M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Perkembangan Fungsi Suling Dalam Komposisi Kekebyaran

Perkembangan Fungsi Suling Dalam Komposisi Kekebyaran

Oleh: I Gede Yudarta, SSKar., M.Si (Dosen PS. Seni Karawitan)

Gamelan Gong KebyarMengamati perkembangan seni karawitan Bali khususnya seni karawitan kekebyaran dewasa ini, telah terjadi pergeseran atau perubahan fungsi beberapa instrumen yang terdapat dalam barungan gamelan gong kebyar. Salah satu perubahan tersebut adalah semakin berkembangnya fungsi instrumen suling dalam barungan gamelan tersebut.

Suling sebagaimana dijelaskan dalam Kamus Musik adalah flute tradisional yang umumnya terbuat dari bambu (Banoe, 2003:). Secara fisik, suling yang terbuat terbuat dari bambu memiliki 6-7 lobang nada pada bagian batangnya dan lubang pemanis (song manis) pada bagian ujungnya. Sebagai salah satu instrumen dalam barungan gamelan Bali, terdapat berbagai bentuk ukuran dari yang panjang, menengah dan pendek. Dilihat dari ukurannya tersebut, suling dapat dibedakan jenisnya dalam beberapa kelompok yaitu: Suling Pegambuhan, Suling Pegongan, Suling Pearjan, Suling Pejangeran dan Suling Pejogedan (Suharta, 2005:16). Dari pengelompokan tersebut masing-masing mempunyai fungsi, baik sebagai instrumen pokok maupun sebagai pelengkap. Penggunaan suling sebagai instrumen pokok biasanya terdapat pada jenis barungan gamelan Gambuh, Pe-Arjan, Pejangeran dan Gong Suling. Sedangkan pada beberapa barungan gamelan lainnya termasuk gamelan gong kebyar suling berfungsi sebagai instrumen ”pemanis” lagu dan memperpanjang suara gamelan, sehingga kedengarannya tidak terputus (Sukerta, 2001:215). Dalam fungsinya itu, suling hanya menjadi instrumen pelengkap dalam arti bisa dipergunakan ataupun tidak sama sekali.

Sebagai salah satu alat musik tradisional, suling tergolong alat musik tiup (aerophone) dimana dalam permainan karawitan Bali dimainkan dengan teknik ngunjal angkihan yaitu suatu teknik permainan tiupan suling yang dilakukan secara terus menerus dan memainkan motif wewiletan yang merupakan pengembangan dari nada-nada pokok atau melodi sebuah kalimat lagu.

Terkait dengan fungsi suling dalam seni karawitan kekebyaran, hingga saat belum diketahui secara pasti kapan instrumen suling masuk sebagai bagian barungan gamelan tersebut. Munculnya gamelan gong kebyar sebagai salah satu bentuk ensambel baru dalam seni karawitan Bali pada abad XIX, tidak dijumpai adanya penggunaan suling dalam komposisi-komposisi kekebyaran yang diciptakan. Penyajian komposisi ”kebyar” yang dinamis, menghentak-hentak serta pola-pola melodi yang ritmis tidak memungkinkan bagi suling untuk dimainkan di dalamnya. Sebagai salah satu contoh, dalam komposisi ”Kebyar Ding”, yang diciptakan pada tahun 1920-an tidak terdengar tiupan suling. Ini dapat dijadikan salah satu indikator bahwa pada awal munculnya gamelan gong kebyar, suling masih berfungsi sebagai instrumen sekunder dan belum menjadi bagian yang penting dalam sebuah komposisi.

Sebagai salah satu tonggak penting perkembangan fungsi suling dalam komposisi kekebyaran, dapat disimak dari salah satu komposisi yaitu Tabuh Kreasi Baru Kosalia Arini, yang diciptakan oleh I Wayan Berata dalam Mredangga Uttsawa tahun 1969, dimana dalam komposisi tersebut mulai diperkenalkan adanya penonjolan permainan suling tunggal. Terjadinya perkembangan fungsi suling tersebut merupakan salah satu fenomena yang sangat menarik dimana suling yang pada awalnya memiliki fungsi sekunder yaitu instrumen pendukung, berkembang menjadi instrumen primer yaitu instrumen utama.

Sebagaimana terjadi dalam perkembangan komposisi tabuh kekebyaran saat ini, suling memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan komposisi kekebyaran dimana melodi yang dimainkan tidak hanya terpaku pada permainan laras pelog lima nada, namun oleh para komposer sudah dikembangkan sebagai jembatan penghubung hingga mampu menjangkau nada-nada atau melodi menjadi lebih luas melingkupi berbagai patet seperti tembung, sunaren bahkan mampu memainkan nada-nada selendro. Dari pengembangan fungsi tersebut komposisi tabuh kekebyaran yang tercipta pada dua dekade belakangan ini menjadi lebih inovatif dan kaya dengan nada atau melodi.

Adanya pengembangan fungsi instrumen suling dalam komposisi kekebyaran terkadang menimbulkan fenomena yang lebih ekstrim dimana dalam sebuah karya komposisi instrumen ini muncul sebaga alat primer dan vital, tanpa kehadiran instrumen tersebut sebuah komposisi tidak akan dapat dimainkan sebagaimana mestinya.

Fenomena Dibalik  Kejayaan Gong Kebyar: Khususnya Gong Kebyar Gaya Buleleng

Fenomena Dibalik Kejayaan Gong Kebyar: Khususnya Gong Kebyar Gaya Buleleng

Oleh: Pande Made Sukerta

Odalan GamelanDalam percaturan karawitan Bali, baik pertemuan yang berbentuk sarasehan maupun seminar atau yang sejenis, belum ada yang menjelaskan dimana dan kapan Gong Kebyar diciptakan. Memang selalu dikatakan bahwa Gong Kebyar dilahirkan di Buleleng yang informasinya merujuk dari tulisan Colin Mc Phee dalam bukunya Music In Bali (1966 : 328) mengatakan bahwa tahun 1915 Gong Kebyar digunakan mebarung di Desa Jagaraga, Buleleng. Selanjutnya informasi tersebut digunakan sebagai acuan dan malahan lebih dikembangkan lagi sehingga dikatakan bahwa Gong Kebyar muncul di Buleleng tahun 1915. Informasi yang lain dikatakan bahwa Gong Kebyar  lahir di Desa Bungkulan. Almarhum I Nyoman  Rembang (1977 : 4) juga mengatakan bahwa kemunculan Gong Kebyar sesudah zaman penjajahan, maka tidaklah mustail kalau ada kecenderungan para analisis berpendapat bahwa inspirasi yang membangkitkan ide Gong Kebyar ada hubungannya dengan masuknya kebudayaan yang dibawa masuk oleh penjajah. Tetapi benar atau tidaknya persoalannya demikian, belumlah dapat dipastikan. Dari beberapa informasi tersebut belum memberikan gambaran kapan dan dimana Gong Kebyar lahir. Informasi tentang kelahiran Gong Kebyar sangat perlu diinformasikan kepada masyarakat luas, meskipun belum selengkap seperti yang diharapkan.

Permasalahan yang lain adalah krisisnya kehidupan Gong Kebyar Gaya Buleleng saat sekarang. Pengamatan ini hampir dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat Buleleng khususnya dan Bali umumnya sehingga berdampak hilangnya gayagaya Gong Kebyar yang pernah hidup dan berkembang pada tahun-tahun sebelumnya, yaitu sekitar 1970-an. Adanya krisis kehidupan Gong Kebyar di Bali, kemudian muncul  keseragaman yang dapat diamati pada setiap festival Gong Kebyar pada even  Pesta Kesenian Bali (PKB) yang diselenggarakan setiap tahun sekali.  Berdasarkan analisa, munculnya keseragaman Gong Kebyar dalam Festival Gong Kebyar pada Pesta Kesenian Bali (PKB) disebabkan adanya pergeseran tuntutan seniman dan Pemerintah Daerah Buleleng untuk memperoleh juara dengan cara “apa pun”, di antaranya dengan menggunakan pelatih serta menyajikan karya-karya yang disusun seniman dari daerah lain yang sering memperoleh juara. Hal seperti ini patut disayangkan karena berdampak kurang menguntungkan bagi kehidupan kesenian di Bali. Sekeha-sekeha Gong Kebyar dari Buleleng yang tampil dalam PKB sebagai duta Kabupaten Buleleng tidak luput dari virus keseragaman ini. Munculnya keseragaman Gong Kebyar di Bali, kiranya tidak perlu menyalahkan perorangan, kelompok atau instansi yang penting bagaimana cara menyikapinya.

Kedua permasahan tersebut mempunyai sifat yang berbeda, yaitu permasalahan pertama merupakan informasi tentang kelahiran Gong Kebyar  yang diperoleh dari hasil penelitian. Dalam hal ini informasi kelahiran sangat penting diketahui bersama karena dengan memahami sejarah akan lebih mantap melakukan pelestarian. Permasalahan kedua merupakan masalah kehidupan yang dialami Gong Kebyar Gaya Buleleng yang sangat memprihatinkan sehingga perlu dicarikan solusinya. Dengan mengetahui perkembangan Gong Kebyar Gaya Buleleng juga akan lebih mantap melakukan pelestarian.

Fenomena Dibalik  Kejayaan Gong Kebyar : Khususnya Gong Kebyar Gaya Buleleng, unduh selengkapnya.

Tri Hita Karana A Conception In Conducting Balinese Arts

By: I Made Marjaya

Art is one of seven culture elements that show the identity of a nation because it has special characteristic which is bringing an unique experience that improve by its own and stay save inside the artist that create it (Soedarso, 1990:63)

An art is also the ancestor’s idea, sense and intention results which are inherited from generation to generation since the human civilization exist. Balinese art that inspired by Hindu always improves in accordance to the development of the society that supports it. An art is created to keep the balance of live based on Hindu, and also convinced has power to attract every one to enjoy it. The basic power in conducting art thing is beauty or known as ethics. Every creation of art is always base on ethics (act value), logic (truth value), and aesthetics (beauty value). Also in creating an art thing must fulfill three elements which are satwam (truth), siwam (greatness) and sundaram (beauty).

Art is the expression of human soul which implemented in art form which are classified into four main groups which are art of performing, fine art, art of media recording and art of literature. The art of performing has meaning an art that the expression conducted by performing acts because the art moves on space and time. That is way it called only temporary art, an art that is not durable and gone when the art has already been performed. An art of performing covers art of dancing, art of music, martial art and art of drama. Fine art has meaning an art that the expression fall into two or three dimensions, and the art form has a visualization and static characteristic. Fine art included art of painting, sculpture, art of graphic, artistic skill, advertisement art, architecture art and decoration art. Art of media recording is audio-visual art and the realization is the existence of recording art. Media recording art covered film, video and audio computer art. Art of literature is writing work, if compared to other writing work, has various characteristics of superiority like authenticity, artistic, transferred in contents and the expression. Art of literature covers novel, short story, epic, lyrics and also recitation art (Bandem, 1996:1)

An art also has wide and limited meaning. In wide meaning it is an art that related to the human skill such as writing a poem, making shoes, or predict the incoming of sun eclipse. Further more the art in limited meaning is used in a special class of skill includes the product called the fine arts such as art of painting, art of music, art of dancing, shadow play puppetry art, architecture art etc (Marajaya, 2004:11)

For Balinese society, performing an art is a tribute (yadnya), which can be offered to the God (Ida Sanghyang Widi), and for the physical needs, so that through an art a person can be prosperous. Therefore wherever they are and whatever they do, the balance of live concept will always become the main basic. According to the philosophy and logical in prakempa manuscript, the human balance of live concept can be materialized into several dimensions such are:

(1) The human balance of live in single dimension, is the balance of live based on mokshartam jagaddhitaya ca iti dharma philosophy; (2) The human balance of live in dualistic dimension, which is believe of two massive powers like bad and good, night and noon, man and woman, north and south, real and illusion etc; (3) The human balance of live in third dimension, which is believe to the existence of three elements of life such as tri murti, tri loka, tri aksara, tri sakti etc; (4) The human balance of live in fourth dimension, which is believes to the four powers of life such as catur lokapala, catur asrama, catur purusa arta etc; (5) The human balance of live in fifth dimension, which is believes to the existence of five powers of life, panca mahabhuta, panca sradha, panca yadnya etc; (6) The human balance of live in sixth dimension such as sadripu, sad rasa etc; (7) The human balance of live in seventh dimension, which is the human balance of live that believed to the seven conceptions, such as sapta wara, sapta loka etc; (8) The human balance of live in eighth dimension, which is the human’s believe to the eight powers such as asta iswarya; (9) The human balance of live in ninth dimension, is that human must believe with the existence of nine elements in balance such as dewata nawa sanga; (10) The human balance of live in tenth dimension, which is believe to the existence of ten elements in balance such as dasa aksara (Bandem, 1986:11).

Tri Hita Karana A Conception  In Conducting Balinese Arts, download.

Wayang Wong Tejakula Sebagai Sumber Cerita Dalam Karya Anggada Mada

Wayang Wong Tejakula Sebagai Sumber Cerita Dalam Karya Anggada Mada

Oleh: I Gede Oka Surya Negara (Dosen PS Seni Tari ISI Denpasar)

Ujian TA 2009 (ilustrasi)

Ujian TA Seni Tari (ilustrasi)

Salah satu dari berjenis-jenis cerita yang di ambil sebagai lakon dalam teater-teater daerah adalah cerita Ramayana. Cerita ini mengisahkan peperangan antara Rama, Raja Ayodya melawan Rahwana, Raja Alengka. Demikian terkenalnya cerita Ramayana ini di Indonesia, sehingga mendorong hati para pujangga dan seniman untuk mengabadikannya ke dalam berbagai bentuk karya seni (Bandem, Murgiyanto, 1996 : 34). Bentuk karya seni pertunjukan tradisional Bali yang tetap eksis mengetengahkan epos Ramayana dalam penyajiannya adalah Wayang Wong.

Wayang Wong adalah nama sebuah drama tari yang terdapat dibeberapa daerah di Indonesia. Di Bali, Wayang Wong merupakan drama tari bertopeng yang menggunakan dialog Bahasa Kawi yang selalu menampilkan wiracarita Ramayana (Soedarsono , 2002 : 140).

Di Bali ada dua jenis Wayang Wong yaitu Wayang Wong Parwa dan Wayang Wong Ramayana. Perbedaannya terletak terutama pada dua hal yaitu Wayang Wong Parwa mengambil lakon dari wiracarita Mahabharata, sedangkan Wayang Wong Ramayana mengambil lakon dari wiracarita Ramayana. Semua pelaku (pemegang peran) dalam Wayang Wong Parwa (kecuali panakawan-panakawan) tidak memakai tapel, sedangkan Wayang Wong Ramayana sebalik-nya semua memakai tapel. Dalam perkembangan selanjutnya yang dimaksud Wayang Wong di Bali adalah Wayang Wong Ramayana tersebut dan Wayang Wong Parwa disebut Parwa saja (Bandem, 1983 : 147).

Munculnya drama tari Wayang Wong di Bali diperkirakan pada abad XVI (1460-1550) pada jaman Kerajaan Gelgel (Klungkung), yaitu ketika kehidupan kesenian Bali mengalami puncak kejayaannya pada jaman pemerintahan Dalem Watu Renggong (dalam Budi Artha, 2004: 1).

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Guru Gede Putu Tirta menyatakan bahwa sekitar abad  XVII – XVIII, datang keluarga Sangging, Pande, Sangsi, Jelantik, Arya Wang Bang Pinatih dan Pasek ke Desa Tejakula yang mengawali pembangunan Pura. Kemudian datang pula para seniman yang bernama I Dewa Batan dari Desa Bunutin (Bangli), membawa tari Parwa dan I Gusti Ngurah Made Jelantik dari Desa Blahbatuh (Gianyar) membawa Tari Gambuh. Kedua tokoh inilah  yang menciptakan Wayang Wong di Desa Tejakula (wawancara, 2 Februari 2006).

Informasi lainnya didapatkan dari Bendesa I Made Mudana, mengatakan bahwa sekitar abad ke – 17 Masehi,  penduduk dari berbagai daerah di Bali datang ke Tejakula karena daerah ini subur, sehingga cocok bagi mereka untuk pertanian. Penduduk pendatang yang ingin menetap di Desa Tejakula, diharuskan mengikuti aturan/syarat-syarat yang telah berlaku, seperti diharuskan menanggalkan kasta, wangsa, atau kebangsawanannya (wawancara, 18 Januari 2007).

Informasi yang didapatkan ini memang benar adanya, terbukti sampai saat sekarang masyarakat Desa Tejakula tidak memakai kasta/ kebangsawanannya dalam nama-namanya yang tertulis baik secara adat maupun administrasi.

Menurut ketua Yayasan Wayang Wong Tejakukus, Bapak I Nyoman Sutaya, pantai Tejakula dahulunya adalah pelabuhan terbesar di Bali, sehingga memberi peluang masuknya para pendatang dari daerah Bangli, Gianyar, Klungkung, Buleleng, dan Karangasem yang masing-masing membawa budaya daerah, sehingga mampu meningkatkan perekonomian dan kesenian di Desa Tejakula. Salah satu keseniannya adalah berupa Wayang Wong yang merupakan pengembangan dari Gambuh dan Parwa, yaitu kesenian sebelumnya yang tidak lagi berkembang di Tejakula sekitar abad ke -18 (wawancara 17 Januari 2007).

Wayang Wong Tejakula Sebagai Sumber Cerita Dalam Karya Anggada Mada, selengkapnya.

Fungsi Gamelan Gong Gede Batur (3)

Fungsi Gamelan Gong Gede Batur (3)

Oleh Pande Mustika (Dosen PS Seni Karawitan)

Fungsi Ritual

Gamelan Gong GedeGamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur, sebagai salah satu wujud budaya, yang kehadirannya masih didukung oleh masyarakat Bali khususnya masyarakat Desa Pakraman Batur. Berfungsi sebagai persembahan dalam berbagai keperluan pada kehidupan masyarakatnya, yaitu sebagai persembahan untuk keperluan upacara agama khususnya upacara dewa yadnya.

Adapun upacara puja wali yang dapat diiringi barungan gamelan Gong Gede adalah :

Upacara puja wali di Pura Jati dilaksanakan tiga hari sebelum purnama kasa dengan penyajian gamelan Gong Gede yang lebih diistilahkan sebagai tedun terompong.

Upacara puja wali pada purnama karo, merupakan puja wali yang dilaksanakan tepat di depan pelinggih Padmasana di Pura Ulun Danu Batur dengan penyajian gamelan Gong Gede yang komplit atau tedun Trompong, dan lama kegiatan selama tiga hari.

Upacara puja wali pada purnama kelima dilangsungkan tiga hari di Pura Kental Gumi atau di Pura Ulun Danu, dengan disajikan gamelan Gong Gede lengkap atau tedun trompong.

Upacara puja wali pada purnama kaulu dilangsungkan di Pura Ulun Danu selama tiga hari, dengan disajikan gamelan Gong Gede atau tedun terompong.

Upacara puja wali pada purnama kedasa dilangsungkan di Pura Ulun Danu Batur yang merupakan puncak upacara. Menurut Jero Gede Duuran dan Jero Gede Alitan mengatakan upacara ini disebut upacara Bhatara Turun Kabeh yang dilangsungkan selama 11 hari sampai 14 hari dengan penyajian barungan gamelan Gong Gede (tedun trompong) dengan gamelan bebonangan. Pada saat terakhir upacara (penyineban) gamelan Gong Gede turun dari bale gong (tempat penyimpenan) tempat penyajiannya menuju madia mandala untuk mengiringi tarian baris perang-perangan, metiti suara dan menampilkan tabuh-tabuh lelambatan klasik.

Gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur merupakan bagian integral dari ritual keagamaan yang memiliki ciri-ciri sebagai seni ritual. Pada prinsipnya eksistensi gamelan Gong Gede menunjukkan ciri-ciri seni ritualistik seperti itu. Selain sebagai seni tirual, penyajian gamelan Gong Gede juga pendukung suasana yang dapat dijadikan salah satu ciri (cihna) sedang berlangsungnya upacara keagamaan.

Fungsi Sosial

Dalam hubungannya dengan masyarakat berfungsi sebagai pengemban seni (karawitan), barungan Gong Gede hampir setiap bulan purnama di undang (tuwur) oleh krama yang melaksankan piodalan (Pura Puseh, Pura Desa, Pura Dalem, dan Pura-pura lainnya) di desa pekraman Batur. Jero gambel yang melaksanakan tugasnya tidak menerima upah dalam bentuk uang (ngayah).

MAKNA GAMELAN GONG GEDE BATUR

Makna gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur sebagai ungkapan emosional dari pelaku seni yang diungkapkan lewat bahasa musik mempunyai makna sebagai berikut: makna religius, makna pelestarian budaya, makna keseimbangan.

Makna Religius

Pertunjukan gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur sebagai salah satu karya seni, sebagai ungkapan yang dapat dilihat dari penyajian karawitan (tabuh), tidak sekedar sebagai ungkapan estetik tetapi juga mempunyai makna religius. Dalam konteks religius, semua unsur masyarakat terlibat sesuai dengan tugas dan fungsinya masing-masing yang dilandasi dengan perasaan tulus yang disebut dengan ngayah.

Barungan gamelan Gong Gede dalam mengiringi upacara keagamaan (ritual) memiliki makna religius. Penabuh gamelan Gong Gede di Pura Ulun Danu Batur sebelum melaksanakan tugasnya selalu diperciki Tirta untuk mendapatkan keselamatan.

Makna Pelestarian Budaya

Derasnya aliran informasi dalam era globalisasi terutama di bidang seni (khususnya seni karawitan) membawa dampak positif dan negatif, hal ini mengakibatkan banyak hilangnya keaslian watak dan kemandirian budaya yang dimiliki. Kesadaran untuk melestarikan warisan budaya yang luhur (Gong Gede) memberi makna hidup dan rasa kemuliaan. Untuk menghadapi tantangan harus ada kemauan yang murni sesuai dengan pandangan hidup masyarakat Batur.

Makna Keseimbangan

Dalam pelaksanaan upacara tertentu Kehadiran gamelan Gong Gede sudah menjadi kebutuhan. Keterikatan gamelan Gong Gede dengan ritual keagamaan melahirkan perilaku-perilaku sosial yang mengarah kepada pembentukan nilai-nilai budaya yang dapat dijadikan pedoman bagi warga masyarakatnya.

Barungan gamelan Gong Gede dipandang sangat penting karena dapat memenuhi kebutuhan warga masyarakat secara moral dan spiritual sehingga terwujud rasa kesehimbangan. Keseimbangan yang mencakup persamaan dan perbedaan dapat terefleksi dalam beberapa dimensi. Refleksi keseimbangan yang banyak ditemukan dalam kesenian Bali adalah refleksi estetis yang dapat menghasilkan bentuk-bentuk simetris yang sekaligus asimetris atau jalinan yang harmonis sekaligus disharmonis yang lazim disebut dengan rwa bhineda. Dalam konsep rwa bhineda terkandung pula sernangat kebersamaan, adanya saling keterkaitan, dan kompetisi mewujudkan intraksi dan persaingan. Konsep rwa bhineda oleh seniman Pengrawit dituangkan dalam gamelan Bali (Gong Gede). Hal ini dapat diamati pada sistem pelarasan ngumbang-isep dan instrumen yang berpasangan (lanang wadon).

Aspek Sejarah Ornamen Tradisi Bali

Aspek Sejarah Ornamen Tradisi Bali

Oleh Drs. I Made Radiawan, Ap.Des, M.Erg

Dalam sejarah perkembangan ornament Bali sangat berhubungan dengan:

Kakul-kakulan

Kakul-kakulan

Aspek kehidupan beragama di Bali, karenanya agama hindu berkaitan dengan budaya yang ada di daerah Bali yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam kehidupan beragama muncul adanya aktivitas-aktivitas dalam kehidupan seperti berkesenian. Aktivitas tersebut adalah dengan adanya upacara yadnya.  Pada proses upacara tersebut dibarengi dengan alat-alat upacara diwujudkan  yang seindah-indahnya. Sebagai contah dengan dibuatnya sesajen/banten yang seindah-indahnya untuk dihaturkan kepada Tuhan/ Ida Sanghyang Widi Wasa selama upacara tersebut berlangsung. Pada bangunan (pelinggih) yang ada diareal Pura dibuatlah ornament/motip baik itu keketusan, pepatraan dan kekarangan yang beraneka ragam  sebagai wujud bakti kepada Ida Sanghyang Widi Wasa.

Aspek  benda-benda sejarah,  Daerah Bali sangat potensi  penemuan benda-benda sejarah. Seperti didesa Pejeng seperti nekara pejeng yang berupa nekara perunggu yang ditempatkan di Pura Penataran Pejeng, nekara terhiasakan ornament tatahan topeng, diperkirakan umurnya 1500 tahun, juga ditemukan relief di Yeh Pulu, Goa Gajah, Gunung Kawi, Patung Dewi di desa Kuteri Blahbatuh, arca dipupr Puseh Batuan, Pura Puncak Penulisan, Pusering Jagat.

Aspek masa pemerintahan raja-raja di Bali,  begitu pada masa Bali Age, Bali diperintah oleh para arya dari Majapahit  tahun 1343 Masehi. Pusat kerajaan semula di Samplangan Gianyar dengan rajanya Sri Kresna Kepakisan sebagai Dalem pertama di Bali, dan pindahlah ke Klungkung Dalem Waturenggong sebagai rajanya, berpusatnya kebudayaan dan kesenian berada di kerajaan Gelgel, yaitu di kab Klungkung, terbukti adanya gambar wayang yang tertera di langit-langit  bangunan kertagosa. Pada masa kerajaan seniman mengabdi di istana dan mempersembahkan berbagai karya-karya indah yang diterapkan pada bangunan di Pura dan Puri.  Kegiatan  dalam menghias pada masa kerajaan di Gelgel banyak bidang yang bermunculan  yaitu ragam hias tumbuh-tumbuhan, binatang, manusia. Seniman mempersembahkan ornament  pada bangunan Puri seperti dipahatkan pada pintu-pintu, pilar dan tembok  bangunan seperti pepatraan, keketusan dan kekarangan (flora fauna).

Pada jaman Kolonial, dapat pengaruh dari luar dengan berbagai motip dan teknik seperti disebutkan patra  Olanda, patra Cina dan patra Mesir.

Loading...