Seminar Nasional Bali-Dipantara Waskita II merupakan rangkaian dari progran Festival Nasional Bali Sangga Dwipantara II Tahun 2022 sebagai ajang penguatan inovasi Tri Dharma Intitut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Seminar Nasional sebagai ruang diseminasi berbagai karya tulis dan pemikiran-pemikiran akademik seni budaya bagi para maestro, seniman, budayawan, akademisi, pekerja kreatif dan mahasiswa bertalenta. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat tanggal 29 Juli 2022, yang dibuka Rektor ISI Denpasar Prof. Dr Wayan Adnyana, S.Sn., M. Sn.
Dalam sambutannya Rektor ISI Denpasar menyampaikan bahwa Seminar Nasional Bali-Dwipantara Waskita II bertajuk “Tirtha-Rakta-Sastra” menunjuk pemaknaan kekuatan air sebagai daya cipta seni dan susastra. Air dalam konteks denotatif, konotatif, dan simbolik senantiasa hadir menyatu dalam lelaku budaya Nusantara. Air sebagai elemen alam, mengalami kondisi krisis; kelangkaan air bersih, pencemaran, dan kekeringan menjadi isu global, merupakan salah satu bagian dari 17 sasaran pembangunan berkelanjutan. Air dengan seperangkat idiom kultural, etik tradisi, dan imajinasi persona-komunal diwariskan dari generasi ke generasi. Air bahkan, secara simbolik terbangun menjadi entitas relegi dengan berbagai manifestasi ritualnya. Berbagai ritus air di Bali, seperti: Malukat, Banyu Pinaruh, Siat Yeh, dan Magpag Toya menjadi orientasi pemuliaan hidup manusia dalam harmoni diri dengan alam semesta. Orientasi pemuliaan ini menjadi muasal rekacipta mahalango; keserbanekaan mahakarya.
Dalam sambutannya Rektor menyampaikan ucapan terimakasi kepada seluruh penyaji yang telah berkenan membagi pengalaman, pengetahuan, dan sekaligus membagi spirit positif untuk perkembangan dunia seni dan desain di Indonesia melalui kegiatan Seminar Nasional ini. Harapanya Seminar Nasional Bali Dwipantara Wasikta II secara nyata menjadi ruang diseminasi berbagai karya tulis dan pemikiran-pemikiran akademik yang bertajuk Tirtha-Rakta-Sastra. Seminar Nasional juga sebagai ruang aktualisasi akademik bagi seluruh insan akademisi yang berpadu dengan para tokoh, para aktivis sekaligus maestro seni dan desain di Indonesia. Dalam kegiatan ini mengundang Bapak Plt. Dirjen Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D sebagai Pembicara Kunci, serta delapan tokoh bereputasi sebagai Pembicara Undangan yang terdiri dari seniman, desainer, tokoh inspiratif, dan aktifis penggerak bidang seni budaya di tingkat nasional. Pembicara Undangan yang dimaksud meliputi: 1) tokoh peremuan inspiratif Ibu Anne Avantie; 2) tokoh sepritual yang disegani di Bali dan di Indonesia Jero Gede Batur Alitan; 3) tokoh atau akativis pluralisme Romo Benny Soesatyo; 4) tokoh nasional dan sekaligus pembina BRAIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) Prof. Ir. I Gede Wenten, M.Sc., Ph.D; 5) Restu Iman Sari Kusumaningrum sebagai seniman sekaligus katalisator seni; 6) Tosin Himawan sebagai Kolektor Seni Rupa dan mantan Presiden Komisaris Astra Internasional, serta menjadi sumber inspirasi bagi kolektor muda di Indonesia; 7) Dr. A. A. Gede Rai Remawa, M.SN sebagai Doktor Ilmu Desain lulusan Institut Teknologi Bandung ; dan 8) Dr. Ni Made Arshiniwati sebagai Doktor Kajian Budaya dan juga Ketua Senat Intitut Seni Indonesia Denpasar. Selain itu, Seminar Nasional ini juga diisi oleh Narasumber Call for Paper dari berbagai perguruan tinggi Seni dan Desain di Indonesia. Prof. Ir. Nizam, M.Sc., DIC., Ph.D sebagai Pemakalah Kunci sangat menyambut baik kegiatan Seminar ini. Baginya pilihan tajuk seminar (Tirtha- Rakta- Sastra) memiliki makna yang sangat dalam. Seni merupakan wujud ekspresi diri dan karakter bangsa dan sekaligus adalah pemersatu, perekat bangsa dalam keragaman. Keragaman yang dimaksud yaitu keragaman budaya, bahasa, suku bangsa, keyakinan dan berbagai macam keragaman yang secara alamiah hadir di Bumi Nusantara. Kenyataan ini dapa terjadi karena seni merupakan bahasa universeal yang dapat mengekpresikan rasa kemanusiaan. Olehkarena itu seni seharusnya selalu didengungkan dan dibangun perannya melalui berbagai karya cipta. Seni sebagai daya hidup masyarakat mengandung pemahaman bahwa masyarakat tanpa sentuhan seni bagaikan robot-robot yang hidup di era yang penuh dengan destrupsi dan individualisme. Kehadiran seni sebagai daya hidup yang menghantarkan lingkungan lebih manusiawi. Dalam makalahnya Plt. Dirjen Pendidikan Tinggi juga mengharapkan kampus-kampus Perguruan Tinggi Seni tidak hanya menjadi tempat kajian seni dan budaya, namun juga menjadi salah satu simpul dalam membangun seni sebagai energi dalam membangun kemanusiaan di setiap daerah. Berbagai Festival Seni yang hadir ditengah masyarakat sangat bermanfaat dalam membangun karakter bangsa yang menyadarkan dan mengingatkan bahwa keragaman seni dan budaya adalah kekuatan yang paling dasyat yang dimiliki bangsa Indonesia. Indonesi dikaruniai keragaman biodeviersitas, kekayaan alam, ragam hayati, ragam lautan, keragaman adat, berbagai pulau yang dipisahkan oleh air. Olehkarena itu Institut Seni dapat menjadi perajut ragam budaya tersebut, sehingga dapat menghadirkan daya cipta bangsa, menjadi contoh bagi dunia, menjadi inspirasi bagi dunia, yang membuktikan keragaman itu menjadi kekuatan dalam kehidupan sosial, kekuatan dalam pembangunan, kemajuan, dan kesejahteraan bangsa. Kehadiran Institut Seni tidak hanya sebagai tempat kajian seni, tapi dapat menjadi padepokan, konservatorium seni dan sekaligus sebagai penghasil kreator-kreator yang dapat menggelorakan seni ini bagi masyarakat luas. Seminar hari ini dapat menjadi area, ajang dalam mencurahkan gagasan, membangunkan seni dan budaya Nusantara menjadi daya hidup bagi bangsa.
Masing-masing penyaji dalam Seminar Nasional ini mengelaborasi tajuk “Tirtha-Rakta-Sastra” ke dalam topik beragam, diantaranya: ” Tirtha Ulun Danu Batur; Air dalam Pembangunan Berkelanjutan; Tirtha-Rakta-Sastra Dalam Entitas Relegius dan Representasi Air Pada Karya seni; Fusi Seni dan Teknologi; Kelembutan Air Kekuatan Seni; Air Sebagai Sumber Inspirasi Rekacipta Seni Pertunjukkan; Air dan Api: Paradigma; Revolusi Mental bagi Kehidupan Berbangsa dan Bernegara; Pendidikan Karakter dalam Perebutan Tirta Amerta pada Pemutaran Gunung Mandara; Air Medium Berkarya Seni Cetak Saring Berwawasan Lingkungan; Estetika Air: Ritual Barong Wae Etnik Manggarai Di Flores; dan berbagai topik yang dapat mewakili keragaman kultural, etik tradisi, dan imajinasi masyarakat di berbagai daerah Nusantara.
Kunjungan Rektor Telkom University, Bandung Prof. Dr. Adiwijaya, S.Si., M.Si beserta jajaran ke Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Jumat, 19 Agustus 2022 diterima oleh Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana beserta jajaran di R. Sidang, Lt. II Gd. Rektorat ISI Denpasar. Kunjungan ini bertujuan untuk menjalin kerja sama dengan ISI Denpasar yang diawali dengan diskusi hangat berbagi informasi terkait program pembelajaran serta program lainnya yang dapat dikerjasamakan antara ISI Denpasar dan Telkom University. Sebagai wujud kesepakatan kedua belah pihak, hari ini ditandatangani Nota Kesepahaman guna Pengembangan Sumber Daya Institusi. (ISIDps/Humas)
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA Ke-77 Th. 17 Agustus 2022. “Bangkit Lebih Cepat Tumbuh Lebih Kuat”
Seluruh Civitas Akademika ISI Denpasar merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-77 dengan melaksanakan Upacara Bendera. Seluruh tenaga pendidik dan tenaga kependidikan memakai busana adat Bali bernuansa merah putih sebagai simbol semangat Kemerdekaan. Merdeka!! Jaya Negeriku?? (ISIDps/Humas)
Pembukaan Kegiatan Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) di lingkungan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar Senin, 15/8/2022 di Gedung Parkir Lab. Media Rekam ISI Denpasar yang dilaksanakan secara Hybrid (Luring dan Daring) diawali dengan Laporan Ketua Panitia yakni Wakil Rektor bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Alumni Dr. Anak Agung Gede Rai Remawa yang menyampaikan bahwa peserta PKKMB tahun ini terdiri dari 713 orang mahasiswa baru yang lolos melalui Jalur SNMPTN, SBMPTN, dan Jalur Mandiri.
Kegiatan PKKMB dibuka oleh Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan “Kun” Adnyana yang sekaligus menyematkan tanda pengenal bagi perwakilan mahasiswa baru. PKKMB akan dilaksanakan selama 4 hari (15-18 Agustus 2022) yang akan diisi oleh beberapa Narasumber dari BNN, PKP Prov. Bali, Korem 163/WSA, Polda Bali serta beberapa narasumber lain yang tentunya akan memberikan pembekalan bagi seluruh peserta PKKMB ISI Denpasar Tahun Akademik 2022/2023. Tumbuh generasi unggul yang cerdas dan kreatif. (ISIDps/Humas)
Penyajian Hasil Pembinaan Gambang Munggu | Sumber: Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2022
Gamelan Gambang yang tergolong musik ritual masa lampau, berperan penting hingga kini. Gamelan Gambang difungsikan pada ritual Pitra Yadnya, salah satu gamelan sakral dan dihormati (Yudarta I. G., 2009, p. 52).
Gamelan Gambang yang ada di Banjar Gambang, Desa Munggu memiliki historis tinggi. Gamelan ini memiliki nilai sejarah akan keberadaan Banjar Gambang Munggu. Gambang Munggu merupakan seperangkat gamelan Gambang warisan dari perjalanan I Gusti Ngurah Sukahet dari Sukahet, Karangasem ngungsi Munggu, dan selanjutnya nyineb wangsa meninggalkan gelar Gustinya di Munggu.
Gamelan Gambang yang diwarisi kini di Munggu, sangat mengkawatirkan. Tidak ada satupun pewarisnya yang mampu memainkan gamelan ini. Generasi terakhir yang masih diingat dan mampu memainkan Gambang ini bernama I Gede Patra (alm) yang memainkan Gambang pada tahun 1938. (wawancara, I Nyoman Nikanaya: 65 tahun). Untuk membangkitkan dan menjaga eksistensi kaderisasi, diperlukan pembinaan terhadap penerus Gambang Munggu.
Pembinaan dan pelatihan gamelan Gambang kepada Sekaa Gambang Munggu sangat perlu dilakukan sebagai kegiatan pengabdian kepada masyarakat untuk mencentak regenerasi pemain Gambang Munggu dengan menuangkan gending Gambang Labdha gaya Gambang Kwanji Sempidi. Kegiatan ini diharapkan mampu membangkitkan kembali kesenian Gambang di Banjar Gambang Munggu dan eksistensinya.
Kegiatan Program Pengabdian Masyarakat (PKM) ini terdiri dari beberapa langkah kegiatan, meliputi: pengecekan alat gamelan, pengenalan Gending Labdha, pembacaan notasi, permainan melodi dasar lagu, pelatihan keterampilan dengan demontrasi teknik dasar bermain gamelan Gambang.
Tahap pertama dari proses pembinaan gending Labdha pada Gambang Munggu dilakukan dengan pengenalan sistim notasi Gambang yang ada. Para pemain Gambang Munggu diajarkan membaca notasi Gambang. Metode ini selain memberikan pemahaman secara teoritis, pemain Gambang diharapkan mampu membedakan symbol-simbol notasi yang sedikit berbeda dengan symbol-simbol notasi pada umumnya yang dipergunakan dalam penulisan lagu dalam karawitan Bali.
Gambar 1. Proses Kaderisasi Gambang Munggu| Sumber: Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2022
Tahap kedua, dilakukan pengenalan nada-nada dasar dalam masing-masing instrument Gambang. Nada Gambang didesain sedemikian rupa membentuk pola harmoni. Sebagaimana dijelaskan Djelantik, keutuhan dalam keanekaragaman yang menunjang estetik dalam karya seni didukung oleh tiga faktor utama, yakni: simetri, ritme, keselarasan/Harmoni, (Djelantik, 1999, p. 43). Harmoni adalah keselarasan yang ditimbulkan akibat interaksi bunyi yang berjalan bersama (chord) seperti nada-nada kempyung dan oktaf yang dipukul bersama menghasilkan bunyi yang menarik dan indah didengar.
Tahap ketiga pemberian atau pengenalan pola teknik masing-masing instrumen. Pola permainan/teknik pukulan Gambang yang satu dengan Gambang yang lainnya tetap mengacu mengikuti jalannya pokok melodi/gending yang dimainkan oleh Gangsa.
Selanjutnya pengenalan pola teknik nyading. Pada penyajian gending-gending Gambang Kwanji pola ritme sangat jelas terdengar dan terlihat pada teknik pukulan nyading. Pada pukulan nyading terdapat pola ritme yang dimulai dari pola ritme 2/4, menuju ke pola ritme ¾, dan kembali ke pola ritme 2/4. Pada permainan melodi lagu yang dimainkan oleh instrumen gangsa Gambang, sesungguhnya terjadi pola ritme 2/4.
Kesatuan unsur musikal melalui pengolahan teknik bermain Gambang yang tepat, membentuk kaderisasi pemain Gambang Munggu sebagai penerus “waris” yang bertanggung jawab mengemban, melestarikan, dan mengembangkannya dari generasi ke generasi. Program PKM dari ISI Denpasar sangat membantu sebagai fasilitasi membangkitkan kejayaan Gamelan Gambang sebagai gamelan Bali yang langka. Upaya ini sejalan dengan UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Gambar 2. Penyajian Hasil Pembinaan Gambang Munggu | Sumber: Dokumentasi I Nyoman Mariyana, Tahun 2022
Mari maknai bersama, bahwa apa yang kita anggap waris sebenarnya bukan harta semata, melainkan kewajiban, tugas, dan tanggung jawab menjaga, mengemban amanah sebagai penerus. Sejauh mana kita mampu untuk itu? Pahami dan lakukan tugasmu! Semangatkan selalu, iklaskan, leluhur menyertai. Bangkitkan Gambang!
Budaya Bali memang unik, maka tak pernah habis untuk dibicarakan. Sebut saja tembang Bali jenis pupuh atau macepat. Macepat yang biasanya menyelipkan pesan-pesan tentang kehidupan yang dijadikan sebagai pegangan dalam berperilaku di masyarakat, tetapi kini ada beda dan unik. Nilai-nilai luhur Pancasila diaplikasikan ke dalam 36 bait pupuh yang mengadopsi 36 butir nilai Pancasila. Namanya macepat itu “Surki”. “Pupuh ini unik, maka kami menelitinya, lalu menjadikan sebagai Program Kemitraan Masyarakat (PKM) kepada Sekaa Pasantian Swasti Marga Brata, Desa Selisihan, Klungkung,” kata Dosen Program Study (Prodi) Seni Pedalangan, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, I Kadek Widnyana.
Dalam program PKM itu, Kadek Widnyana melakukan bersama Ni Komang Sekar Marhaeni juga dari Prodi Seni Pedalangan dan Ni Putu Hartini dari prodi Seni Karawitan. Saat itu focus pada pupuh macepat “Surki” karya I Made Sija, maestro sekaligus budayawan kelahiran Banjar Dana, Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Pupuh ini merangkum 36 butir Pancasila ke dalam 7 jenis pupuh, yaitu pupuh Sinom, Pucung, Ginada, Durma, Maskumambang, Pangkur, dan pupuh Dandang. “Surki akronim dari kata sasur siki. Sasur (pasasur) artinya tiga puluh lima, asiki artinya satu. Jadi pasasur asiki dalam konteks ini adalah 36 pada/bait pupuh implementasi dari 36 butir Pancasila,” papar seniman dalang ini.
Pupuh Macepat “Surki” ini sangat menarik dijadikan media tuntunan nilai-nilai Pancasila bagi masyarakat. Hal itu dicoba di Selisihan Klungkung. Kalau pada zaman Orde Baru, kegiatan ini disebut Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4). “Belum pernah ada pupuh yang mengulas tentang 36 butir nilai Pancasila. Maka itu, pembinaan pupuh “Surki” ini menjadi media untuk menanamkan kembali nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat, khususnya di Desa Selisihan Klungkung. Progaram ini, sekaligus sebagai pelestarian pupuh “Surki”,” sebutnya.
Kadek Widnyana mengaku, masyarakat Desa Selisihan Klungkung, utamanya Sekaa Pasantian Swasti Marga Brata sangat serius mempelajari macepat “Surki”. Dalam waktu yang singkat mereka sudah dapat melakukannya, bahkan langsung mempratekannya. Kini, mereka sudah terbiasa membawakan pupuh macepat itu dalam kegiatan mesanti, baik ngayah ataupun dalam kegiatan adat lainnya. Pupuh Surki, bahkan mengema pada setiap tumah melalui komunitas HT (break). “Setelah pembinaan itu, masyarakat Desa Selisihan sudah biasa membawakan pupuh yang mengandung nilai-nilai 36 butir Pancasila selain, pupuh-pupuh yang biasa,” akunya polos.
Dalam Surki itu, pria yang akrab dipanggil Jero Dalang Bona atau Bapa Sija itu mengaplikasikan setiap satu butir nilai Pancasila ke dalam satu pada pupuh. Sila pertama terdiri dari 4 pada dengan menggunakan pupuh Sinom. Sila kedua terdiri dari 8 pada dengan menggunakan pupuh Pucung. Sila ketiga terdiri dari 5 pada dengan menggunakan pupuh Ginada. Sila keempat terdiri dari 7 pada dengan menggunakan pupuh Durma. Sila kelima terdiri dari 12 pada dengan menggunakan 3 pupuh yaitu: pupuh Maskumambang 7 pada, pupuh Pangkur 2 pada, dan pupuh Dandang 3 pada.
Ke 36 pupuh ini merupakan pengejawantahan dari 36 nilai-nilai Pancasila yang khusus dibuat oleh Seniman serba bisa, sekitar tahun 1997. Oleh karena bobot dan kualitas serta lirik semua pupuhnya merupakan nilai-nilai yang bisa memberikan pencerahan terhadap pendidikan kebangsaan dan kebinekaan. “Karena itu, kami memaandang perlu pupuh ini disosialisasikan ke masyarakat luas. Dalam konteks ini, kami menggunakan media pasantian sebagai sarana pengabdian kepada masyarakat,” tambah Kadek Widnyana.
Nilai-nilai dalam Pancasila merefleksikan kultur, nilai, dan kepercayaan masyarakat Indonesia. Pancasila hadir sebagai pemersatu pandangan hidup warga Indonesia yang bertujuan untuk menjaga dinamika yang ada di dalam masyarakat. Karena itu, penyuluhan nilai Pancasila perlu diberikan kepada masyarakat Desa Selisihan agar pemahaman dan pengamalannya dapat lebih ditingkatkan. “Ini juga perlu dilakukan di seluruh lapisan masyarakat untuk meredam Paham komonisma, terorisma yang mulai menggoyang eksistensi Pancasila. degradasi moral, lemahnya mental karena pengaruh materialisma yang mengarah pada kehudupan individualism,” jelasnya.
Lahirnya pupuh macepat Surki ini sungguh bermanfaat, sebab jangan sampai nilai-nilai Pancasila hanya sebatas wacana dan pajangan belaka. Pengamalan itu penting agar tidak terjadi perpecahan, menumbuhkan rasa tolong menolong, saling mengasihi, tak terjadi mabuk-mabukan. “Fenomena itu sudah terasa dan terlihat di Desa Selisihan, sehingga keinginan untuk menanggulangi semakin derasnya pengaruh negatif di atas, pembina melakukan program PKM nilai-nilai Pancasila di desa Selisihan memalui kegiatan seni Pasantian,” sebut Kadek Widnyana.
Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan alumni FSP ISI Denpasar, mengatakan, metode dan kiat-kiat yang digunakan dalam pembinaan itu menggunakan langkah-langkah nyata berkenaan dengan proses pelatihan dan penguasaan pupuh macepat “Surki”. Pembina melalui pelatihan kepada semua penembang sesuai pembagian pupuh dan lirik, selain penguasaan surki. Semua itu diawali dalam bentuk pacapriring untuk memantapkan penguasaan lirik. Pacapriring itu melodi dasar dari sebuah pupuh. Sebelum ngawilet penembang diwajibkan menguasai melodi dasar atau priring dari pupuh bersangkutan. “Setelah lirik dan pacapriring sudah dikuasai, dilanjutkan dengan pelatihan ngawilet, permainan melodi pada sebuah pupuh namun tetap berlandaskan dari melodi dasarnya,” paparnya.
Pada pupuh “Surki” menegaskan arti dan makna dari setiap sila. Sila 1, Ketuhanan Yang Maha Esa dalam pupuh Sinom berisi percaya dan takwa kepada Tuhn Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, hormat-menghormati dan bekerja sama anatar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina kerukunan hidup, saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya, dan tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan tertentu kepada orang lain.
Sila 2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dalam Pupuh Pucung, mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia warga negara, saling mencintai sesame, mengembangkan sikap tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, berani membela kebenaran dan keadilan, serta bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.
Sila 3, Persatuan Indonesia dalam Pupuh Ginada menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan, rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, cinta tanah air dan bangsa, bangsa sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia, serta memajukan pergaulan demi persatuan dan keatuan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika.
Pada pupuh “Surki” menegaskan arti dan makna dari setiap sila. Sila 1, Ketuhanan Yang Maha Esa dalam pupuh Sinom berisi percaya dan takwa kepada Tuhn Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing, hormat-menghormati dan bekerja sama anatar pemeluk agama dan penganut-penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga terbina kerukunan hidup, saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya, dan tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan tertentu kepada orang lain.
Sila 2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab dalam Pupuh Pucung, mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia warga negara, saling mencintai sesame, mengembangkan sikap tenggang rasa, tidak semena-mena terhadap orang lain, menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, gemar melakukan kegiatan kemanusiaan, berani membela kebenaran dan keadilan, serta bangsa Indonesia merasa dirinya sebagai bagian dari seluruh umat manusia, karena itu dikembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja sama dengan bangsa lain.
Sila 3, Persatuan Indonesia dalam Pupuh Ginada menempatkan kesatuan, persatuan, kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan, rela berkorban untuk kepentingan bangsa dan negara, cinta tanah air dan bangsa, bangsa sebagai bangsa Indonesia dan bertanah air Indonesia, serta memajukan pergaulan demi persatuan dan keatuan bangsa yang ber-Bhineka Tunggal Ika.
Sila 4, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmh kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan dalam pupuh Durma yang menagaskan, mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat, tidak memaksakan kehendak kepada orang lain, mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama, musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi semangat kekeluargaan, dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil musyawarah, musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur, keputusan yang diambil harus dapat dipertanggung jawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia serta nilai-nilai kebenaran dan keadilan,
Sila 5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia dalam Pupuh Maskumambang dan Dangdang yang menegaskan, mengembangkan perbuatan-perbuatan yang luhur yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan gotong royong, bersikap adil, menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban, menghormati hak-hak orang lain, suka memberi pertolongan kepada orang lain, menjauhi sikap pemerasan terhadap orang lain, tidak bergaya hidup mewah, tidak melakukan perbuatan yang merugikan kepentingan umum, ngulahang idup padidi, suka bekerja keras, menghargai karya orang lain, serta bersama-sama berusaha mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
Adapun contohnya, Sila 1. Ketuhanan Yang Maha Esa. Percaya dan takwa kepada Tuhn Yang Maha Esa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing. Pupuh Sinom pada ke 1:
pancasila manut pisan
dasar negarane mangkin
daging silane kapisan
teleb bakti ring hyang widhi
suang-suang mangelingin
agamane wus kaanut
medasar ban kopesaman
sampunang mapilih kasih
mangda patut
pageh ngamong kaadilan
Sila 2. Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Mengakui persamaan derajat persamaan hak dan persamaan kewajiban antara sesama manusia warga negara. Pupuh Pucung pada ke 1.
ngawit pucung, sila kaping kalih mungguh
duh sampunang pisan
ngangken raga pinih luwih
wireh patuh, paturu ngelah kakwasan
Kadek Widnyana, Komang Marhaeni dan Putu Hartini lalu kompak memaparkan, seni suara vokal atau tembang di Bali masih digemari oleh masyarakatnya baik itu masyarakat awam, akademis, pedesaan maupun perkotaan. Seni suara vokal ini lebih menitik beratkan pada pembelajaran dan pemaknaan pupuh-pupuh atau tembang-tembang macepat. Tembang itu dibedakan 4 kelompok, yaitu Sekar Rare (kelompok gegendingan anak-anak), Sekar Alit (pupuh macepat yang diikat padalingsa), Sekar Madya (kekidungan, lagu-lagu pemujaan) dan Sekar Agung (kakawin). “Tembang-tembang macepat berisikan nilai-nilai tuntunan budi pekerti dan juga bagian dari prosesi upacara agama, adat dan budaya,” jelasnya.
Dari keempat tembang itu, sekar alit menduduki posisi yang dominan di masyarakat. Selain bisa dilantunkan secara individu, sekar alit identik dengan Pasantian, yaitu sekelompok orang (sekaa) menyajikan sebuah cerita melalui berbagai jenis tembang oleh beberapa penembang dan pangartos yaitu orang yang memberi arti atau makna dari pupuh yang disajikan. Menggunakan bahasa Bali, dan menjadi bagian penting dari drama tari Arja. Maka itu, Arja sebuah drama tari yang menarikan tembang/pupuh. “Sekaa Pasantian Desa Selisihan Klungkung sangat menggemari kegiatan tersebut dari berbagai kelompok umur,” ucapnya menegaskan
Masing-masing pupuh mempunyai ekspresi (suasana) kejiwaan yang berbeda-beda. Ekspresi pupuh itu berguna untuk mengungkapkan suasana dramatik dari suatu cerita atau lakon. Suasana aman, tenang atau tentram mempergunakan pupuh Sinom lawe, Pucung, Mijil, Ginada Candrawati. Suasana gembira, roman serta meriah mempergunakan pupuh Sinom Lumrah, Sinom Lawe, Ginada Basur, Adri, Magatruh. Suasana sedih, kecewa atau tertekan mempergunakan pupuh Sinom Lumrah, Sinom Wug Payangan, Semarandana, Ginada Eman-Eman, Maskumambang, Demung.
Sedangkan untuk suasana marah, tegang atau kroda biasanya memakai pupuh Durma dan Sinom Lumrah. Sekalipun pupuh memiliki ekspresi tersendiri, namun faktor melagukan, menyanyikan oleh pelakunya dapat pula merubah ekspresi yang ada pada pupuh tersebut. “Tujuan pembinaan ini untuk melestarikan pupuh “Surki” dengan jalan desiminasi ke Masyarakat, menyebarkan nilai-nilai Pancasila lewat Surki, memperdalam teknik olah vokal secara teori dan praktik, ngandang ngelung, guru wilang, guru dingdong ngunjal angkihan, ngruna, murwa kanti, nada, lirik, ritma/melodi, dan tempo,” papar mereka. [B/*]