M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Penerapan Ragam Hias Geometris Pada Pintu Style Bali

Penerapan Ragam Hias Geometris Pada Pintu Style Bali

Oleh : (I Made Sumantra, S.Sn., Jurusan FSRD, DIPA 2007)

Abstrak Penelitian

Ornamen adalah unsur estetika yang sangat dominan dalam penampilan pintu Style/ Tradisional Bali. Karean setiap pintu Style/Tradisional Bali tidak dapat dipisahkan dari ornamen, baik ornamen yang sangat sederhana sampai pada ornamen yang sangat rumit. Dari hasil pengamatan terhadap pintu-pintu Style/ Tradisional Bali baik yang kuno sampai pada yang paling terbaru memperlihatkan suatu perkembangan ornamen yang signifikan. Dimana pada pintu-pintu yang relatif kuno tampil dengan ornamen yang sangat sederhana tetapi telah indah dan serasi. Sedangkan pintu=pintu yang dibuat pada saat sekarang kecendrungan menggunakan ornamen yang relatif lebih ramai dan rumit, tetapi tetap juga tampil indah dan menarik. Keunikan lain pintu Style/Tradisional Bali adalah selalu mengeluarkan bunyi pada saat dibuka meupun ditutup. Hal ini disebabkan oleh gesekan antara poros atas dan bawah dari daun pintu dengan lubangporosnya yang terdapat pada petitis dan dedange. Dewasa ini bentuk pintu Style? Tradisional Bali telah mengalami perkembangan tersebut belum sampai menyentuh bagian-bagai prinsip yang dapat merusak tatanan pintu tersebut. Yang menarik bagi kita dalam hal ini, adalah bagaimana ragam hias geometreis ini diterapkan sebagai hias untuk pinggiran pintu Style/Tradisional Bali dengan mempertimbangkan keserasian bentuk, keluwesan menggabungkannya serta komposisinya.

Kata kunci : Pintu style/ Tradisional Bali, Ragam Hias.

Perkembangan Desain Kerajinan Tenun Di Desa Sidemen Karangasem

Perkembangan Desain Kerajinan Tenun Di Desa Sidemen Karangasem

Oleh : (Drs. I Wayan Gunawan, Jurusan Seni Murni,FSRD, DIPA 2007)

Abstrak Penelitian

Di Indonesia sangat kaya akan aneka ragam coraknya kerajinan tenun, mengingat negar indonesia terdiri dari berbagai pulau dan suku bangsa yang setiap daerah mempunyai adat sendiri-sendiri, maka sudah selayaknya kalau hasil kerajinan tenun memiliki ciri khas sesuai dengan kebudayaannya. Kerajinan tenun di desa Sidemen , Karangasem, juga memiliki ciri khas tyersendiri terutama tampilan motif dan warnanya, sehingga dijadikan cirikhas produknya suatu daerah yaitu kain tenun ikat pakan (kain endek) Sidemen. Desa sidemen merupakan salah satu sentra (basis) industri kerajinan tenun ikat dan tenun-tenunan tradisional lainnya.

Perusahan di desa Sideman ada 5 buah perusahan tenun ikat dengan mempekerjakan tenaga pengrajin seluruhnya tidak kurang dari 240 orang. Hasil kerajinan tenun daerah tersebut pada umumnya dikerjakan oleh para pengrajin baik laki maupun perempuan dengan alat-alat yang masih sangat sederhana, yaitu Alat Tenun Bukan mesin (ATBM). Dari alat ini dapat dihasilkan berbagai jenis kain sesuaigan fungsinya, yaitu susti u fungsi yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia itu sendiri terutama untuk melindungi badan dari pengaruh iklim, cuaca, serta serangan dari binatang-binatang kecil dan juga merupakan cerminan budaya masyarakat pendukungnya, oleh karean didalamnya terkandung ide-ide, gagasan-gagasan, norma-norma sera nilai-nilai yang secaraumum dapat dikatakan cerminan masyarakat pendukungnya. Kerajian tenun di desa Sidemen tampak adanya keragaman. Ada yang berangkat dari keaneka ragaman bahan baku adapula yang cendrung mengembangkan kemungkinan teknik pewarnaan serta pencairan motif-motif baru. Selain itu ada yang menekankan segi fungsi, ada pula yang menggunakan keindahan. Pendekatan keindahan desain nampaknya paling banyak dilakukan oleh disain tenun ikat di Sidemen. Kebanyakan mereka memanfaatkan keindahan motif dan warna bahan untuk mendukung disain yang dibuat seperti yang ditunjukan pada produk-produk kain tenun ikat pakan baik yang difungsikan sebagai kain panjang, rok Blus dan kemeja, sebagain besar produk tersebut menggunakan tampilan keindahan desain sehingga dihasilkan kain tenun ikat pakan yang terarah mudah dan indah.

Perkembangan Seni Patung Beton Di Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar

Perkembangan Seni Patung Beton Di Desa Peliatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar

Oleh : (Drs. I Nyoman Ngidep Wiyasa, M.Si., Jurusan FSRD, DIPA 2007)

Abstrak penelitian

Pada mulanya seni patung Bali berfungsi sebagai sarana ritual pemujaan dalam bentuk simbol perwujudan roh leluhur, dewa, Tuhan, dengan segala manifestasinya yang bersifat sakral. Jenis-jenis patung perwujudan tersebut di Bali sering disebut pratima ,arca, petapakan dan pralingga. Pembaharuan yang sangat gemilang dalam seni patung Bali terjadi setelah adanya kontak langsung seniman lokan dengan sniman asing (Barat), sehingga melahirkan bentuk-bentuk baru yang cendrung realis, naturalis dan surealis yang menggunakan meterial kayu kemudian berkembang pesat di Desa Mas, Kemenuh dan Desa Peliatan, dengan tokoh=tokoh pematungnya antara lain Ida bagus Nyana, Ida Bagus Tilem, I Ketut Tulak, I Wayan Ayun, Pande Wayan Neka, I Nyoman Togog dan I Wayan Winten.

Seni patung dengan meterial baton yang berkembang dewasa ini di Desa Peliatan keberadaannya tidak terlepas dari seni patung kayu yang sudah ada sebelumnya, karean para pematung yang menekuni seni patung beton tersebut rata-rata sudah berpengalaman dalam bidang seni patung kayu, seperti halnya I Wayan Winten. Sebagai pematung yang hidup dalam lingkungan masyarakat dengan nilai-nilai budaya serta potensi seni yang menonjol, dan didukung oleh latar belakang pendidikan seni secara akademis yakni SMSR Denpasar dan PPGK Yogyakarta, menjadikannya sebagai seniman yang kreatif dan memiliki wawasan yang luas tentang kesenian khususnya seni patung. Hal ini sangant menarik dikaji dengan menerapkan berbagai metode pendekatan antara lain : metode obsevasi, yaitu melalui pengamatan langsung ke lapangan untuk mengetahui perkembangan seni patung beton di Desa Peliatan baik dilihat dari segi  kuantitas pematung, bentuk karya, fungsi maupun maknanya bagi masyarakat. Selain itu juga dilakukan pengamatan mengenai p[roses penciptaan seni patung beton mulai dari membuat maket (miniatur) sampai terwujudnya karya seni patung itu sendiri. Metode wawancara dilakukan mulai dari I Wayan Winten sebagai informasi kunci, dan pelopor pematung beton yang ada di Desa Peliatan, kemudian baru para pematung beton lainnya yang dianggap bisa memberikan informasi yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Metode kepustakaan, dilakukan dengan menelaah sejumlah pustaka yang ada kaitannya dengan keberadaan seni patung Bali, yang terkait dengan perkembangan seni patung beton di Desa Peliatan. Sementara itu, metode doklumentasi, yaitu pengumpulan data melalui bukti-bukti tertulis yakni berupa bku monografi Desa Peliatan, katalog pameran dan foto-foto karya seni patung.

Berdasarkan data yang telah diperoleh sesuai dengan kebutuhan penelitian ini maka dapatlah dijelaskan bahwa proses penciptaan seni patung beton yang ada di Dsa Peliatan melalui tahapan-tahapan sebagai berikut : (1) pembutan gambar sketsa, (2) pembuatan maket (miniatur), )3) pembentukan konstruksi rangka patung, (4) pengecoran rangka patung, (5) tahap pembentukan, (6)  penyelesaian bentuk dan desain hiasan. Perkembangan seni patung beton yang ada di Dsa Peliatan tidak terlepas dari pengaruh sosok I Wayan Winten yang sudah menekuni seni patung dengan material beton dimulai sejak tahun 1992 yakni membuat patung penari, yang menghiasi pertigaa Br. Teges Desa Peliatan. Tahun 1994 mambuat patung Satria Gatot Kaca yang ada di Kuta. Tahun 1995 membuat patung Dewa Wisnu, Garuda, Kalarau dan Dewai Ratih yang menhiasi Taman Ciung Wanara Kota Gainyar. Tahun 1995 membuat patung Dewa Indra di pertigaan Tegal Tugu  Gianyar. Tahun 1995 membuat patung Dewi Natha yang menghiasi pertigaan Semabaung Gianyar. Tahun 1996 membuat patung Kapten Mudita di Kota Bangli. Tahun 1996 membuat patung Dewa Ruci di Simpang Siur Kuta. Tahun 2002 membuat patung Betara Tiga di pertigaan Manguntur Batubulan. Tahun 2003 membuat patung Sutasoma di pertigaan Ubud, dan sejumlah karya patung beton lainnya tidak hanya di Bali, akan tetapi juga di luar Bali. Ketenaran sosok pematung I Wayan Winten membuat generasi muda banyak yang tertarik untuk belajar seni patung dengannya, baik lewat pendidikan non formal maupun formal, karena Wayan Winten disamping sebagai seniman, juga sebagai seorang guru di SMSR, yang kini adalah SMKN I Sukawati. Mantan murid-muridnya yang sampai kini menekuni seni patung beton antara lain : Komang Labda, asal Karangasem yang saat ini menmpati studionya di Jalan Dewi Candra Batubulan. I Ketut Suardana asal Banjar Tengah Peliatan, membuka studio patung di rumahnya sendiri, di Jalan Raya Peliatan, I Wayan Sedan Suputra, asal banjar Kalah Peliatan, kini membuka studio di Jalan Raya Kengetan Ubud. I Wayan Winarta, asal Desa Batuan, membuat studio patung di Jalan raya Batuan, I Nyoman Purna, asal Banjar Tengah Peliatan saat ini membuat studio patung di Jalan Raya Pengosekan Ubud. Sedangkan Kadek Artika, asal Banjar Tengah Peliatan kini membuka studio patung di jalan Kengetan Singakerta Ubud. Perkembangan seni patung beton di Desa Peliatan tidak hanya bisa dilihat dari kuantitas pematungnya, akan tetapi juga perkembangan bentuk karya, fungsi maupun maknanya bagi masyarakat. Dilihat dari segi bentuk yang merupakan hasil aktivitas baik individu maupun kelompok, dan entitas yang dihasilkan bersifat kongkret, terwujud lewat karya-karya patung beton yang bergaya realis, naturalis dan abstrak. Sementara itu, tema yang diangkat tidak hanya-hanya tema-tema pewayangan seperti Ramayana, Mahabrata, mitologi Hindu dan tantri, akan tetapi juga kehidupan sehari-hari (kehidupan sosial), sehingga hadir karya patung beton yang sangat variatif. Dilihat darisegi fungsi, kehadiran seni patung beton di Desa Peliatan tidak hnay untuk kepentingan ritual pemujaan yang terwujud dalam bentuk simbol-simbol keagamaan, melainkan juga berkembang ke fungsi estetis dekoratif yakni sebagai elemen penghias taman kota, tempat rekreasi, kantor pemerintahan, hotel museum, rumah hunian dan sebagainya. Sdangkan kalau dilihat darisegi makna telah mengalami perkembangan tidak hanya makna keindhan akan tetapi juga makna pembaharuan dan kesejahteraan. Oleh karena karya yang terwujud memilik nilai keindaha, nilai inovasi (pembaharuan), yakni memiliki perbedaan dengan karya-karya patung yang ada sebelumnya, dan kehadiran karya tersebut mampu meningkatkan taraf kesejahteraan senimannya dan juga masyarakat pendukungnya.

Budaya Hidup Konsumtif Masyarakat Terhadap Produk Ponsel

Budaya Hidup Konsumtif Masyarakat Terhadap Produk Ponsel

Studi Kasus Desain Iklan di Media Cetak

Oleh : (I Made Pande Artadi, M.Sn. Jurusan Desain, FSRD, DIPA 2007)

Abstrak Penelitian

Stand ISI DenpasarMeskipun dalam beberapa tahun ini Indonesia mengalami resesi di bidang ekonomi dan kekacauan di bidang politik, namun bisnis ponsel tetap berkembang. Kondisi ekonomi yang semakin memburuk bukan menjadi permasalahan dan penghambat daya beli masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan teknologi ponsel.

Keberhasilan dari produsen ponsel dalam menjual produknya di Indonesia tidak terlepas dari peran iklan sebagai media komunikasi antara produsen dan konsumen dalam memperkenalkan produk. Iklan yang pada hakekatnya sebagai media komunikasi antara produsen dan konsumen dalam memperkenalkan produk, dijadikan sarana untuk mengirim makna yang tidak benar-benar dibutuhkan oleh konsumen, sehingga terjadi perubahan gaya periklanan dalam masyarakat konsumer.Iklan yang awalnya sebagai gambaran produk bergeser menjadi iklan yang menyampaikan penampilan produk dan penggunaannya dalam gaya hidup tertentu.

Berdasarkan fenomena tersebut maka penelitian ini mengupas berbagai iklan display ponsel pada media cetak KOMPAS. Penelitian ini ditempuh melalui pendekatan sosial Budaya` dalam ruang lingkup Gaya Hidup. Metode yang digunakan dalam penulisan adalah metode deskriptif sedangkan metode analisa yang digunakan adalah analisis kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata –kata tertulis atau lisan dari berbagai obyek yang diawasi. Penilaiannya didasari oleh analisa kesesuaian antara teoritis ilmiah dengan pengamatan iklan-iklan di media cetak, sehingga terbentuk analisis studi konformitas yaitu menyesuaikan antara fakta yang ada dengan tolok ukur, yang diungkapkan secara deskriptif.

Telaah Deskripsi Kriya Seni

Telaah Deskripsi Kriya Seni

Oleh : (I Nyoman Suardina, S.Sn., M.Sn.,Jurusan Seni Rupa, FSRD, DIPA 2007)

Abstrak Penelitian

Laporan penelitian ini terdiri dari empat bab, yang masing-masing bab menguraikan berbagai materi dan proses penelitian tersebut. BAB I Menguraikan tentang latar belakang penelitian yaitu fenomena kriya yang muncul selama ini dan segera perlu dipecahkan. Rumusan masalah yaitu permasalahan yang hendak dikaji dalam penelitian ini. Tujuan dan manfaat penelitian yaitu sasaran yang ingin dicapai serta manfaat penelitian bagi masyarakat akademik maupun masyarakat umum. Metode penelitian yaitu beberapa yang dipakai dalam penelitian ini. BAB II Tinjauan Pustaka yaitu menguraikan tentang beberapa sumber refrensi yang mendukung konsep penelitian. Menguraikan beberapa teori serta pendapat para ahli berkaitan dengan pengertian kriya, historis kriya serta wacana yang menyangkut masalah kriya secara umum untuk menjamin validitas penelitian. Bab ini juga menguraikan tentang hubungan kriya dan seni, serta eksistensi kriya seni. BAB III Hasil dan Pembahasan yaitu menguraikan tentang hasil telaah para ahli dalam mendiskripsikan seni kriya sampai pada melahirkan kriya seni. Bab ini juga menguraikan situasi seni kriya secara sistematik dari peradaban pra sejarah sampai modern dan post modern. Untuk memudahkan pemahamannya semua ditampilkan dalam bentuk diagram. BAB IV Penutup yaitu menyimpulkan hasil penelitian secara keseluruhan. Juga saran-saran yang berkaitan dengan situasi seni kriya ke depan.

Loading...