by admin | May 7, 2009 | Berita

Rapat Pemilihan
(denpasar-humasisi) Kemajuan pendidikan di suatu institusi erat kaitannya dengan tingkat kualitas seluruh penyelenggara pendidikan di institusi tersebut. Tentu penyelenggara disini adalah komponen- komponen penyelenggara pendidikan di perguruan tinggi seperti Guru besar, dosen dan pegawai. Berkaitan dengan hal tersebut, ISI Denpasar telah melangsungkan proses penilaian mahasiswa, dosen dan Ketua Program Studi berprestasi di tingkat institut. Hal tersebut terungkap dalam rapat penilaian mahasiswa, dosen dan Ketua Prodi berprestasi 2009 di gedung rektorat ISI Denpasar. Acara tersebut dihadiri Pembantu Rektor I bidang akademik Drs. I Ketut Murdana, M.Sn, Pembantu Rektor III di bidang kemahasiswaan Drs. I Made Subrata, M. Si, jajaran struktural dari kedua fakultas di ISI Denpasar Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) dan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP).
Menurut Murdana acara ini merupakan acara tahunan sesuai dengan yang diamanatkan Dikti dan untuk mekanisme penilaiannya dilaksanakan dengan menilai fortofolio yang telah diserahkan oleh masing-masing fakultas. Untuk penilaian tahun ini berbeda dengan pelaksanaan tahun lalu. Bila tahun lalu masing-masing kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Pendidikan, Penelitian dan pengabdian Masyarakat) dinilai terpisah, untuk tahun ini penilaiannya dijadikan satu. Tim penilai akan menilai dan memutuskan dosen dan ketua prodi berprestasi 1,2 dan 3 di fakultas, untuk bersaing di tingkat institut dimana khusus untuk dosen berprestasi 1 di tingkat institut, akan diajukan ke Pusat (Jakarta) untuk bersaing mendapatkan dosen berprestasi tingkat Nasional. Rencananya hasil pengumuman akan disampaikan pada saat Upacara Bendera 17 Agustus 2009 mendatang. Adapun kriteria penilaian dibagi dalam kelompok karya prestasi bidang manajerial, karya prestasi di bidang jaringan kemitraan, karya prestasi di bidang inovasi pembelajaran dan karya prestasi di bidang kemahasiswaan. Hal ini sesuai dengan buku panduan yang ditetapkan oleh Dikti. Murdana mengharapkan dengan diadakannya kegiatan ini maka Institusi memiliki dosen dengan kemampuan unggul di bidang masing-masing dan diharapkan untuk mampu mengaplikasikan ilmunya sehingga transfer ilmu dan pemberdayaan masyarakat bisa tercapai dengan maksimal. Tentu dalam prosesnya akan diberikan reward bagi dosen yang berhasil meraihnya dan untuk yang belum akan dilkukan proses pembinaan.
Sementara untuk mahasiswa yang berprestasi, PR III ISI Denpasar Drs. I Made Subrata, M.Si menjelaskan untuk tahun ini telah dilakukan proses penilaian untuk memilih mahasiswa berprestasi 2009 dengan kriteria sesuai dengan yang ditetapkan oleh Dikti yaitu Indeks Prestasi (IP) Kumulatif, Karya Tulis Ilmiah, Kegiatan kurikuler dan Ekstra kurikuler, Bahasa Inggris dan Kepribadian. Sama dengan pemilihan dosen, portofolio mahasiswa diajukan dan untuk tingkat fakultas dipilih mahasiswa berprestasi 1, 2 dan 3, yang nantinya di ajukan ke institut ntuk memilih mahasiswa berprestasi 1, 2, 3 tingkat institut. Tentu kegiatan ini merupakan upaya untuk mendorong kreativitas, aktivitas dan kesejahteraan mahasiswa dimana pemenangnya akan diberikan piagam dan finansial. Capaian akhirnya adalah iklim akademik antar mahasiswa dapat bergulir sehingga berpengaruh terhadap iklim pendidikan institusional.
Berkenaan dengan penciptaan iklim akademik institusional, juga berlangsung proses penilaian proposal penilitian, penciptaan dan pengabdian masyarakat oleh tim reviewer institusi yang dikomandoi oleh LP2M ISI Denpasar. Dimana dari proposal yang lolos, rencananya akan dipamerkan/dipertunjukkan bertepatan dengan Dies Natalis ISI Denpasar. Di lain tempat juga terlihat kesibukan mahasiswa FSP yang menyiapkan pagelaran Ujian Akhir. Mereka tampak sangat serius mempersiapkannya bukan karena akan diuji oleh para dosen semata akan tetapi juga “diuji” oleh respon masyarakat luas yang dijinkan menonton pagelaran tersebut. Ini merupakan ujian sesungguhnya, dimana masyarakat dapat memberikan aspirasi tentang pagelaran tersebut dan mempertaruhkan tidak hanya prestise pribadi juga kredibilitas lembaga.
by admin | May 7, 2009 | Berita

Depdiknas
Jakarta, Sabtu (2 Mei 2009) — Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) pada 2009 telah menetapkan sebelas kebijakan terobosan lanjutan secara masal pendidikan. Pada akhir 2008 hampir seluruh indikator kinerja utama rencana strategis tercapai dengan baik, bahkan banyak yang melampaui target. Kebijakan masal pendidikan selama ini telah menunjukkan hasil – hasil yang positif.
Hal tersebut disampaikan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo pada upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2009 di Depdiknas, Jakarta, Sabtu (2/05/2009). Tema peringatan Hardiknas 2009 adalah Pendidikan Sains, Teknologi, dan Seni Menjamin Pembangunan Berkelanjutan dan Meningkatkan Daya Saing Bangsa.
Mendiknas menyebutkan sebelas terobosan masal pendidikan, yakni melanjutkan pendanaan pendidikan secara massal, melanjutkan peningkatan kualifikasi dan sertifikasi pendidik, penerapan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) untuk e-pembelajaran dan e-administrasi, pembangunan prasarana dan sarana pendidikan, rehabilitasi prasarana dan sarana pendidikan, dan reformasi perbukuan secara mendasar.
Selanjutnya, peningkatan mutu dan daya saing pendidikan dengan pendekatan komprehensif, perbaikan rasio peserta didik SMK:SMA, otonomisasi satuan pendidikan, intensifikasi dan ekstensifikasi pendidikan nonformal dan informal untuk menggapaikan layanan pendidikan kepada peserta didik yang tidak terjangkau pendidikan formal (reaching the unreached), serta penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan dengan pendekatan komprehensif.
Mendiknas mengatakan, dalam kurun waktu 2005 – 2008, pendanaan pendidikan melalui program Bantuan Operasional Sekolah (BOS), BOS Buku, Bantuan Khusus Murid (BKM), Bantuan Operasional Manajemen Mutu (BOMM), dan program beasiswa telah menunjukkan hasil dan manfaat yang signifikan dalam pengembangan mutu pendidikan di Tanah Air. “Program BOS selama ini telah membebaskan sebanyak 70,3 persen murid SD/MI dan SMP/MTs dari pungutan biaya operasional dan semua siswa miskin bebas dari pungutan tersebut,” katanya.
Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, dengan peningkatan biaya satuan BOS yang cukup signifikan maka mulai 2009 program BOS membebaskan seluruh peserta didik SD negeri dan SMP negeri dari semua pungutan biaya operasional sekolah, kecuali pada rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) dan sekolah bertaraf internasional (SBI). “Tahun 2008 kita berhasil menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun pada tingkat nasional,” katanya.
Selanjutnya, kata Mendiknas, dalam hal peningkatan kualifikasi dan sertifikasi pendidik maka sesuai dengan Undang – Undang No.14/2005 tentang Guru dan Dosen, sejak 2006 sekitar 1,75 juta guru yang belum memperoleh S1/D4 harus meraih derajat tersebut dalam waktu sepuluh tahun. Kemudian, kata Mendiknas, sekitar 150.000 dosen yang belum S2 atau S3 harus meraihnya dalam waktu sepuluh tahun. “Seiring dengan upaya tersebut maka bagi para guru dan dosen yang telah berhasil memenuhi persyaratan undang – undang tersebut kesejahteraannya ditingkatkan menjadi sekitar dua kali lipat,” katanya.
Mendiknas mengatakan, dalam mengembangkan infrastruktur TIK untuk e-pembelajaran dan e-administrasi, telah tersambung melalui Jejaring Pendidikan Nasional (Jardiknas) puluhan ribu sekolah, ratusan perguruan tinggi dan seluruh kantor Depdiknas termasuk UPT di daerah, dan seluruh kantor pendidikan provinsi dan kabupaten/kota tersambung ke Jardiknas. “Pembangunan sarana – prasarana pendidikan juga terus ditingkatkan, dari PAUD hingga pendidikan tinggi,” katanya.
Sampai dengan saat ini, kata Mendiknas, telah dibangun ribuan sekolah baru, puluhan ribu ruang kelas baru, ribuan perpustakaan dan laboratorium. Selain itu, lanjut Mendiknas, juga telah direhabilitasi ratusan ribu ruang kelas SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/SLB.
Sementara, kata Mendiknas, di bidang perbukuan Depdiknas telah melakukan reformasi secara mendasar, yaitu dengan membeli hak cipta buku dari penulis atau penerbit dan mengizinkan siapa saja untuk menggandakannya, menerbitkannya, atau memperdagangkannya dengan harga murah. Mendiknas menyebutkan, sampai saat ini Depdiknas telah membeli sebanyak 598 judul buku teks pelajaran, dengan harga eceran tertinggi (HET) yang berkisar antara Rp.4.387,00 sampai dengan Rp.29.986,00 per buku. “Dengan reformasi ini sekolah wajib menyediakan buku teks pelajaran sejumlah peserta didiknya, sehingga para peserta didik tidak perlu lagi membeli buku dan cukup meminjam dari perpustakaan,” katanya.
Lebih lanjut Mendiknas menyampaikan, peningkatan mutu dan daya saing pendidikan dengan pendekatan komprehensif telah dilakukan secara sistematik terhadap semua satuan pendidikan, dengan cara meningkatkan acuan mutu standar pelayanan minimal (SPM), rintisan sekolah standar nasional (RSSN), sekolah standar nasional (SSN), rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), dan sekolah bertaraf internasional (SBI).
Adapun pada jenjang pendidikan tinggi, kata Mendiknas, beberapa perguruan tinggi kita telah mendapat pengakuan sebagai perguruan tinggi berkelas dunia (world class), menurut versi Times Higher Education Supplement (THES). “Tiga perguruan tinggi yaitu Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung, dengan jumlah program studi 520 telah masuk dalam peringkat 400 terbaik dunia dari 12.000 universitas di seluruh dunia,” katanya.
Selain itu, lanjut Mendiknas, sebanyak 47 program studi Universitas Terbuka mendapatkan akreditasi dari International Council of Distance Education (ICDE). “Dengan demikian, maka program studi berkelas dunia sampai dengan saat ini mencapai 567 program studi yang melayani sekitar 12 persen dari seluruh mahasiswa Indonesia,” katanya.
Sementara, kata Mendiknas, dalam perbaikan rasio peserta didik SMK:SMA, Depdiknas memiliki kebijakan membalik rasio itu dari 30:70 pada tahun 2004 menjadi 70:30 pada tahun 2015. “Sampai dengan akhir tahun 2008 rasio yang tercapai telah bergeser menjadi 46:54. Dengan demikian, selama empat tahun rasio tersebut telah bergeser 16 persen,” katanya.
Mendiknas menjelaskan, berkenaan dengan otonomisasi satuan pendidikan, otonomi harus diimbangi dengan akuntabilitas yang setimpal. Dia mengatakan, pada tingkat sekolah/madrasah otonomi satuan pendidikan secara umum diberikan melalui manajemen berbasis sekolah (MBS), kecuali segelintir sekolah/madrasah yang menurut Undang – Undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) dipersyaratkan untuk menjadi BHP. “Sementara untuk jenjang pendidikan tinggi, semua satuan pendidikan tinggi harus berbentuk BHP,” katanya.
Mendiknas menyampaikan, dalam pelaksanaan intensifikasi dan ekstensifikasi pendidikan nonformal dan informal untuk menggapaikan layanan pendidikan kepada peserta didik yang tak terjangkau pendidikan formal (reaching the unreached) telah dilaksanakan program PAUD nonformal yang mendidik 10,48 juta anak. Program Paket A, kata Mendiknas, telah menyumbang angka partisipasi murni (APM) SD/MI 0,5 persen, program Paket B menyumbang angka partisipasi kasar (APK) SMP/MTs 3,96 persen, dan program Paket C menyumbang APK SMA/MA 2,96 persen.
Sementara, kata Mendiknas, buta aksara usia 15 tahun atau lebih menyisakan 9,7 juta orang atau 5,97 persen. “Insya Allah pada akhir tahun ini bisa kita turunkan menjadi lima persen,” katanya.
Mendiknas menyebutkan, hampir 300.000 orang mengikuti pendidikan kecakapan hidup dan telah membangun ribuan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), serta ratusan TBM mobil untuk daerah pedesaan yang jauh dari TBM.
Lebih lanjut Mendiknas mengatakan, dalam penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik pendidikan dilakukan pendekatan komprehensif melalui penataan kelembagaan, penghilangan konflik kepentingan, peningkatan akuntabilitas, dan peningkatan standar mutu pelayanan publik.***
Sumber: Pers depdiknas http://www.depdiknas.go.id/
by admin | May 5, 2009 | Berita

Rektor ISI Denpasar dan Pimpinan FSRD di Ruang Pameran
(Batu-Malang-humasisi) Gallery Raos yang terletak di suatu daerah yang terkenal sebagai kota sejuk yaitu Batu-Malang, tiba-tiba menjadi ramai dan hangat pada malam tanggal 26 April 2009 pada saat pembukaan Pameran Lukis Mata Air III “Variation of Mind” mahasiswa lukis semester 6 ISI Denpasar. Bahkan pemiliknya Djoeari Soebardja tampak sumringah dan tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya atas pameran ini, selain memang kualitas karya yang cukup mumpuni untuk kelas mahasiswa juga pada pembukaannya juga dihadiri langsung oleh Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA yang langsung terbang dari Bali. Menurut Djoeari ini merupakan kali pertama seorang rektor membuka pameran di gallerynya, sungguh pengalaman yang membanggakan. Pada pameran tersebut juga dihadiri oleh mahasiswa dari Universitas Negeri Malang, seniman dan masyarakat pencinta seni se-batu malang dan juga jajaran struktural Jurusan Seni rupa Murni ISI Denpasar. Tampak Dekan FSRD Dra. Ni Made Rinu, M. Si, PD 2 Drs. I Made Bendhi Yudha, PD 3 I Wayan Suwandhi, M.Si, Ketua Jurusan Seni Rupa Murni Drs. I Made Ruta, Sekretaris Jurusan Drs. I Ketut Karyana, Kaprodi Seni Lukis Dra. Ni Made Purnami Utami, M. Erg dan Kaprodi Seni Patung Drs. I Wayan Sutha. Pameran yang berlangsung dari 26 April sampai 2 Mei 2009 ini juga juga mengadakan kegiatan Workshop Seni Lukis wayang dan Diskusi masalah Seni rupa.
Menurut Pembantu Dekan 2 sekaligus pembimbing pameran ini Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn menyambut gembira dengan diadakannya kegiatan pameran ini, apalagi apresiasi masyarakat batu sangat baik terbukti dengan banyaknya komentar positif tentang keberadaan pameran ini. Pameran ini juga menunjukan kemandirian mahasiswa semester 6 untuk mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan pameran sehingga arah pengembangan kesenimannya sudah mulai matang. Terbukti konsep ciptaannya yang mulai nampak dewasa dengan membungkus nilai-nilai tradisi dengan bahasa kontemporer, terbukti dengan menggunakan bahasa simbol (metafora) dalam penyampaian pesan dan imajinasinya. Mahasiswa semester 6 juga dapat mewakili perkembangan seni rupa akademis Bali pada umumnya, sehingga dengan pembimbing yang tepat diharapkan akan menjadi seniman yang berkualitas baik di tingkat nasional maupun internasional. Menurut Bendi pameran ini merupakan salah satu kesinambungan dari kegiatan Kamasra (Ikatan Mahasiswa Seni Rupa) di ISI Denpasar yang sempat mandek, dan pameran ini merupakan suatu semangat baru untuk membangkitkan gairah pameran mahasiswa seni rupa sehingga dapat meningkatkan citra seni rupa ISI Denpasar di mata masyarakat. Pesannya agar terus tertantang untuk menggali potensi dirinya dan terus mengasah diri lewat pameran baik di tingkat nasional maupun internasional, dengan terus menjaga sikap kekompakan, kerjasama baik antar mahasiswa mapun dosen.
Bendi memaparkan pada pameran ini kebanyakan mengangkat fenomena sosial yang terjadi masyarakat sekarang dam kaca mata seniman. Contohnya karya I Nyoman Suartana (Rako) dengan judul “Mimpiku di atas “dampar” yang menampilkan atau memotret generasi muda sekarang yang menganggur atau karya I Gede Jaya Putra (Dexde) dengan judul “Senyum sesaat” yang menampilkan potret seorang Ibu yang tersenyum sambil memamerkan uang bantuan Langsung Tunai-nya (BLT), sebuah pemandangan ironi pada saat sekarang. Yang menarik juga karya Diah ardanareswari seorang mahasiswi yang mencoba memformulasikan benda-benda pabrik dengan teknik kolase sehingga tampak eksotisme seorang perempuan yang masuk ke dalam budaya konsumerisme.
Senada dengan yang diungkapkan Bendi, Dekan FSRD ISI Denpasar Dra. Ni Made Rinu, Msi mengucapkan terima kasih kepada Rektor, jajaran struktural FSRD dan pihak2 yang telah berkeja keras sehingga kegiatan pameran dapat berlangsung dengan lancar. Menurutnya pameran ini merupakan suatu proses pembelajaran yang sangat penting dalam karier kesenimanan mahasiswa. Dimana kritikan dan masukan yang ada dapat lebih apresiatif dalam pengembangan kreativitas dan kualitas karya mahasiswa. Semoga kegiatan ini dapat dilanjutkan oleh adik kelasnya dan Jurusan lain di FSRD, dimana Rinu sebagai dekan tidak henti-hentinya mendorong agar diadakan kegiatan seperti ini untuk meningkatkan citra kampus di masyarakat. Ke depannya mahasiswa semester 6 akan melanjutkan pameran ini ke kota2 lainnya di pulau jawa seperti Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.
by admin | May 5, 2009 | Berita

Wayan Suardana dan karyanya
(Denpasar-humasisi) Satu prestasi kembali diukir oleh salah satu Dosen Kriya Seni ISI Denpasar Drs. I Wayan Suardana, MSn, yaitu lolos seleksi pameran dan seminar nasional “Seni Rupa Nusantara 2009” dengan mengambil tema “Menilik Akar”. Karya Suardana termasuk kedalam 85 karya yang lolos dari 600 karya yang diseleksi dari seluruh Indonesia. Khusus daerah Bali meloloskan 6 karya termasuk karya Suardana dan salah satunya adalah karya maestro seni lukis Bali yaitu Nyoman Gunarsa. Yang membanggakan adalah ISI Denpasar meloloskan 4 karya yaitu 1 karya Dosen kriya (Suardana) dan 3 karya alumnus ISI Denpasar ( I Gst. Putu Hardana Putra, I Wayan Sedana Yasa, Wayan Dania). Hal tersebut menambah daftar prestasi yang diraih oleh ISI Denpasar. Rencananya karya-karya tersebut akan dipamerkan di Galery Nasional Indonesia-Jakarta dari tanggal 19-31 Mei mendatang dan rencananya akan dibuka oleh Menbudpar Republik Indonesia yaitu Ir. Jero Wacik, SE.
Mengenai karya yang lolos seleksi tersebut Suardana merasa bangga dan senang, mengingat ini adalah suatu event besar dunia seni rupa Indonesia, saingan yang begitu banyak dan proses seleksi yang ketat. Ditanya kenapa karyanya tersebut bisa lolos seleksi, Suardana menjelaskan menurutnya karya tersebut sangat dekat dengan tema yaitu “Menilik Akar” dimana sumber idenya menggali kembali (akar) tradisi daerah . Karyanya “Tameng Bhuwana” menurutnya mengambil dari konsep penjaga bhuwana(dunia), dimana di Bali dunia dibagi menjadi Bhuwana Agung (alam) dan bhuwana Alit (badan manusia). Jadi kita harus menjaga alam dan manusia ini agar seimbang dan harmonis. Pria asal Petulu Ubud ini menjelaskan, untuk pengambilan bentuk dasar diangkat “lesung” yang merupakan perlambang dari Pertiwi(Yoni/Ibu/Bumi) dan Senjata Dewata Nawa Sanga yang merupakan Dewa-Dewa penjaga arah mata angin di Bali. Dari material juga dipakai limbah kayu jati, jadi memanfaatkan barang bekas untuk menghasilkan karya seni yang tinggi.
Bapak 3 orang anak dan putra kandung dari salah satu seniman patung terkenal dari Petulu Gunung-Ubud pak Made poleng ini, mengharapkan kedepannya dengan keberhasilannya ia akan lebih termotivasi untuk membuat karya yang lebih monumental lagi dan pada saat pameran ia akan berpromosi tentang keberadaan kampus ISI Denpasar. Ketua jurusan Kriya Seni ISI Denpasar Drs. I Made Suparta, M.Hum menyambut gembira menyambut hal ini dan tidak lelahnya mencari celah-celah yang ada apalagi pada waktu dekat ini mahasiswa kriya pada khususnya akan melakukan temu Karya Mahasiswa Kriya Seni di Solo, inilah salah satu dari beberapa cara untuk lebih mempromosikan jurusan dan kampus di tingkat nasional dan internasional. Sementara PD II FSRD ISI Denpasar Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn menyambut gembira dan terus mendukung semangat berkompetisi baik bagi dosen maupun mahasiswa untuk menunjukkan kualitas pendidikan di ISI Denpasar. Senada dengan Bendi, PD I ISI Denpasar Drs. I Gede Mugi Raharja, M.Sn dengan lolosnnya karya Suardana ini membuktikan kualitas dosen ISI Denpasar sehingga mahasiswa terpacu dan bangga untuk mengikuti jejak dosennya tersebut. Sehingga atmosfir pendidikan di kampus menjadi lebih kompetitif dan berkualitas.
Dekan FSRD Dra. Ni Made Rinu, MSi saat dihubungi menyambut bangga dan gembira atas antusiasme dosen dan mahasiswa untuk mengikuti kompetisi di tingkat nasional maupun internasional. Apalagi bersamaan dengan semangat Hari Pendidikan Nasional, semoga lolosnya salah satu dosen ISI Denpasar makin meningkatkan semangat civitas kampus untuk lebih kompetitif dan meningkatkan kualitasnya dalam bidang pendidikan. Rinu sebagai Dekan juga tidak lelah-lelahnya mendorong para dosen dan mahasiswa untuk terus mengikui event-event nasional maupun internasional selain untuk mengasah dri sebagai pribadi juga turut juga mempromosikan kampus secara tidak langsung. Sehingga visi kita untuk “go international” dapat terwujud dengan semangat kompetisi untuk mengasah diri. Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA menyambut gembira atas lolosnya Suardana ini dan berpesan pada jaman globalisasi ini berkompetisi di segala bidang adalah hal yang sangat mutlak adanya. Jadi kita sebagai institusi seni harus bersiap diri untuk menghadapi iklim kompetisi ini, dan tidak ada jalan selain terus mengasah diri dan menempa diri sesuai kapasitasnya masing-masing, namun tetap mempertahankan etika profesi dan jati diri kita. Semoga dengan event-event seperti ini ISI Denpasar semakin terpacu untuk mengembangkan diri untuk menuju World Class University.
by admin | Apr 30, 2009 | Berita

Dosen dan Mahasiswa Jurusan Karawitan di Lombok
Lombok– Bertepatan dengan odalan pujawali di Pura Dalem Karangjangkong, Cakranegara, Lombok-Nusa Tenggara Barat, yang diadakan pada tilem kedasa, tanggal 24 April 2009, ISI Denpasar merasa terpanggil untuk ikut memberikan sumbangsih dalam bentuk “ngayah”. Rentetan upacara piodalan berlangsung dari tanggal 23 April dengan agenda Mapepade atau Macaru, tanggal 24 April, piodalan/ pujawali serta tanggal 25 April upacara nyineb. Rombongan ISI Denpasar yang melibatkan 85 dosen, staf dan mahasiswa mendapat kesempatan untuk ngayah pada tanggal 23 dan 24 April 2009. Adapun sesolahan yang ditampilkan oleh ISI Denpasar adalah tabuh Semarpagulingan persembahan dari Asti Pertiwi (kumpulan penabuh wanita ISI Denpasar), Wayang Lemah yang dibawakan oleh Asti Kumara (kumpulan anak-anak dosen dan staf ISI Denpasar), Tari Jauk Manis, Baris Gede dan Rejang. Selain rombongan dari ISI denpasar ada juga beberapa sanggar yang turut ngayah, diantaranya Angklung dari Karang Kecicang, Gong dari Truna Sari-Karang Kubu, Tabuh dan Tari dari sanggar Samsam Gadang, Banjar Pande, Lombok. Pada malam hiburan ISI Denpasar juga mendapat kesempatan untuk “mebarung” dengan Sanggar Samasam Gadang Banjar Pande Lombok, yang digelar di Jaba Pura Dalem Karangjangkong. Adapun hiburan yang ditampilkan ISI Denpasar adalah Lelambatan Tabuh Kutus Pelayon, Tari Penyambutan Selat Segara, Jauk Manis, Oleg Tambulilingan, Truna Jaya, Satya Brasta serta karya seni yang mengkolaborasikan antara vocal dan music yaitu Kebyar Dang Cita Utsawa. Sementara sanggar seni Samsam Gadang, Banjar Pande, Lombok menampilkan Tabuh Lelambatan Mina Ing Segara, serta gadung kasturi sementara Tariannya menampilkan Legong Keraton Lasem, Jauk Manis, Truna Jaya serta Satya Brasta. Para dosen, staf dan mahasiswa ISI Denpasar, tampak bekerjasama dan responsif untuk menghasilkan pementasan yang baik. Sementara umat Hindu di Lombok yang menyaksikan berbagai rentetan persembahan dari ISI Denpasar tampak antusias untuk menyaksikan aksi panggu dari ISI Denpasar. Selain untuk melakukan persembahyangan mereka juga berbondong-bondong untuk menyaksikan hiburan Mabarung antara ISI Denpasar dan Sanggar Samsan Gadang Lombok.
Pembantu Rektor IV ISI Denpasar, I Wayan Sweca, M.Mus yang sekaligus sebagai ketua rombongan mengungkapkan kegiatan ini sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat serta pengajaran kepada mahasiswa untuk dapat secara langsung mengaplikasikan ilmu di masyarakat serta bentuk pertanggungjawaban ISI Denpasar Kepada Masyarakat. Ajang ini juga sangat tepat untuk mempromosikan dan mencitrakan ISI Denpasar di luar Bali, sehingga melalui kegiatan ini akan mampu menarik para calon-calon seniman di Lombok untuk bergabung di ISI Denpasar. Sweca menambahkan, selain rombongan melaksanakan persembahyangan bersama guna “nunas ica” agar seluruh keluarga besar ISI Denpasar diberikan keselamatan, rombongan ISI Denpasar juga berkesempatan untuk melakukan tirta yatra ke Pura Narmada, Suranadi, Lingsar dan Batu Bolong.
Sementara Rektor ISI Denpasar, Prof. Dr. I Wayan Rai S., M.A, mengungkapkan kedepan model kegiatan seperti ini akan terus dikembangkan untuk keharmonisan bersama, sehingga konsep Tri Hita Karana dan menyama braya dapat dijadikan modal dasar untuk menciptakan keharmonisan dan kebersamaan. Selain mencari bibit-bibit baru dari Lombok kegiata ini juga akan mampu menggali warisan-warisan budaya Timur yang sudah menjadi kewajiban ISI Denpasar untuk turut melestarikannya, mengingat ISI Denpasar adalah satu-satunya perguruan tinggi Seni yang berada di kawasan timur Indonesia. Sehingga kedepanpun kegiatan serupa akan diprioritaskan di kawasan timur Indonesia.
Humas ISI Denpasar melaporkan
by admin | Apr 30, 2009 | Berita

Batu-Malang– Gallery Raos yang terletak di suatu daerah yang terkenal sebagai kota sejuk yaitu Batu-Malang, tiba-tiba menjadi ramai dan hangat pada malam tanggal 26 April 2009 pada saat pembukaan Pameran Lukis Mata Air III “Variation of Mind” mahasiswa lukis semester 6 ISI Denpasar. Bahkan pemiliknya Djoeari Soebardja tampak sumringah dan tidak dapat menyembunyikan rasa bangganya atas pameran ini, selain memang kualitas karya yang cukup mumpuni untuk kelas mahasiswa juga pada pembukaannya juga dihadiri langsung oleh Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Rai S., MA yang langsung terbang dari Bali. Menurut Djoeari ini merupakan kali pertama seorang rektor membuka pameran di gallerynya, sungguh pengalaman yang membanggakan. Pada pameran tersebut juga dihadiri oleh mahasiswa dari Universitas Negeri Malang, seniman dan masyarakat pencinta seni se-batu malang dan juga jajaran struktural Jurusan Seni rupa Murni ISI Denpasar. Tampak Dekan FSRD Dra. Ni Made Rinu, M. Si, PD 2 Drs. I Made Bendhi Yudha, PD 3 I Wayan Suwandhi, M.Si, Ketua Jurusan Seni Rupa Murni Drs. I Made Ruta, Sekretaris Jurusan Drs. I Ketut Karyana, Kaprodi Seni Lukis Dra. Ni Made Purnami Utami, M. Erg dan Kaprodi Seni Patung Drs. I Wayan Sutha. Pameran yang berlangsung dari 26 April sampai 2 Mei 2009 ini juga juga mengadakan kegiatan Workshop Seni Lukis wayang dan Diskusi masalah Seni rupa.
Menurut Pembantu Dekan 2 sekaligus pembimbing pameran ini Drs. I Made Bendi Yudha, M.Si menyambut gembira dengan diadakannya kegiatan pameran ini, apalagi apresiasi masyarakat batu sangat baik terbukti dengan banyaknya komentar positif tentang keberadaan pameran ini. Pameran ini juga menunjukan kemandirian mahasiswa semester 6 untuk mengembangkan potensi dirinya melalui kegiatan pameran sehingga arah pengembangan kesenimannya sudah mulai matang. Terbukti konsep ciptaannya yang mulai nampak dewasa dengan membungkus nilai-nilai tradisi dengan bahasa kontemporer, terbukti dengan menggunakan bahasa simbol (metafora) dalam penyampaian pesan dan imajinasinya. Mahasiswa semester 6 juga dapat mewakili perkembangan seni rupa akademis Bali pada umumnya, sehingga dengan pembimbing yang tepat diharapkan akan menjadi seniman yang berkualitas baik di tingkat nasional maupun internasional.
Menurut Bendi pameran ini merupakan salah satu kesinambungan dari kegiatan Kamasra (Ikatan Mahasiswa Seni Rupa) di ISI Denpasar yang sempat mandek, dan pameran ini merupakan suatu semangat baru untuk membangkitkan gairah pameran mahasiswa seni rupa sehingga dapat meningkatkan citra seni rupa ISI Denpasar di mata masyarakat. Pesannya agar terus tertantang untuk menggali potensi dirinya dan terus mengasah diri lewat pameran baik di tingkat nasional maupun internasional, dengan terus menjaga sikap kekompakan, kerjasama baik antar mahasiswa mapun dosen.
Bendi memaparkan pada pameran ini kebanyakan mengangkat fenomena sosial yang terjadi masyarakat sekarang dam kaca mata seniman. Contohnya karya I Nyoman Suartana (Rako) dengan judul “Mimpiku di atas “dampar” yang menampilkan atau memotret generasi muda sekarang yang menganggur atau karya I Gede Jaya Putra (Dexde) dengan judul “Senyum sesaat” yang menampilkan potret seorang Ibu yang tersenyum sambil memamerkan uang bantuan Langsung Tunai-nya (BLT), sebuah pemandangan ironi pada saat sekarang. Yang menarik juga karya Diah ardanareswari seorang mahasiswi yang mencoba memformulasikan benda-benda pabrik dengan teknik kolase sehingga tampak eksotisme seorang perempuan yang masuk ke dalam budaya konsumerisme.
Senada dengan yang diungkapkan Bendi, Dekan FSRD ISI Denpasar Dra. Ni Made Rinu, Msi mengucapkan terima kasih kepada Rektor, jajaran struktural FSRD dan pihak2 yang telah berkeja keras sehingga kegiatan pameran dapat berlangsung dengan lancar. Menurutnya pameran ini merupakan suatu proses pembelajaran yang sangat penting dalam karier kesenimanan mahasiswa. Dimana kritikan dan masukan yang ada dapat lebih apresiatif dalam pengembangan kreativitas dan kualitas karya mahasiswa. Semoga kegiatan ini dapat dilanjutkan oleh adik kelasnya dan Jurusan lain di FSRD, dimana Rinu sebagai dekan tidak henti-hentinya mendorong agar diadakan kegiatan seperti ini untuk meningkatkan citra kampus di masyarakat. Ke depannya mahasiswa semester 6 akan melanjutkan pameran ini ke kota2 lainnya di pulau jawa seperti Jakarta, Bandung dan Yogyakarta.
Humas ISI Denpasar melaporkan