M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Penutupan Rembuk Nasional Pendidikan 2010 Standar Pelayanan Minimum dan Standar Nasional Pendidikan

Penutupan Rembuk Nasional Pendidikan 2010 Standar Pelayanan Minimum dan Standar Nasional Pendidikan

Wakil Menteri Pendidikan Nasional ( Wamendiknas ) Prof.dr. Fasli Jalal, Ph D, Sp GK, mengatakan bahwa ada dua pilar besar yang akan menjadi penopang proses pendidikan nasional. Dua pilar tersebut adalah, Standar Pelayanan Minimum dan Standar Nasional Pendidikan Indonesia, hal tersebut diungkapan Wamendiknas pada pidato penutupan Rembuk Nasional Pendidikan 2010, Kamis ( 4/03 ) di Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kementerian Pendidikan Nasional.

Wamendiknas yang pada kesempatan ini mewakili Mendiknas yang berhalangan hadir, menegaskan bahwa kedua pilar itu merupakan turunan dari Undang-Undang Otonomi Daerah dan undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Dua pilar tersebut diharapkan akan memudahkan seluruh elemen pendidikan untuk melakukan pemetaan kondisi pendidikan,  yang kemudian secara lebih lanjut akan menuju proses dari penjaminan mutu pendidikan.

Seterusnya Wamendiknas mengungkapkan bahwa proses penjaminan mutu akan dilakukan mulai dari tingkat sekolah dengan cara evaluasi diri, “ Pada tingkat sekolah inilah proses penjaminan mutu terawal ini dilakukan, nanti akan ada badan akreditasi sekolah dan madrasah yang akan melalui proses penjaminan mutu eksternal “ sahut Wamendiknas. Dengan adanya proses seperti ini, diharapkan ada proses peningkatan pendidikan yang berkelanjutan.

Wamendiknas pun menambahkan untuk mencapai proses penjaminan mutu yang baik, diperlukan peranan penting Kepala Sekolah dan para Pengawas. Peranan Pengawas pada proses ini menurut Wamendiknas sangat instrumental, oleh karena itu beliau berharap adanya sinergi yang baik antara Kepala Sekolah, Pengawas dan Guru yang berkompeten sehingga apa yang diminta dari dua standar tersebut dapat dengan segera tercapai.

Dalam pidato tersebut Wamendiknas pun menyinggung prihal pendidikan berbasis karakter, menurut pandangan beliau para pendidik, diharapkan tidak hanya memeperhatikan sisi kognitif, skolasti dan akademik dari para peserta didik sebagai hasil proses pembelajaran, tetapi beliau menekankan diperlukannya juga pembentukan karakter dan akhlak dari para peserta didik. “ Pendidikan akhlak, pendidikan karakter, pendidikan iman dan takwa menjadi sangat vital, sebagai komparasi sebagai pendamping pendidikan yang mengarah pada kognitif atau nilai-nilai akademik yang selama ini lebih mudah kita ukur” tegas Wamendiknas.

Wamendiknas melanjutkan, bahwa apabila segala satu proses penjaminan mutu telah berhasil, hal berikutnya yang perlu diperhatikan adalah keselarasan antara harapan dunia usaha dan kebutuhan masyrakat dengan hasil sebuah pendidikan yang berkelanjutan. Permasalahan ini sangat diperhatikan oleh Wamendiknas karena apabila elemen pendidikan tidak mampu memenuhi segala kebutuhan masyarakat yang cenderung berubah, maka akan timbul keluhan-keluhan masyrakat terhadap mutu pendidikan itu sendiri.

Pada akhir pidato penutupannya, Wamendiknas berharap agar seluruh peserta yang hadir meneruskan hasil dari Rembuk Nasional Pendidikan ini di daerahnya masing-masing. “ “ Semoga upaya ini akan bapak dan Ibu lanjutkan di daerah masing-masing dan kami selaku pusat akan bersedia untuk hadir, pada forum-forum pendidikan yang Bapak dan Ibu adakan “ tutup Wamendiknas. ( Yoggi )

Sumber: http://dikti.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=512&Itemid=1

Kidung Manusa Yadnya: Dan Konteksnya Dalam Masyarakat Hindu Di Bali

Kidung Manusa Yadnya: Dan Konteksnya Dalam Masyarakat Hindu Di Bali

Oleh : Desak Made Suarti Laksmi, SSKar.,MA., Jurusan Karawitan, FSP, DM., Pusat 2007

Abstract

Ujian TA Seni Karawitan 2009Kidung Manusa Yadnya merupakan nyanyian suci keagmaan yang keberadaannya diakui oleh penganut agama Hindu terlebih pada masyarakat Hindu di bali. Kehidupan beragama serta pelaksanaan upacara menuntut kehadiran kidung hampir disetiap upacara keagamaan. Pelaksanaan upacara Manusa Yadnya satu diantaranya memiliki rentang upoacara yang sangat panjang dan beragam. Dimualai sejak seorang ibu mengandung seorang bayinya, sudah diupacarai dengan upacara yang dinamai upacara pagedong-gedongan. Upacara pendahuluan ini diikuti dengan beberapa jenis upacara berikut nya seperti: bulanpitung dina (upacara satu bulan tujuh hari), nelu bulanin (upacara tig bulanan), ngotonin (upacara saat anak berusia enam bulan), metatah/ mepandes (upacara potong gigi) dan upacara yang terkhir adalah pawiwahan (upacara pernikahan).  Pasangan yang baru menikah ini akan memulai kehidupan baru yang merupakan sebuah pertanda dimulainya sebuah proses ritual yang harus ditaati dan menjadi beban tanggung jawab setiap pasangan baru. Sklus ini berjalan secara alami dan turun temurun secara terus menerus sepanjang kehidupan keagamaan ini bisadipertahankan oleh keturunan atau ahli waris dari sebuah keluarga Hindu.Keseluruhan upacara tersebut merupakan tanggung jawab orang tua sebagai implementasi dari pelaksanaan Tri Rna dimana perhitungan bulan dalam setiap pelaksanaan upacara berlaku menurut perhitungan sisitim kalender Bali. Berbagai jenis kidung bisa dinyanyikan untuk menunjang kelengkapan maupun menambah kehidmatan sebuah hajatan yang bersifat ritual ini. Kidung-kidung tersebut disesuaikan peruntukan dengan jenis dan alur melodinya dengan mempertimbangkan isi syair dan kaitannya dengan jenis upacara yang sedang dilaksanakan. Dari beberapa kidung yang biaa dinyanyikan dalam upacara  tertentu kiranya masih banyak yang layak difungsikan namun tidak mendapat perhatian yang sama dengan kidung-kidung yang sudah terbiasa dinyanyikan. Nilai budaya kidung ini perlu dikembangkan sejalan dengan kwantitas upacara yang demikian variatifnya dengan memperhatikan teks dan konteksnya, sehingga upacara yang digelar menjadi semakin bermakna.

Kajian Foto Jurnalistik Pada Harian Bali Post Terbitan Tahun 2006-2007

Kajian Foto Jurnalistik Pada Harian Bali Post Terbitan Tahun 2006-2007

Oleh: A.A. Gde Bagus Udayana, S.Sn.,M.Si., Jurusan Desain, FSRD, DIPA 2007

Abstract penelitian

Merekam suatu peristiwa dengan menggunakan alat kamera sejak dahulu sudah dikenal oleh nenk moyang kita baik itu merekam peristiwa pribadi maupun peristiwa umum. Dewasa ini kamera telah mengalami perubahan yang sangat pesat seiring dengan kemajuan teknologi. Fotografi saat ini dimanfaatkan pula oleh banyak kalangan mulai dari foto dokumentasi sampai pada foto untuk kebutuhan khalayak umum. Sebagai salah satunya adalah media surat kabar yang paling banyak memekai jasa fotografi sebagai ilustrasi berita. Foto jurnalistik dimata seorang fotografer adalah sustu tantangan dan merupakan alat komunikasi ampuh untuk mengubah suatu keadaan buruk menjadi lebih baik. Penyajian foto yang akurat mengenai suati peristiwa, dan secepatnya dapat diterbitkan serta yang lebuh penting adalah mengenai prinsip dasar dalam penerbitan foto adlah isi, bentuk dan artistik.

Berdasarkan atas latar belakang tersebut maka diajukan beberapa permasalahan sebagai berikut: (1) Apakah foto-foto yang tersaji pada harian surat kabar Bali Post telah menyajikan foto yang aktual sesuai dengan konteks permasalahan pada masa itu ? (2) Apakah penyajian foto-fotonya telah memenuhi kriteria, isi, teknik, artistik ?. (3) Bagaimana harian surat kabar Bali Post menempatkan foto-foto yang bersifat aktual serta bagaimana pula penempatan foto-foto lainnya sebagai pendukung pemberian lainnya.

Metode penelitian yang digunakan pada penelitian bersifat “deskriptif” dengan cara menginterpretasikan foto-foto yang yang diterbitkan pada harian Bali Post masa sekarang serta mengidentifikasikan berdasarkan pada teori estetika dan desain. Foto berita dapat dikatagorikan menjadi 8 yaitu : Spot new, news Features, potret olah raga, kesenian dan sains, peristiwa ceria alam lingkungan, dan kehidupan sehari-hari. Namun ada pula yang menambahkannya yaitu dengan istilah human interest.

Sedangkan fotografi pers di Indonesia, juga dikenal dengan beberapa katagori seperti menyangkut dunia politik/diplomat, dunia kriminal, perang, kecelakaan, bencana alam, olah raga, peristiwa kesenian, tentang upacara, tokoh dan dunia para bintang, hukum dan konsumerisme. Dengan berdasarkan hasil analisa yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa foto-foto pada halaman satu yang dimaksudkan pula sebagai daya tarik perwajahan, memuat foto-foto yang bersifat aktual, tajam, dan menarik sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi masa itu, baik dilihat dari segi isi serta tekniknya. Dari segi artistik foto yang termasuk katagoriSprot News Feature kurang menampilkan keindahan, karena foto pada katagori diatas lebih mementingkan isi serta rekaman peristiwa yang betul-betul hangat untuk segera dapat disampaikan kehadapan pembaca. Foto jurnalistik lebih mengutamakan isi serta kekuatan peristiwanya, hal ini karena subyek maupun obyeknya tidak dapat diatur sesuai keinginan dal mpengambilan gambarnya.

Kata Kunci: Fotografi pers di Indonesia, aktual, tajam, news features, potret, olah raga, kesenian, peristiwa ceria, alam lingkungan, dan kehidupan sehari-hari.

Penerapan Servis Desain Dengan Tehnik Ukiran Tempel Pada Kerajinan Kayu Di Desa Tegalasah Tembuku Bangli

Penerapan Servis Desain Dengan Tehnik Ukiran Tempel Pada Kerajinan Kayu Di Desa Tegalasah Tembuku Bangli

Oleh : Drs. I Wayan Sutha S., Jurusan Seni Murni, FSRD, DIPA 2007

Abstract penelitian

Berbagai jenis kayu yang ada di Bali dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan, benda-benda seni atau kerajinan, baik dalam kaitannya dengan adat, agama, dan kehidupan sehari-hari maupun dalam hubunan dengan dunia pariwisata. Pemanfaatan kayu di desa Tegalasah banyak mengarah pada yang bersifat komersial, diolah sebagai barang-barang untuk kepentingan peralatan upacara Agama dan industri pariwisata. Benda-benda kerajinan yang bernuansa seni maupun dalam  bentuk kerajinan pada umumnya banyak diminati oleh para konsumen baik lokal maupun wisatawan manca negara yang datang ke Bali.

Desain produk kerajinan kayu memerlukan inovasi dan kreativitas yang dinamis karena dari waktu ke waktu dsain produk kerajinan kayu sangatcepat berubah sesuai dengan selera pasar. Pengrajin di desa Tegalasah kebanyakan memproduksi barang-barang berupa dulang atau wanci, bocor, batil, pelangkiran dan lain-lainnya dengan model produksinya, yaitu “mass dan art produk” dan difungsikan untuk kepentingan sarana upacara agama Hindu dan cendramata.

Dalam memperindah kerajinan kayu yang diproduksinya pengrajin menggunakan tehin servi desain sebagai dekorasinya dengan menggunakan limbah tembikar yang dihaluskan, kemudian dicampur dengan beberapa bahan lainnya sehingga berbentuk adonan yang mudah ditempelkan atau diplototkan. Tehnik ini merupakan langkah maju di dalam membuat ukiran temple sehingga barang-barang kerajinan kelihatan terarah mudah dan indah serta nyaman dipakai.

Mutlak, Dosen Punya Kepribadian dan Soft Skill yang Baik

Mutlak, Dosen Punya Kepribadian dan Soft Skill yang Baik

JAKARTA, KOMPAS.com – Jangan dikira mahasiswa hanya menilai dosen dari kemampuan akademisnya. Dosen juga perlu pengembangan diri yang lain, khususnya tentang kepribadian dan soft skillDosen juga dituntut mesti punya watak yang baik. Dan mutlak, untuk itu dosen juga harus didukung soft skill yang baik pula. Demikian terungkap dalam orasi ilmiah yang disampaikan oleh dosen dan psikolog Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (FPsi UI) Winarini Wilman bertema “Pendekatan Psikologi Dalam Optimalisasi Pengembangan Diri Dosen” di Kampus UI, Depok, Rabu (3/3/2010). Dia mengatakan, berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai dosen, persyaratan untuk menjadi dosen itu adalah lulus dari bidang tertentu dengan nilai tertentu. “Hanya dilihat secara akademis itu saja, itu pun karena ada gelarnya. Nilai memang dicek, tetapi tidak dicek pengetahuan kita secara menyeluruh,” ujarnya kepada Kompas.com.

Menjadi dosen, kata dia, ibarat terjun bebas. Lain halnya untuk menjadi seorang guru, lanjut Winarini, yang menurutnya harus menempuh pendidikan keguruan terlebih dulu. Sementara untuk dosen, tidak ada pendidikan secara khusus.

“Itu yang pertama. Yang kedua, dalam prosesnya memang ada kursus-kursus tentang pekerti atau applied aproach, tetapi isinya lebih menekankan pada pengetahuan tentang pengajaran, metode pengajaran dan sebagainya yang sama sekali tidak menyentuh soal-soal kepribadian diri dan soft skill,” tandas Winarini.

Menurutnya, kepribadian seorang dosen itu sangat besar peranannya dalam pengajaran kepada mahasiswa. Sebaliknya, mahasiswa pun mampu menilai kepribadian dosen mulai A sampai Z untuk dikatakan bisa mengajar dengan baik dan berhubungan baik dengan mereka.

Penelitian-penelitian terkait hal tersebut di atas, kata Winarini, sudah banyak dilakukan di luar negeri, termasuk di Malaysia dan Vietnam. Sebagai dosen yang juga psikolog, akhir Februari lalu Winarini pun baru saja membuat penelitian kecil mengenai optimalisasi pengembangan diri dosen, yang menjadi bahan orasi ilmiahnya ini.

“Tugas dosen itu mendidik, bukan cuma mengajar, dan ada tujuan-tujuannya untuk membentuk watak yang baik, sehingga dosen juga dituntut mesti punya watak yang baik. Dan mutlak, untuk itu dosen juga harus didukung soft skill yang baik pula,” ujarnya.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/03/03/1430506/Mutlak..Dosen.Punya.Kepribadian.dan.Soft.Skill.yang.Baik

Kunjungan ISI Padang Panjang ke Jurusan Kriya Seni FSRD

Kunjungan ISI Padang Panjang ke Jurusan Kriya Seni FSRD

Setelah sebelumnya Fakultas Seni Pertunjukan ISI Denpasar kedatangan tamu dari Universitas Negeri Jakarta, kini giliran Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Denpasar, Jurusan Kriya yang dikunjungi oleh rombongan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang kemarin (2 Februari 2010). Rombongan yang terdiri dari 20 mahasiswa semester V dan VII serta 6 dari para dosen pembimbing, disambut oleh jajaran Dekanat FSRD (PD I: Drs. Olih Solihat Karso, M.Sn., PD II: Drs. Made Bendi Yudha, M.Sn., PD III: Drs. D.A. Tirta Rai, M.Si), Ketua Jurusan Kriya ISI Denpasar Drs. I Ketut Muka, M.Si, serta para dosen di lingkungan ISI Denpasar. Dalam kunjungan yang terbilang singkat terungkap bahwa ISI Padang Panjang melalui Sekretaris Jurusan Kriyanya, Drs. Sumadi, M.Sn, bahwa ISI Pedang Panjang berencana akan mengadakan kerjasama dengan ISI Denpasar, yang nantinya dikuatkan oleh MOU. Beberapa program yang mungkin bisa terealisasi adalah adaya pertukaran dosen antara ISI Denasar dengan ISI Padang Panjang. Hal tersebut dikarenakan gaung dari kriya Bali sangat terkenal hingga ke mancanegara, sehingga pihak ISI Padang Panjang sangat menginginkan memperoleh ilmu dari para dosen Kriya dari ISI Denpasar. Ide tersebut sangat disambut baik oleh jajaran FSRD ISI Denpasar. Menurut Pembantu Dekan II, Drs. Made Bendi Yudha, M.Sn., timbal balik juga bisa dilakukan oleh ISI Padang Panjang, dimana untuk menambah wawasan ilmu tentang kriya seni dari Padang Panjang, maka perlu juga mendatangkan dosen terbang dari ISI Padang Panjang. Selain itu Jurusan Kriya ISI Padang Panjang juga menginginkan mengadakan pameran dan seminar bersama. Terutama mereka menginginkan ikut terlibat dalam event pameran seni kriya dalam ajang tahunan Pesta Kesenian Bali (PKB) yang sudah menginternasional. Dimana jurusan Kriya FSRD ISI Denpasar tidak pernah absen untuk mengikuti pameran tersebut.

Sementara menurut Ketua Jurusan Kriya FSRD ISI Denpasar, Drs. I Ketut Muka, M.Si., program-program dengan terobosan baru ini sangat baik untuk diterapkan, guna menarik simpati calon-calon mahasiswa untuk terjun ke Jurusan Kriya ISI Denpasar. Mengingat minat calon mahasiswa untuk belajar di Jurusan Kriya ISI Denpasar sangat minim padahal Bali menjadi pusat pasar kriya, tidak hanya ditingkat nasional bahkan internasional.  Selain mendukung beberapa rencana program yang akan dicanangkan, guna membangkitkan kriya nusantara, untuk yang ketiga kaliya, para mahasiswa kriya dari berbagai universitas/ institut berkumpul mengadakan event tahunan yang bertajuk “Temu Karya Mahasiswa Kriya” . Untuk tahun 2010 ini, ISI Denpasar dipercaya sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan tersebut, diantaranya menggelar pameran serta seminar bersama.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Loading...