by admin | Jan 23, 2010 | Berita, pengumuman
Pengumuman Pendaftaran Tugas Akhir (TA)
Semester Genap 2009/ 2010
Pada Semester Genap 2009/ 2010 Fakultas Seni Rupa Dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar membuka pendaftaran Tugas Akhir, dengan persyaratan sebagai berikut:
- Sudah duduk di Semester VIII atau telah menyelesaikan semua mata kuliah, kecuali Tugas Akhir, dibuktikan dengan lampiran Transkrip Nilai Akademik yang sah.
- Mengajukan 3 (tiga) judul/ proposal TA yang dijilid plastik mika/ kertas bufalo, dan diperkenankan mengajukan 2 (dua) nama calon Dosen Pembimbing.
- Mengisi formulir usulan judul TA yang telah disiapkan bagian akademik FSRD.
- Persyaratan khusus bagi mahasiswa Jurusan Seni Rupa Murni, melampirkan bukti (sertifikat) studi banding. Bagi yang memilih jalur Penciptaan Karya Seni, wajib melampirkan bukti (katalog) pernah pameran 3 (tiga) kali; dan yang memilih jalur pengkajian/ Skripsi, wajib melampirkan bukti (sertifikat) pernah mengikuti seminar lokal dan nasional, masing-masing minimal 1 (satu) kali.
- Persyaratan khusus bagi mahasiswa Jurusan Desain, melampirkan bukti (sertifikat asli) studi banding dan menyumbangkan 1 (satu) buah buku desain. Mahasiswa desain yang memilih jalur karya tulis/ Skripsi, nilai Mata Kuliah Seminar, Metode Penelitian dan Metode Penelitian Desain minimal B. Dan bagi mahasiswa Desain Interior yang memilih jalur karya desain, wajib melampirkan denah kasus minimal 1000 m2.
- Semua persyaratan pengusulan judul TA dimasukkan ke dalam map : (1) Warna merah untuk Jurusan Seni Rupa Murni ; (2) Warna biru untuk Jurusan Desain ; (3) Warna Hijau untuk Jurusan PS Kriya Seni; (4) Warna Kuning untuk PS Fotografi.
- Bagi mahasiswa yang masih sedang mengambil kuliah Kerja Praktek diperkenankan mendaftar TA, apabila sudah dalam proses penyelesaian laporan atau persiapan ujian, dibuktikan dengan rekomendasi Dosen Pembimbing I dan II.
- Bagi mahasiswa yang baru 1 (satu) periode mengikuti TA tetapi belum dapat menyelesaikan tugas – tugasnya, wajib mendaftar kembali (registrasi ulang) dalam kategori TA lanjutan dengan melampirkan foto copy formulir pendaftaran TA yang telah disetujui Kejur/ Ka. PS. pada semester sebelumnya di dalam map.
- Semua berkas pendaftaran TA disetor di bagian Akademik FSRD ISI Denpasar dari tgl. 25 s.d. 30 Januari 2010.
Demikian pengumuman ini disampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Terimakasih.
Denpasar, 21 Januari 2010
Pembantu Dekan I,
Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn.
NIP.196107061990031005
Lampiran Pengumuman
Tentang Format Umum Proposal
Secara umum proposal yang diajukan mahasiswa, menguraikan hal-hal sebagai berikut :
| Pilihan TA: Penciptaan Karya Seni/ Desain
Sampul/ Cover
Halaman Pengesahan/ Persetujuan Proposal
Isi proposal:
A. Thema TA
B. Judul Tugas Akhir
C. Latar Belakang Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Ide Penciptaan/ Konsep Desain
F. Tujuan dan Manfaat Penciptaan/ Desain.
G. Kajian Pustaka Penciptaan/ Desain
H. Metode Penciptaan/ Desain
I. Jadwal Waktu Kegiatan Studio
J. Daftar Pustaka
K. Rencana Kerangka/ Out Line Skrip Karya Seni
atau Rencana Daftar Isi Pengantar Karya
Desain
L. Usulan Pembimbing
Pembimbing I: (dipilih dosen gol.IV)
Pembimbing II: (minimal dosel Gol.III/c)
Denpasar, …………
Mahasiswa Pengusul
Nama
NIM
|
Pilihan TA: Pengkajian/ Skripsi
Sampul/ Cover
Halaman Pengesahan/ Persetujuan Proposal
Isi proposal:
A. Thema TA
B. Judul Proposal Skripsi.
C. Latar Belakang Masalah
D. Rumusan Masalah
E. Batasan Masalah
F. Tujuan / Manfaat Penelitian
G. Tinjauan Pustaka/ Landasan Teori.
H. Metode Penelitian
I. Jadwal Pelaksanaan Penelitian
J. Daftar Pustaka
K. Rencana Kerangka/ Out Line Daftar Isi Karya
Tulis
L. Usulan Pembimbing
Pembimbing I: (dipilih dosen gol.IV)
Pembimbing II: (minimal dosel Gol.III/c)
Denpasar, …………
Mahasiswa Pengusul
Nama
NIM
|
*) Catatan:
Hal-hal yang bersifat khusus, dapat ditanyakan di Jurusan/ Program Studi masing-masing.
CONTOH SAMPUL/ COVER
Proposal Tugas Akhir
Penciptaan Karya Seni/ Desain atau Pengkajian/ Skripsi *)
Kode MK: (font: 14 – Bold)
J U D U L T U G A S A K H I R (font: 16 – Bold)
LOGO ISI
Oleh
Nama: (nama lengkap mahasiswa)
NIM: (disesuaikan)
Program Studi/ Jurusan: (disesuaikan)
(font 12)
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR
2009
*) Sesuaikan dengan jalur pilihan TA
Contoh
HALAMAN PENGESAHAN/ PERSETUJUAN PROPOSAL TA
Proposal Tugas Akhir dengan judul: ………………………………………………………………………………..
…………………………………………………………………………………………………………………………………….
…………………………………………………………………………………………………………………………………….
yang diajukan oleh:
Nama: …………………………………………………………….
NIM: ……………………………..
Prodi: ……………………………………..
Jurusan: ………………………………….
Telah disetujui untuk dilaksanakan sebagai karya Tugas Akhir Penciptaan Karya Seni/ Desain/ Skripsi *), dan untuk itu ditetapkan:
Dosen Pembimbing I: ………………………………………………………..
Dosen Pembimbing II: ………………………………………………………
Ditetapkan di
Denpasar, …………………………………….
Ketua Jurusan Ketua Program Studi
Nama lengkap Nama lengkap
NIP NIP
*) Coret yang tidak perlu
by admin | Jan 23, 2010 | Berita, pengumuman
Tawaran beasiswa dari Unesco Cina bagi 27 orang karyasiswa yang diutamakan perempuan untuk melanjutkan program studi non degree paling lama 1 (satu) tahun. Biaya pulang pergi ditanggung Unesco Cina, sedangkan biaya hidup, akomodasi, pendidikan, uang saku dan kesehatan ditanggung oleh pemerintah Cina Untuk lebih jelasnya silahkan unduh lampirannya.
sumber:
http://ditnaga.dikti.go.id/ditnaga/index.php
by admin | Jan 23, 2010 | Berita, pengumuman
Diberitahukan kepada seluruh Pembimbing Akademik / Dosen FSRD ISI Denpasar, sesuai dengan kalender akademik bahwa perkuliahan untuk semester Genap 2009/2010 akan dimulai pada tanggal 8 Pebruari 2010. untuk memperlancar proses administrasi akademik dalam Pengisian Kartu Rencana Studi (KRS), kami mohon kehadiran seluruh Pembimbing Akademik (PA) pada :
Tanggal : 25 – 30 Januari 2010
Pukul : 09.00 wita
Tempat : Ruangan sesuai jurusan masing-masing
Demikian kami sampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan, atas kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.
Denasar 21 Januari 2010
An. Dekan,
Pembantu Dekan I,
TTD
Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
NIP. 196107061990031005
by admin | Jan 21, 2010 | Artikel, Berita, pengumuman
Oleh I Made Sumantra
Koleksi Kriya
Bidang ilmu kriya, jika diuraikan dari akar keilmuannya, masih terus menjadi perdebatan sengit dikalangan praktisi dan akademisi di bidang seni rupa. Bidang kriya, telah menjadi ajang perebutan antara masuk ke dalam disiplin ilmu seni atau ilmu disain. Penulis tidak ingin menambah kekusutan dari perang definisi yang ada. Seni kriya dapat berada dan mencangkup kedua ilmu tadi, seni dan disain sehingga memungkinkan muncul dua istilah seperti: kriya seni dan kriya disain, seni kriya dan disain kriya. Agar dapat lebih menjelaskan konsep ini, penulis mencoba mengambil contoh kasus objek ukir kayu yang berwujud sebuah lampu hias. Benda lampu hias ini akan memiliki penampilan, makna dan fungsi yang sangat berbeda tergantung di wilayah/ kubu mana ia berada. Barang-barang kriya dalam hal ini memiliki fleksibelitas yang tinggi, berada pada posisi di antara wilayah seni dan disain. Kondisi ini menyadarkan kita bahwa seharusnya tidak ada definisi yang kaku dalam pengelompokan kriya, karena hal itu tergantung di wilayah mana secara esensial kriya itu sendiri beraktivitas.
Jika kriya telah menjadi barang-barang pesanan dalam jumlah besar, maka otomatis pertimbangan-pertimbangan teknik produksi, cost, dan nilai-nilai kepraktisan akan menjadi faktor yang penting. Barang-barang ini cenderung dikelompokan sebagai produk kriya disain. Sebagai kontrasnya, ada saatnya kriyawan membuat hanya satu buah karya, seperti lampu hias yang unik. Jelas disain, konsep berkarya kriyawan tersebut berasal dari keinginan membuat satu benda lampu hias, sehingga lebih dekat kepada pola-pola kerja seni murni yang menghasilkan objek tunggal. Persoalan apakah benda lampu hias tersebut dikemudian hari akan diproduksi kembali dalam jumlah tertentu adalah masalah lain. Yang pasti, konsep awal pembuatannya tidak didasari oleh kreteria-kreteria mass production. Bentuk kriya seperti ini lebih tepat jika masuk dalam wilayah produk kriya seni.
Mengkaji dan mengembangkan konsep kriya dalam Komperensi Kriya di Bandung, berdasarkan sifatnya, kriya di Indonesia dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu Kriya Tradisional dan Kriya Modern/ Kontemporer (Konperensi Kriya, ”Tahun Kriya dan Rekayasa 1999” Institut Teknologi Bandung,
26 Nov” 99). Kriya Tradisional adalah segala bentuk produk hasil kebudayaan materi tradisional masyarakat, tanpa mengalami perubahan-perubahan yang berarti pada masa kini. Sebagai contoh kriya kelompok ini adalah aneka perhiasan, benda-benda perlengkapan upacara/ religi, wayang kulit, senjata-senjata tradisional, seperangkat gamelan. Beberapa produk tradisional masih tetap diproduksi, terutama untuk kebutuhan pasar pariwisata.
Adapun Kriya Modern/ Kontemporer adalah produk-produk kriya yang memiliki kebaruan-kebaruan dalam konsep pengembangan disain, teknik produksi dan perupaan. Bagaimanapun, Kriya Modern/ Kontemporer dapat tetap berbasis tradisional, dalam arti produk tersebut merupakan hasil pengembangan dari teknik-teknik lama dan bentuk–bentuk tradisional atau bermuatan nilai-nilai filosofis masa lalu.
Keberadaan Seni Kriya Masa Kini, Oleh I Made Sumantra, selengkapnya
by admin | Jan 21, 2010 | Berita, pengumuman
Nomor : 056 /I.5.14/TP/2009 Tanggal 20 Januari 2010
Hal : Perbaikan data akses ke JISTA
Yth : Bapak/Ibu dan segenap civitas akademika
di –
Tempat
Dengan hormat,
Dalam rangka penambahan layanan Jaringan ISI Denpasar Terpadu (JISTA), menindak lanjuti instruksi Rektor pada saat rakerda ISI Denpasar tanggal 7 dan 8 desember 2009, dan sekaligus mengantisipasi pelaksanaan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka UPT Puskom akan memperbaiki sistem akses pada Jaringan ISI Denpasar Terpadu (Jista).
Perbaikan databased akan dimulai dari databased akses ke jaringan, dengan demikian maka username pasword lama akan kami reset/hapus pada tanggal 31 Januari jam 00 WITA. Kepada seluruh penguna layanan Hotspot diminta untuk melakukan registrasi ulang dengan mendownload form dialamat http://help.isi-dps.ac.id/index.php?action=artikel&cat=12&id=2&artlang=id atau mengambil langsung aplikasinya ke gedung UPT PUSKOM Lt.2.
Oleh karenanya kami mohon bapak/ibu dan segenap civitas akademika yang mempunyai/memanfaatkan fasilitas hotspot untuk segera mengganti username dan paswordnya sebelum tanggal 1 februari 2010.
Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya disampaikan terima kasih.
Kepala UPT PUSKOM,
Hendra Santosa, SS.Kar., M.Hum
NIP. 196710311992031001
Tembusan :
-
Rektor sebagai laporan
-
Arsip
by admin | Jan 21, 2010 | Artikel, Berita, pengumuman
Oleh: I Gede Yudarta, SSKar., M.Si (Dosen PS. Seni Karawitan)
Mengamati perkembangan seni karawitan Bali khususnya seni karawitan kekebyaran dewasa ini, telah terjadi pergeseran atau perubahan fungsi beberapa instrumen yang terdapat dalam barungan gamelan gong kebyar. Salah satu perubahan tersebut adalah semakin berkembangnya fungsi instrumen suling dalam barungan gamelan tersebut.
Suling sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Musik adalah flute tradisional yang umumnya terbuat dari bambu (Banoe, 2003:). Secara fisik, suling yang terbuat terbuat dari bambu memiliki 6-7 lobang nada pada bagian batangnya dan lubang pemanis (song manis) pada bagian ujungnya. Sebagai salah satu instrumen dalam barungan gamelan Bali, terdapat berbagai bentuk ukuran dari yang panjang, menengah dan pendek. Dilihat dari ukurannya tersebut, suling dapat dibedakan jenisnya dalam beberapa kelompok yaitu: Suling Pegambuhan, Suling Pegongan, Suling Pearjan, Suling Pejangeran dan Suling Pejogedan (Suharta, 2005:16). Dari pengelompokan tersebut masing-masing mempunyai fungsi, baik sebagai instrumen pokok maupun sebagai pelengkap. Penggunaan suling sebagai instrumen pokok biasanya terdapat pada jenis barungan gamelan Gambuh, Pe-Arjan, Pejangeran dan Gong Suling. Sedangkan pada beberapa barungan gamelan lainnya termasuk gamelan gong kebyar suling berfungsi sebagai instrumen ”pemanis” lagu dan memperpanjang suara gamelan, sehingga kedengarannya tidak terputus (Sukerta, 2001:215). Dalam fungsinya itu, suling hanya menjadi instrumen pelengkap dalam arti bisa dipergunakan ataupun tidak sama sekali.
Sebagai salah satu alat musik tradisional, suling tergolong alat musik tiup (aerophone) dimana dalam permainan karawitan Bali dimainkan dengan teknik ngunjal angkihan yaitu suatu teknik permainan tiupan suling yang dilakukan secara terus menerus dan memainkan motif wewiletan yang merupakan pengembangan dari nada-nada pokok atau melodi sebuah kalimat lagu.
Terkait dengan fungsi suling dalam seni karawitan kekebyaran, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. Sebagai salah satu contoh, dalam komposisi ”Kebyar Ding”, yang diciptakan pada tahun 1920-an tidak terdengar tiupan suling. Ini dapat dijadikan salah satu indikator bahwa pada awal munculnya gamelan gong kebyar, suling masih berfungsi sebagai instrumen sekunder dan belum menjadi bagian yang penting dalam sebuah komposisi.
Sebagai salah satu tonggak penting perkembangan fungsi suling dalam komposisi kekebyaran, dapat disimak dari salah satu komposisi yaitu Tabuh Kreasi Baru Kosalia Arini, yang diciptakan oleh I Wayan Berata dalam Mredangga Uttsawa tahun 1969, dimana dalam komposisi tersebut mulai diperkenalkan adanya penonjolan permainan suling tunggal. Terjadinya perkembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.
Sebagaimana terjadi dalam perkembangan komposisi tabuh kekebyaran saat ini, suling memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan komposisi kekebyaran dimana melodi yang dimainkan tidak hanya terpaku pada permainan laras pelog lima nada, namun oleh para komposer sudah dikembangkan sebagai jembatan penghubung hingga mampu menjangkau nada-nada atau melodi menjadi lebih luas melingkupi berbagai patet seperti tembung, sunaren bahkan mampu memainkan nada-nada selendro. Dari pengembangan fungsi tersebut komposisi tabuh kekebyaran yang tercipta pada dua dekade belakangan ini menjadi lebih inovatif dan kaya dengan nada atau melodi.
Adanya pengembangan fungsi instrumen suling dalam komposisi kekebyaran terkadang menimbulkan fenomena yang lebih ekstrim dimana dalam sebuah karya komposisi instrumen ini muncul sebaga alat primer dan vital, tanpa kehadiran instrumen tersebut sebuah komposisi tidak akan dapat dimainkan sebagaimana mestinya.