by admin | Sep 2, 2010 | Berita
BANDUNG, (PR).- Peraturan Pengganti Undang-undang (Perpu) Badan Hukum Pendidikan (BHP) yang saat ini masih dalam proses pengesahan dipastikan akan kembali menuai protes dan akan kembali digugat oleh berbagai pihak. Pasalnya substansi dari Perpu BHP masih sama dengan UU BHP yang sebelumnya sudah dibatalkan Mahkamah Konstitusi karena dianggap bertentangan dengan UUD 1945.
Pakar Hukum Universitas Islam Bandung (Unisba), Prof. Edi Setiadi menuturkan, negosiasi peran masyarakat yang diprotes dalam UU BHP ternyata masih tidak mengalami perubahan berarti dalam Perpu BHP ini. Malah, pemerintah terkesan hanya memoles dan tidak mengubah substansi yang sebelumnya banyak diprotes berbagai pihak.
“Justru itu yang diprotes, karena seharusnya negara yang menjamin pendidikan warganya, tapi di sini negara justru ingin mengabaikan kewajiban itu. Makanya masyarakat jangan terkecoh dengan produk lain meskipun UU BHP sudah dibatalkan tapi ternyata penggantinya masih sama,” kata Edi ketika ditemui di Kampus Unisba, Jln. Tamansari Bandung, Selasa (31/8).
Menurut Edi, uji materil terhadap Perpu BHP ini dipastikan akan kembali terjadi seperti halnya dulu ketika UU BHP terbit. Hanya, uji materil yang akan dilakukan ditujukan kepada Mahkamah Agung bukan lagi kepada Mahkamah Konstitusi. “Kalau Perpu ini sampai terbit lagi dengan draft yang sekarang, berarti tidak ada perubahan. Saya sudah baca dan tidak ada perubahan berarti,” ucapnya.
Edi menuturkan, dalam penyusunan draft Perpu BHP, pemerintah sama sekali tidak melibatkan pemangku pendidikan, setidaknya untuk berdialog atau melakukan sosialisasi. Padahal semestinya pemerintah melibatkan seluruh pemangku pendidikan dalam penyusunan Perpu BHP ini. “Pada waktu UU BHP akan terbit, sosialisasi pemerintah sangat gencar. Bahkan draft UU BHP tercatat sampai 37 draft. Sementara Perpu tidak ada sama sekali,” ungkapnya. (A-157)
Sumber: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=154893
by admin | Sep 2, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Ni Wayan Ardini, Dosen PS Seni Karawitan
Dalam bernyanyi digunakan kata-kata yang terdiri dari 2 unsur, yaitu: unsur vokal (huruf hidup) dan unsur konsonan ( huruf mati ). Adapun proses terjadinya unsur vokal dan konsonan adalah :
1) Jika pita suara bergetar, lalu menimbulkan suara yang menyebabkan saluran vokalnya terbuka untuk udara dari luar, maka hasilnya adalah suara-suara vokal.
2) Jika saluran vokalnya tertutup atau terhalang untuk udara dari luar, maka hasilnya adalah suara-suara konsonan. Terbentuknya konsonan dengan sendirinya melibatkan unsur lidah, bibir, gigi dan langit-langit.Latihan untuk membentuk dan membunyikan huruf-huruf vokal harus dimulai sejak dini dengan menggunakan cermin sebagai alat kontrol hingga tercipta suatu kebiasaan yang mantap. Latihan dapat dimulai dengan mengucapkan huruf-huruf A, E, I, O, dan U. Posisi rongga mulut dalam pembentukan huruf hidup nampak pada gambar berikut:
Pembentukan Huruf Vokal Dan Konsonan Dalam Bernyanyi, selengkapnya
by admin | Sep 2, 2010 | Artikel, Berita

Drs. I Made Radiawan, M.Erg.
[email protected]
1.1 Latar Belakang.
Proses belajar adalah proses pembelajaran dalam sistim pendidikan yang dilakukan sekolah dasar, menengah dan diperguruan tinggi baik yang sifatnya formal maupun informal dengan tujuan untuk mencerdaskan anak bangsa.
Pada masa dini pendidikan sangatlah penting dimana harus banyak hal yang perlu diketahui atau dikenal baik melalui bangku sekolah maupun di tempat-tempat privat yang dilaksanakan diluar sekolah.
Dalam sistim pendidikan akan mendapatkan wawasan secara global baik di sekolah umum maupun di sekolah kejuruan, sekolah umum sudah tentu ada jenjang yang lebih tinggi tingkatannya dan tingkat kejuruan siswa akan didik sebagai tenaga siap pakai setelah menyelesaikan pendidikannya tapi kemungkinan juga dapat melanjutkan kejenjang ketingkat yang lebih tinggi. Dalam tinjauan ke lapangan di SMIK Batubulan salah satu sebgai obyek untuk bisa dijadikan kasus yang banyak perlu diamati, dimana siswa merupakan obyek untuk dijadikan studi kasus terutamanya dalam melakukan pratek pada mata pelajaran praktek ukir (ukir kayu)
Waktu bekerja banyak siswa yang melakukan praktek ukir kayu dijumpai bahwa sikap duduk para siswa duduk bersila di lantai dengan ubin keramik tanpa memakai bantalan (tempat duduk), kadang-kadang dengan posisi jongkok dengan punggung membungkuk serta obyek kerja tanpa menggunakan landasanSikap kerja yang tidak fisiologis menjadi penyebab timbulnya keluhan pada system musculoskeletal.
Untuk mengatasi masala-masalah yang dihadapi oleh siswa SMIK Batubulan perlunya dilakukan beberapa perbaikan dalam kondisi kerja, dari duduk dilantai dengan sikap jongkok diubah dengan dibiasakan memakai tempat duduk (kursi) dengan bekerja diatas meja kerja yang ergonomic diharapkan dengan perbaikan sikap kerja dan stasiun kerja sehingga lelah tidak muncul dengan cepat dan meningkatkan produktivitas kerja pratek siswa SMIK Batubulan.
Sikap Kerja Praktek Ukir Pada Sekolah Menengah Industri Kerajinan Batubulan, Gianyar, Bali Selengkapnya
by admin | Sep 2, 2010 | Artikel, Berita
Oleh Saptono, Dosen PS Seni Karawitan
Penyajian (pementasan) karawitan oleh masyarakat seniman tradisi (pengrawit) khususnya pada karawitan Jawa (diluar Sunda dan Bali) lebih akrab dengan menggunakan istilsh-istilsh klenengan atau uyon-uyon, artinya menyajikan repertoar gendhing-gendhing. Gendhing adalah sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut komposisi musikal dalam karawitan Jawa. Dalam pengertian yang lain gendhing juga dapat diartikan susunan kalimat lagu yang diseimbangkan dalam satu kesatuan yang utuh bentuk (Waridi,2002: 2).
Karena itu karawitan juga sangat memungkinkan adanya perbedaan penyajian pada saat yang berbeda. Perbedaan penyajian tersebut antara lain ditentukan oleh fungsi dan kegunaan karawitan. Fungsi musikal menyangkut hubungan karawitan dalam kaitannya dengan peristiwa kesenian yang lain, misalnya karawitan sebagai iringan pakeliran, yang dulu hanya diiringi dengan gamelan slendro, yang ricikan/instrumennya terdiri; rebab, kendang, gender, saron, gambang, suling, kecer, ketuk, kenong, kempul, gong. Kemudian pada jaman Paku Buwon X (1893-1939), sudah ada penambahan ricikan/instrumen dan masih menggunakan gamelan laras slendro (untuk cerita ramayana dan mahabarata) (Soetarno, 2003:61). Dan menurut Umar Kayam bahwa pertunjukan wayang dilingkungan masyarakat urban menjadi bagian pula dari masyarakat dengan sistem nilai yang cair, dan wayang kulit menjadi bagian dari irama suatu masyarakat yang konsumtif, maka susastra, orkestra karawitan, wayang, dan pesan-pesan lakon dalam pertunjukan wayang, disesuaikan dengan tingkat kemampuan imajinasi masyarakat urban (ibid. p.66).
Proses modernisasi serta integrasi nasional juga mempengaruhi kehidupan seni karawitan, khususnya dalam karawitan wayang yang akhir-akhir ini secara kuantitas mengalami perkembangan yang cukup menonjol, yaitu adanya penambahan instrumen-instrumen musik non gamelan. Instrumen-instrumen tersebut, seperti; keyboard, symbal, bass drum, snar drum, terompet, dan sebagainya.
Pemekaran Wilayah Garap Dalam Karawitan Jawa Selengkapnya