M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Keberadaan Seni Kriya Masa Kini

Keberadaan Seni Kriya Masa Kini

Oleh I Made Sumantra

Koleksi Kriya

Koleksi Kriya

Bidang ilmu kriya, jika diuraikan dari akar keilmuannya, masih terus menjadi perdebatan sengit dikalangan praktisi dan akademisi di bidang seni rupa. Bidang kriya, telah menjadi ajang perebutan antara masuk ke dalam disiplin ilmu seni atau ilmu disain.  Penulis  tidak ingin menambah kekusutan dari perang definisi yang ada. Seni kriya dapat berada dan mencangkup kedua ilmu tadi, seni dan disain sehingga memungkinkan muncul dua istilah seperti: kriya seni dan kriya disain, seni kriya dan disain kriya. Agar dapat lebih menjelaskan konsep ini, penulis mencoba mengambil contoh kasus objek ukir kayu yang berwujud sebuah lampu hias. Benda lampu hias ini akan memiliki penampilan, makna dan fungsi yang sangat berbeda tergantung di wilayah/ kubu mana ia berada. Barang-barang kriya dalam hal ini memiliki fleksibelitas yang tinggi, berada pada posisi di antara wilayah seni dan disain. Kondisi ini menyadarkan kita bahwa seharusnya tidak ada definisi yang kaku dalam pengelompokan kriya, karena hal itu tergantung di wilayah mana secara esensial kriya itu sendiri beraktivitas.

Jika kriya telah menjadi barang-barang pesanan dalam jumlah besar, maka otomatis pertimbangan-pertimbangan teknik produksi, cost, dan nilai-nilai kepraktisan akan menjadi faktor yang penting. Barang-barang ini cenderung dikelompokan sebagai produk kriya disain. Sebagai kontrasnya, ada saatnya kriyawan membuat hanya satu buah karya, seperti lampu hias yang unik. Jelas disain, konsep berkarya kriyawan tersebut berasal dari keinginan membuat satu benda lampu hias, sehingga lebih dekat kepada pola-pola kerja seni murni yang menghasilkan objek tunggal. Persoalan apakah benda lampu hias tersebut dikemudian hari akan diproduksi kembali dalam jumlah tertentu adalah masalah lain. Yang pasti, konsep awal pembuatannya tidak didasari oleh kreteria-kreteria mass production. Bentuk kriya seperti ini lebih tepat jika masuk dalam wilayah produk kriya seni.

Mengkaji dan mengembangkan konsep kriya dalam Komperensi Kriya di Bandung, berdasarkan sifatnya, kriya di Indonesia dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu Kriya Tradisional dan Kriya Modern/ Kontemporer (Konperensi Kriya, ”Tahun Kriya dan Rekayasa 1999” Institut Teknologi Bandung,

26 Nov” 99).  Kriya Tradisional adalah segala bentuk produk hasil kebudayaan materi tradisional masyarakat, tanpa mengalami perubahan-perubahan yang berarti pada masa kini. Sebagai contoh kriya kelompok ini adalah aneka perhiasan, benda-benda perlengkapan upacara/ religi, wayang kulit, senjata-senjata tradisional, seperangkat gamelan. Beberapa produk tradisional masih tetap diproduksi, terutama untuk kebutuhan pasar pariwisata.

Adapun Kriya Modern/ Kontemporer adalah produk-produk kriya  yang memiliki kebaruan-kebaruan dalam konsep pengembangan disain, teknik produksi dan perupaan. Bagaimanapun, Kriya Modern/ Kontemporer dapat tetap berbasis tradisional, dalam arti produk tersebut merupakan hasil pengembangan dari teknik-teknik lama dan bentuk–bentuk tradisional atau bermuatan nilai-nilai filosofis masa lalu.

Keberadaan Seni Kriya Masa Kini, Oleh I Made Sumantra, selengkapnya

Perbaikan Data Based Akses ke Jaringan ISI Denpasar Terpadu (JISTA)

Nomor : 056 /I.5.14/TP/2009 Tanggal 20 Januari 2010

Hal : Perbaikan data akses ke JISTA

Yth : Bapak/Ibu dan segenap civitas akademika

di –

Tempat

Dengan hormat,

Dalam rangka penambahan layanan Jaringan ISI Denpasar Terpadu (JISTA), menindak lanjuti instruksi Rektor pada saat rakerda ISI Denpasar tanggal 7 dan 8 desember 2009, dan sekaligus mengantisipasi pelaksanaan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka UPT Puskom akan memperbaiki sistem akses pada Jaringan ISI Denpasar Terpadu (Jista).

Perbaikan databased akan dimulai dari databased akses ke jaringan, dengan demikian maka username pasword lama akan kami reset/hapus pada tanggal 31 Januari jam 00 WITA. Kepada seluruh penguna layanan Hotspot diminta untuk melakukan registrasi ulang dengan mendownload form dialamat http://help.isi-dps.ac.id/index.php?action=artikel&cat=12&id=2&artlang=id atau mengambil langsung aplikasinya ke gedung UPT PUSKOM Lt.2.

Oleh karenanya kami mohon bapak/ibu dan segenap civitas akademika yang mempunyai/memanfaatkan fasilitas hotspot untuk segera mengganti username dan paswordnya sebelum tanggal 1 februari 2010.

Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya disampaikan terima kasih.

Kepala UPT PUSKOM,

Hendra Santosa, SS.Kar., M.Hum

NIP. 196710311992031001

Tembusan :

  1. Rektor sebagai laporan

  2. Arsip

Perkembangan Fungsi Suling Dalam Komposisi Kekebyaran

Perkembangan Fungsi Suling Dalam Komposisi Kekebyaran

Oleh: I Gede Yudarta, SSKar., M.Si (Dosen PS. Seni Karawitan)

Gamelan Gong KebyarMengamati perkembangan seni karawitan Bali khususnya seni karawitan kekebyaran dewasa ini, telah terjadi pergeseran atau perubahan fungsi beberapa instrumen yang terdapat dalam barungan gamelan gong kebyar. Salah satu perubahan tersebut adalah semakin berkembangnya fungsi instrumen suling dalam barungan gamelan tersebut.

Suling sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Musik adalah flute tradisional yang umumnya terbuat dari bambu (Banoe, 2003:). Secara fisik, suling yang terbuat terbuat dari bambu memiliki 6-7 lobang nada pada bagian batangnya dan lubang pemanis (song manis) pada bagian ujungnya. Sebagai salah satu instrumen dalam barungan gamelan Bali, terdapat berbagai bentuk ukuran dari yang panjang, menengah dan pendek. Dilihat dari ukurannya tersebut, suling dapat dibedakan jenisnya dalam beberapa kelompok yaitu: Suling Pegambuhan, Suling Pegongan, Suling Pearjan, Suling Pejangeran dan Suling Pejogedan (Suharta, 2005:16). Dari pengelompokan tersebut masing-masing mempunyai fungsi, baik sebagai instrumen pokok maupun sebagai pelengkap. Penggunaan suling sebagai instrumen pokok biasanya terdapat pada jenis barungan gamelan Gambuh, Pe-Arjan, Pejangeran dan Gong Suling. Sedangkan pada beberapa barungan gamelan lainnya termasuk gamelan gong kebyar suling berfungsi sebagai instrumen ”pemanis” lagu dan memperpanjang suara gamelan, sehingga kedengarannya tidak terputus (Sukerta, 2001:215). Dalam fungsinya itu, suling hanya menjadi instrumen pelengkap dalam arti bisa dipergunakan ataupun tidak sama sekali.

Sebagai salah satu alat musik tradisional, suling tergolong alat musik tiup (aerophone) dimana dalam permainan karawitan Bali dimainkan dengan teknik ngunjal angkihan yaitu suatu teknik permainan tiupan suling yang dilakukan secara terus menerus dan memainkan motif wewiletan yang merupakan pengembangan dari nada-nada pokok atau melodi sebuah kalimat lagu.

Terkait dengan fungsi suling dalam seni karawitan kekebyaran, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. Sebagai salah satu contoh, dalam komposisi ”Kebyar Ding”, yang diciptakan pada tahun 1920-an tidak terdengar tiupan suling. Ini dapat dijadikan salah satu indikator bahwa pada awal munculnya gamelan gong kebyar, suling masih berfungsi sebagai instrumen sekunder dan belum menjadi bagian yang penting dalam sebuah komposisi.

Sebagai salah satu tonggak penting perkembangan fungsi suling dalam komposisi kekebyaran, dapat disimak dari salah satu komposisi yaitu Tabuh Kreasi Baru Kosalia Arini, yang diciptakan oleh I Wayan Berata dalam Mredangga Uttsawa tahun 1969, dimana dalam komposisi tersebut mulai diperkenalkan adanya penonjolan permainan suling tunggal. Terjadinya perkembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.

Sebagaimana terjadi dalam perkembangan komposisi tabuh kekebyaran saat ini, suling memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan komposisi kekebyaran dimana melodi yang dimainkan tidak hanya terpaku pada permainan laras pelog lima nada, namun oleh para komposer sudah dikembangkan sebagai jembatan penghubung hingga mampu menjangkau nada-nada atau melodi menjadi lebih luas melingkupi berbagai patet seperti tembung, sunaren bahkan mampu memainkan nada-nada selendro. Dari pengembangan fungsi tersebut komposisi tabuh kekebyaran yang tercipta pada dua dekade belakangan ini menjadi lebih inovatif dan kaya dengan nada atau melodi.

Adanya pengembangan fungsi instrumen suling dalam komposisi kekebyaran terkadang menimbulkan fenomena yang lebih ekstrim dimana dalam sebuah karya komposisi instrumen ini muncul sebaga alat primer dan vital, tanpa kehadiran instrumen tersebut sebuah komposisi tidak akan dapat dimainkan sebagaimana mestinya.

Fenomena Dibalik  Kejayaan Gong Kebyar: Khususnya Gong Kebyar Gaya Buleleng

Fenomena Dibalik Kejayaan Gong Kebyar: Khususnya Gong Kebyar Gaya Buleleng

Oleh: Pande Made Sukerta

Odalan GamelanDalam percaturan karawitan Bali, baik pertemuan yang berbentuk sarasehan maupun seminar atau yang sejenis, belum ada yang menjelaskan dimana dan kapan Gong Kebyar diciptakan. Memang selalu dikatakan bahwa Gong Kebyar dilahirkan di Buleleng yang informasinya merujuk dari tulisan Colin Mc Phee dalam bukunya Music In Bali (1966 : 328) mengatakan bahwa tahun 1915 Gong Kebyar digunakan mebarung di Desa Jagaraga, Buleleng. Selanjutnya informasi tersebut digunakan sebagai acuan dan malahan lebih dikembangkan lagi sehingga dikatakan bahwa Gong Kebyar muncul di Buleleng tahun 1915. Informasi yang lain dikatakan bahwa Gong Kebyar  lahir di Desa Bungkulan. Almarhum I Nyoman  Rembang (1977 : 4) juga mengatakan bahwa kemunculan Gong Kebyar sesudah zaman penjajahan, maka tidaklah mustail kalau ada kecenderungan para analisis berpendapat bahwa inspirasi yang membangkitkan ide Gong Kebyar ada hubungannya dengan masuknya kebudayaan yang dibawa masuk oleh penjajah. Tetapi benar atau tidaknya persoalannya demikian, belumlah dapat dipastikan. Dari beberapa informasi tersebut belum memberikan gambaran kapan dan dimana Gong Kebyar lahir. Informasi tentang kelahiran Gong Kebyar sangat perlu diinformasikan kepada masyarakat luas, meskipun belum selengkap seperti yang diharapkan.

Permasalahan yang lain adalah krisisnya kehidupan Gong Kebyar Gaya Buleleng saat sekarang. Pengamatan ini hampir dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Buleleng khususnya dan Bali umumnya sehingga berdampak hilangnya gayagaya Gong Kebyar yang pernah hidup dan berkembang pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu sekitar 1970-an. Adanya krisis kehidupan Gong Kebyar di Bali, kemudian muncul  keseragaman yang dapat diamati pada setiap festival Gong Kebyar pada even  Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diselenggarakan setiap tahun sekali.  Berdasarkan analisa, munculnya keseragaman Gong Kebyar dalam Festival Gong Kebyar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) disebabkan adanya pergeseran tuntutan seniman dan Pemerintah Daerah Buleleng untuk memperoleh juara dengan cara “apa pun”, di antaranya dengan menggunakan pelatih serta menyajikan karya-karya yang disusun seniman dari daerah lain yang sering memperoleh juara. Hal seperti ini patut disayangkan karena berdampak kurang menguntungkan bagi kehidupan kesenian di Bali. Sekeha-sekeha Gong Kebyar dari Buleleng yang tampil dalam PKB sebagai duta Kabupaten Buleleng tidak luput dari virus keseragaman ini. Munculnya keseragaman Gong Kebyar di Bali, kiranya tidak perlu menyalahkan perorangan, kelompok atau instansi yang penting bagaimana cara menyikapinya.

Kedua permasahan tersebut mempunyai sifat yang berbeda, yaitu permasalahan pertama merupakan informasi tentang kelahiran Gong Kebyar  yang diperoleh dari hasil penelitian. Dalam hal ini informasi kelahiran sangat penting diketahui bersama karena dengan memahami sejarah akan lebih mantap melakukan pelestarian. Permasalahan kedua merupakan masalah kehidupan yang dialami Gong Kebyar Gaya Buleleng yang sangat memprihatinkan sehingga perlu dicarikan solusinya. Dengan mengetahui perkembangan Gong Kebyar Gaya Buleleng juga akan lebih mantap melakukan pelestarian.

Fenomena Dibalik  Kejayaan Gong Kebyar : Khususnya Gong Kebyar Gaya Buleleng, unduh selengkapnya.

Loading...