M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Proses Komodifikasi Dalam Lagu Pop Bali

Proses Komodifikasi Dalam Lagu Pop Bali

Tisna Titiana dalam acara hut Bali tvOleh: I Komang Darmayuda

Lagu pop Bali yang dikemas dalam bentuk kaset dan VCD, merupakan bentuk komoditas yang diproduksi untuk dikonsumsi oleh masyarakat. Proses berlangsungnya industrialisasi dan produksi lagu pop Bali tersebut mengakibatkan terjadinya komodifikasi, sehingga layak dikonsumsi oleh masyarakat. Piliang (1998 : 26) mengemukakan bahwa dalam masyarakat konsumen, setidaknya ada tiga  bentuk kekuasaan yang beroperasi dibelakang produksi dan konsumsi objek-objek estetis yaitu;  1) kekuasaan kapital, 2) kekuasaan produsen, serta 3) kekuasaan media massa.

Kekuasaan Kapital

Kaum kapitalis merupakan kekuatan yang paling utama bagi keberlangsungan sebuah produk tertentu. Oleh karena itu, kaum kapitalis akan memproduksi lagu-lagu tersebut sesuai dengan selera pasar, dan tidak dapat dipungkiri lagi kaum kapitalis memerlukan konsumen yang akan menikmati hasil produksinya.

I Gde Dharna, seorang sastrawan Bali modern yang sekaligus sebagai pelopor lagu pop Bali secara umum melalui artikelnya di Bali Post (Minggu, 26 januari 2003) menyatakan bahwa dalam dunia industri, pasar memang memegang peranan yang  sangat penting karena seorang pemilik modal selalu mempertimbangkan selera pasar dalam memproduksi suatu karya seni agar tidak mengalami kerugian. Selanjutnya dikatakan bahwa studio rekaman itu bagaikan dagang, tentunya apa yang disukai oleh konsumen itulah yang diproduksi oleh proguser (pemilik modal). Dengan demikian yang dipesan oleh produser kepada pencipta lagu adalah lagu-lagu yang disesuaikan dengan selera konsumen.

Kekuasaan Produsen

Album kasetKekuasaan produsen dipegang oleh pencipta lagu, penyanyi, dan penata iriran musik. Melihat keberadaan industri rekaman dewasa ini, seorang penyanyi dituntut bekerja secara professional, inovatif,  berusaha untuk meningkatkan diri, dan selalu menjaga kualitas vokal dengan baik. Demikian pula pencipta lagu pop Bali,  harus selalu meningkatkan kreativitas seni dan daya imajinasinya agar dapat menghasilkan lagu yang berkualitas.. Menurut Komang Raka, salah seorang pencipta lagu pop Bali mengatakan para pencipta lagu tidak bisa selamanya mengekor pada lagu-lagu yang “meledak” di pasaran. Sebagai pencipta professional diperlukan kemampuan untuk menciptakan warna atau kemasan berbeda dan baru dari yang sudah ada di pasaran. Dengan demikian akan memperkaya dan menambah bobot pada lagu-lagu pop Bali wawancara , 20 April 2006). Pembuat iringan musik berperan sangat penting terhadap indahnya suatu lagu. Untuk itu, dalam membuat iringan musik suatu lagu, seorang penata musik iringan (arranger) perlu menyimak dan memahami terlebih dahulu karakter melodi dan isi lirik suatu lagu, sehingga terjadi kesatuan antara lagu dengan iringan musiknya.

Kekuasaan Media Massa

Ahsadi Siregar (1995:59) menegaskan bahwa media massa sebagai institusi sosial selamanya bersifat fungsional bagi khalayak dalam kehidupan sosial. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa media massa merupakan agen sosialisasi yang secara tidak langsung ikut menanamkan pemahaman, pengetahuan, sikap, dan nilai pada individu di masyarakat.

Pasang-surut perkembangan lagu pop Bali sangat ditentukan oleh peranan media. Ketika pertama kali muncul awal tahun 1970-an, radio-radio memegang peranan penting dalam memperkenalkan lagu-lagu pop Bali selain pementasan-pementasan langsung. Waktu itu televisi belum ada menayangkan lagu pop Bali karena belum ada vidio klip untuk lagu-lagu pop Bali saat itu (Setia dam Darma Putra, 2004 :95).

Memasuki akhir tahun 1990-an dan di awal tahun 2000-an lagu-lagu pop Bali kembali semarak. Hal ini terjadi karena radio dan televisi kembali gencar  mempublipikasikanlagu pop Bali. Peran Bali TV  menayangkan video klip lagu dan acara ajang yang dikenal dengan BRTV Bali TV cukup besar dampaknya terhadap terhadap popularitas lagu pop Bali di tengah masyarakat. Di samping itu peran radio-radio pemerintah dan swasta memperdengarkan lagu-lagu pop Bali hampir setiap saat menjadikan lagu-lagu pop Bali tambah semarak bagi pengemarnya. Lewat peran besar media tersebut dan dengan didukungoleh  pemberitaan di media cetak, menjadikan lagu-lagu pop Bali bangkit dan mampu  menjadi tuan di daerah sendiri, di tengah derasnya pengaruh musik luar.

Kajian Estetik Arsitektur Puri Kanginan Singaraja

Kajian Estetik Arsitektur Puri Kanginan Singaraja

Laporan Penelitian Dosen Muda

Oleh: I Made Pande Artadi, M. Sn

Kajian Estetik Arsitektur Puri Kanginan SingarajaPuri sebagai sebuah karya arsitektur merupakan wujud kebudayaan fisik yang lahir melalui ide dan sistem budaya serta sistem sosial masyarakat Bali di masanya. Melalui arsitektur puri dapat dilihat gambaran budaya masyarakat Bali pada masa tertentu. Perubahan sosial dan budaya yang terjadi pada masyarakat Bali yang berlangsung pada rentang waktu tertentu akan tercermin pada perubahan elemen-elemen arsitektur puri. Perubahan sosial dan budaya yang cukup tajam sangat jelas terlihat pada periode Bali Kolonial. Secara garis besar wujud  kebudayaan dibagi menjadi 3, yakni: cultural system, cultural activities, material culture. Ketiga wujud kebudayaan tersebut sangat erat kaitannya.  Bila terjadi mobilitas sistem budaya yang meliputi nilai-nilai, gagasan, konsep, dan berbagai macam norma, maka akan mempengaruhi berbagai aktivitas budayanya, serta bermuara pada pergeseran perwujudan benda budaya/ material culture. Arsitektur Puri sebagai salah satu manifestasi kebudayaan yang berwujud benda (material culture), kehadiranya tidak lepas dari pola pikir dan perwujudan yang lahir dari tanggapan terhadap sekumpulan kondisi yang ada. Ini berarti wujud arsitektur puri Kanginan Singaraja sangat terkait dengan sistem peradaban masyarakat, seperti: tata nilai, sosial, budaya, politik, dan keadaan lingkungan alamnya. Dengan demikian perubahan atau pergeseran nilai-nilai budaya yang terjadi akibat politik kolonial di daerah Buleleng akan berpengaruh pula pada prinsip-prinsip estetik dan tata nilai perwujudan arsitektur  Puri Kanginan Singaraja.

Metode yang digunakan dalam penulisan adalah metode deskriptif, sedangkan metode analisa yang digunakan adalah analisis kualitatif yaitu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari berbagai obyek yang diawasi. Penilaiannya didasari oleh analisa kesesuaian antara teoritis ilmiah dengan pengamatan terhadap studi kasus, sehingga terbentuk analisis studi konformitas yaitu menyesuaikan antara fakta yang ada dengan tolok ukur yang diungkapkan secara deskriptif.

Dalam kajian estetik arsitektur Puri Singaraja dapat dilihat bahwa prinsip-prinsip estetika klasik Barat menjadi acuan dalam perwujudan bentuk visual bangunan.  Kesatuan, keseimbangan, proporsi dan irama  berintegrasi dalam konsep tata ruang lokal. Ini terlihat dari penggunaan molding yang dibuat mengalir mengikuti elevasi dinding pada beberapa bangunan sehingga menampilkan irama (ritme) pada desainya. Irama molding sebagai penghubung dan menciptakan kesatuan visual (unity) bidang dinding satu dengan yang lainnya.  Pemilihan warna yang analog pada elemen bangunan seperti kusen, pintu, jendela dan lisplank merupakan hasil  pertimbangan yang matang untuk menciptakan keselarasan dan kesatuan (unity) dalam mendukung bobot estetik bangunan

Aturan letak masa bangunan yang berkaitan dengan simbol-simbol relegi, yakni aturan luan-teben dan kosep Tri Angga (utama, madya, dan nista) pada prinsipnya masih tetap dipertahankan.  Konsep Tri Angga dalam teritorial puri sangat tegas terlihat, yakni area jaba sisi sebagai kaki, jaba tengah sebagai badan dan jeroan sebagai kepala. Batas masing-masing area sangat tegas dipisahkan oleh tembok penyengker (pagar pembatas).  Area jeroan memiliki hirarki ruang yang tinggi dibandingkan area lain. Ketegasan perbedaan nilai hirarki masing-masing ruang ditunjukan dengan adanya perubahan level pekarang dari area ancak saji ke jeroan.  Area ancak saji memiliki level yang paling rendah, selanjutnya diikuti area jaba tengah, dan area jeroan sebagai level yang paling tinggi.  Konsep ini menuntut pengguna untuk berjalan berbudaya, melangkah terstruktur, namun bertahap yakni dari lapis yang rendah ke yang tinggi, dari yang profan luar ke yang sakral suci.

Kekaburan aturan  luan-teben sedikit terlihat pada area jeroan yakni  pewaregan (dapur) yang terletakan di area luan (area utama).  Namun kehadiran dapur dalam satu banguan yang terletak di area ‘utama’ pekarangan ini tidak terlepas dari keberadaan Bale Dangin yang menghadirkan ruang makan pada serambi belakang rumah, sehingga apabila dilihat dari sudut pandang efesiensi letak dapur adalah benar.  Ini berarti prinsip-prinsip tata letak yang bersumber pada relegi masyarakatnya telah diabaikan, beralih pada prinsip-prinsip penataan arsitektur  modern yang mempertimbangkan rasio dan fungsi.

Disamping eskpresi prinsip-prinsip estetika Barat, bebarapa bangunan yang ada di area puri Kanginan banyak menggunakan elemen-elemen estetika arsitektur kolonial yang ada di Indonesia, seperti penggunaan molding, gevelCurviliner Gabele’, Pediment, kolom jenis ‘Tuscan’, dan overstack.  Pada prinsipnya kehadiran elemen-elemen arsitektur kolonial dalam arsitektur tradisional Bali adalah salah satu proses akulturasi budaya yang cenderung terjadi dalam perjalanan dinamika budaya. Akulturasi yang dimaksud dalam hal ini adalah pertemuan dua budaya dalam wujud arsitektur (arsitektur tradisional Bali dengan arsitektur kolonial Belanda), kemudian terjadi peminjaman unsur-unsur arsitektur kolonial  dalam arsitektur tradisional Bali. Dalam hal ini budaya kolonial sebagai kebudayaan donor dan budaya tradisional Bali sebagai kebudayaan acceptor. Peminjaman  unsur-unsur ini dalam proses integrasi  melahirkan wujud arsitektur baru yang berbeda dari bentuk arsitektur  masing-masing dua budaya tersebut.

Macam dan Jenis Kerajinan di Kabupaten Klungkung

Macam dan Jenis Kerajinan di Kabupaten Klungkung

Laporan Penelitian Imhere

Oleh: I Made Berata, S.Sn, Msn, Drs. I Wayan Mudra, M.Sn., Dra. Ni Kadek Karuni, M. Sn., I Made Latra., I Made Yudha Pariwa

Abstrak

Lukisan KamasanPenelitian ini bermaksud mengungkap dan memetakan berbagai macam produk seni kerajinan yang dimiliki Daerah Kabupaten Tingkat II Klungkung, yang tersebar di wiayah kecamatan. Oleh karena itu diperlukan pendekatan, yakni pendekatan survei, temasuk dalam wadah penelitian kwalitatif. Data-data dikumpulkan melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara untuk mengumpulkan data verbal dan sekunder. Terkait data-data visual dikumpulkan dengan pemotretan. Data tersebut kemudian dikodifikasi, dikategorikan, direduksi, selanjutnya dianalisis dengan teknik deskriptif analitis.

Hasil penelitian ini menunjukan, bahwa beragam aktivitas dan produktivitas kerajinan yang tersebar di wilayah pedesaan terpencil, yang terdapat di tiap-tiap kecamatan, daerah Kabupaten Klungkung. Berbagai macam produk kerajinan seperti, kerajinan klongsong peluru, pis bolong (uang kepeng), perak, cenderamata di desa kamasan. Kerajinan gerabah di desa tojan, tenun songket di desa gelgel, kerajinan kuningan/ bola mimpi di desa Budaga, pelepah pisang di desa Satra, dan kerajinan tenun warna alam di desa Tegak Kecamatan Klungkung. Macam produk kerajinan seperti tedung (payung), kain prada, tempurung terdapat di desa Satriya, dan kerajinan keris terdapat di desa Kusamba Kecamatan Dawan. Sedangkan kerajinan gong di desa Tihingan, batok/tempurung kelapa di desa Banjarangkan, kecamatan Banjarangkan. Pruduk-produk kerajinan tersebut di atas bukan hanya untuk konsumsi pariwisata, tetapi lebih pada konsumsi masyarakat lokal terkait dengan kepentingan keagamaan, sehingga aktivitas membuat barang kerajinan di Kabupaten Klungkung tetap eksis.

Proses produksi barang-barang kerajinan tersebut, secara umum para perajin, ternyata menerapkan teknik dan peralatan konvensional, hanya sebagian kecil prosesnya dibantu dengan peralatan masinal. Maka, produk yang dihasilkan lebih menonjolkan pekerjaan tangan (handwoork), sehingga nampak memiliki nilai artistik dan estetik yang masif.

Berbagai macam produk kerajinan yang ada di masing-masing kecamatan daerah Kabupaten Klungkung, terbukti memiliki produk yang mendominasi serta identitas tersendiri sebagai aset unggulan, seperti di Kecamatan Klungkung produk kerajinan yang lebih mendominasi adalah wayang kamasan, tenun songket, klonsong peluru, dan bola mimpi; di kecamatan Dawan kerajinan keris, kain prada dan tedung (payung); sedangkan kerajinan gong lebih mendominasi kecamatan Banjarangkan.

Tinjauan Rarajahan

Tinjauan Rarajahan

Kiriman Bendhi Yudha (Dosen Program studi Seni Rupa Murni)

Alam Menggugat Karya Bendhi YudhaDi Bali  rarajahan hampir selalu digunakan dalam kaitannya dengan upacara keagamaan yang lebih dikenal dengan Panca Yadnya, yaitu lima bentuk korban suci yang dilakukan dengan tulus ikhlas, di mana bentuk-bentuk rajah tersebut tidak hanya berbentuk huruf-huruf , tetapi bermacam-macam wujud benda baik bergerak maupun tidak bergerak, benda mati maupun benda hidup dan lain-lain.

Sebagaimana yang diuraikan oleh Ginarsa (1979) sebagai berikut: Pertama berupa tulisan atau kaligrafi Bali, kedua berupa stilisasi dari bentuk manusia, ketiga berupa gambar-gambar binatang yang digabung dengan gambar khayalan. Sedangkan Jaman dalam Titib (2001: 480), mengkelompokkan meliputi; (1), Rarajahan berbentuk huruf-huruf terutama huruf-huruf suci atau Vijaksara mantra, kutamantra maupun mantram yang singkat. Vijaksara tersebut meliputi : Omkara simbol Tuhan Yang Maha Esa (Brahman), Am (simbol Brahma). (2), Rarajahan ini banyak digunakan terutama pada waktu upacara  Panca Yadnya, misalnya upacara Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, Bhuta Yadnya, dan upacara Rsi Yadnya. (3), Rarajahan berbentuk benda-benda langit seperti matahari, bulan dan bintang yang dikombinsikan dengan huruf-huruf suci, vijaksara, dan senjata dewa-dewa. (4), Rarajahan berbentuk bunga terutama bunga padma atau teratai, sering pada masing-masing kelopak daunnya dirajah dengan huruf-huruf suci vijaksara. (5), Rarajahan berbentuk binatang seperti harimau, singa, ular atau naga, ikan laut, ulat dan lain-lain. (6), Rarajahan berbentuk dewa-dewa, lengkap dengan masing-masing dewi (sakti)-Nya, kendaraan (tunggangan)- Nya, senjata-Nya, posisi-Nya pada tubuh manusia, warna dan penjuru yang dikuasainya. (7), Rarajahan berbentuk manusia, manusia berkepala binatang, binatang berkepala manusia, anggota badan manusia seperti manusia tanpa kepala, kepala tanpa badan, tangan berkepala manusia, kaki berkepala manusia dan sebagainya. (8), Rarajahan berbentuk raksasa lengkap dengan senjatanya, warna dan lain-lain, serta yang terakhir adalah rerajahan berbentuk bangunan suci seperti meru.

Sehubungan dengan jenis bentuk-bentuk yang ada pada rarajahan Bali, apabila dikaitkan dengan fungsi dari masing-masing bentuk rarajahan tersebut, dapat dikelompokkan antara lain; (1), Untuk mendapatkan kekuatan dan perlindungan dari para dewata. (2), Untuk menyucikan pribadi seseorang. (3), Untuk memperoleh kekuatan gaib dari kekuatan alam. (4), Untuk memperoleh simpati “pamatuh”, dan menghentikan tindakan seseorang yang jahat. (5), Mencegah dan menangkal hal-hal yang tidak disukai yang dapat membahayakan seseorang, (6), Mengembalikan usaha pihak musuh untuk mencelakakan diri seseorang dengan kekuatan sihir dari rarajahan, sehingga menyebabkan pihak musuh meninggal.

Berdasarkan bentuk-bentuk dan fungsi yang terdapat pada rarajahan Bali sebagaimana yang diuraikan di atas, dapat ditangkap makna yang terkandung di dalamnya bahwa, kehidupan yang ada pada makrokosmos (alam besar) dan mikrokosmos (alam kecil), memiliki dua sifat yang berlawanan yaitu sifat dewa dan sifat bhuta, sebagai cerminan dari konsep dualistis yang merupakan dua pasangan berbeda, yang harus selalu ada dalam posisi seimbang. Ini berarti bahwa kehidupan manusia dalam mengarungi bahtera kehidupan ini, hendaknya senantiasa mampu mengelola potensi diri yang bersumber pada dua kekuatan besar, baik yang ada di dalam maupun di luar dirinya, sehingga keduanya dapat bekerja dengan baik secara sinergis, untuk mencapai suatu tujuan yaitu keseimbangan hidup lahir dan batin. Berkaitan dengan ini I Ketut Sunarya (2001: 92) menjelaskan bahwa: Konsep dualistis atau rwa bhineda tercermin juga dalam bentuk rajah yaitu bala dan penolak bala. Rajah bala yaitu rajah yang diyakini masyarakat Hindu di Bali sebagai jimat membuat penyakit, sedangkan rajah penolak bala diyakini sebagai pengayom atau menjaga dari serangan bala. Kemunculan rajah terkait dengan keinginan masyarakat menciptakan keharmonisan dan keseimbangan baik secara sekala (jagat raya ini) maupun niskala (alam abstrak). “… dengan rajah pengeleakan atau pendestian yang disebut juga dengan bala atau ilmu hitam, ilmu kiri yang mempunyai tugas menyakiti dengan kesaktiannya yang luar biasa. Leak adalah sifat dan tingkah laku manusia yang berpihak pada kejahatan seperti; ingin menguasai orang lain dengan cara memaksakan kehendak.

Dalam kaitannya dengan rajah penolak bala, Tulak dalam Sunarya (2001: 92-93) menjelaskan bahwa; manusia mempunyai keinginan untuk berbuat baik, hal ini menumbuhkan hasrat belajar ilmu pengobatan, dan juga mantra-mantra untuk membersihkan lingkungan sebagai penolak bala dari keletehan (energi negatif) yang  disebabkan oleh gangguan roh jahat, salah menempatkan posisi pintu rumah, hubungannya dengan tembok pembatas pekarangan rumah (penyengker) dan sebagainya.

Bentuk lain sebagai penolak bala dilakukan pula oleh pemuka agama, seperti Pemangku, Sulinggih/Peranda dan lain-lain, dengan melakukan upacara yadnya, berupa kurban suci untuk membersihkan/meruat jagat raya ini dari keletehan (energi negatif). Adapun sarana upacara yadnya tersebut dilengkapi dengan rajah penolak bala yaitu goresan berupa simbol-simbol dewa serta mantra-mantra yang dilakukan sesuai dengan tujuan dari rajah tersebut. Kedua pandangan ini agaknya telah cukup dijadikan acuan dalam menyikapi kehidupan ini yang berada dalam batas ruang dan waktu, untuk melakukan reinterpretasi mengenai kosmos dan jatidiri kita. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Atmaja (2003: 9)

Pendapat di atas lebih menegaskan betapa pelaksanaan nilai-nilai kearifan menjadi lebih penting ketimbang harus mengurai wacana, dan perlu dilanjutkan ke tingkat penghargaan/ruang apresiasi untuk bisa menghargai nilai-nilai yang dikandungnya dengan cara yang tepat dan kontekstual. Artinya nilai-nilai kehidupan bermasyarakat hendaknya dihargai secara proporsional, dimaksudkan dapat mengejewantahkannya ke dalam prilaku keruangan/interaksi yang didasari dengan sikap penuh kearifan untuk mencapai tujuan hidup yaitu mokhsartam jagadithaya ca iti dharma.

Berdasarkan pengalaman dari mengamati nilai-nila tersebut, telah melahirkan perasaan estetik dan imajinasi bagi munculnya ide-ide kreatif, untuk dijelmakan ke dalam bentuk karya seni lukis, mengingat fenomena yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat saat ini telah dijadikan lahan yang potensial untuk dijadikan ajang pertentangan dan pertikaian dalam mewujudkan kepentingan politik dan kekuasaannya. Hal tersebuti cenderung mengorbankan kepentingan yang lebih luas menyangkut sendi-sendi keutuhan dalam berbangsa dan bernegara, karena telah mengabaikan dan melakukan distorsi terhadap nilai-nilai /tata krama dalam kehidupan bermasyarakat serta keluar dari prinsip-prinsip keseimbangan dan keharmonisan.

Tugas Akhir dan Yudisium

Tugas Akhir dan Yudisium

Mengakhiri semester ganjil 2009/2010 Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar menyelenggarakan Pameran Karya Tugas Akhir pada tanggal 28 s.d 31 Desember 2009 dan dilanjukan dengan Ujian Komprehensip pada tanggal 4 s.d 7 Januari 2010. Rapat kelulusan dilaksanakan pada tanggal 22 Januari 2010 dan Yudisium pada tanggal 23 Januari 2010. Pererta Tugas Akhir sebanyak 23 orang.

Peserta Tugas Akhir (TA) Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Denpasar

Semester Ganjil 2009/2010

No. Nama Mahasiswa / NIM L/P Program Studi Judul T.A. Jenis Karya Pembimbing Nama Orang Tua
I Wayan Purbawa

2004020310010

L DKV Perancangan Komunikasi Visual Untuk Mempromosikan Desa Budaya Kertalangu di Jl. By Pass Ngurah Rai Tohpati Studio –          A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si

–          I.B. Kt. Trinawindu, S.Sn

–          I Md. Sutapa

–          Ni Nym. Darmini

2. Putu Dodi Wirawan

031511021

L DKV Perancangan Media Komunikasi Visual Dalam Usaha Mempromosikan Museum Bali Studio –          A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si

–          I.B. Kt. Trinawindu, S.Sn

–          I Wayan Matra

–          Nengah Wati

3. Ida Bagus Adhiguna

2004020310012

L DKV Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Kampanye Denpasar Bebas Rabies Studio –          A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si

–          I.B. Kt. Trinawindu, S.Sn

–          I.B. Dirga

–          Desak Rai Alit

4. Komang Febri Sadrawan

2004020310056

L DKV Perancangan Komunikasi Visual Untuk Mempromosikan PT. Bali Craft Internasional di Kuta Bali Studio –          A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn, M.Si

–          Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn

–          I Made Ramia

–          Ni Made Sadiari

5. I Gusti Ngurah Dwi Aryawan

2004020310037

L DKV Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Peningkatan Eksistensi Obyek Taman Wisata Alam Sangeh Badung Bali Studio –          Drs. Cok. Gde Raka Swendra

–          Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn

–          I Gst. Ngr. Gede Wenawa

–          I Gst. Ayu Wasni

6. A.A. Sagung Intan Pradnyanita

200506037

P DKV Perancangan Media Komunikasi Visual Sebagai Sarana Penyuluhan Kesehatan Gigi Anak di Tabanan Studio –          Drs. Cok. Gde Raka Swendra

–          Drs. A.A. Anom Mayun KT.

–          Drs. A.A. Ngr. Gd. Surya Buana, M.Sn

–          Dra. Lies Bandiyah

7. Adhitia Mulyana Kusuma

200506002

L DKV Perancangan Komunikasi Visual Untuk Kampanye Pencegahan Penularan TBC di Denpasar Studio –          Drs. I Wayan Swandi, M.Si

–          Drs. A.A. Anom Mayun KT

–          Muhamad Tedja Purnomo

–          Sumiati Purnomo

8. I Nyoman Anom Fajaraditya

0010005042

L DKV Perancangan Media Komunikasi Visual Promo Album Fauto 61 Band Gianyar Studio –          Drs. I Nym. Mantra Fandy, M.Si

–          Ni Ketut Rini Astuti, S.Sn

–          I Nym. Gde Setiawan

–          Ni Luh Dwi Partiwi

9. Adi Rahmadhani

031521030

L Desain Interior Redesain Interior Fashion Market di Jl. Dipenogoro Denpasar Studio –          Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

–          I.A. Dyah Maharani, ST, M.Ds

–          Suparman

–          Tri Iriani

10. Marsha Hafiria

031521036

P Desain Interior Perancangan Interior Praktik Bersama Metro Medicare Dengan Konsep Holistik Studio –          Drs. IGst. Ngr. Ardana, M.Erg

–          I.A. Kd. Sri Sukmadewi, S.Sn, M.Erg

–          Dewi Hamriena

–          Widhy Firmanto

11. Anggun Prawindari

200505006

P Desain Interior Desain Interior Next Billiard Club & Café Cabang Denpasar Junction Studio –          Dr. Drs. I Nyoman Artayasa, M.Kes

–          I.A. Dyah Maharani, ST, M.Ds

–          Kt. Wijana, SE

–          Ir. Tutut Tutati

12. Gede Sutrawan

2005050007

L Desain Interior Redesain Restaurant Bridge Cafe Studio –          Drs. Cok. Gde Rai Padmanaba, M.Erg

–          I.A. Dyah Maharani, ST, M.Ds

–          Md. Ledeng

–          Luh Badri

13. Luhtut Maharani

2004020320001

P Desain Interior Desain Interior Lobby dan Restoran Peninsula Studio –          Drs. Cok. Gde Rai Padmanaba, M.Erg

–          Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

–          I Md. Astika

–          Ni Made Muriatini

14. Kadek Dewi Oktaviani

2004020320003

P Desain Interior Desain Interior Museum Barong Bangli Studio –          Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn

–          I Md. Pande Artadi, S.Sn, M.Sn

–          I Md. Suratma

–          Ni Luh Puriani

15. Pande Putu Gede Sarjana

2004020110013

L SRM / Lukis Bentuk Alam Benda Sebagai Sumber Inspirasi Malam Seni Lukis Studio –          Drs. I Made Yasana, M.Erg

–          Dra. Ni Md. Purnami Utami, M.Erg

–          I Made Jana

–          I Ketut Sarji

16. Muh M’ruf

2005040003

L SRM / Lukis Pengalaman Jiwa Pribadi Sebagai Ide Dalam Penciptaan Seni Lukis Studio –          Dra. Ni Made Rinu, M.Si

–          Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn

–          Muh Ichwan

–          Neneh Siti Nuryamah

17. Sirajul Munir

0110005044

L SRM / Lukis Fenomena Ketimpangan Sosial Dalam Bahasa Rupa Studio –          Drs. I Made Bendi Yudha, M.Sn

–          Drs. I Gede Yosef Tjokropramono, M.Si

–          Jumali

–          Khamsiyah

18. Eka Setya Hadi

0210205004

L SRM / Lukis Lebah Sebagai Metafora Kehidupan Dalam  Karya Seni Lukis Studio –          Dra. Sri Supriyatini, M.Sn

–          Drs. I Wayan Gulendra, M.Sn

–          Miswadi

–          Marhamah

19. I Kadek Ari Purwanto

2005040033

L SRM / Patung Apresiasi Tubuh Wanita Dalam Bentuk Figuratif Studio –          Drs. I Ketut Buda, M.Si

–          I Made Jodog, S.Sn, MFA

–          I Made Tana

–          Ni Luh Suarni

20. I Wayan Ekajayaningrat

2005040035

L SRM / Patung Visualisasi Tubuh Wanita ke Dalam Seni Patung Studio –          Drs. I Wayan Sutha S.

–          Drs. Dw. Pt. Merta, M.Si

21. I Gede Sudarsana

2005040038

L SRM / Patung Gerakan Yoga Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Karya Seni Patung Studio –          Drs. I Wayan Sutha S.

–          I Made Jodog, S.Sn, MFA

–          I Made Suarta
22. I Gst. Km. Rai Sartika

2005040032

L SRM / Patung Tokoh-tokoh Politik Sebagai Sumber Inspirasi Dalam Karya Seni Patung Studio –          Drs. I Wayan Sutha S.

–          Drs. Dw. Pt. Merta, M.Si

–          Ni Kt. Wati
23. Dadang L H

0110005015

L Kriya Seni / Keramik Pengaruh Bahan Pendong Pada Lempung ( di Desa Benoh dan Desa Kapal) Terhadap Susut Kering dan Susut Bakar Body Keramik Gerabah Skripsi –          Drs. I Made Mertanadi, M.Si

–          Dra. Ni Made Rai Sunarini, M.Si

–          Alm. Arofik Abuhasan

–          Isti Sugiani

Peserta Pameran :

Nama-nama Peserta Yudisium Semester Ganjil Tahun Akademik 2009/2010 Sesuai lampiran Surat Keputusan Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Indonesia Denpasar Nomor: 02/I5.1.10/PP/2010 tanggal 23 Januari 2010:

No. Nama NIM Prog. Studi Predikat
I Wayan Purbawa 2004020310010 DKV Sangat Memuaskan
2. Putu Dodi Wirawan 031511021 DKV Sangat Memuaskan
3. Ida Bagus Adhiguna 2004020310012 DKV Sangat Memuaskan
4. Komang Febri Sadrawan 2004020310056 DKV Sangat Memuaskan
5. I Gusti Ngurah Dwi Aryawan 2004020310037 DKV Sangat Memuaskan
6. A.A. Sagung Intan Pradnyanita 200506037 DKV Sangat Memuaskan
7. Adhitia Mulyana Kusuma 200506002 DKV Sangat Memuaskan
8. I Nyoman Anom Fajaraditya 0010005042 DKV Sangat Memuaskan
9. Adi Rahmadhani 031521030 Desain Interior Memuaskan
10. Marsha Hafiria 031521036 Desain Interior Sangat Memuaskan
11. Anggun Prawindari 200505006 Desain Interior Sangat Memuaskan
12. Gede Sutrawan 200505007 Desain Interior Sangat Memuaskan
13. Luhtut Maharani 2004020320001 Desain Interior Memuaskan
14. Kadek Dewi Oktaviani 2004020320003 Desain Interior Sangat Memuaskan
15. Pande Putu Gede Sarjana 2004020110013 SRM / Lukis Memuaskan
16. Eka Setyo Hadi 0210205004 SRM / Lukis Memuaskan
17. I Kadek Ari Purwanto 200504033 SRM / Patung Memuaskan
18. I Wayan Ekajayaningrat 200504035 SRM / Patung Memuaskan
19. I Gede Sudarsana 200504038 SRM / Patung Sangat Memuaskan
20. I Gst. Km. Rai Sartika 200504032 SRM / Patung Memuaskan
21. Dadang L H 0110005015 Kriya Seni / Keramik Memuaskan

Lampiran 1 Keputusan Dekan FSRD ISI Denpasar Nomor: 03/I5.1.10/PP/2010, tentang Nama-nama mahasiswa karya terbaik semester genap tahun akademik 2009/2010:

No. Nama NIM Program

Studi

Nilai Ket.

Komang Febri Sadrawan 2004020310056 DKV 91,38 Karya Terbaik I
2. Ida Bagus Adhiguna 2004020310012 DKV 90,26 Karya Terbaik II
3. I Gusti Ngr. Dwi Aryawan 2004020310037 DKV 87,18 Karya Terbaik III
4. Adhitya Mulyana Kusuma 200506002 DKV 85,92 Karya Terbaik IV
5. I Gede Sudarsana 200504038 SRM/Patung 85,80 Karya Terbaik V

Lampiran 2 Keputusan Dekan FSRD ISI Denpasar Nomor : 03/I5.1.10/PP/2010, tentang nama-nama mahasiswa IPK terbaik Semester Genap Tahun Akademik 2009/2010:

No. Nama NIM Program

Studi

IPK

Ket.
Gede Sutrawan 200505007 Desain Interior 3,58 IPK

Terbaik I

2 Anggun Prawindari 200505006 Desain Interior 3,46 IPK

Terbaik II

3 I Wayan Ekajayaningrat 200504035 SRM / Patung 3,33 IPK

Terbaik III

4 Ida Bagus Adhiguna 2004020310012 DKV 3,31 IPK

Terbaik IV

5 I Gede Sudarsana 200504038 SRM / Patung 3,28 IPK

Terbaik V

Tijauan Estetis dan Artistik Petulangan

Tijauan Estetis dan Artistik Petulangan

Oleh I Dewa Made Pastika

PetulanganKarya petulangan di samping fungsinya sebagai tempat pembakaran juga memiliki nilai–nilai keindahan dalam seni. Pembuatan petulangan merupakan suatu pengorganisasian atau susunan elemen-elemen bentuk, permukaan dan masa yang muncul dari berbagai jenis ornamen, warna hingga mewujudkan karya yang utuh dan harmonis menghasilkan sensasi yang menyenangkan. Sedangkan ketiadaan susunan akan menyebabkan ketidakpuasan, kekecewaan dan kemuakan. Perasaan atas hubungan-hubungan adalah perasaan keindahan sedangkan sebaliknya ialah perasaan ketidakbaikan. Tidak jauh berbeda dengan karya seni lainnya bahwa pembuatan petulangan didukung oleh rasa kesenangan yang dihubungkan dengan rasa keindahan, menyangkut bentuk, hiasan, pewarnaan serta jenis materialnya. Untuk menilai keindahan bentuk petulangan dapat dilihat dari bentuk secara keseluruhan atau global, menyangkut perbandingan antara bagian-bagian, seperti kepala dengan badan, badan dengan kaki dan lainnya. Untuk itu penting diperhatikan oleh seorang sangging petulangan tentang ukuran.proporsi dan anatomi, untuk bisa mencapai kesempurnaan karya. Sebagaimana yang disebutkan dalam estetika barat bahwa seniman bila berkarya dapat menilai kesempurnaan karya berdasarkan rasa proporsi dan ukuran (measure). Seniman apabila ingin berkarya sebaik-baiknya harus mengetahui dasar-dasar ukuran. Dan bagi setiap seni adalah seni mengukur, tanpa adanya ini tidak mungkin adanya seni. Seorang sangging di Bali menentukan ukuran bangunan dan prorporsinya berdasarkan lontar Asta Kosala Kosali. Lontar ini memuat petunjuk-petunjuk membuat bangunan mulai dari cara waktu penebangan kayu, merancang bangunan serta pelaksanaan upacaranya. Satuan ukuran yang disebut dalam lontar tersebut diambil dari ukuran anggota badan dengan istilah: depa, asta, lengkat, cengkang, musti sangga, nyari, guli madu, leklet. Istilah ini menentukan ukuran panjang dari suatu bentuk dan petunjuk-petunjuk ini sangat ditaati oleh para sangging dan undagi dan dipercaya dengan mengikuti petunjuk tersebut akan menghasilkan karya indah dan berjiwa. Disamping ukuran yang telah disebutkan di atas ada pula istilah pengurip. Pengurip adalah petunjuk yang terbuka bagi sangging untuk menambah atau mengurangi dari ukuran yang telah ditentukan dengan maksud memenuhi selera dari para sangging yang mengerjakan karya seni. Ukuran perbandingan yang umum di Bali ialah ukuran yang disebut: a bah bangun. A bah bangun adalah ukuran perbandingan yang digunakan untuk mengukur panjang dan lebar sebuah bangunan atau bentuk sebuah karya seni. Panjang atau tinggi sebuah bentuk sama dengan diagonal dari bentuk bujur sangkar dari lebar atau dasar bangunan. Jenis perbandingan ini ada persamaan dengan fungsi dan proporsi geometris dari jaman Yunani Kuno di Eropah yang disebut: The Golden Section. The Golden Section itu digunakan untuk menentukan perbandingan antara pajang dan lebar sebuah pintu, pigura, serta buku-buku atau majalah. Malahan konon biola yang baik juga mengikuti hukum itu. Salah satu hukum The Golden Section menyebutkan memotong garis tertentu sehingga perbandingan potongan yang pendek dengan yang panjang sama dengan yang panjang dengan seluruh garis itu. Menurut hukum itu potongan garis yang dimaksud kurang lebih berbanding 2 : 3 sama dengan, 5 : 8 sama dengan 8 : 13, sama dengan, 13 : 21 dan seterusnya (Herbert Read, Pengertian Seni I, 1971,8).

Ukuran a bah bangun di Bali dapat dipakai menentukan perbandingan antara, panjang, lebar dan tinggi ukuran kepala petulangan. Seperti kepala petulangan singa adalah: 3 :2 : 2. sedangkan ukuran kepala petulangan lembu: 2 : 1 : 1. Panjang dan tinggi petulangan dengan perbandingan: 1 : 1 yang disebut perbandingan yang sama (amrepatan). Ukuran perbandingan ini adalah ukuran yang dianggap paling ideal dan indah selama ini. Dengan mengikuti perbandingan itu disertai dengan cita rasa yang tinggi akan tercipta karya petulangan yang mengandung unsur keindahan bentuk dan proprsi yang sempurna yang bersumber pada keindahan alam. Keindahan ini rupanya masih dibayangi oleh keindahan klasik yang memandang bahwa nilai keindahan tertinggi ialah berbentuk sempurna, berproporsi sempurna, mulia dan tenang yang merupakan bentuk idealis dari bentuk manusia (SunjoyoDrs.TinjauanSeni,1976,28).

Ditinjau dari unsur hiasan petulangan, ukuran disesuaikan penempatannya dengan bentuk petulangannya. Unsur-unsur hiasan berfungsi untuk menambah keindahan dengan mengikuti kaedah-kaedah ornamen misalnya hiasan ditempatkan seserasi mungkin pada bagian-bagian tertentu sehingga dapat menambah keindahan dan memperkuat bentuk. Hiasan takep pala dan takep piah ditempatkan di antara badan dan paha, dapat memperkuat bentuk badan dan paha. Fungsi lain dari hiasan ialah menciptakan keseimbangan (balance) antara bagian-bagian yang sangat dominan pengaruhnya menjadi lebih serasi. Misalnya hiasan badong pada leher, hiasan takep jit (tutup pantat), kuer dan sebagainya. Hiasan badong yang digantungkan di leher, diperhatikan tingginya agar leher tetap baik kelihatan dan tidak tertutup semuanya. Demikian pula hiasan lainnya pemasangan harus memperhatikan ukuran, bidang yang dihiasi untuk memperoleh keseimbangan keharmonisan antara bidang dan hiasannya, sehingga pengaruh dominan atau kontrastik dapat diserasikan. Disamping keindahan bentuk proporsi anatomi dan hiasan keindahan warna, tekstur sangat menarik pula kesadaran keindahan kita. Hubungan antara warna kain pembalut petulangan dengan kertas emas yang sangat mengkilap menimbulkan kesan yang kontras. Kesan kontras warna dari kedua bahan itu dapat didamaikan atau dinetralisir dengan warna benang yang berfungsi sebagai pinggiran bentuk hiasan (pengampad), yang berada disampingnya. Benang yang dari bahan katun selain sebagai pinggiran ukiran, dipakai pada lingkaran mata. Benang dengan berbagai warna berdekatan, keharmonisan dapat dicapai dan kesan kontras dihindarkan. Lingkaran mata tampak membulat dengan pancaran yang terang dan tajam memberikan kesan lebih hidup pada petulangan. Hiasan tanduk pada petulangan lembu hanya dibalut dengan kertas emas yang diremas, dengan guratan yang melingkar-lingkar mirip dengan guratan tanduk sapi, menimbulkan tekstur terpecah, memancarkan sinar berkelip-kelip sebagai kilauan batu permata. Hiasan lain seperti rambut petulangan bentuk singa dari bahan alami yaitu dari akar pakis. Tampak berombak, warna hitam lembut alami tanpa ada tambahan bahat cat, berkesan menyatu dengan warna bok api dari kertas prasban (kertas emas), dengan warna pembalut petulangan dan dengan warna benang, menimbulkan warna yang serasi. Semua hiasan yang terdiri dari berbagai material, warna dan tekstur yang berbeda, setelah berada dalam bentuk petulangan, merupakan satu kesatuan yang harmonis, mengandung nilai estetitik dan artistik tersendiri yang menarik perhatian bagi masyarakat.

Loading...