by admin | Mar 11, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : I Wayan Adnyana, S.Sn., Jurusan Seni Rupa, FSRD, DIPA 2008
Abstract
Menyusuri bagaimana posisi seniman Barat di Bali, dan bagaimana p[enmgaruh bagi perkembangan seni rupa lukis (rupa) di Bali, memang sebuah topik penelusuran sejarah yang sngat penting. Bagaimana pun berbagai tulisan menyangkut beberapa topikkecil tentang persoalan ini telah banyak ditulis beberapa peneliti dan juga pengakaji sejarah seni di Bali. Tetapi memetakannya ke dalam timbang; bagaimana model (karakteristik) pengaruh yang ditimbulkan oleh seniman Barat yang dimaksud, sangatlah masih krang.
Mengambil posisi untuk meneliti sekaligus memetakan bagaimana posisi seniman Barat di Bali dari kurun tahun 30-an hingga tahun 2005, adalah hal yang sangat penting untuk menjawab bagaimana peran sekaligus pula bagaimana posisi perupa Bali di hadapan seniman Barat di tiap generasinya.
by admin | Mar 10, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : I Nyoman Adi Tiaga, S.Sn., Jurusan FSRD, DIPA 2008
Abstract Penelitian
Secara global wilayah kepulauan Indonesia tewrmasuk wilayah yang memiliki iklim tropis. Perubahan iklim dan suhu yang terjadi di Indonesia ini menjadi arsitektur rumah tinggal di I ndonesia dapat digolongkan ke dalam bangunan tropis. Salah satu contoh bangunan-bangunan trop[is di Indonesia dapat di temukan di Singaraja, Bali. Singaraja sebagai Ibu Kota Kabupaten Buleleng, Bali sekain dijuluki sebagai kota “panas” berlambangkan patung Singa Ambararaja dan sebagai cikal bakal ibu kopta “Sundan kecil” tempo dulu ternyata menyimpan kekayaan Arsitektur kolonial Belanda yang jarang dijinpai di kota-kota lain yang ada di Bali. Arsitektur kolonial ini dapat dijumpai di lingkungan Sukasada, Liligundi, Jalan Ngurah Rai, Jln. Gajahmada, Pelabuhan Buleleng dan lin-lain.
Munculnya rumah kolonial yang ada di Singaraja dikarenakan masuknya penjajah Belanda ke Bali Khususnya Singaraja di mana arsitektur kolonial ini sudah di pengaruhi oleh bangunan tropis yang ada di Indonesia ciri-ciri memadukan unsur-unsur seni dan budaya, menjadikan proses kolaborasi mengawali kointak budaya Bali dengan budaya barat. Bentuk bangunan pada masa pemerintahan Belanda di Buleleng memiliki arti yang sangat penting, karena dapat menggambarkan bentik arsitektur kolonial Belanda yang dapat di kolompokan kedalam jenis gaya ‘Landhuis’ The empire Style. Pengelompokan ini didasarkan pada rentang waktu periode perkembangan gaya arsitektur kolonial di Indonesia secara umum.
Pada prinsipnya wujud arsitektur rumah tinggal kolonial yang ada di kota Singaraja merupapkan bangunan yang selalu mempertimbankan iklim tropis basah di Indonesia. Ekpresi bangunan tropis diwakili oleh penggunaan bentuk dan kemiringan atap yang cukup tajam berkisar antara 35˚ hingga 40˚. Kemiringan atap yang tajam ini ditujukan untuk menghadapi curah hujan yang tinggi dan mengakibatkan jumlah air menimpa atap cukup banyak. Bentuk dasar denah sangat kental terlihat pengaruh arsitektur tropisnya. Ekspresi tropis pada denah ditujukan dengan adanya serambi/beranda pada masing-masing bangunan. Ketebalan dinding pada seluruh bangunan sampel dibuat satu batu bata (30 cm). Bidang dinding d3engan ketebalan 30 cm pada bangunan ini akan membuat kesejukan udara pada masing-masing ruang tetap terjaga. Ekspresi bangunan ptropis pada elemen pintu dan jendela diwakili dengan bentuk dan ukuran yang berskala besar. Daun pintu dan jendela di buat rangkap (dua lapis), yaikni: daun pintu jendela kaca di bagian dalam dan daun pintu jendela panil berkisi pada bagian luar. Letak jendela dan pintu yang saling berhadapan khususnya pada masing-masing ruang tidur memungkinkan adanya cross ventilation. Walaupun sebagaian besar arsitektur yang ada di daerah Buleleng tidak meninggalakn dengan jelas nama perancang atau arsiteknya, namun melalui tahun pendiriannya, konsep, dan ciri-ciri gaya yang ditampilkan mengindikasikan bahawa arsitektur kolonial yang ada adalah arsitektur kolonial yang berkonsep tropis dan bergaya ‘The Empire Style’ Dengan demikian tidak dapat dipungkiri lagi bahwa arsitektur kolonial yang ada di kota Singaraja merupakan bangunan yang mempertimbangkan iklim tro[pis basah di Indonesia. Hasil penelitian ini juga mengindikasikan bahwa terdapat benang merah antara arsitektur kolonial yang ada di Kota Singaraja dengan arsitektur kolonial yang umumnya ada di Indonesia.
by admin | Mar 9, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : Drs. A.A. Ngurah Gde Surya Buana, Jurusan Lukis ,FSRD. ,DM. Pusat 2007
Abstract penelitian
Latar belakang dan daya tarik memilih topik penelitian TRANSPORMASI RERAJAHAN SENI LUKIS BALI MODERN adalah karena penulis melihat banyaknya muncul lukisan-lukisan Bali modern yang memakai tema-tema rerajahan. Ketika memasuki tengah abad ke 21, telah terjadi perubahan-perubahan, terutama dalam seni lukis Bali modern, dalam irama penuh kreasi, ide, dan kreatifitas senimannya yang bersumber pada “rerajahan”. Rerajahan pada hekekatnya merupakan budaya Hindu Bali, sebagai suatu produk lokal genius. Hal ini dapat dilihat pada upakara panca yadnya, sarana pengobatan, ilmu penengen dan ilmu pengiwa. Antara rerajahan, tantra, dan mantram memiliki suatu keterpaduan yang sangat erat dan saling mendukung di dalam membangkitkan kekuatan magis sesuai dengan kepercayaan dan keyakinan masyarakat Bali. Transformasi Rerajahan Seni Lukis Bali Modern pada dasarnya telah dimlai sejak masuknya pengaruh budaya luar. Rudolf Bonnet dan Walter Spioes memberikan pengaruh kepada kehidupan seniman Bali untuk mengungkapkan ide –idenya secara bebas. Transpormasi rerajahan telah diawali pada zaman Pitha Maha, perubahan dan pembaharuan terjadi karena transformasi melalui akulturasi dan asimilasi yang berkaitan erat dengan penemuan baru. Rerajahan sebagai subyek mater diolah dan dilebur menjadi bentuk, fungsi dan makna baru, pada seni lukis Bali modern. Meskipun demikian Rerajahan yang erat hubungannya denag nAgama Hindu tetap disakralkan. Metode transpormasi dapat memberikan penghayatan ide-ide terhadap pelukis, melalui; Adopsi, Deprmasi, Abstraksi dan Setelirisasi rerajahan, sehingga terwujudlah suatu karya sni Bali modern yang berkepribadian, original dan segar.
Tujuan dan manfaat penelitian ini adalah; untuk mendapatkan gambaran secara lebih mendalam dan jelas mengenai traspormasi rerajahan dalam kontek perubahan bentuk, fungsi dan makna, pada seni lukis ali modern. Penelitian ini menggunakan kerangka teori; estetika, yang menitik beratkan pada bentuk yang berhubungan dengan keindahan, teori struktural fungsional, untuk mengetahi fungsu suatu rangkaian kebutuhan naluri manusia yang berhubungan dengan seluruh kehidupan, teori semiotika, untuk membedah makna.
Metode yang digunakan adalah; dengan pendekatan kualitatif dengan mengidentifikasi obyek transpormasi rerajahan pada seni lukis Bali modern secara langsung. Data dipisahkan menjadi data primer dan data sekunder. Data primer didapat dari pelukisnya dan data sekunder didapat dari buku-buku refrensi yang relevan. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi, dan kepustakaan. Selanjutnya dilakukan pengkajian yang cermat, akurat terutama terhadap penyajian bentuk, fungsi dan makna transformasi rerajahan seni lukis Bali modern. Hasil analisis ditemukan, keberadaan rerajahan pada hakekatnya telah menunjukan perannya sebagai sumber inspirasi, sehingga adanya pergerakan perubahan budaya dari transformasi rerajahan menjadi suatu tema-tema atau bentuk baru, dari bentuk baru ke fungsi estetis dan dari fungsi estetis ke makna.
Dari perubahan dan pengaruh yang terjadi, transformasi rerajahan seni lukis Bali modern telah terhegemoni oleh pariwisata, art shop dan kolektor seni. Transformasi merupakan salah satu cara untuk mengekpresikan ide-idenya atau imaginasinya melalui bentuk-bentuk rerajahan, Dalam transpormasi tersebut unsur-unsur internal rerajahan, seperti nilai-nilai agama dan adat dilebur menjadi satu dengan disertai oleh pengaruh modern berupa olahan ide, teknik serta pengungkapan karya seni, memunculkan seni lukis bali modern yang bersifat individualistik dan mengandung nilai-nilai komersial.
by admin | Mar 9, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : Drs. D.A. Tirta Ray, M.Si., Jurusan Seni Murni, FSRD, DM. Pusat 2007
Abstract Penelitian
Kain bebali (wastyra wali) yang tumbuh dan berkembang di Daerah Karangasem, telah memberikan andil besar terhadap perkembangan didaerah Karangasem. Kain bebali merupakan bagian dari produk budaya, masuk dalam rumpun seni kriya, karean keberadaannya dihubungkan dengan kegunaan atau tujuan yang berkaitan dengan aktivitas sosial budaya masyarakat.
Setiap upacara keagamaan di Bali (Hindu) selalu menyertakan kain bebali segbagai sarana upacara. Kain bebali sebagai hasil dan aktivitas budaya yang dalam sistem sosial masysrakat tradisional memiliki keterkaitan yang erat dengan berbagai aktivitas ataupun upacara tradisional. Olek kareanya Kain bebali mampu menunjukna jati dirinya sebagai lokal genius, karena memiliki ciri khas tampilan mitif, warna dan keknik penemuannya. Terlebih lagi kain ini memiliki unsur visual sebagai simbol yang membawa arti tertentu, berdasarkan adat dan kepercayaan masyarakatnya. Penelitian ini menggunakan kerangka teori estetika , menitik beratkan pada bentuk-bentuk yang bermakna estetis, yang dimanfaatkan untuk mengetahui fngsi dan muatan simbol serta makna kain bebali yang senantiasa mengalami perubahan.
Mengenai bentuk kain bebali dalam kehidupan masyarakat Daerah Karangasem dengan analisis bentuk dan jenis raqgam hiasnya serta elemen-elemen pembentuk keindahan merupakan tampilan dari kain tersebut,karena kain bebali sebagai benda pakai lebih mengedepankan keindahan tampilannya. Bentuk dan jenis kain geringsing dapat dilihat dari tampilan fisik yaitu kain panjang dan kain bundar sedangkan jenis kain bebali dapat diketahui dari tampilan ukuran, warna dan jenis motip yang digunakan dalam kain bebali tersebut yang semuanya merupakan simbol-simbol yang bernuansa serigius.
Berdasarkan bentuk dan jenisnya, fungsi kain bebali selain sebagai busana kain geringsing juga difungsikan sebagai sarana dan perlengkapan upacara agama dan adat. Di samping itu, kain bebali juga dipercaya sebagai penolak bala dan saran pengobatan yang didasari atas keyakinan dan kepercayaan. Fungsi lain dari kain bebali dalam kehidupan masyarakat Karangasem adalah fungsi pelestarian, dan fungsi pendidikan. Fungsi ini sangat melekat pada kehidupan budaya kain bebali karena setiap langkah kehidupan masyarakat pendukungnya selalu menghadirkan kain bebali yang dilandasi atas simbol-simbol yang tertera pada kain geringsing tersebut.
Makna kain bebali dalam kehidupan masyarakat Daerah Karangasem didasari atas nilai-nilai simbol yang melekat pada kain bebali tersebut, sehingga kain bebali tersebut, sehingga kain mempunyai nilai intrinsik dan ekstrinsik serta bermakna ganda di masyarakat pendukungnya. Makna kosmologi merupakan makna hubungan manusia dengan alam lingkungan yang selalu harmonis dan tertuang dalam bentuk-bentuk simbol yang merupakan ekspresi pengrajinnya. Sedangkan didalam makna kehidupan terlistas adanya makna kesejahteraan dan kebahagian bagi masyarakat pendukungnya. Repleksi kain bebali tercermin dalam kehidupan keseharian masyarakat pendukungnya dan merupakan harapan kedepan dari budaya Bali agar tetap dapat melestarikan nilai-nilai tradisional yang telah hidup dan berkembang di Daerah Karangasem serta telah dapat mengangkat harkat dan martabat masyarakatnya.
Hasil analisis ditemukan bahwa keberadaan kain bebali pada mulanya hanya sebagai sarana upacara, pakaian adat dan pengobatan, akibat pengaruh pariwisata bentuk ragam hias kain bebali mengalami berkembang dan mengarah pada kepentingan industri pariwisata dan sekaligus menjadi sarana promosi untuk pariwisata namun tanpa menghilangkan eksistensinya sebagai karya tradisi, sesuai dengan fungsi yang direncanakannya, demikian pula maknanya berkembang menuju makna filosofi, kosmlogi, filosofi kehidupan, makan adat, makna kehidupan, dan makna simbolik.
by admin | Mar 9, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : Yulinis, SST., M.Si., Jurusan Tari, FSP, DM. Pusat 2007
Abstract penelitian
Tari Payung merupakan tari tradisi Minangkabau yang saat ini telah banyak perubahan dan dikembangkan oleh senian-seniman tari terutama di Sumatra Barat. Awalnya tari ini memiliki makna tentang kegembiraan muda mudi (penciptaan) yang memperlihatkan bagaimana perhatian seorang laki-laki terhadap kekasihnya. Payung menjadi icon bahwa keduanya menuju satu tujuan yaitu membina rumah tangga yang baik. Keberagaman Tari Payung tidak membunuh tari payung yang ada sebagai alat ungkap budaya Minangkabau. Keberagaman tersebut hanyalah varian dari tari-tari yang sudah ada sebelumnya. Sikap ini penting diambil untuk kita tidak terjebak dengan penilaian bahwa varian tari yang satu menyalahi yang lainnya. Sejauh tri terseut tidak melenceng dari akar tradisinya, maka kreasi menjadi alat kreativitas seniman dalam menyikapi budaya yang sedang berkembang.
Penelitian ini memakai teori perubahaan yang dikembangkan oleh Herbert Spencer. Teori perubahan akan dipakai untuk melihat perkembangan yang terjadi pada tari payung. Teori lain yang akan mendukung adalah teori akulturasi yang dikembangkan oleh Koentjaraningrat dan GM. Foster. Teori ini dipakai untuk melihat budaya apa saja yang mempengaruhi perkembangan tari payung dari dulu hingga sekarang. Jumlah penari dalam tari payung selau genap dan selalu berpasangan, bisa tiga atau empat pasang. Kalaupun ada gerakan lelaki berpindah pasangan, bukan berarti hatinya terbagi dua atau lebih, akan tetapi hanya wujud dari kreasi yang dimainkan. Pada hakekatnya mereka hanya satu pasang, tetapi divisualkan dalam bentuk banyak. Hal ini bisa dlihat dari kostum yang dimainkan, dimana seluruh penari permpuan berpakaian sama, begitu dengan penari laki-laki yang semuanya juga sama. Payung yang dimainkan juga berbentuk sama. Tari Payung sejak mulanya telah mengalami perkembangan yang sangat berarti terutama oleh seniman-seniman muda Minagkabau. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh tingkat keilmuan yang sudah beragam. Pengaruh gaya dari mana saja msuk menyentuh wilayah seni, tidak terkecuali tari payung. Melayu merupakan unsur utama dalam mempengaruhi gerak tari payung. Begitu juga dengan pola gerak barat, sedikit banyak menyentuh wilayah ini. Senian pembaharu tari payung menjadikan fungsi seni tari itu bergeser dari ritual adat menjadi seni untuk profan yang perkembangannya sangat pesat.Fungsi seni ritual tidak mengalami perkembangan yang berarti, karean seni ritual didukungh oleh pakem-pakem yang jelas dan sulit untu diubah, bahkan tidak mungkin untuk diubah, karena dia berkaitan dengan persolan adat yang memiliki hukum-hukum yang jelas. Berkaitan dengan hal itu, seniman pebaharu tari payung memasuki gerak-gerak yang inovatif supaya bisa menyeimbangkan antara seni profan dengan seni ritual. Mereka hanya memasuki wilayah seni profan yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan dijual untuk masyarakat luas.
Seniman pembaharu tari payung melakukan tindakan dalam membentuk gaya baru dalam tyari payung agar keteraturan dan arah yang diinginkan dalam dunia kreativitas bisa terjaga dengan baik tanpa adanya konflik yang merusak sosial itu sendiri. Sistem sosial di Minangkabau memiliki sebuah tipe tertentu yang berbeda dengan sistem sosial yang lain.
by admin | Mar 8, 2010 | Artikel, Berita
Oleh : I Gst. Ngr. Sudibya, SST., Jurusan Tari, FSP, DM., Pusat 2007
Abstract penelitian
Penelitian ini mengkaji tentang pertunjukan Joged Bumbung Blahkiuh. Dimana perkembangannya lebih mengarah kepada unsur-unsur gerakan erotis yang cendrung melanggar nilai-nilai etika, susila, dan estetika dalam ajaran agama.
Sebagai kajian kualitatif maka yang menjadi pokok permasalahan pertama adalah Bagaimana bentuk Joged Bumbung Blahkiuh sebagai seni pertunjukan hiburan masa kini; kedua, Unsur-unsur apa yang menjadikan Joged Bumbung Blahkiuh sebagai seni pertunjukan hiburan masa kini.Teori yang digunakan untuk membedah adalah (1) Teori Komodifikasi yaitu teori yang mengkaji bentuk yang dapat menghibur masyarakat pada masa kini. (2) Teori Estetika yang dapat dimanfaatkan untuk melihat unsur-unsur kreativitas dalam petunjukan joged bumbung Blahkiuh. Sebagai penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dokumentasi dan studi kepustakaan. Kehadiran Joged Bumbung Blahkiuh mampu menyuguhkan hiburan kepada masyarakat. Dan faktor-faktor yang seperti ekonomi, kebersamaan, gotong royong, individu dan faktor hiburan juga sangat berperan. Selama ini kreatifitas Joged Bumbung Blahkiuh menyajikan bentuk yang tidak lepas dari tradisi, namun lebih mengutamakan unsur-unsur baru /kekinian yag kelewat menantang terutama goyang pinggulnya desenangi masyarakat penggemarnya.