biasa.

Pada proses menjahit, para perajin menggunakan kursi dengan ketinggian dudukan    42  cm   tanpa menggunakan dudukan rotan.  Tinggi mesin  jahit  75  cm,  tinggi pedal dari lantai 9 cm dengan kemiringan 250. Pada proses menjahit, perajin melakukan pekerjaannya dengan sikap paksa (membungkuk dan penggunaan anggota gerak bagian atas tubuh dalam keadaan terangkat)

Pada akhir pekerjaan ini dilaksanakan, perajin merasakan keluhan pada sistem muskuloskeletal terutama di bagian pantat, bahu, leher, punggung , dan betis. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh ukuran kursi yang tidak sesuai dengan antropometri perajin, kerasnya dudukan kursi, jenis pekerjaan yang bersifat menoton, dan tidak ada istirahat pendek, apalagi hal ini berlangsung selama 8 jam dalam satu hari dengan tidak melakukan istirahat pendek dan perajin tidak disediakan minum, sehingga asupan gizi perajin tidak terjaga serta sistem kerja borongan membuat pekerja memaksakan diri  untuk tetap bekerja meskipun dalam keadaan lelah. Penelitian Manuaba (1998 a) menyatakan bahwa terdapat korelasi yang tinggi antara keluhan leher dan bahu dengan periode kerja, sikap kerja duduk dan tinggi badan, serta terdapat 32,17 % mengeluh sakit di leher dan 43,48 % mengeluh sakit di bahu.

Dari uraian di atas terlihat ada beberapa masalah ergonomi, yang menjadi masalah utama dan perlu segera dilakukan perbaikan adalah masalah kursi kerja yang tidak sesuai dengan antropometri perajin dan masalah asupan gizi perajin. Masalah ergonomi tersebut apabila tidak segera diperbaiki, tentunya akan dapat memberikan beban berlebihan, menimbulkan keluhan muskuloskeletal yang akan diikuti oleh menurunnya tingkat produktivitas kerja. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian dalam upaya mengatasi masalah yang muncul. Untuk maksud tersebut dilakukan penelitian berupa  perbaikan-perbaikan kondisi kerja. Upaya pendekatan partisipasi dengan perajin dan pihak perusahaan menunjukkan hasil bahwa alternatif perbaikan yang dipilih adalah perbaikan kursi kerja sesuai antropometri perajin dengan menggunakan dudukan rotan dan pemberian teh manis saat istirahat pendek. Upaya intervensi ini dipilih berdasarkan urgensi, murah, dan mudah dilakukan. Dengan perbaikan-perbaikan ini diharapkan dapat menurunkan gangguan sistem muskuloskeletal, tidak cepat lelah dan meningkatkan produktivitas kerja.

Perbaikan Kursi Kerja Menurunkan Keluhan Sistem Muskuloskeletal Dan Meningkatkan Produktivitas Perajin Destar, selengkapnya:

Sambutan Direktur eksekutif HEI-IU, Dr. I Nyoman Suteja

Sambutan Direktur eksekutif HEI-IU, Dr. I Nyoman Suteja

Nyoman SutejaTiga pilar yang menjadi acuan dasar kebijakan Direktorat Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional untuk kurun waktu 2003 – 2010 dikenal dengan sebutan HELTS (Higher Education Long Term Strategy) 2003 – 2010. Ketiga pilar tersebut ádalah: the nation’s competitiveness, organization health, and autonomy/ decentralization. Sejalan dengan ketiga pilar yang menjadi acuan dasar tersebut, ISI Denpasar telah melakukan berbagai upaya untuk dapat ikut ambil bagian dalam upaya mewujudkan ketiga kebijakan dasar tersebut. Salah satu upaya yang cukup gencar dilakukan dalam kurun waktu 2003 – 2010 adalah dengan terus berusaha mendapatkan hibah-hibah pendanaan penyelenggaraan tri-dharmanya dengan senantiasa mengikuti kompetisi antar nerguruan tinggi tingkat nasional untuk memenangkan Program Hibah Kompetisi (PHK).

Dalam kurun waktu 2003-2010 ISI Denpasar telah berhasil memenangkan beberapa PHK prestigius, seperti: PHK DUE-like dalam periode 2003 – 2007 (selama 5 tahun) yang sasarannya untuk peningkatan pendidikan program S-1 (Developing Undergraduate Education), dan PHK Unggulan Bidang Seni (PHK: B-Seni) dalam periode 2007 – 2009 (selama 3 tahun) yang sasarannya adalah untuk pembiayaan program-program unggulan pada tingkat program studi, PHK Inherent dalam periode 2006-2008 yang sasaran lebih banyak kepada implementasi IT untuk kampus.

Saat ini yang sedang dalam periode implementasi adalah Program Hibah Kompetisi “I-MHERE (Indonesia – Managing Higher Education for Relevance and Efficiency) Sub-component B.1. Batch III. Secara garis besar PHK ini bertujuan untuk memperkuat sejumlah Program Studi dalam upaya meningkatkan relevansi dan efisiensinya serta untuk peningkatan tanggungjawab sosialnya terhadap masyarakat. Secara lebih rinci PHK ini di ISI Denpasar mencakup 3 (tiga) sub-program dan masing-masing dibagi menjadi sejumlah kegiatan dengan rincian sebagai berikut.

  1. Program untuk peningkatan tanggungjawab sosial (University/Institution Wide Programs) meliputi: (1) satu program out-reach (Meningkatkan jumlah calon mahasiswa dari kelompok masyarakat yang kurang beruntung secara ekonomi atau geografis), dan (2) satu program Com.Dev. (Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat melalui Kerjasama dengan Kelompok Masyarakat Pengerajin di Gianyar).
  2. Program untuk Memperkuat Program Studi Kriya Seni yang meliputi tiga kegiatan, yaitu: (1) Menyempurnakan Mata Kuliah Kriya Seni untuk Memperkuat Kompetensi Lulusan; (2) Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris Dosen dan Mahasiswa; dan, (3) Inventarisasi Kriya Seni Bali melalui Survey Pemetaan di Bali.
  3. Program untuk Memperkuat Program Studi Seni Karawitan yang meliputi empat kegiatan, yaitu: (1) Meningkatkan Proses Pembelajaran Seni Karawitan melalui Pengembangan Pengajaran Holistik; (2) Meningkatkan Keterampilan Mahasiswa di Bidang Konstruksi dan Pelarasan Gamelan; (3) Rekonstruksi Repertoir, Konsep, dan Tata Nilai Gamelan Bali; dan, (4) Meningkatkan Kualitas Proses Pembelajaran yang Berbasis TI.

Program dan Kegiatan yang dilaksanakan melalui I-MHERE Sub-Component B.1 Batch III ini diharapkan akan dapat memberikan kontribusi dan dukungan yang signifikan terhadap aktualisasi dari visi dan misi ISI Denpasar dan terhadap kebijakan nasional Pendidikan Tinggi di Indonesia yang tertuang dalam HELTS 2003-2010.

HEI-IU IMHERE ISI Denpasar,

Direktur Eksekutif.

Loading...