M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Tinjauan Rarajahan

Tinjauan Rarajahan

Kiriman Bendhi Yudha (Dosen Program studi Seni Rupa Murni)

Alam Menggugat Karya Bendhi YudhaDi Bali  rarajahan hampir selalu digunakan dalam kaitannya dengan upacara keagamaan yang lebih dikenal dengan Panca Yadnya, yaitu lima bentuk korban suci yang dilakukan dengan tulus ikhlas, di mana bentuk-bentuk rajah tersebut tidak hanya berbentuk huruf-huruf , tetapi bermacam-macam wujud benda baik bergerak maupun tidak bergerak, benda mati maupun benda hidup dan lain-lain.

Sebagaimana yang diuraikan oleh Ginarsa (1979) sebagai berikut: Pertama berupa tulisan atau kaligrafi Bali, kedua berupa stilisasi dari bentuk manusia, ketiga berupa gambar-gambar binatang yang digabung dengan gambar khayalan. Sedangkan Jaman dalam Titib (2001: 480), mengkelompokkan meliputi; (1), Rarajahan berbentuk huruf-huruf terutama huruf-huruf suci atau Vijaksara mantra, kutamantra maupun mantram yang singkat. Vijaksara tersebut meliputi : Omkara simbol Tuhan Yang Maha Esa (Brahman), Am (simbol Brahma). (2), Rarajahan ini banyak digunakan terutama pada waktu upacara  Panca Yadnya, misalnya upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Bhuta Yadnya, dan upacara Rsi Yadnya. (3), Rarajahan berbentuk benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang yang dikombinsikan dengan huruf-huruf suci, vijaksara, dan senjata dewa-dewa. (4), Rarajahan berbentuk bunga terutama bunga padma atau teratai, sering pada masing-masing kelopak daunnya dirajah dengan huruf-huruf suci vijaksara. (5), Rarajahan berbentuk binatang seperti harimau, singa, ular atau naga, ikan laut, ulat dan lain-lain. (6), Rarajahan berbentuk dewa-dewa, lengkap dengan masing-masing dewi (sakti)-Nya, kendaraan (tunggangan)- Nya, senjata-Nya, posisi-Nya pada tubuh manusia, warna dan penjuru yang dikuasainya. (7), Rarajahan berbentuk manusia, manusia berkepala binatang, binatang berkepala manusia, anggota badan manusia seperti manusia tanpa kepala, kepala tanpa badan, tangan berkepala manusia, kaki berkepala manusia dan sebagainya. (8), Rarajahan berbentuk raksasa lengkap dengan senjatanya, warna dan lain-lain, serta yang terakhir adalah rerajahan berbentuk bangunan suci seperti meru.

Sehubungan dengan jenis bentuk-bentuk yang ada pada rarajahan Bali, apabila dikaitkan dengan fungsi dari masing-masing bentuk rarajahan tersebut, dapat dikelompokkan antara lain; (1), Untuk mendapatkan kekuatan dan perlindungan dari para dewata. (2), Untuk menyucikan pribadi seseorang. (3), Untuk memperoleh kekuatan gaib dari kekuatan alam. (4), Untuk memperoleh simpati “pamatuh”, dan menghentikan tindakan seseorang yang jahat. (5), Mencegah dan menangkal hal-hal yang tidak disukai yang dapat membahayakan seseorang, (6), Mengembalikan usaha pihak musuh untuk mencelakakan diri seseorang dengan kekuatan sihir dari rarajahan, sehingga menyebabkan pihak musuh meninggal.

Berdasarkan bentuk-bentuk dan fungsi yang terdapat pada rarajahan Bali sebagaimana yang diuraikan di atas, dapat ditangkap makna yang terkandung di dalamnya bahwa, kehidupan yang ada pada makrokosmos (alam besar) dan mikrokosmos (alam kecil), memiliki dua sifat yang berlawanan yaitu sifat dewa dan sifat bhuta, sebagai cerminan dari konsep dualistis yang merupakan dua pasangan berbeda, yang harus selalu ada dalam posisi seimbang. Ini berarti bahwa kehidupan manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, hendaknya senantiasa mampu mengelola potensi diri yang bersumber pada dua kekuatan besar, baik yang ada di dalam maupun di luar dirinya, sehingga keduanya dapat bekerja dengan baik secara sinergis, untuk mencapai suatu tujuan yaitu keseimbangan hidup lahir dan batin. Berkaitan dengan ini I Ketut Sunarya (2001: 92) menjelaskan bahwa: Konsep dualistis atau rwa bhineda tercermin juga dalam bentuk rajah yaitu bala dan penolak bala. Rajah bala yaitu rajah yang diyakini masyarakat Hindu di Bali sebagai jimat membuat penyakit, sedangkan rajah penolak bala diyakini sebagai pengayom atau menjaga dari serangan bala. Kemunculan rajah terkait dengan keinginan masyarakat menciptakan keharmonisan dan keseimbangan baik secara sekala (jagat raya ini) maupun niskala (alam abstrak). “… dengan rajah pengeleakan atau pendestian yang disebut juga dengan bala atau ilmu hitam, ilmu kiri yang mempunyai tugas menyakiti dengan kesaktiannya yang luar biasa. Leak adalah sifat dan tingkah laku manusia yang berpihak pada kejahatan seperti; ingin menguasai orang lain dengan cara memaksakan kehendak.

Dalam kaitannya dengan rajah penolak bala, Tulak dalam Sunarya (2001: 92-93) menjelaskan bahwa; manusia mempunyai keinginan untuk berbuat baik, hal ini menumbuhkan hasrat belajar ilmu pengobatan, dan juga mantra-mantra untuk membersihkan lingkungan sebagai penolak bala dari keletehan (energi negatif) yang  disebabkan oleh gangguan roh jahat, salah menempatkan posisi pintu rumah, hubungannya dengan tembok pembatas pekarangan rumah (penyengker) dan sebagainya.

Bentuk lain sebagai penolak bala dilakukan pula oleh pemuka agama, seperti Pemangku, Sulinggih/Peranda dan lain-lain, dengan melakukan upacara yadnya, berupa kurban suci untuk membersihkan/meruat jagat raya ini dari keletehan (energi negatif). Adapun sarana upacara yadnya tersebut dilengkapi dengan rajah penolak bala yaitu goresan berupa simbol-simbol dewa serta mantra-mantra yang dilakukan sesuai dengan tujuan dari rajah tersebut. Kedua pandangan ini agaknya telah cukup dijadikan acuan dalam menyikapi kehidupan ini yang berada dalam batas ruang dan waktu, untuk melakukan reinterpretasi mengenai kosmos dan jatidiri kita. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Atmaja (2003: 9)

Pendapat di atas lebih menegaskan betapa pelaksanaan nilai-nilai kearifan menjadi lebih penting ketimbang harus mengurai wacana, dan perlu dilanjutkan ke tingkat penghargaan/ruang apresiasi untuk bisa menghargai nilai-nilai yang dikandungnya dengan cara yang tepat dan kontekstual. Artinya nilai-nilai kehidupan bermasyarakat hendaknya dihargai secara proporsional, dimaksudkan dapat mengejewantahkannya ke dalam prilaku keruangan/interaksi yang didasari dengan sikap penuh kearifan untuk mencapai tujuan hidup yaitu mokhsartam jagadithaya ca iti dharma.

Berdasarkan pengalaman dari mengamati nilai-nila tersebut, telah melahirkan perasaan estetik dan imajinasi bagi munculnya ide-ide kreatif, untuk dijelmakan ke dalam bentuk karya seni lukis, mengingat fenomena yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat saat ini telah dijadikan lahan yang potensial untuk dijadikan ajang pertentangan dan pertikaian dalam mewujudkan kepentingan politik dan kekuasaannya. Hal tersebuti cenderung mengorbankan kepentingan yang lebih luas menyangkut sendi-sendi keutuhan dalam berbangsa dan bernegara, karena telah mengabaikan dan melakukan distorsi terhadap nilai-nilai /tata krama dalam kehidupan bermasyarakat serta keluar dari prinsip-prinsip keseimbangan dan keharmonisan.

Tugas Akhir dan Yudisium

Tugas Akhir dan Yudisium

Mengakhiri semester ganjil 2009/2010 Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar menyelenggarakan Pameran Karya Tugas Akhir pada tanggal 28 s.d 31 Desember 2009 dan dilanjukan dengan Ujian Komprehensip pada tanggal 4 s.d 7 Januari 2010. Rapat kelulusan dilaksanakan pada tanggal 22 Januari 2010 dan Yudisium pada tanggal 23 Januari 2010. Pererta Tugas Akhir sebanyak 23 orang.

Peserta Tugas Akhir (TA) Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar

Semester Ganjil 2009/2010

No. Nama Mahasiswa / NIM L/P Program Studi Judul T.A. Jenis Karya Pembimbing Nama Orang Tua
I Wayan Purbawa

2004020310010

L DKV Perancangan Komunikasi Visual Untuk Mempromosikan Desa Budaya Kertalangu di Jl. By Pass Ngurah Rai Tohpati Studio –          A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si

–          I.B. Kt. Trinawindu, S.Sn

–          I Md. Sutapa

–          Ni Nym. Darmini

2. Putu Dodi Wirawan

031511021

L DKV Perancangan Media Komunikasi Visual Dalam Usaha Mempromosikan Museum Bali Studio –          A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si

–          I.B. Kt. Trinawindu, S.Sn

–          I Wayan Matra

–          Nengah Wati

3. Ida Bagus Adhiguna

2004020310012

L DKV Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Kampanye Denpasar Bebas Rabies Studio –          A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si

–          I.B. Kt. Trinawindu, S.Sn

–          I.B. Dirga

–          Desak Rai Alit

4. Komang Febri Sadrawan

2004020310056

L DKV Perancangan Komunikasi Visual Untuk Mempromosikan PT. Bali Craft Internasional di Kuta Bali Studio –          A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si

–          Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn

–          I Made Ramia

–          Ni Made Sadiari

5. I Gusti Ngurah Dwi Aryawan

2004020310037

L DKV Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Peningkatan Eksistensi Obyek Taman Wisata Alam Sangeh Badung Bali Studio –          Drs. Cok. Gde Raka Swendra

–          Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn

–          I Gst. Ngr. Gede Wenawa

–          I Gst. Ayu Wasni

6. A.A. Sagung Intan Pradnyanita

200506037

P DKV Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Penyuluhan Kesehatan Gigi Anak di Tabanan Studio –          Drs. Cok. Gde Raka Swendra

–          Drs. A.A. Anom Mayun KT.

–          Drs. A.A. Ngr. Gd. Surya Buana, M.Sn

–          Dra. Lies Bandiyah

7. Adhitia Mulyana Kusuma

200506002

L DKV Perancangan Komunikasi Visual Untuk Kampanye Pencegahan Penularan TBC di Denpasar Studio –          Drs. I Wayan Swandi, M.Si

–          Drs. A.A. Anom Mayun KT

–          Muhamad Tedja Purnomo

–          Sumiati Purnomo

8. I Nyoman Anom Fajaraditya

0010005042

L DKV Perancangan Media Komunikasi Visual Promo Album Fauto 61 Band Gianyar Studio –          Drs. I Nym. Mantra Fandy, M.Si

–          Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn

–          I Nym. Gde Setiawan

–          Ni Luh Dwi Partiwi

9. Adi Rahmadhani

031521030

L Desain Interior Redesain Interior Fashion Market di Jl. Dipenogoro Denpasar Studio –          Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

–          I.A. Dyah Maharani, ST, M.Ds

–          Suparman

–          Tri Iriani

10. Marsha Hafiria

031521036

P Desain Interior Perancangan Interior Praktik Bersama Metro Medicare Dengan Konsep Holistik Studio –          Drs. IGst. Ngr. Ardana, M.Erg

–          I.A. Kd. Sri Sukmadewi, S.Sn, M.Erg

–          Dewi Hamriena

–          Widhy Firmanto

11. Anggun Prawindari

200505006

P Desain Interior Desain Interior Next Billiard Club & Café Cabang Denpasar Junction Studio –          Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes

–          I.A. Dyah Maharani, ST, M.Ds

–          Kt. Wijana, SE

–          Ir. Tutut Tutati

12. Gede Sutrawan

2005050007

L Desain Interior Redesain Restaurant Bridge Cafe Studio –          Drs. Cok. Gde Rai Padmanaba, M.Erg

–          I.A. Dyah Maharani, ST, M.Ds

–          Md. Ledeng

–          Luh Badri

13. Luhtut Maharani

2004020320001

P Desain Interior Desain Interior Lobby dan Restoran Peninsula Studio –          Drs. Cok. Gde Rai Padmanaba, M.Erg

–          Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

–          I Md. Astika

–          Ni Made Muriatini

14. Kadek Dewi Oktaviani

2004020320003

P Desain Interior Desain Interior Museum Barong Bangli Studio –          Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

–          I Md. Pande Artadi, S.Sn, M.Sn

–          I Md. Suratma

–          Ni Luh Puriani

15. Pande Putu Gede Sarjana

2004020110013

L SRM / Lukis Bentuk Alam Benda Sebagai Sumber Inspirasi Malam Seni Lukis Studio –          Drs. I Made Yasana, M.Erg

–          Dra. Ni Md. Purnami Utami, M.Erg

–          I Made Jana

–          I Ketut Sarji

16. Muh M’ruf

2005040003

L SRM / Lukis Pengalaman Jiwa Pribadi Sebagai Ide Dalam Penciptaan Seni Lukis Studio –          Dra. Ni Made Rinu, M.Si

–          Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn

–          Muh Ichwan

–          Neneh Siti Nuryamah

17. Sirajul Munir

0110005044

L SRM / Lukis Fenomena Ketimpangan Sosial Dalam Bahasa Rupa Studio –          Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn

–          Drs. I Gede Yosef Tjokropramono, M.Si

–          Jumali

–          Khamsiyah

18. Eka Setya Hadi

0210205004

L SRM / Lukis Lebah Sebagai Metafora Kehidupan Dalam  Karya Seni Lukis Studio –          Dra. Sri Supriyatini, M.Sn

–          Drs. I Wayan Gulendra, M.Sn

–          Miswadi

–          Marhamah

19. I Kadek Ari Purwanto

2005040033

L SRM / Patung Apresiasi Tubuh Wanita Dalam Bentuk Figuratif Studio –          Drs. I Ketut Buda, M.Si

–          I Made Jodog, S.Sn, MFA

–          I Made Tana

–          Ni Luh Suarni

20. I Wayan Ekajayaningrat

2005040035

L SRM / Patung Visualisasi Tubuh Wanita ke Dalam Seni Patung Studio –          Drs. I Wayan Sutha S.

–          Drs. Dw. Pt. Merta, M.Si

21. I Gede Sudarsana

2005040038

L SRM / Patung Gerakan Yoga Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Karya Seni Patung Studio –          Drs. I Wayan Sutha S.

–          I Made Jodog, S.Sn, MFA

–          I Made Suarta
22. I Gst. Km. Rai Sartika

2005040032

L SRM / Patung Tokoh-tokoh Politik Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Karya Seni Patung Studio –          Drs. I Wayan Sutha S.

–          Drs. Dw. Pt. Merta, M.Si

–          Ni Kt. Wati
23. Dadang L H

0110005015

L Kriya Seni / Keramik Pengaruh Bahan Pendong Pada Lempung ( di Desa Benoh dan Desa Kapal) Terhadap Susut Kering dan Susut Bakar Body Keramik Gerabah Skripsi –          Drs. I Made Mertanadi, M.Si

–          Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si

–          Alm. Arofik Abuhasan

–          Isti Sugiani

Peserta Pameran :

Nama-nama Peserta Yudisium Semester Ganjil Tahun Akademik 2009/2010 Sesuai lampiran Surat Keputusan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar Nomor: 02/I5.1.10/PP/2010 tanggal 23 Januari 2010:

No. Nama NIM Prog. Studi Predikat
I Wayan Purbawa 2004020310010 DKV Sangat Memuaskan
2. Putu Dodi Wirawan 031511021 DKV Sangat Memuaskan
3. Ida Bagus Adhiguna 2004020310012 DKV Sangat Memuaskan
4. Komang Febri Sadrawan 2004020310056 DKV Sangat Memuaskan
5. I Gusti Ngurah Dwi Aryawan 2004020310037 DKV Sangat Memuaskan
6. A.A. Sagung Intan Pradnyanita 200506037 DKV Sangat Memuaskan
7. Adhitia Mulyana Kusuma 200506002 DKV Sangat Memuaskan
8. I Nyoman Anom Fajaraditya 0010005042 DKV Sangat Memuaskan
9. Adi Rahmadhani 031521030 Desain Interior Memuaskan
10. Marsha Hafiria 031521036 Desain Interior Sangat Memuaskan
11. Anggun Prawindari 200505006 Desain Interior Sangat Memuaskan
12. Gede Sutrawan 200505007 Desain Interior Sangat Memuaskan
13. Luhtut Maharani 2004020320001 Desain Interior Memuaskan
14. Kadek Dewi Oktaviani 2004020320003 Desain Interior Sangat Memuaskan
15. Pande Putu Gede Sarjana 2004020110013 SRM / Lukis Memuaskan
16. Eka Setyo Hadi 0210205004 SRM / Lukis Memuaskan
17. I Kadek Ari Purwanto 200504033 SRM / Patung Memuaskan
18. I Wayan Ekajayaningrat 200504035 SRM / Patung Memuaskan
19. I Gede Sudarsana 200504038 SRM / Patung Sangat Memuaskan
20. I Gst. Km. Rai Sartika 200504032 SRM / Patung Memuaskan
21. Dadang L H 0110005015 Kriya Seni / Keramik Memuaskan

Lampiran 1 Keputusan Dekan FSRD ISI Denpasar Nomor: 03/I5.1.10/PP/2010, tentang Nama-nama mahasiswa karya terbaik semester genap tahun akademik 2009/2010:

No. Nama NIM Program

Studi

Nilai Ket.

Komang Febri Sadrawan 2004020310056 DKV 91,38 Karya Terbaik I
2. Ida Bagus Adhiguna 2004020310012 DKV 90,26 Karya Terbaik II
3. I Gusti Ngr. Dwi Aryawan 2004020310037 DKV 87,18 Karya Terbaik III
4. Adhitya Mulyana Kusuma 200506002 DKV 85,92 Karya Terbaik IV
5. I Gede Sudarsana 200504038 SRM/Patung 85,80 Karya Terbaik V

Lampiran 2 Keputusan Dekan FSRD ISI Denpasar Nomor : 03/I5.1.10/PP/2010, tentang nama-nama mahasiswa IPK terbaik Semester Genap Tahun Akademik 2009/2010:

No. Nama NIM Program

Studi

IPK

Ket.
Gede Sutrawan 200505007 Desain Interior 3,58 IPK

Terbaik I

2 Anggun Prawindari 200505006 Desain Interior 3,46 IPK

Terbaik II

3 I Wayan Ekajayaningrat 200504035 SRM / Patung 3,33 IPK

Terbaik III

4 Ida Bagus Adhiguna 2004020310012 DKV 3,31 IPK

Terbaik IV

5 I Gede Sudarsana 200504038 SRM / Patung 3,28 IPK

Terbaik V

Tijauan Estetis dan Artistik Petulangan

Tijauan Estetis dan Artistik Petulangan

Oleh I Dewa Made Pastika

PetulanganKarya petulangan di samping fungsinya sebagai tempat pembakaran juga memiliki nilai–nilai keindahan dalam seni. Pembuatan petulangan merupakan suatu pengorganisasian atau susunan elemen-elemen bentuk, permukaan dan masa yang muncul dari berbagai jenis ornamen, warna hingga mewujudkan karya yang utuh dan harmonis menghasilkan sensasi yang menyenangkan. Sedangkan ketiadaan susunan akan menyebabkan ketidakpuasan, kekecewaan dan kemuakan. Perasaan atas hubungan-hubungan adalah perasaan keindahan sedangkan sebaliknya ialah perasaan ketidakbaikan. Tidak jauh berbeda dengan karya seni lainnya bahwa pembuatan petulangan didukung oleh rasa kesenangan yang dihubungkan dengan rasa keindahan, menyangkut bentuk, hiasan, pewarnaan serta jenis materialnya. Untuk menilai keindahan bentuk petulangan dapat dilihat dari bentuk secara keseluruhan atau global, menyangkut perbandingan antara bagian-bagian, seperti kepala dengan badan, badan dengan kaki dan lainnya. Untuk itu penting diperhatikan oleh seorang sangging petulangan tentang ukuran.proporsi dan anatomi, untuk bisa mencapai kesempurnaan karya. Sebagaimana yang disebutkan dalam estetika barat bahwa seniman bila berkarya dapat menilai kesempurnaan karya berdasarkan rasa proporsi dan ukuran (measure). Seniman apabila ingin berkarya sebaik-baiknya harus mengetahui dasar-dasar ukuran. Dan bagi setiap seni adalah seni mengukur, tanpa adanya ini tidak mungkin adanya seni. Seorang sangging di Bali menentukan ukuran bangunan dan prorporsinya berdasarkan lontar Asta Kosala Kosali. Lontar ini memuat petunjuk-petunjuk membuat bangunan mulai dari cara waktu penebangan kayu, merancang bangunan serta pelaksanaan upacaranya. Satuan ukuran yang disebut dalam lontar tersebut diambil dari ukuran anggota badan dengan istilah: depa, asta, lengkat, cengkang, musti sangga, nyari, guli madu, leklet. Istilah ini menentukan ukuran panjang dari suatu bentuk dan petunjuk-petunjuk ini sangat ditaati oleh para sangging dan undagi dan dipercaya dengan mengikuti petunjuk tersebut akan menghasilkan karya indah dan berjiwa. Disamping ukuran yang telah disebutkan di atas ada pula istilah pengurip. Pengurip adalah petunjuk yang terbuka bagi sangging untuk menambah atau mengurangi dari ukuran yang telah ditentukan dengan maksud memenuhi selera dari para sangging yang mengerjakan karya seni. Ukuran perbandingan yang umum di Bali ialah ukuran yang disebut: a bah bangun. A bah bangun adalah ukuran perbandingan yang digunakan untuk mengukur panjang dan lebar sebuah bangunan atau bentuk sebuah karya seni. Panjang atau tinggi sebuah bentuk sama dengan diagonal dari bentuk bujur sangkar dari lebar atau dasar bangunan. Jenis perbandingan ini ada persamaan dengan fungsi dan proporsi geometris dari jaman Yunani Kuno di Eropah yang disebut: The Golden Section. The Golden Section itu digunakan untuk menentukan perbandingan antara pajang dan lebar sebuah pintu, pigura, serta buku-buku atau majalah. Malahan konon biola yang baik juga mengikuti hukum itu. Salah satu hukum The Golden Section menyebutkan memotong garis tertentu sehingga perbandingan potongan yang pendek dengan yang panjang sama dengan yang panjang dengan seluruh garis itu. Menurut hukum itu potongan garis yang dimaksud kurang lebih berbanding 2 : 3 sama dengan, 5 : 8 sama dengan 8 : 13, sama dengan, 13 : 21 dan seterusnya (Herbert Read, Pengertian Seni I, 1971,8).

Ukuran a bah bangun di Bali dapat dipakai menentukan perbandingan antara, panjang, lebar dan tinggi ukuran kepala petulangan. Seperti kepala petulangan singa adalah: 3 :2 : 2. sedangkan ukuran kepala petulangan lembu: 2 : 1 : 1. Panjang dan tinggi petulangan dengan perbandingan: 1 : 1 yang disebut perbandingan yang sama (amrepatan). Ukuran perbandingan ini adalah ukuran yang dianggap paling ideal dan indah selama ini. Dengan mengikuti perbandingan itu disertai dengan cita rasa yang tinggi akan tercipta karya petulangan yang mengandung unsur keindahan bentuk dan proprsi yang sempurna yang bersumber pada keindahan alam. Keindahan ini rupanya masih dibayangi oleh keindahan klasik yang memandang bahwa nilai keindahan tertinggi ialah berbentuk sempurna, berproporsi sempurna, mulia dan tenang yang merupakan bentuk idealis dari bentuk manusia (SunjoyoDrs.TinjauanSeni,1976,28).

Ditinjau dari unsur hiasan petulangan, ukuran disesuaikan penempatannya dengan bentuk petulangannya. Unsur-unsur hiasan berfungsi untuk menambah keindahan dengan mengikuti kaedah-kaedah ornamen misalnya hiasan ditempatkan seserasi mungkin pada bagian-bagian tertentu sehingga dapat menambah keindahan dan memperkuat bentuk. Hiasan takep pala dan takep piah ditempatkan di antara badan dan paha, dapat memperkuat bentuk badan dan paha. Fungsi lain dari hiasan ialah menciptakan keseimbangan (balance) antara bagian-bagian yang sangat dominan pengaruhnya menjadi lebih serasi. Misalnya hiasan badong pada leher, hiasan takep jit (tutup pantat), kuer dan sebagainya. Hiasan badong yang digantungkan di leher, diperhatikan tingginya agar leher tetap baik kelihatan dan tidak tertutup semuanya. Demikian pula hiasan lainnya pemasangan harus memperhatikan ukuran, bidang yang dihiasi untuk memperoleh keseimbangan keharmonisan antara bidang dan hiasannya, sehingga pengaruh dominan atau kontrastik dapat diserasikan. Disamping keindahan bentuk proporsi anatomi dan hiasan keindahan warna, tekstur sangat menarik pula kesadaran keindahan kita. Hubungan antara warna kain pembalut petulangan dengan kertas emas yang sangat mengkilap menimbulkan kesan yang kontras. Kesan kontras warna dari kedua bahan itu dapat didamaikan atau dinetralisir dengan warna benang yang berfungsi sebagai pinggiran bentuk hiasan (pengampad), yang berada disampingnya. Benang yang dari bahan katun selain sebagai pinggiran ukiran, dipakai pada lingkaran mata. Benang dengan berbagai warna berdekatan, keharmonisan dapat dicapai dan kesan kontras dihindarkan. Lingkaran mata tampak membulat dengan pancaran yang terang dan tajam memberikan kesan lebih hidup pada petulangan. Hiasan tanduk pada petulangan lembu hanya dibalut dengan kertas emas yang diremas, dengan guratan yang melingkar-lingkar mirip dengan guratan tanduk sapi, menimbulkan tekstur terpecah, memancarkan sinar berkelip-kelip sebagai kilauan batu permata. Hiasan lain seperti rambut petulangan bentuk singa dari bahan alami yaitu dari akar pakis. Tampak berombak, warna hitam lembut alami tanpa ada tambahan bahat cat, berkesan menyatu dengan warna bok api dari kertas prasban (kertas emas), dengan warna pembalut petulangan dan dengan warna benang, menimbulkan warna yang serasi. Semua hiasan yang terdiri dari berbagai material, warna dan tekstur yang berbeda, setelah berada dalam bentuk petulangan, merupakan satu kesatuan yang harmonis, mengandung nilai estetitik dan artistik tersendiri yang menarik perhatian bagi masyarakat.

ISI Denpasar Wakili Asia Dalam Festival Internasional Musik Perkusi di Denmark

ISI Denpasar Wakili Asia Dalam Festival Internasional Musik Perkusi di Denmark

Gamelan Gong KebyarRektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai S, MA menyatakan bahwa “Keikutsertaan tim ini merupakan wujud dari ISI Denpasar yang akan ‘go international’. Festival ini diikuti para musisi perkusi dari Amerika, Eropa, Afrika dan Asia,”.
Rombongan dari ISI Denpasar akan tampil Sebanyak 23 anggota, dengan diikuti rektor, pembantu rektor, ketua jurusan karawitan, para dosen serta 19 orang mahasiswa dari Fakultas Seni Pertunjukan. Mereka akan berangkat 27 Januari dan kembali ke Indonesia 9 Februari 2010.
Menurut Wayan Rai, kegiatan ini akan mampu memberi pengalaman dan manfaat yang besar, khususnya bagi mahasiswa ISI Denpasar, karena mereka dapat berinteraksi dengan para seniman kelas dunia di negara lain.
Selain pementasan, tim ISI Denpasar juga diundang untuk memberikan ceramah dan melakukan lokakarya bersama dengan para dosen dan mahasiswa dari The Royal Denish Academy of Music, Kopenhagen.  “Kunjungan ini juga sebagai tindak lanjut rencana penandatanganan MoU antara ISI Denpasar dengan ‘The Royal Denish Academy of Music’, Kopenhagen yang merupakan perguruan tinggi terkemuka di dunia,” katanya.
Ia menegaskan, kerja sama yang memungkinkan dapat terjalin, yaitu pertukaran dosen atau mahasiswa, penelitian bersama, serta kolaborasi seni, yang diharapkan dapat mempercepat visi ISI Denpasar untuk go international.
Pembantu Rektor IV ISI Denpasar I Wayan Sweca, SSkar, MMus menambahkan, festival itu merupakan ajang yang memiliki nilai bergengsi, mengingat diikuti oleh sekitar 100 musisi dan penari kelas dunia.  “Mereka akan bertemu dan berbagi pengalaman dalam satu wadah pementasan. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan berkolaborasi yang inovatif dengan tim dari negara lain, selain gending-gending yang sudah disiapkan, seperti Kebyar Ding,” katanya.
Sweca menjelaskan, penjajakan dilakukan oleh tim monitoring dari Denmark sejak setahun yang lalu. Dari pantauan dan kunjungan mereka ke berbagai daerah di Indonesia, maka dipilihlah ISI Denpasar untuk mewakili Asia.
Ditambahkannya pula bahwa pemilihan pemain, baik penabuh maupun penari sangat selektif. Para penabuh usianya disyaratkan berusia tidak di atas 25 tahun, sementara penarinya tidak lebih dari 20 tahun. “Sehingga potensi ini benar-benar ditujukan kepada generasi muda atau mahasiswa yang memiliki bakat seni. Di Denmark, ISI Denpasar sebagai lembaga pendidikan seni tak hanya tampil dalam ajang bergengsi tersebut, tapi juga menunjukkan kemampuan akademisnya, yaitu melaras gamelan yang ada di Denmark,” katanya.

Loading...