M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Membangun Nasionalisme Melalui Fotografi

Membangun Nasionalisme Melalui Fotografi

Jakarta — Fotografi ternyata tidak sekedar gambar dua dimensi saja, tetapi bila dimaknai secara lebih mendalam. “Ternyata fotografi menyimpan kesempatan untuk membangun nasionalisme bangsa,” ujar Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal dalam sambutannya pada acara International 1st Indonesian Salon of Art Photography, Sabtu (21/08) di Hotel Atlet Jakarta.

Acara yang diselenggarakan oleh Lembaga Fotografi Candra Naya ini, merupakan perlombaan fotografi salon berskala Internasional. Tidak kurang 6.822 jumlah foto dari 730 peserta yang tersebar di 58 negara mengikuti ajang yang pertama kali diadakan di Indonesia ini.

Fasli menilai positif acara ini, sebagai bentuk konkret pembangunan karakter bangsa dan nasionalisme. “Dari foto-foto ini akan membangkitkan rasa nasionalisme kita. Dengan foto-foto tersebut kita bisa melihat kekayaan bangsa, sekaligus membangun kebanggaan kita,” ucapnya.

Melalui foto-foto itu pun, kita dapat mengabarkan banyak mengenai kekayaan yang dimiliki Bangsa Indonesia. “Dengan cara ini tentunya citra di Indonesia di mata dunia akan semakin baik,” ujarnya.

Dalam sambutannya, Fasli juga mengatakan acara ini secara tidak langsung berfungsi membangun people to people diplomacy. Artinya masing-masing individu yang berbeda spasial di belahan dunia, akan saling terhubung dengan tidak tergantung bagaimana hubungan diplomasi antar negara.

Menurut dia, pemerintah akan mendukung acara tersebut menjadi acara reguler. Dengan adanya acara yang berkelanjutan, Indonesia akan menjadi anggota terhormat dan memiliki kepercayaan dari dunia. (yogi).

Sumber: http://www.kemdiknas.go.id/list_berita/2010/8/24/fotografi.aspx

Pola Kekerabatan Masyarakat Banyumas

Pola Kekerabatan Masyarakat Banyumas

Oleh: Saptono, Dosen PS Seni Karawitan

Kehidupan masyarakat di wilayah daerah Banyumas pada prinsipnya mengikuti sistem kekerabatan masyarakat Jawa. Dalam kehidupan keluarga, istilah kekerabatan ditunjukan dengan sistem klasifikasi berdasarkan angkatan-angkatan (Koentjaraningrat, 1984:330). Misalnya, kepada semua sodara kakak laki-laki dan perempuan dari ayah dan ibu, dipanggilnya sama yaitu dengan istilah uwa. Uwa lanang untuk panggilan kepada sodara tua atau kakak laki-laki dari ayah dan ibu, sedangkan istilah uwa wadon untuk sodara perempuan  yang lebih tua dari ayah dan ibu. Bedanya untuk sodara yang lebih muda atau adik dari ayah dan ibu diklasifikasikan menjadi dua yang tergatung menurut jenis kelamin, jika laki-laki dipaggil dengan istilah paman atau pak lik dan jika sodara perempuan dipanggil dengan istilah bibi. Bagi sebagian besar masyarakat Banyumas secara akrab cukup dengan memanggil “uwane” atau “bibine”.

Untuk memupuk rasa persaudaraan dan kekeluargaan, hubungan antar warga untuk menunjang semangat gotong-royong juga merupakan prinsip dalam pola kekerabatan yang dilakukan oleh masyarakat Banyumas. Wujud dari semangat gotong royong merupakan konsep kerja sama yang dijunjung tinggi, hal ini sangat agrab dengan kehidupan masyarakat petani-agraris. Wujud dari semangat gotong-royong merupakan pengerahan tenaga tambahan dari luar kalangan keluarga untuk mengisi atau menambah kekurangan tenaga pada saat sibuk (Koentjaraningrat, 2002:56-7). Contoh kongkrit dalam masyarakat pedesaan di Banyumas adalah kesambat pada saat membuat batur rumah (dari tanah), atau mendirikan rumah tradisional yang terbuat dari bambu dan kayu. Kesambat merupakan bantuan tenaga dari sanak saodara atau dari tetangga-tetangga dekat untuk meluangkan waktu dan tenaganya untuk membantu keperluan tertentu.

Tempat tinggal warga yang ada didusun-dusun kebanyakan masih sangat sederhana, ada yang rumahnya masih menggunakan atap alang-alang atau daon (tetapi sekarang ini kebanyakan seng dan genteng), lantainya masih dari tanah, dan dindingnya gedek bambu atau dari papan kayu “belabak”. Bagi warga yang dianggap kaya biasanya rumahnya besar dan masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah  “rumah bandung” (mirip dengan rumah joglo) sepeti rumah-rumah milik kepala desa atau lurah. Selain itu, kebanyakan rumah-rumah di dusun-dusun tidak diberi pembatas pagar, hanya saja batas pekarangan milik antar warga biasanya menggunakan “telajak” pagar dari tanaman.

Pola kekerabatan juga terjadi karena perkawinan, maka perkawinan merupakan seuatu yang sangat penting dalam kelangsungan hidupnya. Bagi masyarakat Banyumas, perkawinan tidak hanya dimaknai dengan menyatukan dua individu laki-laki dan perempuan menjadi satu yang disebut keluarga, akan tetepi lebih dari itu bahwa perkawinan bisa dimaknai sebagai penyatuan atau ikatan silaturahmi antar keluarga.

Pola Kekerabatan Masyarakat Banyumas Selengkapnya

Konsep Ruang yang Mendasari Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya/Bali Arya I

Konsep Ruang yang Mendasari Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya/Bali Arya I

Oleh Drs. I Gede Mugi Raharja, MSn

Berdasarkan hasil pengamatan dan pengkajian tentang desain interior rumah tingal era Bali Madya di lapangan, maka sebagian besar konsep ruang rumah tinggal tradisional era Bali Madya berdasarkan pola-pola ruang sanga mandala, swastika, serta mengadaptasi konsep pempatan agung atau catuspatha. Aplikasi filosofi Trihitakarana pada konsep ruang rumah tinggal tradisional Bali Madya, sangat jelas memperlihatkan pembagian area: Parahyangan untuk tempat suci (sanggah/ merajan); Pawongan untuk bangunan dan bale-bale; dan Palemahan untuk kebun/ teba. Bebagai aktivitas keluarga dilakukan di dalam satu area atau ruang yang dibatasi tembok pembatas atau penyengker. Berbagai jenis bale-bale berada di dalam tembok pembatas/ penyengker, seperti bangunan Bale Dauh, Paon (dapur) dan Jineng (lumbung). Area khusus untuk tempat suci (sanggah/ merajan) keluarga, terletak di area timur laut.

1. Orientasi Ruang

Orientasi ruang rumah tinggal tradisional era Bali Madya nampak mengacu pada konsep Andabhuwana (bumi), berarti konsep ruang yang berorientasi pada potensi alam setempat (local oriented). Orientasi ruang ini mengacu pada arah: Gunung-laut (arah: kajakelod); Terbit-terbenamnya matahari (arah: kanginkauh). Berdasarkan konsep ini kemudian ditetapkan area/ zona yang paling suci sampai  area/ zona yang paling provan, sehingga unit-unit bangunan ditempatkan sesuai dengan fungsinya. Ruang paling suci adalah di timur laut (kaja kangin) untuk tempat suci, area utara (kaja) untuk tempat tidur (Bale Daja/ Bale Meten), area timur (kangin) untuk balai upacara (Bale Dangin/ Bale Gede), area barat untuk bangunan anak remaja/ tamu (Bale Dauh/ Loji), sedangkan area selatan untuk lumbung dan dapur. Selanjutnya orientasi ruang pada desain interiornya juga menyesuaikan, sehingga hulu ruang balai upacara mengarah ke timur (kangin) dan hulu ruang tidur mengarah ke utara (kaja).

Konsep Ruang yang Mendasari Desain Interior Rumah Tinggal Tradisional Bali Madya/Bali Arya I Selengkapnya

FSRD ISI Denpasar Wujudkan Visi Internasionalisasi Perguruan Tinggi Seni di Australia

FSRD ISI Denpasar Wujudkan Visi Internasionalisasi Perguruan Tinggi Seni di Australia

Perth (Australia)– Setelah suskses menyelenggarakan pameran, agenda akademis selanjutnya yang ditampilkan delegasi ISI Denpasar adalah menyelenggarakan seminar dan workshop sehari, pada tanggal 18 Agustus 2010, bertempat di hall Fakultas ALVA Universitas Western Australia. Seminar Internasional diawali dengan pengenalan keberadaan Perguruan Tinggi Seni di Indonesia khususnya ISI Denpasar oleh Pembantu Rektor II ISI Denpasar, I Gede Arya Sugiartha, S.S.Kar., M.Hum., yang mewakili Rektor ISI Denpasar. Dilajutkan dengan seminar yang dibawakan oleh para dosen ISI Denpasar, diantaranya Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes dengan makalah berjudul ‘Ergonomics and Tri Hita Karana Conception in Balinese Traditional Houses’, Putu Agus Bratayadnya, S.S., M.Hum. membahas tentang ‘The Color Meaning in Kamasan Painting’ serta Nyoman Lia Susanthi, S.S. dengan makalah berjudul ‘The Analysis of Communicative Meaning in Kamasan Painting: a Case Study Within Bima Swarga.

Tampak para peserta yang terdiri dari dosen dan mahasiswa dari Faculty of Architecture, Landscape and Visual Arts, University of Western Australia, sangat antusias mengikuti seminar. Mengingat content makalah yang dibawakan sangat menarik yaitu masing-masing pembicara menyelipkan local genius Bali diantaranya Lukisan Kamasan dan Konsep Tri Hita Karana.

Setelah seminar usai dilanjutkan dengan workshop tentang proses pembuatan lukisan Kamasan Bali, yang dibawakan oleh para dosen FSRD ISI Denpasar, diantaranya I Made Subrata, Ni Made Rinu, I Made Bendi Yudha, , I Wayan Kondra dan para dosen lainnya. Pada sesi inipun para peserta sangat tertarik mengikuti satu demi satu proses pembuatan Lukisan gaya Kamasan. Ketertarikan mereka tampak ketika usai kegiatan workshop para peserta masih betah untuk meneruskan lukisan mereka. Bahkan saking antusiasnya mereka ingin ke Bali untuk belajar lebih dalam tentang lukisan klasik Bali. “Ini pengalaman yang menarik bagi kami dapat belajar dan mengenal lukis wayang tradisional” ungkap Lina, salah satu mahasiswa Fakultas ALVA UWA.

“Melihat apresiasi civitas UWA terhadap kesenian Bali, saya cukup puas” kata Ni Made Rinu seusai menarikan memberikan workshop. Ini membuktikan ISI telah go Internasional” Imbuhnya.

Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA dilain kesempatan menanggapi dengan baik kerjasama ini dan mengharapkan realisasi kerjasama antara University of Western Australia dengan ISI Denpasar dan antara FSRD ISI denpasar dengan Faculty of Architecture, Landscape and Visual Arts University of Western Australia, sebagai langkah nyata untuk meningkatan akuntabilitas dosen dan Internasionalisasi kampus seni khususnya ISI Denpasar. Besar harapan ini mampu meningkatkan citra positif ISI Denpasar dan Bangsa Indonesia di tingkat Internasional. Dengan kerjasama ini juga dapat menambah networking kita di dunia dan diharapkan dapat memotivasi diri untuk mengasah kualitas dan kemampuan diri agar dapat bersaing di tingkat internasional.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Loading...