M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

KUNJUNGAN SENI RUPA MURNI ISI PADANG PANJANG

Kunjungan Mahasiswa Jurusan Seni Rupa Murni ISI Padang Panjang ke ISI Denpasar dalam rangka Studi Banding dengan FSRD ISI Denpasar Khususnya Dengan Jurusan Seni Rupa Murni.

Foto Bersama Civitas Akademika FSRD ISI Denpasar & Jurusan Seni Rupa Murni ISI Padang
ASEAN Setujui Transfer Mahasiswa

ASEAN Setujui Transfer Mahasiswa

JAKARTA (SI) – Negara-negara di kawasan Asia Tenggara sepakat melakukan harmonisasi pendidikan tinggi. Salah satu program utama yang berjalan adalah M-I-T Pilot Project on Promoting Student Mobility in Southeast Asia atau Program Transfer Kredit Mahasiswa Negara ASEAN.
Melalui program ini, mahasiswa yang telah menempuh perkuliahan selama satu semester dapat melanjutkan perkuliahan pada semester berikutnya di perguruan tinggi lain di wilayah ASEAN. Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan Nasional (Dirjen Dikti Kemendiknas) Fasli Jalal mengatakan, pada tahap awal program akan mengirimkan 50 mahasiswa Indonesia sebanyak 25 orang ke Thailand dan 25 orang ke Malaysia. Demikian juga dengan Thailand,mereka mengirimkan mahasiswa 25 orang ke Indonesia dan 25 orang ke Malaysia.
“ Malaysia mengirimkan jumlah yang sama separuh ke Thailand dan separuh ke Indonesia,” katanya saat memberikan keterangan pers seusai membuka acara The 4th Meeting of Director General/Secretary Gene ral/Commissioner of Higher Education in Southeast Asian Region di Kemendiknas, Jakarta, kemarin. Difasilitasi SEAMEO RIHED, sebuah institusi yang mengurusi isu-isu terkait pendidikan tinggi di ASEAN, menurut Fasli, program ini melibatkan 11 perguruan tinggi di Indonesia, Thailand, dan Malaysia.
Dia menyebutkan, beberapa universitas di Indonesia yang mengikuti program ini di antaranya Universitas Indonesia,Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada,Institut Seni Indonesia Denpasar, Universitas Sriwijaya, dan Universitas Kristen Maranatha. Kemudian, lanjut Fasli, universitas di Thailand yang berpartisipasi adalah Prince of Songkla University dan Tamasad University. Program ini juga diikuti enam perguruan tinggi terbaik di Malaysia.
“Program student mobility ini siap menerima mahasiswa dari Eropa, Jepang, Amerika Utara, dan dari Australia,”katanya. Fasli menjelaskan, satu semester perkuliahan akan dihitung sebagai bagian dari total pembelajaran. Dia mencontohkan,mahasiswa yang mengambil kuliah di Universitas Indonesia (UI), yang telah diakui kredit transfernya, lalu melanjutkan ke universitas di Thailand,maka UI mengakui pembelajaran yang diambil di Thailand.“ SKS-nya itu sudah dihitung dengan nilainya sekalian sebagai bagian pembelajaran di UI.Begitu juga yang dari Thailand,”katanya. Sekretaris Jenderal Komisi Pendidikan Tinggi Thailand Sumate Yamnoon mengatakan, kegiatan pengembangan klaster riset dilakukan di antara institusi pendidikan tinggi di ASEAN.
Menurutnya, selama sepuluh tahun terakhir, produktivitas riset di kawasan ASEAN sangat pesat. Dia juga menilai penting adanya publikasi riset dan indeks sitasi. ”Satu penelitian hendaknya dapat disitasi oleh peneliti lainnya,” katanya. (neneng zubaidah)

Sumber: http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/310205/

Kerajinan Perak Di Desa Celuk Kajian Aspek Disain Dan Inovasinya

Kerajinan Perak Di Desa Celuk Kajian Aspek Disain Dan Inovasinya

Oleh: Drs. I Nyoman Ngidep Wiyasa, M.Si., Jurusan FSRD, DIPA 2008

Abstrak penelitian

Dari uraian tentang “Kerajinan Perak di Desa Celuk : kajian Aspek Disain dan Inovasinya” ,dapat diuraiakan sebagai berikut : kerajinan perak yang ada di Desa Celuk telah banyak mengalami perubahan dan perkembangan. Kerajinan perak Desa Celuk sebagimana halnya kerajinan perak Bali pada awalnya membuat barang-barang untuk keperluan  upacara keagamaan dan sosial antara lain seperti : bokor, dulang, canting, sangku, penastaan, dan sibuh, yang bersifat sakral religius, dan untuk kepentingan sosial seperti : badong, gelang, cincin, subang dan sebagainya.

Sejalan dengan semakin berkembangnya kepariwisataan Bali, meningkat pula kebutuhan akan barang-barang seni seperti lukisan, kerajinan kayu termasuk juga kerajinan yang terbuat dari perak, secara tidak langsung memberikan dampak yang cukup baik dikalangan seniman dan perajin, khususnya perajin perak yang ada di Desa Celuk.

Kondisi ini dimanfaatkan oleh perajin perak Desa Celuk, mulai menghasilkan produk kerajinan perak dengan disain yang bersifat praktis, estetis, profan, sosial ekonomis, yang bisa memenuhi kebutuhan konsumen tidak hanya lokal Bali, akan tetapi mancanegara (pasar global). Pengaruh pariwisata menjadikan perkembangan bentuk kerajinan perak Desa Celuk, cukup beragam seperti : gelang,kalung, cincin, anting, bross, liontin, asesoris, dan peralatan rumah tangga dengan rancangan/disain yang kreatif.

Para perajin Dsa Celuk dalam membuat disain menerapkan motif hias geometris, tumbuh-tumbuhan (flora), dan makhlukj hidup, yang bernuansa lokal Bali. Motif-motif tersebut tetap dijadikan acuan, akan tetapi sudah diolah dan dielaborasikan dengan unsur-unsur seni modern sebagai pengaruh asing, sehingga terwujud kerajinan perak Bali yang lebih kreatif dan inovatif yang tetap beridentitaskan Bali, sehingga bisa bersaing di paar global. Kemudian bila dikaitkan dengan fungsi kerajinan perak Desa Celuk telah mengalami pergeseran fungsi dari sakral ke profan, yakni fungsi praktis, estetis, sosial, dan ekonomis, yang mampu mensejahterakan masyarakat Desa Celuk, deminkian pula makna yang terkandung di dalamnya.

Bangunan Padmasana: Kajian Struktur Dan Penerapan  Motif Hias Tradisional Bali

Bangunan Padmasana: Kajian Struktur Dan Penerapan Motif Hias Tradisional Bali

Oleh : Ir. Mercu Mahadi, FSRD, DIPA 2008

Abstract

Kesadaran berkesenian sudah sangat mengental dan mentradisi dalam kehidupan masyarakat Bali. Sikap berkesenian secara tulus sebagai pengabdian terhadap Tuhan Yang Maha Esa, menjadi suatu tumpuan terciptanya keseimbangan hidup manusia, antara alam, lingkungan sosial, dan dengan Tuhannya, sebagai pencipta semua yang ada. Berbagai jenis kesenian berhubungan erat denan agama merupakan suatu kesatuan yang terjalin erat sebagai wujud bhakti kepada Tuhan. Dengan demikian pada setiap bangunan suci seperti pura, dan pemerajan selalu dihiasi dengan ukiran yang menerapkan motif hias tradisional Bali.

Di Bali pada suatu tempat suci (pura) biasanya dilengkapi dengan bangunan padmasana. Bangunan padmasana memiliki fungsi yang cukup pentingsebagai tempat pemujaan terhadap Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Bangunan padmasana pada suatu pura terletak di arah airsanya, yaitu arah timur laut, yang dipandang sebagai tempat Sanghyang Siwa Raditya, dan sangat disucikan oleh umat Hindu. Konsep bangunan padmasanayang diwarisi sampai saat ini di Bali berawal dari kedatangan seorang pendeta dari Kerajaan Majapahit yaitu Danghyang Nirartha akhir abad ke 16 SM, yakni pada masa pemerintahan Dalem Waturenggong. Sebelum beliau datang ke Bali, tempat suci (pura) belum dilengkapi padmasana.

Adapun struktur bentuk bangunan Padmasana disusun vertikal yang mencerminkan tiga unsur alam, yakni bhur loka, alam bawah, bwah loka alam tengah, dan swah loka alam atas. Perwujudan berdasarkan konsep Triangga Yaitu ; nistama angga (bagian kaki), madya angga (bagian badan), utama angga, (bagian kepala). Sedangkan motif hias yang diterapkan pada bangunan padmasana, merupakan stilisasi dari bentuk-bentuk yang ada di alam sperti batu-batuan, awan, air, api, tumbuh-tumbuhan, binatang , manusia dan mahluk-mahluk motologi lainnya. Adapun jenis motif hias tradisional Bali tersebut antara lain: Motif Keketusan (geometris), terdirir dari mitif kakul-kakulan, batun timun, ganggong, emas-emasan, ceracap, mute-mutean, dan tali ilut. Motif tumbuh-tumbuhan atau pepatran, antara lain seperti patra punggel, patra sambung, patra sari, patra olanda, patra cina, dan patra wangga. Motif Kekarangan , teridri dari motif karang gajah, karang guak, karang tapel, karang boma, karang sae, karang bentulu dan karang simbar. Sedangkan motif hias yang terinspirasi dari mahluk –mahlik mitologi yang bersifat simbolis antara lain seperti : bhadawang nala, naga anantabhoga, naga taksaka, garuda, dan angsa.

Motif hias tradisional Bali tersebut berfungsi sebagai hiasan atau elemen penghias bangunan, disamping juga mengandung nilai-nilai filosofis dan simbolis.

Pemilihan Anggota Senat Jurusan Desain FSRD ISI Denpasar

Pemilihan Anggota Senat Jurusan Desain FSRD ISI Denpasar

Pemilihan ANGGOTA SENAT Jurusan Desain FSRD ISI DENPASAR, sebagai perdilakukan secara demokratis hari rabu 10 Maret 2010, bertempat di Fakultas Seni Rupa dan Desain.

Perhitungan Suara Pemilihan Anggota Senat

Perhitungan Suara pemilihan anggota senat

Drs. I Wayan Swandi, M.Si : anggota Senat terpilih Tk. Institut

Drs. I Wayan Balika Ika, M.Si : Anggota Senat Terpilih Tk. Institut

Drs. Cok. Gd. Rai Padmanaba, M.Erg : anggota senat terpilih Tk. Fakultas

Drs. Cok Raka Swendra, M.Si : anggota senat terpilih Tk. Fakultas

Drs. I Made Susila Patra, M.Erg : anggota senat terpilih Tk. Fakultas

Drs. A.A Gd. Rai Remawa, M.Sn : Anggota Senat Terpilih Tk. Fakultas

Eksistensi Seni Lukis Populer Gaya Keliki Dewasa Ini

Eksistensi Seni Lukis Populer Gaya Keliki Dewasa Ini

Oleh: Drs. A.A. Gde Yugus, M.Si., Jurusan Lukis, FSRD, DIPA 2008

Abstract

Keberadaan Seni lukis gaya Keliki seperti yang bisa kita lihat dewasa ini, merupakan kelanjutan dari seni lukis yang berkembang di Ubud yang lebih dikenal dengan seni lukis Pitamaha, hal ini bisa dimengerti oleh karena beberapa diantara pelukis yang kini masih  aktif melukis gaya Keliki pernah belajar melukis gaya Ubud. Seni lukis gaya Ubud/Pitamaha tersebut keberadaannya juga memiliki keterkaitan historis dengan seni lukis klasik Kamasan yang pernah mencapai puncak keemasannya di masa pemerintahan Dewa Agung Jambe di Kerajaan Klungkung, hal ini bisa dilihat sebagai bukti monumental berupa lukisan wayang yang menghiasi Balai Kertagosa.

Seni lukis gaya Keliki dkategorikan sebagai produk budaya populer, diproduklsi secara masal untuk memenuhi pesanan, sehingga muatan estetika yang ada di dalamnya mengikuti selera pasar pariwisata, yang keberadaannya dewasa ini pasang surut. Seni lukis populer gaya Keliki memiliki karakter dan sifat-sifat tertentu yang memberikan kesankhas pada karya seni lukis bersangkutan, yang bisa dilihat seara visual dalam wujud karya seni lukis. Teknik yang diterapkan adalah teknik basah dengan cat air di atas media kertas mengikuti proses penciptaan seni lukis Bali modern. Keunikan dari seni lukis gaya Keliki terlihat dari tampilan ukurannya, yakni memiliki ukuran yang relatif kecil dari ukuran lukisan pada umumnya, sehingga dikenal dengan istilah lukisan mini atau lukisan  “postcard”, yang menjadi kekhasan seni lukis gaya Keliki. Sejak munculnya pada akhir tahun 19780-an, seni lukis gaya Keliki masih tetap eksis dan bertahan sampai kini, walaupun berbagai terpaan sudah pernah dialaminya terkait dengan kondisi daerah Bali terhadap berbagai kasus dan isu seperti bom Bali, penyakit kolera, teroris dan sebagainya. Hal ini menyebabkan berkurangnya jumlah wisatawan asing yang berkunjung ke Bali yang secara tidak langsung berdampak terhadap semakin lesunya pasar lukisan baik di gallery, artshop-artshop dan pasar seni lainnya.

Loading...