M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

ISI Denpasar Wakili Asia Dalam Festival Internasional Musik Perkusi di Denmark

ISI Denpasar Wakili Asia Dalam Festival Internasional Musik Perkusi di Denmark

Gamelan Gong KebyarRektor ISI Denpasar Prof Dr I Wayan Rai S, MA menyatakan bahwa “Keikutsertaan tim ini merupakan wujud dari ISI Denpasar yang akan ‘go international’. Festival ini diikuti para musisi perkusi dari Amerika, Eropa, Afrika dan Asia,”.
Rombongan dari ISI Denpasar akan tampil Sebanyak 23 anggota, dengan diikuti rektor, pembantu rektor, ketua jurusan karawitan, para dosen serta 19 orang mahasiswa dari Fakultas Seni Pertunjukan. Mereka akan berangkat 27 Januari dan kembali ke Indonesia 9 Februari 2010.
Menurut Wayan Rai, kegiatan ini akan mampu memberi pengalaman dan manfaat yang besar, khususnya bagi mahasiswa ISI Denpasar, karena mereka dapat berinteraksi dengan para seniman kelas dunia di negara lain.
Selain pementasan, tim ISI Denpasar juga diundang untuk memberikan ceramah dan melakukan lokakarya bersama dengan para dosen dan mahasiswa dari The Royal Denish Academy of Music, Kopenhagen.  “Kunjungan ini juga sebagai tindak lanjut rencana penandatanganan MoU antara ISI Denpasar dengan ‘The Royal Denish Academy of Music’, Kopenhagen yang merupakan perguruan tinggi terkemuka di dunia,” katanya.
Ia menegaskan, kerja sama yang memungkinkan dapat terjalin, yaitu pertukaran dosen atau mahasiswa, penelitian bersama, serta kolaborasi seni, yang diharapkan dapat mempercepat visi ISI Denpasar untuk go international.
Pembantu Rektor IV ISI Denpasar I Wayan Sweca, SSkar, MMus menambahkan, festival itu merupakan ajang yang memiliki nilai bergengsi, mengingat diikuti oleh sekitar 100 musisi dan penari kelas dunia.  “Mereka akan bertemu dan berbagi pengalaman dalam satu wadah pementasan. Dengan demikian, tidak menutup kemungkinan pihaknya akan berkolaborasi yang inovatif dengan tim dari negara lain, selain gending-gending yang sudah disiapkan, seperti Kebyar Ding,” katanya.
Sweca menjelaskan, penjajakan dilakukan oleh tim monitoring dari Denmark sejak setahun yang lalu. Dari pantauan dan kunjungan mereka ke berbagai daerah di Indonesia, maka dipilihlah ISI Denpasar untuk mewakili Asia.
Ditambahkannya pula bahwa pemilihan pemain, baik penabuh maupun penari sangat selektif. Para penabuh usianya disyaratkan berusia tidak di atas 25 tahun, sementara penarinya tidak lebih dari 20 tahun. “Sehingga potensi ini benar-benar ditujukan kepada generasi muda atau mahasiswa yang memiliki bakat seni. Di Denmark, ISI Denpasar sebagai lembaga pendidikan seni tak hanya tampil dalam ajang bergengsi tersebut, tapi juga menunjukkan kemampuan akademisnya, yaitu melaras gamelan yang ada di Denmark,” katanya.

Keindahan Di Balik Tragedi

Keindahan Di Balik Tragedi

Oleh I Made Saryana

Suzuki Carry Pick Up Ringsek, 2006Berawal dari ketidaksengajaan, sekitar bulan November 2005, ketika saya dalam suatu perjalanan menuju Gunung Kidul untuk melakukan persembahyangan, di kanan kiri Jalan Wonosari selintas terlihat tumpukan mobil ringsek bekas tabrakan berserakan,  berwarna-warni dengan berbagai merek. Hal tersebut mengusik pikiran saya untuk melakukan pengamatan khusus lebih mendalam. Dermawan  (1994: 12) menyatakan, ‘’seperti halnya pelukis hiper-realis Amerika yang tersohor  yaitu Andrew Wyeth juga sering menciptakan karya dengan mengetengahkan objek-objek unik, yang tak diperhatikan orang’’. Memang banyak sekali hal-hal yang dianggap sebagian besar orang sebagai sesuatu yang tidak berguna tetapi oleh seniman yang kreatif justru sebaliknya. Benda-benda seperti itu bisa saja diolah atau didaur-ulang kembali menjadi sesuatu yang ‘’baru’’, bernilai dan bermanfaat, atau dijadikan inspirasi dalam penciptaan karya seni.

Dalam memantapkan tema ini, saya melakukan pengamatan lagi ke beberapa kantor Polisi, baik di Yogyakarta maupun di Bali. Biasanya di kantor-kantor Polisi tersebut terdapat tempat penampungan kendaraan bekas tabrakan. Di tempat ini, puluhan mobil dan ratusan sepeda motor berserakan begitu saja dalam keadaan ringsek, hancur berkeping-keping, penyok, bercat aus kena hujan dan teriknya matahari, hingga benda yang sebelumnya berharga puluhan hingga ratusan juta menjadi tidak berharga lagi.

Transportasi telah berkembang menjadi salah satu kebutuhan manusia yang paling mendasar. Itulah sebabnya, mulai dari kegiatan tunggal yang paling sederhana sampai kegiatan hidup yang multicorak, transportasi selalu menjadi bagian yang penting. Transportasi dapat diartikan sebagai usaha memindahkan, menggerakan, mengangkut, atau mengalihkan suatu objek dari satu tempat ke tempat lain, di mana objek tersebut lebih bermanfaat atau dapat berguna untuk tujuan-tujuan tertentu (Miro, 2005: 4).

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, mempercepat proses perkembangan di bidang transportasi yang dari waktu ke waktu terus berkembang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Misalkan dari orang berjalan kaki kemudian dapat menaiki sepeda, motor, mobil, transportasi laut maupun pesawat terbang, sehingga jarak dari satu pulau ke pulau lain atau jarak dari satu negara ke negara lain, bukanlah menjadi hambatan lagi.

Disadari bahwa kemajuan di bidang transportasi telah banyak memberikan dampak yang positif bagi kehidupan manusia, namun ternyata juga diiringi oleh dampak negatif  yang dapat merugikan diri manusia sendiri. Polusi udara adalah salah satu contoh sisi negatif yang disebabkan akibat pembuangan gas dari pembakaran alat-alat transportasi saat ini. Contoh lain adalah tragedi kecelakaan sepeda motor, mobil, kereta api, jatuhnya pesawat terbang, bahkan tenggelamnya kapal di lautan yang tentunya juga menimbulkan kerugian material maupun korban manusia yang dapat menyebabkan cacat ataupun kematian. Penggunaan alat-alat transportasi tersebut ibarat sebuah ”pedang bermata dua”, di satu sisi memberikan manfaat dan di sisi lain dapat menghancurkan.

Rapuhnya tatanan transportasi Indonesia yang dikembangkan  tanpa landasan riset teknologi dan kebijakan kuat, memunculkan berbagai persoalan yang mengancam keselamatan dan keamanan pengguna jasa angkutan. Dari data lakalantas tercatat lebih dari 30.000 orang mati dan 1,2 juta orang luka-luka setiap tahunnya. Sepeda motor yang merupakan 72 % dari jumlah kendaraan di Indonesia, sebagai penyumbang terbesar yaitu 73 % dari kecelakaan. (Parikesit, 2007: 1-2)

Terjadinya kecelakaan disebabkan oleh beberapa hal seperti: faktor kerusakan pada salah satu bagian kendaraan dan faktor manusia yaitu: kelalaian  dari pengendara,  mabuk, mengantuk, ketidakdisiplinan, melanggar rambu-rambu lalu lintas atau karena sempitnya jalan dan sebagainya.

Sebagai peristiwa, kecelakaan menyisakan paling tidak dua realitas, antara yang berkaitan dengan implikasi mental/psikologis, dan lainnya menyangkut fakta-fakta benda yang secara otomatis menciptakan ’’makna’’ baru, atau malah peralihan ke ’’makna’’ lain.

Tumpukan Mobil Bekas Tabrakan, 2007Bagi saya, realitas benda-benda dari mobil yang penyok, cat mengelupas, hingga struktur kendaraan yang tergeletak, atau hangus terbakar, adalah realitas fakta benda yang telah mengalami peralihan ’’makna’’. Sebuah realitas makna paradoks; antara makna yang menunjuk ke sisi traumatik, dan makna yang menunjuk ke artistik visual. Pada makna paradoks inilah, saya menempatkan eksplorasi kreatif penciptaan karya fotografi saya. Berdasarkan pengamatan saya, tercipta sebuah komposisi visual yang tak terduga, ketika kendaraan yang sebelumnya (pra-peristiwa) dikonstruksi dengan sedemikian bagusnya tiba-tiba bertabrakan hingga memunculkan efek: ringsek, penyok, maupun hancur berkeping-keping namun unik dan menarik. Di sinilah saya melihat ’’makna keindahan’’ di balik sebuah tragedi.

Dengan memilih bagian-bagian tersebut yang paling unik dan menarik untuk difoto dengan meng-close up objek tersebut maka terciptalah karya fotografi yang memiliki nilai estetik dan artistik yang khas, maka tajuk penciptaan karya fotografi tugas akhir ini adalah ”Keindahan di Balik Tragedi”.

Berdasarkan penjelasan pada bagian latar belakang penciptaan, maka ide penciptaan dapat dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana proses penciptaan karya fotografi yang berdasar pada pemahaman keindahan di balik tragedi dengan mengeksploitasi subjek fakta benda sebagai akibat kecelakaan transportasi (mobil ringsek, penyok, pecah dan sebagainya) dapat divisualisasikan menjadi karya fotografi ekspresi yang kreatif.

Sedangkan orisinalitas dalam karya saya adalah: menampilkan sisi keindahan bagian-bagian mobil yang ringsek akibat kejadian tabrakan, yang menekankan pada komposisi bentuk,  warna, tekstur, garis, bidang dengan memanfaatkan ikon-ikon yang ada sehingga tercipta karya estetik kreatif. Walaupun sebelumnya telah ada seniman yang memanfaatkan mobil sebagai tema dalam karya-karyanya, baik karya lukis maupun karya fotografi, hal ini dapat dipastikan memiliki  perbedaan dari ide/konsep maupun visualnya.

Gender Wayang Style Kayumas Denpasar: Analisis Struktur Musikal

Gender Wayang Style Kayumas Denpasar: Analisis Struktur Musikal

Laporan Penelitian Hibah I-Mhere Batch III

Oleh: Ni Ketut Suryatini, SSKar., M.Sn dan Ni Putu Tisna Andayani, SS

Abstrak

Gender WayangSemakin berkembangnya minat masyarakat terhadap instrument musik gender wayang ini, menjadi suatu tantangan bagi peneliti untuk lebih mendalami terutama dari aspek struktur unsur-unsur musikalnya. Beberapa kalangan pemerhati seni karawitan beranggapan bahwa instrumen Gender Wayang mememiliki tingkat kesulitan yang tinggi untuk mempelajarinya terutama bagi pemuda. Dengan mengetahui gambaran yang lebih jelas unsur-unsur musikal yang terdapat pada instrumen gender wayang, maka diharapkan instrumen ini akan lebih diperhatikan baik oleh seniman praktisi ataupun dari sudut ilmiah.

Unsur musikal sering pula disebut asosiasi musikal (musical association) yaitu hal-hal yang berhubungan langsung dengan unsur-unsur musik itu sendiri misalnya nada, ritme, tempo, struktur, ornamentasi. Gender Wayang sebagai salah satu instrumen musik tentu dapat pula dikaji melalui unsur-unsur musiknya, khususnya dalam hal ini gender wayang style Kayumas.

Kalau kita lihat lebih mendalam terdapat banyak keunikan yang kita jumpai pada unsur musikal gender wayang terutama pada motif kotekan (interlocing figuration). Hal-hal inilah yang ingin diungkap dalam penelitian ini.

Metode yang digunakan untuk menelusuri keunikan pada unsur musikal gender wayang Kayumas yaitu melalui pemilihan sample-sample gending yang sering dimainkan oleh Bapak I Wayan Konolan dalam mengiringi pertunjukan wayang kulit ataupun pada saat upacara agama. Selain itu memakai pula sample gending gender wayang dari Sukawati sebagai alat pembanding.

Secara keseluruhan target jangka panjang yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu menarik minat dari seniman musik baik lokal maupun mancanegara untuk lebih menekuni dan mencintai gender wayang, sehingga bisa mendudukkan Gender Wayang sebagai alat musik yang sejajar dengan alat musik seperti halnya piano, biola dan sebagainya. Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberi kontribusi yang bermanfaat sebagai bahan informasi, disamping dapat menanamkan apresiasi budaya dikalangan masyarakat utamanya generasi muda sebagai generasi penerus demi kelangsungan budaya bangsa.

Bentuk dan Proporsi Anatomi Petulangan

Bentuk dan Proporsi Anatomi Petulangan

Oleh I Dewa Made Pastika (Dosen pada Jurusan Kriya Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar.

Petulangan dalam upacara NgabenSecara umum bentuk petulangan terdiri dari bagian-bagian kepala, badan, kaki dan ekor. Bentuk akan mencapai kesempurnaan bila ada per-bandingan yang selaras antara kepala, badan, kaki dan lainnya. Secara umum perbandingan ditentukan dari penampang kayu untuk kepala petulangan. Misalnya penampang kayu untuk kepala sebesar: 40 x 40 cm, maka panjang badan untuk mendapatkan proporsi yang baik adalah 5 x 40 cm = 200 cm. Tinggi petulangan diukur dari punggung bagian depan sampai alas sama dengan panjang badannya. Panjang leher sama dengan panjang dagu. Tinggi tanduk (untuk petulangan bentuk lembu) sama dengan panjang kepala. Teli-nga tingginya sama dengan jarak dari mata sampai pangkal telinga. Tinggi ekor sama dengan tinggi kepala. Perbandingan bagian bentuk kepala lembu ditentukan dari penampang balok kayu yang disediakan untuk kepala. Ukur-an kayu antara panjang, lebar dan tinggi berbanding: 2 : 1: 1. Dari bidang samping kayu ditarik garis pertolongan yaitu: dua garis sejajar yang mem-bujur dan dua garis sejajar yang melintang, membagi bidang-bidang yang sama. Dari garis pertolongan tersebut ditentukan letaknya mata, tanduk, teli-nga, mulut serta hidungnya. Mata letaknya pada perpotongan garis yang me-lintang di atas dengan garis membujur yang dimuka. Tanduk letaknya pada garis membujur di belakang. Pangkal telinga letaknya lurus dengan garis mata pada garis lintang yang di atas. Balok kayu untuk kepala singa ber-ukuran antara panjang, lebar, dan tinggi berbanding: 3: 2 : 2. Pada bidang samping kayu ditarik pula dua garis sejajar yang membujur dan dua garis se-jajar yang melintang. Perpotongan garis menentukan bagian-bagian kepala. Ujung mata letaknya pada perpotongan garis melintang yang di atas dengan garis membujur yang dimuka. Pangkal telinga letaknya lurus dengan letak mata dan ujung hidung. Lebar mulut lurus kebawah dengan sudut mata. Kepala petulangan bentuk–bentuk lainnya hampir sama dengan petulangan bentuk lembu dan singa. Seperti petulangan bentuk menjangan mengikuti perbandingan petulangan bentuk lembu. Dibedakan moncongnya lebih kurus dan agak memanjang sehingga berkesan lebih langsing.

Petulangan bentuk singa kaang, macan, naga kaang, gedarba, bentuk dan ukurannya hampir sama dengan petulangan singa. Singa kaang wajah-nya mirip singa, sedangkan petulangan macan mirip wajah harimau dan na-ga kaang sebagai wajah kepala ular besar atau patung naga sebagai penghias bangunan di Bali. Petulangan bentuk sudang-sudangan dan gajah mina, ke-duannya stilisasi bentuk ikan. Sudang-sudangan berkepala ikan dengan gigi dan taring yang tajam, sedangkan gajah mina, ikan berkepala gajah, dengan belalai serta gigi yang datar dan sirip ekor.

Ukuran dan bentuk kaki petulangan disesuaikan dengan panjang badan. Kalau panjang badan 5 x 40 cm, maka panjang kaki 2 x 40 cm, untuk kaki bagian belakang. Sedangkan kaki muka 10 cm lebih panjang dari kaki belakang. Kaki muka bentuknya agak lurus dan kaki belakang agak bengkok pada siku kaki. Anatomi dan proporsinya disesuaikan dengan bentuk bina-tang sapi untuk petulangan lembu dan petulangan singa disesuaikan dengan bentuk anjing. Petulangan singa ada pebedaan anatomi perut, yaitu perut petulangan lembu cembung agak ketengah dan petulangan singa cembung-nya agak kemuka. Proporsi dan anatomi jenis petulangan lainnya seperti: petulangan bentuk macan, menjangan, naga kaang, gedarba dan lainnya disesuaikan dengan bentuk binatangnnya.

Pendaftaran Proposal TA Semester Genap 2009/2010

Pengumuman Pendaftaran Tugas Akhir (TA)

Semester Genap 2009/ 2010

Pada Semester Genap 2009/ 2010 Fakultas Seni Rupa Dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar membuka pendaftaran Tugas Akhir, dengan persyaratan sebagai berikut:

  1. Sudah duduk di Semester VIII atau telah menyelesaikan semua mata kuliah, kecuali Tugas Akhir, dibuktikan dengan lampiran Transkrip Nilai Akademik yang sah.
  2. Mengajukan 3 (tiga) judul/ proposal TA yang dijilid plastik mika/ kertas bufalo, dan diperkenankan mengajukan 2 (dua) nama calon Dosen Pembimbing.
  3. Mengisi formulir usulan judul TA yang telah disiapkan bagian akademik FSRD.
  4. Persyaratan khusus bagi  mahasiswa Jurusan Seni Rupa Murni, melampirkan bukti (sertifikat) studi banding. Bagi yang memilih jalur Penciptaan Karya Seni, wajib melampirkan bukti (katalog) pernah pameran 3 (tiga) kali; dan yang memilih jalur pengkajian/ Skripsi, wajib melampirkan bukti (sertifikat) pernah mengikuti seminar lokal dan nasional, masing-masing minimal 1 (satu) kali.
  5. Persyaratan khusus bagi mahasiswa Jurusan Desain, melampirkan bukti (sertifikat asli) studi banding dan menyumbangkan 1 (satu) buah buku desain. Mahasiswa desain yang memilih jalur karya tulis/ Skripsi, nilai Mata Kuliah Seminar, Metode Penelitian dan Metode Penelitian Desain minimal B. Dan bagi mahasiswa Desain Interior yang memilih jalur karya desain, wajib melampirkan denah kasus minimal 1000 m2.
  6. Semua persyaratan pengusulan judul TA dimasukkan ke dalam map : (1) Warna merah untuk Jurusan Seni Rupa Murni ; (2) Warna biru untuk Jurusan Desain ; (3) Warna Hijau untuk Jurusan PS Kriya Seni; (4) Warna Kuning untuk PS Fotografi.
  7. Bagi mahasiswa yang masih sedang mengambil kuliah Kerja Praktek diperkenankan mendaftar TA, apabila sudah dalam proses penyelesaian laporan atau persiapan ujian, dibuktikan dengan rekomendasi Dosen Pembimbing I dan II.
  8. Bagi mahasiswa yang baru 1 (satu) periode mengikuti TA tetapi belum dapat menyelesaikan tugas – tugasnya, wajib mendaftar kembali (registrasi ulang) dalam  kategori TA lanjutan dengan melampirkan foto copy formulir pendaftaran TA yang telah disetujui Kejur/ Ka. PS. pada semester sebelumnya di dalam map.
  9. Semua berkas pendaftaran TA disetor di bagian Akademik FSRD ISI Denpasar dari tgl. 25 s.d. 30 Januari 2010.

Demikian pengumuman ini disampaikan untuk diperhatikan dan dilaksanakan. Terimakasih.

Denpasar, 21 Januari 2010

Pembantu Dekan I,

Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn.

NIP.196107061990031005

Lampiran Pengumuman

Tentang Format Umum Proposal

Secara umum proposal yang diajukan mahasiswa, menguraikan hal-hal sebagai berikut :

Pilihan TA: Penciptaan Karya Seni/ Desain

Sampul/ Cover

Halaman Pengesahan/ Persetujuan  Proposal

Isi proposal:

A. Thema TA

B. Judul Tugas Akhir

C. Latar Belakang Masalah

D. Rumusan Masalah

E. Ide Penciptaan/ Konsep Desain

F. Tujuan dan Manfaat Penciptaan/ Desain.

G. Kajian Pustaka Penciptaan/ Desain

H. Metode Penciptaan/ Desain

I. Jadwal Waktu Kegiatan Studio

J. Daftar Pustaka

K. Rencana Kerangka/ Out Line Skrip Karya Seni

atau Rencana Daftar Isi Pengantar Karya

Desain

L. Usulan Pembimbing

Pembimbing I: (dipilih dosen gol.IV)

Pembimbing II: (minimal dosel Gol.III/c)

Denpasar, …………

Mahasiswa Pengusul

Nama

NIM

Pilihan TA: Pengkajian/ Skripsi

Sampul/ Cover

Halaman Pengesahan/ Persetujuan  Proposal

Isi proposal:

A. Thema TA

B. Judul Proposal Skripsi.

C. Latar Belakang Masalah

D. Rumusan Masalah

E. Batasan Masalah

F. Tujuan / Manfaat Penelitian

G. Tinjauan Pustaka/ Landasan Teori.

H. Metode Penelitian

I. Jadwal Pelaksanaan Penelitian

J. Daftar Pustaka

K. Rencana Kerangka/ Out Line Daftar Isi Karya

Tulis

L. Usulan Pembimbing

Pembimbing I: (dipilih dosen gol.IV)

Pembimbing II: (minimal dosel Gol.III/c)

Denpasar, …………

Mahasiswa Pengusul

Nama

NIM

*) Catatan:

Hal-hal yang bersifat khusus, dapat ditanyakan di Jurusan/ Program Studi masing-masing.

CONTOH SAMPUL/ COVER

Proposal Tugas Akhir

Penciptaan Karya Seni/ Desain atau Pengkajian/ Skripsi *)

Kode MK: (font: 14 – Bold)

J U D U L    T U G A S     A K H I R (font: 16 – Bold)


LOGO ISI


Oleh

Nama: (nama lengkap mahasiswa)

NIM: (disesuaikan)

Program Studi/ Jurusan: (disesuaikan)

(font 12)


FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN

INSTITUT SENI INDONESIA DENPASAR

2009

*) Sesuaikan dengan jalur pilihan TA

Contoh

HALAMAN PENGESAHAN/ PERSETUJUAN PROPOSAL TA

Proposal Tugas Akhir dengan judul: ………………………………………………………………………………..

…………………………………………………………………………………………………………………………………….

…………………………………………………………………………………………………………………………………….

yang diajukan oleh:

Nama: …………………………………………………………….

NIM: ……………………………..

Prodi: ……………………………………..

Jurusan: ………………………………….

Telah disetujui untuk dilaksanakan sebagai karya Tugas Akhir Penciptaan Karya Seni/ Desain/ Skripsi *), dan untuk itu ditetapkan:

Dosen Pembimbing I: ………………………………………………………..

Dosen Pembimbing II: ………………………………………………………

Ditetapkan di

Denpasar, …………………………………….

Ketua Jurusan                                                                                         Ketua Program Studi

Nama lengkap                                                                                          Nama lengkap

NIP                                                                                                               NIP

*) Coret yang tidak perlu

Program Beasiswa Non Degree dari UNESCO  Cina Tahun 2010-2011

Program Beasiswa Non Degree dari UNESCO Cina Tahun 2010-2011

Tutwuri HandayaniTawaran beasiswa dari Unesco Cina bagi 27 orang karyasiswa yang diutamakan perempuan untuk melanjutkan program studi non degree paling lama 1 (satu) tahun. Biaya pulang pergi ditanggung Unesco Cina, sedangkan biaya hidup, akomodasi, pendidikan, uang saku dan kesehatan ditanggung oleh pemerintah Cina Untuk lebih jelasnya silahkan unduh lampirannya.

sumber:

http://ditnaga.dikti.go.id/ditnaga/index.php

Loading...