M

Tentang ISI Bali

Sejarah

Pengantar

Akreditasi

Visi dan Misi

Struktur Organisasi

SAKIP

JDIH

Penghargaan

PPID

Green Metric

Pendidikan

Fakultas Seni Pertunjukan (FSP)

Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD)

Pascasarjana

Program Internasional

Alumni

Formulir Mahasiswa

Penelitian

Penelitian, Penciptaan dan Diseminasi Seni dan Desain (P2SD)

Penelitian Disertasi (PDD)

Penelitian Kompetisi Nasional

Penelitian Kerja Sama

Pengabdian

Bali Citta Swabudaya (BCS)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)

Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Pusat

Perkembangan Seni Kerajinan Ukir Batu Padas Di Silakarang, Gianyar, Bali (Kajian Fungsi Dan Gaya)

Perkembangan Seni Kerajinan Ukir Batu Padas Di Silakarang, Gianyar, Bali (Kajian Fungsi Dan Gaya)

Oleh : I Made Berata, S.Sn. Jurusan Kriya Seni, FSRD DIPA 2008

Abstrak penelitian

Seni kerajinan ukir batu padas Silakarang sudah berlangsung sejak tahun 1832 pada saat dibangunnya pura Puseh Desa Adat Silakarang. Dalam waktu yang panjang pertumbuhannya dan perkembangannya mengalami pasang surut sampai sat ini. Kehadirannya berawal dari memenuhi kepentingan keagamaan, seperti mengukir pura, dan tempat suci rumah unian, kemudian berkembang menjadi produk komersial. Pada saat ini mengalami perkembangan akibat maraknya perkembangan industri pariwisata, secara tidak langsung bersentuhan dengan kebudayaan luar. Dengan demikian ada poin pertanyaan yang diajukan untuk dijawab pada masalah ini yaitu : pertama, apakah ada perkembangan fungsi seni kerajinan ukir batu padas Silakarang; bagaimanakah gaya seni kerajinan ukir batu padas Silakarang. Untuk menjawab petanyaan yang diajukan tentang perkembangan seni kerajinan ukir batu padas Silakarang tersebut, karena penelitian ini penekanannya pada tatacara, alat dan teknik serta bidang yang berorientasi pada paradigma alamiah, maka desain penelitian yang digunakan adalah wadah penelitian kualitatif, dengan pendekatan estetis merupakan pendekatan utama, serta beberapa teori pendukung seperti sejarah, antropologi etnografi. Dalam proses penelitian yang dilakukan lebih mengarah pada sifat eksploratif, karena bertujuan untuk menggamabrkan keadaan atau status fenomena. Peneliti hanya ingin mengetahui hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan seni kerajinan ukir batu padas di daerah penelitian.

Berdasarkan hasil penelitian, ternyata terjadi perkembangan yang signifikan baik fungsi maupun gaya. Dari segi fungsi seni kerajinan ukir batu padas Silakarang diketahui memiliki fungsi-fungsi dalam masyarakat pendukungnya maupun masyarakat luas, seperti fungsi fisik, fungsi personal, fungsi sosial. Demikian pula gaya seni kerajinan tersbut, berawal dari gaya tradisional berkembang ke gaya modern. Perkembangan yang terjadi berimplikasi pada pegayaan matei seni kerajinan ukir batu padas Silakarang. Hal itu, terbukti munculnya deversifikasi produkyang dihasilkan dengan desain-desain baru.

Kata Kunci: Seni Kerajinan dan perkembangan

Internasionalisasi Pendidikan Tinggi Butuh “Effort” Besar

Internasionalisasi Pendidikan Tinggi Butuh “Effort” Besar

LONDON, KOMPAS.com – Butuh effort yang besar baik bagi pemerintah Indonesia maupun instansi-instansi perguruan tinggi Indonesia untuk berkolaborasi dengan banyak negara lain di dunia, khususnya Inggris, dan institusi pendidikan tingginya dalam mewujudkan internasionalisasi pendidikan tinggi (Higher Education).

Kerajaan Inggris, misalnya, menunjuk dan memberi mandat kepada Universities United Kingdom (UUK) sebagai unit atau badan tersendiri yang khusus mengatur internasionalisasi pendidikan tinggi mereka. UUK inilah yang mengatur dan menyediakan dukungan bagi suksesnya internasionalisasi ini kepada negara-negara dan institusi pendidikannya yang telah berkolaborasi dengan Inggris.

“Sejak 1918 kami telah menjadi badan resmi yang ditunjuk untuk mengendalikan ini semua, termasuk menjalin hubungan dengan pendidikan tinggi Wales, Skotlandia, serta Irlandia,” ujar Chief Executive UUK Nicola Dandridge, di London, Selasa (23/3/2010).

Mulai dari kunjungan promosi, mengatur visa dan pengurusan imigrasi, sampai menganalisa kebijakan pemerintah Inggris dalam bidang pendidikan tinggi. Hasilnya, total jumlah pelajar dari negara-negara Asia saja mencapai 369.000 pada 2008 lalu, meningkat dari total pelajar pada 2007 yang mencapai 341.800. Posisi jumlah pelajar Indonesia sendiri berada di nomor paling buncit, yaitu peringkat 11 dengan jumlah pelajar sebanyak 1.030 pada 2008 lalu dan hanya meningkat sedikit saja dari jumlah sebelumnya pada 2007, yaitu 925 pelajar. Posisi tersebut berada jauh di bawah China, India, Malaysia sebagai tiga besar, serta Hongkong, Taiwan, Thailand, Korea Selatan, Jepang, Singapura, serta Vietnam.

Secara politis, posisi Indonesia memang berat dan masih membutuhkan upaya besar. Sebagai negara yang bukan termasuk commonwealth pemerintah Kerajaan Inggris, posisi Indonesia tentu saja “tidak beruntung”. Hal ini terlihat sangat jauh berbeda dengan beberapa negara Asia Tenggara yang dekat Indonesia seperti Malaysia, misalnya, atau India dan Singapura.

Menurut Rektor Bina Nusantara Prof Harjanto Prabowo, sedikit banyak posisi itu cukup berpengaruh bagi Indonesia, Selama ini, baik melalui pemerintah maupun instansi pendidikan tinggi negeri maupun swasta, Indonesia cenderung lebih banyak berhubungan dengan Amerika Serikat, Australia, serta negara-negara Asia lainnya.

Di sisi lain, kata dia, Inggris rupanya kurang memerhitungkan Indonesia untuk bisa masuk dalam jalinan network internasionalisasi ini.

“Perjanjian Bologna sangat menguntungkan internasionalisasi pendidikan tinggi di antara negara-negara Eropa untuk menyamakan visi, misi, dan serta konsep pendidikan mereka, sehingga negara-negara persemakmuran mereka pun otomatis ikut masuk dalam lingkaran sistem ini dan sangat menguntungkan mereka, tetapi tidak buat kita,” kata Harjanto.

Sumber: http://edukasi.kompas.com/read/2010/03/24/18321156/Internasionalisasi.Pendidikan.Tinggi.Butuh..quot.Effort.quot..Besar

Kiprah Sekaa Gong Wanita Dalam Seni Pertunjukan Pariwisata Di Daerah Ubud

Kiprah Sekaa Gong Wanita Dalam Seni Pertunjukan Pariwisata Di Daerah Ubud

Oleh: I Komang Darmayuda, S.Sn., M.Si., Jurusan Seni Karawita, FSP, DIPA 2008

Abstrak Penelitian

Sekaa Gong Wanita merupakan kesatuan dari beberapa orang anggota masyarakat yang berjenis kelamin wanita, menghimpun diri atas dasar kepentingan bersama dengan mempergunakan gamelan sebagai media. Terlahir oleh adanya gagasan secara individu, menjadi gagasan kolektif. Gagasan kolektif menjadi sarana bagi anggota sekaa untuk saling berkomunikasi, berinteraksi, dan behubungan dalam hidup bersama. Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah faktor-faktor yang memotivasi terbentuknya Sekaa Gong Wanita, adalah faktor yang secara spontan muncul dalam diri wanita, meliputi : emosi religius, kesadaran berkesenian, peningkatan status dan aktualisasi penampilan keindahan. Secara ekstertnal, ada dua komponen yang berperan dalam terbentuknya Sekaa Gong Wanita, yaitu motivasi keluarga dan partisipasi masyarakat. Keberadaan para wanita dalam seni karawitan khususnya dalam memainkan gamelan, telah mampu merubah stereotip ayau pandangan-pandangan masyarakat terhadap para wanita yang sebelumnya tereliminasi dari aktivitas seni karawitan. Melalui gamelan, para wanita mampu mewujudkan perubahan ikon budaya, karena melalui gamelan yang dimainkan oleh Sekaa Gong Wanita dapat bermanfaat sebagai pelengkap ritual, sebagai presentasi estetis, pelestarian karya-karya seni karawitan dan sebagai alat pengikat solidaritas. Sebagai sebuah fenomena dalam perkembangan seni Karawitan Bali, aktifitas para wanita dalam memainkan gamelan memberikan pengaruh yang menyebabkan terjadinya perubahan tatanan nilai dalam berkesenian secara etika dan estetika. Kehadiran Sekaa Gong Wanita dapat meningkatkan peran wanita dalam status sosial dan memberikan pengayaan estetis adalah sebagai dampak yang positif, melahirkan  etika semu dan penurunan kualitas astetis adalah aktivitas berkesenian yang dapat dikatakan sebagai dampak negatif.

Penelitian ini menggunakan teori estetika untuk mengungkapkan eksistensi Sekaa Gong Wanita yang menyangkut keindahan, baik dari aspek musikalitas dan tata penyajiannya. Teori feminisme dipergunakan menganalisis biologis wanita, yang secara estetis dapat memunculkan nuansa estetis feminim dalam karawitan Bali. Teori fungsi dipergunakan untuk menganalisis fungsi Sekaa Gong Wanita dalam kontek ritual dan sosial di masyarakat, sedangkan teori perubahan untuk menganalisis perkembangan para wanita yang tidak saja sebagai penari, akan tetapi sudah trampil menjadi penabuh wanita. Meluasnya peranan wanita dalam seni pertunjukan, disebabkan oleh tuntukan kesadaran oleh para wanita dalam mengantisipasi perkembangan nilai dan jaman, dianalisis mempergunakan teori gender.

Kata kunci : Sekaa Gong Wanita, kiprah, pariwisata.

Kontinyuitas Tari Rejang Renteng Di Desa Kesiman Petilan

Kontinyuitas Tari Rejang Renteng Di Desa Kesiman Petilan

Oleh: I Nyoman Sura, S.Sn. Jurusan Tari ,FSP, DIPA 2008

Abstrak Penelitian

Penelitian berjudul Kontinyuitas Tari Rejang di Desa Kesiman Petilan merupakan hasil kajian terhadap pertunjukan Tari Rejang Renteng di Pura Dangka Desa Kesiman. Desa Kesiman Petilan merupakan salah satu desa yang berada di tengah Kota Denpasar yang notabena masyarakatnya mengikuti perkembangan teknologi dan termasuk masyarakat moderen. Akan tetapi sampai saat ini mereka masih menjalankan adat dan budayanya yang telah mereka warisi. Salah satunya yaitu mereka tetap mementaskan tari Rejang setiap upacara piodalan di Pura Dangka. Kondisi tersebut menjadikan alasan ketertarikan untuk mengadakan penelitian dengan mengangkat iiga masalah yaitu bagaimana asal mula terwujudnya tari rejang Renteng di Desa Kesiman Petilan, bagaimana pula bentuk sajiannya serta upaya apa yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kesiman Petilan dalam mempertahankan keberadaan tari Rejang Renteng.

Sedangkan tujuan yang hendak dicapai adalah untuk mengetahui latar belakang munculnya tari Rejang Renteng, bentuk sajiannya serta usahauntuk menyelamatkan keberadaannya di tengah arus global skarang ini. Dan dari penelitian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi terhadap pengembangan wawasan ilmu pengetahuan di bidang seni (pertunjukan) dan peningkatkan kualitas belajar mengajar pada mata kuliah teori dan praktek tari. Sebagaimana diketahui bersma bahwa hal ini sangat menunjang mata kuliah teori ataupun praktek khususnya tari Bali. Selain tersebut diatas hasil dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat akademis dan prakis. Manfaat akademis adalah untuk menambah khasah pengetahuan tentang tari yang dikelompokan dalam jenis Wali, sehingga dapat digunakan sebagai bahan acuan untuk penelitian selanjutny, serta bahan bacaan untuk matakuliah teori pengetahuan tari. Manfaat praktis adalah dari temuan di lapangan dapat dipakai sebagai sumbangan pemikiran bagi para penentu kebijakan.

Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, dalam menggali data dan mengolah data serta menganalisis data penelitian ini menggunakan empat tahap yaitu persiapan yang meliputi menentukan lokasi penelitian, menentukan jenis dan sumber data, sera instrumen apa yang tepat digunakan. Tahap pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi di lapangan, wawancara langsung dengan nar sumber, dan menggali sumberbuku. Tahap selanjutnya adalah tahap pengolahan data dan menyajikan hasil analisis data dengan dipaparkan dalam enam bab. Buku-buku yang dipilih dan digunakan sebagai pijakan dalam penelitian ini adalah Kaja dan Kelod Tarian dalam Tradisi (Made Bandem dan Fredrik Eugene de Boer, 2004) dalam salah satu bab yang berjudul Tarian Halaman Pura paling dalam menjelaskan tentang tari rejang. Dalam ulasannya membahas tentang apa dan bagaimana tari rejang serta kapan tari rejang dipentaskan. Bandem (1985) dalam bukunya Perkembangan Tari Bali menjelaskan tari rejang termasuk dalam kelompok tari wali, sebagai tari tradisional yang gerak tarinya sangat sederhana, dan dalam menariknya dengan berbagai posisi. Evolusi tari Bali (Bandem), 1996) pada bagian pertama menjelaskan tentang pentingnya tari bagi masyarakat Hidu Bali, dan kapan kehidupan tari Bali mulai muncul. Dijelaskan pula bagaimana masyarakat Bali dala memaknai tari yaitu dari dua sudut pandang sehingga tari Bali dapat difungsikan untuk mendekatkan umat dengan sang pencipta dan sebagai tali pengikat atau mempererat kehidupan bermasyarakat.

Bahan Penyuluhan Parisada Hindu Dharma yang berjudul Tari-tarian Bali Dalam Upacara Agama Hindu (1991) oleh I Madebandem menjelaskan tentang Keterkaitan agama Hindu dengan kesnian bahwa menurutnya agama Hindu merupakan sebuah agama yang mempunyai unsur ritual, emosional, kepercayaan dan rasional. Dari unsur tersaebut: menyebabkan hampir tidak ada suatu upacara keagamaan yang sempurna tanpa ikut serta pertunjukan kesenian khususnya tari Bali. R.M. Soedarsono dalam bukunya Seni Pertunjukan Indonesia di Era Globalisasi (2002) menurutnya fungsi tari bagi masyarakat di negara berkembang yang ada kehidupannya mengacu pada budaya agraris. Fungsi tari dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu fungsi primer dan skunder. Fungsi Yang tergolong dalam kelompok primer, salah satu fungsinya adalah sebagai sarana ritual. Dijelaskan pula tentang sarana yang terkait untuk ritual, serta berbagai tari yang berfungsi sebagai sarana ritual. Direktori Seni Pertunjukan Tradisional (1996) pada bagain tari Bali dijelaskan tentang tari rejang yang merupakan tari ritual bersama dengan geraknya yang halus dan perlahan sebagai lambang penyerahan diri kepada Tuhan.

Hasil penelitian saat ini menunjukan bahwa tidak diketahui secara pasti kapan tari Rejang Renteng itu ada, dan siapa penciptanya. Tari Rejang mempunyai arti penting bagi masyarakat penyusung Pura Dangka, serta Tari Rejang Renteng sebagaimana tari rejang lainnya atau tari wali pada umumnya bahwa bentuk sajian yang merupakan perpaduan dari elemen-elemen yang ada sangat sederhana karena yang dituntut bukan keindahan dalam sajiannya tetapi ketulusan dan keihklasan dalam mempersembahkan kepadaNya. Sebagai tari wali tari Rejang Renteng ini ditarikan oleh anak-anak (yang belum akil balik) pemaksaan atau pengempon pura dengan tujuan untuk mendapatkan kesucian. Tari ini disajikan sebagai pelengkap dalam upacara pengider buana.

I Made Sidia Dalam Kisah ‘Kalangoan Wana Dandaka’ Beri Pesan Melestarikan Budaya “Mendalang”

I Made Sidia Dalam Kisah ‘Kalangoan Wana Dandaka’ Beri Pesan Melestarikan Budaya “Mendalang”

Dari Ujian Program Magister, Prodi Penciptaan Seni, ISI Surakarta

Dalang I Made Sidia (dosen Pedalangan ISI Denpasar) yang sangat terkenal dengan garapan inovatifnya, kini akan menggarap karya teater yang berjudul “Kalangoan Wana Dandaka”. Karya akbar ini dipagelarkan dalam rangaka Ujian Program Magister, Program Studi Penciptaan Seni, Program Pasca Sarjana pada Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Garapan berdurasi sekitar 1 jam 20 menit ini diawali dengan dolanan anak-anak yang dikemas sangat menarik dan munculnya celetukan-celetukan dari karakter anak-anak yang mengundang tawa. Pesan terkini pun tak luput dari dolanan mereka, diantaranya untuk waspada terhadap maraknya penggunaan facebook. Kemudian ditengah kegaduhan perdebatan anak-anak, dalang Sidia pun muncul dari balik layar dengan membawa wayang. Konsep garapan Dalang Sidia adalah pengenalan filosofi kehidupan Tri Hita Karana dalam Hepos cerita Ramayana kepada anak-anak lewat membangkitkan kembali budaya bercerita “mendalang’. Dalang Sidia melibatkan sekitar 200 orang untuk mendukung garapannya. Bahkan yang lebih menariknya Sidia memanfaatkan binatang Gajah sebagai kendaraan Sri Rama maupun Prabu Rahwana. Bahkan lima ekor gajah yang terlibat menjadikan nilai lebih dalah garapan I Made Sidia. Gajah ini pun telah dilatih untuk melakukan adegan-adegan yang mengagumkan, seperti menyelematkan nyawa manusia di dalam air, beradegan pincang setelah kalah dalam peperangan, serta mampu berinteraksi dengan pemain di panggung dengan baik. garapan ini juga tidak terlepas dari dukungan tempat pelaksanaan ujian yaitu di Taman Safari Marine Park, Gianyar. Ujian akan berlangsung tanggal 22 Maret 2010 pukul 18.00 wita.

Dalam kisahnya Dewi Shita telah diculik oleh Rahwana. Lewat mendalang Sidia mulai menceritakan kisah tentang keindahan hutan Dandaka, dengan aneka satwa yang hidup didalamnya. Di stage pun muncul penari yang memerankan prilaku beraneka satwa diantaranya burung, kera, jerapah, kupu-kupu, ayam yang kesemuanya menggunakan teknik unik menyerupai binatang. Sri Rama dalam kegundahan, saat istrinya Dewi Sita tengah berada dalam genggaman Raja Rahwana, tetap memelihara hutan Dandaka beserta isinya sebagai bagian dari hidupnya. Keteladanan atas pemikiran dan laku Sri Rama, untuk selalu menghargai dan menyayangi semua makhluk ciptaan Hyang Parama Kawi, telah dibuktikan dengan rindangnya blantara raya. Pemikiran betapa pentingnya bersyukur dan selalu bakti kepada Sang Pencipta, mengharagai sesama manusia, berinteraksi dengan lingkungan sebagai bagaian dari Tri Hita Karana, tercermin dari sikap Sri Rama. Pada suatu ketika hutan Dandaka dirusak oleh Bala raksasa Alengka pura. Penduduk pun kehilangan tempat tinggal dan lahan penghidupan. Kenyataan ini membuat Sri Rama ingin menghancurkan Prabu Rahwana. Dalam menjalankan misinya Rama dibantu oleh Hanuman dan Sugriwa. Selain untuk menghancurkan Rahwana mereka juga ingin merebut kembali Dewi Shita.

Humas ISI Denpasar melaporkan

Kajian Desain Produk Kriya Yang Dipamerkan Pada Pesta Kesenian Bali Tahun 2008

Kajian Desain Produk Kriya Yang Dipamerkan Pada Pesta Kesenian Bali Tahun 2008

Oleh: Drs. I Made Jana, Jurusan Kriya, FSRD, DIPA 2008

Abstrak penelitian

Pesta Kesenian Bali selalu diadakan tiap tahunnya di Taman Budaya Denpasar dan menjadi ajang perajin dan senian memperkenalkan hasi-hasil karyanya kepada masyarakat umum. Kami sebagai peneliti juga berkesempatan untuk mempublikasikan produk-produk kriya yang dipamerkan dalam bentuk tulisan melalui penelitian. Penelitian ini menggunakan  pendekatan sample, dan analisis pembahasan dilakukan secara kualitatif. Lokasi pengambilan sample dilakukan di Taman Budaya Denpasar pada Pesta Kesenian Bali Juni-Juli 2008. Benda Kriya yang diteliti adalah benda-benda kriya yang terbuat dari bambu, kayu, daun pandan, lidi, ate, batok kelapa, dan besi atau logam. Fokus penelitiannya adalah bentuk, fungsi, dekorasi dan finishing.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa benda-benda kriya hasil peajin lokal Bali sebagian besar bentuknya masih menampilkan ciri-ciri khas tradisi Bali, sedangkan produk kriya dari luar kurang mencerminkan tradisi daerahnya. Namun dari bentuk-bentuk tersebut kurang inovatif, karena merupakan pengulangan dari bentuk-bentuk lama. Demikian juga sebagian besar menampilkan fungsi-fungsi pakai dibandingkan fungsi hiasnya, karena kriya yang memiliki fungsi pakai akan lebih mudah diminati konsumen. Dekorasi yang diterapkan pada benda kriya yang dipamerkan tersebut antara lain : diukir dan ditulis. Ada juga benda yang dipamerkan tanpa dekorasi karena keindahan bodi sekaligus merupakan dekorasi seperti anyaman, tekstur kayu dan sebagainya. Finishing yang ditampilkan juga bermacam-macam antara lain : dilukis, diprada, diantik, dipernis, dan sebagainya. Sebagaian kriya yang dipamerkan pada PKB tahun 2008 ini hasil perajin Bali. Namun peserta dari luar Bali jumlahnya juga tidak sedikit. Ada kesan karya-karya yang ditampilkan oleh masing-masing kabupaten di Bali tidak mencerminkan kualitas yang baik, terkesan hanya mengisi ruang semata. Walaupun demikian dibandingkan dengan produk kriya sebelumnya selalu ada pembaharuan atau inovasi seperti pada PKB 2008 ini seperti pada produk anyaman dan besi/logam.

Loading...