by admin | Jan 10, 2011 | Berita, pengumuman
Unduh file ‘disini
PENGUMUMAN
Nomor 197/I5.12/KM/2011
Tanggal 7 Januari 2011
Tentang
Penerimaan Mahasiswa Baru
Program Beasiswa Bidik Misi Institut Seni Indonesia Denpasar
Tahun Akademik 2011/2012
Pada tahun akademik 2011/2012 penerimaan mahasiswa baru ISI Denpasar diselenggarakan melalui jalur :
1. Reguler Mandiri;
2. PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan); dan
3. Program Beasiswa Bidik Misi Tahun 2011.
Penerimaan mahasiswa baru Program Beasiswa Bidik Misi (beasiswa dan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu secara ekonomi dan berprestasi) ISI Denpasar pada tahun 2011 dialokasi sebanyak 45 (empat puluh lima) orang bagi siswa SMA/SMK/MA/MAK atau bentuk lainya yang sederajat yang akan lulus pada tahun 2011 atau telah lulus tahun 2010 dan bukan penerima Bidik Misi. Setiap calon pendaftar hanya boleh mendaftar di 1 (satu) perguruan tinggi dengan memilih 2 (dua) program studi.
Program studi S1 di lingkungan ISI Denpasar sebagai berikut :
| Kode PS |
Nama Program Studi |
| 91-231 |
SENI TARI |
| 91-211 |
SENI KARAWITAN |
| 91-241 |
SENI PEDALANGAN |
| 90-201 |
SENI RUPA MURNI (minat LUKIS dan PATUNG) |
| 90-221 |
DESAIN INTERIOR |
| 90-241 |
DESAIN KOMUNIKASI VISUAL |
| 90-211 |
KRIYA SENI (minat KAYU dan KRAMIK) |
| 91-271 |
FOTOGRAFI |
Informasi lebih lanjut harus berpedoman pada Panduan Bidik Misi dan Formulir pendaftaran, dapat diunduh di www.dikti.go.id atau www.bidikmisi.dikti.go.id
Demikian atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
Rektor

ttd
Prof. Dr. I Wayan Rai S.,MA
NIP 195505261981031002
by admin | Jan 10, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Dua istilah dalam bahasa Bali, oleg (goyang) dan tamulilingan (kumbang), digabungkan untuk menyebut sebuah cipta seni tari yang lahir pada tahun 1952. Tak disangka, tari yang bertutur tentang sepasang kumbang, jantan dan betina, yang sedang menjalin asmara di sebuah taman bunga itu, masih mempesona hingga hari ini. Oleg Tamulilingan, tari duet buah kreasi dan inovasi I Ketut Marya tersebut, dalam perjalanannya, menjadi karya seni pertunjukan monumental yang belum tertandingi hingga kini. Masyarakat Bali seakan tak pernah bosan mengaguminya. Pun, tidak sedikit para gadis Bali yang dengan bangga membawakan gemulai anggun, lenggok si kumbang betina nan ayu ini.
Tengoklah pada Kamis (25/11) malam lalu di Gedung Mario, Tabanan. Beberapa pasang penari Oleg Tamulilingan, sarat antusias adu keperigelan dalam sebuah kompetisi. Luh Kade Pebria Satyani (18 tahun), misalnya, tampak menunjukkan totalitasnya mensinergikan wiraga-wirama-wirasa, bersama pasangannya (kumbang jantan), tampil dengan aura dan gairah berbinar. Begitu juga para penari Oleg yang lainnya, semuanya pentas dengan semangat membuncah. Gereget tersebut, selain digedor oleh motivasi lomba, tampaknya juga digelorakan oleh stimulasi cinta seni budaya luhur bangsa sendiri. Lebih-lebih bagi masyarakat Tabanan, tari Oleg Tamulilingan dan Ketut Marya diusung sebagai salah satu ikon dearahnya. Patung Oleg Tamulilingan dipajang di depan Gedung Mario (diabadikan dari nama Marya yang oleh orang barat disebut Mario).
Tari Oleg Tamulilingan dan Mario telah menyatu dan melegenda. Sejatinya, tari Oleg diciptakan melalui proses berliku oleh pribadi seorang Ketut Marya yang unik. Ekspresi artistik yang terakumulasi dalam tari Oleg, memang sepenuhnya merupakan formulasi estetik Ketut Marya. Tetapi iringannya yang merupakan kerangka konseptual dalam sebuah koreografi, Marya disokong pengerawit tangguh yaitu Wayan Sukra asal Marga, Tabanan dan disempurnakan oleh Anak Agung Gde Mandera, Gusti Kompyang, dan Wayan Lebah dari Peliatan, Gianyar. Sedangkan dari aspek gagasan, tari Oleg terinspirasi oleh foto-foto ballet klasik duet “Sleeping Beauty” yaitu tentang kisah percintaan putri Aurora dengan kekasihnya Pangeran Charming, yang ditunjukkan kepada Marya oleh seorang budayawan Barat yang menetap di Kaliungu, Denpasar, John Coast.
Tari Oleg Tamulilingan diciptakan Marya ketika usianya menapak lebih dari 50 tahun. Di usia senjanya, Marya asyik memanjakan kegemarannya berjudi sabungan ayam. Ketika ada ajakan kepadanya untuk bergabung dengan sekaa gong Peliatan, Ubud, Gianyar, Marya tak menggubrisnya dengan alasan dirinya sudah tua. Baru ketika salah satu muridnya, I Sampih, yang memintanya dengan segala bujuk rayu menciptakan sebuah tari baru untuk sekaa gong Peliatan yang akan melawat ke luar negeri, ia tertarik. Sebagai seorang seniman tulen, ketika berkesempatan melawat ke Eropa, Kanada, dan Amerika serikat pada tahun 1957 dan 1962, Marya tampil dengan taksu berbinar memukau penonton dengan membawakan tari ciptaannya, Kebyar Terompong.
Oleg Tamulilingan, Tari Cinta Kasih Bali, selengkapnya
by admin | Jan 9, 2011 | Berita
JAKARTA–Penyelenggaraan pendidikan bisa dilakukan oleh Pemerintah dan swasta. Jika dilakukan oleh Pemerintah maka disebut sekolah negeri, akan tetapi jika dilakukan oleh masyarakat maka disebut swasta. Atas dasar ini, swasta dan negeri harus dibedakan.
’’Pemerintah punya keterbatasan, dan berdasarkan undang-undang itu penyelenggaraan pendidikan bisa dilakukan pemerintah dan masyarakat. Kalau semuanya menjadi tanggungan Pemerintah, maka peran masyarakat akan hilang,’’ ucap Menteri Pendidikan Nasional ketika ditanya soal gugatan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional nomor 20 tahun 2003 Pasal 55 ayat 4, Jumat (7/1).
Menurut Nuh, berdasarkan pandangan dari sisi pemerintah atas UU Sisdiknas, pendidikan itu sejak awal dilakukan terbuka, yaitu bisa dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat. Jika kata ’dapat’ dalam pasal itu diganti dengan kata wajib, maka semuanya menjadi tanggungan pemerintah dengan kata lain menghilangkan konsep swasta.
’’Bukan kalau pemerintah memberikan status sama dengan negeri, maka yang swasta diberikan fasilitas yang sama dengan negeri, lalu apa bedanya swasta dengan negeri’’ tuturnya. Akan tetapi jika masyarakat punya pandangan lain, hal itu dipersilahkan. ’”Masyarakat bisa melalui mekanisme pengujian di MK (Mahkamah Konstitusi), nanti diputuskan apa pemerintah wajib memenuhi seluruh pendidikan yang ada di masyarakat,’’ tuturnya.
Justru kalau semuanya menjadi kewajiban pemerintah, swasta tak bisa mengembangkan diri dan masyarakat memiliki keterbatasan untuk berpartisipasi dalam pendidikan. ’’Justru pemerintah meletakkan fondasi bahwa pendidikan menjadi milik semua,’’ ucapnya.
Pemerintah dari awal memberikan bantuan melalui BOS atau bantuan guru DPK, yang mekanisme bantuannya melalui anggaran kabupaten dan kota. Anggaran fungsi pendidikan ini bukan hanya untuk negeri akan tetapi untuk swasta. Ia menambahkan masyarakat harus membedakan antara hak perorangan dan lembaga.
’’Semua bantuan akan diterima secara bertahap,karena pemerintah punya keterbatasan. Bagi anak-anak miskin, ada sekolah dasar yang ada di setiap pedesaan yang menjadi hak menerima pendidikan. Jadi tidak ada diskriminasi,’’ pungkasnya.
Sumber: http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/berita/11/01/07/157230-mendiknas-swasta-dan-negeri-harus-dibedakan
by admin | Jan 8, 2011 | Artikel, Berita
Kiriman Kadek Suartaya, Dosen PS Seni Karawitan ISI Denpasar
Pada awalnya, mebarung gamelan menguak dari Buleleng. Dari desa-desa di Bali Utara itu, sekitar tahun 1930-an, merebak ke seluruh Bali. Sejak Pesta Kesenian Bali (PKB) digelar tahun 1979, duel gamelan dan tari ini sangat populer di tengah masyarakat Pulau Dewata. Tetapi, kini, pentas secara kompetitif gamelan ini mulai merambah pulau Jawa. Pada tanggal 26-27 Nopember lalu misalnya, masyarakat pecinta seni Jawa Tengah, terpana oleh sajian mebarung gamelan Bali yang digelar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Empat grup gamelan, tiga dari tanah Jawa dan satu dari Bali, tampil adu tangguh. Penonton tampak menikmatinya dengan begitu antusias bak suasana pentas mebarung di Bali.
Pada malam pertama (26/11), pentas secara berhadapan tim gamelan ISI Surakarta dengan ISI Yogyakarta. Sajian konser gamelan dan tari yang ditampilkan mirip dengan festival atau parade Gong Kebyar di arena PKB. Ada tampilan dua konser tabuh dan suguhan nomor tari atau sendratari. Demikian pula mebarung pada malam kedua (27/11) yang menampilkan ISI Denpasar dan grup gamelan Puspa Giri Semarang menyuguhkan materi seni karawitan dan tari yang diwajibkan panitia. Tak dinyana, penampilan tiga grup gamelan Bali dari Jawa tidak kalah tangguh dengan sajian para mahasiswa ISI Denpasar.
Tradisi mebarung gamelan di Bali dan gebrakan mebarung gamelan Bali di Jawa tak bisa dilepaskan dari pesatnya perkembangan Gong Kebyar. Ansambel gamelan yang lahir di Bali Utara pada tahun 1915 ini, kini, hampir dimiliki oleh setiap banjar atau desa di Bali. Belakangan, tak sedikit dari pribadi-pribadi, sanggar-sanggar seni, kantor-kantor pemerintah dan swasta yang memiliki barungan gamelan yang biasanya dimainkan oleh sekitar 30-40 orang penabuh ini. Sedang di Jawa, sekolah-sekolah atau institut-institut seni dan sanggar-sanggar tari juga mengkoleksi dan mempelajari salah satu gamelan yang paling populer ini. Selain itu, kini gamelan Gong Kebyar telah menyebar ke pelosok Nusantara yang dibawa atau diprakarsai oleh para transmigran asal Bali. Ritual agama Hindu di pura pura di daerah transimigrasi di Sulawasi, Kalimantan, Sumatera misalnya telah lazim disertai dengan gemerincing permainan gamelan Gong Kebyar.
Di tengah masyarakat Bali, Gong Kebyar berfungsi fleksibel menyertai berbagai kepentingan pentas seni, baik presentasi estetik murni maupun persembahan dalam konteks ritual keagamaan. Gamelan ini sangat umum dikenal, baik oleh msyarakat Bali sendiri maupun oleh para peminat musik luar Bali. Gamelan ini kini malahan sudah menyebar ke luar negeri, di Amerika Serikat ada grup gamelan Gong Kebyar Sekar Jaya dan di Jepang ada grup Sekar Jepun yang sangat aktif menggelar pementasan. Gaya permainan musik Kebyar yang cepat, energik, atraktif, ramai dengan variasi jeda-jeda yang diungkapkan dengan penuh daya pikat, bergairah, dianggap mewakili dan menjadi ciri khas musik Bali secara keseluruhan.
Fenomena semakin banyaknya sebaran Gong Kebyar di Nusantara bahkan ke seantero jagat memunculkan sebuah wacana yang didiskusikan dalam sebuah seminar pada tanggal 26 Nopember di ISI Surakarta, menjelang pentas Mebarung Gong Kebyar. Tiga pakar seni dan budaya tampil sebagai nara sumber yakni Prof. Dr. Rahayu Supanggah, SKar, Prof. Dr. I Wayan Rai, S.MA, dan Prof. Dr. Ida Bagus Yudha Triguna membahas topik “Musik Bali Mendunia?”, (dengan tanda tanya). Para peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen serta para peminat seni, mengikuti dengan tekun seminar setengah hari yang berlangsung hangat itu.
Gamelan Bali Mendunia Tanpa Tanda Tanya, selengkapnya
by admin | Jan 8, 2011 | Artikel, Berita
Pendidikan di Indonesia merupakan satu sektor yang paling banyak mendapat perhatian. Bukan karena pentingnya sektor ini tetapi karena semua permasalahan tampak menyatu di dalam sektor ini dan sampai sekarang permasalahan tersebut jangankan terurai dan dapat diselesaikan, bahkan usaha pemetaan masalahnya pun masih belum menunjukkan tanda-tanda akan segera usai. Semua usaha sebenarnya telah dilakukan, hanya saja tidak jarang usaha tersebut dilakukan setengah hati atau bahkan tidak jarang menggunakan cara yang sangat tidak elegan seperti mengedepankan sebuah jargon baru dengan isi yang sebenarnya sudah lama ada. Akibatnya tentu saja mudah ditebak, persoalan yang ada bukannya diselesaikan tetapi justru ditambah.
Persoalan lain yang juga tidak kalah merisaukannya adalah munculnya anggapan karena sebuah jargon berhasil dikedepankan lengkap dengan argumentasi akademisnya maka persoalan pendidikan dianggap telah selesai. Padahal anggapan semacam ini tidak kalah berbahayanya dibandingkan dengan permasalahan yang ada dalam dunia pendidikan itu sendiri. Jargon penting, motto penting, penentuan visi dan misi juga penting. Tetapi jika hanya berhenti sampai di sini lalu beranggapan bahwa semuanya ’beres’ maka tentu saja salah besar. Persoalan lama dalam dunia pendidikan bukan saja tidak terselesaikan – dan mungkin memang tidak akan pernah terselesaikan – tetapi sejumlah persoalan baru ternyata terus menerus ditambahkan.
Pendidikan Holistik Dunia
Sebagai bagian dari filsafat pendidikan, pendidikan holistik didasarkan pada premis bahwa setiap orang mampu menemukan jati diri, makna, dan tujuan hidup dalam kaitannya dengan masyarakat, alam, dan nilai-nilai kemanusiaan seperti perhatian, kasih sayang dan perdamaian. Pendidikan holistik bertujuan menggali dari setiap orang potensi jati diri dan kemampuan untuk mengasihi sesama ditambah dengan kecintaan untuk terus menerus belajar dan mempelajari ilmu pengetahuan. Definisi ini diyakini berasal dari Ron Miller, orang yang dikenal memprakarsai jurnal Holistic Education Review. Pada perkembangan berikutnya istilah ini seringkali dikaitkan dengan tipe pendidikan yang lebih demokratis dan berwajah kemanusiaan.
Robin Ann Martin (2003) mengatakan, seperti yang dicatat dalam situs http://en.wikipedia.org/wiki/Holistic_education, bahwa pada tingkatan yang lebih umum, apa yang membedakan pendidikan holistik dengan jenis pendidikan lainnya ternyata terletak pada tujuannya, pada perhatiannya terhadap pengalaman pembelajaran, dan pada kesepakatan meletakkan pendidikan dalam kaitannya dengan nilai-nilai utama kemanusiaan dalam lingkungan pembelajaran.
Scott H. Forbes dan Robin Ann Martin dalam sebuah makalah – berjudul What Holistic Education Claims About Itself: An Analysis of Holistic Schools’ Literature – yang dipresentasikan pada Konferensi Tahunan Para Peneliti Pendidikan Amerika yang diselenggarakan pada bulan April 2004 di San Diego, California, menegaskan bahwa jika seseorang mencoba merunut asal muasal pendidikan holistik pasti akan menemui kesulitan karena konsep ini pada dasarnya sudah ada sejak zaman dulu dan dapat ditemukan dalam hampir semua konsep pendidikan yang salah satu daya pendorongnya adalah sikap religius kemanusiaan.
Tetapi juga tidak dapat disangkal bahwa nama-nama seperti Jean-Jacques Rousseau, Ralph Waldo Emerson, Henry Thoreau, Bronson Alcott, Johann Pestalozzi, Friedrich Fröbel, and Francisco Ferrer juga berkontribusi besar dalam pembentukan konsep pendidikan holistik. Jejak-jejak pemikiran mereka yang tersebar dalam banyak karya – sastra, filsafat, pendidikan, dan kajian humaniora lainnya – dapat dilacak perannya dalam konsep ini. Para teoris yang lebih modern seperti Rudolf Steiner, Maria Montessori, Francis Parker, John Dewey, John Caldwell Holt, George Dennison Kieran Egan, Howard Gardner, Jiddu Krishnamurti, Carl Jung, Abraham Maslow, Carl Rogers, Paul Goodman, Ivan Illich, and Paulo Freire, suka atau tidak suka, juga harus diakui mempunyai andil dalam pendidikan holistik, meskipun apa yang dikenal sebagai pendidikan holistik ketika itu memang belum mencapai bentuknya yang sekarang.
Bentuk pendidikan holistik mulai muncul pada era tahun 1960-an, ketika pergeseran paradigma kebudayaan mulai terjadi, Berikutnya pendidikan holistik dalam ranah psikologi muncul pada era 1970-an. Era ini ditutup dengan sebuah konferensi interrnasional tentang pendidikan holistik yang diselenggarakan oleh universitas California di San Diego pada bulan Juli 1979. Pemrakarsa konferensi internasional ini adalah Mandala Society dan Pusat Eksplorasi SDM.
Perkembangan berikutnya dapat dilihat pada sejumlah institusi pendidikan – dasar, menengah atau tinggi – yang menerapkan konsep bahwa pendidikan holistik berkaitan langsung dengan masalah hubungan antar sesama, dengan tanggung jawab, dan dengan penghormatan terhadap kehidupan itu sendiri.
Pendidikan Holistik PH
Ada sejumlah institusi pendidikan tinggi yang menyatakan – secara berterang atau tidak berterang – bahwa konsep dasar yang digunakan adalah konsep holistik. Salah satu diantaranya adalah institusi pendidikan tinggi yang berlokasi di dekat Jakarta.
Menurut tokoh penting di balik insitusi pendidikan ini, pertanyaan fundamental yang harus ditanyakan dalam kaitannya dengan bidang pendidikan adalah ’siapa yang memiliki anak-anak?’ atau ’siapa yang menjadi pemilik anak-anak-anak muda?’ Jawaban terhadap pertanyaan ini menjadi penting karena berdasarkan jawaban inilah orientasi pendidikan seseorang akan terungkap dengan sendirinya.
Di negara sosialis atau komunis semua orang menjadi milik partai. Anak-anak pun menjadi milik partai. Bahkan ketika berada di rumah pun anak-anak menjadi milik partai atau milik negara. Maka dari itu tidak mengherankan jika anak-anak dibesarkan dan dididik berdasarkan sistem yang telah ditentukan oleh negara.
Di Indonesia – sebuah negara yang mempunyai falsafah Pancasila – semua orang termasuk anak-anak dipersepsikan menjadi milik masyarakat. Maka dari itu semua orang dididik sesuai dengan apa yang diinginkan oleh masyarakat. Dan karena masyarakat Indonesia sekarang ini berada dalam era yang dikendalikan oleh bisnis dan industri – termasuk di dalamnya bisnis dan industri dunia maya – maka masyarakat tampaknya menjadi puas jika anak-anak mereka memperoleh pendidikan yang memampukan generasi muda untuk masuk dan berkompetisi dalam dunia yang seperti ini.
Pada bagian lain dunia – dunia timur – anak-anak dianggap sebagai milik orang tua, tepatnya miliknya sang ayah. Dalam masyarakat yang seperti ini kesulitan muncul karena keinginan masing-masing ayah dapat berbeda satu sama lainnya. Akibatnya dapat ditebak dengan mudah. Ada beragam keinginan, ada beragam kepentingan. Yang satu dapat saja berbeda secara ekstrim dengan yang lain, sehingga pendidikan menciptakan peluang untuk hidup yang lebih seimbang menjadi sangat kecil atau bahkan tidak ada.
Tampak jelas bahwa tiga pandangan yang telah disebut ini menyebabkan orientasi pendidikan tidak holistik. Orientasi dapat dikembalikan ke jalur holistik jika setiap orang percaya dan yakin bahwa anak-anak milik Tuhan. Jika anak-anak milik Tuhan, maka otoritas yang dimiliki orang tua bukan berasal dari orang tua itu sendiri, melainkan berasal dari Tuhan. Maka dari itu orang tua tidak dapat seenak-perutnya mengatur dan memaksanakan kehendak pada anak-anak. Anak-anak bukan milik mereka, tetapi milik Tuhan, karenanya hanya berdasarkan perintah Tuhan-lah seharusnya anak-anak dibimbing dan memperoleh pendidikan. Pertanyaanya, perintah Tuhan yang mana? Tentu saja perintah Tuhan dalam kitab suci.
Sampai di sini tentu saja tidak ada masalah. Semua orang Indonesia sepakat bahwa salah satu sumber panduan pembinaan kehidupan adalah kitab suci. Dunia pendidikan harus melandaskan dirinya pada kitab suci. Tetapi hal yang sederhana ini menjadi masalah, manakala realitas menyatakan bahwa mereka yang menggebu-gebu menyuarakan masalah pendidikan holistik justru melakukan perbuatan yang bertentangan dengan isi kitab suci. Atau dengan kata lain apa yang terjadi bila mereka yang meyakini bahwa dunia pendidikan yang baik adalah pendidikan yang holistik, dan pendidikan yang holistik adalah pendidikan yang berusaha menghasilkan manusia-manusia yang kehidupannya seimbang, dan manusia yang hidupnya seimbang selalu dituntun oleh kitab suci, justru melakukan manipulasi perbuatan yang tidak sesuai dengan isi kitab suci? Apakah seperti potret buram dunia pendidikan tinggi kita yang sekarang ini?
Jadi disinilah kunci permasalahannya. Keteladanan – sebuah kata yang semakin langka ditindaklanjuti oleh banyak orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan. Sayang memang, tetapi itulah faktanya!
Dr. Tri Budhi Sastrio
Universitas Pelita Harapan – Surabaya
Sumber: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1821:holistic-education–apa-itu&catid=159:artikel-kontributor