by admin | Jan 23, 2010 | Berita, pengumuman
Diberitahukan kepada seluruh Pembimbing Akademik / Dosen FSRD ISI Denpasar, sesuai dengan kalender akademik bahwa perkuliahan untuk semester Genap 2009/2010 akan dimulai pada tanggal 8 Pebruari 2010. untuk memperlancar proses administrasi akademik dalam Pengisian Kartu Rencana Studi (KRS), kami mohon kehadiran seluruh Pembimbing Akademik (PA) pada :
Tanggal : 25 – 30 Januari 2010
Pukul : 09.00 wita
Tempat : Ruangan sesuai jurusan masing-masing
Demikian kami sampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan, atas kerjasamanya kami ucapkan terimakasih.
Denasar 21 Januari 2010
An. Dekan,
Pembantu Dekan I,
TTD
Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn
NIP. 196107061990031005
by admin | Jan 22, 2010 | Artikel, Berita
Oleh. I Dewa Made Pastika
Fungsi petulangan dalam upacara ngaben sangat erat kaitannya de-ngan kepercayaan nenek moyang terhadap binatang-binatang yang dianggap suci, keramat, memiliki kekuatan dan dijadikan lambang-lambang tertentu. Seperti kerbau yang terdapat diseluruh tanah air dipandang sebagai lambang kesuburan, sebagai penolak roh-roh jahat dan sebagai tunggangan roh le-luhur di akhirat (Van Der Hoop, 1949:136). Di daerah Toraja, Sulawesi pada waktu peralatan penjenasahan banyak kerbau dipotong, satu di antara kerbau tersebut dianggap sebagai kendaraan orang yang meninggal di akhirat. Hias-an rumah masyarakat Toraja dibuat dari kayu berbentuk kerbau. Hal ini ada persamaan dengan petulangan berbentuk lembu pada upacara ngaben di Ba-li. Binatang kerbau mempunyai arti yang sangat penting dalam upacara penjenasahan (Van Der Hoop, 1949:138).
Kepercayaan terhadap binatang menjangan yang disucikan, digam-barkan dalam bangunan bagian muka dari Menjangan Seluang Mospait, ru-mah suci untuk dewa Mojopahit dalam kuil di Pura Desa Singaraja Bali, sua-tu peringatan terhadap perpindahan orang Hindu Jawa ke Bali setelah jatuh-nya Majapahit (Van Der Hoop, 1949:156). Di Bali kepercayaan terhadap bi-natang lembu sebagai binatang yang disucikan. Lembu dipercaya sebagai wahananya Dewa Siwa. Dewa Brahma dipandang sebagai dewa pencipta segala yang ada, wahananya binatang singa. Sedangkan Dewa Wisnu ber-fungsi sebagai pemelihara, wahananya naga. Binatang-binatang tersebut di-sucikan, dihormati, sebagaimana menghormati dewa-dewa dengan manifes-tasinya masing-masing.
Menurut Drs. Ida Bagus Purwita dari Griya Yang Batu Denpasar, (sekarang sulinggih) meninjau dari segi filosofinya bahwa perwujudan petu-langan dengan motif binatang, mengandung arti sebagai petunjuk jalan ke sorga bagi roh orang yang telah meninggal. Binatang nama lainnya sattwa terdiri dari kata sat dan twa. Sat berarti inti (esensiil); twa berarti sifat. Jadi sattwa berarti bersifat esensiil dalam agama ialah Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Dengan menggunakan petulangan berbentuk binatang, mengandung maksud agar roh secepatnya menuju Siwa Loka (Ida Sang Hyang Widhi Wasa). Sedangkan binatang tersebut sebagai perwujudan petu-langan sesuai dengan keyakinan dan kepercayaan umat terhadap kesucian dari binatang tersebut.
Penggunaan petulangan dengan bentuk binatang ditentukan oleh si-fat perwatakan serta kewajiban seseorang dalam masyarakat. Menurut lontar awig-awig Denpasar milik Mangku Jero Kuta, Jagat Wewengkon Badung pemakaian bentuk petulangan diatur menurut susunan kasta yang ada di Bali yaitu sebagai berikut: Bagi wangsa sudra jadma memakai petulangan ben-tuk gedarba atau bentuk macan, atau bentuk gajah mina. Sang Aria memakai petulanggan berbentuk menjangan. Sang Kesatria memakai petulangan ben-tuk singa. Brahmana Welaka memakai petulangan bentuk lembu hitam dan Pendeta memakai petulangan bentuk lembu putih. Dengan demikian fungsi petulangan adalah sebagai berikut.
- Dalam pengertian umum petulangan berfungsi sebagai tempat membakar jenasah dan secara spiritual, berfungsi sebagai pengantar roh ke alam roh (sorga atau neraka) sesuai dengan hasil perbuatan di dunia.
-
Menunjukkan jenis sekte seseorang yang dianut leluhurnya.
-
Menunjukkan watak dan kewajiban seseorang dalam masyarakat.
-
Menunjukkan rasa bakti dan penghormatan terhadap dewa-dewa, karena dengan meniru wahananya sebagai sarana upacara. Maka seolah-olah lebih dekat dengan Ida Sang Hyang Widhi.
- Sebagai pernyataan rasa seni yang menimbulkan kepuasan batin bagi yang di-upacarai, orang yang menyelenggarakan upacara, seniman (sangging) yang mengerjakannya, dan masyarakat luas yang menikmatinya.
by admin | Jan 22, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: Nanik Sri Prihatini (Dosen Jurusan Tari dan pada Program Pascasarjana ISI Surakarta)
Purworejo secara administrasi merupakan salah satu daerah kabupaten di Propinsi Jawa Tengah bagian selatan. Kabupaten Purworejo menurut Koen-tjaraningrat termasuk ke dalam wilayah budaya Bagelen yang kaya dengan seni pertunjukan rakyat. Bagelen pada abad XVIII menjadi wilayah Mata-ram yang disebut wilayah Negaragung, daerah inti kerajaan yang langsung diperintah dari pusat kerajaan (Djuliati, 2000:12). Kekayaan seni pertujukan rakyat di daerah Bagelen ditandai dengan adanya berbagai bentuk seni per-tunjukan yang masih hidup dan berkembang di daerah tersebut. Setidaknya ada kurang lebih 30 bentuk seni pertunjukan rakyat yang berupa tari, musik dan teater.
Dilihat dari bentuk pertunjukannya, seni pertunjukan rakyat di dae-rah Purworejo nampaknya dilatarbelakangi oleh kondisi dan fenomena se-tempat yang pernah terjadi pada masa lalu. Dengan kata lain bahwa keseni-an rakyat yang hidup dan berkembang di daerah Purworejo merupakan re-presentasi atau pengungkapan peristiwa masa lalu ke dalam suatu wujud ke-senian. Peristiwa masa lalu yang pernah terjadi di daerah Purworejo di antaranya pada masa terjadinya perang Dipanegara melawan kolonial pada tahun 1825-1830, pengaruh kekuasaan kerajaan Mataram Baru dan masuk-nya agama Islam. Realitas tersebut digarisbawahi oleh Sedyawati (1995: 1), di antaranya bahwa bentuk seni pertunjukan yang membawa pesan ke-Islam an telah berlangsung turun-menurun dan mempunyai masyarakat pendu-kung di tiap-tiap daerahnya. Nuansa ke-Islam-an tercermin dengan diguna-kannya instrumen terbang (rebana), jidur atau bedug kecil dan lagu-lagu yang disajikan dengan bahasa Arab. Pengaruh perang Dipanegara tercermin pada tema keprajuritan serta bentuk sajian dengan pola lantai berbaris, ge-rak, busana, dan peralatan tari yang digunakan. Seni pertunjukan rakyat yang berkembang di daerah ini pada umumnya disajikan secara kelompok dan hampir semuanya menggunakan pola lantai berbaris.
Ada sembilan bentuk seni pertunjukan rakyat yang sampai sekarang masih hidup dan berkembang di daerah Purworejo, adalah: Dolalak, Ching Pho Ling, Kobrosiswa, Kuda Kepang, Kuntulan, Madya Pitutur, Samanan, Kemprang, dan Slawatan. Dari bentuk-bentuk yang telah disebutkan, Dola-lak merupakan salah satunya yang paling berkembang, kondisi ini ditandai dengan jumlah kelompok atau perkumpulan Dolalak yang ada. Eksistensi saat ini, kesenian Dolalak disajikan oleh penari-penari perempuan yang sebelumnya selalu disajikan oleh penari laki-laki. Saat ini tercatat kurang lebih 120 kelompok Dolalak wanita tersebar di seluruh wilayah Purworejo. Untuk itu Dolalak di Kabupaten Purworejo dijadikan sebagai kesenian ung-gulan.
Keberadaan Dolalak yang menjamur sangat berbeda apabila diban-dingkan dengan seni pertunjukan Ching Pho Ling yang keberadaannya sa-ngat memprihatinkan. Kesenian Ching Pho Ling yang pernah hidup di bebe rapa tempat di wilayah Purworejo seperti di Kecamatan Kaligesing, Keca-matan Bagelen, saat ini hampir punah dan satu-satunya yang masih hidup terdapat di Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo.
Mataram Baru merupakan sebuah kekuasaan politik yang berpusat di daerah Yogyakarta, dan sejak awal abad XVII mulai menguasai Pulau Jawa. Wilayah kekuasaan Mataram merupakan lingkaran-lingkaran konsen-tris yang berpusat di keraton, tempat kediaman raja dan tempat ibukota kera-jaan. Konsentris pertama disebut kutagara, ibukota kerajaan, adalah tempat pengaruh raja yang paling kuat. Konsentris kedua adalah negaragung, wi-layah yang disediakan bagi lungguh (tanah yang disediakan atau dipinjam kan sebagai sarana nafkah) para kerabat dan pejabat kerajaan. Adapun konsentris ketiga disebut daerah mancanagari, jabarangkah dan pasisiran yang diperintah oleh seorang bupati kepala daerah
Konsentris kedua yang disebut daerah nagaragung biasanya di bawah wewenang seorang wadana yang disebut wadana jaba. Bagelen merupakan salah satu daerah negaragung yang tidak dipimpin oleh seorang wadana jaba tetapi oleh Demang Adipati. Untuk itu wewenang daerah Bagelen dikuasai oleh beberapa orang demang. Para demang ini bertugas mengurus masalah pajak serta masalah-masalah umum yang berada di kawasan wila-yahnya. Para demang biasanya bertanggung-jawab kepada para Patuh, yaitu pejabat dan kerabat kerajaan yang menguasai lungguh. Para patuh sebagai golongan priyayi atau sentana merupakan orang yang menerima lungguh pada umumnya tinggal di ibukota kerajaan dan tidak mengelola sendiri tanah mereka. Mereka menyerahkan pengelolaan lungguhnya kepada para demang setempat.
Dalam suatu sistem feodal seperti Mataram yang pada masa itu be-lum banyak mengembangkan ekonomi uang, untuk menggaji pegawai atau-pun memberi tunjangan kepada keluarga raja pada umumnya diberikan tunjangan dalam bentuk tanah, yang kemudian tanah garapan untuk nafkah tersebut disebut dengan nama tanah lungguh. Para penerima lungguh oleh para raja selanjutnya juga diberikan wewenang untuk menarik pajak atau hasil atas tanah lungguh. Tanah lungguh bagi para priyayi (pejabat keraja-an) dapat bersifat sementara, artinya hak untuk memungut pajak hanya da-pat dilakukan selama si penerima lungguh menjabat. Ada pula tanah lung-guh yang bersifat permanen, biasanya diberikan kepada keluarga raja, dan para sentana yang dikasihi oleh raja. Tanah lungguh yang kedua disebut tanah ganjaran atau tanah pusaka yang dapat dimiliki secara turun-temurun (Djuliati, 2000:51).
Kesenian Ching Pho Ling Di Daerah Purworejo Jawa Tengah Cerminan Budaya Pisowanan, selengkapnya.
by admin | Jan 21, 2010 | Artikel, Berita
Oleh: I Komang Darmayuda
Menurut Setia (dalam Dharma Putra, 2004) pada artikelnya yang berjudul “Kecendrungan Tema Politik dalam Perkembangan Mutakhir Lagu Pop Bali”, dikatakan bahwa lagu pop Bali memasuki dunia rekaman pada awal tahun 1970-an, yang dilakukan oleh Band Putra Dewata pimpinan A.A. Made Cakra (almarhum). Judul album pertamanya adalah Kusir Dokar yang rekamannya dilakukan di Banyuwangi, karena kebutuhan untuk studio rekaman di Bali pada saat itu belum ada (Dharma Putra, 2004: 92). Dalam album tersebut A.A. Made Cakra berhasil menampilkan identitas lagu Pop Bali dengan nuansa Balinya yang kental. Banyak tema-tema lagunya mengungkapkan tentang keadaan alam dan situasi kondisi masyarakat Bali saat itu. Sebagian besar melodi lagu-lagu ciptaan A.A. Made Cakra menggunakan tangga nada pelog dan slendro, sehingga tembang atau melodinya sangat khas dengan nuansa Bali. Pada saat itulah dapat dikatakan bahwa identitas lagu Pop Bali berhasil diciptakan oleh A.A. Made Cakra. Hal ini juga dapat disimak dari rekaman album-album berikutnya yaitu, Galang Bulan, Dagang Koran dan seterusnya. Dari sekian banyak lagu ciptaannya, A.A. Made Cakra telah mampu mempertahankan identitas atau ciri khas lagu pop Bali, menggunakan bahasa Bali dengan baik, dan dengan nuansa Bali yang kenntal tanpa terpengaruh oleh nuansa lagu pop dari daerah-daerah lainnya, maupun nuansa lagu pop Indonesia atau pop Barat.
Pada perkembangan selanjutnya di era 1980-an, nama seperti Ketut Bimbo, Yong Sagita, Yan Bero, Yan Stereo mulai populer dengan lagu-lagunya yang bertema jenaka, cinta, dan banyak mengetengahkan tema tentang fenomena-fenomena aktual yang sedang terjadi di masyarakat saat itu. Kehadiran para pencipta sekaligus penyanyi tersebut cukup mampu mengubah selera pasar lagu pop Bali dengan berbagai gaya dan irama pop yang ditawarkan. Bila disimak dari iringan musiknya, banyak musisi yang sudah menggunakan sistem digital (MIDI), yakni dengan memprogram musik iringannya pada satu instrument yang disebut keyboard dengan dibantu oleh peralatan yang cukup canggih seperti MC (Miccrosoft Computer). Dengan peralatan seperti itu, iringan musik untuk lagu-lagu pop Bali sudah mulai dikerjakan oleh seorang programmer musik, tanpa harus menggunakan alat-alat musik Band (gitar melodi, gitar bas, drum, dan keyboard) seperti yangdilakukan pada era A.A. Made Cakra.
Diakhir tahun 1990-an perkembangan lagu pop Bali semakin semarak dengan hadirnya Widi Widiana. Lagu-lagunya banyak mengeksploitasi kisah cinta dengan irama musik yang melankolis dan mendayu-dayu. Hadirnya para progremer dari luar Bali cukup memberi warna terhadap nuansa iringan musik pop Bali. Nuansa dan identitas lagu pop Bali yang sebelumnya sudah jelas diciptakan oleh Anak Agung Made Cakra belakangan menjadi sedikit kabur. Di era ini, lagu pop Bali dipadukan dengan nuansa-nuansa lain seperti ; nuansa Mandarin, Jawa Timuran, Sunda, Jawa dan lain-lainnya. Dengan demikian, seandainya lagu-lagu pop Bali dimainkan secara instrumental (tanpa vocal atau kata-kata), maka akan sulit membedakan antara lagu pop Bali dengan lagu pop daerah lainnya, seperti Sunda, Banyuwangi, Jawa Tengah, dan Mandarin.
Di tahun 2003, hadirlah Lolot N Band yang menawarkan pembaruan pada lagu pop Bali, dan memilih musik dengan irama yang menghentak (Rock Alternatif). Dengan sambutan yang positif dari masyarakat terhadap pembaruan oleh Lolot N Band, menjadikan lagu pop Bali tidak hanya beraliran pop, melainkan sudah merambah ke aliran-aliran alternatif lainnya seperti ; reagge (Joni Agung & Double T), Rap ( XXX ), Keroncong (Agung Wirasutha), dan Rock Funky (Bintang Band).
Di era globalisasi yang disertai dengan kemajuan teknologinya, lagu pop Bali yang semula sudah jelas jati diri dan identitasnya, cendrung mengarah pada tren-tren musik tertentu, dan penggunaan bahasa Bali cukup bebas. Sejalan dengan perubahan ini, kini telah terjadi interaksi budaya, terjadinya pembauran seni dalam nuansa lagu pop Bali. Hal ini terjadi karena konsep globalisasi memberikan peluang yang cukup besar akan terjadinya pembauran seperti itu Pembauran terjadi dalam skala yang berbeda-beda, baik dilaksanakan secara terencana dengan konsep yang jelas maupun yang terjadi secara spontan tanpa didasari oleh pemikiran yang matang, menyangkut berbagai aspek terutama bentuk, isi, dan tata penyajian. Untuk melebur atau menyatukan nilai-nilai estetik yang terkandung di dalamnya diperlukan wawasan yang luas dan kematangan dalam diri seniman, sehingga tidak berdampak pada perusakan identitas yang ada. Pembauran seperti itu patut dicermati akan kemungkinan berdampak yang kurang baik terhadap kesenian Bali termasuk juga lagu pop Bali (Dibia, 2004 : 1).
Untuk itu diperlukan strategi untuk mempertahankan identitas dan jati diri lagu pop Bali, dengan jalan mendalami kembali nilai-nilai, prinsip-prinsip dasar, dan roh budaya Bali dalam lagu pop Bali. Rasa bangga terhadap budaya sendiri harus senantiasa ditingkatkan. Dengan rasa optimisme yang tinggi kita akan mampu mengembangkan lagu pop Bali tanpa meninggalkan jati diri atau identitasnya.
Dari pemaparan tersebut, peneliti akan memfokuskan penelitian terhadap perubahan-perubahan yang dialami pada Perkembangan Lagu Pop Bal di Era Globalisasi. Perkembangan yang terjadi meliputi pada penggunaan bahasa Bali, nuansa musikal, dan irama musik atau aliran musik yang digunakan.
Perkembangan Lagu Pop Bali Di Era Globalisasi, selengkapnya
by admin | Jan 21, 2010 | Artikel, Berita, pengumuman
Oleh I Made Sumantra
Koleksi Kriya
Bidang ilmu kriya, jika diuraikan dari akar keilmuannya, masih terus menjadi perdebatan sengit dikalangan praktisi dan akademisi di bidang seni rupa. Bidang kriya, telah menjadi ajang perebutan antara masuk ke dalam disiplin ilmu seni atau ilmu disain. Penulis tidak ingin menambah kekusutan dari perang definisi yang ada. Seni kriya dapat berada dan mencangkup kedua ilmu tadi, seni dan disain sehingga memungkinkan muncul dua istilah seperti: kriya seni dan kriya disain, seni kriya dan disain kriya. Agar dapat lebih menjelaskan konsep ini, penulis mencoba mengambil contoh kasus objek ukir kayu yang berwujud sebuah lampu hias. Benda lampu hias ini akan memiliki penampilan, makna dan fungsi yang sangat berbeda tergantung di wilayah/ kubu mana ia berada. Barang-barang kriya dalam hal ini memiliki fleksibelitas yang tinggi, berada pada posisi di antara wilayah seni dan disain. Kondisi ini menyadarkan kita bahwa seharusnya tidak ada definisi yang kaku dalam pengelompokan kriya, karena hal itu tergantung di wilayah mana secara esensial kriya itu sendiri beraktivitas.
Jika kriya telah menjadi barang-barang pesanan dalam jumlah besar, maka otomatis pertimbangan-pertimbangan teknik produksi, cost, dan nilai-nilai kepraktisan akan menjadi faktor yang penting. Barang-barang ini cenderung dikelompokan sebagai produk kriya disain. Sebagai kontrasnya, ada saatnya kriyawan membuat hanya satu buah karya, seperti lampu hias yang unik. Jelas disain, konsep berkarya kriyawan tersebut berasal dari keinginan membuat satu benda lampu hias, sehingga lebih dekat kepada pola-pola kerja seni murni yang menghasilkan objek tunggal. Persoalan apakah benda lampu hias tersebut dikemudian hari akan diproduksi kembali dalam jumlah tertentu adalah masalah lain. Yang pasti, konsep awal pembuatannya tidak didasari oleh kreteria-kreteria mass production. Bentuk kriya seperti ini lebih tepat jika masuk dalam wilayah produk kriya seni.
Mengkaji dan mengembangkan konsep kriya dalam Komperensi Kriya di Bandung, berdasarkan sifatnya, kriya di Indonesia dapat dibagi ke dalam dua kelompok besar, yaitu Kriya Tradisional dan Kriya Modern/ Kontemporer (Konperensi Kriya, ”Tahun Kriya dan Rekayasa 1999” Institut Teknologi Bandung,
26 Nov” 99). Kriya Tradisional adalah segala bentuk produk hasil kebudayaan materi tradisional masyarakat, tanpa mengalami perubahan-perubahan yang berarti pada masa kini. Sebagai contoh kriya kelompok ini adalah aneka perhiasan, benda-benda perlengkapan upacara/ religi, wayang kulit, senjata-senjata tradisional, seperangkat gamelan. Beberapa produk tradisional masih tetap diproduksi, terutama untuk kebutuhan pasar pariwisata.
Adapun Kriya Modern/ Kontemporer adalah produk-produk kriya yang memiliki kebaruan-kebaruan dalam konsep pengembangan disain, teknik produksi dan perupaan. Bagaimanapun, Kriya Modern/ Kontemporer dapat tetap berbasis tradisional, dalam arti produk tersebut merupakan hasil pengembangan dari teknik-teknik lama dan bentuk–bentuk tradisional atau bermuatan nilai-nilai filosofis masa lalu.
Keberadaan Seni Kriya Masa Kini, Oleh I Made Sumantra, selengkapnya
by admin | Jan 21, 2010 | Berita, pengumuman
Nomor : 056 /I.5.14/TP/2009 Tanggal 20 Januari 2010
Hal : Perbaikan data akses ke JISTA
Yth : Bapak/Ibu dan segenap civitas akademika
di –
Tempat
Dengan hormat,
Dalam rangka penambahan layanan Jaringan ISI Denpasar Terpadu (JISTA), menindak lanjuti instruksi Rektor pada saat rakerda ISI Denpasar tanggal 7 dan 8 desember 2009, dan sekaligus mengantisipasi pelaksanaan UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), maka UPT Puskom akan memperbaiki sistem akses pada Jaringan ISI Denpasar Terpadu (Jista).
Perbaikan databased akan dimulai dari databased akses ke jaringan, dengan demikian maka username pasword lama akan kami reset/hapus pada tanggal 31 Januari jam 00 WITA. Kepada seluruh penguna layanan Hotspot diminta untuk melakukan registrasi ulang dengan mendownload form dialamat http://help.isi-dps.ac.id/index.php?action=artikel&cat=12&id=2&artlang=id atau mengambil langsung aplikasinya ke gedung UPT PUSKOM Lt.2.
Oleh karenanya kami mohon bapak/ibu dan segenap civitas akademika yang mempunyai/memanfaatkan fasilitas hotspot untuk segera mengganti username dan paswordnya sebelum tanggal 1 februari 2010.
Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya disampaikan terima kasih.
Kepala UPT PUSKOM,
Hendra Santosa, SS.Kar., M.Hum
NIP. 196710311992031001
Tembusan :
-
Rektor sebagai laporan
-
Arsip