by admin | Jul 16, 2010 | Berita, pengumuman
I. Latar Belakang
Ekonomi kreatif menuntut kita untuk menciptakan sebuah desain produk assesoris melalui ide-ide yang kreatif dan inovatif. Maka kami dari Program Studi Kriya Seni mengadakan lomba ini pada DIES Natalis ISI Denpasar.
II. Tema Lomba
Adapun tema yang akan dilombakan untuk tingkat SMK/SMU se-Bali, yaitu :
“ Menciptakan Desain Produk yang Kreatif dan Inovatif”.
III. Katagori Produk yang Dilombakan
– Desain Bross
– Desain Jepit Rambut
– Desain Anting-Anting
IV. Ketentuan Lomba Desain Produk Assesoris
– Gambar tampak depan, tampak samping, tampak atas dan perspektif
– Kertas (disediakan panitia), pensil, penghapus, penggaris, drawing pen (dibawa peserta).
– Karya pemenang lomba menjadi milik panitia dengan hak cipta sepenuhnya milik peserta
– Memperhatikan persyaratan umum dan jadual penyelenggaraan lomba
V. Persyaratan Peserta
– Telah terdaftar sebagai peserta lomba
– Masing-masing peserta diwajibkan membawa alat-alat yang diperlukan
– Peserta hanya diberi kertas yang dilegalisir dan snack
– Peserta harap hadir 30 menit sebelum lomba
VI. Penghargaan
Bagi para pemenang I, II, III dari masing-masing katagori akan diberikan hadiah berupa piagam penghargaan dan uang tunai.
VII. Kreteria Penilaian
– Ide dasar, konsep inovatif kreatif
– Orisinalitas
– Mutu Desain
– Memiliki orientasi pasar dan berpengaruh untuk perkembangan trend
VIII. Pendaftaran Peserta
Pendaftaran dilaksanakan mulai tanggal 12-19 Juli 2010 jam 09.00 s/d 13.00 Wita.
Tempat pendaftaran : Program Studi Kriya Seni, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar.
Pelaksanaan lomba tanggal 20 Juli 2010 jam 09.00 s/d 14.00 Wita
Tempat : FSRD ISI Denpasar.
by admin | Jul 15, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Drs. I Wayan Suardana, M.Sn
Keberadaan seni kerajinan ukir batu padas di tengah masyarakat, pada awalnya merupakan kegiatan sampingan. Seiring dengan pertumbuhan penduduk dan per-kembangan zaman, maka usaha seni kerajinan batu padas di Sukawati merupakan salah satu potensi yang dapat dihandalkan dan dikembangkan. Tumbuhnya seni ke-rajinan ini, merupakan kreativitas masyarakat dalam mengantisipasi kondisi sosial ekonomi. Menurut keterangan perajin setempat, kagiatan ini merupakan suatu bentuk usaha untuk memenuhi kebutuhan hidup bagi masyarakat. Seni kerajinan ukir batu padas, sebagai salah satu pilihan usaha, khusus bagi di dalam masyarakat Sukawati telah melibatkan hampir semua masyarakat, sehingga semua aktivitas keseharian didominasi dan terkonsentrasi oleh pembuatan barang seni kerajinan ukir batu padas sebagai kegiatan home industri.
Kehadiran seni kerajinan ukir batu padas sengat diperlukan untuk memenuhi fungsi-fungsi tertentu dalam masyarakat Sukawati dan masyarakat luas. Dalam kontak itu, seni kerajinan ukir batu padas bisa diamati menurut fungsinya. Feldman (1967) dalam bukunya yang berjudul Image And Idea, terjemahan Gustami dengan judul Seni Sebagai Wujud Dan Gagasan (1991: 2) menjelaskan, bahwa fungsi-fungsi seni yang telah berlangsung sejak zaman dahulu, adalah untuk memuaskan: (1) Kebutuhan-kebutuhan individu tentang ekspresi pribadi; (2) Kebutuhan-kebutuhan sosial untuk keperluan display, perayaan, dan komunikasi; (3) Kebutuhan-kebutuhan fisik mengenai barang-barang dan bangunan-bangunan yang bermanfaat. Lebih jauh dalam pengertian luas Feldman membagi fungsi seni menjadi tiga bagian, yaitu: Fungsi personal (personal function of art); fungsi sosial (the social function of art); dan fungsi fisik (fisical function of art).
Pengertian fungsi seni tersebut di atas digunakan untuk mengetahui sejauh mana berbagai macam karya seni kerajinan ukir batu padas Silakarang dapat ditelusuri guna memenuhi selera peminat. Tentu saja tidak semua fungsi seni yang telah disebutkan di atas terwadahi atau masuk dalam kategori fungsi seni yang tengah dikaji secara spesifik, yakni seni kerajinan ukir batu padas Silakarang.
Fungsi Seni kerajinan Ukir Batu Padas Sukawati selengkapnya
by admin | Jul 15, 2010 | Berita, pengumuman
Sebagai rangkaian kegiatan DIES NATALIS VII-2010 Institut Seni Indonesia Denpasar
PS. Fotografi FSRD ISI Denpasar menyelenggarakan :
LOMBA FOTOGRAFI
“Budaya Sebagai Karakter Bangsa”
Ketentuan Lomba Foto :
1. Peserta adalah perorangan, pelajar SMU/SMK, Mahasiswa, dan Umum.
2. Foto karya sendiri (bukan milik orang lain).
3. Foto belum pernah diikutsertakan dalam lomba sejenis dan merupakan karya foto tahun 2009-2010.
4. Foto merupakan hasil foto kamera digital dan atau analog, tanpa olah digital yang berlebihan.
5. Foto yang dikirim kepada panitia berupa: hasil cetak dengan ukuran 10R dan File foto digital dalam keping CD (soft copy).
6. Pada hasil foto cetak, peserta mencantumkan judul foto, nama peserta, asal sekolah/instansi dan fotocopy tanda pengenal. Ditempel di belakang foto.
7. Pada keping CD (soft copy), file foto disimpan dengan format JPEG, TIFF atau RAW, ukuran minimal 3000×2000, 300 dpi. File foto diharuskan masih memiliki metadata/EXIF. Penamaan file dengan format (judul foto)_(nama fotografer).jpg
8. Karya fotografi dimasukkan ke dalam amplop tertutup, di sudut kiri atas dituliskan: LOMBA FOTOGRAFI PS. FOTOGRAFI, FSRD ISI DPS.
9. Amplop diserahkan secara langsung kepada Panitia Lomba Fotografi PS. FOTOGRAFI, FSRD ISI DPS di JL. NUSA INDAH DENPASAR. Diterima di meja panitia paling lambat tanggal 19 JULI 2010.
10. Peserta berhak mengirimkan lebih dari 1 (satu) karya foto. Maksimal 10 (sepuluh) karya foto.
11. Biaya pendaftaran 1 (satu) karya foto adalah Rp. 10.000,-. Dibayarkan saat penyerahan karya foto kepada panitia.
12. Foto yang dikirimkan menjadi hak PS. Fotografi FSRD ISI Denpasar untuk kegiatan promosi maupun kegiatan lainnya.
13. Hasil penilaian dewan juri akan diumumkan melalui website ISI Denpasar, dan ditempelkan pada pengumuman Dies Natalis VII 2010, pada tanggal 20 Juli 2010.
14. Dewan juri terdiri dari akademisi, wartawan foto, dan fotografer profesional.
15. Keputusan dewan juri mutlak dan tidak dapat diganggu gugat.
Hadiah berupa uang tunai
Pemenang Pertama : Uang + Piala Rektor ISI Dps
Pemenang Kedua : Uang + Piala Dekan FSRD ISI Dps
Pemenang Ketiga : Uang + Piala Kaprodi Fotografi FSRD ISI Dps
10 Pemenang Harapan : Piagam Penghargaan
PANITIA LOMBA FOTOGRAFI
Program Studi Fotografi
Fakultas Seni Rupa dan Desain
Institut Seni Indonesia Denpasar
Jl. Nusa Indah Denpasar
Cp. Arba Wirawan – 081338738806
Lelo – 081326062005
by admin | Jul 15, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan
Seni pertunjukan klasik Bali kini semakin terpinggir. Teater tua Gambuh misalnya kemungkinan hanya bisa dipergoki dalam upacara keagamaan yang tergolong besar. Demikian pula Wayang Wong semakin sulit untuk menjumpai pementasannya. Bahkan salah satu seni karawitan Bali yang disebut Gambang sudah menuju kepunahannya. Beberapa bentuk seni klasik tradisional Bali yang lainnya hidup segan mati pun pasrah. Sementara itu, sebagian masyarakat pendukungnya semakin tak hirau dengan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam ekspresi seni klasik itu.
Mungkin sebagai bentuk kepedulian terhadap keberadaan seni klasik Bali yang sedang merana itu, Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-32 tahun 2010 ini memberikan porsi yang cukup luas untuk penampilan seni klasik. Tengoklah pada minggu pertama PKB, telah diisi dengan empat bentuk pagelaran seni klasik, semuanya berlangung pagi-siang hari. Pada Senin (14/6) tampil tari klasik Barong Banjarangkan, Klungkung, Selasa (15/6) diperdengarkan karawitan klasik Caruk Kabupaten Bangli, Rabu (16/6) ditampilkan karawitan klasik Slonding Kabupaten Gianyar, dan Sabtu (19/6) dihadirkan karawitan klasik Gambang Kabupaten Badung.
Penampilan tari klasik Kumara Eka Banjar Lepang, Banjarangkan, Klungkung di kalangan Ayodia, Taman Budaya Bali, disaksikan ratusan penonton. Suguhan seni pentas para penabuh dan penari yang rata-rata berusia remaja itu cukup meyakinkan. Bertitik tolak dari lakon Barong Swari, para seniman muda yang energik ini mencoba memberikan interpretasi tema PKB ke-32 dalam implementasi sajian seninya. Tema PKB XXXII, Sudamala: Mendalami Kemunian Nurani diejawantahkan dengan lakon ruwatan yang dipetik dari mitologi Siwa Tatwa.
Alkisah karena sebuah aib, Dewa Siwa menghukum istrinya, Dewi Uma, dengan mengusirnya ke bumi. Dalam wujud raksasa, Uma menjadi penguasa dunia kematian dengan sebutan Durga. Bersama para pengikutnya, Dewi Durga membuat ulah dan menebar bencana sehingga kehidupan menjadi kacau balau. Untuk menghindiri prahara yang lebih mengerikan, Dewa Siwa mengutus Tri Semaya menenteramankan kembali kehidupan di dunia. Tri Semaya yang terdiri dari Dewa Wisnu, Dewa Brahma, dan Dewa Iswara turun ke mayapada menjadi Telek, Topeng Bang, dan Banaspati Raja memerangi teror menakutkan Dewi Durga. Durga kalah dan disadarkan. Kehidupan alam semesta kembali harmonis.
Seni Klasik Mengusik Masyarakat Masa Kini Selengkapnya